Sembari berbicara, si Gila terisak-isak lagi. Dia menatap Caden dengan mata merah. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Orang tuaku sudah meninggal dini. Dulu demi bertahan hidup, aku sengaja berperilaku jahat agar ditakuti orang lain dan nggak ada yang berani untuk menindasku!”“Waktu itu, orang-orang di sisiku membenciku. Hanya Dikara saja yang memperlakukanku dengan sabar! Dia bilang kami itu teman sejak kecil. Dia tahu aku nggak jahat. Meskipun aku menghantam kepalanya dengan batu bata, dia marah dan bertengkar denganku, malam harinya dia tetap mengantar makanan buat aku! Dia nggak punya hubungan darah sama aku, tapi dia itu saudara kandungku!”“Kemudian, dia sakit parah dan hampir meninggal. Kebetulan dia bertemu dengan papamu, papamu turun tangan untuk membantunya, mengeluarkan uang untuk membayar dokter. Waktu itu, jalanan ditutup karena salju tebal, papamu tinggal sebulan lebih di rumah Dikara. Hubungan mereka pun dimulai dari sana.”“Setelah papamu keluar negeri, dia menghubu
Hanya saja ….Caden menyadari ada yang terus mengamatinya. Dia pergi ke atas gunung untuk mengambil barang. Dia merasa sangat bahaya!Caden berpikir sejenak, kembali berkata, “Demi nggak menghebohkan massa, aku nggak boleh pergi bersamamu. Apa kamu bisa membawa barangnya dan mengantarnya ke klinik?”Berhubung ingin bersandiwara, sandiwara mesti dilakukan secara menyeluruh! Caden datang untuk menjemput Steven. Demi mengelabui orang-orang, tentu saja Caden mesti duluan mengantar Steven ke klinik.Si Gila merasa ragu dan juga gelisah. “Benda itu ada di tebing curam, tempat yang sangat tersembunyi dan berbahaya. Manusia sama sekali nggak bisa mencapainya, hanya burung elang yang bisa menggigitnya ke sana. Kalau ingin mengambilnya kembali, mesti ada elang yang terbang ke atas untuk mengambilnya.”“Tapi sebelum aku berpura-pura gila, aku sudah melepas elangku kembali ke alam. Sekarang, kalau ingin mengambilnya, kita harus mencari cara.”Caden bertanya, “Gimana dengan elangnya Dinala?”Kening
Begitu pintu dibuka, ada warga yang bertanya, “Dinala, apa yang terjadi?”Kening Dinala berkerut. Ekspresinya kelihatan serius. “Paman memukul orang hingga terluka. Aku bawa mereka ke klinik.”Para warga mulai membahas.“Si Gila itu memang nggak waras. Kenapa dia suka sekali memukul orang lain? Dia malah cari masalah buat Dinala! Haih!”“Apa dia nggak bisa bersikap lebih patuh? Selalu saja memukul orang!”Usai mendengar, si Gila memungut sebatang kayu hendak memukul mereka. Para warga pun terkejut hingga segera melarikan diri. Mereka berlari sembari memakinya sebagai orang gila!Setibanya di klinik, dokter memeriksa Steven sejenak. Katanya, cedera Steven terlalu serius, mesti diinfus anti inflamasiDinala berkata, “Bibi, kamu infuskan dia dulu, ya. Aku antar Paman kembali ke pegunungan dulu. Aku akan segera kembali. Aku akan tanggung biaya pengobatannya.”Dokter mengangguk dengan tidak berdaya. “Pergi sana.”Setelah Dinala meninggalkan tempat, dokter berkata pada Caden dan Steven, “Ak
Dinala tidak perlu melayani orang gila, malah akan memiliki bala bantuan. Apa pun ceritanya, hidupnya akan lebih bagus daripada sekarang. Apalagi mereka telah menjaga virus generasi ke-8 selama bertahun-tahun, mereka juga sudah berjasa!Tidak peduli terhadap negara ataupun hubungan Darman dengan mereka, sudah seharusnya Caden menjaga Dinala dan si Gila di kemudian hari.Steven mengerti maksud Caden, hanya saja dia tidak mengerti bahwa ….“Kenapa aku yang tanggung jawab, bukan kamu?”Caden berkata, “Aku nggak leluasa.”Steven merasa bingung. “Apa maksudnya nggak leluasa?”Caden mengangkat kelopak matanya melirik Steven sekilas. Di benaknya terlintas ucapan Hayden. Hayden mengatakan Dinala adalah kakak perempuan ….Tadi Caden juga telah memperhatikannya, memang mirip!Sekarang Caden sudah memiliki istri, tidak leluasa dalam menjaga seorang gadis! Caden menggerakkan bibirnya, tetapi tidak menjelaskan. Bagaimanapun, hal itu adalah privasi Dinala. Caden tidak bisa membongkarnya. “Kalau aku
Sesosok bayangan tubuh melintas dengan cepat. Dinala hanya dapat melihat ujung pakaiannya saja. Hati Dinala terasa tegang. Dia segera berlari untuk memeriksa. Orang itu pun melompat dari tembok ke sebelah!Kening Dinala berkerut dan menjerit, “Ada maling! Bibi, ada yang manjat tembok masuk ke rumahmu. Coba kamu lihat!”Saat para warga mendengar kemasukan maling, semuanya langsung berbondong-bondong berlari ke sana.Dari tembok, dapat terdengar suara jerit marah wanita dan juga suara gonggong anjing, juga ada suara memelas pengampunan yang familier.Dinala segera berlari ke sebelah. Tadinya dia mengira orang yang bersembunyi itu adalah orang yang datang demi barang itu! Siapa sangka ternyata adalah temannya sendiri, Lojel! Dia adalah pemuda yang dipanggil ke klinik semalam untuk mengobati luka Steven.Lojel berjongkok di samping tembok, lalu melihat Dinala dengan sangat tidak berdaya. “Dinala, kenapa kamu malah sembarangan menjerit, dari mana ada maling!”Kening Dinala berkerut. Tadi di
Lojel lanjut bertanya, “Beberapa hari ini kamu cukup dekat dengan pria yang terluka itu. Apa dia nggak mencari tahu sesuatu dari kamu?”Dinala menjawab, “Dia lagi cari tahu teknik melatih elang dan juga makanan enak di sekitar.”Lojel berucap, “Hanya itu saja?”Langkah kaki Dinala berhenti. Dia menatap Lojel dengan tidak gembira. “Menurutmu, apa yang akan mereka tanyakan sama aku?”Bibir Lojel bergerak. Dia pun berkata dengan tersenyum, “Aku kira dia akan mencari tahu sesuatu yang berharga.”Dinala berkata, “Elang itu sangat berharga bagiku! Dia sudah mencari tahu soal itu!”Lojel mengangguk. “Oh.”Dinala mengusirnya. “Kamu jangan ikuti aku lagi. Aku mau pulang untuk menjaga adikku.”Lojel segera mengangguk. “Oke, sampai jumpa.”Dinala tidak menghiraukannya. Lojel melihat bayangan punggung Dinala dengan kening berkerut.Dinala menyadari ada tatapan tidak bersahabat di belakang tubuhnya. Keningnya berkerut. Dia pun tidak menoleh. Dia pergi ke rumah tetangga, lalu memanggil Diaz untuk pu
Bawahan yang berdiri di samping pria itu berkata, “Dia adalah juara pertama dalam tinju di pasar gelap tahun ini. Tapi di hadapan ikan itu, dia bahkan nggak bisa bertahan lebih dari 1 menit. Ikan itu semakin ganas saja.”Pria itu menggeleng, lalu berkata, “Masalahnya makanannya terlalu lemah. Kalau aku melempar Caden ke dalam, yang mati pasti ikan itu.”Anak buahnya segera menanggapi, “Tentu saja, dia nggak bisa dibandingkan dengan Pak Caden.”Pria itu mendesah dan berkata dengan nada penuh harapan, “Cepat atau lambat, aku akan menangkap Caden dan melemparkannya ke dalam. Kalian akan melihat sendiri betapa mendebarkan pertandingan yang sebenarnya!”Setelah berkata demikian, si pria berbalik dan meninggalkan ruangan, berjalan ke luar. Di luar sana terbentang lautan luas sejauh mata memandang!Pria itu duduk bersandar di atas kursi rotan sembari menikmati sinar matahari dengan wajah menghadap ke laut.Anak buahnya, yang tahu diri, berdiri agak jauh di belakangnya, tidak berani mendekat
Ketika melihat tulisan familier sang ibu, hati Caden terasa lara. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya, lalu mencoba untuk memasukkan kata sandi sekali. Salah!Caden mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap salah!Steven merasa agak panik. “Kak Caden ….”Wanda telah berpesan hanya boleh memasukkan kata sandi sebanyak 5 kali. Tidak mungkin dia hanya sedang menakuti orang-orang saja.Waktu itu, Wanda dan Darman mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencuri sampel dan mengantarnya kembali ke negara.Mereka juga bukan bermaksud untuk merusaknya, melainkan demi menyerahkannya kepada penelitian ilmiah di Negara Carika.Menghancurkan sampel itu tidak berarti sama sekali. Pihak luar negeri juga akan kembali meneliti sampel yang baru. Jadi, hanya dengan peneliti Negara Carika menemukan penawar untuk mengatasi virus itu, bahaya baru akan diatasi.Namun, demi berjaga-jaga, Wanda dan Darman tetap mengambil tindakan pencegahan, yaitu dengan memasang bom di dalam kotak!Jika diperlukan, mereka lebih memi
Ketika melihat Caden, Naomi terbengong sejenak. “Suamiku?”Caden melihat Naomi telah membuka matanya. Dia pun membalas dengan suara serak, “Emm, apa aku sudah membangunkanmu?”Naomi seperti tidak sedang mendengar saja. Dia mengusap wajah Caden. “Kamu memang suamiku. Aku memimpikanmu lagi.”Sambil berbicara, Naomi mendekati bibir Caden untuk menciumnya. Kemudian, dia tersenyum, seolah-olah telah mendapat keuntungan saja.Selesai mencium, Naomi memejamkan matanya, lalu memasukkan Caden ke dalam pelukannya. “Kupeluk.”Jakun Caden tidak berhenti bergerak. Dia memeluk Naomi dengan patuh.Naomi mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan Caden, lalu mulai ketiduran.Caden terdiam membisu. Dia mengira Naomi sudah sadar, ternyata dia sedang mimpi.Caden berusaha untuk bersabar lagi, tidak menggoda Naomi. Dia memeluk Naomi yang sudah memejamkan matanya, lalu tidur bersamanya.Keesokan paginya.Setelah Naomi bangun, belum sempat dia meregangkan tubuhnya, dia pun menyadari ada yang aneh. Ada sese
Yang Caden pedulikan, yang sangat Caden pedulikan ….Orang yang sangat dipedulikan Caden sangatlah sedikit. Selain Naomi dan anak-anak yang muncul belakangan, orang tuanya yang sudah meninggal dini, Steven, dan Andrew, masih ada dia!Dylan, cuma dia saja!Namun sepertinya ada yang aneh. Dirinya mencurigai Dylan adalah orang misterius. Tidak mungkin dia menggunakan dirinya sendiri untuk mengancam Caden!Namun, siapa lagi kalau bukan dia?Caden tidak kepikiran lagi!Pada saat ini, kepala Caden berdengung. Dia tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Ketika melihat video yang ditinggalkan orang tuanya, Caden pun merasa kesal dan marah! Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman!Pada saat ini, Caden semakin kesal lagi dengan adanya telepon dari orang misterius!Rasa benci Caden terhadap orang misterius sudah memuncak. Dia ingin sekali langsung pergi ke hadapan orang misterius, lalu bertarung dengannya! Namun ketika kepikiran dengan akhirnya, Cade
Menyuruh Steven mengatasi masalah ini juga demi melindungi mereka.Steven memahami maksud Caden. Dia pun mengangguk. “Kamu pergi dengan tenang. Serahkan masalah di sini kepadaku!”Selesai membereskan barang, Caden mengenakan jaketnya, lalu berkata dengan raut dingin, “Setelah aku pergi, kamu langsung atur pengawal untuk beraksi. Berapa pun bukan masalah. Habisi mereka semua!”“Emm! Jaga dirimu!”Baru saja Caden pergi, Steven pun menerima panggilan dari pengawal. “Kak Steven, sudah terjadi sesuatu dengan Dinala. Seorang pria yang bernama Lojel mengancamnya dengan menggunakan adiknya. Sekarang dia sedang diinterogasi.”Kening Steven berkerut. “Apa Dinala terluka?”“Dia diculik oleh komplotan Lojel.”Amarah Steven meluap. “Bagaimana kalian mengawasinya?”Pengawal merasa tidak berdaya. “Lojel adalah temannya Dinala. Dia langsung pergi ke rumah Dinala. Kita juga nggak berhasil mewaspadainya, juga nggak berani bertindak gegabah.”Kening Steven berkerut. “Sekarang aku ke sana. Kalian cari kes
“Kak Caden, aku curiga ada pengkhianat dalam tim penjemputan! Pengkhianat itu diam-diam menghubungi Paman Darman dan juga Bibi Wanda, sedangkan Paman Darman dan Bibi Wanda nggak tahu mereka adalah pengkhianat. Mereka bertemu secara diam-diam, lalu memberikan virus palsu kepada mereka.”“Sementara, pengkhianat itu nggak tahu kalau virus itu palsu. Setelah mendapatkannya, mereka segera mengutus orang untuk membunuh Paman Darman dan Bibi Wanda! Saat menyadari virus itu palsu, Paman Darman dan Bibi Wanda sudah meninggal. Mereka sama sekali nggak bisa mencari tahu keberadaan virus asli. Jadi, mereka hanya bisa memfokuskan perhatian ke dirimu!”Steven mengepal erat tangannya sembari menganalisis dengan sangat gusar.Kening Caden berkerut. Raut wajahnya sangat muram. Sekeliling terasa dingin!Steven juga sudah mengerti. Dia juga semakin paham lagi. Tanpa perlu curiga lagi, kenyataan memang seperti itu!Tim yang ditugaskan untuk menjemput Darman dan Wanda saat itu tidak seperti yang dikatakan
“Karena aku dan mamamu khawatir ada pengkhianat. Nirman pernah mengingatkan kami untuk lebih berwaspada. Selain itu, kalau negara langsung mengambil tindakan, targetnya akan terlalu mencolok dan kemungkinan besar akan terdeteksi oleh Negara Amuriko.”“Jadi, kami berencana mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membawa virus ini kembali ke negara kita terlebih dahulu. Sementara itu, kami akan membawa virus versi palsu untuk diserahkan kepada tim penjemput. Inilah yang kumaksud.”Darman mengangkat sebuah kotak kecil dan menunjukkannya ke depan kamera. Kotak itu hampir identik dengan yang ditemukan Caden.Darman membuka kotak. Di dalamnya terdapat sebuah tabung. “Ini yang palsu. Kalau semuanya berjalan lancar, setelah kami kembali dari luar negeri, aku akan segera kembali untuk mengambil yang asli dari Kota Amari, lalu menyerahkannya kepada negara.”“Kalau sampai aku dan mamamu mati, virus asli juga nggak akan jatuh ke tangan orang jahat! Caden, ingat, kalau terjadi sesuatu dengan a
Rekaman video lanjut diputar ….Darman menenangkan Wanda, lalu mulai menceritakan soal asal mula virus generasi ke-8.“Waktu itu karena tekanan Keluarga Pangestu, aku dan mamamu nggak memiliki tempat untuk tinggal di dalam negeri. Jadi, kami terpaksa memilih untuk menetap di luar negeri. Dari rekomendasi teman kami, kami pun datang ke Kota Karl.”“Kota Karl terletak di area pinggiran kota, yang jauh dari keributan pusat kota. Tempat itu tenang, pemandangan di tempat juga indah. Hawa seni sangat kental di sana. Kehidupan, pendidikan, dan pengobatan di sana tergolong sangat bagus.”“Lagi pula, kebanyakan penduduk Kota Karl adalah orang dari Negara Carika. Tempat itu sangat cocok dengan kami. Jadi, aku dan mamamu memutuskan untuk menetap di sana! Orang yang merekomendasi kami kemari adalah orang dari Negara Amuriko, namanya Nirman. Dia adalah teman yang Papa kenal saat sekolah.”“Dia memang berasal dari Negara Amuriko, tapi Papa berharap kamu bisa mengingatnya! Karena dia adalah orang yan
Hanya saja, setidaknya ayah dan ibu akan selalu menemani Caden, setidaknya ada yang mencintainya. Namun setelah mereka meninggal, bahkan tidak ada yang mencintai putranya lagi ….Jadi, mereka baru merasa bersalah dan bersedih! Pada saat yang sama, mereka juga merasa sangat khawatir akan disalahkan oleh putra mereka!Steven sangat emosional. Air mata sudah membasahi wajahnya.Darman dan Wanda adalah pahlawan, pantas untuk mendapat ucapan terima kasih dari semua orang. Namun, bagaimana dengan Caden? Dia adalah putranya seorang pahlawan. Dia juga sudah dikorbankan! Justru karena orang tuanya sudah berkorban, dia baru melewati hidupnya dengan begitu menderita. Saat usianya masih kecil, dia mesti menanggung semuanya sendiri, tanpa ada satu pun yang mencintainya ….Video masih diputar. Caden menekan tombol jeda dengan mata memerah. Dia mengambil rokok dan mancis, berjalan keluar untuk merokok sebatang demi sebatang.Video 20 tahun silam ini membangkitkan rasa rindu Caden terhadap orang tuany
Darman menepuk-nepuk pundak Wanda dengan perlahan, lalu menatap ke kamera dengan mata memerah. “Caden, mungkin ini rekaman video terakhir yang Papa dan Mama tinggalkan buat kamu. Ada yang mau kami sampaikan di sini, tepatnya berhubungan dengan rahasia virus generasi ke-8! Caden, kamu mesti ingat, Papa dan Mama mencintaimu, sangat amat mencintaimu! Kami mencintaimu untuk selamanya!”“Kamu adalah buah dari percintaan kami, darah daging kami, dan juga orang yang paling kami cintai di dunia ini! Karena virus ini, kami mengambil risiko untuk mengorbankan nyawa kami. Tapi semua itu nggak berarti kami akan mencampakkanmu. Kami lagi melindungimu, melindungi sebangsa kita!”“Kalau kamu bisa melihat rekaman ini, kamu pasti sudah mengetahui betapa berbahayanya virus generasi ke-8! Ada yang ingin mencelakai kita! Mereka ingin menggunakan dengan senjata biologis untuk mengendalikan kita!”“Kalau sampai virus generasi ke-8 sampai tersebar, negara dan semua penduduk negara kita akan lenyap atau menj
Ketika melihat tulisan familier sang ibu, hati Caden terasa lara. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya, lalu mencoba untuk memasukkan kata sandi sekali. Salah!Caden mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap salah!Steven merasa agak panik. “Kak Caden ….”Wanda telah berpesan hanya boleh memasukkan kata sandi sebanyak 5 kali. Tidak mungkin dia hanya sedang menakuti orang-orang saja.Waktu itu, Wanda dan Darman mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencuri sampel dan mengantarnya kembali ke negara.Mereka juga bukan bermaksud untuk merusaknya, melainkan demi menyerahkannya kepada penelitian ilmiah di Negara Carika.Menghancurkan sampel itu tidak berarti sama sekali. Pihak luar negeri juga akan kembali meneliti sampel yang baru. Jadi, hanya dengan peneliti Negara Carika menemukan penawar untuk mengatasi virus itu, bahaya baru akan diatasi.Namun, demi berjaga-jaga, Wanda dan Darman tetap mengambil tindakan pencegahan, yaitu dengan memasang bom di dalam kotak!Jika diperlukan, mereka lebih memi