Tepat pukul duabelas malam. Richard hendak keluar dari kamarnya. Ia membuka pintu secara perlahan agar tak membangunkan Lincone dan Lindsay yang sialnya berada di kiri dan kanan kamarnya.
Suara pintu yang berdenyit membuatnya menutup matanya sejenak. Berdoa agar tak membangunkan sang ibu dan bibinya.
Dia melangkahkan kakinya dengan berjinjit agar tak menghasilkan suara langkah kakinya di lantai kayu yang menjadi pijakannya.
Sial... ibuku sungguh membuatku seperti seorang maling, rutuknya dalam hati.
Tapi aku memang hendak mencuri... mencuri wanitaku yang disekap oleh ibuku sendiri! Richard terkekeh sendiri dalam hatinya mengakui bahwa dirinya memang sedang melakukan misi penculikan seorang wanita yang tak lain adalah wanitanya.
Lalu Richard mulai mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya. Kunci yang dicuri dari laci nakas Lincone. Saat dia memasangkan bola lampu.
Satu kali putaran kunci di pintu kamar Li
"Termasuk dirimu, Black Swan," ucap Richard, sembari menghunuskan tatapannya yang berkilat tajam ke dalam sepasang mata biru milik Sheryl yang sekarang membulat terkejut.-Seketika keadaan menjadi sangat hening, suara hembusan angin terdengar mengusik telinga mereka seperti bisikan yang membuat suara berdengung.Rambut Sheryl sekilas beterbangan searah hembusan angin yang melintas sekilas melewatinya.Richard menyelipkan rambut panjang Sheryl di jari tangan kanannya. Dengan wajah yang begitu dekat, Richard sukses memberikan tatapan yang begitu mengintimidasi."Tapi aku yakin kau tak akan mengkhianatiku 'kan?" Richard menyeringai seraya bertanya meyakinkan diri, sekaligus kembali meneliti raut wajah Sheryl. Yang sangat jelas terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.Sheryl berusaha keras menutupi ketakutannya dari tatapan menyelidik yang diberikan Richard. Dia menegakkan dirinya yang tanpa sadar sejak tadi secara perlah
"Mom?" gumam Richard.-Sheryl menoleh ke arah mata Richard tertuju… Mata keduanya membulat saat melihat wanita paruh baya itu berdiri diundakananak tangga yang menyambungkan lantai tiga dengan lantai dua. Dimana Richard dan Sheryl duduk di ruang televisi.Lincone melangkah menghampiri Sheryl dan Richard. Dengan raut wajah terkejut dan tak percaya akan percakapan Sheryl dan Richard."Apa yang kalian bicarakan? Tak adakah dari kalian yang akan menjelaskannya?!" sergah Lincone. Nada suaranya meninggi hingga membuat sepasang kekasih itu berdiri dan berusaha mendekati Lincone."Mom… duduklah dulu. Kami akan menjelaskan," ujar Richard. Hendak meraih tangan Lincone. Namun wanita yang berstatus sebagai ibunya itu menepis kasar tangan Richard."Jelaskan saja!" bentak Lincone.Sempat membuat Sheryl ikut tersentak. Sangat berbeda dari Lincone yang menyambutnya dengan hangat. Membuat Sheryl hanya bisa diam, aga
Beberapa minggu kemudian... Baik Richard maupun Sheryl mencoba melupakan kejadian penembakan pada malam mereka tiba di Amsterdam. Ditambah tak ada serangan lain yang menyusul, membuat keduanya memutuskan untuk berpikir bahwa mungkin saja penembakan tersebut adalah salah sasaran. Karena memang tembakan yang diarahkan kepada mereka, sama sekali tak mengenai keduanya.Richard tak ingin memusingkan hal yang belum pasti. Dia lebih fokus membiarkan Sheryl dan Lincone melakukan banyak kegiatan bersama seperti membuat kue lalu menjualnya, mengumpulkan hasil penjualannya untuk membantu beberapa orang yang membutuhkannya.Kegiatan bermanfaat tersebut membuat kedekatan Sheryl dan Lincone serta Lindsay semakin kompak dalam mengerjai Richard. Sheryl bahkan sudah menganggap Lincone seperti mendiang ibunya.Richard merasa tak masalah jika dirinya menjadi bahan bullyan dari ibu dan kekasihnya serta jangan lupakan seorang bibi yang tak pernah membelanya. Ketiga wanita itu
"Richard!" pekik Sheryl.________Sheryl berlari menghampiri Richard yang bersandar di pintu mobilnya.Mata Richard terpejam menahan sakit di perutnya yang tertancap pisau belati.Beberapa orang yang berada di sana, seketika mengerumuni mobil Richard. Semua yang menyaksikan penyerangan tersebut tampak panik dan tercengang melihat seseorang terluka parah.Seorang pengunjung yang ikut menyaksikan penyerangan tersebut, berinisiatif menghubungi ambulans dan polisi.Richard terduduk lemas di aspal. Darah di perutnya keluar cukup banyak hingga membasahi hampir ke seluruh bagian depan kemeja putihnya.Dengan wajah pucat pasih, dia berjongkok di hadapan Richard. Tangannya bergetar hendak melihat luka tusuk yang di dapat kekasihnya."No… No…,Richard kau harus bertahan. Aku akan membawamu ke rumah sakit," tekad Sheryl dengan suara bergetar.Dirinya hendak bergegas membuka pintu m
Richard tak percaya harus mendapat penolakan langsung dari Sheryl dengan cara yang tak sopan, karena setelah itu terjadi… Sheryl pergi menggunakan taksi tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.Dirinya kesal setengah hidup. Dan membubarkan para penonton dan orang-orang yang membantu sandiwaranya tadi.Dia menendang udara sambil mengumpat tak karuan, menggerutu kesal karena semua surprisenya berakhir sia-sia dengan penolakan dan kemarahan Sheryl kepadanya.Saat sedang menggerutu kesal sambil membuang semua bunga dari dalam mobilnya. Seorang wanita menghampirinya dan menawarkannya bantuan."Eherm… kau butuh bantuan?" tawar suara yang sedikit serak itu. Terdengar tak asing bagi Richard.Lantas pria yang baru saja ditolak lamarannya itu pun menoleh dan terkejut akan kehadiran wanita tersebut."Shello? Kapan kau ke sini?" tanya Richard sambil menyandarkan diri di pintu bagasi mobil yang baru ditutup olehnya.Dengan kedua tangan ya
—21—Sheryl mendengus kesal di sepanjang perjalanannya yang begitu jauh dan terlalu lama itu. Entah kemana Leonard membawanya. Dia sungguh lelah dan sangat ingin istirahat. Namun sepertinya percuma menanyakan kemana tujuan Leonard membawanya. Karena dia yakin pria itu tak akan memberitahukan tujuannya.Sheryl yakin, Leonard takut jika memberitahukan kemana tujuannya. Sheryl akan membocorkannya kepada Shello.Namun dirinya gerah untuk duduk diam tanpa bicara… dan bibirnya terlalu gatal untuk tak mengeluarkan semua pertanyaan yang sudah menempel di benaknya selama ini."Hah… sebenarnya kau ingin membawaku kemana?!" tanya Sheryl ketus."Ke sebuah rumah," jawab Leonard ringan."Heh... Sudah pasti kau akan menjawab begitu!" tukas Sheryl. Memutar manik matanya malas."Aku ingin kau tinggal di sana beberapa hari," jawab Leonard singkat."Aku tak ingin tinggal denganmu! Jika Shello tahu,
—22—Richard dan Shello memasuki Apartemen ibunya tanpa merasa curiga sama sekali saat tiba dalam keadaan di ruang tamu yang sedikit berantakan.Sampai dia menemukan Ibu dan Bibinya terlihat aneh dengan adanya air mata di ujung matanya. Seketika Richard menghampiri keduanya dengan wajah panik dan khawatir."Mom… Aunty, ada apa? Apa Sheryl belum ke sini? Kenapa kalian menangis?" tanya Richard cemas.Lincone dan Lindsay hanya bisa menatap Richard dengan sendu. Mereka juga tak tahu bagaimana harus menjelaskan kejadian yang begitu cepat berlalu.Padahal sebelumnya mereka begitu antusias menyiapkan kejutan untuk Sheryl, saat selesai menerima lamaran dari Richard. Namun nyatanya? Semua kegembiraan itu lenyap begitu saja dan berganti dengan kepergian Sheryl yang seolah memiliki hubungan lain dengan pria lain.Begitulah pemikiran Lincone dan Lindsay saat ini."Dia sudah pergi, Riri…," ujar Lincone li
—23—"Marco…, kau-kah itu?"______Langkah pria yang turun darijeepitu terdengar kasar dan di saat dia sudah tiba di hadapan Sheryl, tampaklah wajahnya yang membenarkan tebakan Sheryl."Sedang apa kau di sini, Sheryl?" tanya Marco. Dia mengerutkan keningnya memperhatikan gerak gerik Sheryl yang seakan baru saja melarikan diri dari markas mafia berbahaya.Dengan terbatah-batah Sheryl berujar sambil mengatur napasnya. "Hah… beruntung kau di sini, Marco. Tolong… bawa aku ke kota. Aku ingin kembali ke tempat kakakku," pinta Sheryl. Dia sedikitpun tak merasa curiga terhadap Marco yang seharusnya bisa ia tanyakan…sedang apa Marco di sini?Namun keadaannya saat ini lebih mendominasi pikirannya untuk pergi dari tempat itu lebih dulu."Tentu. Ayo… naiklah ke dalam mobilku," ajak Marco.Sheryl mengangguk t
_EPILOG_Richardberdiam menatap pergerakan Sheryl yang sedang sibuk ke sana ke sini. Mencari-cari gaun yang cocok untuk dikenakan wanita itu.Ini adalah salah satu cara Richard untuk tetap bisa berada dekat dengan Sheryl, walau tetap hanya dalam jarak yang tak kurang dari satu meter. Setidaknya, ia masih bisa melihat wanita itu.Di sebuah butik terlaris di kota London tepatnya di kawasan Knightsbridge. Sebuah kawasan pemukiman elit dan retail eksklusif di London barat. Tempat ini disebut sebagai rumah bagi toko-toko mahal dari fashion inggris dan international. Termasuk department store terbesar di inggrisharrodsdan departmentharvey nichols.Bisa dikatakan semua itu sangat berlebihan bagi Sheryl. Namun baik Ibu dan Anak itu tak memikirkan masalah biaya. Apalagi semua ini demi pernikahan mereka… Richard hanya ingin memberikan yang terbaik bagi wanitanya saat ini.Dan
_THE END_ Tiga hari kemudian... Setelah para wanita beraksi meyakinkan Sheryl... Dan mereka mendapatkan kegagalan yang sama. Sheryl sama keras kepalanya dengan Richard. Hingga Kingswell harus kembali turun tangan demi memaksa Sheryl untuk menemui Richard. Sheryl yang merasa berhutang budi kepada Kingswell, terpaksa menuruti perintah Kingswell untuk menemui Richard. Maka dari itu… disinilah Sheryl. Berdiri di hadapan pria yang memunggunginya menatap jendela kaca yang terbuka, membiarkan udara masuk ke dalam kamarnya. Menghembuskan angin ke kulit tubuh liatnya yang tak mengenakan apapun. Begitu juga dengan Sheryl yang melipat kedua tangan di depan dadanya. Merasakan hembusan angin yang bertiup menerpa kulit wajah dan menerbangkan rambut yang digerai ke belakang bahunya. "Richard… aku hanya akan menjelaskannya sekali, kau harus mengerti keadaanku…. Aku-" "Aku mengerti, Sheryl…." Richard memotong ucapan Sheryl. Dia berbalik dan menatap dingin wanita itu. Bagaimana ia tak mara
—44— Sheryl melongo tak percaya melihat Richard yang bertingkah menyebalkan seolah tak terjadi apapun. Ditambah dengan ucapannya yang mampu membuatnya menyesal telah menangisi pria itu beberapa malam terakhir. Sheryl mengedipkan matanya berkali-kali saat Richard menyuruhnya istirahat. "What the he—" "Hei… ini tempatku… kenapa kau bertingkah seolah aku yang menumpang disini?!" tukas Sheryl. Melangkah dengan tergesa mengejar Richard sebelum pria itu menutup pintu kamarnya. Rasanya ia sangat ingin memberikan satu tamparan lagi untuk menyadarkan pria tersebut. “Kau! Sungguh tak tahu malu! Bisa-bisa nya kau bertingkah seolah tak ada yang terjadi, bahkan beberapa menit sebelumnya. Kau datang dan mengungkapkan penyesalanmu. Aku tak percaya jika seperti ini tingkahmu!” Sheryl menukas bertubi-tubi. Hingga tanpa sadar dirinya telah masuk ke dalam kamar dan pintunya sudah ditutup rapat saat Richard memutari dirinya ketika Sheryl menunjuk Richard menggunakan telunjuknya. Lalu pria menyebal
—43—Richard bergegas setelah limosin Jjonathan keluar dari gerbang rumahnya beberapa menit setelahnya.Dia memakai mantel nya dan beranjak keluar menggunakan helikopternya. Membelah langit yang cukup mendung namun tak menyurutkan semangatnya untuk mencari wanitanya.Sialan kau Nathan! Ucapanmu seperti mantra di kepalaku, berputar terus berulang-ulang. membuat telingaku berdengung!batin Richard.Ia mulai mengudara menggunakan helikopter. Dia berniat mencari Sheryl ke Rusia. Tempatnya dulu bermalam saat misi bersama dengan Sheryl untuk pertama kalinya.Richard teringat, setelah kedatangan Jonathan ke rumah. Mengingat pertemuannya dengan Sheryl ketika mereka membantu Jonathan menyerang kakeknya sendiri.Selama beberapa hari ini… bukan Richard tak mencari keberadaan Sheryl… Dia mencarinya, beberapa hari setelah kepergian ayah dan ibunya. Namun Sheryl telah pergi dari kediaman Wilfred di
—Special Part—_From Extra Part 2__Dari novel My Dangerous Secret_Sebuah jasa seorang sahabat, tak akan pernah bisa dibayar dengan uang atau apapun yang berharga di dunia ini. Setiap pengorbanan harus dibayar dengan pengorbanan juga.Sahabat yang tak meminta balas budi. Namun sahabat lainnya ingin membalas budi. Begitu-lah prinsip hidup seorang Jonathan Walz.Dia berhutang banyak kepada Richard. Sahabat konyolnya yang saat ini sedang butuh pertolongannya. Seorang playboy dari London, mulai tersesat oleh perasaan cinta.Membutakan mata dan hatinya. Membuat seorang Dowson menjadi bodoh.Sheryl Calla Wilfred, wanita yang sempat menyamar sebagai David -pengawal pribadi Kingswell-. Nyatanya mampu membuat Richard bertekuk lutut, hingga sebuah pengkhianatan membuat sahabatnya begitu murka.Dan saat ini... Hanya Jonathan yang dibolehkannya masuk ke dalam kamarnya. Karena menu
—42—Richard menatap punggung Sheryl yang berjalan kembali menghampiri keluarganya. Tatapannya begitu lekat hingga dia tak menyadari kehadiran keponakannya yang begitu pandai membaca situasi. Anna memiringkan kepalanya demi mendapat perhatian Richard agar menoleh ke sampingnya tepat di mana ia berdiri sambil bersedekap dada."Aku sungguh heran dengan masalah orang dewasa, jika memang tak bisa melepaskan orang yang dicintainya. Mengapa harus dipaksakan untuk berpisah?!" sindiran Anna kali ini sukses membuat Richard menoleh.Dengan tatapan sinis Richard memicingkan matanya kepada Anna yang menatap Sheryl."Hei... Anak kecil, tahu apa tentang urusan orang dewasa?!" tukas Richard."Aku tahu. Karena selama ini, daddy Leon dan ibuku... Tak pernah bersikap seperti kedua orang tua temanku yang lain. Mereka hanya saling menjaga untuk membuatku berpikir bahwa mereka adalah orang tuaku.""L
-41-Beberapa bulan sebelumnya....Marco mengetuk sebuah pintu apartemen sederhana milik dua orang wanita paruh baya yang begitu dihormatinya.Karena di dalam sana tinggallah seorang ibu dan bibi yang memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas asli mereka yang sebenarnya. Jauh sebelum mereka menikah dan memiliki anak.Bel pintu ditekan sebanyak dua kali, lalu tak lama suara dari sambutan wanita yang dirindukannya terdengar meminta Marco untuk menunggu sebentar."Hah... siapa lagi yang datang. Yang satu pergi dan yang lain akan datang, kapan hidupku akan tenang jika seperti ini!"Terdengar gerutuan suara wanita paruh baya yang menggerutu, lalu membukakan pintu untuk Marco masuk."Mom...," panggil Marco. Lalu memeluk ibunya sambil mengusap punggung wanita paruh baya itu."Hah... ternyata kau, kenapa baru datang setelah semuanya pergi?!"
—40—Richard, Sheryl dan Shello mengikuti langkah Rebecca yang tergesa walau tertatih-tatih mereka bergegas menuju ruang bawah tanah yang terdapat di perpustakaan dan memiliki lantai kayu yang menjadi pintu rahasia ruangan penyekapannya selama ini.Setibanya mereka di ruang penyekapan..., bau lembab mulai tercium... hawa udara yang sungguh tak layak terasa di kulit mereka. Penerangan seadanya dengan dinding bercat gelap dan lantai semen yang berdebu menunjukkan ketidak layakan tempat tersebut untuk ditinggali oleh manusia.Cahaya lampu dari luar terlihat menyinari di bagian sudut ruangan, yang terdapat Sergio sedang berdiri sambil memegang sebuah remote bertombol merah. Dinding yang telah dihancurkan menggunakan bom yang sudah di pasang oleh Sergio di dalam keadaan genting seperti ini. Adalah satu-satunya alternatif jalan untuknya melarikan diri.Saat turun dari ruang pribadinya... ia berkata kepada Leonard dan Marco akan meng
-39-"Why are you silent, Black Swan? Are you surprised to see me so real?"tanya Richard.______Richard berjalan mendekati Sheryl yang masih enggan menatap ke dalam matanya. Dia tahu wanita di hadapannya itu menjadi canggung dan segan setelah apa yang dilakukan kepadanya.Richard berdiri menjulang di hadapan Sheryl. "Look at me Black Swan...,"perintah Richard. Namun wanita itu tetap menunduk dan malah menggeleng sampai seketika air matanya menetes serta getaran dibahunya mulai terlihat karena tangisnya yang semakin kuat.Richard menaikkan dagu Sheryl, mendongakkan kepala wanitanya. Melihat air mata yang keluar dan mengalir dipipi mulusnya."Kau menyesalinya?" tanya Richard berbisik.Sambil mengusap air mata Sheryl. Menangkup pipinya, lalu menelusupkan jari tangannya ke rambut