“Selamat buat kesembuhanmu?” Dandi membuka obrolan lebih dulu, ketika Hera akhirnya bersedia menemani mengelilingi Glory. Awalnya sedikt alot, karena Rafa ingin menggantikan Hera berkeliling menemani Dandi. Namun, setelah melakukan perdebatan, akhirnya Hera bisa meyakinkan Rafa. “Tapi aku yakin, kalau kamu sudah sembuh jauh sebelum kekacauan ini ada.” Hera menunduk sebentar seraya tersenyum. Tebakan Dandi memang tidak salah, tetapi ia tidak ingin membahas hal tersebut. Ada obrolan yang jauh lebih penting, daripada membicarakan masalah pribadi Hera. “Makasih, Mas,” ucap Hera menghormati Dandi. “Jadi, kita langsung ke intinya. Apa mau Mas Dandi sebenarnya? Bukan rahasia lagi, kalau Mas Dandi membeli saham Glory karena mau balas dendam dengan Alpha. Jadi, apa maumu, Mas?” “Menghancurkan Alpha,” kata Dandi terus terang, karena tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. “Tapi, karena rencanaku sedikit meleset, jadi—” “Ini dendam pribadi,” sela Hera tetap berjalan tegak di samping Dandi, sa
Agnes menghela panjang, setelah mendengar penjelasan Hera dan Rafa mengenai ulah Dandi. Lebih tepatnya, semua masalah yang tercipta saat ini, kembali berasal dari keluarga Mahawira.“Panggilkan Alpha ke sini, Ra,” pinta Agnes.Hera mengangguk dan segera keluar dari ruang kerjanya, agar bisa langsung menyeret Alpha ke ruangannya.Sementara itu, di ruang kerja Hera, saat ini hanya menyisakan Rafa dan Agnes.“Kenapa Hera nggak bilang kalau Dandi sudah punya saham di Glory?” Agnes menatap tanya pada Rafa, meskipun ia tahu Rafa tidak akan tahu alasan Hera. “Harusnya, Hera ngomong kalau kemarin ada rapat mendadak dan beberapa pemilik saham ternyata menjual sahamnya.”Rafa tidak bisa berkomentar. Awalnya, Rafa mengira Agnes telah mengetahui permasalah yang ada di Glory, tetapi dugaannya salah. Hera sama sekali tidak memberitahu Agnes, perihal jual beli saham yang telah terjadi beberapa waktu lalu.“Tapi, Bu, saya bisa jamin kalau Glory sudah bersih dari kasus yang kemarin.” Rafa sudah memast
Rafa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja Hera. Melihat pintunya sedikit terbuka di jam yang tidak biasa, ia lantas membuka dengan perlahan.“Hera?” Saat melihat Hera masih duduk di kursi kerjanya, Rafa pun membuka pintu semakin lebar. “Tumben? Ini sudah setengah delapan dan kamu masih di sini?”“Ah, iya.” Hera tersenyum kecil dan melihat pada sudut layar komputernya. Rafa benar, hari sudah cukup larut dan hal itu sesuai dengan rencananya. “Mas Rafa sendiri juga belum pulang.”“Kadang, aku bisa sampai jam 11 di sini.” Rafa menghampiri Hera dengan perlahan. “Tapi, kamu? Kenapa jam segini masih di kantor?”“Ini juga mau pulang, Mas.” Hera segera mematikan semua perangkat komputernya. Ia mengambil tas di dalam laci meja, kemudian berdiri sembari menyambar ponsel di meja. “Mas Rafa mau pulang? Atau mau … ke mana?”“Aku mau pulang.” Rafa berbalik dan mempersilakan Hera melewatinya dan lebih dulu keluar ruangan. “Apa ada masalah, sampai harus lembur sampai jam segini.”“
“Bu Agnes?” Rafa menggumam sambil mengerut Dahi. Cukup bingung melihat Agnes berada di lobi perusahaan sepagi ini. Wanita yang selalu terlihat rapi itu, tampak tenang, tetapi terus saja memandang ponsel di tangan. Untuk itulah, Rafa segera menghampiri dan menyapanya, karena Agnes sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. “Pagi, Bu.”“Oh, Rafa!” Agner reflek berdiri dan melihat ke sekitar. “Hera belum datang! Tadi malam dia nggak pulang ke rumah. Saya sudah cek ke apartemennya yang lama, tapi dia nggak ke sana. Saya tanya pak Burhan, jawabnya, tadi malam disuruh pulang sama Hera karena dia balik sama Alpha.”“Ibu sudah tanya Alpha?” Mengingat sikap Hera tadi malam, Rafa semakin yakin wanita itu sedang ada masalah.Agnes mengangguk khawatir. “Tapi, Alpha bilang dia nggak sama Hera, karena Alpha sudah pulang dari sore.”“Tadi malam …” Rafa menunjuk ke arah pintu basement dan tidak jadi memberitahukan perihal pertemuan terakhirnya dengan Hera. “Itu Hera, Bu.”Agnes segera berbalik. Tatapa
“Kamu nggak bosan, ada di rumah terus?” Setelah keluar dari kamar mandi, Dandi bergegas menghampiri Rumi yang sedang menonton televisi di tempat tidur.Hari masih terbilang siang, tetapi Dandi terpaksa harus mandi terlebih dahulu jika ingin bergelung bersama Rumi. Padahal Dandi yakin, tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya, tetapi tetap saja Rumi memintanya mandi, ketika ia baru kembali dari luar rumah.“Nggak.” Begitu kepala Dandi berbaring di pahanya, kedua tangan Rumi spontan menyusuri rambut hitam itu dengan perlahan. “Ada bibik juga, jadi aku ada teman ngobrol.”“Belum telpon ibu?” Belum ada lima menit berada di pangkuan Rumi, mata Dandi sudah berat karena usapan lembut di kepalanya.“Belum.” Bibir Rumi mengerucut. “Aku takut, sama belum siap juga, Mas.”“Biar aku yang nelpon kalau begitu.” Padahal, Dandi sudah meminta Rumi menghubungi Yanti dari kemarin-kemarin. Namun, Rumi ternyata belum juga menelepon ibunya sampai saat ini.“Mau ngomong apa?” Rumi benar-benar serba salah,
“Bagaimana, Qai?” Jaya bertanya setelah mengungkapkan rencana yang telah dibuat bersama Dandi. “Bisa, kan?”Bagaimana bisa Qai menolak perintah Jaya kalau begini. Dahulu kala, ia meminta bantuan Jaya untuk membalas dendam pada Lingga dan pria itu setuju. Lantas sekarang, waktunya Qai membalas utang tersebut tanpa bisa menolak.“Bisa, Pa.” Tidak mungkin Qai berkata tidak. Daripada harus dimusuhi papa mertua dan keluarga Sebastian, maka ia mencari aman saja.“Oke!” Jaya tersenyum lebar. “Kamu yang atur skenarionya. Papa tahu beres!”Qai tersenyum, meskipun hatinya penuh keterpaksaan. Sekali lagi, ia akan berhadapan dengan situasi balas dendam dengan keluarga Mahawira. Padahal, Qai sudah ingin berdamai dengan semua hal dan hidup tenang seraya menyambut kelahiran anaknya.“Kalau bisa, besok langsung kita eksekusi,” lanjut Jaya. “Jangan diundur, biar semua cepat selesai.”“Pa.” Qai menggaruk kepala sebentar. “Aku bisa lakuin semua keinginan Papa. Tapi masalahnya, aku tahu pasti jerat hukum
“Maaf, Bu Hera.” Rafa masuk ke ruangan Hera dengan terburu. Matanya memindai meja yang ada di dalam ruangan, lalu menemukan benda kecil yang dicarinya. Rafa mengambil benda tersebut, lalu mengarahkannya pada televisi yang tergantung di sisi dinding. “Dandi diwawancara di depan Mabes Polri, masalah foto-foto Rumi kemarin.”Setelah mendapatkan channel televisi perusahaannya, Rafa memundurkan tayangan yang sempat dilihatnya. “Dia sudah dapatin orang yang disuruh ngantar foto-foto itu ke setiap perusahaan.”“Ini tapping?” Hera menarik kedua tangannya dari keyboard, lalu berdiri dan terpaku.“Yang ini tapping,” terang Rafa. “Dandi ke mabes tadi pagi dan saya sudah konfirmasi ke awak redaksi yang tugas di sana.”Keduanya tidak lagi bicara. Hanya mendengar penjelasan Dandi tentang laporan yang dilakukannya. Dengan seksama, Hera mendengar ucapan Dandi dan mencernanya.“Kalau pesuruh itu nyebut nama Alpha …”“Proses hukum berlanjut,” timpal Rafa.“Glory … skandal lagi.” Hera mendesah dan kemba
Yanti hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangan, saat mendengar kejujuran yang diungkapkan Rumi. Syok, karena semua tidak seperti yang terlihat dan Yanti bayangkan.Padahal, keterkejutan Yanti belum juga hilang, karena Rumi ternyata sudah kembali bersama Dandi sejak beberapa hari yang lalu.“Bu …” Rumi melepas tangan Dandi, lalu beranjak dari sofa. Menghampiri Yanti yang duduk di tepi tempat tidur dan berlutut. Rumi merebahkan kepalanya di atas paha sang ibu dan memeluk kedua kaki Yanti. “Aku minta maaf.”Air mata Rumi jatuh begitu saja. Banyak sesal yang menghampiri, tetapi Rumi lega karena sudah mengatakan semuanya pada Yanti. Awalnya memang tidak mudah, tetapi dengan adanya Dandi yang selalu mendukungnya, maka Rumi akhirnya bisa melewati itu semua.“Aku sudah banyak salah dan bikin Ibu kecewa,” isak Rumi dengan nyeri yang begitu menusuk di relung hati.Yanti mematung. Masih mencerna semua cerita Rumi yang sungguh membuat perasaannya campur aduk. Satu hal lagi yang sudah membuat
Alpha mematung, ketika pelukan hangat Anges menyambutnya di saat ia melewati pintu penjara. Ia tidak melihat siapa pun, selain Agnes yang mulai menangis haru ketika memeluknya. Ke mana perginya Hera? Kenapa adiknya itu tidak ikut menjemputnya? “Mama sendiri?” tanya Alpha akhirnya bersuara, ketika Agnes mengurai pelukannya. Agnes mengangguk-angguk dan mengerti dengan maksud Alpha. “Nanti, Mama jelasin sambil jalan.” Yang bisa Alpha lakukan, hanya mengangguk. Tanpa bertanya lagi, Alpha segera memasuki mobil bersama Agnes. Dua tahun lebih berada di balik jeruji, membuat Alpha mendapat banyak pelajaran. Ia bertemu dengan berbagai macam orang, dari berbagai tingkat sosial dan pendidikan yang berbeda. Semua itu, membuatnya lebih banyak memahami tentang kesakitan yang ada di dunia lebih luas lagi. “Jadi, ke mana Hera?” “Cairo mendadak demam kemarin sore.” Agnes bercerita tentang putra Rafa dan Hera yang berusia tiga bulan. “Tadi malam sudah dibawa ke dokter, jadi, Hera nggak bisa ikut
“Kamu yakin nggak mau ngadain resepsi?” Rafa kembali mengulang pertanyaannya pada Hera, setelah mereka masuk ke dalam kamar. Tepatnya, di kamar Hera yang berada di rumah Agnes. Beberapa waktu lalu, mereka sudah melangsungkan ijab kabul di kediaman Soerapraja dan digelar dengan tertutup. Tidak hanya pernikahan mereka yang dirahasiakan, tetapi kedatangan Alpha ke kediaman Soerapraja pun dilakukan secara diam-diam. Semua bisa dilaksanakan, karena koneksi Hermawan dengan beberapa petinggi terkait. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut, kecuali pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.Bahkan, Agnes sama sekali tidak mengabari Qai, untuk menghindari gesekan yang mungkin saja terjadi sewaktu-waktu. “Mas Rafa mau ngadain resepsi?” Hera bertanya balik, karena sudah kesekian kalinya Rafa mempertanyakan hal tersebut padanya.“Aku ikut kamu.” Rafa menarik lengan Hera yang hendak pergi menjauh darinya. Kemudian, Rafa mengalungkan kedua tangan di tubuh Hera dan tidak membiarkan wanitanya pergi ke
“Akhirnya!” Dandi berseru lega, sambil menghampiri Rumi yang duduk di ruang tengah. Istrinya itu sedang menonton televisi, sambil makan martabak seorang diri. “Akhirnya, tidur juga.” Rumi terkekeh, lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya. “Haduuh!” Dandi menghempaskan tubuhnya, kemudian menyomot satu potong martabak yang ada di pangkuan Rumi. “Dia bolak balik nanyain kamu terus dan nggak berhenti ngoceh.” “Aku nggak tega sebenernya, Mas.” Rumi semakin merapatkan tubuhnya, lalu bersandar pada tubuh Dandi. “Tapi, Dirga kalau nggak diginiin, nggak bakal lepas-lepas ASI. Sudah dua tahun lebih, tapi masih aja nempel.” Putra mereka yang diberi nama Dirgantara Sebastian, memang masih saja menyesap ASI meskipun usianya sudah dua tahun lebih dua bulan. Rumi sudah melakukan segala cara, tetapi selalu berujung sia-sia. Tingkahnya benar-benar seperti Dandi yang selalu menempel, ketika Rumi masih hamil. Sampai akhirnya, Dandi memutuskan untuk memisahkan kamarnya dengan kamar putranya, karena
“Rumi.”Dandi kembali memasuki rumah, karena Rumi tidak kunjung keluar sedari tadi. Mobil sudah selesai di panasi, tetapi sang istri masih berada di dalam. Dandi memasuki kamar mereka terlebih dahulu dan berdecak ketika melihat Rumi ternyata tengah duduk di sofa.“Ayo—”“Perutku mules,” potong Rumi mengangkat satu tangan, agar Dandi tidak meneruskan ucapannya. “Baru aja berhenti.”Detik itu juga, wajah datar Dandi berubah semringah. Senyum lebar langsung menghiasi bibirnya, sembari menghampiri Rumi dengan segera. Dandi berlutut di depan sang istri lalu menempelkan telinganya di perut Rumi, sambil mengusapnya.“Keluar hari ini, oke!” telunjuk Dandi mengetuk perut Rumi dua kali. “Dan nggak usah pake drama.”“Apa, sih, Mas.” Rumi terkekeh sambil mengusap kepala Dandi. “Kalau sudah waktunya keluar, dia pasti keluar.”Dandi menarik diri, tetap kedua tangannya masih menempel di perut Rumi. “Apa perlu dijenguk lagi, biar makin—”“Maaas!” Tawa Rumi semakin keras. “Ini, tuh, sudah mulai mules,
Hari pertama di awal tahun sudah terlewat. Namun, Rumi belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rumi masih mengerjakan beberapa hal seperti biasa, meskipun pergerakannya sudah tidak segesit dulu. Ia gampang lelah, cepat gerah, sehingga terkadang malas melakukan apa-apa.Namun, saat mengingat ucapan ibunya, Rumi harus memaksakan diri untuk bergerak agar bisa melahirkan dengan mudah. Begitulah salah satu ucapan sang ibu, di antara banyak wejangan yang kadang membuat Rumi hanya geleng-geleng, tetapi tidak berani membantah.“Rumi, gimana kalau kita telpon dokter dan minta operasi.” Dandi jadi uring-uringan sendiri, karena belum bisa menjumpai buah hatinya secara langsung. Terlebih ketika mengingat Alaska yang semakin gembul dan mulai belajar membalikkan tubuhnya.“Mas, tanggal HPL baru lewat dua hari.” Rumi mencuci tangan, sesudah beres menyiram tanaman di halaman depan. Setelahnya, Rumi menghela dan terdiam sambil mengusap punggungnya yang pegal. Dandi yang sejak tadi hanya mondar
“Dandi! Balikin, Dan!” Thea melotot dan menghardik sepupunya. Pria itu baru saja masuk ke kamar Thea dan bersikap seenaknya. Tanpa izin, Dandi mengeluarkan bayi yang tengah tertidur pulas di boksnya, lalu menggendongnya. Meskipun Dandi terlihat sangat hati-hati, tetapi Thea tetap saja merasa ngeri.“Mamamu berisik!” desis Dandi sambil berbalik memunggungi Thea. Ia berjalan santai menuju sofa sambil menggendong keponakannya, lalu duduk dengan perlahan.Dandi sengaja menunggu Thea pulang ke rumah terlebih dahulu, barulah ia menjenguk sepupunya agar bisa lebih bebas. Andai Rumi lelah karena terlalu lama menjenguk Thea, istrinya bisa beristirahat bebas di kamar tamu.“Dandiii!” Thea hendak bangkit dari tempat tidur, tetapi tidak jadi, mengingat jahitan di jalan lahirnya masih terasa sedikit nyeri.“Aku belum beli kado,” ujar Dandi lalu melihat ke arah pintu. Ia melihat Rumi masuk menghampirinya, setelah pergi ke toilet terlebih dahulu. “Aku bingung mau ngasih apa, karena Alaska sudah puny
“Jangan mentang-mentang istriku pintar masak, kamu jadi seenaknyammpp—”“Apasih!” Thea yang baru berada di teras, langsung membekap mulut Dandi dengan tangan kanannya. “Kamu itu jadi cowok berisik banget! Ini urusan bumil, jadi nggak usah ikut campur.”Dandi melepas tangan Thea dan berdecak. “Untung kamu lagi hamil. Coba kal—”“Sudah.” putus Qai dengan membawa beberapa paper bag dan kantong plastik di kedua tangan. “Cobalah sehari aja kalian ini nggak ribut. Masa’ nggak bisa?”“Nggak bisa!” seru Thea dan Dandi bersamaan.Qai tercengang, tetapi tidak menghentikan langkahnya memasuki rumah Dandi, meskipun belum dipersilakan. Daripada mendengar kedua orang itu ribut, lebih baik Qai duluan masuk dan merebahkan diri di sofa.“Ngapain lagi kamu ke sini?” Dandi berbalik dan segera menyusul Qai.“Aku mules dari pagi,” ujar Thea berjalan di belakang Dandi, sambil mengusap perutnya. “Sudah ke rumah sakit, tapi ternyata belum bukaan.”Dandi menoleh dan memperlambat langkahnya. “Memang sudah wakt
“Ngapain senyum-senyum lihat hape.” Merasa curiga dan penasaran, Dandi merampas ponsel dari tangan Rumi, hingga istrinya itu langsung berteriak protes.“Mas!”“Apa ini?” Dahi Dandi mengerut, melihat deretan foto yang dikirimkan oleh Thea. Ternyata, istrinya sedang berkirim pesan dengan istri Qai yang semakin menyebalkan. “Ini—”“Buat bayi!” Rumi kembali merampas ponselnya. “Emang Mas kira aku ngapain?”“Selingkuh,” jawab Dandi dengan entengnya, lalu duduk di samping Rumi. Namun, baru saja bokongnya itu menyentuh sofa, Rumi langsung memberi cubitan pada sisi perut dengan Dandi dengan keras. “RUMI!”“APA!” Rumi balas menghardik, karena tidak suka dengan tuduhan Dandi. “Aku nggak suka dituduh-tuduh gitu! Aku nggak selingkuh!”Untuk beberapa saat, Dandi terngaga sambil mengusap sisi perutnya. Ini kali pertama, Dandi mendengar Rumi meninggikan suara di depannya dan bersikap bar-bar. Istrinya itu terlihat benar-benar marah, dengan kedua mata yang melotot kesal.“Bercanda, Rum,” desis Dandi
“Ini masih jam 11 kurang, Ra.” Rafa membuka pintu pagar dan mempersilakan Hera masuk. Ia melihat sebuah tas spunbond yang ditenteng Hera dengan kedua tangan dan tidak bisa menebak-nebak isi di dalamnya. “Mama yang nyuruh datang cepat, biar bisa bantuin mas Rafa nyiapin makan siang.” Hera menyerahkan tas yang dibawanya pada Rafa. “Ini dibawain mama, sate sama kari ayam. Biar nggak ngerepotin.” “Oh ...” Rafa terkekeh sambil mengambil alih tas spunbond berwarna merah dari tangan Hera. “Kalau begini, aku yang jadi ngerepotin. Oia, masuk dulu.” “Nggak ngerepotin,” ujar Hera sembari berjalan masuk ke rumah Rafa. “Sekalian masak buat di rumah soalnya.” “Kamu yang masak?” selidik Rafa. “Nggak mungkin.” Hera meringis malu. “Saya nggak jago masak.” “It’s okay.” Rafa tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. “Aku cari istri, bukan cari tukang masak.” Langkah Hera terhenti tepat di ruang tamu yang bernuansa hitam putih. “Mas, saya nggak bi—” “Bercanda, Ra.” Rafa terus berjalan masuk dan