Share

Bab 2

Penulis: SanSan954
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

"Dari ruqyah, Ma." jawab Amy, sambil membuka kunci pintu.

"Ruqyah rahimmu itu?" selidik perempuan yang dipanggil dengan sebutan mama oleh Amy.

Amy tersenyum kecut.

"Terus apa hasilnya? kamu kerasukan ? Teriak-teriak kepanasan?" cerca perempuan tadi.

"Nggak Ma, Amy baik-baik saja," jawab Amy tenang.

Amy mempersilahkan perempuan itu untuk masuk.

"Masa sih nggak ada gangguan? Kalau begitu mengapa kamu belum hamil juga?"

"Kata ustadzah Fulsun, mungkin Allah tengah menguji kesabaran kita, Ma," jawab Amy, yang masih mencoba bersabar.

"Ah itu cuma teori, mana ada Allah memberi ujian di luar batas kesabaran hamba-Nya. Kamu tau 'kan, Tesla itu sudah gak sabar mau momong anak, aku juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Cuma kamu saja, yang terlihat santai seperti tidak ada beban!"

Amy seketika membeku mendengar kata-kata yang terucap dari mulut perempuan itu, kalau saja tidak menimbang posisi wanita itu sebagai ibu dari suaminya, ingin sekali Amy mengusir pergi wanita bernama Dialin tersebut.

Dialin selalu begitu sejak setahun lalu, perubahan sikapnya terjadi setelah tahun ketiga pernikahan Amy dan Tesla. Dia menuduh Amy mandul, dan kerap membanding-bandingkan Amy dengan anak-anak sahabatnya.

"Kita tidak boleh berburuk sangka dengan Allah, Ma." gumam Amy pelan, sambil melangkah ke arah dapur.

"Mama tidak berburuk sangka dengan Allah, justru Mama curiga jangan-jangan kamu ini memang mandul."

"Ma," ujar Amy tercekat.

"Mama tidak mau tau ya, Amy. Tahun ini kamu harus beri kami cucu, umur Tesla semakin bertambah, dan dia anak satu-satunya. Kalau kamu tidak dapat memberikannya keturunan, maka izinkan dia berpoligami."

Amy menatap nanar ibu mertuanya itu, dia tidak percaya Dialin tega menyuruhnya memberikan izin Tesla untuk menikah lagi.

Kata sabar seumpama tanaman di dalam taman hati Amy, yang terus dipupuk sejak dua tahun lalu. Sabar menanti hadirnya janin di rahimnya, juga sabar menghadapi sikap Dialin yang melampaui ambang batas kewajaran.

Amy menarik napas panjang, dan dihembuskan secara perlahan. Tidak ada guna lagi berdebat, hanya akan menimbulkan sakit di kepala. Dia berlalu meninggalkan Dialin, dan kembali lagi dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

"Mama tidur di sini?" tanya Amy pada sang mertua, yang sedang membuat segelas kopi.

Sudah biasa bagi Dialin, membuat sendiri minuman untuknya apabila berkunjung ke rumah sang anak, karena kopi buatan Amy tidak pernah sesuai dengan seleranya.

"Enggak, Mama cuma singgah. Habis nganterin anak teman pindahan." jawab Dialin ditingkahi suara klinting sendok yang beradu dengan gelas kopi.

Amy diam saja karena fokus mengeluarkan aneka bahan masakan dari kulkas, dia akan memasak dimsum udang yang menjadi makanan kesukaan suami tersayang.

"Kalau begitu tunggu Tesla pulang saja, biar nanti diantar," ujar Amy.

"Kesorean, Papamu sudah di jalan kok dari kantor, langsung ke sini jemput Mama." jawab Dialin, sebelum menyesap pelan kopi panasnya.

Perempuan itu membawa gelas kopinya ke beranda belakang, di halaman belakang tumbuh aneka tanaman bumbu dapur seperti kunyit, serai, lengkuas, dan cabai. Dialin sangat menikmati pemandangan, yang selalu membuatnya kagum pada sang menantu.

Dia pernah berkata kepada Amy, "Andai rahimmu sesubur tanaman yang kamu tanam, lima tahun pernikahan mungkin telah berbuah lima anak yang menggemaskan."

Menurut Dialin, seharusnya Amy sudah memiliki lima anak. Dia lupa bahwa anak manusia bukanlah boneka, yang bisa dibentuk dari adonan terigu atau dirajut dari benang. Dia juga lupa bahwa bukaan aktivitas seksual, yang membuat seorang anak manusia tercipta di dunia ini.

Dialin melupakan takdir dan kehendak Tuhan, yang memberikan rezeki(anak) kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tuhanlah yang berhak menentukan siapa, yang akan diuji dengan hadirnya seorang anak. Siapa pula, yang akan diuji dengan tidak hadirnya seorang anak.

Ada orang yang tiba-tiba hamil hanya karena diperkosa atau berzinah, sementara Amy yang berhasil menjaga kesucian hingga ke pelaminan masih diuji kesabarannya dengan belum hadirnya si jabang bayi dalam kandungan. Meskipun setiap malam dia dan Tesla melakukan ritual seks, nyatanya tetap saja Tuhan belum berkehendak memberi mereka anak.

"Amy, Mama pulang," suara Dialin mengejutkan Amy, dan langsung membuyarkan lamunan wanita muda itu.

"Memangnya papa sudah datang, Ma?" tanya Amy gelagapan.

"Assalamualaikum," sapa satu suara lain di pintu.

Amy bergegas menuju ruang tamu, tampak seorang pria setengah baya berdiri di ambang pintu rumah. Amy bergegas menyalami lelaki kharismatik tersebut.

"Kamu sehat, Nak?" tanya lelaki itu, yang tidak lain adalah Furqon ayahnya Tesla.

"Alhamdulillah, Pa." jawab Amy sopan.

"Sehat tapi belum hamil juga," cibir Dialin.

Amy lagi-lagi hanya bisa menarik napas panjang mendengar kalimat sindiran yang dilancarkan si ibu mertua.

"Ya sudah. Ma, ayo kita pulang." ajak Furqon bijaksana, dia tak ingin sang istri terus menyudutkan menantunya.

"Amy, mama dan papa pulang, ya Nak. Kamu baik-baik di rumah titip salam untuk Tesla, ya." Pamit Furqon sembari membelai puncak kepala menantunya itu.

*****

Sampai pukul 21.30. WIB, Tesla belum juga kembali ke rumah. Amy mulai gelisah, tidak biasanya sang suami belum kembali sampai selarut ini, tanpa kabar sama sekali.

Berulang kali Amy coba hubungi ponselnya, nada tersambung tetapi tidak dijawab oleh Tesla.

"Apa dia ke rumah mamanya?" Amy bertanya-tanya di dalam hati.

Tesla memang kerap mengunjungi orang tuanya tanpa Amy, bagi Amy itu bukan masalah besar. Bukankah wajar seorang anak mengunjungi orang tuanya, Amy berpikir, barangkali ada hal penting yang harus mereka bicarakan.

Namun kali ini berbeda, Amy merasa tidak tenang dan cemas. Kata-kata Dialin sore tadi terus terngiang di telinga, "Kalau tahun ini kau belum bisa memberi kami cucu, maka izinkan Tesla untuk berpoligami."

"Jangan-jangan Mama tengah membujuk Tesla, untuk menduakan aku?" Amy mulai berpikiran buruk.

"Astagfirullah," ucapnya penuh sesal, tidak seharusnya dia memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

"Assalamualaikum."

Amy menoleh ke arah pintu kamar, sosok yang barusan dia pikirkan berdiri nyata di depan mata. Senyum Tesla bak tetes hujan, yang membasahi keringnya tanah di musim kemarau.

"Kamu dari mana? Aku hubungi kenapa tak dijawab?" todong Amy manja, sambil melangkah mendekati Tesla dan memeluk lelaki itu.

Ada aroma asing yang terhirup oleh indera penciumannya, aroma parfum wanita yang tidak pernah dipakai olehnya.

"Maaf ya, Sayang. Tadi aku ada kelas tambahan, dan lupa mengabari kamu," sesal Tesla, memberikan alasan.

Amy menatap dalam ke manik mata suaminya, berusaha mencari kebenaran dari pengakuan yang terucap barusan oleh bibir mungil milik Tesla.

"Ya udah gak apa, sebentar Amy panaskan dimsumnya ya, sementara itu kamu bersih-bersihlah dulu," ujar Amy hendak berlalu. Namun gerakannya tertahan, karena lengannya masih cekal Tesla.

"Gak usah, aku sudah makan kok," jawab Tesla, atas tatapan heran Amy.

Kedua alis Amy nyaris bertemu, menatap wajah sang suami yang tampak lelah.

"Makan di mana?" Selidiknya.

"Di ... Hem ... Di ... di rumah mama, ya di rumah mama," jawab Tesla tergagap.

Amy merasa, ada hal yang berusaha ditutup-tutupi oleh sang suami.

"Kamu yakin, makan di rumah mama?" tanyanya.

Tesla mengangguk.

"Mama gak cerita ke kamu, kalau dia ke sini sore tadi?"

Alis Tesla bertaut, wajahnya menyiratkan keterkejutan, dan seperti khawatir belangnya ketahuan.

"Nggak tuh, memang tadi sore mama ke sini?" Tesla malah balik bertanya.

Amy mengangguk, "Mama bilang kalau tahun ini aku gak bisa kasih kalian keturunan, maka aku harus kasih kamu izin poligami." Cerita Amy, sambil dia duduk di kursi meja riasnya.

Tesla menghampiri, dan menyentuh kedua pundak istrinya itu.

"Jangan masukan ke hati, kata-kata mama itu. Percayalah, sampai detik ini aku masih mencintai kamu, dan menurutku tidak akan ada satu perempuan pun dapat menggantikan posisimu di hatiku."

Amy tersenyum menatap Tesla dari pantulan kaca rias, walau kata-kata suaminya tadi terdengar gombal. Namun dia bahagia dan percaya, kalimat tersebut keluar dari lubuk hati Tesla yang paling dalam.

"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Amy, sepertinya ini waktu yang tepat baginya untuk memaksa Tesla mendatangi suatu tempat.

"Tentu saja, Sayang. Kamu mau minta apa?" tanya Tesla.

"Besok pulang cepat dan temani aku ke dokter Dira."

Tesla terdiam sejenak, "Aku hanya antar saja ya," ujarnya.

Amy menggeleng, "Kali ini kamu harus ikut diperiksa," jawab Amy.

"Aku tidak mau kalau dokternya perempuan, kamu tau itu, bukan?"

"Tesla, aku mohon." Pinta Amy memelas, saat suaminya itu mulai hendak berkilah.

"Mau sampai kapan kita begini terus? Kamu tidak bolehkan aku konsultasi dengan dokter kandungan pria, tapi kamu sendiri juga tidak mau diperiksa oleh dokter wanita. Kalau begini terus kapan program kehamilan kita akan berhasil?" Gugat Amy.

Tesla terdiam.

"Kamu sudah berjanji denganku, aku mohon kali ini saja. Hanya tanya jawab kok, tidak disentuh pun." kembali Amy memelas.

Bab terkait

  • Belang si Janda Kembang   Bab 3

    Tempat praktek dr. Dira. Sp.Og belum terlalu ramai, Amy dan Tesla memutuskan untuk datang lebih awal, agar tidak terjebak dalam antrian."Selamat sore Pak Tesla, senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda," dr. Dira menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, saat Amy dan Tesla memasuki ruang kerjanya.Tesla tersenyum, dan mereka pun duduk di kursi berhadapan dengan dr. Dira, sebuah meja menjadi pemisah jarak antara mereka, dan dokter cantik itu.dr. Dira memeriksa data Tesla sebentar, dan kini dia menatap lelaki tampan itu. Selanjutnya terjadi tanya jawab antara sang dokter dengan Tesla. "Bapak Tesla, Anda tidak merokok?" "Tidak, Dok." Jawab Tesla "Apakah minum alkohol?""Kerap begadang?""Kalau begadang, iya Dok. Minum Alkohol bisa dikatakan tidak pernah." jawab Tesla."Baiklah, saya rasa untuk Pak Tesla cukup. Sekarang saya akan periksa Bu Amy, Bapak mau tetap di sini boleh." ujar dr. Dira."Kalau saya tunggu di luar, bagaimana Dok?" tanya Tesla."Boleh juga, tidak masalah,"

  • Belang si Janda Kembang   Bab 4

    "Amy ingin punya anak Bu, Amy ingin merasakan seperti apa rasanya hamil dan melahirkan,' ujar Amy menahan perasaan."Astagfirullah, Nak," ucap ibunya iba.Ibunya dan Mien Hessel sama-sama memeluk Amy, bertiga mereka menangis bersama. Amy menangis menahan kerinduan akan hadirnya seorang anak, sedang ibu dan adiknya menangis karena iba mendengar Amy merana. Kalau saja boneka yang dipinta oleh Amy, pasti saat ini juga ibu dan adiknya sudah pergi ke toko dan membelikan untuknya. Namun, kali ini dia menangis menginginkan boneka bernyawa, yang tak mungkin diperjual belikan di semua pasar dan swalayan di seluruh dunia. Malam itu Amy menginap di rumah ibunya, sementara Tesla pulang ke rumah. Sepanjang malam Amy tidak dapat memejamkan mata, kata-kata dokter Dira terus terngiang di telinga, sebuah kenyataan pahit yang sulit untuk diterima, apalagi untuk dikatakan kepada semua orang termasuk Tesla dan mertuanya.Dalam kegalauan hatinya itu, tiba-tiba saja ponsel Amy berdering. Semula dia p

  • Belang si Janda Kembang   Bab 5

    "Tuhan … apa jadinya kalau Tesla tau hal yang sebenarnya?" gumam Amy dalam hati."Dokter Dira menyuruh kita makan-makanan bergizi dan vitamin, mudah-mudahan secepatnya aku hamil," jawab Amy, "Sayang, aku mandi ya," pamitnya tanpa menunggu tanggapan dari Tesla. Amy terpaksa berdusta dan buru-buru menghindar, sungguh dirinya tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya. Biarlah dia saja yang merasakan perih ini, jangan Tesla. Andai Tesla tahu hal yang sebenarnya, Amy tidak sanggup bila harus melihat sinar kekecewaan dari sorot mata suaminya. Untuk sementara biarlah dia simpan saja cerita yang sesungguhnya, sementara itu dia akan terus berusaha dan berharap. Dia yakin suatu hari nanti Tuhan akan menjawab doa-doanya.Bukan tidak mungkin, sekarang Tuhan sedang mengujinya, agar semakin dekat dengan sang pencipta. Lebih taat lagi dalam menjalankan perintah-Nya, dan pelan-pelan meninggalkan segala larangan-Nya.***Pukul enam pagi.Amy melangkahkan kaki menuju warung Morina—wanita berdar

  • Belang si Janda Kembang   Bab 6

    "Kenapa, kamu tersinggung?" tanya Dialin, sambil menatap tajam ke arah Amy yang masih belum dapat menguasai diri atas perkataan Dialin sebelumnya.Perlahan sinar mata Amy meredup, ditariknya napas panjang untuk meredakan gejolak amarah yang membara di dalam dada."Kata Tesla, kemarin kalian periksa ke dokter kandungan, lalu apa hasilnya?" tanya Dialin masih dengan tatapan penuh intimidasi."Ba ... baik, baik-baik aja kok Ma," jawab Amy tergagap.Dialin melirik menantunya itu, "Jadi kapan kamu akan hamil?" tanyanya. Amy kembali menelan ludah dibuatnya, sungguh pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bagaimana dia mengetahui kapan dirinya akan hamil?"Eng ... gak tau Ma, mudah-mudahan secepatnya," jawab Amy."Ah bosan mendengar kata secepatnya-secepatnya, dari dulu selalu bilang begitu, nyatanya sampai kini belum hamil juga," keluhan Dialin kembali menusuk perasaan Amy."Astaghfirullah, mohon beri hamba kesabaran ya Allah ... beri hamba kekuatan, untuk tidak menangis dan meluapkan kemara

  • Belang si Janda Kembang   Bab 7

    Panggilan Amy sontak membuat sepasang anak manusia itu terperanjat, Tesla langsung menggeser posisi duduknya sementara Arem langsung berdiri."A … Aku pul ...pulang ya," ucap wanita muda itu tergagap.Tanpa menunggu jawaban dari Amy ataupun Tesla, Arem langsung pergi saja. Kini Amy menatap Tesla dengan tatapan tajam dan penuh selidik, menyadari sang istri didera api cemburu Tesla langsung mendekat dan merangkul perempuan itu. Amy memberontak, dia dorong Tesla dengan kasar agar menjauh darinya. Hari sudah larut dan ada mama mertua yang menginap, karena itu Amy memilih untuk tidak meneruskan keributan. Dia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar, meninggalkan Tesla yang tengah menutup pintu utama.Amy berbaring membelakangi tempat biasa Tesla merebahkan badan, sejenak kemudian dia mendengar lelaki itu masuk ke peraduan. Tesla menyentuh pundaknya, meremas pelan dan mendekatkan bibirnya ke telinga Amy."Kamu jangan salah paham, Sayang," ujar lelaki itu pelan.Mendengar itu air mata A

  • Belang si Janda Kembang   Bab 8

    Pukul lima sore, mobil Tesla memasuki halaman rumah. Amy menghampiri sang suami, yang turun dari sisi kemudi. Tesla tersenyum dan langsung memeluk wanita itu sambil berbisik, "Bersiaplah, aku mau ajak kamu makan malam di luar."Amy menurut, sambil suaminya mandi Amy berhias diri di depan cermin meja riasnya. Pukul tujuh malam dia duduk dengan tenang, di sebelahnya Tesla mengemudikan mobil membelah jalanan ibu kota."Kita mau ke mana?" tanya Amy sambil menoleh kepada sang suami.Tesla tersenyum mesra, "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," jawab Tesla, sambil mengarahkan mobil menuju arah Lodan Jakarta Timur. Tebakan Amy, Tesla akan membawanya ke restoran pinggir pantai lagi.Restoran Sagara menjadi pilihan Tesla. Tempat yang khusus menyajikan menu ala barat itu, terlihat tidak terlalu banyak pengunjung.Pelayan membawa mereka ke meja yang telah dipesan oleh Tesla, hamparan pemandangan lautan menyegarkan mata.Amy menatap semburat warna jingga dari mentari, yang hampir tenggelam. Terl

  • Belang si Janda Kembang   Bab 9

    "Woi, bengong aja!" Amy terperanjat saat si tomboy menepuk pelan pipinya, telapak tangan Ade terasa dingin dan rupanya si tomboy baru saja selesai mandi. Wangi aroma sabun mandi, yang dipakainya menguar memenuhi ruangan kamar. Semakin pekat saat aroma deodoran dan lotion badan, yang kini dioleskan ke ketiak dan seluruh tubuh. Sepuluh menit kemudian, Ade selesai berpakaian. Amy memperhatikan penampilan si tomboy, gadis itu masih nyaman dengan jeans dan kemeja longgar. Meski rambutnya sekarang sudah agak lebih panjang, kesan maskulin tetap terlihat pada tampilannya."Yuk buruan, aku udah lapar nih!" rengek Ade.Tas punggung kecil disandang sebagai pelengkap penampilan, sekaligus juga tempat menyimpan dompet dan segala peralatan.Dengan mobil milik kantornya, Ade mengajak Amy ke salah satu restoran yang ada di daerah Kemayoran. Suasana jalan tidak terlalu ramai, karena sudah lewat jam makan siang."Aku masih penasaran,

  • Belang si Janda Kembang   Bab 10

    Pagi hari seperti biasa, Amy sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suami tersayang. Mencoba melupakan kejadian tadi malam, dan melupakan usul Dialin kepada Tesla. Mencoba percaya pada janji Tesla, yang tidak akan menggantikannya dengan siapapun juga. "Assalamualaikum …." Sapaan itu memaksa Amy untuk menoleh. Tidak diduga Arem sudah berdiri di ambang pintu pembatas antara ruang keluarga dengan dapur."Eh, ada apa pagi-pagi?" tanya Amy heran.Perasaan dongkol kembali menguasai, tetapi dicobanya bersikap biasa."Bang Tesla mana ya?" tanya Arem santai."'Bang Tesla' sejak kapan dia punya sapaan itu kepada suamiku?" Amy membatin sendiri. "Ada perlu apa ya?" selidiknya."Itu ruang makanku semalam kemasukan air hujan, mau minta tolong Abang betulkan. Mungkin ada yang bocor," papar Arem santai."Apa?! dia menyuruh suamiku membetulkan atap rumah yang bocor? Lima tahun menikah, belum sekalipun aku menyuruh Tesla m

Bab terbaru

  • Belang si Janda Kembang   Bab 42

    Sabtu sore sepulang dari AmyDecafe, Amy segera bersiap pergi ke rumah ibunya, Tesla juga bersiap mengikuti sang istri berkumpul di rumah mertua. Malam ini keluarga Amy, akan memberikan kejutan untuk Ade, mereka akan merayakan ulang tahun si tomboy yang ke tiga puluh.Para karyawan AmyDecafe juga diberitahu, mereka yang menyiapkan kue untuk si tomboy. Ibunda Amy dan Mien Hassel sudah sibuk sejak siang menyiapkan menu untuk dimakan bersama, semua itu mereka lakukan tanpa sepengetahuan si tomboy.Ade sendiri diberitahu untuk datang ke rumah orang tua Amy, karena malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu.Ade sengaja mengajak Yuda untuk datang bersama ke acara tersebut, ada sebuah rencana yang tersusun di benak si tomboy.Pukul delapan malam, rumah orang tua Amy telah ramai oleh keluarga dan anak-anak cafe. Selain mereka juga ada keluarga inti dan kerabat terdekat orang tua Amy, seperti para besan. Kebetulan ulang tahun Ade bertepatan juga dengan tanggal dan bulan per

  • Belang si Janda Kembang   Bab 41

    Lelah menghadapi segala permasalahan di kafe hari ini, membuat Amy berkhayal sampai di rumah nanti dia akan langsung mandi dan tidur. Namun khayalannya punah kala sampai di rumah didapatinya Tesla telah kembali dari luar kota, lebih menyebalkan lagi bagi Amy ketika pria itu memintanya untuk memasak."Kenapa gak telpon sih tadi, kan bisa aku bawakan makanan dari kafe," protes Amy."Ya sudah kalau kamu gak mau masakin aku, gak apa-apa." Jawab Tesla sedikit ketus.Amy menghela napas, mau tidak mau dia harus berurusan dulu dengan wajan dan kompor, demi untuk memuaskan "kampung tengah" suaminya.Sebelum adzan maghrib berkumandang, Amy telah selesai dengan urusan dapurnya. Kini hanya menunggu nasi yang di rice cooker matang sempurna. Sembari menunggu nasinya matang, Amy masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan lagi badannya, dengan cara menyiramkan air dingin ke seluruh tubuh, memijatnya dengan kelembutan busa sabun, lalu menyiramkan air ke wudhu. Perempuan itu menunaikan tiga rakaatnya, set

  • Belang si Janda Kembang   Bab 40

    Setelah Ade menutup panggilan telepon untuk kedua kalinya, Amy hanya bisa tercengang sendiri sambil berpikir apa yang sebenarnya telah terjadi di cafe. Karyawan manakah yang dimaksud oleh si tomboy. Semalaman Amy jadi sulit tidur memikirkan hal itu, saat pagi menyapa wanita itu bergegas mendatangi AmyDecafe.Dia sangat penasaran, apa yang telah terjadi tadi malam di kafe? Mengapa Ade sampai murka, dan kepada siapa si tomboy itu melampiaskan kemarahannya? Beragam pertanyaan itu memenuhi pikiran Amy, selama dirinya berada dalam perjalanan menuju AmuDecafe."Dita tolong kamu datang lebih cepat ya, ada yang mau kakak lihat di rekaman Cctv." Tulis Amy pada pesan singkat yang dikirimkan kepada Dita.Tak lama Amy sampai Dita pun tiba, gadis itu segera membuka rekaman Cctv seperti yang diminta atasannya"Buka bagian kitchen antara pukul 9.00 sampai 10.00 malam" Perintah Amy, Dita menurut berdua mereka melihat kejadian yang terekam cctv semalam. Dari pukul 21.00 WIB sampai 21. 30 WIB, takada

  • Belang si Janda Kembang   Bab 39

    *Seminggu Kemudian*Semenjak pertemuan di warung Soto Betawi hari itu, Tesla menjadi lebih sering mengirimi Ade pesan singkat. Awalnya lelaki itu meminta maaf berulang-ulang soal tuduhannya kepada si tomboy, setelah itu Tesla lebih banyak menceritakan keluhannya tentang keinginan mamanya untuk segera menimang cucu."Sejujurnya, De. Aku sama sekali tidak berniat menikah lagi, aku ingin sehidup semati dengan Amy, ada atau tanpa anak di antara kami. Tapi mamaku, De. Aku kasihan dengan mamaku." Begitulah Tesla kerap mengeluh, dan entah bagaimana alam bawah sadar Ade bisa memaklumi kegalauan hati lelaki itu. "Kenapa kalian tidak mencoba program bayi tabung saja?" tanya Ade suatu hari menanggapi keluhan Tesla yang dikirim lewat pesan singkat."Percuma saja, De. Dokter sudah memvonis Amy mandul," balas Tesla.Ade pun terdiam dibuatnya, selama ini dia tidak pernah menanyakan perihal kesuburan Amy, selain merasa itu bukan wewenangnya, dia juga tidak mau menyinggung perasaan sahabatnya itu.Se

  • Belang si Janda Kembang   Bab 38

    Pagi hari selepas sarapan, Ade dan Amy pergi meninggalkan rumah. Ade mengantarkan Amy ke cafe, setelah itu dia pergi tapi bukan ke hotel karena hari ini jadwalnya dia libur. Si tomboy mendatangi kantor provider telepon seluler, untuk menonaktifkan nomor ponselnya yang dicuri oleh Wulan. "Mbak saya mau minta tolong nonaktifkan nomor ini," Ade menyodorkan selembar kertas, yang bertuliskan beberapa digit angka kepada petugas di ruang pelayanan pelanggan."Maaf Kak, ada KTP dan SIM-card dari nomor yang akan dinonaktifkan?" Tanya petugas cantik tersebut.Ade menyodorkan kartu identitas miliknya, "Sim-card nomornya hilang, Mbak, maka itu saya minta segera dinonaktifkan agar tidak disalah gunakan," Jelasnya."Baiklah, tunggu sebentar ya, Kak." Pinta si petugas, lalu ia pun sibuk dengan layar komputernya."Nomor sudah kami nonaktifkan, Kak. Kami pastikan nomor ini tidak akan digunakan sampai dengan 24 bulan kedepan, selanjutnya kemungkinan nomor ini akan kembali dijual sesuai aturan perusah

  • Belang si Janda Kembang   Bab 37

    Setelah mengakhiri panggilannya, Ade buru-buru meletakkan kembali ponsel Wulan pada tempatnya. Tampak gadis bertubuh tinggi semampai itu melangkah ringan menghampirinya."Kak, Teriyaki sauce chicken satu porsi." Wulan berkata sambil menyerahkan nota pemesanan kepada Ade "Oke," Jawab Ade santai, si tomboy segera berdiri dan melangkah ke arah dapur menuju meja kerjanya.Wulan mengikuti di belakang, saat Ade sibuk meracik bumbu di atas perapian, Wulan terus memandangi si tomboy dengan tatapan mesra. Ade tidak memperdulikan dia tetap fokus dengan pekerjaannya, selain itu benaknya juga dibebani sebuah pertanyaan, mengapa nomor teleponnya bisa berpindah ke ponsel Wulan?"Woi biasa aja ngeliatnya!" Sorak Dona—asisten Ade, sambil mengibaskan tangannya yang basah ke muka Wulan. Dona baru saja mencuci tangannya, setelah selesai menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan Ade."Apaan sih rese Lo!" Wulan menggerutu, sambil menyeka wajahnya yang terkena percikan air dari tangan Dona.Ade mengabaikan k

  • Belang si Janda Kembang   Bab 36

    Yuda meneliti daftar menu yang tertulis, tidak ada makanan berat hanya cemilan dan minuman saja. "Air kelapa dua, satunya tidak usah pakai es dan beri perisa leci, yang satunya pakai es dan susu." Ujar Yuda menyebutkan pesanannya.Ade tersipuendemgar Yuda masih hapal dengan minuman kesukaannya, air kelapa muda tanpa es dan diberi perisa leci."Abang pikir kamu sudah lupa sama Abang, pas kemarin kita ketemu, ucap Yuda sambil tersenyum menatap Ade.Si tomboy menggeleng, "Kemarin aku cuma kaget saja, tidak menyangka akan bertemu Abang," jawabnya."Bumi ini memang kecil ya, De?" Gumam Yuda."Nggak blBang, bagiku bumi ini begitu besar hingga untuk bertemu Abang kembali aku harus menunggu belasan tahun," bantah Ade."Hahahaha bisa saja kamu, De," Yuda tergelak, ada perasaan tak enak di hatinya, "Aku egois ya?" tanya.Ade kembali menggeleng, "Tidak, Abang mungkin mempertahankan harga diri Abang sebagai lelaki dewasa, di hadapan gadis kecil yang tidak tau menghargai perasaan orang." Yuda m

  • Belang si Janda Kembang   Bab 35

    "Haaaa!" Ade menghela napas panjang, bayangan kenangan silam kembali menggores perasaan. Dia teringat beberapa hari setelah malam itu, Een kembali menemuinya di halte sekolah saat jam pulang sekolah."Mbak sudah bicara dengan Yuda, sepertinya dia benar-benar kecewa dengan kamu. Dia berkata, kamu sekarang sudah besar dan tidak butuh dia lagi, karena itu lebih baik kalau dia menghindar. Lagi pula usia kalian terpaut jauh sekali, kamu bisa mencari cowok lain yang seumuran dengan kamu."Mendengar itu Ade tergugu menangis, dia tidak berpikir tentang cowok lain yang dia mau hanya Yuda seorang."Tolong bilang sama Abang, Mbak. Kapan pun waktunya, beri aku kesempatan untuk bertemu. Aku tidak akan memaksa Abang untuk bersamaku, kalau Abang tidak mau. Aku hanya ingin meminta maaf secara langsung kepadanya, itu saja." ujar Ade.Een mengangguk dan berjanji akan menyampaikan hal itu kepada Yuda. Semenjak hari itu, harapan Ade benar-benar hancur. Gadis cantik berambut panjang itu akhirnya memilih m

  • Belang si Janda Kembang   Bab 34

    Setelah berdebat dengan Amy perkara dia ingin menikah lagi, Tesla menenangkan diri dengan pergi ke kampus tempatnya mengajar. Di sana dia bertemu Handoko—rekan sejawat, yang juga dianggapnya sebagai guru spiritual.Handoko pria muda berusia empat puluh tahunan, paham tentang agama dan praktisi poligami. Dia memiliki dua istri, dari keduanya Handoko mendapatkan empat orang anak. Istri keduanya seorang janda dengan satu anak, anak inilah yang kemarin menikah dan Tesla hadir di sana. Istri kedua Handoko adalah kerabat dekat orang tua Yuni, dari Handoko jugalah, Tesla mengenal Yuni."Aku bertengkar dengan Amy," Tesla mengadukan perdebatannya tadi kepada Handoko."Soal apa?" tanya Handoko tanpa maksud menyelidik."Soal menikah lagi, susah sekali ternyata untuk mendapatkan izin," keluhnya.Handoko tertawa, "Kamu tau hal apa yang ditakuti wanita ketika kita memutuskan untuk poligami?" Tesla menggeleng, "Yang pasti mereka tidak mau berbagi," jawabnya.Handoko ikut menggeleng, "Kamu salah, wa

DMCA.com Protection Status