Sudah satu minggu sejak Luke tersesat di dunia yang asing ini. Ia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan. Hanya saja ia masih belum bisa menerima satu hal.
Tubuhnya.
Luke mematung sembari memandangi tubuhnya yang kurus seperti hewan kelaparan. Otot kekar dan perut 6 kotak yang semula menjadi ciri khasnya, kini sudah menghilang.
"Apa yang harus ku lakukan pada orang ini? Tubuhnya seperti mayat hidup," gumam Luke.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Luke berbalik dan mendapati sosok Caroline yang sudah mendelik. Gadis itu melempar pakaian yang ada di tangannya ke arah Luke.
"Beraninya kau telanjang di depanku!" jerit Caroline.
Luke mengerutkan dahinya. Ia melirik ke arah tubuh telanjangnya. Lalu ia mulai mendekati gadis itu.
"Memangnya kau belum pernah melihat tubuhku? Kita 'kan sudah bertunangan."
Sebelah tangan Luke mulai bergerak menyentuh rambut gadis tersebut. Mata sendunya menatap lurus ke arah daun kering yang menempel di sana. Secepat mungkin Caroline mundur hingga tubuhnya terjatuh ke belakang.
"Beraninya kau menyentuhku rakyat jelata!" seru Caroline dengan wajah memerah.
Luke menarik napas cukup panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Rupanya cukup sulit untuk bisa dekat dengan gadis tersebut. Selain tangan dan kakinya yang suka menyerang, mulutnya pun tidak kalah menyakitkan.
"Ada urusan apa kau datang ke kamarku?" tanya Luke.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang makan malam. Jangan lupa untuk memakai baju itu," ujar Caroline sembari melirik ke arah pakaian yang tergeletak di lantai.
Luke mengangguk, lalu mengambil pakaian tersebut. "Makan malam berdua?"
"Tidak. Makan malam bersama orang tuaku."
Luke menggaruk tengkuknya, ia masih belum siap jika harus berhadapan dengan orang tua gadis tersebut. Apalagi ia tidak tahu kepribadian sosok bernama Joan yang menjadi inangnya. Bagaimana jika ia melakukan kesalahan?
"Lakukan saja seperti biasa. Lagi pula orang tuaku tidak menyukaimu. Untuk apa bersikap baik?" ujar Caroline dengan sinis.
Sebelum berbalik, Caroline terdiam sejenak. Wajahnya nampak lelah, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Jangan lupa acaranya jam 8 malam."
Selepas kepergian Caroline, Luke langsung menutup pintu kamarnya. Ia menatap kemeja yang masih terbungkus plastik di tangannya. Tanda tanya besar mulai muncul.
Orang tuanya tidak menyukai orang ini? Lalu mengapa mereka bertunangan?
~~~
Luke berusaha keras untuk menyempurnakan penampilannya. Kurang dari sepuluh menit lagi waktu menunjukkan pukul 8 malam. Namun kemeja itu sama sekali tidak pantas di tubuhnya. Ia terlihat seperti robot karena ukurannya yang terlalu besar.
"Sial. Kalau ada, aku lebih memilih pakaian perang," gumam Luke seraya melepas pakaiannya.
Akhirnya pilihan Luke jatuh pada kaus polos berwarna hitam dan celana bahan dengan warna senada. Hanya pakaian ini yang bisa nyaman untuk saat ini.
Tepat pukul 8 malam, Luke sudah berada di luar ruangan tersebut. Rambutnya disisir ke belakang, tidak ada kacamata bulat yang menjadi identitas Joan selama ini.
Begitu tiba di depan ruangan dengan dibantu Elle, Luke terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah wanita di sampingnya yang nampak pucat. Kedua sudut bibirnya ditarik penuh paksa.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Luke.
Elle menunduk lalu mengangguk. "Anda tampak berbeda."
"Berbeda? Apa mak—"
Ucapan Luke terhenti saat pintu di depannya terbuka. Nampak Caroline yang berdiri di sana. Gadis itu mematung, matanya menatap Luke dari ujung kepala hingga kaki.
"Jo-Joan?"
Luke menaikkan sebelah alisnya. Senyumnya mulai merekah lebar. "Ya? Apa kau merasa terpesona?"
"Kau seperti pengemis."
Mendengar ucapan Caroline, senyum Luke langsung luntur. Padahal ia sudah berusaha sebisa mungkin agar terlihat tampan. Namun ia harus tetap berdiri tegak seperti pria sejati.
Luke dengan percaya diri langsung masuk ke ruangan tersebut. Seperti bagian lain, ruangan ini juga nampak sangat mewah. Berlian seolah sudah menjadi khasnya bangunan tersebut.
"Selamat malam, Ayah dan Ibu," sapa Luke sembari duduk di kursi yang kosong.
"Joan! Ganti bajumu dulu!" seru Caroline yang langsung menarik sebelah tangan pria tersebut.
Tiba-tiba saja wanita yang mengenakan chartweel hat itu tertawa. Namun pandangannya begitu merendahkan.
"Selera priamu memang buruk, Carol," ujar wanita tersebut.
Luke terdiam, ia melempar tatapannya pada Caroline. Gadis itu menunduk tanpa mengatakan apa pun. Padahal biasanya gadis itu selalu punya seribu bahasa yang menyakitkan.
"Duduk saja, Carol. Lagi pula kami tidak akan lama," ujar Ayahnya dengan dingin.
Caroline mengangguk patuh. Ia duduk di samping Luke yang masih nampak bingung. Apalagi saat orang tua Caroline terus menatapnya dengan sorot tajam.
"Sebentar lagi Bran datang," ujar Ibu Caroline sembari meminum air yang ada di depannya.
Luke yang mulai merasa tidak nyaman, berusaha untuk mencairkan suasana. Ia mendeham pelan, lalu mengambil gelasnya yang berisi sirup. Ia mengangkat gelas itu tinggi-tinggi seraya tersenyum.
"Bagaimana kalau bersulang?" tanya Luke.
Caroline menggigit bibir bawahnya. Ia merasa sangat takut, apalagi saat tangan ibunya mulai terkepal.
"Baiklah. Mari bersulang untuk pertunangan kalian," ujar ayah Caroline seraya tersenyum tipis.
Caroline dan ibunya sontak menoleh bersamaan ke arah pria tersebut. Sedangkan Luke mulai merasa ada sedikit celah untuknya.
"Bersulang!" seru Luke dengan ceria.
Selepas itu, keadaan mulai sedikit membaik. Wajah kaku ayah Caroline juga berubah ramah. Hanya saja ibunya masih belum menunjukkan respon baik.
"Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu, Carol? Mengapa kamu memilih pria ini untuk menjadi tunanganmu?" tanya ibunya, sesekali ia melirik Luke dengan sinis.
"Benar juga," Ayahnya menambahkan. "Bukankah kamu menyukai Bran? Mengapa kamu lebih memilih Joan?"
Caroline mendelik, ia menggeleng cepat dengan wajah panik. Apalagi saat matanya bertemu dengan mata Luke yang seakan mengharapkan banyak jawaban.
"I-itu ... aku—"
"Pasti karena seleranya buruk," potong ibunya. "Kalau seleranya bagus, pasti dia lebih memilih pengusaha kaya, bukan anak yatim piatu miskin seperti Joan."
Luke menelan ludahnya dengan kasar. Mungkin ini yang dimaksud cahaya tentang orang sombong. Ia juga pernah melakukan hal serupa pada wanita dari kalangan bawah. Apa ini saatnya ia mendapat karma?
"Tentu saja karena Joan tampan dan mandiri," jawab Caroline seadanya.
Luke dibuat mendelik oleh jawaban Caroline. Namun secara alami, kedua sudut bibirnya melengkung. Ia cukup senang mendapat pujian seperti itu, walaupun ditujukan pada Joan.
"Halo semuanya."
Luke melebarkan kedua matanya. Ia tidak menyangka kalau sosok yang dibicarakan sedari tadi adalah orang yang memukulinya. Luke langsung bangun, tanpa banyak bicara ia melayangkan pukulan ke wajah pria tersebut.
"Beraninya kau muncul di depanku, bocah brengsek!" seru Luke.
Bran menaikkan sebelah alisnya. Ia diam saja tanpa melakukan perlawanan. Sebab keadaannya saat ini sangat menguntungkan. Kedua orang tua Caroline tengah menatap Luke dengan tajam.
"Ternyata kamu suka pria yang ganas, Carol," ujar ibunya diiringi senyuman sinis.
Luke langsung tersadar. Ia mundur satu langkah lalu menoleh ke arah Caroline. Ia mengangkat kedua tangan, sebelum akhirnya pergi dari tempat tersebut.
"Bodoh sekali. Mengapa aku malah membuat keributan di sana?" gumam Luke sembari mengusap wajahnya.
"Joan!"
Luke berbalik, ia bisa melihat Caroline yang setengah berlari ke arahnya. Ia tersenyum tipis, namun detik berikutnya, senyum itu pudar. Sebab Caroline melayangkan tamparan ke wajahnya.
"Mengapa kau melakukan hal aneh, Joan?! Tidak biasanya kau seperti ini!" kata Caroline dengan suara meninggi.
Luke menelan ludahnya kasar. "Memangnya, aku itu terlihat seperti apa biasanya? Seperti pecundang?"
Caroline mengerutkan dahinya. "Ka-kau ... menyebalkan! Kau berubah, Joan!"
Sebelum pergi, Caroline menyempatkan diri untuk menendang tulang kering Luke. Sedangkan pria itu hanya bisa diam dengan sebelah tangan terkepal kuat.
Aku tidak bersalah! batin Luke.
"Tidak, tidak. Tentu saja Anda bersalah, Ksatria."
Luke langsung menoleh ke arah suara tersebut. Nampak cahaya menyebalkan yang mulai menghampirinya.
"Cepat minta maaf padanya. Gadis itu salah satu kunci yang bisa membuat Anda lebih mudah menyelesaikan semua tugas," kata cahaya tersebut.
Luke mengerutkan dahinya. "Omong kosong macam apa itu? Bagaimana bisa orang sombong seperti itu menjadi kunci kehidupan seseorang?"
"Semuanya bisa terjadi karena cinta, Ksatria. Saat seseorang sudah merasakan cinta, sifat buruknya perlahan akan menghilang."
"Tidak! Mustahil bisa seperti itu!" kata Luke sembari menggeleng berulang kali.
"Coba saja. Dekati dia dan curi hatinya," bisik cahaya itu sebelum menghilang.
Mata Luke langsung melotot. Ia terkekeh pelan sembari berbalik. Ia bisa melihat pintu ruangan yang baru saja tertutup.
"Dari pada mencuri hatinya, pasti lebih mudah mencuri jantung naga!" kata Luke diiringi tawa kecilnya.
"Tapi ... mungkin akan ku coba."
Luke kembali memasuki ruangan yang beberapa detik ditinggalkannya. Begitu tiba di dalam, ia langsung dihadiahi tatapan penuh kebencian, terutama dari Bran."Untuk apa kau datang ke sini lagi?" tanya Bran.Luke menaikkan sebelah alisnya. "Aku tunangan Caroline. Apa kau butuh alasan lain mengapa aku ada di sini?"Caroline sontak bangun dari tempat duduknya. "Cukup, Joan! Jangan buat keributan!"Akhirnya Luke menuruti ucapan gadis itu dan duduk di kursinya. Ia menatap tajam ke arah Bran. Pria itu nampak sudah sangat akrab dengan kedua orang tua Caroline. Berbeda jauh dengan dirinya.Tiba-tiba saja saat Luke hendak mengambil gelas miliknya, Bran dengan sengaja menyenggol gelas tersebut hingga jatuh ke lantai. Pecahan gelas berserakan ke mana-mana. Viola, ibu Caroline, terlihat sangat marah."Cepat bereskan kekacauan yang kau buat! Dasar orang miskin!" bentak Viola.Luke mengerutkan dahinya. Ia hendak membuka mulutnya, namun melihat tatapan merendahkan dari semua orang, membuatnya memilih
"Baru surat pertama saja sudah gagal."Luke hanya cemberut sambil memijat kakinya. Cahaya itu sedari tadi terus berputar di kamarnya sembari mengulang kalimat yang sama."Sulit sekali berlari di tubuh yang hanya ada tulang tanpa daging!" kata Luke tidak mau kalah."Waktu untuk tugas ini hanya 3 hari. Jika pada hari ketiga Anda tidak berhasil, maka Anda akan mendapat hukuman."Mata Luke langsung membulat. "Sejak kapan ada waktunya? Aku tidak melihat ada—"Ucapan Luke terhenti saat kertas yang ada di dalam lemarinya itu melayang, lalu berhenti tepat di depan matanya."Perhatikan baik-baik di sudut kiri surat ini. Ada waktunya, bukan?"Luke mendecih dengan wajah kesal. Bisa-bisanya ia tidak melihat hal tersebut. Padahal itu salah satu yang paling penting."Menyebalkan!" kata Luke sembari mengusap wajahnya dengan kasar.Luke mengintip keluar jendela. Langit malam nampak cerah. Sorot matanya menajam, secepat mungkin ia kembali mengganti pakaian dan mengenakan sepatu."Anda mau pergi ke man
Luke tersenyum begitu cerah. Padahal saat ini pipinya terluka parah karena tertancap belati. Caroline yang sedang berkunjung sampai terlihat bingung. "Apa kau sangat senang karena bertambah jelek?" kata Caroline. Luke tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap Caroline dengan senyum yang tidak kunjung luntur. "Berhenti menatapku seperti itu!" seru Caroline sembari melangkan pukulan di bahu Luke. "Aku senang kamu baik-baik saja," kata Luke. Caroline membulatkan matanya. "Jangan berani menggunakan kata kamu padaku! Kita tidak sedekat itu!" Luke menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Itu 'kan cuma kata-kata." "Kau harus bicara formal padaku!" Luke hanya mengangguk saja. Pandangannya kembali menoleh ke arah jendela untuk menikmati cahaya senja. Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Begitu bangun, waktu sudah sore. "Kau sudah makan, Joan?" tanya Caroline. Luke menoleh, lalu menggeleng. "Memangnya kenapa?" Caroline menunjuk makanan yang ada di meja rumah sakit. "Suster Elle memba
Luke terus berjalan walau kakinya terasa hampir seperti lumpuh. Aroma itu semakin kuat dan masuk ke sebuah bar. Tanpa pikir panjang, ia langsung masuk ke tempat tersebut. Namun tiba-tiba langkahnya dipaksa berhenti oleh dua penjaga bertubuh besar yang langsung menyeretnya kembali keluar. Salah satunya menatap Luke dengan sorot tajam. "Tolong kartu identitasnya." Luke menaikkan kedua alisnya dengan bingung. "Kartu identitas? Apa semacam kartu emas saat naik level?" Dua penjaga itu saling beradu pandang dengan wajah bingung. "Bicara apa orang ini?" "Aku tidak punya kartu seperti yang kalian minta, tapi ..." Luke mendesis pelan saat bau itu mulai samar lagi. "Sial! Sepertinya mereka mau kabur!" Luke memanfaatkan tubuh kecil Joan untuk kabur melalui tengah-tengah kedua penjaga. Ia tidak peduli dengan seruan-seruan penuh ancaman. Saat ini, ia hanya ingin menangkap orang yang memotretnya. Begitu tiba di dalam bar, Luke menoleh ke sana dan ke mari seperti orang bingung. Saat kedua penja
Matahari masih enggan menampakkan diri, namun Luke sudah berada di taman. Padahal satu pun pekerja masih belum terlihat. Ia berlari kecil dengan penuh semangat. Ia menjilat ujung telunjuknya, lalu mengangkatnya ke udara."Baiklah! Arah anginnya sudah bagus! Saatnya meluncur!" seru Luke.Luke masih bersikeras ingin menyelesaikan tugasnya. Ia berusaha menyimpan seluruh oksigen di dadanya. Jika ia berhasil berlari 3 putaran hari ini, ia akan lebih cepat kembali ke dunianya."Tuan Joan!"Luke sontak menoleh sekilas tanpa menghentikan larinya. Entah mengapa ia sudah terbiasa dengan nama itu. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat suster Elle."Suster Elle!" seru Joan."Tuan Joan! Mengapa Anda berlari di taman pagi-pagi sekali?! Anda baru pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu!" kata Elle.Wanita itu berlari tergopoh-gopoh dan langsung menarik sebelah tangan Luke hingga terjatuh ke belakang. Untung saja Luke tidak menimpa Elle. Tiba-tiba saja cahaya datang entah dari mana. Ia memu
Luke membuka surat yang tiba hari ini. Berbeda dengan sebelumnya, amplop kali ini berwarna biru."Sepertinya benar-benar spesial ya," gumam Luke.Menjaga Caroline selama pesta dansa. Tetap berada di sampingnya!Luke tertawa pelan. "Ternyata semua surat ini sama saja, berkaitan dengan Caroline.""Benar. Karena dia adalah gambaran Anda, Tuan Kesatria.""Bagaimana bi—""Merendahkan orang lain, selalu merasa paling hebat dan sempurna, senang mengambil kebahagiaan orang, dan masih banyak lagi."Luke hanya bisa tersenyum getir saat mendengar ucapan cahaya tersebut. Mau mengelak pun tidak ada gunanya. Jika diingat kembali, memang sifatnya seperti itu.Sembari menunggu waktunya berangkat, Luke membuka ponsel yang entah sudah berapa lama tergeletak di meja. Ia tidak pernah membawanya ke mana pun.Luke mencari tahu bagaimana gaya berpakaian pria untuk pesta dansa. Setelah ketemu, ia langsung menghambur ke arah lemari pakaian.~~~Caroline melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 1 s
Luke sesekali melirik ke arah Caroline. Sejak mendengar ucapan ayahnya, gadis itu terus bungkam. Matanya menatap lurus ke tengah orang-orang yang sedang menikmati pesta. Begitu musik mulai diputar, Caroline langsung menarik tangan Luke ke tengah lingkaran dansa. "Kau tahu caranya berdansa, 'kan?" tanya Caroline. Luke menggaruk tengkuknya, ia nampak gugup. Sejujurnya ia tidak pernah berdansa sekali pun. Hanya ada satu tarian yang ia bisa, tentu saja tarian pelantikan Kesatria. "Sedikit," jawab Luke. Caroline memutar matanya dengan malas. Ia mulai meletakkan sebelah tangannya ke pundak Luke, sedangkan tangan satunya dibiarkan bergenggaman dengan Luke. Caroline seolah terhipnotis. Pandangannya tidak bisa lepas dari retina biru langit milik pria tersebut. "Aku baru tahu kalau warna matamu seterang ini." Luke menaikkan kedua alisnya dengan bingung. "Ya? Ma-mataku?" "Cepat letakkan tanganmu di pinggangku!" titah Caroline. Luke mengangguk kaku. Walau sudah sering menyentuh wanita di
Caroline menoleh ke sekelilingnya. Entah sejak kapan ia kehilangan sosok Bran. Padahal sedari tadi, ia ingat sekali sedang bergandengan tangan. Ia ingin keluar dari kerumunan, tapi jalannya seolah tertutup."Bran?!" serunya.Tidak ada sahutan, yang terdengar hanya suara alunan musik dan hiruk pikuk orang-orang berbincang di sekitar. Caroline menelan ludahnya dengan kasar. Ia bisa melihat meja kue lewat celah keramaian, namun ... tidak ada Joan di sana."Joan!!" teriaknya.Tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicengkram dari belakang. Ia ditarik paksa menuju ke pintu keluar samping bangunan tersebut."Siapa kalian?!" jerit Caroline sembari meronta.Pria berjas cokelat yang kini berdiri di depannya hanya diam. Sampai akhirnya ia membekap wajah Caroline dengan kain beralkohol. Tidak perlu menunggu lama, Caroline pun tidak sadarkan diri."Bawa ke mobil."~~~Luke membasahi bibir bagian bawahnya. Ia melirik ke sekitar, suasananya begitu tenang. Pasti tidak akan ada orang yang datang ke tem
"Jiwaku akan dihapus dari alam semesta dan ingatan semua orang yang pernah mengenalku.""Kalau begitu, aku harus mencari tau sendiri ya," gumam Luke.Yellowdious tidak menjawab. Cahayanya perlahan memudar lalu hilang begitu saja. Kini tersisa Luke sendiri di dalam kamar. Matanya masih setia menatap langit-langit."Kapan terakhir kali aku mendapat misi?" Luke langsung bangun. Ia bergegas menghampiri lemari pakaian. Begitu dibuka, tidak ada satu pun surat misi yang melayang. Rasanya sangat kecewa. Setelah terbiasa menjalankan misi, hidupnya mulai terasa hampa saat tidak melakukan apa-apa.Suara langkah kaki terdengar mendekat ke kamarnya. Ia langsung menutup rapat lemari dan mendekat ke arah pintu. Sosok itu tidak langsung mengetuk. Ia hanya berdiri tanpa melakukan apa pun.Luke berusaha mengintip dari celah lubang kunci. Jika melihat celemek yang menutupi bagian depan pakaiannya, bisa dipastikan kalau sosok itu merupakan suster Elle. Namun Luke tidak langsung membukanya. Ia menunggu w
"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa ada di sini?"Caroline termenung tiap kali mengingat ucapan Luke. Bagaimana bisa pria itu tahu identitasnya. Padahal selama ini ia sudah berusaha menyembunyikannya dengan baik.Ia memandang dirinya di cermin. Cukup lama hingga pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia langsung bangun dan mengatur sorot matanya agar mirip dengan pemilik tubuh tersebut.Begitu dibuka, nampak Elle yang membawa senampan makanan. Wanita itu tidak mengatakan apa pun. Namun ia terus menatap Caroline, seolah memintanya untuk mengambil nampak tersebut."Terima kasih, Suster Elle," ujarnya pelan.Namun setelah nampak itu sudah ada di tangan Caroline, Elle tidak kunjung pergi. Ia masih terus menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata menyelidik."Ada apa, Suster Elle? Apa ada yang ingin Anda katakan?" tanya Caroline.Elle menunduk, lalu mengangguk pelan. "Nona ... belakangan ini ...."Ucapan Elle terhenti saat terdengar suara klakson dari arah luar. Wanita paruh baya i
Setelah melewati percakapan yang cukup berat, akhirnya Luke ditinggal sendirian di dalam ruangan tersebut. Ia termenung dengan pandangan kosong ke arah pintu. Otaknya sibuk menimbang. Misi Christoper kali ini sangat menguntungkan. Namun sebelum itu, siapa yang layak untuk dibawa kembali bersama pria tersebut? Dirinya atau Ciel?Ciel punya banyak poin. Dia pasti bisa dengan mudah kembali. Sedangkan aku?Luke memejamkan matanya saat bayangan Joan yang memakai tubuhnya itu mulai melintas di pikiran. Joan bukan lawan yang bisa diremehkan. Apalagi setelah pria itu menggadaikan jiwanya pada ular mata air.Luke mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Lalu ia mulai memukul selimut yang membalut tubuhnya."Sial! Dia pasti punya banyak mana dan kekuatan!" rutuk Luke."Aku juga ingin kembali. Tapi aku tidak bisa membiarkan Ciel tertinggal di sini bersama pria gila itu!"Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Secepat mungkin Luke menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memejamkan matanya dengan paksa
"Buka mulutmu."Luke menggeleng pelan, ia mendorong pelan sendok yang sudah ada di depan mulutnya. Sejak tadi Ciel tidak mau mengalah. Ia terus memaksa Luke untuk menerima suapan darinya."Aku bisa makan sendiri Ciel," ujarnya.Ciel mendengus pelan. "Apa salahnya sih? Aku cuma mau membantumu makan.""Tapi ...."Luke tidak melanjutkan ucapannya. Ia melirik Caroline yang duduk di sofa tanpa merasa terusik. Gadis itu tengah membaca sebuah buku tebal."Satu suapan saja. Kamu mau 'kan?" tanya Ciel.Akhirnya Luke mengalah. Ia membuka mulutnya dan membiarkan bubur itu masuk. Sontak Caroline menutup bukunya dengan keras. Kini pandangan gadis itu sudah benar-benar teralihkan pada Luke dan Ciel."Aku akan datang lagi nanti malam," ujar Caroline sembari bangun dari tempat duduknya.Ciel mengerutkan dahinya. "Kau sudah mau pulang, Caroline? Tapi kau 'kan baru saja datang."Caroline tidak menjawab. Kini pandangannya hanya tertuju pada Luke. Pria itu tidak mengatakan apa pun, padahal ia sudah mau p
"Jo-Joan!" cicitnya."Pergi kau sialan!" bentak Luke.Caroline berusaha keras untuk mendorong tubuh Luke, namun sia-sia saja. Tenaga pria itu jauh lebih besar darinya. Lima menit berlalu, Caroline membiarkan Luke terus menekan tubuhnya. Perlahan tubuh Luke bergerak menyingkir. Namun tatapan pria itu masih terpaku padanya. Dahinya berkerut seolah menajamkan pandangannya."Joan?" panggil Caroline.Bukannya menjawab, Luke justru langsung pergi meninggalkannya. Pria itu setengah berlari keluar dari ruangannya.~~~"Selamat sore!"Luke sontak menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Nampak Ciel sudah sangat sehat dan bertenaga. Gadis itu melambaikan kedua tangannya. Senyum Luke langsung mengembang, ia merasa sangat senang karena gadis itu berhasil diselamatkan.Setelah menutup pintu, Ciel berlari kecil menghampiri Luke. Lalu ia duduk di kursi yang sudah disiapkan. Senyumnya perlahan luntur saat melihat luka yang ada di tangan Luke. Ia merasa tidak enak karena sudah membuat pria itu mendap
"Lama tidak bertemu, pria yang tidak kuat minum."C-Christoper Brandon?!Klosa langsung berontak. Ia berusaha melepaskan cengkraman Christoper dari wajahnya. Namun bukannya terlepas, cengkramannya justru semakin menguat."Di mana orang berwajah Joan itu berada?" tanya Christoper Brandon.Klosa mengerutkan dahinya. "Siapa orang berwajah Joan? Saya tidak tahu!""Beraninya kau berbohong!"Kali ini Christoper menurunkan cengkramannya ke leher Klosa. Ia menahan kekuatannya agar pria itu tidak mati tercekik. Sebab ia melakukannya hanya untuk menakut-nakuti Klosa."Mustahil kau tidak tahu. Kau selalu mengikutinya!" seru Christoper."Kalau maksud Anda itu Tuan Joan, saya tahu! Tapi dia memang Tuan Joan, bukan hanya mirip.""Ya, anggap saja begitu. Jadi kau tahu dia ada di mana?""Ada urusan apa mencariku sampai menyiksa orang tidak bersalah seperti itu?"Christoper langsung melepas cengkramannya dari leher Klosa. Senyumnya perlahan mengembang begitu melihat sosok Luke berdiri di ujung jalan.
Suara seperti benda jatuh terdengar sangat keras. Caroline berjalan perlahan menuju ke pintu utama. Semua penjaga nampaknya sudah berada di pos utama. Lampu di sekitar juga sudah dipadamkan."Siapa di sana?" seru Caroline sebelum membuka pintu utama.Hening.Caroline sama sekali tidak mendengar apa pun dari luar sana. Perlahan ia memberanikan diri untuk mengintip dari jendela. Matanya membulat begitu melihat sepasang kaki tergeletak di lantai. Secepat mungkin Caroline keluar dari rumah. Ia mengesampingkan rasa takut yang menyelimutinya. Begitu tiba di luar, ia dibuat sangat ketakutan."Joan?!" serunya."Penjaga!!!"~~~Caroline memandangi Luke yang terbujur lemah di atas kasur. Wajah tampan itu benar-benar berhasil membuat perasaannya porak poranda. Pria itu berhasil membuatnya hidup kembali. Ia merasakan berbagai emosi yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan."Apa yang terjadi padamu, bodoh?" gumam Caroline.Tiba-tiba saja jemari Luke bergerak. Secepat mungkin Caroline bangkit dari
"Kau ... rupanya menyebalkan!" rutuk Joan.Ia menghentikan langkahnya, lalu meraih sabit yang melayang di depannya. Hujan beracun itu langsung menghilang. Luke tidak ingin membuatnya menjadi sia-sia. Secepat mungkin ia melesat ke arah Joan dengan pedang yang sudah berlumuran mana.Jurus ke dua : Luapan amarah naga!Mana berwarna abu-abu itu perlahan berubah menjadi putaran angin. Luke memadukannya dengan kecepatan yang diberikan Bluedious. Setelah jaraknya cukup, ia melakukan tebasan ke leher Joan. Rahang Luke mengeras saat serangannya ditahan dengan sabit.Namun hal yang membuatnya kesal bukan hanya itu. Awan hitam kembali muncul dan mulai menyerap putaran angin dan mana yang ada di sekitar pedangnya. Sebelum seluruh mana yang sudah dikerahkannya diserap habis, ia bergegas mundur menjauh dari awan tersebut."Sial. Awal itu datang lagi," gumam Luke.Ia menatap pedangnya, mana sudah tidak tersisa di sana. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyesal karena mengerahkan hampir seluruh mananya
"Aku akan membunuh keduanya.""Yellowdious, tolong bawa Ciel ke tempat yang sudah ku katakan sebelumnya. Orang ini nampaknya tidak waras," ujar Luke.Tubuh Ciel langsung melayang ke arah Yellowdious. Setelahnya, gadis itu dibawa pergi meninggalkan Luke dan Bluedious. Luke melepas ranselnya, lalu melemparnya ke sembarang arah."Hei, Bluedious," panggil Luke setengah berbisik."Ya, Kesatria?""Kau tahu 'kan aku tidak punya kekuatan? Semuanya diserap oleh Christoper.""Ya, Kesatria.""Bisa pinjamkan aku kekuatan?" tanya Luke.Bluedious tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja tubuh Luke terasa sangat ringan. Layar transparan langsung muncul di hadapan Luke.Tring!Kotak masuk :Anda memperoleh 100% peningkatan kecepatan. Tidak ada cooldown kekuatan. Senyum Luke langsung mengembang. Ini pertama kalinya ia memiliki kekuatan tanpa cooldown seperti teleportasi milik Christoper. Lantas ia mengacungkan ibu jarinya pada Bluedious."Kau memang terbaik! Tahu saja apa yang aku butuhkan.""Jelas saja.