Home / Fantasi / Pendekar Tangan Dewa / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Pendekar Tangan Dewa: Chapter 21 - Chapter 30

38 Chapters

Situasi Dunia Persilatan Tionggoan

"Tentu saja aku sangat yakin," jawab Tabib Kehidupan sambil tersenyum penuh percaya diri. "Kenapa kau begitu yakin?" "Karena kau punya hutang nyawa kepadaku. Lagi pula, aku tahu bahwa Tuan Muda Li adalah jenis manusia yang paling tidak bisa menerima kebaikan orang lain begitu saja," "Sepertinya kau sangat memahami tentang diriku," "Itu karena aku sudah banyak mendengar tentang sepak terjangmu sebelumnya," Li Bing sedikit kaget. Padahal dia baru menginjakkan kakinya kembali di Kota Yu Nan, siapa sangka, sepak terjang dia di tempat sebelumnya justru sudah sampai lebih dulu. "Penyebaran informasi dalam dunia persilatan ternyata jauh lebih cepat dari apa yang aku bayangkan," gumamnya perlahan. Tabib Kehidupan hanya menganggukkan kepala. Dalam hatinya, ia benar-benar kagum kepada pendekar muda yang kini berada tepat di hadapannya itu. "Baiklah, karena kau sudah membantuku, maka aku pun akan membantumu," kata Li Bing setalah beberapa saat kemudian. Bersamaan dengan itu, A
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Kisah Cinta A San yang Berakhir Tragis

A San hendak menjawab, tapi lidahnya tiba-tiba kelu. Seolah-olah lidah A San sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Li Bing curiga dengan apa yang ia lihat. Selama ini, ia tidak pernah melihat A San begitu tegang, kecuali saat dia bertemu dengan musuh-musuh tangguh dan orang-orang tertentu saja. Didorong oleh rasa penasaran yang besar, seketika Li Bing juga membalikkan badan dan memandang ke arah pintu masuk. Saat itu, ternyata di ambang pintu masuk restoran sudah berdiri tiga orang pria berwajah sangar dengan penampilan beragam. Ketiganya memandang ke arah A San dengan tatapan mata yang sangat tajam. Mereka terlihat seperti sekelompok serigala kelaparan yang sudah tidak sabar ingin menerkam mangsanya. Ketiga orang yang sudah pasti para pendekar dunia persilatan itu lalu masuk dan duduk di kursi yang masih kosong. Tidak lama setelahnya, disusul kemudian empat orang lain yang diduga masih merupakan rekan-rekannya. Jumlah mereka ada tujuh orang. Dan semuanya memandang ke arah A San d
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Keputusan A San

"Maksudmu?" Li Bing bertanya kebingungan. "Mulai detik ini, sepertinya kita harus berpisah sementara, Tuan Muda," kata A San menegaskan lagi. "Tapi, kenapa kita harus berpisah? Bukankah ketujuh orang itu ingin membunuhmu? Kalau benar begitu, ada baiknya kita hadapi mereka bersama-sama. Aku berani menjamin, kau tidak akan mengalami kerugian apapun juga," Li Bing berkata dengan sungguh-sungguh. A San juga tentunya percaya dengan ucapan Li Bing. Selama ini, siapa yang berani meragukan keseriusan pemuda berjuluk Pendekar Tangan Dewa itu? Siapa pula yang berani meragukan kemampuan dan kesakitan kedua tangannya? A San jelas mengetahui hal tersebut. Bahkan dia lebih tahu dari siapa pun juga. Tetapi nampaknya, jawaban yang akan dia berikan tidak sesuai dengan harapan Li Bing. "Maaf, Tuan Muda Li, aku bukan bermaksud meragukan kemampuanmu, tapi dalam hal ini, aku tidak ingin membawa siapa pun untuk ikut terlibat. Termasuk juga dirimu!" jawab A San dengan ekspresi serius. "Kau tidak tahu
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

Tujuh Saudara Angkat Nan Jing

Mereka saling pandang satu sama lain, seolah-olah sedang memutuskan apakah akan menuruti keinginan A San atau tidak. "Baiklah. Kalau memang itu maumu, kami setuju," kata seorang yang paling tua. "Kakak Pertama, biar aku yang bertarung dengannya," seorang pria berusia lima puluhan tahun dan mempunyai kulit hitam langsung mengajukan diri. "Adik Ketiga, kau yakin?" tanyanya sambil menatap pria itu. "Ya, aku yakin. Sekaligus aku ingin mencoba sampai di mana kemampuan si Walet Besi sekarang," "Baiklah. Aku percaya, silahkan," Orang yang dipanggil Adik Ketiga itu langsung maju beberapa langkah. Ia berhenti dalam jarak dua meter dari tempat A San berdiri. "Namaku Hong Te, orang-orang biasa memanggilku Kerbau Hitam," kata pria itu memperkenalkan dirinya. Ia memang mempunyai tubuh yang agak besar. Otot-ototnya samar-samar dapat terlihat. Dari sini saja A San sudah bisa menilai bahwa si Kerbau Hitam pasti ahli dalam tenaga luar. Setidaknya, dia pun mempunyai pertahanan diri yang kokoh.
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

Bantuan yang Tak Disangka

Kejadian tersebut membuat Tujuh Saudara Angkat Nan Jing terkejut setengah mati. Buru-buru mereka melompat mundur dan menghentikan upayanya untuk mengeroyok A San."Adik Ketujuh!" Setelah menyadari situasi, orang-orang itu segera memburu ke arah saudaranya yang menjadi korban. Mereka langsung mengerubunginya dan berharap saudaranya itu masih bisa diselamatkan. Sayang sekali, yang terjadi berikutnya tidak sesuai dengan harapan mereka. Orang yang menjadi korban, yang tadi dipanggil Adik Ketujuh, sudah lebih dulu tewas secara mengenaskan. Sehingga tidak ada satu pun upaya penyelamatan yang dapat menghidupkannya lagi. Keenam saudara angkat itu benar-benar marah. Dendam yang membara langsung membakar seluruh tubuhnya. Ingin sekali mereka membalas kematian salah satu saudaranya, namun sayang, pria yang paling tua di antara mereka tidak mengijinkan hal tersebut. "Pendatang baru yang telah membantu A San bukan pendekar biasa. Buktinya saja, dia bisa membunuh Adik Ketujuh hanya dalam satu
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Pendekar Aneh Dari Kanglam

"Hahaha ...," suara tawa yang serak tiba-tiba terdengar menggema. Sebelum suara tawa itu sirna, pemiliknya sudah berada tepat di hadapan Li Bing. Pemilik suara itu ternyata seorang pria tua yang usianya mungkin sudah enam puluhan tahun. Ia mengenakan pakaian serba hitam lusuh dengan rambutnya yang sedikit awut-awutan. "Ini, makanlah!" kata Li Bing sambil melemparkan ikan bakar yang satunya lagi. Pria tua itu langsung menangkapnya. Ia ikut duduk di salah satu batu yang terdapat di sana dan segera menyantap ikan bakar pemberian Li Bing. "Aku sudah memberimu ikan bakar, apakah kau tidak ingin memberikan pakaianku?" tanya Li Bing di sela-sela kegiatan makannya.Pria tua itu seketika berhenti menyantap ikan bakar. Ia menatap Li Bing cukup lama. "Kau ingin pakaianmu itu? Boleh saja, tetapi ada syaratnya," "Syarat apa?" "Kau harus mengalahkan dulu muridku," Selesai berkata, pria tua itu segera memanggil muridnya. Dari dalam hutan sana, tiba-tiba meluncur satu sosok yang langsung men
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Burung Elang Pembawa Berita

Pendekar Aneh Dari Kanglam mengangguk-angguk beberapa kali. Kemudian dia bertanya lagi. "Lalu, di mana benda mustika Sarung Tangan Racun Hijau itu?" "Benda itu sudah dibawa kembali oleh komplotan Dewi Bunga Mawar. Tapi sayangnya, walaupun aku mengatakan tentang hal ini, pasti tidak ada siapapun yang akan mempercayainya," "Tapi aku mempercayaimu. Menurutku, orang sepertimu sudah tidak terlalu membutuhkan benda-benda seperti itu lagi. Walaupun setiap benda mustika mempunyai manfaat yang luar biasa, tetapi tanpa semua benda itu pun, kau sudah menjadi pendekar pilih tanding," Pendekar Aneh Dari Kanglam sudah sering mendengar sepak terjang Li Bing. Sebelum mereka bertemu seperti saat ini, dia bahkan sudah banyak mendengar tentang sepak terjangnya. Maka dari itu, Pendekar Aneh Dari Kanglam percaya kepada Li Bing. "Terimakasih, Tuan," kata Li Bing sambil tersenyum. "Sayangnya tidak semua orang seperti dirimu. Andai saja mereka sama sepertimu, mungkin hidupku akan jauh lebih tenang," Li
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

Pertempuran di Perguruan Harimau Putih

Tepat ketika rembulan berada si tengah-tengah kepala, tiba-tiba dari delapan penjuru mata angin terlihat ada bayangan manusia yang berkelebat dengan sangat cepat. Para murid Perguruan Harimau Putih yang bertugas menjaga tidak ada yang sanggup melihat bayangan itu dengan jelas. Namun satu detik kemudian, jeritan segeran terdengar. Setiap murid yang ditugaskan untuk berjaga di setiap penjuru, kini sudah terkapar di atas tanah. Entah, apakah mereka masih hidup atau tidak. Kejadian itu berlangsung begitu cepat! Li Bing sebenarnya mengetahui akan hal ini. Namun dia masih belum bergerak sedikit pun. Ia sedang menunggu "sambutan" dari pihak Perguruan Harimau Putih. Benar saja, tepat setelah terdengar jerit memilukan tadi, puluhan orang murid perguruan langsung melesat keluar. Namun begitu mereka tiba di halaman depan, berbagai macam serangan sudah langsung memburu ke arah mereka. Pertarungan sengit seketika terjadi! Kelompok penyerang itu hanya berjumlah sepuluh orang. Tetapi kemampu
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

Jurus Telapak Tangan Dewa Merenggut Nyawa

Wushh!!! Wushh!!! Dua buah bayangan keperakan tiba-tiba meluncur dengan sangat deras dari luar sana dan menembus jendela kamarnya. Untung Li Bing sudah mempunyai firasat bahaya sebelumnya. Sehingga begitu menyadari sesuatu yang tidak beres, dia langsung mempersiapkan dirinya. Crapp!!! Crapp!!! Dua buah pisau terbang berwarna perak sepanjang satu jengkal menancap di tempat pembaringan. Li Bing tidak tinggal diam. Ia langsung menjebol daun jendela dan segera meluncur ke arah datangnya pisau terbang tadi. Dalam beberapa tarikan nafas saja dia sudah tiba di tempat yang diduga menjadi sumber pelemparan senjata rahasia tadi. Hanya saja di sana sudah tidak ada seorang manusia pun.Namun pemuda itu masih bisa merasakan adanya hawa pembunuhan. Sepasang mata Li Bing mengawasi keadaan di sekitar. Tiba-tiba ia melihat ada sekelebat bayangan yang bergerak cepat dalam jarak sepuluh tombak. Tanpa basa-basi lagi, Li Bing langsung memburunya. Ia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh sampai ke ti
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

Kota Zhengzhou

"Musnahkan semua Keluarga Li!" Sepucuk surat itu hanya berisi tiga kata saja. Tiga kata perintah! Tiga kata yang mewajibkan untuk menghabisi semua Keluarga Li! Walaupun dalam surat itu tidak menjelaskan Keluarga Li yang mana, namun Li Bing tahu, Keluarga Li yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, hanya Keluarga Li miliknya saja. Itu artinya, selama dalang dibalik layar ini belum ditemukan atau dibunuh, maka selama itu pula hidupnya tidak akan pernah tenang. Tetapi kalau benar dalang dibalik layar ini adalah orang-orang yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan mendiang ayahnya, apakah dia juga harus tetap membunuhnya? Li Bing tidak tahu. Setiap kali pertanyaan semacam itu muncul dalam benaknya, dia selalu tidak mempunyai jawaban yang pasti. Dia hanya berharap, semoga saja apa yang di khawatirkan-nya selama ini tidak pernah terjadi. Pemuda itu kemudian membuka topeng penyerangnya tadi. Ketika seraut wajah yang asli terlihat, ketika itu pula Li Bing terkejut setengah
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status