Beranda / Thriller / Sang Junjungan / Bab 71 - Bab 80

Semua Bab Sang Junjungan: Bab 71 - Bab 80

82 Bab

Sumi bertemu Adi

"Aaah, kita dianggap apa, sih, Mas!" sentak salah satu perempuan muda tersebut saat Adi masih terdiam saja. "Kenapa? Aku akan bayar kalian!" Adi merapikan bajunya, lalu melemparkan beberapa lembar uang. Dengan dingin dia meninggalkan bilik tersebut. "Mau ke mana, Di?" tanya Mas Gondo saat melihat sahabatnya itu, bergegas keluar warung. "Balik Mas ... bosan di sini. Mata Adi mencari jika ada taksi atau ojek yang lewat." "Ya, sudah kita balik, Di. Biar kuantar kamu." Mas Gondo pasrah, tujuannya mengajak Adi ke tempat mesum itu gagal. Ternyata Adi sudah mati rasa terhadap wanita. "Enggak usah Mas, kamu lanjutin saja dengan perempuan tadi, aku duluan balik." Adi menghentikan taksi yang lewat di hadapannya, kemudian berlalu menuju pabrik. Pikir Adi, mumpung masih sore, dia akan mengunjungi Retno. Setelah mengambil sepeda motornya di pabrik, Adi segera meluncur ke
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-11
Baca selengkapnya

Waspada dengan Retno, Di!

Di, aku ikut!" Adi mengenali itu adalah suara Retno. Adi mengangguk dan membuka kunci pintu truk. Retno menghempaskan bokongnya di atas jok, lalu menyuruh Adi segera meninggalkan pelabuhan. "Aduh, Bik! Kemana saja, sih? Adi cari Bibik ke rumah yang waktu itu kita sambangi." Adi membuka percakapan sambil mengemudikan truk."Bibik sudah dapat tempat yang layak, Di. Nanti kita mampir kalau kamu sudah mengantar barang-barang.""Bibik mau ikut? Jauh, loh!""Enggak apa-apa, hitung-hitung mengenang sewaktu, Bibik dan pamanmu menyusuri jalan dengan truk waktu itu."Adi mengangguk di hatinya ada pertanyaan, tetapi tidak enak mengungkapkannya. "Pamanmu sudah mati, Di. Dia tidak mau menyembah Sang Junjungan jadi terpaksa ditumbalkan." Retno mengetahui isi pikiran Adi, setelah menjawab, dia menatap lurus ke depan, membayangkan masa lalu bersama suaminya. Betapa dulu mereka berkasih sayang, walau Retno din
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-11
Baca selengkapnya

Retno Menerawang

Perjalanan Adi dengan Bibiknya terhenti sesaat di sebuah rumah makan. Perut yang terasa keroncongan terisi dengan berbagai makanan lalu mereka melanjutkan kembali ke tujuannya. "Kalau boleh, Bibik nginap di rumahmu, ya, Di," ucap Retno dalam perjalanan pulang setelah mengantar barang. Adi terlihat kaget mendengar permintaan Bibiknya itu. "Eem, tapi kontrakan Adi kecil, Bik. Walau ada kamar dua, sih." "Enggak apa-apa, nanti sebelum ke pabrik kamu antar Bibik ke kontrakanmu dulu, ya ... kan, ngelewati."  "Iya, Bik," sahut Adi. Seperti rencana, Adi melanjutkan kembali menuju pabrik, setelah menurunkan Retno di depan kontrakannya. Sesudah menerima kunci, perempuan itu segera memasuki rumah petakan yang disewa Adi. Tubuh Retno gemetar, sesaat dia selesai membersihkan diri di kamar mandi. Mengetahui ada pertanda, Retno segera duduk
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-13
Baca selengkapnya

Wanita tua itu memang kejam

Hampir tengah malam saat Adi sampai di kontrakan dan mendapati Retno masih terbaring lemah di lantai. "Bik, Bibik!" Adi berusaha membangunkan Retno. Namun, perempuan itu tidak bergeming. Sehingga Adi memutuskan ingin membawanya ke rumah sakit, tetapi saat tubuhnya hendak diangkat, mata Retno membuka. "Ambilkan tas Bibik, Di ...." Adi bergegas mengambilkan tas kecil yang diletakkan Retno di kursi, sebelum dia mencoba menerawang tadi. "Ini, Bik!" Adi memberikan tas Retno kepada pemiliknya. Perempuan itu langsung mengeluarkan botol kecil berisi cairan merah pekat  yang langsung diteguknya habis. Mata Retno mengerjap, wajahnya pun tampak segar setelah meminum cairan tersebut. "Ada apa, kok, Bibik pingsan?" tanya Adi. "Aku tadi berusaha mencari tahu keberadaan Sumi karena merasakan getarannya, tetapi saat berusaha lebih jauh lagi, aku diserang. Sepertinya oleh Gondo dan Yudhis,"
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-13
Baca selengkapnya

Pertarungan Gaib

Setelah menyantap makanan yang disajikan Adi, Retno menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu bersiap menjalankan misinya. Mencari keberadaan Sumi, dia dapat merasakan getaran bahwa orang yang dicarinya tidak jauh dari kontrakan Adi. Setelah menengok kiri kanan, Retno mulai menyusuri jalan menuju perkampungan-perkampungan yang berada di belakang komplek perumahan tempat tinggal Adi, tetapi ada yang aneh dengan penampilan Retno kali ini. Dia menyamar sebagai pengemis, berpakaian lusuh, wajah ditutupi jelaga serta memakai selendang di kepala agar dapat leluasa menjalankan aksinya. Sungguh luar biasa tekad perempuan itu, semua demi kejayaannya. Mulut Retno komat-kamit, matanya terus mencari, berharap apa yang dilihat dengan mata batinnya benar adanya. Bahwa Sumi beserta anaknya berada di sekitaran daerah itu, tetapi dari kampung-kampung sudah dijelajahinya sosok dicari belum ketemu jua. Tubuh Retno mulai terasa lelah hingga dia memutuskan beri
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-15
Baca selengkapnya

Kematian sepasang suami istri durjana

Semua usaha Retno dan Mas Gondo telah mereka lakukan sebisa mungkin walau dengan tujuan berbeda. Satu iblis yang sama dipuja menyebabkan mereka bagaikan dipermainkan dan Sang Iblis hanya tertawa melihat para pemujanya berebutan menarik perhatian apa pun bentuknya. "Tin, aku ke rumah Yudhis dulu, mencari jawaban bagaimana cara membunuh Retno." Mas Gondo pamit kepada kekasihnya setelah merasa baikan. Tini mengangguk sebagai jawaban. Terik matahari tidak menghalangi Tini menuju rumah Sumi, sepeninggal Mas Gondo hatinya merasa tidak tenang. Khawatir terhadap anak serta cucunya. Di bawah naungan payung hitam, Tini mengintip dari balik pohon. Perasaannya lega melihat Sumi serta anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Namun, ternyata bukan Sumi yang harus dikhawatirkan keadaannya, tetapi dirinya sendiri karena dua pasang mata menatap tajam ke arahnya yakni Pak Dodo dan Bu Astuti. Benar saja, ketika Tini hendak melangkah pulang, l
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-15
Baca selengkapnya

Akhir hidup para pengikut Sang Junjungan

Tragis, mengerikan? Pasti. Siapa yang bersekutu dengan iblis dan akhir hidupnya belum bertaubat, ruhnya akan penasaran bahkan bisa terpenjara dalam lingkaran si iblis.   ****   Kampung tempat tinggal Pak Dodo dengan Bu Astuti heboh atas peristiwa terbakarnya rumah juragan kaya di wilayah tersebut. Bagaimana tidak, selain seluruh bangunan beserta harta benda lainnya terbakar habis. Para penghuninya pun tersisa jadi abu. Sepasang suami istri tersebut juga kedua anak serta mantunya juga dua pekerja rumah tewas terbakar, keluarga itu hanya tinggal Dewi serta suaminya dan Armand yang kebetulan berada di luar kota untuk keperluan pekerjaan.   "Bapak! Ibu!" Teriakan histeris Dewi membahana, suaminya serta Armand berusaha menenangkan.   "Sudah, Teh, tenang ... sekarang kita urus acara pemakaman mereka serta tahlilan." Armand berusaha agar Dewi tidak terus berteriak, benar saja Dewi terdiam. Namun, bukan kare
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-16
Baca selengkapnya

Tahlilan

Sebelum ke rumah Bu Wid, Dewi bertandang ke rumah Sumi untuk memberitahukan tidak perlu menyiapkan apa-apa karena semua kebutuhan tahlilan dia yang akan mempersiapkannya. Namun, Sumi tidak tinggal diam. Saat Rizky bermain dengan mainannya, dia pun membersihkan rumah, agar terasa nyaman jika para tamu datang. "Assalamualaikum ...." Suara salam diiringi riuh terdengar dari depan. Beberapa ibu-ibu tampak membawa penganan serta minuman. "Waalaikumsallam, masuk Bu." Sumi menyambut ramah. Mereka menata makanan yang dibawa dengan sesekali menggoda Sumi. "Aduh, sebentar lagi Rizky punya Bapak baru, nih." "Cocok, tahu, Mbak dengan Armand. Satunya ganteng, satunya lagi cantik." Panas sebenarnya telinga Sumi mendengarkan celotehan ibu-ibu tersebut, tetapi ditahannya di hati. Dia hanya diam, tidak banyak bicara menimpalinya dengan senyuman karena tahu panjang urusan jika
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-16
Baca selengkapnya

Penampakan Mengerikan

"Mbak, saya juga mau pamit, ya." Setelah ikut merapikan ruangan, Armand beserta ibu-ibu lainnya pulang. Meninggalkan Sumi dan Rizky yang terbangun dari sebelum Magrib. "Anak Ibu mau apa?" tanya Sumi kepada Rizky yang menatap ceria ke buah-buahan yang masih  banyak tersaji. Rizky menunjuk ke arah jeruk Mandarin. Sumi dengan penuh kasih menyuapkan ke anaknya. "Enak Sayang ...." Rizky membalas pertanyaan ibunya dengan tawa riang. Sumi gemas lalu menciuminya berulang kali. Siiir! Suara angin berdesir masuk kedalam jendela nako yang masih terbuka, Sumi lupa menutupnya. Aroma daging terbakar seketika menyeruak, pikir Sumi itu adalah bau asap dari penjual sate yang biasa mangkal di seberang jalan. Namun, terjadi keganjilan saat Sumi hendak menutup jendela. Tampak di depan rumahnya beberapa orang berdiri membelakangi. Dia melirik jam di dinding, ternyata sudah p
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-21
Baca selengkapnya

Dibunuh atau bunuh diri?

Setelah dirasakan tenang, Dewi dan Armand pamit pulang dengan pikirannya masing-masing. Terutama Dewi yang berniat akan mengaku kepada Sumi tentang keadaan almarhum orang tuanya serta dirinya---para penyembah Sang Junjungan. Dia ingin bertaubat karena tak ingin kematian mengerikan menjemputnya. Namun, niat baiknya itu ternyata tak mampu terwujud. Keesokan hari, Dewi beserta suaminya mati ditemukan gantung diri di langit-langit ruang tamu. "Ya Allah, bagaimana kejadiannya, Dek?" tanya Sumi setelah mendengar kematian Dewi dan Surya kepada Armand yang menangkupkan kedua tangan menutupi wajah lelahnya. "Selepas salat Subuh di musala, saya mendengar suara tercekik dari dalam rumah, pintu keadaan setengah terbuka. Saya pikir tumben Teh Dewi dan Mas Surya sudah bangun. Ternyata yang saya temukan tubuh mereka tergantung, Mbak." Armand menahan  tangis. Dalam hitungan hari, dia sudah kehilangan semua anggota keluarga, membuat hatinya bertanya-tan
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-02-22
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
456789
DMCA.com Protection Status