"Sudah, Bu, aku males dengarnya. Berisik tahu enggak! Aku 'tuh enggak mau masukin omongan negatif apa pun yang dilontarkan orang pada diriku. Mendingan aku berbuat sesuka hatiku yang membuatku bahagia pasti Ibu paham, dong!” jawab Mbak Ning.“Iya, Ibu, paham. Ya, sudahlah Ning, terserah kamu saja yang penting Ibu sudah menasehatimu, jadi jangan salahkan Ibu kalau suatu saat nanti kamu kenapa-kenapa. Ya, sudah, sana pulang sudah malam ini!"“Ibu, mengusir kami? Lah, yang punya rumah aja belum nyuruh kami pulang kok, Bu! Kok, lama-lama Ibu tega dan jahat sekali, ya, sama aku? Mentang-mentang sekarang sudah ikut Ita, hidupnya enak. Ingat enggak dulu Ibu waktu susah siapa juga yang ngasih Ibu makan tiap bulan kalau bukan aku, kok, sekarang Ibu semena-mena, ya, kesel aku sama ibu!”“Kapan kamu ngasih Ibu? Dulu waktu Ita susah, waktu Ibu susah itu juga uang Ibu yang Ibu kasih ke kamu. Ibu kan, punya penghasilan ladang, sawah, dan kebun sayuran, lah kamu ngasih uang Ibu sebulan dua ratus
POV Mbak Ning.****Aku kesal sekali pada adikku Ita. Bagaimana bisa dia menolak keinginanku. Sudah jauh-jauh aku datang dari rumahku ke sini menghabiskan banyak bensin hanya untuk meminta tolong padanya. Rupanya Ita yang sekarang jauh berbeda sekali dengan Ita yang dulu. Aku benar-benar kecewa padanya, tapi aku bisa buat apa semua keputusan dia yang buat.Parahnya lagi kedua adik iparku ini sungguh menyebalkan. Mereka bisa-bisanya membuka aibku dan juga suamiku pada ibuku, kalau sudah begini aku pasti kan, Ita dan Ibu tidak akan pernah lagi punya belas kasih pada kami. Padahal niatku datang ke sini memang untuk meminjam uang pada mereka agar uang kami tetap bisa utuh.Memanglah benar selama ini aku dan suamiku merongrong orang tua suamiku. Mereka itu kan, punya uang, punya pensiunan, punya kebun, untuk apa kalau tidak aku manfaatkan. Kan, kalau melihat anak dan menantunya hidup berkecukupan dan juga ke mana-mana pakai mobil pasti mereka juga yang akan bahagia. Lalu kenapa ibuku mala
“Benar apa yang dikatakan Ibu, Mbak Ning. Pulanglah Aku tidak akan memberikan pinjaman itu padamu. Mas Danu butuh modal. Kami akan membuka toko satu lagi. Kalau uang itu dipinjamkan pada Mbak Ning, kami tidak jadi buka usaha dan itu uangnya tidak akan berputar. Tolonglah Mbak pahamlah, sekali lagi aku minta maaf aku tidak akan pernah memberikan utangan itu pada Mbak Nining,” jawab Ita kekeh.“Kamu itu jahat sekali, Ita! Kamu sudah menolak keinginan Mbakmu ini. Ya, sudah kalau kamu tidak mau memberikan pinjaman pada Mbakmu ini tidak apa-apa, tapi kalau terjadi sesuatu pada kami kalian harus bertanggung jawab terutama kamu, Ita, karena sudah pelit pada Mbak!” bentakku.“Sudahlah, ayo, Dik, kita pulang sudah malam ini kasihan anak-anak kita! Mereka sudah ngantuk biarlah nanti aku akan minta uang pada orang tuaku saja,” sahut suamiku. Duh, dasar laki-laki dong-dong, malahan berkata begitu. Itu akan semakin membuat Ita tidak mau memberikan pinjaman padaku.“Tidak mau, Mas, kalau kita pula
"Apa mereka sudah pulang, Ta?” tanya ibu padaku. Aku hanya mengangguk saja sambil mengunci pintu depan.“Baguslah kalau mereka sudah pulang. Ibu sudah pusing sekali memikirkan Mbakmu itu yang suka sekali memaksa kehendaknya. Apa kamu memberikan pinjaman pada mereka 100 juta rupiah, Ita?” tanya ibu lagi. Aku menggeleng. Aku tidak sebodoh itu. Aku tidak mau dimanfaatkan oleh Mbak Ning. Aku tahu betul sifatnya Mbak Ning seperti apa, makanya aku tidak mau memberikan pinjaman itu sekalipun Mbak Ning mengemis-ngemis padaku.“Tidak, Bu, aku hanya memberikan pinjaman 2 juta rupiah dan aku tegaskan bulan depan untuk membayarnya, Bu. Aku tidak mungkin juga meminjamkan uang sebanyak itu pada Mbak Ning. Ibu kan, tahu sifat Mbak Ning itu seperti apa?” jawabku.“Ahh ... Ibu lega sekali. Syukurlah kalau kamu tidak jadi meminjamkan uang itu kepada Ning. Ibu benar-benar jengah padanya. Ya, sudah ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat, Ta. Maafkan Ibu yang tidak bisa membantumu untuk bicara bai
"Iya, Mas, aku pun sependapat dengan kamu. Siapa ya, Mas, yang iseng pada keluarga kita? Padahal kita ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk jadi orang baik.”“Hanya Allah yang tahu, Dik, tugas kita yang penting mencoba ikhtiar untuk menghilangkan gangguan-gangguan jin itu dari diri kita dan juga rumah kita.”“Kalau besok kita ruqyah berarti kita tidak bisa menemani Nok, di kantor polisi dong?” “Iya, tidak bisa! Besok kita katakan saja yang sejujurnya pada, Nok, semoga saja semuanya berjalan lancar, tapi kalau ada yang coba-coba untuk memanipulasi hukum kita harus bantuin kasihan, Nok. Dia harus terima keadilan.”“Iya, Mas, aku setuju itu. Ayo, Mas kita bersih-bersih badan, wudu, dan diminum ini wedang jahenya, lalu kita tidur!” ajakku.Baru juga terpejam beberapa jam, aku terpaksa bangun lagi karena seperti ada yang memanggil-manggil namaku. Kulihat jam masih jam 03.00 dini hari. Baiklah aku akan mandi dan juga salat tahajud terlebih dahulu.Kenapa kamarku ini hawanya panas s
“Jangan pergi, Mas! Di sini saja itu pasti jebakan," kataku pada Mas Danu, yang sudah terlanjur ke luar kamar.Aku pun bergegas mengejar Mas Danu. Kupakai jilbabku dengan asal, lalu membangunkan ibu dan bapak dan juga Mamah Atik. “Bangun, Mah! Itu Mas Danu ke luar rumah sendirian!” teriakku menggelegar di depan pintu kamar Mamah Atik.Untung saja bapak dan ibu sudah bangun karena memang ini sudah menjelang subuh. Bapak bergegas membuka pintu ruang tamu dan mengajar Mas Danu ke samping kamarku.Saat kami sampai di samping kamarku, kami melihat Mas Danu sedang diam berdiri terpaku. Kami pun kaget karena melihat di hadapannya Mas Danu ada Mbak Asih. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Mbak Asih ada di sana.“Asih, Ya, Allah, kenapa kamu ada di sini? Apa yang kamu lakukan di sini, Asih?” tanya Mama Atik, beliau menghampiri Mbak Asih dan berusaha mengajak Mbak Asih masuk ke dalam, tapi gandengan tangan Mama Atik ditepis oleh Mbak Asih. Mbak Asih menatap kami satu per satu lalu menat
"Menurutku juga begitu, Mah, tapi sampai saat ini aku pun bingung siapa orangnya. Kalau memang tidak suka dan kalau memang kami banyak salah harusnya datang dan bicara baik-baik. Selama ini 'kan aku dan Mas Danu tidak pernah mempersulit urusan orang lain. Aku dan Mas Danu juga selalu welcome jika ada orang yang mau mengkritik kami.”“Itulah, Ta, namanya juga hidup sebaik apa pun kita pasti akan ada saja yang membenci dan tidak suka. Kita sudah bersabar, tapi mereka melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia dan ini sebenarnya yang mengerikan.”“Iya, Mah. Mamah benar. Apa sebaiknya aku kumpulkan semua keluarga Mas Danu dan mengadakan semacam acara reuni keluarga agar aku dan Mas Danu bisa menilai mana yang suka dan yang tidak suka?”“Begitu pun juga bisa, Ta, tapi kita harus pikirkan matang-matang keluarga Danu banyak, tidak mungkin juga kita bisa mengawasi mereka satu persatu. Kalau saran Mamah, kalian mengadakan syukuran yang dihadiri bukan hanya sehari dua hari, maksimal
"Asih, yang benar saja? Kamu itu tadi di sana bawa batu. Kamu yang lemparin jendelanya Ita, kan?” sahut ibu. Mbak Asih, menggeleng bahkan terlihat seperti orang bego.“Tidak kok, Bulek, untuk apa aku ngelemparin kamarnya Ita, kan itu sama aja dengan mengganggu dia istirahat. Tadi itu Bulek, beneran ada orang di sana aku kira itu Danu atau pencuri makanya aku datangi, tapi sampai di sana orangnya tidak ada,” jawab Mbak Asih sambil memakan kue cubit.“Akan tetapi, Sih, di tangan kamu itu ada batu yang untuk melempar kamarnya Ita,” kata Mama Atik. Lagi-lagi Mbak Asih seperti kebingungan. Dia seperti memikirkan sesuatu dan menurutku apa yang diucapkan Mbak Asih adalah benar sebab Kalau Mbak Asih berbohong nada bicaranya tidak seperti itu. Aku kenal Mbak Asih sudah lama dan aku tahu betul sifatnya dia.“Apa mungkin orang itu lari lalu memberikan batu itu ke Asih?” tebak bapak. “Bisa saja begitu, tapi kenapa Asih tidak tahu kalau batu itu diberikan oleh orang lain padanya,” sahut Mamah
Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro
"Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah
Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,
“Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela
"Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b
“Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja
Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me
"Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s
"Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din