Share

Antara Cinta dan Keluarga
Antara Cinta dan Keluarga
Penulis: Ellie Felicia

Bab 1

Penulis: Ellie Felicia
Situasinya mendadak kacau. Semua orang tertegun tak percaya. Ayah, Ibu, dan Edwin buru-buru menghampiriku untuk mengelap noda lengket jus jeruk di gaun yang kupakai.

Sementara itu, aku masih terdiam. Aku belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi dan hanya memandang bocah yang terlihat marah itu.

Bocah itu baru berusia lima tahun, tapi alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya. Wajahnya manis dan menggemaskan. Namun saat ini, tatapannya penuh dengan amarah seperti seorang kesatria yang merasa perlu menegakkan keadilan.

Kakak sepupu pacarku, Lakita, berjalan mendekat. Dia menarik bocah itu, lalu berucap dengan santai, "Vito, itu bukan ayahmu. Dia pamanmu."

Lakita tidak memarahinya, bahkan tidak menunjukkan rasa kesal. Dia langsung berniat membawa anaknya pergi begitu saja.

Ibuku yang sudah naik darah langsung membentaknya dengan emosi, "Berhenti! Minta maaf pada putriku! Apa seperti ini cara kalian mendidik anak?"

Namun, Lakita tetap menunjukkan ekspresi tak peduli. Alisnya mengerut, seolah-olah kami yang sedang membuat masalah besar.

Lakita hanya membalas, "Dia masih kecil, mana tahu apa-apa?"

Aku yang semula coba menahan diri, akhirnya tidak bisa lagi. Dengan suara yang lebih rendah tapi penuh kemarahan, aku menimpali, "Kalau dia nggak ngerti, apa kamu juga nggak ngerti?"

Orang tua Edwin mulai mencoba menenangkan suasana. Alih-alih meminta Lakita dan Vito untuk minta maaf, mereka malah menasihatiku agar lebih bijaksana.

Salah satu dari mereka berujar, "Jessy, sudahlah jangan terlalu dipermasalahkan. Hari ini, kita semua berkumpul untuk bersenang-senang." Nada suaranya membuatku terdengar seperti orang yang terlalu berlebihan.

Pertemuan hari ini adalah pertemuan resmi pertama keluarga kami untuk bertemu keluarga Edwin. Semua kerabat penting dari kedua belah pihak hadir.

Bahkan, aku mengenakan gaun yang selama ini aku sayangi dan hanya sesekali kupakai. Namun hanya dengan sebotol minuman, Vito menghancurkan gaun yang harganya lebih dari 4 juta itu.

Aku sangat marah. Vito bahkan tidak mengucapkan sepatah kata maaf. Suasana pun menjadi tegang. Saat itu, keponakanku yang selama ini berdiri di samping, tiba-tiba mengambil sebotol minuman dan menyiramkannya ke arah Vito.

Seluruh ruangan langsung gempar. Lakita berteriak kaget sambil tergesa-gesa mengambil tisu untuk mengelap anaknya. Sambil melakukannya, dia memelotot ke arah kami dengan marah.

Kakak sepupuku, Paulo, hanya mengacak-acak rambut anaknya, lalu mengulangi ucapan Lakita barusan, "Dia masih kecil, nggak ngerti apa-apa. Jangan dipermasalahkan."

Itu adalah serangan balik yang telak. Ironisnya, kalimat itu persis seperti yang diucapkan oleh Lakita sebelumnya. Kini, dia tak bisa membantah lagi. Hatiku pun sedikit merasa lega.

Setelah itu, Edwin menarik Vito dan memberi tahu dengan tegas, "Cepat minta maaf pada Bibi Jessy!"

"Ogah!" tolak Vito mentah-mentah. Melihat pamannya yang biasanya paling memanjakannya tiba-tiba membentaknya, dia makin yakin bahwa aku adalah wanita jahat.

Vito pun berseru sambil mendorongku dengan sekuat tenaga, "Pergi dari sini! Aku nggak mau kamu jadi bibiku!"

Dalam bayanganku, anak lima tahun seharusnya polos dan ceria. Namun, kenapa Vito bisa memendam kebencian sebesar ini terhadap orang lain?

Aku benar-benar tidak percaya bahwa ini bukan karena pengaruh lingkungan. Aku mendongak, lalu memandang Lakita yang berdiri tidak jauh dariku. Dia masih berdiri di sana dengan santai, seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Bahkan, perutnya yang sudah membesar terlihat naik turun karena napasnya. Hanya saja, entah kenapa itu justru membuatku makin kesal.

Orang tuaku yang sudah tidak bisa menahan amarah lagi pun menarikku sambil berucap, "Aku rasa nggak perlu lagi melanjutkan hubungan ini!"

Melihat kami pergi, Edwin langsung panik. Dia menarik Vito dengan paksa dan memaksanya meminta maaf.

"Edwin, apa wanita ini lebih penting daripada keponakanmu?" Lakita yang sebelumnya tak acuh, tiba-tiba berubah galak saat melihat anaknya diperlakukan kasar. Orang tua Edwin juga mencoba menenangkan situasi, tapi lagi-lagi mereka lebih membela Vito.

Melihat sikap keluarganya yang seperti itu, orang tuaku makin kesal. Mereka langsung menarikku keluar dari restoran dengan langkah cepat.

Bab terkait

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 2

    Ini adalah pertemuan pertama antara kedua keluarga, tapi suasananya malah menjadi begitu tidak menyenangkan.Setelah kembali ke rumah, orang tuaku masih kesal. Namun, hubungan yang sudah berlangsung selama 10 tahun tidak mungkin diputuskan begitu saja. Kami semua sudah dewasa. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, juga ada lebih banyak kekhawatiran."Ibu rasa kamu harus bicara baik-baik dengan Edwin. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku lihat Edwin anaknya baik, tapi kenapa keluarganya seperti itu?" ucap ibuku dengan nada kesal.Ayahku menimpali sambil berujar, "Soal sepupunya itu, dengan perut besar begitu masih sempat bikin keributan. Barusan aku di sebelah saja khawatir kalau sampai mereka berkelahi, dia malah pura-pura jadi korban."Aku tidak bisa menahan tawa mendengar komentar ayahku. Namun, ibuku langsung menyenggol kepalaku dengan jarinya. Dia memarahi, "Kamu masih bisa tertawa? Ibu benar-benar merasa sepupunya itu aneh. Sudah cerai, kenapa dia harus tinggal

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 3

    Aku sulit memercayai apa yang kudengar. Apa-apaan itu? Mengajari anak dengan cara seperti itu? Tidak heran Vito tidak suka denganku. Ternyata keluarga ini benar-benar seperti vampir yang berencana untuk memoroti Edwin.Belum sempat aku merespons, aku mendengar suara ibu Edwin memanggil dari ruang makan. "Jessy, Lakita, ayo makan!"Lakita Kusuma adalah nama sepupu Edwin. Di meja makan, ibu Edwin terus mengambilkan makanan untukku sambil meminta maaf panjang lebar atas kejadian sebelumnya.Akhirnya, ibu Edwin berkata, "Kalian sudah bersama selama bertahun-tahun. Semua orang menyukai kalian sebagai pasangan. Jangan biarkan masalah kecil ini merusak hubungan kalian."Ucapan ini benar-benar tidak bisa dilawan. Aku hanya bisa membalas sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku dan Edwin baik-baik saja."Di sampingku, Vito merajuk sambil menarik lengan Edwin, "Paman, aku mau Transformers yang ada di TV tadi!"Edwin menjawab dengan lembut, "Baiklah, Paman akan belikan untukmu."Namun, Vito la

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 4

    Aku tiba-tiba mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku terlalu manja? Bukankah cinta itu memang tentang hal-hal kecil yang kadang remeh-temeh? Kenapa aku harus terlalu perhitungan? Perasaan jengkel di hatiku perlahan mulai mereda.Rumah yang kami lihat sangat besar. Ada empat kamar tidur dan satu ruang tamu dengan pencahayaan yang sangat bagus. Ini benar-benar rumah impianku. Di kamar utama, bahkan sudah dipasangkan seprai dan selimut berwarna merah untuk memberikan suasana yang penuh suka cita.Kami melihat satu per satu ruangan dengan antusias. Namun ketika melihat salah satu kamar tambahan, ibu Edwin tanpa sengaja berucap, "Kamar ini nantinya untuk Lakita. Tambahkan ranjang bayi agar dia bisa merawat anaknya.""Kamar di seberangnya untuk Vito. Sisanya, kamar utama dan satu kamar kecil untuk kalian berdua dan anak kalian nanti. Pas banget, 'kan?" ucap Ibu Edwin.Ibu Edwin berbicara seolah sedang membayangkan masa depan yang indah. Nada suaranya pun penuh semangat. Namun kalimat itu

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 5

    Meskipun aku melangkah keluar dari rumah itu, hidupku tetap harus berjalan. Sejak hari itu, Edwin hampir setiap hari mengirimiku pesan. Isi pesannya selalu sama dan berulang-ulang. Katanya, dia tidak bisa melupakan hubungan ini dan berharap aku mau mempertimbangkannya kembali.Kadang kala setelah seharian lembur, Edwin bahkan datang ke bawah apartemenku dan menungguku di sana dengan penuh harap. Namun, aku tidak pernah goyah.Ketika teman-teman bertanya tentang persiapan pernikahanku dan Edwin, aku hanya menjawab dengan santai, "Kami sudah putus."Mereka terkejut, tapi tidak ada yang merasa itu hal yang disayangkan. Sebaliknya, mereka hanya memberikan doa agar aku bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Ternyata kenyataan yang dulu terasa sulit dihadapi, tidak seburuk yang kubayangkan saat benar-benar dihadapi.Suatu hari di akhir pekan, Edwin kembali mengajakku bertemu. Kali ini, aku tidak berpura-pura tidak melihat pesannya. Aku menerima ajakannya. Ada beberapa hal yang memang harus

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 6

    Aku melanjutkan, "Edwin, kamu dan keluargamu juga sama."Air mataku akhirnya tidak dapat tertahan lagi dan jatuh satu per satu. Namun, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menangis.Mungkin itu karena semua rasa sakit yang kupendam selama ini atau mungkin karena hubungan cinta 10 tahun yang akhirnya harus berakhir. Ternyata, aku tidak bisa bersikap tenang dan berani seperti yang kubayangkan."Edwin, keluargamu adalah masalah terbesar di sini. Orang tuamu menyerahkan kakakmu pada keluarga pamanmu cuma agar mereka bisa melahirkan kamu. Mereka bahkan menamai kakakmu Lakita. Itu sebenarnya karena mereka mau anak laki-laki, 'kan?""Aku ini anak tunggal, jadi aku nggak  bisa membayangkan gimana rasanya menikah ke dalam keluarga yang sangat mengutamakan anak laki-laki seperti keluargamu.""Dari kita mulai pacaran di SMA sampai sekarang, sudah 10 tahun. Tapi selama itu, aku nggak pernah melihat ada perlawanan darimu terhadap keluargamu.""Sebenarnya kalau kamu mau melawan, aku rasa keluar

Bab terbaru

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 6

    Aku melanjutkan, "Edwin, kamu dan keluargamu juga sama."Air mataku akhirnya tidak dapat tertahan lagi dan jatuh satu per satu. Namun, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menangis.Mungkin itu karena semua rasa sakit yang kupendam selama ini atau mungkin karena hubungan cinta 10 tahun yang akhirnya harus berakhir. Ternyata, aku tidak bisa bersikap tenang dan berani seperti yang kubayangkan."Edwin, keluargamu adalah masalah terbesar di sini. Orang tuamu menyerahkan kakakmu pada keluarga pamanmu cuma agar mereka bisa melahirkan kamu. Mereka bahkan menamai kakakmu Lakita. Itu sebenarnya karena mereka mau anak laki-laki, 'kan?""Aku ini anak tunggal, jadi aku nggak  bisa membayangkan gimana rasanya menikah ke dalam keluarga yang sangat mengutamakan anak laki-laki seperti keluargamu.""Dari kita mulai pacaran di SMA sampai sekarang, sudah 10 tahun. Tapi selama itu, aku nggak pernah melihat ada perlawanan darimu terhadap keluargamu.""Sebenarnya kalau kamu mau melawan, aku rasa keluar

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 5

    Meskipun aku melangkah keluar dari rumah itu, hidupku tetap harus berjalan. Sejak hari itu, Edwin hampir setiap hari mengirimiku pesan. Isi pesannya selalu sama dan berulang-ulang. Katanya, dia tidak bisa melupakan hubungan ini dan berharap aku mau mempertimbangkannya kembali.Kadang kala setelah seharian lembur, Edwin bahkan datang ke bawah apartemenku dan menungguku di sana dengan penuh harap. Namun, aku tidak pernah goyah.Ketika teman-teman bertanya tentang persiapan pernikahanku dan Edwin, aku hanya menjawab dengan santai, "Kami sudah putus."Mereka terkejut, tapi tidak ada yang merasa itu hal yang disayangkan. Sebaliknya, mereka hanya memberikan doa agar aku bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Ternyata kenyataan yang dulu terasa sulit dihadapi, tidak seburuk yang kubayangkan saat benar-benar dihadapi.Suatu hari di akhir pekan, Edwin kembali mengajakku bertemu. Kali ini, aku tidak berpura-pura tidak melihat pesannya. Aku menerima ajakannya. Ada beberapa hal yang memang harus

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 4

    Aku tiba-tiba mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku terlalu manja? Bukankah cinta itu memang tentang hal-hal kecil yang kadang remeh-temeh? Kenapa aku harus terlalu perhitungan? Perasaan jengkel di hatiku perlahan mulai mereda.Rumah yang kami lihat sangat besar. Ada empat kamar tidur dan satu ruang tamu dengan pencahayaan yang sangat bagus. Ini benar-benar rumah impianku. Di kamar utama, bahkan sudah dipasangkan seprai dan selimut berwarna merah untuk memberikan suasana yang penuh suka cita.Kami melihat satu per satu ruangan dengan antusias. Namun ketika melihat salah satu kamar tambahan, ibu Edwin tanpa sengaja berucap, "Kamar ini nantinya untuk Lakita. Tambahkan ranjang bayi agar dia bisa merawat anaknya.""Kamar di seberangnya untuk Vito. Sisanya, kamar utama dan satu kamar kecil untuk kalian berdua dan anak kalian nanti. Pas banget, 'kan?" ucap Ibu Edwin.Ibu Edwin berbicara seolah sedang membayangkan masa depan yang indah. Nada suaranya pun penuh semangat. Namun kalimat itu

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 3

    Aku sulit memercayai apa yang kudengar. Apa-apaan itu? Mengajari anak dengan cara seperti itu? Tidak heran Vito tidak suka denganku. Ternyata keluarga ini benar-benar seperti vampir yang berencana untuk memoroti Edwin.Belum sempat aku merespons, aku mendengar suara ibu Edwin memanggil dari ruang makan. "Jessy, Lakita, ayo makan!"Lakita Kusuma adalah nama sepupu Edwin. Di meja makan, ibu Edwin terus mengambilkan makanan untukku sambil meminta maaf panjang lebar atas kejadian sebelumnya.Akhirnya, ibu Edwin berkata, "Kalian sudah bersama selama bertahun-tahun. Semua orang menyukai kalian sebagai pasangan. Jangan biarkan masalah kecil ini merusak hubungan kalian."Ucapan ini benar-benar tidak bisa dilawan. Aku hanya bisa membalas sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku dan Edwin baik-baik saja."Di sampingku, Vito merajuk sambil menarik lengan Edwin, "Paman, aku mau Transformers yang ada di TV tadi!"Edwin menjawab dengan lembut, "Baiklah, Paman akan belikan untukmu."Namun, Vito la

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 2

    Ini adalah pertemuan pertama antara kedua keluarga, tapi suasananya malah menjadi begitu tidak menyenangkan.Setelah kembali ke rumah, orang tuaku masih kesal. Namun, hubungan yang sudah berlangsung selama 10 tahun tidak mungkin diputuskan begitu saja. Kami semua sudah dewasa. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, juga ada lebih banyak kekhawatiran."Ibu rasa kamu harus bicara baik-baik dengan Edwin. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku lihat Edwin anaknya baik, tapi kenapa keluarganya seperti itu?" ucap ibuku dengan nada kesal.Ayahku menimpali sambil berujar, "Soal sepupunya itu, dengan perut besar begitu masih sempat bikin keributan. Barusan aku di sebelah saja khawatir kalau sampai mereka berkelahi, dia malah pura-pura jadi korban."Aku tidak bisa menahan tawa mendengar komentar ayahku. Namun, ibuku langsung menyenggol kepalaku dengan jarinya. Dia memarahi, "Kamu masih bisa tertawa? Ibu benar-benar merasa sepupunya itu aneh. Sudah cerai, kenapa dia harus tinggal

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 1

    Situasinya mendadak kacau. Semua orang tertegun tak percaya. Ayah, Ibu, dan Edwin buru-buru menghampiriku untuk mengelap noda lengket jus jeruk di gaun yang kupakai.Sementara itu, aku masih terdiam. Aku belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi dan hanya memandang bocah yang terlihat marah itu.Bocah itu baru berusia lima tahun, tapi alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya. Wajahnya manis dan menggemaskan. Namun saat ini, tatapannya penuh dengan amarah seperti seorang kesatria yang merasa perlu menegakkan keadilan.Kakak sepupu pacarku, Lakita, berjalan mendekat. Dia menarik bocah itu, lalu berucap dengan santai, "Vito, itu bukan ayahmu. Dia pamanmu."Lakita tidak memarahinya, bahkan tidak menunjukkan rasa kesal. Dia langsung berniat membawa anaknya pergi begitu saja.Ibuku yang sudah naik darah langsung membentaknya dengan emosi, "Berhenti! Minta maaf pada putriku! Apa seperti ini cara kalian mendidik anak?"Namun, Lakita tetap menunjukkan ekspresi tak peduli. Alisnya mengerut,

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status