"Ish … hepi sekali, Anda." Pria itu kembali tertawa, manis sangat manis. Bagaimanapun akan sulit bagi kami menjaga sebuah profesionalisme dalam hal pekerjaan. Karena keterikatan dan sebuah hubungan yang melibatkan perasaan terdalam. Paling tidak, aku akan tetap bertanggung jawab atas semua pekerjaanku.Tawa Mas Satria terhenti saat terdengar suara ketukan di pintu. Segera dia beranjak berjalan menuju pintu dan membukanya. Pak Agus kepala cabang kami, muncul dari balik pintu. Pandangannya mengarah kepadaku."Aku cariin tadi, kamu ke ruanganku sekarang." Pak Agus menunjukku dengan dagunya."Iya, tadi saya minta Rania mengerjakan laporan performance marketing untuk meeting dengan divisi HRD area lusa." Tanpa ditanya Mas Satria memberi penjelasan."Oh, iya. Yang untuk divisi collection sudah kamu minta juga?" tanya Pak Agus pada Mas Satria."Sudah, Pak." Mas Satria menjawab disertai anggukan. Terlihat Pak Agus juga manggut-manggut."Ayok, ditunggu Pak Andreas di ruanganku," ucap Pak Agu
“Aku nggak bawa motor,” ucapku sesampainya di parkiran. Sudah ada Wina, Tika dan Nia yang terlihat tengah bersiap. “Jadi, nggak bawa helm.”“Aku ada,” ucap Tika sambil membuka jok motornya, sebuah helm berwarna putih dia keluarkan dari dalam bagasi motor. “Bonceng aku aja,” tawarnya kemudian.“Kecap nggak lupa?” tanyaku kemudian sambil mengenakan helm yang Tika berikan.“Udah hahaha.” Wina tertawa sambil menunjuk kresek hitam yang dia cantolkan di sepeda motornya. “Demi apa coba?” Aku dan yang lain kemudian sama-sama tertawa menyadari kebiasaan yang tak biasa dari kami. Sepeda motor yang aku tumpangi Bersama Tika bergerak meninggalkan area parkir karyawan menuju ke jalan raya. Jam makan siang jalanan terlihat sedikit lebih padat dibanding jam sebelum adan setelahnya. Tika melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Wina dan Nia berada di depan kami.Dari kejauhan sudah aku lihat banyak mobil parkir berjajar di depan warung, begitu juga dengan kendaraan roda dua yang terparkir di
Ada yang terasa semakin panas di dalam dada ini, ada nyeri juga ikut menyertai. Yang pasti rasanya sakit dan tidak nyaman. Ditambah lagi dengan celotehan teman-temanku semakin membuat hati ini terasa perih. Aku berharap Mas Satria menyadari keberadaanku, tapi, sepertinya tidak. Aku juga tak mungkin memanggilnya. Pria itu terlihat masuk kedalam mobil dan sesaat kemudian mobil Mas Satria bergerak meninggalkan area parkir toko swalayan.“Kamu kenapa? Liatin nya kayak kesel gitu?! Jangan jangan kamu naksir ya … hahaha.” Wina menggodaku, candaannya di sambut tawa oleh yang lainnya. Tidak demikian denganku, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku yang sedang panas.“Dah sama Roni aja, yang jelas jelas demen sama kamu. Kalau Pak Satria memang lebih menantang sih, tapi sepertinya saingan kamu berat.” Tika ikut-ikutan memberikan komentar yang Kembali disambut tawa oleh yang lainnya.Aku tahu mereka tidak sengaja membuat suasana hatiku makin kacau dan hatiku semakin gerah, karena mereka tidak tau
Sebuah taman yang cukup luas berada di dekat perumahan, setiap pagi dan sore selalu ramai. Banyak tanaman bunga yang cantik-cantik, lapangan basket dan juga fasilitas bermain anak-anak seperti jungkat jungkit, perosotan, ayunan dan beberapa permainan lainnya. Banyak bangku permanen dari besi bercat putih yang di pasang di dalam taman.Di sisi luar taman sebelah kanan nada banyak penjual jajanan, mulai dari sosis bakar sampai cilok dan beraneka minuman. Sesampainya di taman kedua ponakanku sudah langsung sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku melipir ke pagar sisi kanan taman untuk memesan sosis bakar, cilok, telur gulung, dan sempol. Kalau banyak pikiran yang nanggung seperti sekarang, lariku ke makanan. Untuk minuman, Kak Regina membawakan keduanya jus jeruk dari rumah.“Aunty boleh?” teriak Al sambil menunjuk ke arah permaianan seperti jarring-jaring, aku tidak tau namanya. Aku mengoyangkan jari telunjuk tanda tidak boleh karena jarring itu terlalu lebar
“Kok tau nama cucu, tante?” tanya wanita itu terlihat bingung.“Oma.” Aku belum sempat menjawab, Ayra sudah tiba terlebih dahulu dan berhambur di pelukan wanita itu.“Hati-hati, jalannya pelan saja ya, saying.” Wanita itu meraih tubuh mungil itu kemudian menciumnya.“Mbak.” Baby sitter itu menyapaku, sepertinya dia menginggat diriku. Aku membalasnya dengan anggukan dan tersenyum.“Kalian saling kenal?” tanya ibu mas Satria melihat ke arahku dan ke baby sitter itu bergantian.“Iya, Oma. Mbak ini yang pernah bantuin Ayra sewaktu hampir hilang di Mall tempo hari.” Perempuan dengan baju merah muda itu memberi penjelasan. Sebenarnya aku juga tidak sengaja waktu itu hanya sebuah kebetulan juga.“Oh … begitu. Terima kasih banyak yah, Alhamdulilah bisa berjodoh jadi tante bisa mengucapkan terima kasih,” ucap Ibu mas Satria kemudian.“Sama-sama, Tante. Kebetulan saja waktu itu,” balasku dengan mengulas senyum.“Inum … inum.” Ayra terlihat menunjuk botol minuman yang aku bawa. “Ayra mau?” tany
“Langsung mandi, ya.” Sesampainya di depan rumah aku langsung berpesan kepada kedua keponakanku itu. “Keringetan tuh … kotor lagi badannya.”“Iya, Aunty.” Serempak kedua keponakanku itu menjawab kemudian berlari ke rumahnya masing-masing. Setelah memastikan keduanya masuk ke dalam rumah aku melangkah pelan menuju pagar. Perasaanku sedang tidak nyaman dan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Semakin banyak hal yang aku tau semakin banyak pertanyaan yang berjejal dalam benakku. Juga rasa ragu yang entah mengapa kembali hadir. Aku tidak buta untuk dapat melihat arti tatapan Aleya pada Mas Satria, itu bukan perasaan biasa. Meski mungkin tatapan mata itu belum mampu meluluhkan hati Mas Satria, tapi, sampai kapan? Selama Aleya berada dalam lingkaran yang sama tidak ada jaminan untuk Mas Satria menyadarinya suatu saat.Apa Aleya bersalah dengan perasaannya? Tentu saja tidak. Siapa yang bisa mengatur perasaan seseorang, meski bisa menutupinnya bukan berarti bisa menghapusnya. Ah … pikiranku
“Kalau kamu? Suka nggak?” tanya Mas Satria kemudian, suaranya terdengar manis membuat dadaku cenat cenut.“Suka, enak.” Entah mengapa jadi grogi.“Sama, aku juga suka. Tapi, bukan suka pudingnya. Suka sama yang dikirimi pudding.” Gombalan receh dari mas Satria berhasil membuat hidungku kembang kempis.“Ish … gombalin aja terus,” balasku kemudian. “Emm mas tadi katanya mau cerita, cerita apaan?”“Itu bukan gombalan, Sayang. Itu kenyataan, kenyataan yang sebenar-benarnya,” ucap mas Satria menangapiku. “Iya, em … tapi, janji dulu jangan marah ya.”“Marah, memangnya kenapa harus marah?” tanyaku. Aku berharap mas Satria akan bercerita tentang Aleya sehingga rasa kesal dan banyaknya pertanyaan yang berjejal akan segera mendapatkan jawaban.“Tadi siang, aku keluar dengan Aleya. Pembantu di rumah sedang ada acara persiapan pernikahan anaknya. Kami tadi kesana hanya sebentar siang tadi sewaktu jam istirahat. Mendadak sebenarnya karena Aleya lupa memberitahu. Jangan marah, ya.” Sesuai dugaan d
“Jadi bener kalian pacaran?” tanya Roni sore itu, saat aku sedang menyiapkan laporan harian, aku mengangguk mengiyakan.Sudah hampir dua minggu aku dan Mas Satria membuka hubungan dah akhirnya menjadi buah bibir di kantor. Apalagi dengan status Mas Satria sebagai duda dan juga sebagai seorang wakil kepala cabang. Tidak terkecuali sahabatku yang mencecarku dengan banyak pertanyaan tentang hubunganku dengan Mas Satria.Memang ini masalah pribadi antara aku dan Mas Satria, hanya saja kami adalah rekan kerja dan berada di bawah atap kantor yang sama. Mau tidak mau harus sedikit membuka cerita apalagi kami dalam waktu yang terlalu singkat bagi orang lain dalam memutuskan untuk bersama.“Jadi Pak Satria mantan kamu pas kuliah?” Itu pertanyaan dari Tika saat aku membuka jati diri dan membuka hubunganku dengan Mas Satria.Banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bisa aku jawab semuanya. Aku hanya bercerita seperlunya saja, sebatas apa yang memang harus mereka tau. Tidak semua harus diungk
Pandanganku terhenti pada sosok yang cukup aku kenal, meski mungkin dia tidak mengenalku. Satria, pria dari masa lalu Rania istriku terlihat berada di depan ruang praktek dokter Anna. Di sampingnya terlihat seorang perempuan berperawakan kecil seperti anak SMA, yang jelas itu bukan istrinya yang dulu. Karena kalau istrinya yang dulu aku sempat tahu saat dirawat disini.Tidak mungkin adiknya juga karena setahuku adiknya sudah meninggal, itu aku dapat dari cerita Rania. Apa mungkin itu istrinya dan Satria sudah menikah lagi, tetapi, perempuan itu terlihat sangat muda. Keduanya seperti sedang menunggu antrian periksa di dokter Anna di poli kandungan.Hamil?Kenapa jadi aku yang kepo dan ingin tahu, sudahlah. Aku melanjutkan langkah untuk menuju ruang praktekku. Kalau pun itu memang benar istrinya dan sekarang hamil itu akan lebih baik. Berarti Satria sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. Aku tahu masih ada rasa bersalah atau apalah yang Rania rasakan selama ini
PoV Danta Aroma wangi masakan menguar dan menghampiri Indera penciumanku saat aku berjalan mendekat ke arah dapur tempat Rania berada sekarang. Selepas salat Subuh tadi dia sudah berkutat di dapur untuk mengeksekusi resep masakan yang baru dilihatnya semalam di sebuah channel youtube. Wanita yang sudah hampir setahun aku nikahi itu memang punya kegemaran baru sekarang, yaitu mencoba resep masakan. “Wangi banget,” ucapku saat memasuki dapur, Rania menoleh dan tersenyum.“Semoga nggak keasinan lagi seperti kemarin,” jawab Rania dan kembali menarik pandangannya ke arah panci di depannya.Aku tersenyum mengingat kejadian kemarin, entah berapa sendok garam yang dia masukkan ke dalam masakannya. Kalau ada pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, hal ini tidak berlaku untuk Rania. Mama mertuaku pintar memasak dan enak bahkan pernah membuka catering juga cerita Rania, tetapi, berbenda dengan anak perempuannya yang juga istriku ini. Tetapi, R
Duda itu Mantan PacarkuPart xtra 22*** Ketukan di kaca mobil sontak membuat dua insan yang tengah terbuai dalam debar asmara itu saling menjauhkan diri satu dengan yang lain. Wajah keduanya menghangat seketika dengan debaran di dada yang semakin kencang terasa. Aletha lekas menurunkan kaca mobil saat melihat keluar telah berdiri sahabatnya, Titan yang mengetuk pintu mobil Satria.“Ada apa?” tanya Aletha yang masih sedikit gugup kaget.“Jangan lewat sepanjang jalan Plaosan Timur ada kegiatan warga nutup jalan katanya, nanti lurus aja terus masuk ke kiri selepas lampu merah dekat pom bensin.” Titan memberi tahu kondisi jalan yang akan mereka lewati nanti ke tempat acara syukuran yang diadakan di sebuah restoran.“Oh … gitu, okay. Ya udah ini mau langsung ke sana.” Aletha mengangguk mengerti, Satria yang duduk di belakang kemudi ikut mengangguk.Sepasang pengantin baru itu tengah menetralisir perasaannya masing-masing karena
Sepertinya ini adalah persiapan pernikahan tercepat dari sebelumnya yang pernah aku lakukan, karena setelah aku melamar Aletha hanya butuh waktu kurang dari 2 minggu saja sampai hari yang di tentukan, yaitu hari ini. Aku dan Aletha sepakat untuk menikah di Masjid samping KUA dengan disaksikan keluarga dekat saja, tidak ada resepesi yang akan digelar karena Aletha tidak menghendakinya. Keluarga Aletha hanya mengundang kerabat dekat untuk syukuran selepas ijab kabul.Ini bukan yang pertama, bukan juga yang kedua aku akan mengucapkan kalimat sakral sebuah janji suci, tetapi, aku berdoa ini menjadi yang terakhir aku melakukannya. Aku tidak ingin mengulang lagi untuk suatu masa nanti, biarlah kegagalan pernikahanku dulu menjadi sebuah pelajaran yang berharga untukku. Hari Sabtu jam 9 pagi ini kesendirianku akan aku akhiri dan aku akan membuka sebuah lembaran baru dengan cerita baru.Aku menyetir sendiri dan mempersiapkan semuanya sendiri, kemeja putih dengan jas d
Pov Aletha *** [Dari kantor aku langsung ke rumahmu] [Aku sudah OTW] Aku membuka aplikasi chat berlogo warna hijau di ponselku, dua pesan masuk dari Mas Satria yang biasa aku panggil dengan sebutan Om itu beberapa waktu yang lalu. [Iya, hati-hati di jalan] Sebuah kalimat balasan aku kirimkan kemudian, belum terbaca setelah beberapa detik. Mungkin dia sedang menyetir. Aku kemudian meletakkan ponselku di meja dan beranjak ke lemasri untuk memilih baju yang akan aku kenakan. Masih merasa aneh dengan semuanya, serasa mimpi, tapi, bukan mimpi. Bahkan beberapa hari yang lalu pria itu masih sangat ketus padaku, tapi, entah apa yang terjadi padanya hinga dia sampai mengatakan hal itu. Lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu kenapa mengatakan iya, tapi, aku juga sedang tidak main-main denga
“Tidak.” Aku menggeleng meski Pak agus juga tidak akan melihatnya. “Kami tidak sedang mencari tempat pelarian, tetapi, mencari tempat untuk kami bisa saling mengisi dan melengkapi,” jawabku kemudian. “Aku mengerti, aku senang dengan hal ini. Aku menganggapmu bukan hanya rekan kerja, lebih dari itu dan Aletha adalah keponakan kesayanganku. Yang aku minta jangan pernah membuatnya patah lagi dan berbahagialah kalian. Aku akan bicara dengan mamanya Aletha setelah ini. Lebih cepat juga lebih baik daripada ada apa-apa nanti kalau ditunda- tunda.” Pak Agus memberikan dukungannya dan aku merasa lega untuk itu. Sekarang tinggal bicara lagi dengan Aletha untuk mempersiapkan semuanya dengan lebih matang. Mungkin aku hanya bisa pergi sendiri saat nanti mengutarakan niatku kepada keluarga Aletha karena di kota ini aku tidak memiliki keluarga selain Ibu saja. Aku menutup panggilan selepas mengucapkan salam, sudah jam 6 lebih dan aku haru
“Iya,” jawabku sambil mengangguk. “Rania?” tanya Ibu ragu. “Bukan, Dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Mungkin sekarang waktunya aku untuk bisa menata kembali kehidupanku. Ibu pernah meminta aku untuk kembali mendapatkan hati Rania karena dia tidak tahu kalau Rania sudah menikah. Aku mengatakan pada Ibu kalau Rania sudah menikah dengan pria lain dan hal itu membuat Ibu merasa semakin bersalah padaku dan juga Rania. “Kamu yakin bisa mencintai perempuan lain?” tanya Ibu kemudian. Sebuah pertanyaan yang wajar karena Ibu tahu aku sangat mencintai Rania dan betapa terpuruknya aku karena patah hati. “Aku harus bisa meski semua membutuhkan waktu. Rania … sampai saat ini aku masih mencintainya, tetapi, aku juga harus melanjutkan kehidupanku. Dia juga sudah bahagia dengan kehidupannya dan tidak seharusnya aku masih berharap untuk dapat bersamanya.” Aku lega melihat Rania bahagia deng
“Kamu serius?” tanyaku yang sedikit merasa kaget dengan pertanyaan Aletha. “Nggak,” jawab gadis itu enteng. “Ya seriuslah, Om.”“Beneran?” tanyaku lagi, padahal aku yang membuat pembicaraan ini dan aku sendiri pula yang masih merasa belum percaya.“Iya, ada beberapa point yang aku sepakat dengan pemikiran, Om. Karena dunia akan tetap berjalan bagaimanapun keadaan kita. Tidak akan ada yang peduli pada diri kita selain diri kita sendiri dan hidup juga sebuah pilihan bukan? apakah kita akan tetap berdiam membenamkan diri dalam kesakitan atau kita mulai berusaha membebaskan diri dari sebuah belenggu luka.” Aletha terlihat serius dengan bicaranya.“Sebuah hal baik katanya harus disegerakan, setidaknya untuk menghindari fitnah dan membuang waktu hanya untuk sekedar pengenalan. Setidaknya kita memiliki niat yang sama, sama-sama ingin lepas dari masa lalu dan melangkah ke depan untuk kehidupan baru. Aku berharap ini sebuah keputusan yang tepat dan aku ha
Pov Satria “Nggak suka becandanya, bisa bahas hal lainnya.” Raut wajah Aletha berubah. Wajar saja dia berpikir demikian sedangkan kami memang belum lama saling mengenal, apalagi aku selalu bersikap ketus padanya selama ini. Aku juga belum yakin denga napa yang aku katakana, tetapi, ada sebuah dorongan yang tidak aku mengerti untuk aku mengatakan hal ini padanya. Aku merasa tidak ada yang buruk dengan pemikiran dari Pak Agus meski aku tidak tahu dia sedang serius atau hanya mencandaiku. Kami sama-sama terluka oleh masa lalu dan kami butuh seseorang untuk saling menguatkan. Tetapi, aku tidak yakin juga apa dia bisa menerimaku. Tetapi, akan lebih baik aku ungkapkan apa yang menjadi keinginanku masalah diterima atau ditolak itu urusan nanti. Setidaknya aku sudah berusaha keluar dari kubangan nestapa masa lalu yang selalu membayangi perjalanan hidupku. “Aku serius,” jawabku kemudian. “Tapi kenapa?” tanya Aletha, kedua tangannya mengenggam gelas minumnya dengan pandangan mata yang me