LOGINCaregiving for her feeble and stupid twin sister became Minty Brown's responsibility. She needed to feel that temporal security to survive, so she adopted three aliases. She never desired commotion. She desired a simple, tranquil life, but when she was forced to choose between two alphas who were vying to be her mate and learned that one of her relatives was responsible for her parents' passing, her drama couldn't have been less dramatic. "You are a wild and wacky girl. As you are aware. Did your alpha boyfriend set you up for this, or are you just looking to whore off on your own without me around?" He laughed hysterically and added, "I should've been aware. You didn't desire a partner. What a fool I am. Why did I think you would be open to visiting me? You are nothing more than a whore in the arms of a wolf alpha who wouldn't even look at you." Note: This book is still being edited.
View MorePENGAKUAN_ANAKKU
"Dila juga pernah lihat, Ayah mimik s*su sama Tante. Kata Ayah, dikulkas stok susu habis. Padahal mimik itu kan buat Dedek Hamdan. Iya kan Mah?" ucap polos, anakku.
----Tinggalkan jejak dulu sebelum membaca----
"Kenapa tidak kamu suruh saja, Hella tinggal disini." ucapan Mas Rudi--suamiku menghentikan aktifitas, yang sedang memasukan buah-buahan segar kedalam plastik.
"Mas tidak keberatan?" tanyaku memastikan.
"Tidaklah, dia kan Adikmu." jawabnya santai diiringi senyum manis khasnya. "Dari pada setiap bulan kamu repot meski bulak-balik kerumahnya, lebih baik dia tinggal disini. Sekalian jaga Dila, rumah pun jadi ramai." tambahnya.
Aku bergeming sesaat, mencerna kata-kata Mas Rudi.
"Dila juga jadi ada teman main, Hamdan pasti senang tinggal disini." tambahnya.
"Iya, nanti aku coba tanya sama Hella. Dia mau tidak tinggal bersama kita." jawabku gamang.
"Aku cuma kasihan sama kamu, sudah enam bulan ini kamu membantu keuangan Adikmu. Belum lagi bayaran kontrkan, kalau Hella dan anaknya tinggal disini kamu tidak perlu pusing memikirkan kontrakan mereka."
Hati menyetujui ucapan Mas Rudi, meski sebenarnya aku tidak keberatan membantu Hella. Toh Hella Adikku, meski tidak kandung.
"Ya sudah, nanti pulang kerja aku langsung ketempat Hella." sahutku sambil meneruskan memasukan buah, mengikat ujung plastik dan membawanya kedalam mobil.
Sebelum berangkat aku kembali memasuki kamar, menengok Dila anak perempuanku yang berusia lima tahun.
"Mamah kerja dulu ya, sayang." bisikku lembut lalu mencim pucuk kepalanya. Dila sedikit bergeliat, lalu kembali terlelap dalam tidurnya.
"Bik Narti, Dila masih tidur. Uang jajan aku taruh ditempat biasa ya." ucapku ramah pada perempuan setengah abad asisten keluarga, yang sedang sibuk menyapu lantai.
"Baik, Neng." jawabnya sambil tersenyum.
"Yah, aku jalan duluan ya. Ada metting pagi soalnya." ucapku seraya meraih tangannya dan mencium dengan takzim.
"Iya, Mah. Ayah mau sarapan dulu. Hati-hati ya," sahutnya seraya melempar senyum.
Namaku Larisa, aku bekerja sebagai salah satu staff di Mall besar yang ada di kota ini. Aku sudah bekerja sejak masih gadis, bahkan sebelum mengenal Mas Rudi. Sayang jika harus keluar bekerja, disaat karirku sedang bagus-bagusnya.
Sementara Mas Rudi, dia bekerja sebagai operator pabrik otomotip dengan gaji yang lumayan.
Sepulang dari memeras keringat aku langsung melajukan kendaraan menuju kontrakan Hella, dia terlonjak senang saat membuka pintu dan menemukan kehadiranku.
"Mbak Risa," Hella melepas Hamdan yang ada didalam gendongan, menaruh bocah mungil itu diatas kasur lantai, lalu memelukku dengan erat.
"Maaf aku selalu merepotkanmu, Mbak." ucapnya lirih. Perempuan berparas Ayu itu menundukan wajah, gurat kesedihan nampak jelas diwajahnya.
"Aku mau pulang kerumah Ibu saja, Mbak. Usaha online ku tidak ada kemajuan. Tabungan sudah sangat menipis. Aku tidak mau terus-terusan menjadi beban untukmu." ucapnya pelan namun sangat jelas.
"Suttt! Kamu bicara apa sih, aku datang bukannya disuruh duduk dikasih minum, malah bicara yang tidak-tidak." ucapku lembut sambil mengusap pundaknya.
"Duduk, Mbak." Hella berjalan lemas menuju sofa, mengambil boneka mobil dan menaruhnya didepan Hamdan.
"Hamdan sudah bisa jalan, La?" tanyaku. Hella menggeleng lemah, tangannya mengusap lembut kepala plontos Hamdan.
"Padahal sudah delapan belas bulan. Tapi masih takut jalan, masih merambat-rambat saja megangi tembok." jawab Hella.
"Sabarlah, nanti juga jalan. Anakkan beda-beda pertumbuhannya." sahutku.
"Ini, Mbak bawa buah," aku meletakan plastik buah diatas meja.
Aku menatap sendu wajah Hella yang tiada bersemangat. Diusianya yang masih muda, dia harus menanggung beban yang menurutku lumayan berat. Diusia yang ke dua puluh lima tahun harus menyandang status sebagai janda. Suaminya Fajar, meninggal Dunia dalam kecelakaan mobil sepuluh bulan yang lalu.
"Hidup tanpa suami berat ya, Mbak." keluhnya.
"Aku tidak sanggup, terus-terusan hidup seperti ini, Mbak." sambungnya sendu. "Apa aku pulang kerumah Ibuku saja ya, Mbak?" wajahnya mendongkak kearahku.
Aku menggeleng pelan, senyum simpul tersemat dibibirku.
Bukan niat untuk melarang, hanya saja pulang kerumah Ibu yang Hella maksud bukan pilihan yang tepat. Mengingat disana, kehidupan Ibunya juga terbilang lebih memprihatinkan.
Hella diurus oleh kedua orangtuaku saat dia berusia delapan tahun, saat itu Ibu Hella yang sedang mengandung besar tengah memukuli Hella dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
"Dasar bocah edan. Jajan terus fikirannya! Tidak tahu orang tua lagi pusing, hah!" pukulan kembali melayang, suara jerit tangis Hella menggugah perempuan yang sudah melahirkanku.
Mamah datang dan melerai, memeluk tubuh kecil Hella untuk menghalangi pukulan yang akan mendarat ditubuhnya.
Keluarga Hella bisa dibilang kurang mampu, Bapaknya hanya penjual agar dan mainan anak-anak dengan keuntungan seribu perak. Sementara Kakak dan Adik-Adik Hella begitu banyak. Terhitung ada tujuh dengan yang dikandung Ibunya saat itu.
Berbekal selembar kertas dan materai yang sudah diisi dengan perjanjian dan tanda tangan, akhirnya Mamah dan Bapak membawa Hella pulang kedalam rumah kami setelah memberi beberapa lembar uang, tentu saja pada keluarga Hella.
Saat ini kedua orangtuaku sudah tiada. Hanya Hella satu-satunya keluarga yang aku punya, jadi mana mungkin aku membiarkannya hidup susah. Sebisa mungkin, jika bisa aku akan membantunya.
Aku biarkan Hella menangis, melepas lelah hati yang mungkin tersimpan dengan rapih didalam lubuk hatinya. Setelah dia mulai tenang, perlahan aku mulai membicarakan maksud tujuanku untuk membawanya tinggal dirumah bersama keluarga kecilku.
"Gimana dengan, Mas Rudi? Apa tidak keberatan?" tanya Hella setelah mengusap jejak air mata dipipinya.
"Mas Rudi tidak masalah, Mbak juga tidak memaksa kamu. Kalau kamu memang mau pulang kerumah Ibumu, Mbak tidak bisa mencegah." ucapku kemudian.
Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Hella mau ikut denganku. Mungkin memang tidak ada pilihan, meningat dia terbiasa hidup dalam kemudahan. Karna di Kampung, belum tentu dia bisa hidup seperti disini.
Dua koper besar masuk kedalam garasi mobil, Hamdan berceloteh riang saat mobil melaju membelah jalan.
"Trimakasih, Mbak. Mbak memang malaikat penolongku," ucap Hella dengan mata berbinar-binar penuh keharuan.
"Ya." jawabku singkat. Karna memang aku orang yang tidak banyak bicara.
"Wah ... ada Dedek Hamdan!" seru Dila, sangat antusias melihat Hella yang menggendong Hamdan kedalam rumah.
"Hamdan mau nginep disini, Mah?" tanya Dila saat melihat aku menurunkan koper dari bagasi.
"Iya sayang. Suka tidak?"
"Sukaaa." jawabnya riang, lalu menuntun masuk Hella beserta anaknya.
Benar ucapan Mas Rudi, suasana rumah menjadi lebih ramai. Gelak tawa dan celoteh Hamdan membuat rumah ini semakin hidup.
***Ofd
"Kamu tidak mau nambah anak, Mah?" tanya Mas Rudi saat kami selesai menuntaskan hasrat.
"Mm ... nanti dululah, Yah. Dila juga masih kecil," jawabku sambil menarik selimut lalu memejamkan mata.
Tak terasa sudah tiga bulan Hella dan anaknya tinggal dirumah, Hella selalu bersikap baik kepada anak dan suamiku.
"Mah, apa tidak sebaiknya Bik Narti diliburkan saja?" Mas Rudi bicara saat dia keluar dari toilet, handuk melilit dibagian bawah pusar membuat dada kekarnya terlihat dengan jelas. Aroma sabun menguar saat dia berjalan melewatiku. Sexy.
"Kenapa, kok diliburkan?" tanyaku.
"Ya menurut, Mas. Sudah ada Hella dirumah ini. Dia pandai mengurus rumah dan menjaga Dila. Lumayan kan, uang gaji Bik Narti bisa kamu tabung?" jawabnya sambil mengambil kaus dari dalam lemari dan memakainya.
"Kasihanlah si Hella, dia juga repot ngurus Hamdan." sahutku.
"Ya itu sih terserah Mamah, aku hanya menyarankan. Ayah lihat juga setiap hari Hella yang masak." jawabnya.
Aku mengerenyit, pasalnya hanya beberapa kali saja Hella membantu Bik Narti.
Mas Rudi menjatuhkan bobot disampingku, menoleh dengan senyum manis seperti biasa.
Ekor mataku tak sengaja menangkap tanda merah yang ada dilehernya, meski samar aku bisa pastikan tanda merah itu adalah tanda ...
Tiba-tiba hatiku berdesir, karna aku sama sekali tidak pernah melakukan hal itu pada Mas Rudi.
"Lehermu kenapa?" tanyaku dengan wajah serius. Mas Rudi yang tadi melebarkan senyum, wajahnya berubah datar lalu dia bangkit dan melangkah menuju lemari.
"Eh, kenapa ya? Paling digigit semut, Mah." ucapnya setelah melihat pantulan dirinya didalam cermin.
"Semut?" ucapku ragu.
"Iya. Kemarin aku habis nyiram tanaman. Mungkin semut atau nyamuk, terus aku garuk-garuk jadi merah." sahutnya sedikit gugup.
"Oh ..." aku melangkah mendekat kearahnya. Saat ingin memegang lehernya, Mas Rudi sedikit menghindar.
Dada berdebar hebat, jelas ini bukan gigitan serangga. Aku tahu betul. Tidak ada tanda bekas gigitan. Biasanya ada lentingan kecil khas digigit semut. Ini tanda ... Ah! Kepala pusing memikirkannya.
Apa Mas Rudi bermain gila dibelakangku?
Saat aku ingin menyentuh lehernya, suara ketukan pintu terdengar dari luar disusul suara Dila yang memanggil namaku.
"Mah ... sarapan sudah siap. Ayok makan," ucap bocah manis itu.
"Iya, sayang." Mas Rudi lalu berjalan menuju pintu. Aku masih mematung melihat punggung belakang Mas Rudi keluar dari pintu.
"Silahkan, Neng." Bik Narti menaruh segelas teh hangat didepanku. Wajah Bik Nar terlihat tegang, sesekali dia melirik pada Hella dan Mas Rudi ragu-ragu.
Hella terlihat mendelikkan mata, saat aku menoleh kearahnya dia langsung tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, lalu menyeruput pelan isi didalam gelas.
Ada apa sih. Kenapa aku jadi tidak nyaman begini. Aishh ... mungkin hanya perasaanku saja.
"Mah, aku duluan ya. Sudah ditunggu sama Tony." Mas Rudi bangkit dari kursi, meneguk sisa kopinya lalu beranjak meninggalkan meja makan.
"Enak tidak, Mbak nasi gorengnya?" tanya Hella dengan suara riang.
"Eh enak." ucapku sambil memasukan satu sendok nasi goreng kedalam mulut. Hella tersenyum penuh semangat, tapi entah mengapa dimataku dia seperti sedang menertawakanku.
***Ofd.
"Mah emang Ayah bisa pijit ya?" tanya Dila saat aku menemaninya memakai pakaian.
"Ah tidak juga, emang kenapa Dil?" sahutku, sambil menyapukan bedak bayi diwajahnya.
"Ayah sering masuk kedalam kamar Tante Hella." gerakan tangan langsung berhenti, jantungku berdegup kencang mendengar ucapan Dila.
"Ayah bilang badan Tante pegal-pegal jadi Ayah bantu pijit." jawab bocah polos didepanku.
"Di-la lihat sendiri, Ayah mijit Tante?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Tidak. Ayah selalu mengunci pintu dari dalam. Kasihan ya Tante Hella, sampai teriak-teriak setiap kali Ayah pijit badannya."
Hatiku memanas, kepala seolah terbakar mendengar pengakuan Dila.
Belum lagi aku menormalkan detak jantung, pengakuan Dila membuat nafasku tercekat kehabisan oksigen.
"Dila juga pernah lihat, Ayah mimik s*su sama Tante. Kata Ayah, dikulkas stok susu habis. Padahal mimik itu kan buat Dedek Hamdan. Iya kan Mah?"
***Ofd.
Baca juga cerita seru aku yang lain ya.
KARMA SANG PENGGODA
MELEPAS BENALU
KARMA IPAR JULID
Di jamin seruuu dan bikin gemassss...
Later that night, I woke up with a start. I sat up on the futon Jo gave me to sleep for the night. Jo lay sprawled out on her bed and I think Matthew was snoring. It might have been Rabel but for some reason, I couldn't imagine Rabel snoring in her sleep. I got up and went to the bathroom. Splashing water on my face, I raised my mouth. I looked in the mirror above the washbasin and saw something blurry. I wondered what it was. I touched the mirror and suddenly, I was transported to a familiar place, the garden where I met the prince for the first time.He stood there, just staring at me. I didn't know what he expected from me, a hug? I've always felt like if I saw him once more, I would scold him for just appearing randomly but I couldn't do anything now. All I could do was stare at him. He's a handsome man and I was very lucky to score a mate like him but I couldn't do anything. Then, there is the thing with Jay. I didn't indulge him, I never did but when he forced himself on me, I d
Jo's house is located in the richer neighborhood. I've been friends with her for two weeks now and I didn't know she drove a convertible. I told her that I had to go home and get my stuff for the sleepover but she waved her hand and said,“What's the fun in that?”I am officially the poorest person among my friends and I don't even have a car, only a large house my parents left for me and Alee. I never really thought I needed a car until I saw Jo and everyone's. The others were following her and I pretended like I see mansions everyday on my way to school or anywhere in particular. When she stopped at her house to put in her password, I stared at the gate, mentally preparing for something that would blow my mind. It looked more like a palace than an actual house, unlike ours. It stood proudly at six stories and I wondered what the extra rooms were meant for. She parked in an underground garage that held a minimum of fifteen to thirty cars at most. A thought occurred to me, just how b
“What is surface tension?” Rabel asked. “The effect that unbalanced intermolecular forces have on the surface of a liquid that makes it behave as a stretched elastic membrane.” I said while stuffing a sandwich in my mouth. Ever since I got my wolf, I've been hungrier than normal. Nowadays, I eat like Alee and those wolves at her table. At home, we usually order because we don't have time to cook a barrel of food in one night. At this moment, we are studying for a chemistry assessment. Mr. Jenkins had conveniently announced that he wanted to assess our knowledge of chemistry. Everyone is panicking because we had to read everything from scratch to finish if we wanted to stay in his class. He had also announced that whoever fails the assessment would be taken down a notch - that is back to basic chemistry. Everyone complained that we were in senior class but he didn't care. And here we are. I, Rabel, Jo, Matthew and annoying Jay are trying to remember all they taught us in chemistry
Alee's POVI walked down the hall in Mason's private cottage in the woods. He told me that he had built the cottage for he and his mate to stay at after performing the alpha-luna ritual - the ritual that will make me Luna of his pack. It's like a honeymoon after marriage but I hadn't registered what he was talking about because he was dragging Minty by the arm. My anger got the better of me and I yelled at him and told him to carry Minty the proper way. He wanted to apologize and I called him a pervert. How could he be talking about our honeymoon while he shot my sister with eight bullets filled with wolfs bane.He was quiet after that. He had tried to have a small conversation with me but I was too angry to see the reason. I had threatened him then that if Minty dies, I would break the bond. I think that shut him up for good until Minty woke up. I was so relieved that I had forgotten everything I said to him. Now, I feel bad that I did all that to him
“And here comes her highness.” I heard Elias say immediately I walked into the hideout.I chuckled, nervously and said,“I was packed up on homework and I forgot about the time. I'm sorry.”“Really? Homework took your time?” Dean asked.“Yes. There's this school project that I am working on. It nee
During lunch, Avery approached me and sat opposite the bench I was sitting on. I ignored her and focused on my novel while taking a bite out of the sandwich I found in my bag. As much as we hate each other, Alee placed the sandwich wrapped in an aluminum foil in my bag with fried plantain chip
ES were kissing behind the door when I opened it. They were too engrossed with each other that I am sure they didn't see me. Even so, I shouted,“Ewww, take it outside, guys.” I wasn't in the mood. Between finding ou
I sat on the chair opposite the window, reminiscing about the kiss with the prince. No matter how much I tried to forget it, it kept on coming to mind over and over again. My heart would beat widely beneath my chest and I would be hopping every time. A knock sounded on the do






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews