Share

56. orang aneh

Penulis: Siska Cahaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-27 12:47:43

Maher duduk tepat di hadapan Hafsah, gadis itu merasa hatinya berdegup kencang saat Maher memandangnya dengan mata yang penuh cinta. Dia menundukkan kepala, merasa wajahnya panas. Hafsah tidak bisa menatap calon suaminya langsung, merasa bahwa dia akan meleleh jika dia melakukannya. Maher tersenyum dan mengangkat wajahnya dengan jari-jari yang lembut.

"Apa yang salah?" tanya Maher dengan suara yang lembut.

"Hey! aku memantaumu!" teriak Hanan dengan keras.

Maher tertawa sambil menggelengkan kepala, merasa bahwa dia tidak mendengarkan Hanan dan memilih untuk tidak menjawabnya. Dia hanya menatap sang pujaan dengan mata yang berbinar merasa bahwa dia sedang terapung di awan cinta. Perlahan dia memundurkan jemarinya.

Maher tersenyum dengan lembut, "aku cinta kamu," katanya dengan suara yang penuh cinta.

Hafsah merasa hatinya meleleh, ada sesuatu yang hangat dan lembut tengah menyeruak di sana, gadis itu ingin mengungkapkan bahwa dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Tangannya terkep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Belenggu Hasrat CEO    57. Serangan di jalan

    "Oma kita pindah saja ke toko lain," bisik Hafsah.Karyawan mengabaikan Hafsah karena sudah mendapatkan pembeli yang royal. Beberapa karyawan membungkusnya dengan rapi, sementara perempuan itu tersenyum sinis melirik kepergian Hafsah. "Mau cash atau pake kartu, Bu," ujar karyawan menatap perempuan itu.Perempuan itu terkesiap dan langsung gelagapan. Dia menatap paper bag yang banyak dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Matanya cemas dan raut wajahnya memerah karena khawatir."Nanti saja, Mbak. Aku akan kembali," katanya gugup lalu pergi dengan tergesa."Eh!" Karyawan kaget bercampur kecewa. Membiarkan calon pembeli pergi demi yang memberi harapan palsu tentu saja seperti terjatuh tertimpa tangga pula. Tapi bagi Hafsah dia tidak akan berbelanja di toko yang membedakan pembeli dari jumlah belanjaannya. Hafsah yang terbiasa berkecimpung di dunia bisnis dia tentu paham bahwa etika dan akhlak dalam berdagang itu wajib.Halimah tampak kecewa dengan sikap karyawan toko, apalagi Ha

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Belenggu Hasrat CEO    58. bersenang-senang

    Hafsah menjerit tertahan, tubuhnya tersentak ke depan, tapi sabuk pengaman menahannya. Matanya terpejam erat dengan tangan gemetar. Berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir."Sialan!" teriak Hanan geram, "Oma gak papa?"Halimah menggeleng dengan cemas."Maher tolong! Tolong aku! Seseorang mengancamku agar tidak mendekatimu dan menikah denganmu. Mereka mengikuti kami dari mall sampai ke jalan raya. Kami diserang, kaca mobil dipukul," katanya dengan napas memburu.Hanan melirik adiknya dengan tak percaya. Adiknya menerima ancaman, itu sebabnya dia berubah tiba-tiba. Seseorang menghampiri pintu mobil di samping Hafsah, lelaki itu menarik pintu agar terbuka. Tapi Hanan mengunci semua pintu dengan kuat setelah itu memacu mobil dan kecepatan tinggi."Cari kantor polisi terdekat, aku akan kirim anak buahku untuk menjaga kalian." Maher menatap cemas.Dia mematikan sambungan telepon lalu keluar dari ruangannya sambil menelepon Adnan. Sebelah tangan memegang ponsel dan t

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Belenggu Hasrat CEO    59. Kolab Saudara Ipar

    Darah Hanan mendidih dengan tatapan tajam menghunus jantung. Dia menghindar dengan kaki menyasar perut serta tangan menghantam kepala. Seketika pemotor yang menyerang mereka terkapar tak berdaya. Sementara itu, anak buah Maher membabat habis penyerang dengan tangan kosong. Menjatuhkan lawan tanpa melukai dan mengambil alih senjata mereka. Meski ada beberapa dari mereka yang berusaha bangkit dengan tertatih tapi Hanan dan yang lain tidak menyisakan apa pun kecuali kekalahan bagi mereka."Kamu bicara yang tidak pantas pada adikku!" kata Hanan menghantam mulutnya hingga beberapa gigi tak lagi pada tempatnya. Lelaki itu merintih dengan bibir penuh da ra h.Vass tersenyum dengan bangga melihat pemotor yang awalnya begitu congkak kini terkapar tak berdaya. "Hanya segitu keahlian kalian? Hah! Mana kalian yang besar kepala tadi! Yang begitu sombong dengan gaya mematikan!" Vass menendang kaki salah satu dari mereka.Anak buah Maher mengamankannya lalu menelepon polisi. Tapi Hanan mencegahnya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Belenggu Hasrat CEO    60. Membangunkan Singa

    Tanpa membuang waktu, empat pria bertubuh kekar dan bersenjata tajam langsung maju menyerang Hanan dan Maher. Namun, bukannya merasa takut, dua lelaki itu malah tersenyum miring menantikan momen yang telah lama ditinggalkannya.Tidak ada yang tahu bahwa keduanya tanpa saling memberi tahu mereka dulunya adalah seorang yang amat ditakuti. Namun, kali ini terpaksa kembali ke dunia itu ketika ada orang yang berniat buruk kepada perempuan yang amat dicintai versi mereka.Maher langsung mengamati dua pria yang langsung mengelilinginya dengan mengayunkan tongkat dan senjata tajam. Sementara debu dan daun kering berterbangan akibat kesekan kaki di tanah membuat cahaya lampu mobil menjadi temaram.Salah satu lelaki berbaju kemeja putih menerjang lebih dulu, mengayunkan tongkat dengan penuh emosi. Namun, Maher dengan cepat menghindar dengan memiringkan tubuh ke kanan hingga serangan mengenai angin."Sialan!" teriaknya kembali menyasar perut tapi Maher menendang tangannya hingga tongkat terjat

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Belenggu Hasrat CEO    61. Balasan Kesetiaan

    Sonu dan satu lelaki menghindar dengan mundur ke belakang saat melihat satu temannya tumbang. Malam gelap tanpa cahaya semakin mencekam dengan angin yang bertiup bak malaikat maut yang siap menjemput pulang.Sonu berdiri dengan goyah, nyalinya mulai ciut, tapi orang bayarannya masih setia ingin menyelesaikan tugasnya menghabisi Hanan dan Maher."Matilah kalian!" teriak lelaki itu menyerang Maher dengan menggunakan senjata tajam.Maher pun bergeser lalu menendang tangan lelaki itu hingga senjatanya terjatuh. Namun, lelaki itu mengeluarkan pisau dari balik sepatunya dan menyabetkan ke arah perut Maher hingga dia mundur dengan satu kaki terangkat dan tangan terentang ke depan lalu tangan kanan mengayun indah melepaskan satu senjata yang tersimpan di bawah siku hingga menusuk perut lelaki itu."Aakhh!" teriaknya merasakan sesuatu mengalir dari balik bajunya.Hanan dan Maher saling menatap lalu mendekati Sonu dengan wajah dingin."Aku tetap tidak akan meminta maaf! Kamu menyebabkan aku dip

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • Belenggu Hasrat CEO    62. Yang Sopan Kalau Bicara!

    "Aku salah dan aku khilaf saat itu." Gio menatap dengan menggeleng. "Aku sedang hamil Aryan saat itu," jelas Malini mengusap air matanya. Gio maju dan langsung memeluk perempuan yang selalu setia selama ini padanya. Mengerjakan kewajibannya meski dia sendiri sibuk sebagai dosen. Malini tidak pernah mempercayai pelayan untuk mengurus suaminya. Demi bakti sebagai seorang istri, Malini begitu menghormati suaminya. Aryan yang berdiri di balik tirai begitu terpukul mendengar kenyataan itu. Sedari kemarin dia menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut karena takut membuat ibunya sedih. Namun, kenyataannya Malini sudah tahu semua kebenaran itu. Aryan mundur dan duduk di atas ranjang dengan memegang jantungnya. Dua perempuan yang sangat dicintainya terluka oleh satu orang lelaki yang selalu dihormatinya. Aryan benar-benar kecewa yang sangat dalam untuk pertama kali dalam hidupnya. "Hafsah ... Mama!" bisik Aryan merebahkan diri diatas ranjang lalu menutup seluruh tubuhnya dengan seli

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Belenggu Hasrat CEO    63. Fokus, Maher!

    "Sudah, Hanan!" ujar Halimah tersenyum dan mengusap lengan Maher."Dia yang mulai, Oma!" adu Maher memasang wajah memelas.Hanan berdecih, "sekarang dia merayu Oma!""Istirahatlah, Maher, Hanan! Kalian pasti lelah dan masih banyak yang akan dikerjakan hari ini kan?" Halimah tersenyum menatap kedua lelaki seumuran itu."Aku akan kembali ke apartemenku. Pagi aku akan ke sini lagi. Please!" "Iya, sarapan di sini, ya. Hafsah akan memasak untukmu," jelas Halimah dan Hafsah menatap neneknya."Gak usah, Oma. Pesan aja nanti. Aku gak mau Hafsah masuk dapur. Kasihan dia harus bangun pagi hanya untuk hal yang tidak penting," jawab Maher tersenyum menatap pujaannya.Maher melangkah mendekati Hafsah dan Hanan langsung menghalangi dengan merentangkan tangan."Aku pulang, Beb!" ucap Maher menyikut perut Hanan yang langsung menangkisnya.Hafsah tertawa begitupun Halimah. Mereka pulang dengan kembali ke setelan awal. Padahal baru saja berkelahi dan saling melindungi dari serangan musuh. Tidak ada ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Belenggu Hasrat CEO    64. Tentang Lavina

    "Aku selalu fokus dengan urusan dan perkataanku. Tapi kamu mengacaukannya!" balas Maher kesal dan langsung mematikan telepon.Seketika tawa Hanan meledak melihat layar ponsel Hafsah langsung redup. Dia duduk di sisi adiknya sambil menatap dan terus tertawa. Padahal dia hanya iseng saja dan merasa senang mengerjai Maher, tapi lelaki itu langsung menanggapinya dengan serius."Hanan, jangan terus mengerjai Maher. Belajarlah untuk menghormati dia dan merelakan Hafsah menikah dengannya. Dia lelaki yang baik. Oma tahu kecemasan kamu," ujar Halimah menatap cucu lelakinya.Hanan menarik napas lalu menatap Hafsah. Gadis itu pun menatap kakaknya dengan lembut dan tersenyum. Lelaki itu menarik tangan Hafsah, memeluknya erat. Hanan memejamkan mata dengan berdoa agar dia bahagia di pernikahannya."Aku sangat menyayangimu, Hafsah. Maaf sejak kecil tidak bisa membelamu. Maafkan aku," bisik Hanan penuh penyesalan.Hafsah mengangguk sambil mengusap punggung kakaknya."Aku tidak pernah menyalahkan, A

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09

Bab terbaru

  • Belenggu Hasrat CEO    80. akhir sebuah keputusan

    Adnan terjaga karena dering ponsel yang begitu nyaring di sisinya. Lelaki itu masih di apartemen lama milik Maher, dia bangkit dan menatap layar dengan mengusap mata, mengusap dan berjalan ke jendela menyibak tirai, membiarkan cahaya masuk menyinari kamarnya."Ada apa?" tanyanya menatap langit biru."Perempuan itu kabur, Boss!" ungkap anak buahnya."Apa!" Adnan terperanjat dan berpaling dengan cepat, "bagaimana bisa!" "Tiba-tiba ada asap setelah itu kami semua pingsan. Saya memeriksa botol yang dilempar ternyata asap bius, Boss. Perempuan itu kabur saat kami pingsan," jelasnya."Cari Lavina! Temukan dia atau sesuatu yang buruk akan terjadi!" Adnan mengusap wajah dengan kasar."Baik, Boss!"Adnan duduk dengan cemas tapi otaknya terus berpikir. Lavina bukan gadis lemah seperti yang Maher pikirkan. Lavina bukan gadis lima tahun lalu yang begitu mengharapkan dan siap mati untuknya. Sekarang ada seseorang yang membantunya untuk balas dendam."Bagaimana cara memberitahu, Tuan. Apa kutelep

  • Belenggu Hasrat CEO    79. Cinta Yang Hilang

    "Maher," rengek Hafsah mendadak mendayukan suaranya."Ah, merduanya suara itu menyebut namaku." Maher menyentuh dada dan memejamkan mata sambil tersenyum membuat Hafsah tersipu malu."Mandilah!" titah Hafsah sambil menyodorkan handuk baru ke hadapan suaminya.Maher menarik pergelangan tangan Hafsah hingga gadis itu menabrak dada bidang lelaki tinggi putih itu. Hafsah terkesiap dan langsung memeluk Maher karena takut jatuh membuat Hafsah memejamkan mata. "Maher." Hafsah berusaha melepaskan dekapan suaminya tapi Maher tetap mempertahannya."Aku selalu menggenggam angin saat Hanan memelukmu. Berharap waktu cepat berlalu dan tiba di mana aku dan kamu halal. Kini ... aku akan selalu memelukmu. Tidak akan kubiarkan Hanan memelukmu," katanya dengan tegas."Dia kakakku," kekeh Hafsah membuat Maher mengangkat wajahnya."Aku tahu," katanya tersenyum, "tapi aku akan balas dendam padanya. Tenang saja aku sudah mengundang Hanan dan oma untuk makan siang. Sekalian perkenalan rumah baru kita.""Ma

  • Belenggu Hasrat CEO    78. Kekaguman Maher

    Suara desir angin dari balkon bertiup samar hingga menggoyangkan tirai. Menyebarkan wangi dari aroma lilin yang berkelip manja di sudut ruangan."Malam ini ... aku Rajanya," bisik Maher, suaranya terdengar rendah tapi cukup menggema di ruangan yang hanya ada mereka saja.Hafsah merasakan jemari Maher menyentuh pundaknya. Menariknya dalam kehangatan yang belum pernah dirasakan selama ini. Hafsah menahan napas saat Maher mengikis jarak antara mereka. Hafsah hanya bisa diam, tidak bisa melawan"Aku membelenggumu dengan cinta dan kesetiaan, Hafsah. Malam ini dan seterusnya aku dan kamu menjadi kita. Aku akan menjadi pelindung dan penjagamu, Istriku. Aku akan selalu menjadi garda terdepan dalam hidupmu," bisiknya seperti mantra yang mengalun indah sekaligus membunuh keberanian Hafsah untuk menatap suaminya.Hafsah menunduk dan membeku saat bayangan Maher tertangkap di mata indahnya. Napasnya berembus di permukaan kulit membuat bulu kuduknya berdiri. Hafsah ingin lari saja tapi kakinya sepe

  • Belenggu Hasrat CEO    77. Gadis malam itu

    Langkah kaki Maher mendekat menyongsong Hafsah yang masih menatap dalam diam. Hafsah menoleh dan langsung panik saat melihat Maher berdiri di depannya dengan sorot mata penuh kelembutan dan cinta. Menatap tersenyum.Hafsah menunduk dengan meremas jemarinya. Dia merasa gugup saat tangan besar itu menarik jemarinya yang lentik. Hafsah menoleh ke samping saat Maher menariknya lebih ketengah. Menampakkan Hafsah seutuhnya di antara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.Maher menatap Hafsah dengan mata menyipit. Dadanya berdegup lebih kencang dan kakinya gemetar. "Hafsah, kamu?" Maher menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu mengangkat dagu istrinya agar lebih tegap lagi."Aku tidak percaya ini, Hafsah?" ujar Maher mengitari Hafsah dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikannya.Tampilan Hafsah mirip dengan malam itu. Malam di mana dia berani duduk dipangkuan Maher dengan rambut panjang dan dress yang lebih pendek meski yang dipakai saat ini lebih pendek da

  • Belenggu Hasrat CEO    76. Sebuah Hubungan Yang Halal

    Aryan mengumpat kesal karena panggilannya diabaikan. Aryan masuk ke dalam mobil dan menatap layar ponsel yang masih menampilkan notifikasi panggilan telepon yang diabaikan oleh Maher. Tak patah semangat, dia kembali menekan nomor Maher dengan cemas tapi juga kesal.Aryan merasa kesal dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa Maher mengabaikan panggilan telepon darinya. Apakah dia tidak ingin berbicara dengan aku? Apakah dia tidak peduli dengan perasaanku?Aryan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada lelaki yang tengah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Hafsah pasca dirinya usai mengucapkan ijab kabul. Aryan berharap dia akan membalas dan menjelaskan mengapa dia mengabaikan panggilannya.Tapi Adnan hanya diam menyimpan ponsel di saku jasnya."Tidak apa-apa, Oma. Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tidak menjawab panggilanku," tulisnya lalu mengirimkan pesan kepada Maher.Tapi hingga beberapa jam kemudian, lelaki yang dipanggil Oma atau Om Maher itu masih belum membalas pesan darin

  • Belenggu Hasrat CEO    75. kenapa harus Maher

    Hafsah mengangguk dengan menggigit bibirnya. Bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Maher melepaskan jarum pengait di kerudung Hafsah. Satu persatu dengan pelan tangan itu menarik jarum dan meletakkan ditempat khusus di meja rias yang telah dipenuhi bedak milik Hafsah.Azan ashar berkumandang membuat Hafsah secara reflek menghentikan pergerakan tangan Maher."Kita salat dulu," katanya menatap suaminya."Sendiri-sendiri dulu ya. Aku merasa belum pas takut salah," jelas Maher."Pelan-pelan kita belajar bareng. Gak papa kita coba," ajak Hafsah meyakinkan suaminya yang mengangguk juga pada akhirnya."Tapi mukenaku," bisik Hafsah menyadari dia tidak datang dengan membawa satu barang apa pun.Maher mengusap pipi itu untuk pertama kalinya membuat Hafsah membeku merasakan sesuatu dalam dirinya mengalir lebih cepat. Lelaki itu melangkah menuju walk-in closet. Tak lama dia kembali dengan mukena putih di tangannya."Ini," katanya menyodorkan kehadapan Hafsah, "pakailah!

  • Belenggu Hasrat CEO    74. Aku Akan Menjagamu!

    Maher menatap pantulan dirinya dicermin. Dia tampak gagah dengan balutan jas hitam serta rambut yang tertata rapi. Berulangkali dia menarik napas guna mengurangi kegugupan. Maher begitu gugup untuk menjalani hari ini."Rasanya menghadapi penjahat tidak segugup ini!" katanya menarik napas.Maher keluar dari kamar melewati kilauan cahaya dan kebahagiaan para tamu undangan. Ruangan dipenuhi bunga-bunga yang wanginya samar terbawa angin tapi mampu menusuk hidung ditambah lampu kristal yang menggantung mewah di langit-langit ruangan. Para tamu tersenyum dan berbisik kagum saat Maher melewatinya. Aura positif begitu menguar dari dirinya. Tampan dan berkelas. Halimah, Hanan, Puti dan Vass tersenyum menikmati pemandangan dua insan yang akan bersatu dalam ikatan suci."Kuharap setelah ini anda selanjutnya, Boss," bisik Vass yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hanan. Maher duduk di hadapan penghulu dengan Hanan sebagai saksi dari pihak Hafsah dan Adnan dari pihak Maher. Halimah berdoa

  • Belenggu Hasrat CEO    73. menuju pernikahan

    Hayati diam. Dia sadar sebagai ibu sudah sangat keterlaluan kepada putrinya. Namun, di balik sikap keras dan tidak pedulinya, perempuan itu menyimpan luka dan kesedihan yang tidak bisa dibaginya dengan siapa pun. Sejak dia mengetahui hamil Hafsah, suaminya langsung berubah dan menanyakan tentang kehamilan. Hayati yang tidak pernah disentuh suaminya sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba hamil tentu saja menjadi pertanyaan oleh suaminya. Suaminya jadi curiga, dingin, dan menolak satu ranjang dengannya. Bahkan saat Hayati jujur bahwa dia telah berselingkuh, suaminya memilih menceraikannya sesaat setelah melahirkan.Hayati menjadi marah dan terhina diceraikan didepan dokter dan perawat yang membantu proses melahirkannya. Namun, mereka tidak tahu penyebab perceraian itu. Andai saat itu Hayati bisa menjaga diri dan marwah rumah tangganya maka segalanya tidak akan terjadi. Di dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulan antara lelaki dan perempuan ada batasan dan aturannya dalam Islam. Terutam

  • Belenggu Hasrat CEO    72. Lebih Menyedihkan

    "Aryan," isak Malini menutup bibir dengan kedua tangannya."Pemahaman agamaku lemah, Pa. Tapi aku tahu bahwa setetes saja seorang suami membuat air mata istrinya jatuh, maka disetiap langkahnya akan dilaknat oleh para malaikat." Aryan menatap Gio dengan kepala terangkat. "Aku sangat kecewa kepadamu, Papa. Sangat!"Aryan meninggalkan Gio yang membeku dan tidak menyangka akan ucapan Aryan. Selama ini lelaki itu selalu menunjukkan cinta dan hormat padanya. Tak pernah mengatakan hal buruk padanya. Tapi kali ini, Aryan bicara dengan tegas dan kepala terangkat. Lelaki itu menyesali segala perbuatannya tapi segalanya telah menjadi masa lalu yang tidak bisa diubah.Aryan mengambil dompet dan jaketnya di lemari lalu keluar bersama Vino menggeret koper miliknya. Lelaki itu melewati Gio begitu saja. Tapi dia memeluk Malini dan mencium keningnya. Sama setiap kali dia akan pergi, Aryan akan melakukannya. Malini hanya diam dan sedikit mengangguk saat Aryan meminta izin padanya."Aku berangkat, Ma,"

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status