Hari pernikahan Caraline dan Diego akhirnya tiba. Tayangan televisi sudah menayangkan acara sejak pagi, begitupun dengan saluran internet. Perhatian publik seolah tersedot pada momen kebahagian dari pasangan yang digadang-gadang sangat sempurna tersebut.
Jalanan kota Heaventown tampak macet sejak pagi. Kendaraan merayap perlahan. Suara klakson yang berbunyi saling bersahutan dengan umpatan para pengendara. Di lokasi acara, para pelayan dan pegawai tampak sibuk untuk mempersiapkan semuanya. Satu per satu tamu undangan hadir dan memasuki ruangan acara.
Di antara hiruk pikuk acara tersebut, seorang wanita bertubuh ramping dengan gaun hitam dan kacamata berwarna senada berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah penuh percaya diri. Di tempat berbeda, Helen perlahan membuka matanya dan mulai terbangun dari koma. Beberapa pengawal yang mengawasinya langsung menghubungi dokter.
Wanita bergaun hitam itu berdiri tak agak jauh dari ruangan Helen, mengawasi ruang
Hanya dalam kurun waktu satu jam lagi, Caraline akan resmi menjadi istri Diego. Saat ini, wanita itu tengah berada di ruangan persiapan. Tiga orang penata rias tengah menangani make up dan busana yang akan dirinya kenakan untuk pernikahan ini.Caraline hanya menatap kosong pantulan dirinya di cermin. Layar televisi masih menyiarkan persiapan pernikahan yang akan segera digelar. Grace dan tiga orang maid juga berada di dalam ruangan untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan.Caraline hanya menunduk dan menangis ketika Grace menceritakan bahwa dirinya tiba-tiba saja berlari ke pingiran danau sembari terus berteriak memanggil nama Deric. Apa yang ia lihat saat sore itu nyatanya tak lebih dari sekadar fatamorgana semata. Pada kenyataannya Deric sudah pergi jauh darinya.Caraline mengakui jika hasil riasannya benar-benar sempurna, pun demikian dengan gaun putih panjang dengan ornamen bunga yang dikenakannya. Caraline menatap anting pemberian Deric di da
Caraline sontak terhenyak ketika membaca kalimat terakhir di lembaran buku harian Carla. Matanya membulat seiring dengan napasnya yang mendadak tertahan. Wanita itu kemudian mengembus napas panjang bersamaan dengan gelengan kepala.Caraline terdiam selama beberapa waktu, memindai keadaan sekeliling. Jantungnya mendadak berdebar dengan kencang. Semua bayangan mengenai sosok Deric kini memenuhi isi kepalanya. Ia kembali membaca cacatan dari atas hingga bawah untuk memastikan jika apa yang dibacanya tadi tidaklah keliru. Akan tetapi, keterangan ia dapatkan tetaplah sama.“Jadi ... yang menolongku saat kecelakaan itu adalah Deric,” gumam Caraline sembari memegang jantungnya sendiri. “Dan sosok yang menabrak Deric adalah Carla, bukan aku.”Caraline mengepal tangan kuat-kuat. Ia berusaha menahan tangisan yang berusaha mendobrak ketegaran. “Deric.”Caraline mendongak, menyandar punggung ke sandaran kursi. Ia mendadak terbayang
Caraline tak bisa lagi membendung kesedihannya lebih lama. Tangisnya kembali pecah membasahi pipi. Ia memeluk erat buku harian itu seperti tengah mendekap Carla. Semua banyangan kehidupannya bersama adiknya kembali bermunculan. Kesedihan, penyesalan dan kerinduan silih berganti menyesaki perasaan.Caraline jatuh dari sofa dengan kondisi masih memeluk buku harian Carla. Tubuhnya berguncang hebat hingga suara tangis akhirnya muncul ke permukaan. Grace dan tiga orang maid yang mendengarnya langsung memasuki kamar dengan wajah panik.“Astaga, Nona.” Grace dengan cepat memeluk Caraline, berusaha membawa wanita itu kembali ke atas sofa. Akan tetapi, ia justru kesulitan karena tubuh Caraline kembali jatuh ke lantai.Ruangan dipenuhi oleh tangisan untuk beberapa saat. Caraline benar-benar tak ingin pernikahan ini terjadi. Ia juga tidak menjadi pendamping monster menjijikkan seperti Diego, yang dirinya inginkan saat ini hanyalah Deric, pria yang dici
Seisi ruangan menjadi gempar dengan kabar tersebut. Semua pandangan langsung tertuju pada Diego. Tayangan televisi dan saluran internet seketika menyorot keterkejutan yang menimpa tamu undangan dan Diego. Beberapa tamu undangan tampak berbisik dengan tatapan menyelidik.“Ini pasti sebuah kesalahan, Tuan,” ujar Diego dengan wajah yang masih memaksakan senyuman, “aku sama sekali tidak terlibat dalam kejahatan apa pun. Aku bisa membuktikan bahwa aku bersih dari semua tuduhan itu”Diego mengepal tangan kuat-kuat. Pria itu tak bisa membendung keterkejutan. Ia sudah menyuap mulut-mulut petinggi kepolisian dan pemilik media untuk menutupi kejahatannya. Akan tetapi, yang terjadi justru di luar kendalinya. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya saat ini adalah adanya sosok besar di balik peristiwa ini.Henry Hulbert tiba-tiba berdiri, berjalan meninggalkan ruangan. Aksinya langsung menjadi sorotan media dan perhatian orang-orang di dalam ruangan.
Asap perlahan menghilang ketika kipas angin besar dari empat sudut ruangan menyala. Alhasil, ruangan kembali ke keadaan sediakala. Banyak tamu undangan yang sudah tak sadarkan diri di lantai, termasuk Jeremy, Jonathan dan James. Hal serupa juga terjadi pada beberapa pengawal, polisi, awak media yang berada di luar ruangan.“Menjauh dari sepupuku, Diego!” Catherine tiba-tiba saja memukul punggung Diego dengan tongkat kayu. “Kau sudah melewati batasmu.”“Catherine, apa yang kau lakukan?” tanya Wilson terperangah. Ketika melihat asap putih itu keluar, ia dengan cepat memakai masker, memberikan satunya pada Catherine dan juga meminta sepupunya itu menahan napas.Diego hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada kursi. Ia merogoh pistol kecil dari kaus kaki, kemudian menembakkannya pada Catherine. “Matilah, wanita sialan!”Catherine langsung terjatuh ketika bahunya tertembak. Darah dengan cepat mengali
Caraline merasakan tubuhnya ditarik paksa ke belakang, di mana mulutnya ikut disekap dengan kuat. Ia berusaha menjerit, tetapi apa daya dirinya tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan tindakan lawan.“Diamlah, wanita rendahan,” bisik Diego dengan wajah penuh amarah sembari menarik Caraline menuju helikopter. Ia berdecak ketika tangannya digigit oleh oleh wanita itu. “Bawa aku pergi dari tempat ini.”Caraline terus-menerus berontak. Ia tidak ingin pergi bersama Diego, terlebih menjadi istri dari monster menjijikan itu. Untuk itulah, dirinya harus bisa melepaskan diri secepatnya.“Kau hanya akan membuat dirimu semakin menderita, wanita rendahan!” Diego kian menarik paksa Caraline dengan sekuat tenaga. Seorang anak buahnya segera membantunya membawa Caraline ke dalam helikopter.“Cepat terbangkan helikopter ini!” perintah Diego kemudian.Helikopter mulai meninggalkan rooftop. Caraline ma
“Tuan, Diego sudah membawa Nona Caraline ke dalam helikopter,” ucap seorang pengawal sembari mendekat pada Thomas.Tiga buah helikopter dengan cepat mendarat di rooftop.“Nona Caraline sempat berteriak jika Diego memerintahkan bawahannya untuk meledakkan gedung ini,” lanjut pria itu.“Tenanglah,” jawab Thomas, “aku sudah memerintahkan Lucy untuk mengatasi hal itu.”Lucy tiba di rooftop bersama lima pengawal, mendekat ke arah Thomas. “Aku sudah mengatasi bom yang terpasang di seluruh gedung ini, Tuan. Aku bisa memastikan jika gedung ini aman.”“Bagaimana dengan para tamu undangan dan yang lain?” tanya Thomas.“Aku sudah memerintahkan semua pengawal untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat,” terang Lucy.“Baiklah, kita harus mempersiapkan pasukan untuk menyelamatkan Nona Caraline. Lucy segera kumpulkan informasi mengenai keberadaan Diego dan No
“Sialan! Siapa sebenarnya sosok yang berada di balik ini semua? Kenapa para polisi sialan itu justru berbalik menyerangku?”Diego melempar botol minuman ke dinding hingga isinya berhamburan di lantai. Wajahnya memerah seiring dengan rahangnya yang mengetat. Matanya memelotot tajam ke sekeliling ruangan. Pria itu menarik-narik rambut ke belakang, kemudian berteriak sangat kencang.Diego melempar barang-barang yang ada di atas meja, lalu menendang benda yang ada di dekat kakinya. Pria itu merasa frustrasi bila mengingat kejadian tadi pagi. Namanya dan perusahaannya hancur dalam sekejap di mata publik setelah peristiwa itu. Ia benar-benar hampir kehilangan segalanya.Diego beranjak menuju balkon ketika dirinya mulai bisa mengendalikan diri. Pria itu memandang laut biru yang tengah dicumbu langit sore. Hijaunya hutan yang ada di samping kanan membuatnya sedikit merasa tenang. Sudah hampir beberapa jam ia berada di tempat ini. Tepat satu jam lagi, dirinya