Beranda / Young Adult / Viona / Bab 31 - Bab 40

Semua Bab Viona: Bab 31 - Bab 40

46 Bab

First Date

Vio membuka pintu kamar ketika suara ketukan dari luar terdengar. Saat pintu terbuka, sebuah senyuman samar menyambutnya. Pipinya memanas, jantung Vio serasa mau copot hanya karena ditatap Levin tanpa berkedip."Kenapa? Jelek ya?" Vio menunduk, memperhatikan penampilannya. "Aku nggak biasa pakai dress pendek begini," ucap Vio, menarik-narik ujung dress sabrina bagian bahu yang sedikit melorot."Cantik," ucap Levin."Ya?" Vio sontak mendongak, matanya saling beradu pandang dengan Levin yang masih setia memandanginya."Dress-nya," lanjut Levin, mendengkus geli saat melihat wajah Vio yang cengo. "Sama yang pakai juga cantik." Levin berbisik di telinga Vio, berhasil menyadarkannya.
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Tempat Rahasia

Viona berjalan cepat menuju parkiran, mengabaikan panggilan Levin yang berusaha menyusulnya dari belakang."Vio." Levin mengusap kasar wajahnya, bingung dengan sikap Viona yang berubah jadi aneh setelah keluar dari bioskop.Apa mungkin karena ciuman tadi?Apa salahnya dengan hal itu?Levin tak mengerti kenapa Viona harus marah akan hal itu. Bukankah wajar jika sepasang kekasih saling berciuman? Oke, mungkin di sini memang Levin yang salah tempat saja."Hei." Levin meraih tangan Viona, menariknya ke belakang hingga gadis itu tertarik dan menabrak dadanya."Levin!" pekik Vio, matanya melotot karena kaget. "Lepas!" Dia berusaha melepas
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Posesif

Viona terbangun di tengah malam, merasakan tenggorokannya kering dan gatal. Ketika membuka mata sepenuhnya, dia baru sadar kalau Levin tidak ada di sampingnya."Levin," panggil Viona sembari mengucek sebelah matanya, berharap ada sahutan dari dalam kamar mandi. Tapi tak ada sahutan sama sekali yang menandakan kalau cowok itu tidak ada di kamar mandi. "Levin ke mana?" Viona bergumam pelan, turun dari kasur.Karena kehausan, lantas Viona memutuskan untuk mengambil minum sekalian mencari keberadaan Levin. Padahal seingat Viona, Levin tadi menemaninya sampai tertidur. Tapi sekarang cowok itu pergi entah ke mana.Ketika pintu terbuka, suara dentuman keras menyambut gendang telinga Viona. Suara nyaring dari musik yang sedang diputar begitu memekakkan telinga, ditambah lampu temaram dan kemer
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Surat

Reva menepikan mobilnya di tepi jalan saat dirasa situasi sudah cukup aman dan tidak ada tanda-tanda anak buah papanya Levin mengejar. Dia menghela napas lega setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, kemudian menyandarkan kepala seraya memejamkan mata sejenak. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena suara Viona kembali menginterupsi untuk kesekian kali."Reva, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi, dan kenapa lo musti bawa gue pergi? Please, beritahu gue, jelasin ke gue, ada apa?" Reva yang sudah lelah dicecar berbagai pertanyaan Viona dari tadi akhirnya membuka mata, memiringkan tubuhnya untuk menghadap Viona."Lo yakin pengen tahu?" Anggukan kepala Viona jadi jawaban mutlak. Lantas Reva menghela napas panjang, meski Levin melarang untuk memberitahu Viona tentang apa yang terjadi. Tapi Reva tidak bisa terus di
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Menghilang

Viona berdecak, lagi, suara operator itu kembali menyambutnya setelah nada sambung berbunyi. Ini sudah kesekian kalinya dia menghubungi nomor Levin yang tidak aktif dan selalu berakhir dengan suara mba-mba operator.Viona menghela napas berat, lelah menatap layar ponsel yang mulai redup karena baterainya akan habis. Namun dia masih berharap jika centang di pesan yang dia kirim ke Levin akan berubah warna, atau setidaknya berubah jadi dua bukan seperti sekarang hanya centang satu.Kamu ke mana, Vin? Aku kangen. Batin Viona, nyaris ingin menangis. Dia ingin bercerita banyak hal dengan Levin, terlebih mengenai surat yang dikirim oleh adik papanya. Viona ingin tahu pendapat Levin mengenai ungkapan adik papanya yang tertuang di selembar kertas, kalimat-kalimat yang begitu menenangkan dan seakan menjadi motivasi untuknya tetap b
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Hampa

Viona duduk termangu di bangku taman, sorot matanya begitu redup menatap kosong kedua ujung kakinya. Di sampingnya ada Bagas yang menemani, sembari menghisap rokok dan mengembuskan asapnya ke udara. Keduanya tak saling berbicara, hanya diam membisu menikmati keheningan malam dengan pikiran masing-masing."Lo nggak mau pulang?" Bagas kembali bersuara setelah keheningan panjang, mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya dan berakhir diabaikan lagi oleh Viona. Melihat hal itu Bagas menghela napas panjang dan dalam, kasihan pada Viona yang tampak begitu bersedih karena menghilangnya Levin. "Nggak usah didengerin omongan Regan tadi, dia lagi nggak waras gara-gara kebanyakan minum. Gue yakin Levin baik-baik saja kok, mungkin emang dia lagi nggak bisa nemuin lo aja." Viona tak bereaksi dan tetap memilih bungkam.Bagas menden
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Penjilat

Dering alarm memekakkan telinga, memenuhi seisi ruangan yang masih nampak gelap. Meski secercah mentari berusaha masuk menembus celah-celah gorden yang tersingkap, nyatanya ruangan itu tetap terlihat suram.Alarm masih terus berbunyi, hingga suara ketukan pintu beradu di tengah suara bising dari alarm. Namun, hal tersebut tak lantas mempengaruhi Viona. Gadis itu masih membatu, bersandar pada kepala ranjang dengan tatapan kosong ke depan. Matanya bengkak akibat menangis, diperparah dengan kantung mata yang menggelap karena semalaman ia tak memejamkan matanya."Viona." Suara dari luar kamar terdengar masuk menembus pintu. "Vi, kamu sudah bangun?" Tapi Viona tak merespon, seolah gadis itu tuli dan tidak mendengar apa pun yang ada di sekelilingnya.Sejak pertengkaran kemarin dengan papanya
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Surat Wasiat

Dimas duduk termenung, memandangi Viona yang terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menancap di tangannya. Sudah satu jam berlalu ia duduk tanpa melakukan aktivitas apa pun selain menatap wajah pucat Viona, seraya mengusap tangan putrinya itu yang terdapat memar."Putri Anda terkena Leukemia limfositik kronis atau yang biasa disebut kanker darah."Ucapan Dokter yang memeriksa Viona kembali berputar-putar di kepala Dimas, seperti kaset rusak yang berhasil menghancurkan tembok kokoh dalam hatinya. Sekeras apa pun ia menahan diri untuk tidak menangis, nyatanya pertahanannya runtuh. Air mata yang ditahan di pelupuk mata seketika keluar bagaikan air bah."Maafkan papa, Viona." Dimas terisak, menutup wajahnya yang tak kuasa menu
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Rindu

Dimas bergegas pulang lebih cepat ketika Laras—istrinya——memberitahukan kalau Viona demam. Putri kesayangannya yang baru berusia satu tahun itu mengalami demam tinggi sejak siang.Sesampainya di rumah, Dimas segera berlarian masuk menuju kamar Viona. Namun, ketika ia sampai di depan kamar, suara dari dalam menghentikan langkahnya."Stop Anton! Hentikan omong kosongmu! Dia bukan anakmu! Harus aku bilang berapa kali, dia bukan anakmu!"Dimas terkesiap kala mendengar teriakan Laras dari dalam kamar. Apalagi istrinya itu menyebut nama Anton, adik angkatnya. Dimas masih terdiam di depan pintu yang tertutup rapat, menahan rasa penasaran yang menggebu-gebu tentang apa yang sedang terjadi di dalam sa
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya

Kecolongan

Viona terbangun ketika mendengar suara dari samping, matanya perlahan terbuka bersamaan dengan harum maskulin yang menyeruak ke indera penciumannya. Samar-samar ia melihat sesosok cowok berdiri membelakangi dirinya, seakan yakin kalau itu Levin, Viona lantas memanggilnya."Levin." Suara Viona yang terdengar pelan berhasil menarik atensi cowok itu. Namun, ia harus menelan kekecewaan ketika netranya menangkap dengan jelas wajah cowok itu saat membalikkan badan dan ternyata cowok itu bukan Levin, melainkan orang lain."Hai," sapa cowok itu, menyunggingkan senyumnya seramah mungkin. "Gimana keadaan lo——""Ngapain lo ke sini?" sergah Vio, memotong ucapan cowok itu. Ekspresinya terlihat tidak menyukai kehadiran cowok itu."Ngapa
last updateTerakhir Diperbarui : 2021-08-01
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status