Gustur melangkah lebih dekat ke Sapphire, dengan mata yang tajam dan suara yang keras. "Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku tahu apa yang terjadi dengan Liyana," kata dia.Sapphire merasa takut dan terjepit. Dia tahu bahwa dia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran. Tapi, dia juga tidak bisa mengungkapkannya sekarang. Dia berusaha untuk berpikir cepat dan mencari jalan keluar.Tiba-tiba, Sapphire mendengar suara dari luar ruangan. Suara itu semakin keras dan terdengar seperti suara mobil yang berhenti di depan rumah. Sapphire melihat Gustur dan melihat kesempatan untuk mengalihkan perhatiannya."Aku rasa ada tamu yang datang," kata Sapphire dengan berusaha untuk terdengar santai. "Mungkin aku harus pergi untuk menyambut mereka."Gustur melihat Sapphire dengan curiga, tapi dia tidak bisa menolak untuk membiarkan Sapphire pergi. Dia berharap bahwa Sapphire tidak akan melarikan diri atau menghancurkan bukti-bukti yang dia cari.Gustur melangkah lebih dekat ke Sapphire, d
Ryven, Bara, dan Bayu saling melihat dengan penasaran. Mereka tidak tahu siapa yang telah menelepon Ryven, tapi mereka tahu bahwa mereka harus mencari tahu lebih banyak tentang kebenaran tentang Liyana."Kita harus pergi ke pertemuan itu," kata Ryven dengan suara yang serius. "Kita tidak bisa melewatkan kesempatan ini untuk mencari tahu kebenaran tentang Liyana."Bara dan Bayu mengangguk setuju dengan Ryven. Mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati, tapi mereka juga tahu bahwa mereka harus mencari tahu kebenaran tentang Liyana.Mereka memutuskan untuk pergi ke pertemuan itu dan mencari tahu apa yang orang itu tahu tentang Liyana. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang.Saat mereka berangkat ke pertemuan itu, Ryven tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dia merasa bahwa ada orang lain yang juga mencari tahu kebenaran tentang Liyana, dan dia tidak tahu siapa orang itu.Ryven, Bara, dan Bayu tiba di tempat pe
Setelah meninggalkan tempat percakapan dengan pria itu, Gustur Danendra dan Bara beserta Bayu pulang menuju ke rumah mereka. Gustur masih terlihat cemas dan khawatir setelah mendengar percakapan antara Sapphire dan pria itu.Saat mereka tiba di rumah, mereka melihat Nenek Liyana sudah menunggu di ruang tamu. Nenek Liyana terlihat sangat cemas dan khawatir, dan dia segera bangun dari tempat duduknya saat melihat Gustur dan Bara masuk."Siapa kamu?" tanya Gustur dengan nada yang tidak ramah, berpura-pura tidak mengenali nenek tua itu.Bara terlihat bingung dan memandang ayahnya dengan heran. "Ayah, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak mengenali Liyana?"Gustur tetap berpura-pura tidak mengenali nenek tua itu. "Siapa Nenek itu? Liyana? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Bara."Nenek Liyana terlihat sedih dan kecewa dengan reaksi Gustur. Dia memandang Bara dengan mata yang penuh harapan, berharap bahwa Bara dapat membantu menjelaskan situasi yang tidak biasa ini."Iyah, yah ... Dia ad
Malam itu, Bara merasa lelah dan hendak tidur. Dia berbaring di tempat tidurnya dan menutup matanya, berharap bisa tidur nyenyak.Namun, saat dia membuka matanya kembali, dia melihat Nenek Liyana berdiri di samping tempat tidurnya. Nenek Liyana tersenyum dan berkata, "Aku ingin tidur di sampingmu, Bara."Bara merasa terkejut dan tidak nyaman. "Tidak, Nenek. Aku tidak ingin kamu tidur di sampingku," kata Bara dengan nada yang tegas.Tapi Nenek Liyana tidak mendengarkan. Dia malah berbaring di samping Bara dan menutup matanya. Bara merasa tidak nyaman dan tidak tahu apa yang harus dilakukan."Apa yang kamu lakukan, Nenek?" tanya Bara dengan nada yang kesal.Nenek Liyana membuka matanya dan tersenyum. "Aku ingin tidur bersamamu, Bara. Aku ingin membuatmu merasa nyaman dan aman."Bara merasa tidak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nenek Liyana? Mengapa dia berubah menjadi manja seperti ini?Bara merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nenek Liyana di sampingnya. Dia mencoba untuk m
Bayu berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi di dalam hatinya, dia sudah memulai untuk mempersiapkan rencana untuk menghadapi Nenek Liyana. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menolak permintaan Nenek Liyana secara langsung, tapi dia juga tidak ingin membantu Nenek Liyana melakukan sesuatu yang tidak benar."Aku... aku akan mencoba membantu kamu, Nyonya," kata Bayu dengan nada yang ragu-ragu. "Tapi, aku tidak tahu apakah aku bisa membuat Bara percaya bahwa kamu adalah istrinya yang sebenarnya," balasnya lagi dengan pelan.Nenek Liyana terlihat puas dengan jawaban Bayu. "Aku percaya kamu bisa melakukannya, Bayu," kata Nenek Liyana dengan senyum yang misterius. "Aku akan memberimu instruksi lebih lanjut tentang apa yang harus kamu lakukan."Bayu berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi di dalam hatinya, dia sudah memulai untuk mempersiapkan rencana untuk menghadapi Nenek Liyana. Dia tahu bahwa dia harus berhati-hati dan tidak bisa membiarkan Nenek Liyana mengend
Gustur Danendra memandang Bara dengan mata yang serius. "Bara, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting," katanya dengan nada yang tegas. Bara terlihat tidak nyaman dan ragu-ragu. Dia memandang Bayu yang berdiri di sampingnya, mencari dukungan."Apa itu, Ayah?" tanya Bara dengan nada yang lembut.Gustur Danendra mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku ingin berbicara denganmu tentang masa depanmu, Bara. Aku ingin tahu apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu rencanakan untuk melakukan sesuatu kedepannya."Bara terlihat tidak yakin apa yang harus dikatakan. Dia memandang Bayu lagi, mencari bantuan. Bayu memberikan senyum yang meyakinkan dan mengangguk."Aku... aku tidak tahu, Ayah," jawab Bara dengan nada yang ragu-ragu.Gustur Danendra memandang Bara dengan mata yang tajam. "Kamu harus tahu, Bara. Kamu harus memiliki rencana dan tujuan yang jelas. Aku ingin membantu kamu mencapai tujuanmu, tapi kamu harus memberitahu aku apa yang kamu inginkan.""Apa maksud
Bara merasa jantungnya berdegup kencang ketika mendengar ancaman ayahnya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Liyana. "Apa yang Ayah rencanakan untuk dilakukan?" tanya Bara dengan nada yang ragu-ragu.Gustur Danendra tersenyum sinis. "Aku akan memastikan bahwa Liyana tidak akan pernah mendekati kamu lagi. Aku akan mengirimnya ke panti jompo, jauh dari kamu," katanya dengan nada yang dingin.Bara merasa seperti dipukul oleh petir. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa nenek Liyana karena dia alibi supaya bisa menjauhkannya dari sapphire. "Tidak, Ayah! Aku tidak akan membiarkan Ayah melakukan itu!" teriaknya dengan nada yang keras.Gustur Danendra memandang Bara dengan mata yang marah. "Kamu tidak memiliki pilihan, Bara. Aku adalah ayahmu, dan aku akan melakukan apa yang terbaik untukmu," katanya dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.Bara merasa seperti dunianya runtuh. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Liyana jika Ayahnya nekat menikahinya dengan Sapphire. Dia berpiki
Bara semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak biasa tentang nenek Liyana. Dia memutuskan untuk mengawasi nenek Liyana lebih dekat, untuk melihat apakah ada tanda-tanda lain yang tidak biasa tentang dirinya.Saat makan, Bara memperhatikan bahwa nenek Liyana memiliki cara memasak yang sangat mirip dengan Liyana. Dia juga memperhatikan bahwa nenek Liyana memiliki cara berbicara yang sangat mirip dengan Liyana.Bara merasa semakin yakin bahwa nenek Liyana memang Liyana yang telah berubah menjadi lebih tua. Tapi, bagaimana mungkin? Apakah ada kekuatan supernatural yang telah membuat Liyana berubah menjadi nenek Liyana?Bara memutuskan untuk bertanya langsung kepada nenek Liyana. "Nenek, aku ingin bertanya sesuatu kepada kamu," kata Bara dengan nada yang ragu-ragu.Nenek Liyana memandang Bara dengan mata yang lembut. "Apa yang kamu ingin tahu, Bara?" tanya nenek Liyana dengan nada yang lembut.Bara mengambil napas dalam-dalam sebelum bertanya. "Apakah kamu benar-benar nenek Liyana, atau a
Bayu menatap orang di hadapannya dengan napas memburu. Sosok itu—seseorang yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini—tersenyum miring, seolah menikmati keterkejutannya.“Kau... siapa sebenarnya?” suara Bayu bergetar. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, tapi dadanya terasa sesak.Orang itu melangkah maju, cahaya redup lampu jalan menyinari wajahnya yang familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sorot matanya lebih gelap, lebih tajam.“Kau masih tidak mengenaliku, Liyana?” suaranya rendah, penuh sindiran.Bayu mengepalkan tangannya. Nama itu. Sudah lama ia tidak mendengarnya dari orang lain selain Ryven.“Kau salah orang,” jawabnya dingin. “Aku Bayu.”Orang itu terkekeh. “Oh, tentu saja. Bayu yang selalu berada di sisi Bara, kan?”Bayu merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya. Orang ini tahu terlalu banyak.“Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu.” Orang itu mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku
Bayu menarik napas dalam-dalam, matanya menyipit saat menatap layar ponsel. Ia menggigit bibirnya, jemarinya sedikit gemetar. Pesan itu seperti pisau bermata dua. Jika ia menemui orang itu, bisa saja ini jebakan. Tapi jika tidak, nyawanya dan orang-orang yang ia lindungi bisa berada dalam bahaya.Dengan hati-hati, ia mengetik balasan.“Aku akan datang.”Setelah mengirim pesan itu, Bayu merasakan debar jantungnya semakin kencang. Ia harus mempersiapkan diri. Tidak ada jaminan bahwa pertemuan ini akan berjalan aman. Ia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan, tapi satu hal pasti—orang itu mengetahui identitasnya.Bayu berdiri, berjalan menuju jendela dan mengintip ke luar. Jalanan tampak lengang, hanya lampu jalan yang redup menerangi trotoar. Dalam keheningan itu, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.Ia menoleh ke belakang, memastikan pintu kamar terkunci. Bara masih di atas, mungkin sudah terlelap. Ia tidak bisa membiarkan siapapun, terutama Bara, mengetahui p
Langkah mereka semakin cepat, menyelinap dalam bayang-bayang malam yang kian pekat. Bayu merasakan detak jantungnya menghentak di dadanya, seakan memberinya peringatan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena beban keputusan yang harus ia hadapi.Di persimpangan jalan yang remang, Ryven tiba-tiba menarik lengannya, membuat Bayu nyaris kehilangan keseimbangan.“Tunggu,” bisik Ryven, matanya menyipit ke arah sudut jalan. “Ada yang mengawasi.”Bayu menahan napas, otaknya langsung bekerja cepat. Pandangannya mengikuti arah tatapan Ryven—dan benar saja. Di kejauhan, di balik tembok tua yang hampir tertutup bayangan, ada seseorang berdiri. Siluetnya samar, tapi jelas orang itu memperhatikan mereka.“Siapa dia?” bisik Bayu, tangannya refleks meraba sesuatu di sakunya—bukan senjata, tapi sekadar memastikan dirinya siap menghadapi apa pun.Ryven tak langsung menjawab. Ia merogoh ponselnya, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu berbisik pelan, “Jangan bereaksi berleb
Bayu berlari menyusul Bara, napasnya tersengal. Jantungnya berpacu bukan hanya karena langkahnya yang cepat, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. “Pak Bara!” serunya, tapi pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Bayu terhenti di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar. Ia menatap punggung Bara yang berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegang, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. “Pak Bara…” suara Bayu melemah, tapi Bara tiba-tiba berbalik, membuat Bayu terkejut. “Kau tahu sesuatu, kan?” Suara Bara terdengar parau, matanya menyala. “Tentang nenek itu. Tentang hasil tes. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Bayu menggigit bibir. “Saya… saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.” “Jangan bohong!” Bara membanting meja di depannya, membuat Bayu tersentak. “Sejak awal kau selalu mencurigakan! Kenapa kau begitu peduli dengan hasil tes itu? Siapa kau sebenarnya, Bayu?”
Bayu duduk memeluk lutut di lantai kamar yang dingin. Nafasnya bergetar, dada terasa sesak, dan pikiran berkecamuk. Suara langkah Bara yang menjauh terdengar begitu menyakitkan. Ia ingin mengejar, ingin memohon agar Bara mendengarkannya, tapi tubuhnya terasa berat.Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.Bayu menghapus air mata yang menggenang di pipinya. Ia merogoh ponsel dari saku, menatap layar yang buram karena tangannya gemetar. Jarinya mengetik pesan cepat untuk Ryven.“Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa yang memanipulasi hasil tes DNA itu.”Pesan terkirim. Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Matanya terpaku pada bayangan dirinya di kaca jendela kamar. Wajah pucat itu terasa asing. Mata sembab dan bibir yang gemetar membuatnya terlihat begitu lemah.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Bayu buru-buru mengangkatnya. “Ryven?”“Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.” Suara Ry
Bayu tertegun. Peluh dingin mengalir di pelipisnya. “Apa maksud Bapak?” Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan. “Siapa kamu sebenarnya?” Bayu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bara tahu? Tidak… tidak mungkin. “Saya Bayu, Pak,” jawabnya dengan suara bergetar. Bara tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Benarkah?” Ia menatap Bayu lekat-lekat, lalu berbisik, “Atau kamu… Liyana?” Dunia seakan berhenti berputar. Bayu terpaku di tempat, darahnya berdesir dingin. Mata Bara menatapnya tajam, menunggu reaksi. Bayu mencoba menyangkal, tapi bibirnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika Bara benar-benar tahu, maka segalanya sudah berakhir. “Bapak… kenapa bicara seperti itu?” suaranya terdengar serak. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu dalam diam, seolah menunggu lawannya membuat kesalahan. Detik demi detik berlalu, terasa
Malam itu, Bayu hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang diselimuti embun. Pikiran tentang tes DNA yang akan keluar besok membuatnya gelisah. Ancaman dari pria misterius di gudang menambah beban yang menghimpit dadanya.Aku harus melindungi Bara. Bagaimanapun caranya.Bayu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Ryven. Namun, jari-jarinya berhenti di atas layar. Tidak… Ryven tidak boleh terlibat. Ini urusannya sendiri. Ia menutup layar ponsel, lalu beranjak keluar kamar.Rumah terasa begitu sunyi di tengah malam. Bayu berjalan pelan menuju ruang kerja Bara. Pintu kayu itu sedikit terbuka, dan ia mendorongnya perlahan. Cahaya temaram dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, tapi hawa tegang di hatinya tidak berkurang.Matanya langsung tertuju pada laci di sudut meja — tempat Bara menyimpan dokumen-dokumen penting. Bayu menelan ludah, lalu berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Koson
Bayu berdiri mematung di tengah jalan, napasnya masih tersengal setelah adegan menegangkan barusan. Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi pikirannya jauh lebih berkecamuk dibandingkan udara yang menusuk kulitnya. Bara mungkin sudah pergi, tapi bahaya belum benar-benar lenyap.Ia melirik ponsel di saku jaketnya, tangan gemetar saat meraihnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal — nomor yang sebelumnya mengancamnya.“Kau membuat gerakan yang berani. Tapi ingat, satu langkah salah, semua berakhir.”Bayu meremas ponselnya, rahangnya mengeras. Siapa pun orang ini, dia mengawasi. Dan itu berarti waktu Bayu semakin menipis.Ia menyalakan motor lagi, melaju kencang kembali ke rumah Bara. Jantungnya terus berdetak tak menentu, pikirannya berkelindan antara rahasia yang ia sembunyikan dan ancaman yang kini mengintainya.Saat tiba di rumah, suasana sudah sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda Bara di mana
Bayu duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Udara malam terasa begitu berat, seakan menindih dadanya. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu, ancaman Gustur, serta permintaan pria misterius tadi.Ia meremas ujung selimut. Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau pria itu sebenarnya anak buah Gustur?Bayu menggeleng pelan. Tidak. Kalau pria itu benar-benar bekerja untuk Gustur, ia tak mungkin memberikan foto-foto itu. Tapi…Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bayu tersentak, buru-buru menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan napasnya.“Masuk,” ujarnya.Pintu terbuka perlahan, dan Bara masuk dengan ekspresi serius. “Kau belum tidur?”Bayu menggeleng. “Belum ngantuk, Pak.”Bara menatapnya lekat. “Aku juga nggak bisa tidur.” Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat jendela. “Bayu… ada yang ingin kutanyakan padamu.”Jantung Bayu berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap