Dalam gua kecil di hutan Aethel, malam menyelimuti dunia luar dengan kegelapan pekat. Cahaya api unggun kecil berkedip lemah, memantulkan bayangan di dinding batu yang kasar. Angin malam bersiul pelan melalui celah-celah gua, membawa aroma daun basah bercampur ketegangan samar—sesuatu mengintai di hutan, namun belum menampakkan diri. Kael duduk bersandar di dinding gua, napasnya sedikit berat sambil memegang lengan kanannya yang terluka. Luka itu—goresan dalam akibat serangan beruang magis sebelumnya—masih terasa nyeri, meski darahnya sudah mulai mengering di permukaan kulitnya. Rasa sakit itu mengingatkannya pada pertarungan sengit yang meninggalkan bekas ini, dan kini dia harus menahan rasa sakit demi kelompoknya. “Kita belum tahu apa yang ada di luar sana,” katanya, suaranya rendah namun penuh kewaspadaan, “Semua harus tetap siaga. Tetapi untuk sekarang, kita istirahat—aku perlu mengatasi lukaku ini.” Sarah berlutut di sisinya, membuka tas kain kecil yang berisikan perban dan
Malam di hutan Aethel terasa semakin gelap, angin dingin bersiul melalui celah-celah pepohonan raksasa, membawa aroma daun basah dan tanah lembap yang bercampur dengan ketegangan samar. Di dalam gua kecil, cahaya api unggun yang berkelap-kelip memantulkan bayangan Kael dan kelompoknya di dinding batu yang kasar. Kael berdiri di ambang pintu gua, matanya yang biru menyipit menatap kegelapan di luar, sementara tangannya yang terluka berdenyut pelan di bawah perban ketat yang baru dibalut oleh Sarah. “Sarah, Laila, Murphy, Sophia—tetap di dalam dan lindungi satu sama lain,” katanya, suaranya rendah namun tegas, penuh kewaspadaan. “Aku perlu tahu apa yang terjadi di luar sana. Jika itu bukan ancaman buat kita, aku akan segera kembali.” Ia melirik ke arah mereka, memastikan posisi mereka aman di balik batu besar dekat api unggun. Sarah mengerutkan dahi, tangannya mencengkeram lengan Kael sejenak. “Kael, lukamu belum sembuh—” protesnya terpotong saat Kael menggeleng cepat. “Aku baik-bai
Malam di hutan Aethel terasa semakin mencekam. Angin dingin berdesir melalui pepohonan raksasa, membawakan aroma darah segar dan bulu basah yang samar tercium di udara. Cahaya bulan yang redup tersaring oleh kanopi tebal, menciptakan bayang-bayang yang bergoyang liar di tanah berlumut. Kael berdiri di tepi lapangan kecil, matanya yang biru menyipit menatap pertempuran sengit di depannya. Jantungnya berdegup kencang saat raungan monyet raksasa setinggi tiga meter mengguncang udara. Luka di lengannya berdenyut tajam di bawah perban, namun ia menahan rasa sakitnya, berfokus pada ancaman yang kini tak bisa dihindari lagi. Ia menoleh ke belakang, melihat Sarah, Laila, Murphy, dan Sophia mendekatinya dengan wajah penuh kekhawatiran. Kael menghela napas pasrah—kelompoknya berkumpul kembali, dan pertempuran yang ia coba hindari sejak awal kini menatap mereka langsung. “Kita tak punya pilihan,” gumamnya, suaranya rendah namun tegas. “Tapi kita tak akan bertarung langsung—kita bantu mereka da
Udara malam di hutan Aethel bergemuruh dengan jeritan monyet. Aroma logam samar dari sisa-sisa Racun Halusinasi Kael masih bercampur dengan bau tanah basah dan aroma anyir darah. Sebagian besar monyet kecil terhuyung-huyung, mata mereka sayu, terperangkap dalam bayangan ilusi yang tak nyata. Namun beberapa mulai tersadar, sayap-sayap kurus mereka bergetar, berusaha membuang sisa-sisa racun yang melekat. Di atas kekacauan itu, pemimpin mereka—monyet raksasa setinggi tiga meter—berdiri tegak, matanya menyala-nyala seperti bara api, penuh dendam. Sayapnya yang robek berkibar ganas, setiap gerakannya memicu gelombang udara yang mengguncang daun-daun di sekitarnya. Raungan kerasnya menggema di antara pepohonan, sebuah tantangan yang jelas bagi siapapun yang berani menghalangi jalannya. Kael, napasnya tersengal, menopang lengan kanannya yang masih nyeri. Di sampingnya, seorang wanita berjubah hijau berdiri tegak, wajahnya tenang namun matanya tajam mengamati setiap gerakan monyet raksa
Hutan Aethel membungkus mereka dalam kesunyian yang mencekam, hanya sesekali dipecah oleh desiran angin yang berbisik di antara pepohonan tua yang menjulang tinggi. Aroma anyir darah dari pertempuran sebelumnya masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tanah basah dan sentuhan samar belerang yang menyengat—tanda kehadiran sesuatu yang luar biasa dan berbahaya. Di tepi sungai luas yang gelap, Kael dan kelompoknya berdiri tegap, napas mereka tersengal, tangan mereka siaga di senjata dan mantra. Jantung mereka berdetak kencang, irama yang selaras dengan gemuruh samar yang mendekat dari langit malam. Api berkobar liar di kejauhan, menari-nari dalam pola rumit yang membentuk bayangan mengerikan di permukaan air hitam dan tanah berlumut. Panas menyelinap ke kulit mereka, membawa aroma asap dan logam cair yang semakin kuat. Kael menggenggam erat bola lendir Sophia di saku mantelnya, matanya biru menyipit ke arah sumber ancaman itu, sementara Sarah menyiapkan Mata Sihir-nya, energi
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan Aethel, membawa kehangatan lembut yang kontras dengan dinginnya malam sebelumnya. Di tepi sungai yang baru mereka lewati, kelompok Kael akhirnya bisa bernapas lega setelah berhari-hari dipenuhi ketegangan. Aroma tanah basah dan kayu tua bercampur dengan bau samar abu dari bulu phoenix Profesor Aldos, yang kini berdiri megah di dekat mereka, sayap apinya meredup menjadi bara lembut. Burung raksasa itu seolah menjadi benteng hidup, menjaga mereka dari ancaman yang masih mengintai di kejauhan, memberikan waktu berharga untuk beristirahat. Kael duduk bersandar pada batu besar, lengan kanannya yang terluka terasa kaku di bawah perban yang mulai kotor. Luka dari serangan beruang magis masih menyisakan denyutan samar, tapi ia menahan keluh kesakitan demi menjaga semangat kelompoknya. Sarah mengatur kayu bakar kecil, menyalakan api sederhana dengan sihirnya, sementara Laila membantu membagi daging monyet yang Sophia bawa—bekal
Cahaya matahari tengah hari menyelinap melalui kanopi tebal hutan Aethel, membentuk bercak-bercak emas yang bergetar di tanah berlumut di bawah kaki mereka. Angin sepoi-sepoi membawa aroma daun basah dan kayu tua, sedikit meredakan ketegangan yang masih menempel di hati Kael dan kelompoknya setelah perpisahan dengan Profesor Aldos. Sungai luas kini jauh di belakang, dan peringatan sang profesor—untuk bersembunyi di desa terdekat—mendorong langkah mereka lebih cepat. Bau samar asap phoenix masih tercium di udara, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lebih liar, seperti bulu basah dan tanah yang baru digali, membuat Kael mengernyit waspada. Kael memimpin di depan, matanya biru memindai hutan dengan hati-hati, tangannya yang baru sembuh berkat potion Aldos kini lebih lincah menggenggam bola lendir Sophia di saku mantelnya. Sarah berjalan di sisinya, langkahnya pelan tapi penuh kewaspadaan, sementara Murphy mengikuti di belakang, pedangnya terselip di sarung tapi jemarinya tak perna
Hutan Aethel membungkus reruntuhan kecil dalam kesunyian yang tegang, hanya dipecah oleh bisikan angin yang menyelinap melalui daun-daun lelet dan suara langkah musuh yang kini mendekati. Kael dan kelompoknya merapat di balik semak tebal, napas mereka ditahan, tubuh mereka menyatu dengan bayang-bayang pohon. Aroma logam tajam dari pemburu Crimson dan bau tinta kering bercampur darah dari Ordo Umbra memenuhi udara, menciptakan ketegangan yang nyaris terasa di kulit. Dua kelompok itu berdiri di dekat altar, hanya beberapa meter dari tempat persembunyian mereka, tapi tak saling bersekutu—mata mereka saling menatap penuh curiga. Pemimpin Ordo Umbra, wanita berambut putih pendek dengan mata dingin, melangkah maju, tangannya menyentuh altar dengan jemari pucat. “Desa itu punya jejak penyihir kuno—kita harus sampai ke sana sebelum mereka,” katanya, suaranya tajam seperti pisau, matanya melirik ke arah pemburu Crimson dengan jijik. Salah satu anak buahnya, pria bertubuh kurus dengan juba
Angin malam berdesir lembut di Teluk Senja, melepaskan aroma garam laut yang berpadu dengan asap ikan bakar dari perapian desa petualang yang terlihat jauh di kejauhan. Cahaya bulan yang lembut memantulkan sinarnya di permukaan air, menciptakan kilauan perak yang bergetar pelan seiring ombak kecil yang menyapu tepi dermaga. Lyra melangkah anggun di dek kapal mewahnya; rambut hitamnya terurai dari ikatan, melambai tertiup angin. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mengundang kelompok Kael menuju meja panjang yang megah di tengah dek. Sup ikan mengepul dalam mangkuk kristal; uapnya menyebarkan aroma rempah laut yang menggoda. Roti panggang keemasan tersusun rapi dalam keranjang anyaman, sementara buah-buahan segar—anggur ungu dan jeruk berkilau—tercermin di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan, menggantung pada tiang-tiang kayu yang dipoles mengilap. Pelayan-pelayan berpakaian seragam hitam bergerak senyap, menyajikan piring dan sendok perak dengan ketepatan terampil. Dent
Kael berdiri di sudut restoran kecil di Nexus, tangannya menggenggam surat dari Lyra. Matanya yang biru menatap kelompoknya yang berkumpul di sekitar meja kayu usang. Kabut ketidakpastian tentang Aldos menyelimuti pikiran mereka—Profesor itu hilang, diselamatkan oleh sosok misterius dari Ordo Cahaya, namun jejaknya lenyap. “Aku rasa kita harus menemui Lyra,” kata Kael pelan, suaranya teguh. “Kami tak punya petunjuk tentang Aldos, dan dia mungkin tahu sesuatu.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh mangkuk sup dingin. “Dia pernah membantu kita—aku setuju.” Murphy melirik kereta kristal maglev di kejauhan. “Lebih baik daripada kita berkeliaran tanpa arah.” Laila, sambil memeluk karung tempat Molly bersembunyi, mengangguk kecil. Getaran soniknya membentuk suara halus: “Ly… ra… bantu?” Keputusan diambil dengan cepat. Teluk Senja, dua puluh kilometer dari Nexus, bukan perjalanan singkat. Transportasi umum seperti kapal terbang sihir atau kereta kristal terlalu berisiko dengan mata-
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg
Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe
Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi
Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k