Share

Bab 2

Penulis: Ellie Felicia
Ini adalah pertemuan pertama antara kedua keluarga, tapi suasananya malah menjadi begitu tidak menyenangkan.

Setelah kembali ke rumah, orang tuaku masih kesal. Namun, hubungan yang sudah berlangsung selama 10 tahun tidak mungkin diputuskan begitu saja. Kami semua sudah dewasa. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, juga ada lebih banyak kekhawatiran.

"Ibu rasa kamu harus bicara baik-baik dengan Edwin. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku lihat Edwin anaknya baik, tapi kenapa keluarganya seperti itu?" ucap ibuku dengan nada kesal.

Ayahku menimpali sambil berujar, "Soal sepupunya itu, dengan perut besar begitu masih sempat bikin keributan. Barusan aku di sebelah saja khawatir kalau sampai mereka berkelahi, dia malah pura-pura jadi korban."

Aku tidak bisa menahan tawa mendengar komentar ayahku. Namun, ibuku langsung menyenggol kepalaku dengan jarinya. Dia memarahi, "Kamu masih bisa tertawa? Ibu benar-benar merasa sepupunya itu aneh. Sudah cerai, kenapa dia harus tinggal di rumah Edwin?"

"Bahkan kesannya dia sangat nggak suka padamu. Seolah-olah kamu merebut sesuatu yang berharga darinya," tambah ibuku.

Kalimat ini ada benarnya. Soal sepupu Edwin, aku memang tidak tahu banyak. Yang aku tahu hanyalah bahwa ibu Edwin sangat menyayangi adiknya. Jadi ketika adiknya memiliki seorang putri di usia tua, dia pun ikut sangat menyayangi anak tersebut, yaitu Lakita.

Edwin pernah bercerita tentang masa kecilnya. Dia dan Lakita tumbuh bersama dan memiliki hubungan yang sangat dekat, layaknya saudara kandung.

Itu sebabnya setelah bercerai, Lakita diizinkan tinggal di rumah mereka. Bahkan ketika Lakita kehilangan sumber penghasilan, dia masih bisa hidup nyaman. Sebagian besar karena ada lima orang yang mendukungnya, yaitu paman dan bibi Edwin, orang tua Edwin, dan Edwin sendiri.

Mungkin dalam pikiran Lakita, jika aku menikah dengan Edwin, dia akan kehilangan lima sumber dukungan finansial sekaligus.  Apalagi dia memiliki seorang anak berusia lima tahun dan bayi yang masih dalam kandungan.

Biaya sekolah dan susu formula, semuanya membutuhkan uang. Mantan suaminya tidak bertanggung jawab, bahkan suka berselingkuh. Jelas, pria itu pasti tidak memberinya nafkah.

Jadi, target Lakita adalah keluarga Edwin. Penjelasan ini sebenarnya masuk akal. Tidak heran Lakita merasa aku merebut sesuatu darinya.

Ponselku tiba-tiba bergetar. Ada pesan baru yang masuk. Ternyata dari ibu Edwin. Dia mengirim pesan panjang yang berisi permintaan maaf. Intinya, dia merasa sangat bersalah karena pertemuan keluarga pertama ini menjadi sangat tidak menyenangkan.

Pesannya penuh dengan kerendahan hati. Di grup keluarga, anggota lain termasuk yang biasanya jarang muncul juga mulai meminta maaf. Rasa kesalku akhirnya mulai mereda. Bagaimanapun, sejak awal aku hanya ingin mereka menunjukkan sikap yang jelas.

Pertemuan pertama keluarga dan langsung diperlakukan seperti ini, siapa yang bisa merasa nyaman? Aku sedang mengetik pesan balasan yang sopan dan berusaha tidak mempermasalahkan hal ini lagi, tapi tiba-tiba paman Edwin juga meminta maaf di grup.

[ Semua ini salah Vito, tapi kami sebagai orang tua juga salah karena nggak mendidik anak dengan baik. ]

Setelah itu, paman Edwin men-tag nama Lakita dan memintanya untuk meminta maaf kepadaku. Grup obrolan langsung menjadi sunyi.

Lima menit berlalu, tapi tidak ada satu pun pesan balasan. Aku tidak percaya mereka yang tinggal serumah tidak melihat pesan itu. Sikap diam mereka jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mau meminta maaf.

Rasa kesalku yang sempat mereda kembali muncul. Aku menghapus pesan balasan "semoga kita semua bisa rukun" yang sudah kuketik tadi. Lima menit kemudian, Lakita akhirnya mengirim pesan.

[ Maaf ya, Jessy. Kamu orangnya baik hati, pasti akan memaafkanku. ]

Setelah itu, Lakita mengirim beberapa foto. Semua foto itu adalah fotoku bersama seorang pria, termasuk satu foto di mana aku mengenakan gelang Van Cleef & Arpels sambil tersenyum bahagia.

Aku langsung emosi. Foto-foto itu jelas berasal dari unggahanku di berbagai platform media sosial beberapa waktu lalu. Bagaimana dia bisa menemukannya? Aku merasa seperti telanjang di depan umum. Rasanya sangat malu dan terhina.

[ Jessy, beberapa kali makan bersama pria ini. Itu menunjukkan hubungan kalian cukup dekat. Gelang yang kamu pakai juga pasti pemberian dia, 'kan? ]

[ Aku sudah lama mengamati. Dengan gajimu dan Edwin, nggak mungkin kalian mampu membeli gelang semahal itu. Jadi aku ingin bertanya, apa kamu selingkuh dengan pria ini? ]

Orang-orang bilang wanita hamil sering menjadi lebih bodoh, tapi menurutku Lakita pasti akan bodoh selama beberapa tahun. Dia membawa tuduhan yang tidak berdasar ke grup keluarga, seolah-olah sedang menunggu pujian atas "penyelidikannya".

Aku tidak punya kata-kata untuk membalas. Aku hanya mengirimkan emoji senyum. Sementara itu, Edwin justru lebih marah dariku. Dia langsung mengirimkan balasan.

[ Apa yang kamu bicarakan? Pria itu adalah adik sepupu Jessy, Ronan! Mereka cuma bisa bertemu setiap tahun ketika acara kumpul keluarga. Gelang itu juga hadiah dari Ronan. Kamu ini bicara apa sih? Gila ya? ]

Selama 10 tahun aku menjalin hubungan dengan Edwin, ini adalah pertama kalinya aku melihat dia semarah ini. Dia pasti sudah sangat kesal.

Lakita buru-buru menghapus semua pesan yang dia kirim, kecuali foto-foto yang tidak bisa ditarik kembali. Foto-foto itu tetap ada di grup dan begitu mencolok.

Anggota grup lain mulai mengirim pesan basa-basi. Mereka mencoba mengalihkan perhatian dari foto-foto itu, tapi aku tetap merasa tidak nyaman.

Dari foto-foto yang Lakita simpan, jelas dia sudah mengawasi media sosialku sejak lama. Bisa dibilang, mungkin lebih dari setahun. Dia sengaja menyimpan foto-foto di mana aku makan dengan pria lain dan mengenakan barang mahal, hanya untuk menuduhku selingkuh.

Aku merasa jijik dan marah pada saat yang sama. Di tengah emosiku, Edwin mengirim pesan pribadi. Dia berusaha menenangkanku.

[ Sayang, jangan sampai kamu terlalu emosi gara-gara hal ini. Kami sekeluarga juga kesal dengan tingkahnya. Kami nggak tahu apa yang dia inginkan. ]

[ Ibu bilang, beberapa hari lagi kamu datanglah ke rumah kami. Dia akan minta maaf langsung kepadamu. Kali ini, memang keluarga kami terlalu keterlaluan. Kamu bicarakan dulu dengan orang tuamu ya. ]

Aku menghela napas. Perasaanku sedikit lega ketika mengetik balasan kepada Edwin.

[ Nggak usah. Kalau diceritakan lagi, mereka pasti tambah kesal. ]

Lakita tidak ada hubungannya dengan Edwin. Aku tidak bisa melampiaskan kemarahanku kepadanya. Itu sebabnya, aku memutuskan untuk memberikan mereka satu kesempatan lagi.

Aku kembali mengunjungi rumah mereka pada akhir pekan. Orang tua Edwin tinggal bersama paman dan bibinya.

Rumah itu tidak terlalu besar, tapi penuh dengan orang sehingga rasanya sangat sempit dan sesak. Untungnya hari ini paman dan bibi Edwin sedang bekerja, jadi hanya ada enam orang di rumah.

Lakita duduk tegak di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Di sebelahnya, Vito juga sedang duduk di sana. Begitu melihatku, dia langsung mengernyit dengan ekspresi tidak ramah. Namun, sepertinya dia sudah diperingatkan sebelumnya. Selain memelotot padaku, dia tidak melakukan apa-apa.

Aku duduk di kursi dekat mereka. Lakita yang sedang mengelus perut besarnya menoleh padaku dan bertanya dengan nada tajam, "Kenapa kamu duduk di sini? Nggak pergi bantu?"

"Aku ini tamu, mau bantu apa?" jawabku santai. Orang yang biasanya malas-malasan di rumah, tapi kalau soal orang lain malah pakai standar ganda.

Vito yang sedang menonton TV, tiba-tiba berteriak kegirangan saat melihat iklan mainan Transformers baru. Dia menarik tangan ibunya sambil merengek, "Bu, aku mau beli yang ini! Aku mau yang seharga 776 ribu itu! Belikan untukku, belikan ya!"

Lakita menjawab dengan santai, seolah-olah ini adalah hal yang sudah biasa, "Nanti kita pergi minta ke pamanmu, biar dia belikan untukmu ya?"

Tentu saja, Edwin harus melayani mereka bertiga. Namun aku tetap tenang, tanpa menunjukkan emosi apa pun. Aku hanya terus memainkan ponselku.

Melihat aku tidak terpancing, Lakita malah balik berbicara lembut kepada Vito, "Vito, kamu harus belajar jadi anak yang pengertian. Nanti kalau pamanmu sudah nikah, dia mungkin nggak akan terlalu memanjakanmu lagi."

Bab terkait

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 3

    Aku sulit memercayai apa yang kudengar. Apa-apaan itu? Mengajari anak dengan cara seperti itu? Tidak heran Vito tidak suka denganku. Ternyata keluarga ini benar-benar seperti vampir yang berencana untuk memoroti Edwin.Belum sempat aku merespons, aku mendengar suara ibu Edwin memanggil dari ruang makan. "Jessy, Lakita, ayo makan!"Lakita Kusuma adalah nama sepupu Edwin. Di meja makan, ibu Edwin terus mengambilkan makanan untukku sambil meminta maaf panjang lebar atas kejadian sebelumnya.Akhirnya, ibu Edwin berkata, "Kalian sudah bersama selama bertahun-tahun. Semua orang menyukai kalian sebagai pasangan. Jangan biarkan masalah kecil ini merusak hubungan kalian."Ucapan ini benar-benar tidak bisa dilawan. Aku hanya bisa membalas sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku dan Edwin baik-baik saja."Di sampingku, Vito merajuk sambil menarik lengan Edwin, "Paman, aku mau Transformers yang ada di TV tadi!"Edwin menjawab dengan lembut, "Baiklah, Paman akan belikan untukmu."Namun, Vito la

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 4

    Aku tiba-tiba mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku terlalu manja? Bukankah cinta itu memang tentang hal-hal kecil yang kadang remeh-temeh? Kenapa aku harus terlalu perhitungan? Perasaan jengkel di hatiku perlahan mulai mereda.Rumah yang kami lihat sangat besar. Ada empat kamar tidur dan satu ruang tamu dengan pencahayaan yang sangat bagus. Ini benar-benar rumah impianku. Di kamar utama, bahkan sudah dipasangkan seprai dan selimut berwarna merah untuk memberikan suasana yang penuh suka cita.Kami melihat satu per satu ruangan dengan antusias. Namun ketika melihat salah satu kamar tambahan, ibu Edwin tanpa sengaja berucap, "Kamar ini nantinya untuk Lakita. Tambahkan ranjang bayi agar dia bisa merawat anaknya.""Kamar di seberangnya untuk Vito. Sisanya, kamar utama dan satu kamar kecil untuk kalian berdua dan anak kalian nanti. Pas banget, 'kan?" ucap Ibu Edwin.Ibu Edwin berbicara seolah sedang membayangkan masa depan yang indah. Nada suaranya pun penuh semangat. Namun kalimat itu

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 5

    Meskipun aku melangkah keluar dari rumah itu, hidupku tetap harus berjalan. Sejak hari itu, Edwin hampir setiap hari mengirimiku pesan. Isi pesannya selalu sama dan berulang-ulang. Katanya, dia tidak bisa melupakan hubungan ini dan berharap aku mau mempertimbangkannya kembali.Kadang kala setelah seharian lembur, Edwin bahkan datang ke bawah apartemenku dan menungguku di sana dengan penuh harap. Namun, aku tidak pernah goyah.Ketika teman-teman bertanya tentang persiapan pernikahanku dan Edwin, aku hanya menjawab dengan santai, "Kami sudah putus."Mereka terkejut, tapi tidak ada yang merasa itu hal yang disayangkan. Sebaliknya, mereka hanya memberikan doa agar aku bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Ternyata kenyataan yang dulu terasa sulit dihadapi, tidak seburuk yang kubayangkan saat benar-benar dihadapi.Suatu hari di akhir pekan, Edwin kembali mengajakku bertemu. Kali ini, aku tidak berpura-pura tidak melihat pesannya. Aku menerima ajakannya. Ada beberapa hal yang memang harus

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 6

    Aku melanjutkan, "Edwin, kamu dan keluargamu juga sama."Air mataku akhirnya tidak dapat tertahan lagi dan jatuh satu per satu. Namun, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menangis.Mungkin itu karena semua rasa sakit yang kupendam selama ini atau mungkin karena hubungan cinta 10 tahun yang akhirnya harus berakhir. Ternyata, aku tidak bisa bersikap tenang dan berani seperti yang kubayangkan."Edwin, keluargamu adalah masalah terbesar di sini. Orang tuamu menyerahkan kakakmu pada keluarga pamanmu cuma agar mereka bisa melahirkan kamu. Mereka bahkan menamai kakakmu Lakita. Itu sebenarnya karena mereka mau anak laki-laki, 'kan?""Aku ini anak tunggal, jadi aku nggak  bisa membayangkan gimana rasanya menikah ke dalam keluarga yang sangat mengutamakan anak laki-laki seperti keluargamu.""Dari kita mulai pacaran di SMA sampai sekarang, sudah 10 tahun. Tapi selama itu, aku nggak pernah melihat ada perlawanan darimu terhadap keluargamu.""Sebenarnya kalau kamu mau melawan, aku rasa keluar

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 1

    Situasinya mendadak kacau. Semua orang tertegun tak percaya. Ayah, Ibu, dan Edwin buru-buru menghampiriku untuk mengelap noda lengket jus jeruk di gaun yang kupakai.Sementara itu, aku masih terdiam. Aku belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi dan hanya memandang bocah yang terlihat marah itu.Bocah itu baru berusia lima tahun, tapi alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya. Wajahnya manis dan menggemaskan. Namun saat ini, tatapannya penuh dengan amarah seperti seorang kesatria yang merasa perlu menegakkan keadilan.Kakak sepupu pacarku, Lakita, berjalan mendekat. Dia menarik bocah itu, lalu berucap dengan santai, "Vito, itu bukan ayahmu. Dia pamanmu."Lakita tidak memarahinya, bahkan tidak menunjukkan rasa kesal. Dia langsung berniat membawa anaknya pergi begitu saja.Ibuku yang sudah naik darah langsung membentaknya dengan emosi, "Berhenti! Minta maaf pada putriku! Apa seperti ini cara kalian mendidik anak?"Namun, Lakita tetap menunjukkan ekspresi tak peduli. Alisnya mengerut,

Bab terbaru

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 6

    Aku melanjutkan, "Edwin, kamu dan keluargamu juga sama."Air mataku akhirnya tidak dapat tertahan lagi dan jatuh satu per satu. Namun, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menangis.Mungkin itu karena semua rasa sakit yang kupendam selama ini atau mungkin karena hubungan cinta 10 tahun yang akhirnya harus berakhir. Ternyata, aku tidak bisa bersikap tenang dan berani seperti yang kubayangkan."Edwin, keluargamu adalah masalah terbesar di sini. Orang tuamu menyerahkan kakakmu pada keluarga pamanmu cuma agar mereka bisa melahirkan kamu. Mereka bahkan menamai kakakmu Lakita. Itu sebenarnya karena mereka mau anak laki-laki, 'kan?""Aku ini anak tunggal, jadi aku nggak  bisa membayangkan gimana rasanya menikah ke dalam keluarga yang sangat mengutamakan anak laki-laki seperti keluargamu.""Dari kita mulai pacaran di SMA sampai sekarang, sudah 10 tahun. Tapi selama itu, aku nggak pernah melihat ada perlawanan darimu terhadap keluargamu.""Sebenarnya kalau kamu mau melawan, aku rasa keluar

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 5

    Meskipun aku melangkah keluar dari rumah itu, hidupku tetap harus berjalan. Sejak hari itu, Edwin hampir setiap hari mengirimiku pesan. Isi pesannya selalu sama dan berulang-ulang. Katanya, dia tidak bisa melupakan hubungan ini dan berharap aku mau mempertimbangkannya kembali.Kadang kala setelah seharian lembur, Edwin bahkan datang ke bawah apartemenku dan menungguku di sana dengan penuh harap. Namun, aku tidak pernah goyah.Ketika teman-teman bertanya tentang persiapan pernikahanku dan Edwin, aku hanya menjawab dengan santai, "Kami sudah putus."Mereka terkejut, tapi tidak ada yang merasa itu hal yang disayangkan. Sebaliknya, mereka hanya memberikan doa agar aku bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Ternyata kenyataan yang dulu terasa sulit dihadapi, tidak seburuk yang kubayangkan saat benar-benar dihadapi.Suatu hari di akhir pekan, Edwin kembali mengajakku bertemu. Kali ini, aku tidak berpura-pura tidak melihat pesannya. Aku menerima ajakannya. Ada beberapa hal yang memang harus

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 4

    Aku tiba-tiba mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku terlalu manja? Bukankah cinta itu memang tentang hal-hal kecil yang kadang remeh-temeh? Kenapa aku harus terlalu perhitungan? Perasaan jengkel di hatiku perlahan mulai mereda.Rumah yang kami lihat sangat besar. Ada empat kamar tidur dan satu ruang tamu dengan pencahayaan yang sangat bagus. Ini benar-benar rumah impianku. Di kamar utama, bahkan sudah dipasangkan seprai dan selimut berwarna merah untuk memberikan suasana yang penuh suka cita.Kami melihat satu per satu ruangan dengan antusias. Namun ketika melihat salah satu kamar tambahan, ibu Edwin tanpa sengaja berucap, "Kamar ini nantinya untuk Lakita. Tambahkan ranjang bayi agar dia bisa merawat anaknya.""Kamar di seberangnya untuk Vito. Sisanya, kamar utama dan satu kamar kecil untuk kalian berdua dan anak kalian nanti. Pas banget, 'kan?" ucap Ibu Edwin.Ibu Edwin berbicara seolah sedang membayangkan masa depan yang indah. Nada suaranya pun penuh semangat. Namun kalimat itu

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 3

    Aku sulit memercayai apa yang kudengar. Apa-apaan itu? Mengajari anak dengan cara seperti itu? Tidak heran Vito tidak suka denganku. Ternyata keluarga ini benar-benar seperti vampir yang berencana untuk memoroti Edwin.Belum sempat aku merespons, aku mendengar suara ibu Edwin memanggil dari ruang makan. "Jessy, Lakita, ayo makan!"Lakita Kusuma adalah nama sepupu Edwin. Di meja makan, ibu Edwin terus mengambilkan makanan untukku sambil meminta maaf panjang lebar atas kejadian sebelumnya.Akhirnya, ibu Edwin berkata, "Kalian sudah bersama selama bertahun-tahun. Semua orang menyukai kalian sebagai pasangan. Jangan biarkan masalah kecil ini merusak hubungan kalian."Ucapan ini benar-benar tidak bisa dilawan. Aku hanya bisa membalas sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku dan Edwin baik-baik saja."Di sampingku, Vito merajuk sambil menarik lengan Edwin, "Paman, aku mau Transformers yang ada di TV tadi!"Edwin menjawab dengan lembut, "Baiklah, Paman akan belikan untukmu."Namun, Vito la

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 2

    Ini adalah pertemuan pertama antara kedua keluarga, tapi suasananya malah menjadi begitu tidak menyenangkan.Setelah kembali ke rumah, orang tuaku masih kesal. Namun, hubungan yang sudah berlangsung selama 10 tahun tidak mungkin diputuskan begitu saja. Kami semua sudah dewasa. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, juga ada lebih banyak kekhawatiran."Ibu rasa kamu harus bicara baik-baik dengan Edwin. Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku lihat Edwin anaknya baik, tapi kenapa keluarganya seperti itu?" ucap ibuku dengan nada kesal.Ayahku menimpali sambil berujar, "Soal sepupunya itu, dengan perut besar begitu masih sempat bikin keributan. Barusan aku di sebelah saja khawatir kalau sampai mereka berkelahi, dia malah pura-pura jadi korban."Aku tidak bisa menahan tawa mendengar komentar ayahku. Namun, ibuku langsung menyenggol kepalaku dengan jarinya. Dia memarahi, "Kamu masih bisa tertawa? Ibu benar-benar merasa sepupunya itu aneh. Sudah cerai, kenapa dia harus tinggal

  • Antara Cinta dan Keluarga   Bab 1

    Situasinya mendadak kacau. Semua orang tertegun tak percaya. Ayah, Ibu, dan Edwin buru-buru menghampiriku untuk mengelap noda lengket jus jeruk di gaun yang kupakai.Sementara itu, aku masih terdiam. Aku belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi dan hanya memandang bocah yang terlihat marah itu.Bocah itu baru berusia lima tahun, tapi alis dan matanya sangat mirip dengan ibunya. Wajahnya manis dan menggemaskan. Namun saat ini, tatapannya penuh dengan amarah seperti seorang kesatria yang merasa perlu menegakkan keadilan.Kakak sepupu pacarku, Lakita, berjalan mendekat. Dia menarik bocah itu, lalu berucap dengan santai, "Vito, itu bukan ayahmu. Dia pamanmu."Lakita tidak memarahinya, bahkan tidak menunjukkan rasa kesal. Dia langsung berniat membawa anaknya pergi begitu saja.Ibuku yang sudah naik darah langsung membentaknya dengan emosi, "Berhenti! Minta maaf pada putriku! Apa seperti ini cara kalian mendidik anak?"Namun, Lakita tetap menunjukkan ekspresi tak peduli. Alisnya mengerut,

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status