Share

Klarifikasi

Penulis: Aldra_12
last update Terakhir Diperbarui: 2023-09-28 20:46:55

“Di mana Paman dan Bibi?” tanya Stef yang baru saja sampai di meja makan tapi tidak mendapati orang tua Evan di sana.

“Mereka sudah pergi ke rumah sakit dari pagi karena katanya Evan meminta mereka datang cepat ke sana, mungkin ada keperluan,” jawab Hellen.

Stef mengangguk, menarik kursi untuk bersiap sarapan sebelum menjemput Mely.

Baru saja menyesap kopi yang dibuatkan sang mama, ponsel Stef berdering dan membuat fokus pria itu tertuju ke layar ponsel.

“Mely,” gumam Stef sambil menggeser tombol hijau.

Hellen dan suaminya menatap Stef, memperhatikan sang putra yang menerima panggilan, padahal biasanya Stef akan mengabaikan panggilan dari siapapun jika sedang sarapa.

“Halo.” Stef tidak berani menyebut nama Mely di hadapan orang tuanya.

“Stef, pria itu tahu nomorku. Dia berkata akan menemukanku, aku benar-benar takut.”

Stef sangat terkejut mendengar suara Mely yang sangat panik. Dia secara impulsif berdiri, membuat kedua orang tuanya sampai terkejut.

“Oke, kamu tunggu dan tetap tenang,
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Anak Kembar Sang Presdir    Masih Diteror

    Firda sedang berkumpul bersama teman sosialitanya, tentu saja membahas harta juga beberapa gosip yang sedang beredar.“Jadi, apa benar kalau keponakanmu memang melakukan pelecehan ke beberapa wanita?” tanya seorang teman Firda.“Iya, aku juga baca beritanya. Katanya dia juga menghilang ga ada kabar, bahkan orang tuanya juga katanya ikut menghilang,” timpal yang lain.“Tidak menyangka sekali jika keluarga terhormat, bisa dibilang juga disegani, malah kelakuannya begitu,” imbuh yang lain.Firda menahan senyum mendengar semua orang menghina dan mencaci keluarga Margaret. Namun, dia juga tak lantas langsung menunjukkan jika senang, berusaha bersikap baik dengan membela, agar tidak ada yang menyebutnya jahat.“Aku juga tidak tahu. Aku saja syok mendengar berita itu. Selama ini keluarga adik iparku itu sangat tertutup, mereka sama sekali tidak pernah menganggap suamiku sebagai kakak mereka, karena itu berita yang beredar membuat aku dan suamiku sangat tidak percaya,” ujar Firda berpura-pura

    Terakhir Diperbarui : 2023-09-29
  • Anak Kembar Sang Presdir    Side Story

    Stef pergi ke perusahaan Renata untuk menemui Mely sesuai janji. Dia sudah sampai di perusahaan dan ingin masuk lift, hingga bertemu dengan salah satu teman dari divisi Mely.“Anda ingin menemui Mely?” tanya staf yang baru saja keluar dari lift.“Iya, benar. Apa dia masih di atas?” tanya Stef sambil menunjuk ke lift.“Mely sudah ke kantin sejak tadi. Mungkin masih di sana,” jawab rekan kerja Mely menunjuk ke arah kantin.Stef menoleh ke arah staf itu menunjuk. Dia mengangguk dan berucap, “Oh ya, terima kasih.”Stef pun memutar arah dan pergi ke kantin. Sesampainya di sana mencari keberadaan Mely tapi tidak juga ditemukan. Dia mengedarkan pandangan, tapi masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Mely di tempat itu.“Pak Stef!” Teman Mely yang tadi mengajak makan, melambaikan tangan ke Stef.Stef melihat staf yang mengaku dekat dengan Mely melambai ke arahnya. Dia pun memilih mendekat untuk bertanya di mana Mely berada.“Pak Stef nyari Mely? Dia tadi ke kamar kecil karena pakaiannya ketump

    Terakhir Diperbarui : 2023-09-30
  • Anak Kembar Sang Presdir    Enak Jadi Kakak

    Damar berada di rumah. Tatapannya tertuju ke layar televisi yang sedang menyiarkan sebuah berita. Ekspresi wajahnya terlihat sejak jika tidak senang, bahkan tangan sampai menggenggam erat gelas yang dipegang.“Dia benar-benar ingin bermain-main denganku.”Damar sedang melihat berita tentang klarifikasi Evan di rumah sakit. Bahkan klarifikasi keberadaan dan kondisinya sekarang diperkuat oleh pernyataan dokter jika Evan mengalami cidera.Damar meletakkan gelas di atas meja dengan kasar. Dia benar-benar tidak bisa menerima Evan yang melakukan perlawanan.Damar mengambil ponsel, lantas menghubungi seseorang.“Jalankan rencana B. Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya, kamu harus bisa menjatuhkannya!”Damar mengakhiri panggilan setelah memberi perintah. Dia akan terus berusaha menjatuhkan Evan, sampai keponakannya itu mundur dari dunia bisnis.**Stef menunggu sampai Mely di klinik sampai kondisi benar-benar pulih.“Apa yang sebenarnya tadi terjadi? Kenapa kamu bisa terkunci di kamar mand

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-01
  • Anak Kembar Sang Presdir    Berusaha Maksimal

    Sore itu Evan pun sudah diperbolehkan pulang. Renata sudah mengemas barang Evan sambil menunggu sopir datang.“Tadi, apa yang kamu katakan ke Dhira, sampai dia terlihat sangat senang?” tanya Evan penasaran.Renata sedang mengecek tas, lantas menoleh ketika mendengar pertanyaan Evan.“Tidak ada, hanya mengucapkan hal kecil yang bisa membuatnya senang,” jawab Renata sambil tersenyum hingga kedua mata menyipit.“Main rahasia dariku?” tanya Evan yang cemburu jika tidak tahu apa saja yang dibicarakan oleh dua wanita tercintanya itu.Renata tertawa melihat Evan curiga dan cemburu. Dia lantas mendekat dan duduk berhadapan dengan suaminya.“Hanya memberi pengertian soal posisi kakak ke Dhira. Dia ingin jadi kakak Dharu, tapi jelas itu tidak mungkin. Jadi, aku mencoba memberinya kesempatan dengan cara lain,” ujar Renata menjelaskan.“Kesempatan dengan cara lain? Maksudnya?” tanya Evan bingung.“Hei, Pak Evan Danantya, apa kamu tidak berniat memberi Dhira dan Dharu adik, apa mereka saja sudah c

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-01
  • Anak Kembar Sang Presdir    Mengajak ke Rumah

    Mely benar-benar tidak tahu mau diajak ke mana, hingga mobil yang dikemudikan Stef masuk ke halaman luas sebuah rumah besar, membuat Mely semakin panik dibuatnya.“Stef, ini rumah siapa?” tanya Mely panik karena tidak berani menebak.Stef hanya menoleh Mely tanpa menjawab. Pria itu hanya tersenyum memandang Mely, sebelum kemudian memarkirkan mobil tepat di depan garasi.“Stef.” Mely benar-benar panik jika dugaannya benar.“Apa? Tidak usah bingung. Ayo turun!” ajak Stef yang sudah mematikan mesin mobil, lantas bersiap untuk turun.Mely bingung harus bagaimana, hingga Stef kembali menoleh ke arahnya.“Kenapa?” tanya Stef sambil menatap Mely yang kebingungan.Andai bisa marah ke pria itu, sudah pasti Mely akan mengamuk Stef yang mengajaknya ke sana.“Ini rumahmu?” tanya Mely memastikan.Stef melongok ke bangunan rumah mewah itu, lantas menjawab, “Secara teori ini rumah orang tuaku.”Mely syok karena dugaannya benar,. Membuat Mely semakin tidak ingin turun dari mobil.“Kenapa membawaku ke

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-02
  • Anak Kembar Sang Presdir    Bisa Memimpin

    “Paman sekarang berada di penjara, lalu bagaimana dengan Oma?” tanya Renata yang malam itu duduk berdua dengan Veronica.Setelah beberapa hari mengurus Evan di rumah sakit, malam itu Renata memiliki kesempatan bicara dengan Veronica, setelah mengabaikan masalah Kevin karena sibuk merawat Evan.“Kamu mau pergi dari sini?” tanya Veronica sambil menatap cucunya itu. Dia langsung menembak Renata dengan pertanyaan itu, sebab pertanyaan Renata sendiri menjuru ke sana.Renata pun tidak tahu. Keberadaannya di sana membawa banyak masalah. Tanpa sengaja sudah mengacaukan pekerjaan suaminya, meski itu bukan seratus persen kesalahannya.“Aku belum tahu, Oma.” Renata pun tidak tega jika meninggalkan Veronica sendiri.Veronica menarik napas panjang, lantas mengembuskan perlahan. Dia menatap Renata yang terlihat bimbang.“Oma tidak bisa melarangmu jika memang mau pergi, lagi pula oma menyadari jika kamu pun sekarang memiliki kehidupan sendiri. Namun, oma pun sebenarnya berharap kamu mau mengelola pe

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-02
  • Anak Kembar Sang Presdir    Rencana Untuk Melawan

    Mely duduk di tepian ranjang, bingung harus melakukan apa di rumah itu. Dia benar-benar merasa sungkan dan canggung, apalagi ibu Stef terlihat biasa saja. Saat Mely sedang melamun, terdengar suara ketukan pintu kamar, membuatnya terkejut sampai memegang dada. “Mel.” Suara Stef terdengar dari luar. “Ya.” Mely menjawab panggilan dari Stef. Dia pun berjalan menuju pintu, lantas membuka dan melihat Stef berdiri di hadapannya hanya memakai kaus polos hitam dengan celana panjang. “Ayo makan malam,” ajak Stef. Mely tampak canggung dan bingung, hingga menoleh ke kanan dan kiri. “Tidak usah. Aku tidak mau menganggu makan malam kalian. Nanti aku makan di kamar saja,” ujar Mely menolak. Dia hanya tidak ingin jika kedua orang tua Stef beranggapan kalau keberadaannya di sana hanya untuk memanfaatkan Stef saja. Stef menatap Mely, lantas mendekat hingga membuat wanita itu mundur karena terkejut. “Ada apa?” tanya Mely panik sambil menatap Stef. “Tidak ada yang mengganggu. Kamu tamuku jadi su

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-03
  • Anak Kembar Sang Presdir    Serangan Balasan

    Damar berada di perusahaan seperti biasa, mengurus perusahaan turun temurun dari keluarga. Hingga pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, membuat Damar terkejut dan langsung menatap ke arah pitu. “Maaf, Pak. Saya sudah meminta untuk menunggu, tapi beliau memaksa masuk,” ucap sekretaris Damar sambil menatap canggung ke wanita yang baru masuk ke ruangan itu dengan paksa. Ya, siapa lagi yang masuk tanpa permisi jika bukan Margaret. Dia datang ke sana bersama pengacaranya, tentu saja kedatangannya untuk melakukan perlawanan. Damar mengayunkan tangan, memberi isyarat ke sekretarisnya agar keluar dari ruangan. Margaret menatap tajam ke sang kakak. Dia pun mendekat kemudian meletakkan tasnya di atas meja kerja Damar dengan sedikit kasar. Damar terlihat santai, memandang sang adik yang menatapnya tajam. “Kenapa tidak mengabari jika mau ke sini? Jika kamu menghubungiku dulu, aku pasti akan menyiapkan makanan kesukaanmu,” kata Damar berbasa-basi menyambut sang adik yang diyakini datang kar

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-03

Bab terbaru

  • Anak Kembar Sang Presdir    ~Akhir~

    Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Kasih melahirkan dengan cara cesar. Kini Kasih sudah dipindah ke ruang inap, tapi bayinya masih dalam pemantauan dokter di ruangan khusus perawatan bayi. “Syukurlah semua berjalan dengan lancar,” ucap Liliana penuh kelegaan melihat Kasih baik-baik saja. “Kita akhirnya punya cucu.” Jefrine merangkul istrinya, terlihat tatapan penuh kebahagiaan di mata pria itu. Dean melihat tatapan berbeda dari sang papa ke sang mama. Tatapan yang dianggapnya sudah lenyap sejak bertahun-tahun lamanya. “Kamu sudah menghubungi ibunya Kasih?” tanya Liliana yang ingat ke besannya itu. “Sudah, Ma. Ibu bilang akan datang secepatnya naik kereta, jadi butuh waktu ke sini,” jawab Dean. “Iya ga papa, terpenting kamu sudah mengabarinya,” ujar Liliana. Renata dan Evan senang melihat kebahagiaan Dean. Akhirnya bisa melihat pria itu bisa tersenyum penuh kelegaan dan bahagia. “Kami pulang dulu, kalau nanti Kak Kasih bangun dan tanya, katakan kami akan datang besok,” ujar R

  • Anak Kembar Sang Presdir    Makan Malam Menegangkan

    “Benarkah? Ini berita yang sangat bagus.”Renata begitu senang mendengar Kasih dan Dean akhirnya berbaikan dengan Jefrine.Malam itu Kasih dan Dean mengajak makan malam Evan juga Renata, tentu saja untuk merayakan kebahagiaan keduanya yang kini sudah berbaikan dengan orang tua Dean.“Ya, kami pun tak menyangka. Kupikir bertemu dengan Papa akan membuat kami kembali bertengkar hebat. Namun, siapa sangka jika kemarin malam adalah malam yang benar-benar di luar dugaanku,” ujar Dean menjelaskan.Renata paham maksud Dean, hingga kemudian membalas, “Terkadang kita terlalu takut akan pemikiran kita sendiri. Kita merasa jika orang yang membenci kita, benar-benar akan terus membenci kita selamanya. Tapi siapa sangka jika ketakutan itu tidak benar, nyatanya papamu mau meminta maaf dulu.”“Benar, sama seperti Mama saat dulu tak suka Renata. Tiba-tiba saja datang dan meminta maaf, lalu menerima hubungan kami. Bukankah terkadang kita yang terlalu takut untuk memperbaiki kesalahan, hingga menunggu o

  • Anak Kembar Sang Presdir    Side Story

    Dean dan yang lain terkejut saat melihat siapa yang kini berdiri memandang mereka, bahkan Liliana langsung berdiri karena panik.Dean langsung memalingkan wajah, seolah tak sudi melihat pria yang kini berdiri memandang dirinya.Kasih sendiri mengalihkan pandangan ke Dean, melihat suaminya yang terlihat tidak senang dan tidak nyaman.“Kamu sudah pulang. Kupikir kamu akan pulang minggu depan,” ujar Liliana dengan wajah panik.Jefrine—ayah Dean, menatap istrinya yang sudah berdiri dengan sikap kebingungan.“Mumpung kamu di sini, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ujar Jefrine sambil menatap Dean.Kasih langsung memandang suaminya, terlihat jelas jika Dean benar-benar tertekan.Jefrine menunggu Dean bicara, hingga sekilas melirik ke Kasih.“Hanya sebentar,” ucap pria itu kemudian.Dean menghela napas kasar, hingga akhirnya berdiri lantas memandang ke arah Jefrine.“Aku juga merasa perlu menyelesaikan sesuatu denganmu,” ucap Dean yang tak mau bersikap sopan ke pria yang dianggapnya buru

  • Anak Kembar Sang Presdir    Side Story : Kasih-Dean

    Dean akhirnya setuju pergi makan malam ke rumah orang tuanya. Dia dan Kasih kini berada di mobil menuju rumah Liliana.Kasih menoleh Dean, melihat suaminya terlihat serius menyetir. Sebelumnya Dean tidak memberi keputusan apakah mau datang makan malam di rumah orang tuanya, tapi tiba-tiba saja sore ini Dean meminta Kasih bersiap.“De, kamu tidak apa-apa, kan? Kalau memang masih tidak bisa, kita tidak usah datang. Mama juga pasti maklum kalau dijelaskan,” ujar Kasih yang tidak tega memaksa suaminya pulang.Kasih tahu bagaimana suaminya itu berjuang melawan sang papa. Dia sendiri tidak pernah menyalahkan sikap Dean yang membenci ayahnya, semua tak terlepas dari perbuatan ayah Dean di masa lalu, yang membuat Dean memilih membenci sang ayah.Deon menoleh Kasih, melihat istrinya itu terlihat cemas.“Aku tidak apa-apa. Sejak kita menikah, aku juga belum pernah melihat Mama. Ya, aku sadar jika membenci Papa, tapi Mama tidak salah sama sekali, jadi kupikir tidak ada salahnya berkunjung, selam

  • Anak Kembar Sang Presdir    Melayani Renata Bergosip

    “Kamu benar-benar tidak apa, kan? Bagaimana calon bayi kita? Dia tidak kaget, kan?”Dean sangat mencemaskan kondisi Kasih. Bahkan kembali memastikan saat sudah sampai apartemen.“Aku baik-baik saja, De. Serius.” Kasih mencoba meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.Dean memandang Kasih. Dia sedih karena sang istri mendapat perlakukan tidak baik berulang kali.“Apa kita pindah saja. Kita ke tempat Ibu saja,” ujar Dean. Dia tidak bisa terus menerus panik karena istrinya beberapa kali hampir celaka.Kasih terkejut mendengar ucapan Dean. Jarak rumah ibu Kasih dan kota tempat mereka tinggal cukup jauh. Kasih tidak tega jika Dean harus bolak-balik menempuh jarak yang jauh.“Tidak apa, De. Aku janji akan hati-hati lagi. Lagian aku kalau pergi pasti bersama Renata, jadi ada yang melindungiku. Tadi saja memang mengalami kejadian tak terduga, tapi serius aku baik-baik saja,” balas Kasih mencoba meyakinkan.Dean menatap sendu. Dia sibuk bekerja sampai tidak bisa menemani istrinya pergi atau seka

  • Anak Kembar Sang Presdir    Balasan untuk Kanaya

    Dean berjalan cepat menuju ke ruang guru begitu sampai di sekolah Dhira dan Dharu. Renata memang menghubungi Dean, agar pria itu bisa melindungi Kasih, serta tahu apa yang dilakukan Kanaya ke Kasih.Dean masuk ke ruang guru, lantas secepat kilat menghampiri Kasih yang duduk dengan ekspresi wajah terkejut menatapnya.“Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Dean yang sangat panik. Dia mengecek tubuh sang istri apakah ada luka.“Aku baik-baik saja, De.” Kasih mencoba menenangkan istrinya.Kanaya terkejut melihat Dean di sana. Dia tidak pernah tahu jika Dean menikah dengan Kasih, karena pernikahan keduanya dilakukan secara tertutup dan hanya orang tertentu saja yang diundang.Renata melihat wajah panik Kanaya, lantas memberi isyarat ke Dean untuk menoleh ke pelaku yang mencoba menabrak Kasih.Dean menoleh ke Kanaya, tatapan tidak senang tersirat jelas dari sorot mata pria itu saat melihat Kanaya.Hingga beberapa saat kemudian, seorang pria masuk ke ruang guru, membuat semua ora

  • Anak Kembar Sang Presdir    Membalas

    Renata benar-benar geram melihat siapa yang keluar dari mobil. Sungguh tak paham dengan pemikiran seperti manusia itu.“Matamu sudah buta, hah! Ini lingkungan sekolah, bukan area balapan yang bisa kamu jadikan tempat ajang ugal-ugalan!”Renata mengamuk, membuat banyak orang akhirnya kini memperhatikan dirinya.Kasih mendekat lantas mencoba menarik Renata agar tidak terlibat masalah.“Sudah, Re. Aku juga baik-baik saja, tidak apa.” Kasih mencoba menjauhkan Renata.“Tidak bisa, Kak. Dia sengaja melakukannya!” Renata tetap saja tidak terima.Kanaya tersenyum miring melihat Renata marah, lantas melirik ke Kasih yang mencoba mengajak pergi Renata.“Tolong! Apa anaknya sekolah di sini? Apakah begini adab di dalam sekolah!” Renata berteriak keras, meminta pendapat para orang tua di sana.“Jika manusia seperti ini, berkeliaran dan ugal-ugalan di area sekolah, kemudian menabrak salah satu dari anak kalian, apa kalian akan terima?” Renata menatap satu persatu orang tua yang ada di sana.Para or

  • Anak Kembar Sang Presdir    Takut Pulang

    “Maaf ya, Re. Aku sekarang jadi sering merepotkanmu.” Kasih menatap tak enak hati karena terus meminta bantuan Renata untuk menemaninya.“Tidak apa. Seperti kayak siapa saja. Dulu aku sering sekali merepotkan Kakak, sekarang anggap saja aku sedang membalasnya,” balas Renata tidak masalah jika sering menemani Kasih.Kasih terharu mendengar balasan Renata, lantas merangkul tangan ibu tiga anak itu untuk jalan.“Kamu tidak dimarahi Bibi karena sering meninggalkan Aldric, kan?” tanya Kasih sambil berjalan.Kasih ingin jalan-jalan karena bosan di apartemen, tapi tidak berani pergi sendiri, sehingga mengajak Renata.“Bukan marah, yang ada Mama malah senang karena Aldric aku tinggalkan sama Mama. Katanya kalau aku di rumah, Aldric akan banyak bersamaku,” jawab Renata diakhiri tawa kecil.Kasih ikut tertawa mendengar jawaban Renata.“Oh ya, tapi nanti siang aku jemput anak-anak sekalian ga apa-apa, kan?” tanya Renata kemudian.“Tentu saja, aku malah senang bisa ikut menjemput mereka,” balas K

  • Anak Kembar Sang Presdir    Tidak Banjir?

    “Tampaknya Kasih hanya dekat denganmu di sini.” Renata menoleh ketika mendengar Margaret bicara. Dia melihat mertuanya itu berjalan masuk kamar menghampiri dirinya. “Iya, Ma. Karena kata Evan, Kak Kasih memang tidak memiliki teman di sini,” ujar Renata menjelaskan. Renata sedang menyusui Aldric, lantas menatap Margaret yang duduk di tepian ranjang memperhatikan dirinya. “Hm … ya, Mama jadi ingat saat pertama kali melihatnya. Dia pendiam bahkan mama lihat tidak pernah bergaul dengan mahasiswa lain,” ujar Margaret karena memang dulu pernah menyelidiki siapa Kasih, sebab Evan berkata menyukainya. Margaret tiba-tiba menatap Renata dengan cepat, hingga kemudian kembali berkata, “Kamu jangan salah paham. Mama bicara begini bukan apa-apa, hanya ingin bicara sesuatu yang mama tahu.” Renata tertawa kecil melihat mertuanya salah tingkah. Dia pun kemudian membalas, “Tenang saja, Ma. Baik aku atau Evan, sama-sama sudah menganggap itu masa lalu. Lagi pula hubungan kami baik, jadi Mama jangan

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status