"Lin, tapi–" "Dengerin aku dulu! Tante Maya melumuri patung tersebut dengan darah segar dari ayam hitam tadi. Parahnya lagi ada potongan tubuh manusia yang dia ambil dari kotak. Potongan tubuh itu tuh ada dua jari tangan telunjuk manusia." Rossa makin bergidik ngeri mendengarkan Alina. "Pokoknya Tante Maya tuh kayak dukun atau nenek sihir menurutku," ucap Alina."Ah, gila! Masa iya tante kamu sendiri kayak gitu?" tanya Rossa dengan nada tak percaya."Ya, emang sih aku baru menduga-duga aja, tapi ritual yang dia lakukan 'kan serem," ucap Alina."Iya sih, jadi curiga gitu," ucap Rossa.Seorang pria yang mengenakan kemeja biru dan celana kulot hitam datang dan duduk di samping Alina. Tiba-tiba, ponsel seorang pria yang duduk di sampingnya berdering. Alina langsung menoleh dengan wajah ketakutan. Ia meraih ponsel tersebut secara tiba-tiba, lalu bangkit berdiri. Gadis itu lantas melempar benda milik pria yang tidak ia kena
Sore itu, Indra berada di sebuah hotel di pinggir pantai. Ia sedang mengunjungi sebuah pertemuan antar dokter ahli jiwa dalam menangani pasien yang trauma selama tiga hari. Pria itu sedang memandangi pemandangan laut yang terhampar biru dari jendela seraya menyeruput kopi hangat dalam cangkir di tangannya.Suara knop pintu yang tertarik mengejutkan Indra. Seorang pria rekan kerja Indra bernama Anto datang mengetuk kamar hotel Indra di lantai lima dalam hotel bintang empat itu. Indra meletakkan kopi di meja dan membuka pintu kamarnya. "Kenapa, Nto, tumben banget ke sini?"Gila bro, pemandangan di sini sadis, keren banget..." Anto terpana memasuki hotel kamar Indra."Hmm… terus kamu mau apa?" tanya Indra."Nanti malam setelah seminar, ikut aku ke Club House dekat sini, mau nggak?" "Kalau aku bilang nggak mau, nanti kamu tetap paksa aku, kan?" "Nah, itu tau. Oke, kalau begitu aku pesen tempat dulu soalnya si Andre juga mau ikut," ucap Anto seraya ke luar dari ruangan tersebut.Malam
"Eh, jangan bawa-bawa setan, nanti —" Alina menoleh ke samping tirai tadi. Sosok hantu perempuan itu sudah menghilang. Lalu, gadis itu mengingat kembali kejadian yang dia alami sampai membuatnya terluka seperti itu."Apa aku mimpi, ya?" tanya Alina pada diri sendiri."Mimpi apa? Maksud kamu apa, sih?" Rossa melepas pelukan Alina dan menatap sahabatnya itu dengan lekat."Aku tuh mimpi kecelakaan di dalam bus sama kamu, pulang sekolah kemarin, terus pas aku bangun kita masih ada dalam bus, terus kamu dorong aku ke luar sambil ketawa serem banget, hiiiy...!" Alina masih bergidik ngeri membayangkan peristiwa kemarin. "Yeee... itu mah mimpi barusan kali. Nih ya, yang aku tau, kamu tuh ninggalin aku pas pulang sekolah. Kamu naik bus sendirian, terus aku kejar sambil teriak tapi nggak dengar," ucap Rossa seraya duduk di kursi samping ranjang Alina."Masa, sih?" Alina sampai menatap tak percaya."Iya beneran, dan parahnya bus yang kamu naikin itu terjun bebas dari jembatan layang, dan men
Sesampainya di rumah sakit, Rossa dan Indra memberikan kejutan pada Alina. Pria itu membawakan boneka panda besar sementara Rossa membawa bunga tulip kuning."Kak, kenapa bunga tulip kuning, sih?" tanya Rossa."Memangnya kenapa, Sa, ada yang salah dengan bunga tulip kuning?" "Ini kan artinya lambang persahabatan, bukannya Kak Indra suka ya sama Alina?" "Ya… mungkin Alina belum siap untuk hubungan yang serius, jadi biarkan hubunganku dan Alina hanya sebatas sahabat, aku ikhlas kok.""Ya ampun… so sweet banget sih, Kak." "Sudahlah, ayo masuk jemput Alina!" Keduanya lalu menghampiri Alina di kamarnya. Tante Maya ternyata sudah ada di sana menjemput gadis itu. Ketika Indra menatap wajah wanita itu, ia jadi teringat peristiwa di kafe saat itu. Namun, bukan saatnya ia menceritakan hal yang ia tahu tentang Tante Maya. Bahkan ia juga curiga tentang keterlibatan wanita itu pada pembantaian seluruh keluarga Alina.
Alina menelisik ke arah Indra, ia lalu menanyakan bagaimana pria itu tau kalau dirinya sedang berada di rumah sakit."Kamu tau darimana aku di sini?" tanya Alina."Rossa yang kasih tau aku, terus dia bilang kamu kecelakaan jatuh dari dalam bus, dan berita kecelakaan itu sampai viral kemarin beritanya." Indra merebahkan bokongnya duduk di kursi samping ranjang Alina."Oh, sampai viral? Memangnya iya, Sa?" tanya Alina menoleh pada Rossa."Iya, Lin, tapi tenang saja, sama pihak kepolisian satu-satunya penumpang yang masih selamat yaitu kamu, disembunyikan identitasnya atas permintaan tante kamu. Biar kamu nggak dikejar-kejar wartawan juga." Rossa tersenyum pada Alina seraya mengunyah jeruk sunkist di tangannya."Kamu masih ingat kecelakaan bus itu, Lin?" tanya Indra. Wajahnya terlihat sangat amat ingin tahu."Nggak tau, aku juga bingung, pikiran aku ngaco. Setau yang aku ingat, aku lihat sopir bis itu dibunuh sam
"Bukan gitu, Bang, maksud aku—" "Tuh, bergaul sama Alina ditambah punya adek kayak kamu dan keponakan kayak Rania bikin aku jadi percaya hal mistis seperti ini kan padahal aku anti banget buat percaya sama hal gaib. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi, nggak ada salahnya juga nih, hmm... patut dicoba. Ayo, ikut aku ke dalam!" Indra menarik lengan Haris menuju ke dalam kamar perawatan Alina. Adiknya itu tak kuasa menahan tarikan dari sang kakak, padahal ia sama sekali tak ingin melihat teman sekelasnya itu. Akhirnya kedua matanya beradu dengan mata gadis itu."Lin, kenalin ini adek aku, katanya temen sekelas kamu, ya?" tanya Indra."Iya sih, aku inget dia anak baru itu. Rossa juga bilang kalau dia adik kamu, nama kamu Haris, kan?" tanya Alina.Gadis itu menunjuk anak muda yang berdiri di samping Indra. Wajah keduanya memang mirip hanya saja pemuda yang bernama Haris mempunyai lesung pipi dan tubuh lebih tinggi. Model rambut serta gaya berpak
"Maaf banget aku nggak sengaja," ucap Alina.Haris hanya terdiam dan buru-buru menghindar, tetapi Alina menangkap tangan pemuda itu."Apa sih yang salah sama aku, kenapa kamu menghindari aku?" Alina terus saja menegaskan pertanyaannya."Lepas, lepaskan saya!" pinta Haris."Tapi jawab dulu pertanyaan saya, kenapa kamu menghindari saya?""Lepas! Atau kamu akan menyesal jika mendengar yang saya lihat tentang kamu!" Harus berhasil menepis tangan Alina lalu pergi meninggalkan gadis itu."Aku menyesal? Memangnya apa yang dia lihat tentang aku?" Alina melangkah gontai menuju mobil Tante Maya dengan pikiran yang masih berkecamuk memikirkan perkataan Haris.***Sore itu di beranda rumah Alina, ia duduk di teras rumah seraya membolak-balikan halaman demi halaman majalah mode di tangannya. Pikirannya kembali berkecamuk saat teringat dengan kejadian dirinya dan Haris."Kenapa Haris ngomong seperti itu, ya?" gumam A
"Siapa yang akan datang menakuti dan membunuh kita, Non?" "Pembunuh Papa, Mama, adik-adik aku, dia akan datang kala mendengar dering ponsel. Dia akan datang membunuh kita, Mbok… ayo, kita pergi!" Alina sudah bercucuran air mata penuh ketakutan. Gadis itu lantas terkejut saat melihat sosok berjubah hitam dengan tudung yang selalu menghantui gadis itu datang."Mbok… dia datang!" Alina menarik tangan Mbok Nah dan mengajaknya berlari ke luar rumah. Gadis itu melihat saat sosok misterius itu mengejarnya. Saat dalam pelarian, Alina terantuk batu sampai ia jatuh."Lari, Mbok! Lari…." pekik Alina.Namun, saat Mbok Nah masih kebingungan dengan teriakan Alina, wanita itu tertabrak sebuah truk yang mengangkut potongan besi. Wanita paruh baya itu sampai terpental lima puluh meter dan jatuh menghantam aspal. Darah segar mengalir bersamaan dengan lelehan isi otak yang keluar dari tempurung kepalanya yang pecah. Truk tersebut melar
Bab 140 AfraidTeriakan Nyi Asih nyaring terdengar, rupanya Rossa menusuk bola mata Nyi Asih dengan tusuk konde di tangannya."Rossa!" seketika Alina merasa dapat menggerakkan tubuhnya."Lari, Lin! Cepat lari!" pekik Rossa.Dengan mata berkaca-kaca, Alina masih enggan beranjak. Dia ingin lari bersama Rossa."Kita lari bareng!" ajak Alina."Aaaarrgghh, kalian kurang ajar! Aku akan habisi kalian berdua!" Nyi Asih mencabut tusuk konde di bola matanya. Wanita iblis itu lalu bergerak menghampiri Alina dan Rossa. Ia bersiap menghunuskan tusuk konde tersebut ke Alina. Tetapi Rossa menepisnya. Ia mengorbankan tangan kanannya dan tertusuk tusuk konde tersebut."Rossa!" teriak Alina seraya memegangi tangan Rossa.Darah mengucur dengan deras dari lukanya."Lari, Lin! Kamu harus lari! Selamatkan dirimu!" pinta Rossa."Nggak, aku nggak akan pergi tanpa kamu," lirih Alina.Nyi Asih semakin tertawa puas. Ia beranjak menghampiri dan kini hendak mencekik Alina. Tiba-tiba, sosok pria hadir dan mengha
Bab 139 Afraid"Makhluk jadi-jadian, Do," bisik Indra."Aku juga tahu kalau itu mah. Jelasnya itu makhluk apa? Mana badannya gak lengkap gitu," bisik Aldo ketakutan.Indra dan Aldo yang sama-sama ketakutan akhirnya memutuskan untuk berteriak. Beberapa warga yang mendengar langsung menoleh dan menghampiri. Mereka lantas mengejar Ningsih.Anto terlihat kebingungan. Dia masih tak menyangka kalau yang dia pikirkan selama ini benar. Ningsih adalah makhluk yang meneror warga kampung selama ini. Hatinya sangat kalut. Namun, dia begitu mencintai Ningsih.Tubuh Anto gemetar hebat. Lemas dan tiada berdaya. Namun, lagi-lagi Anto menyerah. Dia tak bisa memburu sang istri. Dia tak akan meninggalkan sang istri, dia tak bisa.Malam itu, Anto menjerit dalam hati. Dia memaksa diri untuk mengejar sang istri. Dia mau melindunginya. Meskipun dia masih tetap ngeri dan ketakutan. Akan tetapi, Anto tetep nekat berlari."Ningsih, ingin rasanya aku pergi malam ini. Aku ingin pergi jauh dari tempat ini. Sung
Bab 138 Afraid"Kita harus segera pergi dari sini, Lin. Tidakkah desa ini mengerikan jika ada kutukan seperti itu?" bisik Rossa pada Alina."Iya, kamu bener, Sa. Aku ingin segera pergi dari sini," sahut Alina."Tolong! Tolong! Tolong! Aaaaaaaaaa!" teriakan seorang wanita terdengar di kebun belakang dekat dengan arah Laras tadi berlari.Beberapa warga langsung datang mendekat. Mereka menemukan hal mengerikan lainnya. Rupanya, Laras yang tengah kerasukan baru saja menarik seorang wanita hamil dan membuatnya melahirkan. Laras merebut paksa bayinya lalu kabur."Apa yang terjadi dengan Laras?" pekik ibunya Laras."Dia pergi, Bu," jawab salah satu warga yang tengah membopong wanita korban yang baru saja kehilangan bayinya."Memangnya apa yang Laras lakukan?!" tanyanya lagi."Bu, dia bukan Laras yang kamu kenal. Dia sudah berubah seperti iblis," ujar kepala desa."Laras ditemukan, Pak Kades! Dekat sungai di sana. Katanya dia lagi makan ari-ari bayi dan menghisap darahnya," ucap salah satu w
Bab 137 AfraidTiba-tiba, saat pencarian tengah berlangsung tadi, terdengar bunyi gemerisik dari daun kering yang terinjak sesuatu. Cepat-cepat salah satu penduduk mengarahkan obor."Suara apa itu?" tanya Tarno."Babi, No!" sahut Andi."Biasa aja ngomong babinya jangan sengaja banget muncrat ke muka aku," sungut Tarno. Sontak saja Indra dan Aldo menahan tawa mereka. Rupanya memang ada seekor babi hutan yang merasa terganggu muncul di sekitar mereka. Dua babi hutan yang induk dan anak itu, melarikan diri karena merasa terancam akan kedatangan manusia."Ahh... hanya babi, biarkan ia pergi. Ayo, kita harus secepatnya membawa Laras ke rumahnya. Soalnya nanti biar Pak Ustaz yang kasih air untuk menenangkan," kata salah satu penduduk. Indra akhirnya mengerti setelah dijelaskan karena memang sudah biasa para penduduk yang kesurupan atau diganggu hal di luar nalar yang mistis, mereka akan minta air kepada Pak Ustaz atau Kyai setempat. Mereka yakin kalau ada yang sakit atau kerasukan roh jah
Bab 136 Afraid"Kamu kenapa, Istri?" tanya Indra cemas."A-aku, aku lihat–"Belum sempat Alina menjawab pertanyaan Indra seutuhnya, bus yang mereka kendarai menabrak sesuatu diikuti jeritan semua penumpang yang ada di dalamnya. Indra dengan sigap memegangi Alina. Ia melihat sekeliling dan mendapati para penumpang lainnya terhenyak di tempat duduknya. Lalu, seorang wanita berteriak ke arah jendela. "Ada yang ditabrak! Ada yang ditabrak!" serunya panik.Dua laki-laki di depan Indra dan Alina tadi segera melangkah turun dari dalam bus guna melihat siapa yang baru saja tertabrak. Beberapa penumpang lainnya mengikuti. Sementara itu, Indra tetap menemani Alina dan berusaha menenangkannya. Di depan bus tersebut langsung dipenuhi kerumunan orang yang penasaran dengan kejadian barusan. Setelah memberanikan diri, Alina mengajak Indra untuk turun. Saat itu lah mereka melihat seorang wanita tersungkur dengan darah tergenang dari tubuhnya. Tulang tangan serta kakinya patah. Perempuan ini pastil
Bab 135 AfraidLastri dirawat di rumah sakit tempat Indra bekerja. Kejadian yang berlangsung di rumah kepala desa, Kakek Anjas, menggemparkan Kampung Hijau. Semua penghuni rumahnya meninggal dunia. Hanya Lastri yang tersisa. Namun sayangnya, wanita itu mengalami gangguan jiwa."Sa, aku kok deg deg an, ya?" tanya Alina pada Rossa saat menemaninya untuk cek ke dokter kandungan."Namanya juga mau liat dedek bayi. Terus Kak Indra mana? Katanya dia mau nyusul, kan?" tanya Rossa. "Harusnya udah dateng."Tak lama kemudian, Indra yang masih mengenakan jas putih seorang dokter, berlari kecil menghampiri Alina. "Nah, berhubung Kak Indra udah datang, aku mau kasih makan siang ke Aldo, ya. Sekali lagi aku ucapkan selamat buat kalian. Yeaaayy bentar lagi ada yang panggil aku aunty cantik hihihi," ucal Rossa lalu pamit menemui Aldo.Alina dan Indra pun masuk ke ruang dokter ginekolog, rekan kerja dari Indra juga di Rumah Sakit Pelita. Indra dan Alina melihat sang jabang bayi yang berusia hampir
Bab 134 AfraidPasca membantu proses melahirkan makhluk halus, kini rumah Alina sering didatangi makhluk halus lainnya untuk meminta tolong. Sampai suatu hari, Indra berpapasan dengan seorang pria paruh baya. Seorang pria tua dengan rambut yang disanggul. Dia tampak begitu gagah meski usianya mulai renta. la berdiri di salah satu rumah yang Indra dan Alina lewati saat sedang lari pagi. Pria itu bersama seorang lelaki tua lainnya yang ada di belakangnya. Dia tersenyum ke arah Alina dan Indra.Selama beberapa saat, Alina dan suaminya melihat si kakek. Ada sesuatu yang membuat Alina tiba-tiba memperhatikannya dengan sorot mata yang tidak biasa. Setelah mata mereka akhirnya bertemu satu sama lain, akhirnya Indra menundukkan kepala sekilas memberi hormat kepada dua orang pria renta itu."Nak Indra, kan? Sini mampir! Ada yang mau saya bicarakan!" seru salah satu kakek.Indra menoleh ke Alina yang mengangguk mengiyakan. Mereka menghampiri si kakek. Namanya Kakek Anjas dan Kakek Mara. Mereka
Bab 133 AfraidSatu bulan berlalu.Pukul satu dini hari, Alina tengah terlelap dalam tidurnya ketika sayup-sayup pintu rumahnya diketuk seseorang. Alina membangunkan Indra setelah membuka mata. Suara ketukan itu makin jelas terdengar. Saat Alina dan Indra keluar kamar, Rossa juga keluar dari kamarnya."Lin, kamu dengar juga ya kalau ada yang ketok-ketok?" tanya Rossa.Alina mengangguk. "Bangunin Aldo aja apa ya. kita suruh bukain," ucap Rossa."Kita aja yang liat." Indra melangkah menuju ke pintu utama."Suami, kalau rampok, gimana?" Alina menahan lengan Indra."Istri, mana ada rampok ketok rumah? Terus mereka ngucap salam, permisi bapak, ibu, mbak, mas, saya mau ngerampok, boleh?" Indra terkekeh."Nggak lucu, Suami! Aku tuh lagi takut gini tau," sahut Alina ketus.Alina dan Rossa lantas mengikuti Indra. Hanya Aldo yang tak tampak batang hidungnya karena sangat terlelap. Indra lantas mengintip dari balik tirai. Dia mendapati seorang pria dan wanita dengan perut buncit menahan sakit m
Bab 132 Afraid"Tuh kan nggak ada siapa-siapa, Kak. Balik ke dalam aja, yuk!" ajak Aldo."Kalau gitu anterin aku ambil buku di mobil!" titah Indra yang sebenarnya agak takut juga setelah tak menemukan apa pun di atap dapur dan halaman belakang rumah.Suara misterius itu pun menghilang dan tam terdengar lagi. Pasalnya Alina dan Rossa yang ketakutan memutuskan untuk membaca Al-Qur’an Surah yasin dan memohon perlindungan pada Allah. Suara misterius itu pun hilang. Mereka pun bisa tertidur lelap dan tenang malam itu. Malah Indra akhirnya memutuskan untuk tidur satu kamar dengan Aldo dikarenakan takut diganggu lagi oleh makhluk halus seperti tadi.***Keesokan harinya, Indra dan Aldo berangkat ke rumah sakit untuk menemui Tuan Dadang dan memulai bekerja di sana. Indra akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan untuk Aldo sebagai tenaga medis yang menangani kamar mayat. Meskipun takut, tetapi demi mendapatkan uang untuk menikahi Rossa, Aldo siap dipekerjakan di kamar mayat. Toh, Indra juga aka