Bos Mafia Jatuh Ke Dalam Pelukan Adik Tiri
Begitu aku hamil, aku dielu-elukan sebagai perempuan paling berharga di dunia mafia.
Suamiku, kepala keluarga baru Keluarga Jasman, sampai menutup satu area rumah sakit swasta khusus untuk pemeriksaan kehamilanku. Sementara ayahku, Chandra, memanggil semua koki berbintang Michelin di Kota Nordi ke kediaman keluarga, hanya agar aku bisa makan apa pun yang kuinginkan.
Bayi yang kukandung ditakdirkan menjadi satu-satunya pewaris dari dua keluarga mafia paling berkuasa.
Namun, pada hari ketika kami seharusnya menandatangani dokumen yang menjamin warisan anakku, mereka berdua menghilang.
"Ada urusan keluarga mendesak," kata suamiku, Desta, sambil mengecup keningku. "Kita bisa selesaikan urusan warisan anak ini setelah kita kembali. Nggak perlu terburu-buru."
Tak lama setelah mereka pergi, aku menerima sebuah tautan menuju siaran langsung anonim.
Suara ayahku terdengar dari video itu, dingin, lebih dingin dari yang pernah kudengar sebelumnya.
"Jadi kamu bilang kontrak pernikahanmu dengan Eva nggak pernah sah. Bukankah itu berarti anak itu adalah anak haram?"
Vincent tampak bersantai di sebuah klub, mengembuskan cincin asap rokok. Dalam pelukannya ada saudari tiriku, Sarah.
"Eva selalu mendapatkan cinta dan perhatian," ujarnya santai. "Anaknya nggak akan kekurangan apa pun."
"Sarah sudah bertahun-tahun diejek karena statusnya. Aku harus memperbaiki semuanya untuknya, memberinya keadilan, memberi anak kami nama yang sah."
Saat itu juga, dadaku terasa diremas. Napasku tersengal, nyaris tak bisa bernapas.
Kemudian, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan masuk.
[ Selamat datang kembali di Keluarga Gandara, ratuku. ]
[ Sebut saja satu kata dan anak yang kamu kandung akan menyandang nama Keluarga Gandara serta menjadi pewaris paling berkuasa di dunia mafia Amira. ]