“Aku pernah mencintai sepenuh hati, tetapi ternyata dia hanya mencintai setengah hati”
Suasana di lantai 5 menjadi semakin sengit, antara Albi dan cowok tersebut belum ada yang mengalah dan terus mendesak dengan melempar pertanyaan serupa kepada masing-masing lawan bicara. Pusat perhatian menjadi tertuju ke arah mereka. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan tingkat kedua cowok tersebut di tengah keramaian Bunkasai atau yang biasa dikenal sebagai Festival Jepang
“Katakan, siapa kamu?” tanya Albi
“Alfarion” jawab singkat
“Lalu, apa hubunganmu sama Alana?” desak Albi
“Tidak ada” jawab Alfa singkat
“Jawab atau ...” ucapan Albi menggantung
“Atau apa?” tantang Alfa
Suara kerumunan orang-orang disekitar, menjadikan aura menjadi semakin memanas
“Atau aku akan mem ...” kata Albi sambil mengepalkan tangan kanannya,
“Selangkah aku melupakanmu, seribu langkah kenanganmu menghujamku. Bagaimana aku bisa lepas? Jika bayangmu masih jelas membekas” “Alana, bangun Alana” teriak Albi “Katanya kamu yang bertanggungjawab atas Alana, tetapi kenyataannya kamu biarkan dia jatuh pingsan” bentank Alfa “Aku juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia jatuh” balas Albi “Padahal kamu yang dari tadi bersama Alana, tetapi kamu tidak tahu dia kenapa?” tanya Alfa “Aku lupa” kata Albi tiba-tiba “Apa?” tanya Alfa penasaran “Alana belum makan dari tadi pagi, seminggu ini selama masa karantina, dia banyak berlatih pidato bahasa Jepang dan terkadang lupa makan” terang Albi “Alana itu punya penyakit maag” balas Alfa “Sejak kapan?” tanya Albi “3 tahun yang lalu, sejak dia berorganisasi di SMA, dia banyak kegiatan dan lupa memperhatikan kesehatannya sendiri” jelas Alfa “Kamu teman SMAnya Alana?” tanya Albi memastikan
“Mencintai kembali orang yang pernah melukai seperti membuka luka yang baru saja diobati. Perih, pedih, dan menyakitkan” Di dalam kamar di sebuah klinik, kini hanya ada Albi, Alfa, dan Alana. Hening dan sunyi mendominasi atmosfer disekitar mereka. Saling menatap tanpa ucap Saling bertemu dalam untaian rindu Saling memandang untuk mengenang “Ehem” ucap Albi memecahkan suasana “Kenapa bi? Kalo tersedak minum” tanya Alana yang polos “Obat nyamuk” kata Albi “Oh iya baru ingat kita lagi bertiga. Sini bi” Ajak Alana pada Albi “Mengapa mengalihkan perhatian?” tanya Alfa spontan “Gapapa” jawab Alana “Kenapa menangis?” tanya Alfa kembali Akan tetapi kali ini Alana tidak menjawab Alfa. Alana lebih memilih untuk merespon ucapan Albi “Aku beri tahu sensei tidak?” tanya Albi “Tidak, jangan ya, Bi” bujuk Alana “Okey, aku jaga rahasia ini” kata Albi “Terima
“Semakin kita dewasa, semakin sulit menemukan arti kebahagiaan sesungguhnya” [POV Alana] “Dahulu sewaktu aku kecil, aku tertawa hanya karena melihat pesawat melintas di angkasa, itu sudah sangat membuatku bahagia. Dan menangis karena balon yang pecah, bukan hati yang patah. Serta bimbang ingin tidur atau bermain dengan teman, bukan karena memilih perasaan di antara dua pilihan” bisik Alana dalam hati sambil melamun di depan deretan cookies “Melamun terus, aku tinggal nih” Alfa mencoba menyadarkan Alan dari lamunannya “Jangan dong. Iseng banget sih” desak Alana sebal “Takut aku tinggal?” tanya Alfa sambil memicingkan sebelah alisnya “Terserah” Alana sudah malas bermain-main dengan cowok tersebut “Banyak banget beli cookies sampai 3 kotak” kata Alfa “Karena aku suka” jawab Alana singkat dan segera memasukkan ke keranjang belanja “Suka aku ya?” tanya Alfa tiba-tiba, menyambungkan da
“Jika cinta dipelihara, maka bahagia yang terasa. Jika luka dipupuk, maka air mata yang menumpuk” Albi yang dari kejauhan menyaksikan drama perselisihan diantara Alana dan Alfa menjadi mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Albi yang sudah mengenggam sebuah bouquet bunga mawar yang segar, memilih untuk menyembunyikan dibalik punggungnya. Kini, Albi mengerti alasan Alana begitu benci dengan cowok yang ada dihadapannya saat ini. Sebenarnya Albi merasa sakit hati melihat mereka yang dengan mudahnya memiliki banyak sekali topik obrolan, akan tetapi kini Albi merasa Alana lah tokoh yang paling merasa tertekan akibat sakit hati yang mendalam “Kenapa kamu menahan semua itu selama bertahun-tahun?” tanya Alfa “Lalu harus kepada siapa aku bercerita?” Alana membalikkan pertanyaan “Bukankah selama ini temanmu banyak dan cowok yang dekat denganmu juga banyak?’ tanya Alfa kembali “Seaindainya mudah menerima orang baru, aku su
“Aku dan kamu pernah memiliki rasa yang sama. Dan hampir menjadi ‘kita’. Rasamu terbalas, rinduku pun tuntas, tetapi ternyata alurnya tidak semudah yang kita kira” Sepanjang perjalanan pulang, dari kota bisnis ke kota wisata membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sopir travel mengantarkan Alana dan Albi hingga rumah mereka masing-masing. Lewat tengah malam, mereka sampai di rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Alana, orang tua Alana membantu menurunkan barang bawaan Alana, karena Alana masih terlelap, ayah Alana meminta kepada Albi untuk menggendongnya ke kamar Alana “Albi, bisa minta tolong Alana dibawa ke kamarnya, usia segini sudah tidak kuat mengangkat Alana” pinta ayah Alana sambil terkekeh “Baik om, kalau boleh tahu kamar Alana di sebelah mana ya?” tanya Albi “Pintu masuk lalu belok kanan, kamar Alana warnanya merah muda, cewek banget deh” ledek ayah Alana kepada putrinya itu “Saya antar sekarang ya om” ucap Albi sambil men
“Memperjuangkan orang yang tidak memperjuangkan kita adalah hal yang sia-sia” Albi masih mencoba untuk bisa berada di dekat Alana dan menguatkan cewek tersebut ketika Alfa menyakitinya lagi, akan tetapi, tidak mudah untuk melakukan itu “Alana baca sekarang suratnya. Ayolah” desak Albi “Harus banget sekarang ya, Bi?” tanya Alana penasaran “Tidak juga sebenarnya” jawab Albi “Boleh aku baca di rumah saja? Aku sekarang sedang terburu-buru, ada urusan lain juga” tanya Alana “Boleh dong, tetapi kamu benar-benar akan membacanya bukan?” tanya Albi “Iya, memangnya kenapa kamu ingin aku membaca suratnya sekarang?” tanya Alana penasaran “Penasaran saja” balas Albi dengan terkekeh “Aku kira kenapa, Bi. Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya, nanti aku akan ceritakan semua isi suratnya setelah aku baca ya” terang Alana “Oke, see you” kata Albi “See you too” jawab Alana
“Tersenyum bukan berarti bahagia, menangis bukan berarti sedih. Namun, dengan bersama kita bisa bertukar rasa dan rindu” Hancur Patah Retak Tiga kata yang mewakili perasaan Alana setelah membaca surat dari Alfa Kepala Alana terasa penat dengan semua drama cinta dengan Alfa, ditambah pula dengan problematika memori ponsel yang penuh, seketika membuat Alana menjadi badmood “Sebenarnya selama ini aku screenshoot apa saja sampai-sampai memoriku seringkali penuh” keluh Alana dalam benaknya Alana mencoba menghapus beberapa foto di galerinya dan ternyata memang benar bahwa dia selama ini memiliki kebiasaan menscreenshoot banyak quotes yang menurutnya bagus dan sesuai dengan perasaanya saat ini, akan tetapi tidak pernah dilihat kembali dan akhirnya lama-kelamaan menumpuk “ Delete Screenshoot 1250 images” Alana memutuskan untuk menghapus semua screenshootan
“Yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada” Di pagi hari yang cerah, Alana membuka matanya dengan sangat manja, di raih ponselnya dengan cepat dan merasa terkejut ketika Arga telah mengiriminya pesan “Pagi singa” kata Arga menggoda Alana di pagi hari “Apaan sih kelinci?” jawab Alana yang sebenarnya tertawa kecil di dalam hati karena Arga masih mengingat sebutan itu, sebutan satu sama lain di masa SMA Singa adalah sebutan Arga untuk Alana. Mewakili sifat Alana yang pemberani, kuat, dan pantang menyerah terhadap apapun. Sedangkan, kelinci adalah sebutan Alana untuk Arga. Mencerminkan sifat Arga yang lemah lembut dan lucu. “Baru bangun singa, mana ada raja hutan bangunnya jam segini?” tebak Arga “Suka-suka dong” balas Alana “Kelinci sudah bangun dari tadi pagi” ujar Arga “Siapa yang nanya?” Alana membalikkan pertanyaan “Aku hanya memberi tahu” balas Arga singkat “Tetapi, aku tidak
“Dalam kamus hidupku, aku hanya mengenal tiga kata : kamu, aku, dan waktu yang akan membentuk kita yang dulu menjadi kita yang baru” Kali ini, dibawah langit bertabur gemerlap bintang malam, aku ingin mengutarakan segala resah dan gelisah yang berada di benakku selama ini. Kamu tidak akan menemukannya di kamus manapun, karena beberapa definisi ini hanya berdasar dari lubuk hati. Definisi kata hati yang tiada henti mengudara dalam intuisi Kamu, adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk mengusir kelabu dan menyembuhkan lukaku dari patah hati sebelumnya, yang memberi banyak arti dalam hidup, serta memberi warna lebih dari yang pelangi punya Aku Siap Melepasmu Tidak banyak yang aku tahu, termasuk juga perasaanmu, hingga aku terluka, mereda, dan siap melepasnya Purnama demi purnama silih berganti Sosok yang ku damba dalam hati, kini tak lagi berarti Sang surya kini
“Selalu ada yang berkorban dalam suatu hubungan, layaknya demi melihat pelangi berseri, maka mentari rela pergi dan sembunyi” Mentari dan Pelangi Dua hal yang berbeda, tetapi hampir setiap orang mencintainya. Terkadang aku kerapkali menjodohkan dan mengaitkan mentari dengan senja di cerita-ceritaku sebelumnya Karena bagiku, senja telah pergi dan tidak kembali. Aku menemukan pelangi. Pelangi hadir mewarnai hari. Aku tahu senja dan pelangi sama-sama hanya sesaat. Bahkan pelangi mungkin juga tidak setiap hari ada. Meski begitu, setidaknya pelangi tidak sekejam dan sejahat senja yang menampakkan sewarna jingga memmpesona tetapi, datang dan pergi tanpa pamit Untuk bertemu indahnya pelangi, bukan hal yang mudah. Kita perlu mengunggu dengan sabar walau langit mendung semakin menjalar. Belum lagi ditambah dengan hujan deras yang mengguyur dan membasahi bumi. Barulah kita baru bisa berjumpa dengan pelangi Lalu, bagaimana jika hujan turun
“Seringkali aku menerka bagaimana akhir kisah kita, seperti dalam hubungan tetapi tidak ada kejelasan, dibilang pacaran tetapi tidak ada ikatan. Dan kini aku telah diserang ketidakpastian” Tiga sasi sudah kita berpisah. Menerka akhir cerita tidak tahu arah. Aku begitu bingung dengan segala rasa dan keadaan yang terjadi saat ini. Mengapa jalanku untuk melupamu seakan sulit tiada henti? Di setiap langkah yang ku ambil, selalu ada celah untuk menemukanmu kembali. Di sejengkal jeda yang aku raih, acapkali muncul sesuatu yang menarik ingatanku padamu lagi Lagi dan lagi, bahkan berulang kembali. Layaknya sebuah siklus alami yang tiada pernah henti Membuat jarak saat ini adalah keputusan yang benar, untuk kita agar saling belajar. Tidak melulu hidup kita dipenatkan untuk mengejar orang yang kurang ajar. Memainkan dan mematahkan banyak hati, meski itu akan membawa dampak pada dirinya sendiri Tidak ada yang salah dari melangkah mundur daripada m
“Beberapa orang berubah menjadi sibuk hanya karena pikiran mereka berkecamuk, dan cara ampuh untuk melupakan sosok yang tidak dapat dipeluk” Alana mulai menulis cerita yang pernah dialaminya selama ini, pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup seorang cewek bernama Alana Ayunda. Tidak peduli, seberapa banyak dia telah jatuh dan seberapa sering dia dikecewakan. Satu-satunya pilihan saat ini adalah mencoba untuk produktif dan berkarya Kesibukanku adalah cara melupakan kamu Setiap kali aku menuliskan kalimat tersebut aku tersenyum miris. Deretan kata yang cukup sederhana untuk dicerna logika, tetapi cukup membuat hati tersayat luka. Di dalam kesibukan yang aku jalani saat ini, ternyata terselip perasaan untuk melupakan seseorang. Tidak hanya aku, mungkin juga perempuan lain di dunia mengatakan hal yang sama. Tidak perlu berucap, dalam hati mereka aku juga yakin meraka akan membenarkan dan menyutujuinya jika mereka merasakan hal yang sama
“Waktu yang akan mengobati setiap goresan luka dan menjawab bahwa hatimu telah reda dari luka yang lama” [POV Alana] Malam yang sepi dan suntuk, seakan menggerogoti suasana untuk teringat akan masa lalu. Sekeras apapun kita mencoba melupa, masa tersebut akan memiliki tempat khusus di pikiran kita. Hingga saat ini pun, kita berada dalam kondisi seperti ini karena jatuh bangun dan laju terjal yang telah kita lalui. Terkadang banyak orang yang berusaha dengan kuat untuk melupakan masa lalu, tetapi ada pula yang memilih menyimpan rapat-rapat Apapun pilihan seseorang, kedua hal tersebut memberitahu bahwa pada setiap pilihan yang diambil akan membuat seseorang menjadi lebih tangguh. Walau dalam perjalanannya dia harus terseok, tersandung, mungkin juga jatuh. Tetapi, apapun yang menyangkut masa lalu memang sebaiknya dibiarkan berlalu. Meskipun pada kenyatannya, ini adalah kebohongan besar. Kebohongan besar yang baru saja aku tulis, ba
Hanya ada dua pilihan ketika berteman dengan lawan jenis, yaitu menjadi pengalaman hidup atau teman hidup, dan kau harus siap dan menerima apapun realitanya” “Cita-cita atau cinta?” tulis Alana Alana terdiam sejenak, dan lantas termenung berpikir “Aku bingung, tetapi sepertinya cita-cita saat ini jauh lebih penting dari pada cinta” ujar Alana Sepertinya perlu memikirkan hal ini lebih dalam, apa yang sebenarnya sedang aku cari dan aku butuhkan. Yang lebih dahulu layak diprioritaskan Alana pergi ke lapangan basket untuk beristirahat dari kejenuhan di depan layar gadget sebentar “Wah, ada bola basket, main kayaknya seru” ucap Alana Alana segera meraih bola itu dan memantulkan bolanya ke atas beberapa kali dan berusaha memasukkannya ke dalam ring basket, akan tetapi sesekali masuk, terkadang keluar “Ternyata ada cewek yang suka main basket disini juga” ucap seorang cowok dari sudut lapangan basket da
“Seseorang akan menyadari betapa berharga seseorang ketika mereka merasakan kehilangan dan terlambat menyadari jika waktu tidak dapat diputar kembali” [POV Alana] Satu hal yang baru aku sadari, dan karena aku baru saja menyadarinya, aku berandai jika waktu bisa diulang kembali, aku ingin memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi di masa lalu. Berteman dengan sunyi sungguh membuat hati ini lelah tidak bertepi Satu hal yang telat aku sadari adalah apapun yang telah berubah, akan sulit untuk dikembalikan lagi, walaupun sekuat tenaga kita berusaha, mungkin tidak akan serupa hasilnya. Tidak hanya sifat seseorang, kepercayaan, perasaan, tetapi juga hal-hal lain yang belum pernah terduga sebelumnya Seberapa keras kita mencoba melupakan masa lalu, entah kapan tetapi pasti kita akan teringat nuansa di masa itu, baik disengaja atau tidak. Jatuh cinta di usia 17 tahun adalah bahagia sekaligus bencana, bahagia karena akan teringat untuk waktu yang
“Setangguh apapun perempuan di mata dunia, tentu saja dia butuh seseorang yang mengerti, memahami, melindungi, dan membersamai menggampai mimpi” Hujan deras perlahan mereda dan menyisakan rintik hujan di luar jendela. Tidak terasa Alana telah tidur selama kurang lebih satu jam, ketika dia terbangun, ternyata dia tidaklah sendiri, masih terdapat Alfa disampingnya, yang setia menemaninya Alana bangun dan meregangkan kedua tangannya, lalu melihat pada jam tangan cream di tangan kirinya “Ha? Jam tiga sore?” ucap Alana dengan terkejut dan seolah tidak percaya “Mau kemana?” tanya Alfa sambil menutup buku yang dibacanya Alana tidak menjawab dan segera merapikan barangnya dengan sesekali mengucek matanya agar benar-benar tersadar dari bunga tidurnya tadi. Alfa turut bergegas mengambil ponsel dan kunci motornya. Alana dengan langkah cepat menuruni tanggaperpustakaan Langkahnya terhenti tiba-tiba ke
“Resah, gundah, gelisah masa remaja adalah hal yang akan kita rindukan ketika beranjak dewasa” Hidup itu tidak murni hitam, tidak juga sepenuhnya putih. Hampir semuanya berwarna abu-abu. Gradasi itulah yang membedakannya Alana tidak sedang menggenggam dan digenggam siapapun, tidak sedang menjaga dan dijaga hati manapun. Hanya saja, dia punya satu nama yang tidak pernah lupa untuk dirapal dalam doa-doa sebelum tidur [POV Alana] Memang berada di situasi hati seperti ini bukanlah perkara yang mudah dipahami dan di mengerti Seperti tidak terikat, tetapi memilki satu nama yang dipegang begitu kuat Seperti tidak berjuang, tetapi tidak pula terbuang Karena, ketidakpastian adalah teman lama Aku pernah mempertanyakan dalam hati, sebenarnya kita sedang memperthanakan hubungan atau sedang menunda perpisahan? Dan sekarang, hati yang dulu pernah kau sembuhkan kembali kau patahkan Ternyat