Aku melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu sunyi, hanya ada deretan bangku yang rapi. Aku berjalan menuju salah satu bangku di dekat jendela—tempat biasa Arshaka duduk. Dengan cepat, aku merogoh tas dan mengeluarkan jas almamaternya yang sudah kulipat dengan sangat rapi. Aku meletakkannya di atas mejanya, berharap dia akan menemukannya tanpa mencurigai apa pun. Setelah itu, aku hendak bergegas keluar dari kelas XI IPA 1.Tiba-tiba, rasa canggung mendorong pikiranku untuk berpikir. 'Eh? Aku gak bilang makasih? Gimana caranya, ya?' Aku merasa terjebak antara rasa malu dan rasa takut pada sikap dinginnya yang sekarang. 'Oh!' Sebuah ide muncul di kepalaku. Aku kembali ke meja Arshaka dengan cepat, mengambil bolpoin yang selalu kubawa di sakuku, juga mengeluarkan sebuah buku dari tasku. Aku merobek selembar kertas itu dan mulai menulis. Meski ini adalah cara yang sangat tradisional, aku merasa ini adalah yang terbaik yang bisa kulakukan.Setelah menulis dengan tangan yang sedikit b
Kami melanjutkan langkah kami, melewati Arshaka dan Clara yang kini terdiam di tempat. Aku menundukkan pandangan, tak berani menatap langsung ke arah mereka. Jantungku berdebar-debar, terasa berat setiap kali kakiku melangkah semakin dekat dengan mereka. Namun, dari sudut mataku, aku bisa merasakan tatapan Arshaka yang tak lepas dariku. Entah itu hanya perasaanku saja, atau mungkin memang benar-benar ada sesuatu dalam caranya memandang. "Kamu udah sarapan?" tanya Keenan tiba-tiba, kami berdua sambil berjalan menyusuri jalan yang tadi aku tunjukkan ke Keenan kalau aku dan Aline melewati jalan ini tadi pas berangkat. Aku mengangguk sambil tersenyum ke Keenan. "Oh, pantes." jawab Keenan sambil mengangguk. Aku menoleh ke arahnya, "pantes apa?" Alisku terangkat. "Pantes tambah cantik." jawab Keenan dengan santai, matanya sambil menunduk, mencari bolpoin itu. Aku mengerutkan keningku, "Apa sih, Keenan, kok jadi gaje banget." jawabku, padahal aku sudah serius mendengarkan nya. Keenan
"Saat sabar menyapa, kita belajar bahwa ketenangan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan."⋆.⋆☾⋆.⋆☾⋆.⋆☾⋆.⋆Kelas tampak sunyi, namun di balik keheningan itu terdapat ketegangan yang mendidih. Suara gesekan pensil di atas kertas, erangan pelan beberapa siswa yang kebingungan, dan ketukan jemari Pak Iwan pada keyboard laptopnya membentuk latar suara yang monoton namun tegang. Aku tenggelam dalam angka-angka di kertas di depanku, berusaha menyelesaikan soal matematika yang sepertinya tiada ujung.Namun, tiba-tiba suara Aline menyelinap di antara keheningan itu."Al, tadi kamu kemana pas aku ke kamar mandi?" tanyanya tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari tugasnya. Gerak tangannya cekatan, seperti mesin yang tak berhenti, tapi tetap saja dia punya waktu untuk memancing obrolan.Aku melirik ke arahnya sekilas, sedikit terganggu tapi tetap santai. "Tadi aku sama Keenan..""Oh, pantes," potong Aline, nadanya santai, tapi ada kilatan iseng dalam suaranya. "Tiba-tiba kamu udah i
Aku hendak menjawab, tapi Ghisel sudah menyela. "Dia mau rapat OSIS, Keenan. Nanti aja ya ngajak berduaannya," candanya sambil melirik Keenan dengan senyum jahil.Keenan hanya tersenyum tipis, anggukannya pelan tapi penuh arti. Abhi, yang berdiri di sampingnya, tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut bercanda. "Sabar, Pak Ketu, nanti aja kalau mau berduaan katanya."Keenan melirik tajam ke arah Abhi, sementara Nevan dan Kafka menahan tawa di belakang mereka. Candaan itu membuat suasana sedikit lebih ringan, tapi aku masih merasakan ketegangan di dadaku.Ghisel menatapku lagi, kali ini lebih mendesak. "Ayo, Al. Kita harus ke ruang OSIS sekarang."Dengan berat hati, aku akhirnya berdiri. Langkahku terasa berat, seperti kaki ini enggan bergerak maju. Tapi sebelum benar-benar pergi, aku menoleh ke arah Keenan lagi. Tatapannya masih menancap pada wajahku, dan senyum kecil yang terukir di bibirnya menghangatkan sedikit hatiku yang beku.Entah kenapa, senyuman itu memberikan sedikit keberan
Aku hanya bisa mengangguk, tenggorokanku sedikit tercekat. Perasaanku semakin jelas bahwa dia benar-benar serius dengan rencana ini."Seperti yang gue bilang sebelumnya, lo cuma nemenin gue. Biar gue yang bicara ke kepala sekolah," lanjutnya lagi, kali ini lebih tenang namun tetap penuh otoritas.Aku sekali lagi mengangguk, mencoba menenangkan diriku yang tiba-tiba diliputi rasa gugup. Benar dugaanku, dia ingin mengajukan program ini dulu ke kepala sekolah sebelum membawa semua struktur inti OSIS ke rapat besar.Kami sama-sama menarik napas panjang sebelum melangkah ke ruangan kepala sekolah. Ruangan itu berada tepat di sebelah ruang guru, dan pintunya terlihat lebih berat dari yang biasanya. Langkah kami terasa seperti dibebani oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertemuan biasa—ini adalah langkah menuju keputusan yang bisa mengubah banyak hal.Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, kami keluar dari ruangan kepala sekolah yang dingin dan penuh tekanan itu. Udara luar
Arshaka melirik ke arahku dengan pandangan tajam, tetapi tetap memilih diam."Maaf, aku cuma bisa bilang begitu," lanjutku lagi, sambil menunduk, berusaha menyusun kata-kata yang lebih berarti. "Tapi, sabar itu bukan sekadar kata pelipur lara. Dalam Islam, sabar itu memiliki makna yang jauh lebih dalam."Aku berhenti sejenak, berusaha memahami perasaanku sendiri sebelum melanjutkan. "Kata 'sabar' seringkali terdengar sederhana, bahkan klise, tapi sebenarnya itu adalah senjata terkuat yang kita punya dalam menghadapi ujian hidup. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.’"Aku mengangkat kepalaku perlahan, berusaha mencari tatapan Arshaka. "Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar itu adalah tetap teguh, meskipun kita terluka, tetap melangkah meski jalan terasa berat. Dalam sabar ada kekuatan yang tidak kita sadari, kekuatan untuk tetap berdiri ketika segalanya runtuh."Arshaka masih diam, tatapannya tak lepas dariku, seolah dia tengah me
"Ketika segala sesuatunya terasa salah, mungkin itu adalah tanda bahwa sesuatu yang benar sedang mengintai di ujung jalan."••••Malam itu, aku duduk di tepi jendela kamar, menatap langit malam yang seolah tak berujung. Bintang-bintang berkerlip redup, seperti ada sesuatu yang tersembunyi di balik cahaya mereka, sesuatu yang sulit dijangkau. Angin malam menerpa wajahku lembut, tetapi hatiku terasa berat. Pikiranku terikat pada kalimat yang dilemparkan Arshaka tadi di sekolah. "Gue butuh lo."Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku, menggema dalam kesunyian malam. Tidak ada penjelasan. Tidak ada lanjutan. Dia hanya melontarkan kata-kata itu lalu pergi begitu saja, meninggalkanku dalam kebingungan.Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir ketidakpastian yang merayap di benak. Namun, rasanya sia-sia. Pikiran-pikiran itu justru terus bertambah, seperti benang kusut yang semakin sulit diurai."Kenapa, Al? Kamu masih mikirin soal foto itu?" suara Aline tiba-tiba memecah keheningan, mem
Langit pagi masih biru muda ketika aku dan Aline bergegas menuju gerbang sekolah. Setengah berlari, setengah berharap waktu bisa melambat. Kami biasanya berangkat jam setengah enam, tapi karena semalam sibuk memikirkan cara untuk membuat Arshaka tidak marah lagi, kami terjebak hingga larut malam dan sekarang, jam sudah menunjukkan setengah tujuh. Napasku sedikit tersengal, dan Aline di sebelahku menghela napas panjang, wajahnya lelah namun tetap berusaha ceria.Sesampainya di halaman sekolah, pemandangan sudah begitu sibuk. Parkiran hampir penuh, sepeda motor berjajar rapat. Beberapa siswa duduk bergerombol di sekitar koridor, wajah-wajah mereka tampak serius, lebih dari biasanya. Aku dan Aline saling menoleh, kebingungan namun tak ingin terjebak dalam kerumunan itu. Langkah kami terus melaju menuju kelas di lantai dua."Aduh, Al, baru kali ini kita berangkat jam segini," keluh Aline sambil menarik napas dalam, matanya sedikit mengerucut akibat kantuk yang belum sepenuhnya hilang.Aku
“E-eh, Kak, itu mau dipasang di mading sama Yara...” protes si siswi, namun Aline tak peduli, tangannya gemetar ketika ia mulai membaca, matanya bergerak cepat melintasi kalimat-kalimat di selebaran itu. Aku berdiri di sampingnya, dan perlahan-lahan judul berita di koran itu terlihat jelas di mataku, seolah-olah huruf-huruf itu melompat keluar dari halaman dan menghantam dadaku dengan keras. ~"Tragedi di Laut Mediterania: Pesawat XYZ345 Jatuh, 7 Siswa Indonesia Jadi Korban"Penerbangan internasional XYZ345 dari Indonesia menuju Spanyol yang membawa total 162 penumpang mengalami kecelakaan tragis di perairan dekat Laut Mediterania. Pesawat tersebut membawa 7 siswa Indonesia yang terpilih untuk mengikuti lomba tingkat Internasional ke Spanyol, bersama dengan penumpang umum dan kru pesawat. Berdasarkan laporan sementara, sebagian besar korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Namun, terdapat satu jasad siswa Indonesia yang hingga saat ini belum ditemukan. Berikut adalah da
Tiba-tiba Aline menepuk lenganku, memutuskan lamunan yang mulai merasuk. "Hey, Al! Kok malah ngelamun? Udah sana, lanjutin belajarnya. Aku mau tidur," katanya dengan ringan sebelum berbalik dan menuju tempat tidurnya.Aku sedikit terkejut, lalu tersadar dan mengangguk. "Iya, iya," jawabku sambil kembali menatap layar laptop, mencoba fokus lagi pada tugas yang harus kuselesaikan. Aku menggulir pelan halaman pada laptopku, membaca artikel tentang ketentraman jiwa manusia. Di tengah keheningan malam, pikiranku melayang pada nasihat lembut seorang ustadz di pengajian kecil. Suaranya penuh keyakinan, wajahnya teduh di bawah sorotan lampu masjid, saat ia berbicara tentang hati dan perasaan perempuan."Perempuan," katanya lembut, "jika tidak disibukkan dengan ilmu dan agamanya, dia akan gila karena perasaannya."Kalimat itu seperti sayatan tajam, menggugah kesadaran yang dalam. Aku memejamkan mata, mencoba merenungkan kata-katanya. Mungkin ini jawabannya—aku perlu mengalihkan perasaanku ke
Jemariku gemetar sedikit saat menemukannya, dan aku membuka halaman demi halaman, hingga kutemukan kutipan yang selalu berulang dalam buku itu. Bibirku membaca pelan kata-kata yang pernah memberiku kekuatan."Dalam perpaduan bulan dan bintang, langit malam mengungkap keindahan, menghapus segala beban hidup yang memandang."Aku mengulangi kalimat itu, berbisik, "Bulan dan bintang... langit malam... keindahan... menghapus beban hidup yang memandang."Mataku tak lepas dari langit di luar jendela. Bulan bersinar dengan tenang, bintang-bintang di sekelilingnya berkelip, seolah menyapa. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang hampir kupegang. Aku merasakan denyut ide yang perlahan mulai terbangun di kepalaku."Keindahan... langit malam..." gumamku lagi, lebih dalam, mencoba merangkai makna di antara kata-kata itu. Aku menutup mataku sejenak, membiarkan bayangan langit malam menari-nari di dalam pikiranku, berharap bisa memunculkan sesuatu yang nyata. Dan tiba-tiba.. seperti kilatan cahaya, 'aku t
Aku berbalik dan memandangnya dengan lelah. "Sebentar lagi, Lin," jawabku singkat, suaraku nyaris tenggelam."Aku mau ngaji dulu, sambil nunggu adzan isya'," tambahku, berharap Aline tak lagi mendesakku.Namun, dia tetap mendekat, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan. "Al, minum obat dulu, ya? Jangan ditunda-tunda," katanya sambil meraih kotak obat yang sudah kusiapkan di kamar untuk keadaan darurat. Dia menyodorkan obat itu kepadaku, seakan tak ingin memberi ruang bagi penolakan.Aku menatap pil-pil di tangannya, lalu mengangguk lemah. Perlahan, aku mengambil obat tersebut dan segera menelannya. Perasaan sedikit tenang menyelimuti, meski tidak sepenuhnya menghapus rasa sakit yang ada di dalam dada."Nah, gitu dong. Kalau gini kan aku bisa lebih tenang. Kamu lupa ya? Tadi Kafka nitip kamu ke aku," ucap Aline, mencoba mencairkan suasana.Kafka. Nama itu membuatku terdiam sejenak. Masih ada banyak hal yang harus kupertanyakan padanya, namun, malam ini, aku terl
Aline mengangguk pelan, "Iya," jawabnya lembut, tak pernah sekalipun melepaskan rangkulannya di pundakku.Abhi yang biasanya ceria terlihat lebih serius. "Cepet sembuh ya, neng Alsha," ucapnya dengan nada tulus, meskipun ada sedikit kebingungan di matanya.Nevan menambahkan, "Iya, cepet sembuh, Al, biar Keenan nanti nggak kepikiran pas tanding." Kalimat terakhir itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke hatiku. Air mataku yang sedari tadi kutahan semakin deras mengalir, namun aku tetap diam. Mereka tidak tahu. Tidak tahu bahwa sakit yang kurasakan bukan hanya karena pusing, tetapi karena pengkhianatan yang baru saja kulihat. Keenan. Orang yang mereka banggakan, orang yang mereka kira akan peduli padaku, ternyata sudah bersama orang lain. Gadis lain. Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, aku memohon agar mobil berhenti. "Mampir ke masjid dulu... sholat Maghrib," pintaku dengan suara pelan, hampir tak terdengar.Aline mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, dan su
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki yang semakin mendekat membawaku kembali ke kenyataan. Aline tiba lebih dulu, diikuti oleh Kafka, Nevan, dan Abhi. Wajah mereka penuh kecemasan saat mereka menghampiriku. Aline duduk di sampingku, tanpa ragu langsung merangkulku dengan erat. Pelukan hangatnya seolah mencoba menarikku keluar dari keterpurukan yang tengah melingkupiku."Al, tiba-tiba banget sakitnya?" tanyanya lembut, suaranya bergetar samar dengan kekhawatiran.Aku hanya mengangguk pelan, masih menutupi wajah dengan kedua tanganku. Air mata yang membasahi pipiku tidak bisa kutahan lagi, dan aku tidak ingin mereka melihat betapa hancurnya aku saat ini."Bentar, gue telfon supir gue dulu biar cepet kesini," Kafka berkata, suaranya terdengar seperti dari kejauhan, bergema di antara pikiranku yang kacau. Aku bisa mendengar langkah kakinya menjauh sedikit, mungkin untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik, tapi fokusku tak bisa sepenuhnya tertuju padanya.Aline menghela napas dalam
"Ketika rasa tak lagi mampu berlabuh di bumi, aku melangitkannya—membiarkannya terbang tinggi, menuju Tuhan, di mana segala harapan menemukan tempatnya yang abadi." -Alshameyzea Afsheena •••Di bawah langit senja yang memancarkan warna merah jingga lembut, bandara sore itu tampak bagaikan palet cat yang dipenuhi dengan warna-warna ceria dan energi yang tak tertahan. Namun, kontras antara suasana yang riuh dan keadaan batinku yang terpuruk tak pernah lebih jelas daripada saat ini. Setiap langkahku terasa seperti usaha sia-sia untuk menghapus bayangan yang baru saja menghantamku dengan keras, seakan dunia yang kukenal runtuh dalam sekejap. Napasku terasa semakin berat, masing-masing seperti beban yang menambah kekosongan yang menggelayuti hatiku. Tanpa rencana atau tujuan yang jelas, kakiku menarikku ke arah kamar mandi, mencari ketenangan di tempat yang sederhana. Mungkin, air wudhu' yang dingin dan menyegarkan bisa menjadi penawar sementara, menyelamatkanku dari kegundahan yang men
Aku terus memperhatikannya, merasa janggal dan penasaran. Gerakannya tenang, tapi matanya tampak sibuk mencari. Lalu, tak lama kemudian, muncul beberapa sosok yang sangat familiar-Rey, dokter Athala, dan bundanya. Mereka bergabung dengan Arshaka, tampak berbicara dengan penuh keseriusan.Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadaku, semacam kekacauan emosional yang sulit kutafsirkan. Namun sebelum aku bisa mencerna lebih jauh, suara Aline memecah keheningan."Al, lagi liatin apa sih?" tanyanya dengan nada penasaran, membuyarkan lamunanku.Aku tersentak, refleks menggeleng pelan. Tapi saat aku kembali menoleh ke arah Shaka dan keluarganya, mereka sudah menghilang dalam keramaian bandara. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dari rasa tak menentu yang tiba-tiba melanda.Kami berhenti di area parkir. Aline segera membuka pintu dan keluar dengan cepat, sementara aku masih mencoba menenangkan pikiran. Beberapa detik kemudian, mobil Nevan dan Abhi tiba, disusul oleh mob
"Itu. Lanjutannya," jawabku sambil menatapnya lebih dalam, ingin melihat reaksinya.Keenan menarik napas dalam, tatapannya tak pernah lepas dari wajahku. "Masih," ucapnya mantap, tanpa ragu.Keheningan langsung menyelimuti kami. Meski di sekitar kami kelas dipenuhi dengan suara obrolan teman-teman yang riuh, rasanya seperti ada dinding tak terlihat yang memisahkan kami dari hiruk pikuk itu. Hanya ada aku dan Keenan, duduk berhadapan dengan suasana yang kini terasa jauh lebih dalam dan rumit."Kamu mau ya, nganterin aku nanti?" tanyanya tiba-tiba, suaranya kini lebih lembut, penuh harap. "Bareng Kafka juga. Nanti ajak Aline."Aku menatapnya, kini wajahnya penuh dengan permohonan yang begitu tulus. Untuk sesaat, aku terdiam. Lalu, dengan senyum tipis, aku mengangguk pelan, tanda bahwa aku bersedia.---KRING! KRING! KRING!Bel sekolah berbunyi, menandakan akhir dari jam pelajaran hari itu. "Jam pelajaran telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing,"