The Darkness Within

The Darkness Within

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-07-08
Oleh:  Abigail PhillipsOngoing
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
10
25 Peringkat. 25 Ulasan-ulasan
99Bab
34.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ryder didn't lose just one mate; he lost two. His first mate died the day he found her. Angelica was his second chance mate. She was his everything. The reason his heart beat and the air he breathed. She was the mother of their child, his beautiful angel. But in the blink of an eye, she was dead. Ryder had to find a way to live, a way to move on without her. He had to for the sake of their daughter. How does one continue to live without the person who breathes life into you? How do you move on from that? Is it possible to love again? Ryder doesn't think so, but she does. She's the complete opposite of Angelica. There's nothing sweet and innocent about her. She's hard, cocky, and speaks her mind. Angelica was soft and delicate; she is hard around the edges, and tattoos cover her body. She finds the mate bond interesting, and he is her next adventure. She doesn't take no for an answer, and it infuriates the Beta beyond belief. He wants to choke her, scream at her, tell her to leave him alone, and never return, but he wants to hold her and pull her into his arms at the same time. It's a battle with his heart. How does he allow someone else in when his heart still belongs to her.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1 Leaving

Pada tahun keenam setelah diusir dari keluarga kaya karena dianggap sebagai putri palsu, aku bertahan hidup dengan menjual darahku. Baru saja aku menerima sedikit uang dan hendak menghubungi dokter untuk membeli obat, seorang pengawal menendang belakang lututku dengan keras.

Saat jatuh berlutut, aku mendengar seorang wanita kaya berteriak tak terkendali. "Dasar anak nggak tahu terima kasih! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau coba celakai Sophia-ku lagi?"

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Aku baru menyadari bahwa itu adalah ibuku yang sedang mengumpulkan sumber darah untuk putri kesayangannya, Sophia.

Melihat ibuku yang putus asa, kakak laki-lakiku, Owen, segera memerintahkan para pengawal untuk mengusirku. Dia menatap uang di tanganku dan mencibir, "Sepertinya, beberapa tahun terakhir masih belum mengubah sifatmu. Demi kemewahan semu, kamu bahkan rela menjual darah untuk dapatkan beberapa ratus ribu."

"Sophia akan lulus dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi dalam setengah bulan. Dia nggak butuh perhatian eksklusif keluarga lagi, sedangkan kamu juga nggak akan bisa menindasnya. Nanti, aku akan jelaskan alasannya kepada Ayah dan Ibu, lalu membawamu pulang. Kamu akan tetap menjadi tuan putri di rumah."

"Pulang ... tuan putri?" gumamku. Akhirnya, aku hanya menggeleng dan tertawa terbahak-bahak.

Aku mengidap penyakit ALS, penyakit saraf yang bisa menyebabkan tubuh lumpuh secara perlahan. Penyakit ALS-ku berkembang terlalu cepat dan aku bahkan tidak akan mampu bertahan sebulan lagi.

Lagi pula, ketika dia menuduhku sebagai putri palsu demi Sophia yang hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, aku sudah lama kehilangan rumah.

...

Aku terlalu lemah untuk menangkap uang kertas yang tersapu oleh embusan angin. Aku pun menyeret kakiku yang tak mau menuruti perintahku dan mengejar uang itu.

Semua orang di sekitarku menatapku seolah-olah aku adalah monster. Namun, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya tahu bahwa jika uang itu hilang, obat khusus yang sudah lama kurencanakan ingin kubeli akan kembali jadi angan-angan.

Seluruh perhatianku terfokus pada uang kertas yang tertiup angin, sampai-sampai aku tidak mendengar makian kasar dari orang-orang yang lewat. Suara-suara hinaan itu membuat ekspresi Owen perlahan-lahan menjadi sangat suram.

Dia tidak tahan lagi dan berseru marah, "Kaia! Sialan! Kamu bahkan rela membuang semua harga dirimu demi buat aku merasa kasihan padamu? Bukannya aku cuma mengusirmu dari rumah dan titipkan kamu kepada orang lain untuk sementara? Keluarga itu cukup kaya. Siapa yang mau coba kamu bodohi dengan tampang menjijikkanmu ini?"

Suara yang familier itu menghantam hatiku seperti pukulan palu. Jantungku bergetar hebat. Dia bisa mendeskripsikan hal itu dengan santai, tetapi itu adalah neraka yang tak ingin kuingat lagi seumur hidupku. Tenggorokanku terasa pahit, tetapi aku hanya berhenti untuk mengumpulkan kekuatan sebelum lanjut melangkah lagi.

Caraku berjalan benar-benar aneh. Ekspresi Owen pun sedikit melunak. Matanya yang gelap akhirnya menunjukkan bahwa dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia melangkah dengan cemas ke arahku, lalu hendak mengajukan pertanyaan.

Tiba-tiba, Sophia muncul dan menutup mulutnya dengan terkejut. "Oh, Kak Kaia, kamu bukan cuma minta pihak rumah sakit untuk buat hasil diagnosis ALS palsu, tapi juga mulai bersandiwara?"

Sambil berbicara, dia menyerahkan hasil diagnosisku kepada Owen. Suaranya penuh dengan kesedihan saat berkata, "Kak Owen, aku tahu Kak Kaia berbuat begini cuma agar bisa cepat pulang. Aku yang sudah pengaruhi hubungan kalian. Kalau nggak, kalian kirim saja aku ke luar negeri lebih awal?"

Owen membaca laporan medis itu. Akibat hasutan kata-kata Sophia, dia mengepalkan tangan dan menggertakkan gigi.

"Aku hampir tertipu sama tipu dayamu! Kaia, setelah bertahun-tahun, selain berbohong, kamu bahkan belajar berpura-pura sakit? Jangan sampai kamu benar-benar mati sebelum pulang ke rumah!"

Owen melempar laporan medis itu ke arahku dan langsung menarik Sophia pergi. Aku baru tersadar ketika Sophia berbalik dan memberiku isyarat kemenangan.

Aku menertawakan diriku sendiri. Memangnya kenapa meskipun aku adalah adik kandung Owen? Apa pun yang terjadi, selama itu melibatkan Sophia, semuanya adalah salahku dan aku yang berbohong.

Namun, semua itu tidak penting lagi sekarang. Aku hanya ingin segera mendapatkan obatku agar bisa merasa lebih baik. Aku mengambil uang itu dan naik bus menuju rumah sakit.

Aku terjebak macet cukup lama karena ada antrean panjang truk dengan spanduk yang mengiklankan donasi Keluarga Junardi. Saat melihat video di internet, aku baru menyadari bahwa Owen yang menyumbangkan perlengkapan medis ke area pegunungan.

Tiba-tiba, aku menerima telepon dari dokter. Dia menghela napas dengan menyesal.

"Nona Kaia, kamu nggak usah datang lagi. Pak Owen bilang, kamu cuma pura-pura sakit. Dia sudah turunkan perintah untuk melarang semua rumah sakit meresepkan obat buat kamu agar nggak sia-siakan bahan obat."

Namun, dokter ini jelas-jelas tahu mengenai kondisiku dan sudah berjanji untuk menyimpan obat untukku. Tidak peduli bagaimana aku memohon, dia tidak bergeming dan akhirnya menutup telepon.

Aku menatap kosong spanduk donasi Keluarga Junardi di luar jendela mobil dan merasa itu benar-benar ironis. Ketika mensponsori Sophia dulu, Owen tidak pernah ragu untuk menghabiskan uang baginya. Dalam tim bantuan dan donasi untuk wilayah pegunungan, Keluarga Junardi juga secara konsisten menduduki peringkat pertama.

Aku hanya membeli obat dengan uangku sendiri. Namun, di mata Owen, itu malah merupakan hal menyia-nyiakan bahan obat.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Peringkat

10
100%(25)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
25 Peringkat · 25 Ulasan-ulasan
Tulis Ulasan

Ulasan-ulasanLebih banyak

Kabirat Aleem
Kabirat Aleem
Great book. I do hope the author is fine, though. It seems she has not been updating for a while now.
2025-11-06 11:00:42
0
1
Suresh Kumar
Suresh Kumar
No response from the author.. so it's time to leave and read some other books.. but I fee bad to abandon a great book like this.. without any closure..
2025-10-14 16:12:27
3
0
Suresh Kumar
Suresh Kumar
What happened to the author??
2025-10-04 20:57:06
1
0
Suresh Kumar
Suresh Kumar
No updates???
2025-09-29 21:11:42
1
0
Tywila Berry
Tywila Berry
All of her books are amazing, but don't bother starting this book. Unfortunately she has abandoned it and it's been months now. So don't get invested in the story.
2025-09-09 01:29:31
2
1
99 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status