Semua Bab Jodoh Dadakan Dirgantara: Bab 11 - Bab 20

26 Bab

Cemburu

"Ngapain menjelaskan padaku, Mas. Nggak penting," ketus Alina yang membuat Dirgantara tercengang. Bagaimana bisa istrinya itu terlihat santai, saat suaminya di rangkul wanita lain. Karena kesal dengan ulah istrinya, Dirgantara akhirnya berjalan pergi menuju tempat yang sudah di siapkan untuk dirinya dan Alina. "Dia siapa, Mas Dirga?" tanya Saras pada bawahan ayahnya itu. "Istri," jawab Dirgantara dengan nada dingin. Seketika Saras membulatkan kedua matanya. Dia tidak habis pikir kalau si tampan yang selama ini menjadi incarannya sudah menikah. "Kapan?" tanya Saras dengan nada serius. "Dua minggu lalu," jawab Dirgantara masih dengan wajah yang sama. Sesekali dia menoleh ke belakang mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung datang ke tempatnya. "Saras, tolong jangan begini. Nggak enak di lihat yang lain. Apalagi aku sudah punya istri." tegas Dirgantara pada Saras sedikit berbisik. Terlihat putri dari atasannya itu terus menempel padanya. Hingga acara pun di mulai, Alina tidak kunjun
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

Pendakian yang sukses

Alina memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan mencengkeram rambut suaminya kuat-kuat. "Alina" panggil Dirgantara yang kini kembali saling memandang, "apakah kamu benar-benar sudah siap untuk melakukan ini denganku?" tanya Dirgantara yang sudah tak mampu di jawab oleh wanita cantik itu. "Setelah kamu mendaki terlalu jauh, kenapa masih bertanya lagi?" ketus Alina mulai kesal. Melihat merah merona pipi sang istri, Dirgantara langsung melayangkan ciuman hangatnya. Kali ini, dia tidak akan membuat marah si cantik lagi. "Alina kamu benar-benar memikatku," bisik Dirgantara dengan kedua tangannya yang sudah mere mas lem but dua pegunungan yang menantang itu. "Tunggu, Mas," lirih Alina meraih wajah Dirgantara yang sudah hilang kendali. Nafasnya terengah-engah menahan gejolak di dalam dirinya. "Apakah aku terlalu kasar dan menyakitimu," bisik pemuda itu lagi begitu berhati-hati bermain dengan istrinya. "Tidak mas, tapi aku malu," lirih Alina yang membuat Dirgantara terkekeh, yang kemudian
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Masih Nyeri

Alina meringis kesakitan yang membuat Dirgantara panik. "Baiklah, tetaplah di sini. Aku akan mengambilkan makanannya," ucap Dirgantara, yang kemudian pergi meninggalkan kamar menuju meja makan. Dia pun kembali ke kamar sambil membawa makanan dan minuman. "Aku akan menyuapimu," ucap Dirgantara yang sudah duduk di sampingnya. "Tidak usah, Mas. Aku bisa makan sendiri," sahut Alina yang ingin meraih piring dari tangan suaminya. "Alina, patuh!" tegas Dirgantara yang membuat wanita cantik itu diam, dan mengikuti semua keinginan suaminya. Alina terus menatap dalam ke arah wajah tampan suaminya yang begitu sabar dan telaten pada dirinya. Dengan sedikit gugup, Alina pun bertanya pada Dirgantara, mengenai mantan-mantannya. "Mantan? Aku tidak pernah punya mantan." jawab Dirgantara yang membuat Alina terkekeh. "Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Dirgantara sambil menyuapi istrinya tersebut. Alina menggeleng. Dia tidak percaya dengan jawaban suaminya yang tidak punya mantan, secara sua
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Malam kedua

Dirgantara bersikeras melarang istrinya itu bekerja, apalagi di wilayah militer. Dia sangat menentang keinginan istrinya tersebut. "Memangnya kenapa, Mas?" tanya Alina dengan wajah cemberut. Wanita itu berusaha merengek pada suaminya, agar mendapatkan izin, tapi sang letnan benar-benar melarangnya. "Sekali tidak, tetap tidak, Alina. Mintalah yang lain, aku pasti akan mengabulkannya." jawab Dirgantara dengan wajah tegasnya. "Aku bosan, Mas. Seharian penuh di dalam rumah sempit ini," jawab Alina yang membuat Dirgantara menggeleng dan menghampirinya. "Carilah kesibukan lain seperti menyongket, menyulam atau ___""Stop! Stop, Mas. Aku nggak mau ya, kamu langsung telepon ibu dan memintanya untuk mengajariku, hal itu. Aku tidak berbakat dalam bidang seperti itu, Mas. Nilaiku selalu mines di ekstrakurikuler tersebut," jawaban dari sang istri membuat Dirgantara tergelak. "Apanya yang lucu, Mas. Aku nggak suka pokoknya," remgeknya lagi. "Iya ... iya ... nanti kita pikirkan lagi, ya. Sekara
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

serangan brutal

Tanya Alina menghentikan aktivitas suaminya. Dirga pun menghela nafas panjang dan meraih pakaiannya, kemudian berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang bertamu. Setelah pintu terbuka, terlihat wanita sore tadi yang datang untuk mengambil tempat sayurnya. "Mbak tunggu sebentar di sini. Saya akan ambilkan" tegas Dirgantara tanpa meminta wanita itu masuk. "Ini, Mbak. Sebelumnya terima kasih banyak ya, Mbak. Lain kali nggak usah repot-repot bawain masakan, kita nggak enak," ucap Dirgantara sambil menyerahkan temoat sayur milik wanita itu. Sejenak, dia terdiam menatap dalam pada wajah Dirgantara yang hampir menutup pintu. "Kamu tampan, kok dapat istri pemalas, ya. Aku lihat, seharian istrimu itu hanya rebahan di ruang tamu dan bermain ponsel," ucap wanita itu yang membuat Dirgantara terkekeh. "Memang saya yang menyuruhnya untuk rebahan aja, Mbak," jawab Dirgantara yang langsung membuat wanita itu terdiam. Setelah menyaksikan wanita yang tinggal di depan asramanya itu pergi, Dirg
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Tragedi Ranjang

"Ya ampun, Mas" ucap Alina masih dengan nafas ngos-ngosan. "Tenang, Na. Kamu diam dulu di sini. Aku akan keluar sebentar untuk melihatnya," jawab Dirgantara yang di angguki oleh istrinya. Dirgantara pun keluar dari mobil dan melihat kucing yang barusan ditabrak olehnya. Terlihat seekor anak kucing tengah terkapar tak berdaya dan bersimpah darah di bawah mobil. Segera Dirgantara mengambil dan menaruhnya pada kantong plastik kemudian membawanya. "Bagaimana, Mas?" Alina benar-benar nampak syok dengan kedua mata berkaca-kaca. Dirgantara dengan tenang, menyampaikan pada istrinya itu, kalau kucing sudah meninggal dan akan dia bawa untuk dikubur di tempat ibunya nanti. Alina mengangguk dan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju kediaman orang tua Alina. Di sepanjang perjalanan, Alina terus melirik ke bangku belakang. "Nggak apa-apa, Alina. Kamu yang tenang. Kita juga tidak sengaja. Yang penting sekarang kita rawat dan kuburkan dia," ucap Dirgantara sambil mengusap lembut pung
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Kapan Hamil

Ayah dan ibu kebingungan karena kamar sebelah sangat berisik. "Apakah ran jang Alina rusak lagi ya, Yah?" tanya ibu panik. Tapi, setelah di pikir-pikir, keduanya langsung terkekeh. "Lupa, mereka kan, pengantin baru" lirih ibu kembali membaringkan diri yang di ikuti suaminya. "Mas, jangan terlalu semangat, ingat ini di tempat ayah dan ibu. Takut kedengeran mereka." bisik Alina yang sudah diburu senjata oleh suaminya. Sejenak Dirga tersenyum dan mengurangi laju kecepatannya. "Terima kasih, Alina" bisik Dirgantara yang menandakan dirinya hampir mencapai pun-caknya. Waktu sudah menujukan pukul sebelas malam, kedua pasangan itu masih betah terjaga. Dirgantara terlihat begitu bahagia bisa bersanding dengan Alina yang tadinya tidak pernah dia kenal. Walau tetangga desa, pemuda itu sangat masa bodoh dengan hal di sekitar, apalagi masalah wanita. Yang ada dipikirannya hanyalah cita-cita dan membahagiakan orang tuanya. Sehingga, saat ditanyakan masalah jodoh, pemuda itu selalu menolak. "Mas,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Pindah Posisi

Ibu memberitahukan lagi, kalau tadi Alina menunggu dirinya di mobil. "Kok tiba-tiba Alina pergi ke mobil? Memangnya ibu barusan ngomong apa padanya? Pasti ibu aneh-aneh lagi, deh" Ibu hanya menggeleng dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Terlihat Dirgantara tengah sibuk menghubungi seseorang. "Maafin ibu ya, Nak. Bukan maksud ibu melukai hati Alina. Tapi, ibu hanya ingin yang terbaik untuknya. Ibu juga tidak mau kamu terlalu sibuk, karena ulahnya." sahut sang ibu menambah ke dalam Dirgantara. Segera Dirgantara meminjam motor ayahnya dan pergi mencari istrinya. Di sepanjang perjalanan, hatinya sangat kacau. Dirgantara tidak bisa berpikir apa-apa, selain mengkhawatirkan Alina. Terlihat mobil miliknya tengah melaju kencang menuju daerah asrama. Seketika, hati Dirgantara merasa lega, karena akhirnya Alina pulang ke asrama dengan selamat. Tidak jauh, terlihat mobil itu berbelok ke halaman. "Alina!" panggil sang suami yang melihat istrinya itu buru-buru berjalan memasuki kediamannya. "A
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Minta kepastian

Seketika Dirgantara terkejut saat Alina mendengar perbincangannya dengan sang ibu. "Sekarang tanya pada ibumu itu mas, maunya apa? Kemarin dia memuja-muja aku. Sekarang ganti wanita lain yang dipuja. Nggak masuk akal tahu! Kalau aku belum kamu sentuh, aku sudah minta cerai, Mas!" celoteh Alina dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Alina ... Alina tolong tenangkan dirimu!" tegas Dirgantara mencoba menenangkan istrinya lagi. "Kamu selalu begitu, Mas. Selalu mencoba menenangkan aku, tapi tidak bisa mencari solusi. Sejak awal aku sudah lelah dengan semua aturan yang ibumu itu buat! Aku malas!" Alina pergi berlalu menuju kamarnya lagi. "Alina! Alina ..." panggil Dirgantara kembali mengikuti istrinya. Dirgantara berusaha membujuk dan mencari jalan keluar dari semua masalahnya ini. "Kita nggak usah mikirin omongan ibu. Kita juga nggak usah sering-sering ke tempatnya. Udah, ayo sekarang kita istirahat. Yang menjalani itu aku dan kamu, bukan ibu. Apakah kamu tidak mengingat, bagaimana ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Pilih Ibu atau Aku

Wanita paruh baya itu spontan menampar pipi mulus milik Alina. Selama ini, wanita cantik itu tidak pernah mendapatkan kata-kata kasar apalagi tamparan. Tanpa banyak bicara lagi, Alina langsung pergi meninggalkan sang ibu mertua menuju kamar. "Alina! Na ...! Aduh, gimana ini. Kenapa aku kebablasan mukul anak orang sih. Apalagi dia juga menantu pilihanku. Kenapa akhir-akhir ini aku banyak bicara, apa karena aku sedang banyak pikiran, karena Abimanyu ingin menikahi janda," gerutu wanita paruh baya itu penuh kebingungan. "Alina ... apakah ibu boleh masuk?" tanya sang ibu sambil mengetuk pintu kamar. "Nggak perlu, Bu. Palingan ibu akan buat masalah lagi. Mendingan ibu pulang. Alina pengen sendiri!" teriak wanita cantik itu dari dalam kamar. Sang ibu mertua hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali ke ruang tamu. Kebetulan ada abang tukang sayur lewat, yang langsung dipanggil oleh ibu dari Dirgantara itu. Dia memilih beberapa sayuran dan lauk pauk untuk dimasak nanti sore. Setel
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status