๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ
ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ
Suara tapak sepatu yang bersatu dengan lantai kasar itu terdengar dengan jelas, perlahan-lahan bergerak menjauh darinya. Benar. Kenapa Kaline tidak memikirkan ini sebelumnya? Bagaimana jika Pangeran dari Voalire menolak untuk berbicara padanya? Pertanyaan sederhana yang belum mendapatkan jawaban itu membawanya ke dalam kegagalan.
โTapi aku adalah tuan rumah di sini, Pangeran.โ Kaline berbalik, membuat pintu ganda yang hendak tertutup sempurna itu terhenti pergerakannya.
Gadis itu telah berusaha keras untuk menginjakkan kakinya di sini. Ia tidak akan menyerah semudah itu. โBukankah kau seharusnya memberikan sedikit rasa hormat jika kau memang belajar tata krama?โ
Pangeran Cliftone melipat kedua tangannya di atas dada, seakan-akan menantang Putri yang berdiri dengan percaya diri, menatap langsung manik abu-abunya yang tak terlihat dengan jelasโberlawanan dengan miliknya yang selalu menyala saat gelap. โSelain tata krama, aku juga belajar tentang simbiosis mutualisme, Putri. Tentu tidak adil jika hanya satu pihak yang diuntungkan. Aku menginginkan milikku juga.โ
Mata menyalanya menatap Kaline dari ujung ke ujung lalu mendengus geli. โBerbicara tentang tata krama, kau pasti tahu jika seorang wanita yang menghampiri pria seorang diri tanpa ikatan apapun itu melanggar tata krama, Putri.โ
Suara dentuman pintu yang tertutup dengan rapat menjadi akhir perbincangan keduanya.
***
โDasar vampir sialan!โ teriak Kaline frustasi. Ia berada di dunia yang jauh berbeda sekarang. Persetan dengan image sempurnanya, ia bisa membuat image baru untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan hal lain.
Terdengar derap langkah seseorang yang tampak terburu-buru. โPutri, apa sesuatu buruk terjadi? Kenapa ruangan ini tampak sangat berantakan?โ tanya Narin terkejut.
Meski mentari sudah bersinar terang hari ini, rasa kesalnya mengingat kejadian memalukan semalam sama sekali tidak berkurang, membuat Kaline tersulut emosi dan melampiaskannya dengan melempar semua barang yang ada di hadapannya.
โVampir sialan itu, apa mereka selalu kurang ajar seperti ini?โ tanya Kaline berapi-api.
โAh ....โ Narin menganggukkan kepalanya. Sesuatu yang buruk pasti terjadi semalam. โApa Pangeran dari Voalire membantu Anda?โ
โMembantu apanya!โ kesal Kaline. โIa membuat harga diriku jatuh. Apa orang gila itu lupa kalau aku adalah penerus tahta kerajaan ini?โ
Narin berjongkok, memungut satu persatu mutiara yang berserakan di atas lantai. โSudah saya beritahu sebelumnya, vampir memang yang terburuk di antara yang lainnya, Putri. Sebaiknya Anda tidak berurusan lagi dengan mereka.โ
Tidak, itu tidak mungkin. Kaline tahu pasti jika vampir itu ada hubungannya dengan semua ini. Dia pasti tahu sesuatu atau setidaknya dia bernasib sama dengan Kaline. Jika memang begitu, Kaline bisa mendapatkan sekutu untuk mencari jalan keluar dari dunia aneh ini.
โAh! Kenapa tidak Theo saja yang ada di sini. Jika begitu, semuanya akan jauh lebih mudah,โ gerutu gadis itu.
***
โBukankah terlalu cepat untuk pulang sekarang, Raja Varine? Aku dengan kau sahabat lama Yang Mulia,โ ucap Polinโpenasehat pribadi kerajaan. Ia menatap kereta-kereta yang membawa rombongan Kerajaan Elavrine perlahan meninggalkan area istana.
Raja Varine tertawa renyah. โJika aku tinggal lebih lama, sepertinya kau harus bekerja ekstra, Polin. Rajamu memiliki temperamen yang buruk, bukan?โ Mata Raja Varine tampak bersemangat, berusaha membuat Polin berbicara lebih banyak tentang โsahabatโ lamanya.
Polin tersenyum canggung, membenarkan posisi kacamata bulatnya. Ia menghabiskan setengah dari kehidupannya bekerja di samping Raja El secara langsung. Berbicara hal buruk di belakangnya adalah cara lain untuk mati dengan cepat. โBagiku, Yang Mulia merupakan contoh yang sempurna bagi Eargard.โ
Raja Kerajaan Elavrine itu menatap Polin dengan bangga. โPolin, kerajaanku amat membutuhkan orang yang bersedia menutup mata dengan segala aib kerajaan sepertimu.โ
seorang ksatria yang mengenakan baju zirah dengan emblem serigala milik Kerajaan Elavrine menghampiri mereka, membuat percakapan itu terputus seketika. Ksatria itu menunduk, โYang Mulia, keretanya sudah siap.โ
โSayang sekali, Polin. Sepertinya ini akan menjadi akhir dari percakapan kita. Aku harap aku masih bisa melihatmu saat sayembara tiba,โ ucap Raja Valine
Polin menunduk hormat. โSenang akhirnya bisa bertemu denganmu, Raja Varine X.โ
Setelah memastikan rombongan Kerajaan Elavrine meninggalkan gerbang istana, pria tua itu kembali berjalan bersama tongkatnya menuju tumpukan kereta berwarna emas menyala. Tidak ada kuda yang menarik kereta itu, namun cahaya mistis berwarna emas yang terlihat seperti percikan api secara ajaib membuat kereta tersebut berjalan dengan sendirinya.
โSudah akan pergi, Albert?โ Polin menjabat tangan Albretโpenasehat dari Kerajaan Lyvorra. Tidak seperti Raja Varine X yang selalu menyampaikan sakrasmenya lewat lelucon yang payah, pria seusianya ini teramat bijak dan tenang. Dia memang dilahirkan untuk menjadi penasehat.
โSayang sekali saya tidak bisa berlama-lama di negeri indah ini, Polin.โ Sorot teduhnya menenangkan Polin yang selalu gelisah. Pria itu dari Klan Helbart, yang berarti dia bisa menenangkan segalanya hanya dengan bersentuhan secara langsung.
โAku harap kau akan hadir di peresmian sayembara nanti, Albert.โ
Albert mengangguk. โAkan saya usahakan, Polin.โ
Rombongan dari Lyvora telah pergi. Polin hanya perlu bersalaman dengan satu orang lagi, Pangeran Sirius Cliftone Alorine dari Kerajaan Voalire. Hampir semua orang membenci bangsa vampir, termasuk Polin. Sikap mereka yang selalu seenaknya dan angkuh itu benar-benar memuakkan. Sepertinya karena mereka terlalu lama hidup, mereka lupa tentang tata krama dasar.
โSudah akan pergi, Pangeran?โ tanya Polin tatkala Pangeran Cliftone bersama jubah yang menutupi seluruh tubuhnya itu hendak melangkah keluar dari bangunan utama istana.
โApa ada hal lain yang menahanku disini?โ tanyanya balik tanpa minat.
โTidak ada selain ucapan selamat tinggal, Pangeran,โ jawab Polin tenang.
โSayangnya kami tidak melakukan itu, Tuan Polin.โ
Polin menghela napasnya samar. Dari semua makhluk yang pernah ia temui, vampir-lah yang paling menyebalkan. โTapi kami melakukannya. Kau adalah tamu kami, Pangeran. Bersikaplah seperti tamu.โ
Suara tawa yang terdengar amat dingin itu keluar dari mulut Pangeran Cliftone. โAh ... aku lupa sedang menginjak tanah makhluk fana,โ sahutnya sakras. โKalau begitu, sampai jumpa lagi, Tuan Polin. Aku akan kembali dalam beberapa bulan.โ
โSampai jumpa lagi, Pangeran.โ
***
Derap langkah Kaline yang tampak amat tergesa itu bergema di sepanjang lorong. Gadis itu tak mempedulikan para pelayan yang silih berganti menundukkan badan mereka saat berpapasan dengannya.
Kaline melihat dengan jelas, seorang yang mengenakan jubah hitam itu meninggalkan area istana. Sebelum itu, ia juga melihat rombongan Kerajaan Lyvora dan Elavrine meninggalkan istana. Kaline amat yakin jika seseorang yang mengenakan jubah hitam itu adalah Pangeran Clifton.
Bagaimana bisa dia meninggalkan istana begitu saja? Harga diri Kaline sebagai seorang putri benar-benar ternodai oleh vampir menyebalkan itu.
โPolin! Kau benar Polin, bukan?โ seru Kaline saat ia melihat seorang pria tua berkacamata tebal berjalan dengan tongkatnya. Dari ciri-ciri yang Narin sebutkan sebelumnya, Kaline yakin pria itu adalah Polin, penasehat pribadi kerajaan.
Pria tua itu menunduk. โBenar, Putri. Apa ada yang bisa saya bantu?โ
โApa kau melihat Pangeran Cliftone? Aku harus berbicara dengannya,โ tanya Kaline bersemangat.
Polin membenarkan letak kacamatanya. โSayang sekali, Putri. Pangeran Cliftone telah meninggalkan istana.โ
โAh!โ Kaline mengacak-acak rambutnya frustasi. Terlalu lama jika menunggu sampai sayembara dimulai untuk menemuinya. Bagaimana bisa Kaline tidur dengan nyenyak di dunia penuh misteri ini?
โNamun jika memang penting, Anda bisa mengirim surat. Saya dengan senang hati akan meminjamkan elang saya agar cepat sampai ke tangan Pangeran Cliftone,โ tawar Polin.
Benar, Kaline bisa menghubungi vampir itu surat. Meski kemungkinan besar tidak akan dibalas, yang penting ia telah berusaha. โAku ingin meminjam elang mu.โ
ยปโโโโโโโโโโโ
๐ ๐ช๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐๐ฃ๐จ๐ฉ๐๐๐ง๐๐ข @๐๐ช๐จ๐ ๐ค๐๐๐ฎ๐ ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐ข๐๐ก๐๐๐๐ฉ ๐๐๐ฉ๐๐๐ก ๐๐๐ง๐๐ฉ๐
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใKastil luas itu tampak amat suram. Tidak sedikitpun cahaya fajar dapat masuk melewati gorden-gorden tebal yang terpasang di setiap jendela. Seorang pria dengan jubah hitam yang tak pernah lepas dari tubuh jakungnya itu berdiri tegak menatap betapa kosongnya kastil itu. Udara dingin melilit kulit pucat yang tak pernah mengusik ketenangan pria itu.“Sudah pulang, Pangeran?”Pangeran Cliftone berbalik, mendapati seorang pria jakung akhir 40-an itu menatapnya dengan manik merah menyala. Sudah lebih dari satu dekade Cliftone mengenal pemimpin Voalire itu, namun tak sedikitpun dari wajahnya berubah menua.Pangeran Cliftone menunduk. “Baru saja, Yang Mulia.”
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใTepat dua hari sebelum pertemuannya dengan Pangeran Cliftone, Kaline masih belum menemukan cara bagaimana ia bisa tiba di Danau Sane tepat waktu. Meski ia sadar maksud Pangeran dari Voalire itu membalas surat hanya untuk mempermainkan Kaline, tapi itu tetap kesempatan emas. Bagaimanapun, ia harus tetap hadir meski melukai harga dirinya sekalipun.“Apa kau sungguh yakin cara ini tidak akan berhasil?” tanya Kaline untuk kesekian kalinya.Narin menghela napasnya. Sudah berjam-jam mereka berdebat soal ini. “Anda adalah seorang penerus tahta Kerajaan Eargard, Putri. Tentu tidak mudah menghilang begitu saja meski hanya dalam satu jam,” jelas Narin dengan sabar.Sejujurnya, ia merasa kas
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ Kaline menatap Pangeran Cliftone tajam. Ia tak peduli manik merah menyala milik lawannya itu membalas tak kalah tajam. Setelah pertemuan mereka, Pangeran Cliftone langsung membawa Kaline menuju gubuk kecil yang tampak tua. โBeraninya kau membangun tempat persembunyian di wilayahku,โ ucap Kaline penuh penekanan. Bagaimana bisa gubuk ini lolos dari pengawasan para penjaga perbatasan? Jika terus dibiarkan, vampir ini bisa saja masuk ke istana tanpa ketahuan. Pangeran Cliftone tersenyum sinis, tampak sama sekali tak merasa bersalah atas tindakannya. โAndai kau tahu hal kotor yang orang kalian lakukan di wilayahku, Putri. Kau harus berkunjung ke penjara Voalire lain kali.โ Kaline terdiam. Ia telah mende
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ Rumor hubungan spesial antara Putri Kaline dan Pangeran Cliftone menyebar dengan cepat. Seluruh penjuru negeri sudah mengetahui rumor tersebut hanya dalam satu malam. Banyak rakyat yang tidak setuju dan meminta penjelasan dari pihak kerajaan. Beberapa bahkan setia menunggu di depan istana sedari malam. โJawab aku, Putri. Apa kau benar berhubungan dengan Pangeran Cliftone?โ tanya Raja El sekali lagi dengan suara datar yang terdengar amat dalam. Kaline menundukkan kepalanya gelisah. Ruangan raja yang dikelilingi dengan rak buku itu tak ia sangka dapat menjadi amat menakutkan. Ratu Faline yang berdiri di samping kursi raja itu mengelus pundak suaminya perlahan, berusaha membuatnya tenang. โKau tahu ap
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ Udara dingin yang menusuk kulit tak mengurangi antusiasme rakyat dari empat kerajaan besar terutama Eargard. Lampion serta obor di jalan dinyalakan dengan terang, menghiasi jalanan Eargard yang sudah mulai gelap. Gerbang istana yang biasanya ditutup dengan rapat kini terbuka dengan lebar, mempersilakan semua kalangan masuk tanpa memandang kasta. Para bangsawan dengan kereta kuda serta setelan yang tampak anggun membentuk kelompok-kelompok kecil berdasarkan kasta sosial. Berbincang-bincang sekaligus mencari celah untuk merendahkan satu sama lain. Beberapa dari mereka turut memperhatikan rakyat biasa yang tampak histeris melihat keindahan bangunan istana dengan tatapan risih. โAku tak percaya pihak istana turut mengundang rakyat bawahan itu,โ bisik salah satuny
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ Beberapa jam sebelumnya .... Aula utama istana terasa amat sesak. Ratusan bangasawan dengan gaun-gaun mengembang menari bersama mengikuti irama lagu yang dibawakan sekelompok musikan ternama di atas panggung kecil. Para pelayan sibuk mondar-mandir membawa gelas-gelas anggur yang sudah habis. Sebagian lain yang sudah terlalu mabuk untuk menari memilih berbincang ringan membentuk kelompok-kelompok kecil. Kaline yang masih terjebak di atas balkon itu terus menatap balkon yang ada di seberangnya. Wajah familiar yang fokus memperhatikan tamu undangan yang menari itu tak sekalipun menoleh pada gadis itu. Membuat manik abu-abunya terlihat suram. โKau menyukai vampir itu, bukan?โ Ratu Faline yang duduk di sampingnya tiba-tiba b
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ โPutri ....โ Sudah satu jam terakhir Kaline terus menangis sembari menatap ke luar jendela yang gelap tanpa cahaya selain bintang dan bulan yang bersinar tak terlalu terang. Narin hanya bisa memandangi Kaline yang sudah ia dampingi saat ia menginjak usia 18 tahun itu dengan nanar. Seingatnya, Kaline hanya pernah menangis dua kali. Pertama saat ia terjatuh dari kuda lima tahun yang lalu, dan sekarang yang entah disebabkan karena apa. โApa Pangeran dari Elavrine menyampaikan sesuatu yang buruk pada Anda, Putri?โ Narin kembali menebak dengan suara rendah. Ia sempat mendengar desas-desus dari pelayan yang mengurus pesta dari malam jika Putri Kaline dan Pangeran dari Elavrine terlihat sangat akrab. Bahkan mereka sempat berdansa bersama.
๐ณ๐๐๐บ๐พ๐ต๐ด๐๐ด ๐ฟ๐๐ด๐๐ด๐ฝ๐๐ธ๐ฝ๐ถ ใ๏ผก๏ผฆ๏ผด๏ผฅ๏ผฒ๏ผฆ๏ผก๏ผฌ๏ผฌใ Hari pertama sayembara telah dimulai. 4 buah kereta kuda dengan corak emas dengan bendera yang berbeda warna di depannya sebagai penanda setiap kerajaan telah tersusun rapi di depan pintu utama istana. Para prajurit dari setiap kerajaan telah bersiap mengelilingi setiap kereta dengan kuda gagah mereka. Burung-burung yang berkicau setiap pagi hari masih terdengar, namun ketiga pangeran dan seorang putri telah duduk dengan manis di dalam kereta masing-masing. Kaline memperhatikan kereta dari Kerajaan Lyvora yang berada tepat di samping miliknya. Kereta itu paling unik karena tidak ada kuda yang mendorongnya, melainkan kilauan emas yang terlihat seperti percikan api yang membuatnya dapat melayang meski tanpa roda dan berjalan tanpa bantuan k
Setahun setelah musim dingin yang menegangkan. Saat malam gelap lagi-lagi menurunkan hujan gumpalan es pertama yang kali ini disambut dengan penuh kegembiraan.Setahun setelah musim dingin yang menegangkan. Sebuah penikahan akan dilaksanakan.“Cal, apa kau baik-baik saja?” tanya Kaline khawatir, menatap Pangeran Cliftone yang berdiri di sebelahnya sebagai seseorang yang beberapa detik lagi akan dinikahi.“Kau tahu aku telah-”“Aku telah memaafkanmu,” potong Kaline, kembali mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Pangeran Cliftone yang sempat melonggar.“Kau bisa membatalkannya sebelum acaranya dimulai,” ucap Pangeran Cliftone untuk yang kesekian kalinya.Lagi-lagi, Kaline menggeleng dengan tegas. “Tidak akan ada yang dibatalkan, Cal. Aku akan menikahimu.”Pangeran Cliftone membuang napasnya dengan kasar. Ada perasaan campur aduk yang sedari tadi hinggap di dalam dir
Kaline membelalak. Tepat sebelum panah yang dilepaskan Zed mengenai tubuh Pangeran Antheo, peri-peri bersayap merah beterbangan secara acak, membakar panah itu hingga tak bersisa.“Sial!” Pangean Rex menggerutu kesal. Maniknya yang kecoklatan seperti madu berubah menjadi kuning terang. Gigi-giginya yang tajam tiba-tiba saja muncul.Gawat. Pangeran Rex akan berubah menjadi serigala.“Pangeran, awas!” seru Kaline, berusaha mengalihkan perhatian Pangeran Antheo yang fokus memerintah para peri itu sehingga tak menyadari Pangeran Rex dengan tubuh serigala yang beringas berdiri tepat di belakangnya.Satu ayunan penuh amarah keluar, seakan mengajak Pangeran Antheo berduet dengannya yang langsung diterima Pangeran Antheo tanpa keberatan.Sementara Kaline yang masih terikat di pohon berseru panik. Ingin sekali ia curi pisau kecil yang terselip di antara celana Zed, namun mustahil karena kini, kuku-kukunya sudah berubah menjadi panjan
Kedua tangan itu menggenggam setir mobil dengan kuat. Nyeri di ulu hatinya sama sekali tak mereda. Meski begitu, tidak akan ada satupun air mata yang membasahi pipinya. Waktunya sudah habis. Gadis yang dicintainya akan bertunangan dengan seseorang. Seseorang yang jauh lebih baik darinya. Seseorang yang bisa menyampaikan perasaannya. Bukan dengan seorang pengecut seperti dirinya yang seumur hidup hanya berani melihatnya dari jauh. Kaline, seorang perempuan yang tinggal di depan rumahnya. Mereka tumbuh bersama. Cal melihat semuanya. Bagaimana lucunya gadis itu saat balita hingga kini tumbuh menjadi seorang perempuan jelita. Selama itu, ia tak melakukan apapun. Bahkan tidak sekalipun ia pernah menyapanya. Cal adalah seorang pengecut. Dulu maupun sekarang. Dalam kecepatan mobil yang tinggi dan terus berjalan, pandangannya terkunci pada sebuah restoran tiga lantai. Disanalah, harapannya akan benar-benar berakhir, kala seorang pria menyematkan cincin indah
Napas Kaline teramat sesak. Dalam kondisi terikat pada pohon besar seperti sekarang, Kaline nyaris tidak dapat melakukan apapun jika saja mulutnya ikut tertutup.“Apa yang kau lakukan?” tanya Kaline penuh amarah saat Pangeran Rex mendekat dengan senyuman memuakkan.Bagaimana bisa pria itu tersenyum setelah hal gila yang ia lakukan?“Ssstt … tidak perlu marah, Putri. Aku hanya ingin membuat namamu abadi. Setelah ini, aku yakin tidak akan ada yang berani melupakanmu,” ucapnya dengan penuh kebanggaan sambil menumpahkan sebotol minyak berbau menyengat tepat di bawah kaki Kaline.Dari ujung mata gadis itu, dapat ditangkap pergerakan Pangeran Antheo dan Cliftone yang mengendap-endap menuju tempat yang saling berlawanan. Langkah Pangeran Antheo perlahan mendekati seorang penyihir tua yang sedang fokus bertapa, sedangkan langkah Pangeran Cliftone menjauhinya.Rencana mereka harus berhasil.“Kau akan menyesali per
“Aku bersumpah aku tidak tahu apapun tentang ini!” seru Pangeran Antheo dengan frustasi.Ini sudah lebih dari dua puluh kali Kaline dan Pangeran Cliftone menanyakan hal yang sama, terus membuat posisinya semakin terpojok.Pangeran Antheo mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak tahu apapun soal ini. Bahkan hingga saat ini, dirinya masih bertanya-tanya bagaimana bisa peri-peri itu berada di luar kendalinya.“Kau sendiri yang mengatakan bahwa hanya dirimu yang bisa mengendalikan peri-peri itu, Pangeran. Jangan berbohong.” Kaline terus mendesaknya. Meski Pangeran Antheo tidak bisa melihat apapun sekarang, ia yakin kini Kaline sedang memandangnya dengan tajam.“Demi negeriku, Putri. Aku tidak tahu apapun soal ini. Peri-peri itu, aku tidak tahu apapun!” seru Pangeran Antheo sambil menjambak rambutnya untuk mengalihkan rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.“Sudahlah, Putri. Kau tahu dia bukan pelak
Lenguhan ringan beberapa kali keluar dari mulut Kaline. Kepalanya terasa seperti baru saja ditimpa oleh sesuatu yang berat dan memang benar adanya, di dahi gadis itu sekarang, sudah ada benjolan sebesar setengah bola pingpong. Bau busuk asap pertama kali masuk ke dalam indera penciumannya saat gadis itu terbangun. Kedua tangan dan kakinya terikat dengan kencang, membuat gadis itu harus bersusah payah untuk menyandarkan tubuhnya pada dinding di tepi ruangan kecil ini. โAh โฆ akhirnya ada yang terbangun juga.โ Suara ringan itu membuat Kaline kembali was-was. Di dalam kegelapan seperti ini, ia tidak bisa melihat apapun kecuali โฆ dua sinar kecil berwarna merah di ujung ruangan. โCal, apa itu kau?โ tanya Kaline dengan hati-hati. โYa โฆ syukur kau masih mengingatku. Aku pikir kau akan hilang ingatan setelah dipuku oleh bata, Putri,โ jawab pria itu dengan candaan yang sama sekali tidak lucu. Kaline memilih untuk tidak lagi menimpali ucapan pria
Kantung mata yang mulai menghitam itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Pangeran Antheo. Sudah seminggu lebih ia hanya tidur selama 2 jam. Malam panjang yang seharusnya digunakan untuk istirahat ia habiskan bersama lima ekor peri nakal yang kini sudah kembali terkurung didalam sangkarnya.Kini, saat samar-samar fajar telah terlihat, Pangeran Antheo akan kembali ke Istana Eargard dengan wajah lelah.Ada jeda waktu lima hari tersisa sebelum sayembara akan kembali dimulai. Lima hari yang harus dimanfaatkannya sebaik mungkin untuk membuat monster-monster kecil di dalam sarang itu patuh padanya. Setelah ia berhasil mengendalikan 5 peri penghancur ini, ia akan kembali mengirimkannya ke penjara bawah laut.Langkah jenjang pria itu perlahan-lahan melambat kala mendengar sesuatu yang mencurigakan.Jelas sekali tadi terdengar beberapa langkah kecil di belakangnya. Meski pendengaran Pangeran Antheo tak begitu tajam, bahkan saat ia sengaja berjalan denga
Sinar bulan purnama malam ini tampak amat terang, seakan-akan cahayanya mampu menerangi 4 orang yang kini sedang bersembunyi diantara semak belukar, membiarkan tubuh mereka menjadi santapan empuk nyamuk yang kelaparan.Kaline terus berdoa dalam hati, harap-harp Narin tidak memasuki kamarnya malam ini agar tidak ada yang tahu bahwa Putri Mahkota Eargard diam-diam menyusup pergi menguntit Pangeran Antheo.Tentu saja, jika aktivitasnya bersama 3 pria ini ketahuan dan beritanya menyebar, merekaa terpaks mendekam di istana selama berbulan-bulan untuk menghindari hujatan masyarakat. Menguntit adalah tindakan yang berbelok dari tata krama. Siapapun bangsawan yang menyalahi tata krama akan dianggap tidak memiliki adab dan dikucilkan oleh masyarakat dan tentu saja itu tak boleh terjadi mengingat posisi Kaline sebagai Putri Mahkota yang seharusnya dihormati.
malam sebelumnya Tatapan penuh permusuhan itu tampak dengan amat jelas di antara kedua tanganya. Meja bundar sebagai penengah itu agaknya terlampau kecil untuk menghalau aura menegangkan diantara keduanya. Tidak, di meja itu tidak hanya ada mereka berdua. Seorang wanita tua dengan punggung yang sudah membungkuk ada di antara keduanya dengan senyuman licik yang tak kunjung pudar. Selain itu, Zed juga dengan setia berdiri di belakang Pangeran Rex. โJadi, seberapa jauh yang kau tahu?โ tanya Pangeran Rex dengan dingin, membuka suara untuk pertama kalinya. Mata menyala yang terus berkilat itu tak gentar membalas tatapan tajam dari manik bak madu milik Pangeran Rex. Jika saja ia bukan seorang vampir, sudah pasti ia akan meminum teh hangat di hadapannya untuk mengulur waktu, bermaksud membuat Pangeran Rex tersulut emosi. โAku tidak bisa mengukur jika tidak tahu batasan ukurannya, Pangeran. Jika kau menginginkan jawabannya, kau harus memberitahuku sej