Hanya saja ….Caden menyadari ada yang terus mengamatinya. Dia pergi ke atas gunung untuk mengambil barang. Dia merasa sangat bahaya!Caden berpikir sejenak, kembali berkata, “Demi nggak menghebohkan massa, aku nggak boleh pergi bersamamu. Apa kamu bisa membawa barangnya dan mengantarnya ke klinik?”Berhubung ingin bersandiwara, sandiwara mesti dilakukan secara menyeluruh! Caden datang untuk menjemput Steven. Demi mengelabui orang-orang, tentu saja Caden mesti duluan mengantar Steven ke klinik.Si Gila merasa ragu dan juga gelisah. “Benda itu ada di tebing curam, tempat yang sangat tersembunyi dan berbahaya. Manusia sama sekali nggak bisa mencapainya, hanya burung elang yang bisa menggigitnya ke sana. Kalau ingin mengambilnya kembali, mesti ada elang yang terbang ke atas untuk mengambilnya.”“Tapi sebelum aku berpura-pura gila, aku sudah melepas elangku kembali ke alam. Sekarang, kalau ingin mengambilnya, kita harus mencari cara.”Caden bertanya, “Gimana dengan elangnya Dinala?”Kening
Begitu pintu dibuka, ada warga yang bertanya, “Dinala, apa yang terjadi?”Kening Dinala berkerut. Ekspresinya kelihatan serius. “Paman memukul orang hingga terluka. Aku bawa mereka ke klinik.”Para warga mulai membahas.“Si Gila itu memang nggak waras. Kenapa dia suka sekali memukul orang lain? Dia malah cari masalah buat Dinala! Haih!”“Apa dia nggak bisa bersikap lebih patuh? Selalu saja memukul orang!”Usai mendengar, si Gila memungut sebatang kayu hendak memukul mereka. Para warga pun terkejut hingga segera melarikan diri. Mereka berlari sembari memakinya sebagai orang gila!Setibanya di klinik, dokter memeriksa Steven sejenak. Katanya, cedera Steven terlalu serius, mesti diinfus anti inflamasiDinala berkata, “Bibi, kamu infuskan dia dulu, ya. Aku antar Paman kembali ke pegunungan dulu. Aku akan segera kembali. Aku akan tanggung biaya pengobatannya.”Dokter mengangguk dengan tidak berdaya. “Pergi sana.”Setelah Dinala meninggalkan tempat, dokter berkata pada Caden dan Steven, “Ak
Dinala tidak perlu melayani orang gila, malah akan memiliki bala bantuan. Apa pun ceritanya, hidupnya akan lebih bagus daripada sekarang. Apalagi mereka telah menjaga virus generasi ke-8 selama bertahun-tahun, mereka juga sudah berjasa!Tidak peduli terhadap negara ataupun hubungan Darman dengan mereka, sudah seharusnya Caden menjaga Dinala dan si Gila di kemudian hari.Steven mengerti maksud Caden, hanya saja dia tidak mengerti bahwa ….“Kenapa aku yang tanggung jawab, bukan kamu?”Caden berkata, “Aku nggak leluasa.”Steven merasa bingung. “Apa maksudnya nggak leluasa?”Caden mengangkat kelopak matanya melirik Steven sekilas. Di benaknya terlintas ucapan Hayden. Hayden mengatakan Dinala adalah kakak perempuan ….Tadi Caden juga telah memperhatikannya, memang mirip!Sekarang Caden sudah memiliki istri, tidak leluasa dalam menjaga seorang gadis! Caden menggerakkan bibirnya, tetapi tidak menjelaskan. Bagaimanapun, hal itu adalah privasi Dinala. Caden tidak bisa membongkarnya. “Kalau aku
Sesosok bayangan tubuh melintas dengan cepat. Dinala hanya dapat melihat ujung pakaiannya saja. Hati Dinala terasa tegang. Dia segera berlari untuk memeriksa. Orang itu pun melompat dari tembok ke sebelah!Kening Dinala berkerut dan menjerit, “Ada maling! Bibi, ada yang manjat tembok masuk ke rumahmu. Coba kamu lihat!”Saat para warga mendengar kemasukan maling, semuanya langsung berbondong-bondong berlari ke sana.Dari tembok, dapat terdengar suara jerit marah wanita dan juga suara gonggong anjing, juga ada suara memelas pengampunan yang familier.Dinala segera berlari ke sebelah. Tadinya dia mengira orang yang bersembunyi itu adalah orang yang datang demi barang itu! Siapa sangka ternyata adalah temannya sendiri, Lojel! Dia adalah pemuda yang dipanggil ke klinik semalam untuk mengobati luka Steven.Lojel berjongkok di samping tembok, lalu melihat Dinala dengan sangat tidak berdaya. “Dinala, kenapa kamu malah sembarangan menjerit, dari mana ada maling!”Kening Dinala berkerut. Tadi di
Lojel lanjut bertanya, “Beberapa hari ini kamu cukup dekat dengan pria yang terluka itu. Apa dia nggak mencari tahu sesuatu dari kamu?”Dinala menjawab, “Dia lagi cari tahu teknik melatih elang dan juga makanan enak di sekitar.”Lojel berucap, “Hanya itu saja?”Langkah kaki Dinala berhenti. Dia menatap Lojel dengan tidak gembira. “Menurutmu, apa yang akan mereka tanyakan sama aku?”Bibir Lojel bergerak. Dia pun berkata dengan tersenyum, “Aku kira dia akan mencari tahu sesuatu yang berharga.”Dinala berkata, “Elang itu sangat berharga bagiku! Dia sudah mencari tahu soal itu!”Lojel mengangguk. “Oh.”Dinala mengusirnya. “Kamu jangan ikuti aku lagi. Aku mau pulang untuk menjaga adikku.”Lojel segera mengangguk. “Oke, sampai jumpa.”Dinala tidak menghiraukannya. Lojel melihat bayangan punggung Dinala dengan kening berkerut.Dinala menyadari ada tatapan tidak bersahabat di belakang tubuhnya. Keningnya berkerut. Dia pun tidak menoleh. Dia pergi ke rumah tetangga, lalu memanggil Diaz untuk pu
Bawahan yang berdiri di samping pria itu berkata, “Dia adalah juara pertama dalam tinju di pasar gelap tahun ini. Tapi di hadapan ikan itu, dia bahkan nggak bisa bertahan lebih dari 1 menit. Ikan itu semakin ganas saja.”Pria itu menggeleng, lalu berkata, “Masalahnya makanannya terlalu lemah. Kalau aku melempar Caden ke dalam, yang mati pasti ikan itu.”Anak buahnya segera menanggapi, “Tentu saja, dia nggak bisa dibandingkan dengan Pak Caden.”Pria itu mendesah dan berkata dengan nada penuh harapan, “Cepat atau lambat, aku akan menangkap Caden dan melemparkannya ke dalam. Kalian akan melihat sendiri betapa mendebarkan pertandingan yang sebenarnya!”Setelah berkata demikian, si pria berbalik dan meninggalkan ruangan, berjalan ke luar. Di luar sana terbentang lautan luas sejauh mata memandang!Pria itu duduk bersandar di atas kursi rotan sembari menikmati sinar matahari dengan wajah menghadap ke laut.Anak buahnya, yang tahu diri, berdiri agak jauh di belakangnya, tidak berani mendekat
Ketika melihat tulisan familier sang ibu, hati Caden terasa lara. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya, lalu mencoba untuk memasukkan kata sandi sekali. Salah!Caden mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap salah!Steven merasa agak panik. “Kak Caden ….”Wanda telah berpesan hanya boleh memasukkan kata sandi sebanyak 5 kali. Tidak mungkin dia hanya sedang menakuti orang-orang saja.Waktu itu, Wanda dan Darman mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencuri sampel dan mengantarnya kembali ke negara.Mereka juga bukan bermaksud untuk merusaknya, melainkan demi menyerahkannya kepada penelitian ilmiah di Negara Carika.Menghancurkan sampel itu tidak berarti sama sekali. Pihak luar negeri juga akan kembali meneliti sampel yang baru. Jadi, hanya dengan peneliti Negara Carika menemukan penawar untuk mengatasi virus itu, bahaya baru akan diatasi.Namun, demi berjaga-jaga, Wanda dan Darman tetap mengambil tindakan pencegahan, yaitu dengan memasang bom di dalam kotak!Jika diperlukan, mereka lebih memi
Darman menepuk-nepuk pundak Wanda dengan perlahan, lalu menatap ke kamera dengan mata memerah. “Caden, mungkin ini rekaman video terakhir yang Papa dan Mama tinggalkan buat kamu. Ada yang mau kami sampaikan di sini, tepatnya berhubungan dengan rahasia virus generasi ke-8! Caden, kamu mesti ingat, Papa dan Mama mencintaimu, sangat amat mencintaimu! Kami mencintaimu untuk selamanya!”“Kamu adalah buah dari percintaan kami, darah daging kami, dan juga orang yang paling kami cintai di dunia ini! Karena virus ini, kami mengambil risiko untuk mengorbankan nyawa kami. Tapi semua itu nggak berarti kami akan mencampakkanmu. Kami lagi melindungimu, melindungi sebangsa kita!”“Kalau kamu bisa melihat rekaman ini, kamu pasti sudah mengetahui betapa berbahayanya virus generasi ke-8! Ada yang ingin mencelakai kita! Mereka ingin menggunakan dengan senjata biologis untuk mengendalikan kita!”“Kalau sampai virus generasi ke-8 sampai tersebar, negara dan semua penduduk negara kita akan lenyap atau menj
Waktu itu, Dinala juga berada di tempat. Saking syoknya, wajahnya pun memucat. Ketika dia maju hendak melindungi Steven, sekujur tubuhnya gemetar. Dinala menutupi bagian luka Steven untuk menghentikan aliran darah. Darah pun mengalir dari celah jari tangan Dinala.Steven tidak ingin membuat Caden khawatir. Jadi, dia pun tidak memberi tahu Caden. Namun, pengawal merasa tidak tenang. Hari ini dia pun memberi tahu masalah itu kepada Caden.Mengenai mata-mata yang diutus orang misterius, tentu saja nasib mereka juga tidak berakhir bagus. Inilah hasil dari perbuatan yang mereka lakukan. Berhubung mereka berani menjadi monster, mereka pun mesti memiliki keberanian untuk menanggung akibatnya.Steven tidak lapor polisi, melainkan langsung membuang mereka ke rumah sakit jiwa. Dia juga berpesan kepada dokter, menyuruh dokter untuk lebih “menjaga” mereka. Jika diperlukan, disetrum dan dipukul saja.Dengan adanya tusukan itu, sementara waktu ini, Steven tidak bisa meninggalkan Kota Amari. Kebetul
Setelah mereka pergi, Caden menemani Baby sembari memikirkan cara untuk menenangkan Naomi.Menjelang siang, Naomi pun bangun. Saat ini, Caden sedang menemani Baby main di ruang tamu. Naomi menuruni tangga, lalu bertanya, “Kenapa cuma kalian berdua di rumah? Di mana yang lain?”Caden menatapnya dengan tatapan lembut. “Papa dan Mama keluar untuk belanja sayuran. Rayden ada di ruang baca lantai atas. Braden dan Hayden pergi bersama Kakek Bungsu. Apa kamu sudah lapar? Papa sudah masak buat kamu. Aku pergi keluarkan dulu.”Naomi mencium putrinya, lalu bertanya, “Braden dan Hayden ikut Kakek ke mana?”Caden berlagak tenang. “Aku juga nggak tahu. Aku cuma tahu mungkin mereka akan keluar selama beberapa hari.”Naomi terbengong sejenak. “Keluar selama beberapa hari? Tapi, kamu nggak tahu mereka ke mana?”Caden berkata, “Kata Braden dan Hayden, suasana hati Kakek lagi nggak bagus, mereka ingin keluar untuk menemaninya selama beberapa hari. Aku nggak enak untuk menolak, jadi aku menyetujuinya.”N
Satu-satunya permasalahan adalah ….“Kita mesti cari alasan yang bagus untuk membohongi Mama. Kalau sampai Mama tahu, dia pasti akan merasa nggak tenang.”Kening Caden berkerut. Dia tidak membalas.Braden berkata lagi, “Kamu nggak usah khawatir dengan keselamatan kami. Hayden, Putih, dan Master Bercodet sangat hebat. Ditambah lagi dengan kondisi lingkungan di dalam pegunungan, kalau orang misterius berani mengikuti kami, bisa jadi malah akan terjadi sesuatu sama dia.”Bagi Braden, Hayden, dan Putih, pegunungan itu mirip seperti Kota Karl orang misterius. Siapa yang berkuasa di wilayahnya, dialah yang menentukan! Kalau orang misterius itu masuk ke gunung, pasti dia yang akan dirugikan.“Selain itu, kalau kami yang pergi, nggak akan mudah menimbulkan kecurigaan dari orang misterius itu. Dia pasti nggak akan menyangka, kamu berani menyerahkan barang sepenting itu kepadaku dan Hayden. Dia hanya akan mengawasi dirimu, bukan kami. Jadi, aku dan Hayden adalah pilihan yang paling tepat.”Kenin
Berhubung mereka tahu jelas tujuan Caden ke Kota Amari, saat ini Braden dan Rayden merasa sangat gugup!Kening Rayden berkerut. “Papa begitu cepat meninggalkan Kota Amari, apa dia sudah menemukan virus? Atau petunjuknya terputus?”Raut wajah Braden kelihatan serius. “Kita tanya dia.”Kedua abang beradik tidak pergi mengetuk pintu kamar, melainkan mengirim pesan untuk bertanya.[ Papa tiba-tiba ke Kota Haidi. Apa masalah di Kota Amari sudah diselesaikan? ]Caden yang berada di kamar lantai 3 kelihatan sangat lembut ketika melihat Naomi yang sedang tidur nyenyak. Saat membaca pesan dari putranya, Caden pun membalas.[ Nanti aku akan cari kalian untuk bahas detailnya. ]Braden membalas. [ Oke, Kakek dan Nenek bawa Hayden dan Baby keluar. Aku dan Rayden tunggu Papa di ruang baca lantai 2. ]Caden tidak membalas. Dia mencium kening istrinya, lalu pergi ke kamar mandi. Sekitar 10 menit kemudian, Caden berpakaian rapi pergi ke ruang baca lantai 2.Saat Braden dan Rayden melihatnya, mereka se
Ketika melihat Caden, Naomi terbengong sejenak. “Suamiku?”Caden melihat Naomi telah membuka matanya. Dia pun membalas dengan suara serak, “Emm, apa aku sudah membangunkanmu?”Naomi seperti tidak sedang mendengar saja. Dia mengusap wajah Caden. “Kamu memang suamiku. Aku memimpikanmu lagi.”Sambil berbicara, Naomi mendekati bibir Caden untuk menciumnya. Kemudian, dia tersenyum, seolah-olah telah mendapat keuntungan saja.Selesai mencium, Naomi memejamkan matanya, lalu memasukkan Caden ke dalam pelukannya. “Kupeluk.”Jakun Caden tidak berhenti bergerak. Dia memeluk Naomi dengan patuh.Naomi mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan Caden, lalu mulai ketiduran.Caden terdiam membisu. Dia mengira Naomi sudah sadar, ternyata dia sedang mimpi.Caden berusaha untuk bersabar lagi, tidak menggoda Naomi. Dia memeluk Naomi yang sudah memejamkan matanya, lalu tidur bersamanya.Keesokan paginya.Setelah Naomi bangun, belum sempat dia meregangkan tubuhnya, dia pun menyadari ada yang aneh. Ada sese
Yang Caden pedulikan, yang sangat Caden pedulikan ….Orang yang sangat dipedulikan Caden sangatlah sedikit. Selain Naomi dan anak-anak yang muncul belakangan, orang tuanya yang sudah meninggal dini, Steven, dan Andrew, masih ada dia!Dylan, cuma dia saja!Namun sepertinya ada yang aneh. Dirinya mencurigai Dylan adalah orang misterius. Tidak mungkin dia menggunakan dirinya sendiri untuk mengancam Caden!Namun, siapa lagi kalau bukan dia?Caden tidak kepikiran lagi!Pada saat ini, kepala Caden berdengung. Dia tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Ketika melihat video yang ditinggalkan orang tuanya, Caden pun merasa kesal dan marah! Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman!Pada saat ini, Caden semakin kesal lagi dengan adanya telepon dari orang misterius!Rasa benci Caden terhadap orang misterius sudah memuncak. Dia ingin sekali langsung pergi ke hadapan orang misterius, lalu bertarung dengannya! Namun ketika kepikiran dengan akhirnya, Cade
Menyuruh Steven mengatasi masalah ini juga demi melindungi mereka.Steven memahami maksud Caden. Dia pun mengangguk. “Kamu pergi dengan tenang. Serahkan masalah di sini kepadaku!”Selesai membereskan barang, Caden mengenakan jaketnya, lalu berkata dengan raut dingin, “Setelah aku pergi, kamu langsung atur pengawal untuk beraksi. Berapa pun bukan masalah. Habisi mereka semua!”“Emm! Jaga dirimu!”Baru saja Caden pergi, Steven pun menerima panggilan dari pengawal. “Kak Steven, sudah terjadi sesuatu dengan Dinala. Seorang pria yang bernama Lojel mengancamnya dengan menggunakan adiknya. Sekarang dia sedang diinterogasi.”Kening Steven berkerut. “Apa Dinala terluka?”“Dia diculik oleh komplotan Lojel.”Amarah Steven meluap. “Bagaimana kalian mengawasinya?”Pengawal merasa tidak berdaya. “Lojel adalah temannya Dinala. Dia langsung pergi ke rumah Dinala. Kita juga nggak berhasil mewaspadainya, juga nggak berani bertindak gegabah.”Kening Steven berkerut. “Sekarang aku ke sana. Kalian cari kes
“Kak Caden, aku curiga ada pengkhianat dalam tim penjemputan! Pengkhianat itu diam-diam menghubungi Paman Darman dan juga Bibi Wanda, sedangkan Paman Darman dan Bibi Wanda nggak tahu mereka adalah pengkhianat. Mereka bertemu secara diam-diam, lalu memberikan virus palsu kepada mereka.”“Sementara, pengkhianat itu nggak tahu kalau virus itu palsu. Setelah mendapatkannya, mereka segera mengutus orang untuk membunuh Paman Darman dan Bibi Wanda! Saat menyadari virus itu palsu, Paman Darman dan Bibi Wanda sudah meninggal. Mereka sama sekali nggak bisa mencari tahu keberadaan virus asli. Jadi, mereka hanya bisa memfokuskan perhatian ke dirimu!”Steven mengepal erat tangannya sembari menganalisis dengan sangat gusar.Kening Caden berkerut. Raut wajahnya sangat muram. Sekeliling terasa dingin!Steven juga sudah mengerti. Dia juga semakin paham lagi. Tanpa perlu curiga lagi, kenyataan memang seperti itu!Tim yang ditugaskan untuk menjemput Darman dan Wanda saat itu tidak seperti yang dikatakan
“Karena aku dan mamamu khawatir ada pengkhianat. Nirman pernah mengingatkan kami untuk lebih berwaspada. Selain itu, kalau negara langsung mengambil tindakan, targetnya akan terlalu mencolok dan kemungkinan besar akan terdeteksi oleh Negara Amuriko.”“Jadi, kami berencana mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membawa virus ini kembali ke negara kita terlebih dahulu. Sementara itu, kami akan membawa virus versi palsu untuk diserahkan kepada tim penjemput. Inilah yang kumaksud.”Darman mengangkat sebuah kotak kecil dan menunjukkannya ke depan kamera. Kotak itu hampir identik dengan yang ditemukan Caden.Darman membuka kotak. Di dalamnya terdapat sebuah tabung. “Ini yang palsu. Kalau semuanya berjalan lancar, setelah kami kembali dari luar negeri, aku akan segera kembali untuk mengambil yang asli dari Kota Amari, lalu menyerahkannya kepada negara.”“Kalau sampai aku dan mamamu mati, virus asli juga nggak akan jatuh ke tangan orang jahat! Caden, ingat, kalau terjadi sesuatu dengan a