"Kenapa pagiku bisa sesial ini? Kenapa lelaki brengsek itu muncul di perkebunan sepagi ini? Sial sekali!"
Alia menarik stroller apelnya sambil sesekali melirik kearah Dirga yang tengah berdiri mengawasi kegiatan panen raya hari ini. Dia memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak ketahuan.
"Kenapa Tuan besar itu ada disini pagi-pagi?" tanya Alia pada Mala.
"Kata bos, dia hari ini ingin menyaksikan sendiri proses panen dan mengecek kualitasnya."
"Apakah dia gila? Bukankah seharusnya dia duduk tenang di kantornya yang nyaman dan hanya perlu memerintahkan bawahannya."
"Kamu tahu Keysa, kata bos......pria itu akan mendirikan perusahaannya disini dalam waktu dekat ini dan akan menetap disini dalam beberapa bulan atau beberapa tahun."
"Apa?!"
Teriakan Alia membuat semua mata tertuju kepadanya seketika.
"Pelankan suaramu! Kamu menghindarinya kemarin, apa kamu ingin dia menghampirimu sekarang?"
"Maafkan aku. Tapi kenapa dia melakukan hal itu?"
"Aku dengar-dengar nih, katanya dia sedang mencari istrinya yang kabur dari rumah. Aku heran, kenapa istrinya meninggalkannya."
"Mungkin istrinya punya alasan tertentu."
"Aku dengar juga, katanya dia sudah mencari istrinya tiga tahun terakhir ini. Sepertinya dia sangat mencintai istrinya. Andai saja aku bisa dicintai oleh lelaki seperti itu, pasti aku sangat beruntung."
"Belum tentu, buktinya saja istrinya meninggalkannya begitu saja."
"Apakah sangat menyenangkan membicarakan seseorang?"
Mereka berdua terkejut mendapati Dirga sudah berdiri diantara mereka berdua. Mereka cepat-cepat menunduk dan melangkah mundur.
"Maafkan kami, Tuan Dirga. Kami tidak bermaksud membicarakan anda."
"Hmmmm.. Pergilah."
Meraka berdua segera berjalan meninggalkan Dirga.
"Tunggu! Nona yang pakai topi tetap tinggal di sini"
Deg..! Darah mengalir dengan cepat melewati pembuluh darah Alia. Dia membalikkan badannya kearah Dirga.
"Ada apa, Tuan?"
Dirga menarik tangan Alia dan melingkarkan tangannya dipinggang Alia dengan erat serta melepaskan topi yang Alia kenakan sehingga membuat rambutnya yang panjang terurai dengan indah.
"Aku tahu itu kamu. Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku!"
"Maaf, Tuan. Apa yang anda maksud? Bisakah anda melepaskan saya? ini sungguh tidak pantas."
"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Jadi, lebih baik kamu patuh dan menurut."
"Maaf, Tuan. Sepertinya anda salah mengira." Alia terus berusaha melepaskan diri dari Dirga.
"Alia!" Dirga menarik masker yang dikenakan Alia.
Alia cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka semua yang dia lakukan selama ini akan sia-sia.
Dirga melepaskan tangannya dari pinggang Alia, menatap wajah Alia. Kemudian hal yang tidak Alia sangka akan dilakukan oleh Dirga terjadi dihadapannya.
"Maafkan aku, Alia. Kembalilah bersamaku! Aku sudah mencarimu selama ini." Ucap Dirga sambil bersimpuh dihadapan Alia.
"Aku tidak mau! Pergilah! Aku sangat jijik melihatmu disini." ucap Alia sembari berpaling dan berjalan meninggalkan Dirga begitu saja.
Dirga bangkit dan kemudian mengangkat tubuh kecil Alia dipundaknya dan membawanya dengan paksa.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Kejadian itu disaksikan oleh Mala dan rekan kerja lainnya. Mala segera berlari untuk meminta pertolongan, dia khawatir terjadi sesuatu pada Alia.
Dirga membawa Alia sebuah ruangan dan menguncinya dari dalam.
"Kamu gila?!" hardik Alia.
"Iya! Aku gila!"
"Kamu keterlaluan! Buka pintu itu sekarang, Dirga!"
"Jika aku tidak melakukannya, apa yang akan kamu lakukan?!"
"Aku akan berteriak!"
Dirga mencengkram leher Alia dan mendorongnya di dinding.
"Lakukan! Teriaklah sekencang mungkin!"
Tatapan mata Dirga terliaht begitu beringas. Alia sudah tidak dapat menghindar bahwa identitasnya sudah terbongkar dan merasa tidak ada yang perlu dia sembunyikan lagi.
"Tolong! Apa ada orang diluar? Tolong!"
Bibir Dirga mendarat dengan lembut di bibir Alia dan melumatnya perlahan.
"Brengsek!" Teriak Alia
"Silahkan teriak! maka setiap teriakanmu, aku akan memberikanmu sebuah ciuman."
Alia menggigit bibirnya untuk menahan amarahnya.
"Apa yang kamu inginkan!" tanya Alia.
Dirga melepaskan cengkaraman tanganya di leher Alia.
"Mari kita bicarakan baik-baik." ucap Dirga.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita berdua."
"Tidak, tidak..kamu salah. Justru kita perlu bicara."
"Biarkan aku pergi."
"Kamu harus menjawab satu pertanyaanku terlebih dahulu."
"Apa?"
"Dimana anak kita?"
"Anak apa yang kamu maksud?"
"Terakhir kali aku dengar bahwa kamu sedang mengandung anakku. Ini sudah tiga tahun, harusnya dia sudah besar."
"Kamu bermimpilah!"
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah menggugurkannya!"
Dirga tidak menyangka bahwa dia akan mendengar kalimat yang begitu menyakitkan keluar dari mulut Alia yang mampu menghancurkan harapan yang selama ini dia yakini bahwa dia akan menemukan Alia dan anaknya dan berkumpul menjadi keluarga yang utuh.
"Apa maksud kamu, Alia! Kamu menggugurkannya?" tanya Dirga.
"Iya! Aku sangat membencimu sehingga anak itupun tidak layak ada dalam perutku!"
"Jaga biacaramu, Alia!"
Dirga melayangkan tinjunya mengenai dinding yang berada disamping Alia.
"Seberapa benci kamu terhadapku, kamu tidak pantas membunuh anak yang belum lahir dan tidak berdosa!!!"
Alia berpikir bahwa inilah kesempatannya untuk melepaskan diri sepenuhnya dari Dirga yaitu dengan cara membuat Dirga membencinya.
"Lebih baik anak itu tidak dilahirkan jika hanya akan menjadikan hidupnya dipenuhi oleh orang-orang sampah seperti kalian."
"Lancang sekali kamu!"
Braaaakkk...!!!!
Pintu ruangan itu dibuka paksa oleh beberapa orang dari luar. Terlihat Mala dan pemilik perkebunan serta beberapa rekan kerjanya menatap kearah mereka berdua.
"Maaf, tuan Dirga. Sepertinya ini sedikit tidak pantas. Anda memperlakukan orang saya seperti ini." ucap Rio, pemilik perkebunan tempat Alia bekerja.
"Apakah kamu layak mengguruiku, Rio?"
"Tidak, Tuan. Hanya saja keselamatannya menjadi tanggung jawab saya."
"Kamu pikir aku akan membunuh istriku sendiri?!"
Dirga meninggalkan ruangan itu begitu saja, membuat semua mata tertuju pada Alia yang masih tersandar di dinding.
Alia membuang pandangannya menatap hamparan pepohonan apel dihadapannya.
"Jadi dia suamimu?" tanya Mala
"Aku hanya terpaksa menikah dengannya."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? apa kamu akan melarikan diri lagi?"
"Sepertinya kali ini aku akan memilih untuk menghadapinya saja. Melarikan diri juga percuma."
"Kenapa kamu berbohong kepadanya tentang anak dalam kandunganmu?"
"Aku pikir, lebih baik jika dia membenciku. Jadi, aku akan terlepas dari belenggunya."
"Tapi, sepertinya dia pria baik-baik dan bermartabat."
"Itu yang aku pikirkan saat pertama kali bertemu dengannya. Sudahlah, ayo kita kembali bekerja."
Mereka menyegerakan pekerjaannya dan kembali kerumah masing-masing.
Alia duduk di teras rumahnya, melihat orang yang berlalu lalang.
"Bengong sendirian nih."
Rio duduk di samping Alia, kemudian menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Alia.
"Terima kasih."
"Hmm....Alia.."
"Iya, kenapa bos?"
"Jadi itu tadi suamimu?"
"Bisa dibilang gitu sih."
"Kok gitu?"
"Hahaha"
"Malah ketawa.."
"Aku tidak ingin membahasnya."
"Jadi, apa kamu akan kembali bersama suamimu?"
"Aku sudah memutuskan pergi darinya, jadi mustahil aku akan kembali lagi."
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku belum tahu. Tapi, yang jelas aku tidak ingin kembali untuk saat ini."
"Aku menghargai semua keputusanmu."
"Kamu tidak akan memecatku kan bos?"
"Hahaha, tentu saja tidak."
Mereka berdua tertawa bersama. Namun tawa itu seketika sirna dengan kedatangan Dirga.
"Mau apa kamu kemari?"tanya Alia.
Tatapan mata Dirga tertuju pada Rio yang berada disamping Alia.
"Aku ingin bicara berdua denganmu."
"Maaf, aku sedang ada tamu."
Dirga menarik tangan Alia, menyeretnya untuk masuk kedalam mobil, namun dihentikan oleh Rio.
"Maaf, tuan Dirga. Tidak baik memperlakukan wanita seperti ini."
Dirga memberi kode kepada ajudannya untuk memberikan pelajaran kepada Rio karena berani mencegahnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan pada Rio?"
"Kamu sekarang ada waktu untuk berbicara denganku?"
"Baik, lepaskan dulu Rio."
Dirga menjentikkan jemarinya, kemudian ajudannya menuruti perintahnya.
Dirga kembali menarik tangan Alia masuk kemobilnya, kemudian mobil itu melaju begitu cepat.
"Kita mau kemana?" tanya Alia.
"Hotel."
"Apa maksudmu!"
"Kamu akan mengetahuinya."
"Lepaskan bajumu" "Kau gila?"Alia menggenggam erat kemejanya, dia takut hal itu akan terjadi lagi. Dia sudah berusaha melupakan malam yang penuh mimpi buruk itu. "Kamu pikir kamu siapa?" hardik Alia. "Lepaskan baju dan ganti dengan baju yang ada dilemari itu."Alia membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu, beberapa gaun yang sangat indah berbaris dengan rapi disana. "Apakah aku salah berpikir barusan?" gumam Alia dalam hati. "Pilihlah salah satu yang menurutmu nyaman dan temui aku dalam 10 menit di lobi." ucap Dirga sambil meninggalkan Alia seorang diri. Alia memperhatikan semua gaun yang ada dan mengeluarkannya satu persatu untuk dia lihat. "Apa yang ingin dia lakukan? Memintaku untuk mengenakan gaun-gaun ini?"Alia memilih Evening Gown berwarna Ocean Blue dengan gradasi warna hitam yang bertaburan batu permata yang indah. Ukuran gaun itu sangat pas ditubuh Alia, membuat tubuhnya terlihat begitu seksi dan menawan. Alia merias dirinya dengan riasan yang sederhana dan nat
"Terkejut dengan kedatanganku?" "Hahahaha, tentu saja tidak."Alia sudah menduga bahwa cepat atau lambat Megan juga akan mengunjunginya. Wanita anggun itu masih terlihat angkuh seperti tiga tahun lalu. "Mana anak yang kamu janjikan untukku?" tanya Megan.Alia menyeringai mendengar pertanyaan konyol dari Megan tersebut. Tidak menyangka bahwa mereka berdua akan menanyakan hal yang sama. "Apakah kamu sangat menginginkan anak itu?" "Tentu saja. Anak itu adalah hakku!" "Hakmu?" "Aku sudah menolong keluargamu, jadi jangan tidak tahu diri!" "Menolong keluargaku? Kamu yang mendorongku dan keluargaku masuk kedalam neraka ini!" "Salahkan keluargamu yang miskin itu!"Betapa tajamnya ucapan Megan itu. Ingin sekali Alia merobek mulut tajamnya itu. "Kamu sungguh menginginkan anak itu?" Ledek Alia. "Tentu.!" "Matilah! dan susul anak itu!"Plaaaaak!!!!Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Alia. Namun dia tidak diam saja, Dia kembali menampar Megan dengan sangat keras sehingga meninggalkan
"Pilihlah rumah dan vila yang kamu inginkan. Aku akan membelikannya untukmu."Mereka berdua berkeliling disebuah kantor Real Estate untuk melihat-lihat miniatur rumah dan vila yang dijual di tempat itu. Alia tidak segan-segan lagi untuk menentukan pilihannya. Dia tahu bahwa pria 38 tahun disampingnya ini memiliki uang yang tidak terbatas. "Jangan salahkan aku jika aku memilih yang paling mahal." ucap Alia. "Pilihlah sesukamu. Anggap saja ini hadiah karena kamu memutuskan untuk kembali bersamaku."Tidak dipungkiri memang awalnya Alia enggan kembali ke tempat kelahirannya, namun dia juga sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Dia juga tidak ingin membebani orang tuanya, karena pada hakikatnya anak yang sudah menikah harus keluar dari rumah atau ikut suaminya. Dia juga tidak ingin Megan memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Berada di sisi Dirga saat ini adalah pilihan yang tepat. "Aku pilih yang ini." tunjuk Alia.Sebuah Vila dengan gaya eropa sederhana dengan pemandangan danau p
"Kalian lihat wanita yang datang bersama Tuan Dirga tadi pagi? Dengar-dengar dia adalah sekretaris pribadi tuan Dirga serta istri kedua Tuan Dirga." "Benarkah?" "Serius. Aku pernah melihatnya di acara televisi belum lama ini. Tuan Dirga meresmikan anak perusahaan di Firlandia bersama wanita tadi." "Wah..! Luar biasa sekali. Apakah kamu tahu latar belakangnya?" "Sepertinya dia adalah putri tunggal CEO Perusahaan Furniture di bawah naungan keluarga nyonya Megan." "Serius?" "Gila! Ikatan cinta segitiga yang sangat rumit." "Apakah begitu menyenangkan menceritakan orang lain di belakangnya?"Mereka menoleh ke belakang secara serentak. Mereka terkejut mendapati keberadaan Alia berdiri dibelakang mereka. "Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud membicarakan anda."Alia berlalu pergi meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris pribadi Dirga, dan dia belum begitu paham tugas-tugasnya. Dia hanya duduk saja tanpa melakukan apapun
Alia memperhatikan beberapa tamu yang hadir malam itu, dan tidak ada satupun yang dia kenal. Dia berdiri sedikit menjauh dari keramaian, dia tidak begitu nyaman dengan suasana pesta itu. "Pesta orang-orang kaya ternyata begitu membosankan."Pandangan mata Alia tertuju pada sesaorang yang baru saja tiba di pesta itu bersama seorang wanita yang menggandneg tangannya. "Dirga dan megan?" tanya Alia dalam hati.Terlihat Dirga yang tengah sibuk melayani orang-orang yang menyapanya satu persatu. Namun, tatapan mata mereka tiba-tiba bertemu. Alia cepat-cepat memalingkan wajahnya, kemudian menatap kembali ke arah Dirga yang tersenyum nakal meliahat kearahnya kemudian kembali berbincang-bincang dengan tamu yang hadir malam itu.Penampilan Alia yang begitu anggun dengan paras yang cantik membuat beberapa tamu yang hadir meliriknya sesekali. Apalagi Alia berdiri sendiri tanpa sesorangpun yang menemani. Kecantikan wajahnya dan keanggunannya membuat beberapa tamu yang datang malam itu terpesona da
"Beginikah caramu bersaing denganku?"Alia terlihat sangat marah saatbmenghampiri Megan di kantornya. Kenapa tidak, dia tidak menyangka bahwa Megan akan menggunakan cara yang sangat kotor. "Apakah kamu sudah lupa? Aku yang menyelamatkan keluargamu dari kebangkrutan, aku juga dapat mengembalikannya dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya." ucap Megan dengan angkuhnya. "Apa yang kamu inginkan?" "Sudah jelaskan! Menjauhlah dari Dirga! Kamu sangat tidak layak berada disisinya." "Apakah kamu pikir kamu sendiri layak? Bagaimana reaksi Dirga jika dia tahu kamu melakukan hal seperti ini hanya untuk menjatuhkanku?" "Hahahaha...Apakah kamu bodoh Alia? Dirga ini seorang pebisnis. Dia tidak akan pernah mencampur aduk urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Perusahaan keluargamu dibawah naungan keluargaku dan itu bukan hak Dirga untuk mencampurinya. Lebih baik kamu sadar posisimu! Seberapa keras kamu bersaing denganku, selamanya kamu akan tetap berada dibawahku! Ingat itu!"Alia meninggal
"Apakah begitu nyaman berada dipelukan mantan kekasihmu?"Alia yang baru saja membuka pintu rumahnya terkejut mendapati Dirga yang sudah duduk dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Kamu mengejutkanku!" ucap Alia seraya duduk di sofa tepat dihadapan Dirga. "Apakah kamu sangat menikmatinya?"Alia membulatkan matanya menatap Dirga penuh keheranan. "Apakah dia memata-mataiku?" gumam Alia dalam hati. "Apa maksdumu?" tanya Alia dengan ekpresi sedikit bingung.. "Jangan kamu kira aku tidak tahu semua perbuatanmu di luar sana." "Kamu memata-mataiku?" "Ingatlah kamu milik siapa!"Alia membelalakkan matanya. Dia sangat tidak menyukai sifat Dirga ketika marah. Alia bersiap meninggalkan Dirga. Dia tidak ingin melihat amarah Dirga semakin memuncak. "Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu kecuali aku, Alia!"Dirga menarik tangan Alia dan mencengkram leher Alia dengan kuat serta menghentakkannya di dinding. "Sakit." rintih Alia sambil memegang lengan Dirga. "Kamu tidak bisa pergi begi
Berita itu menyebar begitu cepat bagaikan air yang mengalir begitu deras. Bagaimana tidak, adegan saat Megan menganiaya Alia itu disaksikan oleh hampir setengah karyawan perusahaan Dirga. Terlebih lagi pada saat itu Dirga sedang membawa kliennya menuju ruangannya karena Alia tidak datang membawakan kontrak kerja sama. Hal itu benar-benar menjatuhkan harga diri Dirga, karena bagaimanapun juga publik sudah mengetahui hubungan mereka bertiga. Kejadian itu juga membuat perusahaan Dirga kehilangan kerja sama bernilai jutaan Dolar. "Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?!"Ekpresi wajah Dirga menunjukkan amarah yang begitu mendalam terhadap Megan. "Apa kamu sudah tidak waras?!" tanya Dirga kembali. "Dia yang memprovokasiku terlebih dulu! Kenapa kamu melampiaskan emosimu padaku?!" "Kau dengar baik-baik! Kau tidak seharusnya melakukan itu kepadanya tepat dikantorku!" "Siapa suruh jalang sialan itu membuatmu tidak hadir pada malam penting kita!" "Megan!!!!"PLAAAAKK..!!!!Sebuah tamp
" Nona, ada seseorang yang mengirimkan bunga untukmu?" "Bunga?" "Iya" "Siapa pengirimnya?" "Tidak ada kartu nama dan ucapannya, Nona." "Mungkinkah Dirga?"Alia bertanya-tanya dalam hati siapa yang mengiriminya bunga setiap hari selama dia di rumah sakit. Dia selalu menerima kiriman bunga Daysi Merah setiap pagi, namun tidak pernah dicantumkan nama pengirimnya. "Good Morning" Ucap Dirga yang baru saja muncul dari balik pintu ruang perawatan Alia. "Kamu kenapa kemari?" tanya Alia "Aku menjemputmu. Kata Dokter hari ini kamu sudah boleh pulang." "Aku bisa pulang sendiri." "Ayolah, aku sudah cukp merasa bersalah beberapa hari ini tidak datang menjengukmu." "Kamu tahu kamu salah?" "Maafkan aku. Kamu sebut saja apa yang kamu inginkan, aku akan memberikannya." "Tidak perlu. Aku tidak menginginkan apapun. Aku akan berkemas terlebih dahulu." "Baiklah, aku akan menunggumu dengan sabar."Alia mengemasi barang-barangnya kedalam tas untuk bersiap meninggalkan rumah sakit. "Siapa yan
Berita itu menyebar begitu cepat bagaikan air yang mengalir begitu deras. Bagaimana tidak, adegan saat Megan menganiaya Alia itu disaksikan oleh hampir setengah karyawan perusahaan Dirga. Terlebih lagi pada saat itu Dirga sedang membawa kliennya menuju ruangannya karena Alia tidak datang membawakan kontrak kerja sama. Hal itu benar-benar menjatuhkan harga diri Dirga, karena bagaimanapun juga publik sudah mengetahui hubungan mereka bertiga. Kejadian itu juga membuat perusahaan Dirga kehilangan kerja sama bernilai jutaan Dolar. "Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?!"Ekpresi wajah Dirga menunjukkan amarah yang begitu mendalam terhadap Megan. "Apa kamu sudah tidak waras?!" tanya Dirga kembali. "Dia yang memprovokasiku terlebih dulu! Kenapa kamu melampiaskan emosimu padaku?!" "Kau dengar baik-baik! Kau tidak seharusnya melakukan itu kepadanya tepat dikantorku!" "Siapa suruh jalang sialan itu membuatmu tidak hadir pada malam penting kita!" "Megan!!!!"PLAAAAKK..!!!!Sebuah tamp
"Apakah begitu nyaman berada dipelukan mantan kekasihmu?"Alia yang baru saja membuka pintu rumahnya terkejut mendapati Dirga yang sudah duduk dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Kamu mengejutkanku!" ucap Alia seraya duduk di sofa tepat dihadapan Dirga. "Apakah kamu sangat menikmatinya?"Alia membulatkan matanya menatap Dirga penuh keheranan. "Apakah dia memata-mataiku?" gumam Alia dalam hati. "Apa maksdumu?" tanya Alia dengan ekpresi sedikit bingung.. "Jangan kamu kira aku tidak tahu semua perbuatanmu di luar sana." "Kamu memata-mataiku?" "Ingatlah kamu milik siapa!"Alia membelalakkan matanya. Dia sangat tidak menyukai sifat Dirga ketika marah. Alia bersiap meninggalkan Dirga. Dia tidak ingin melihat amarah Dirga semakin memuncak. "Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu kecuali aku, Alia!"Dirga menarik tangan Alia dan mencengkram leher Alia dengan kuat serta menghentakkannya di dinding. "Sakit." rintih Alia sambil memegang lengan Dirga. "Kamu tidak bisa pergi begi
"Beginikah caramu bersaing denganku?"Alia terlihat sangat marah saatbmenghampiri Megan di kantornya. Kenapa tidak, dia tidak menyangka bahwa Megan akan menggunakan cara yang sangat kotor. "Apakah kamu sudah lupa? Aku yang menyelamatkan keluargamu dari kebangkrutan, aku juga dapat mengembalikannya dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya." ucap Megan dengan angkuhnya. "Apa yang kamu inginkan?" "Sudah jelaskan! Menjauhlah dari Dirga! Kamu sangat tidak layak berada disisinya." "Apakah kamu pikir kamu sendiri layak? Bagaimana reaksi Dirga jika dia tahu kamu melakukan hal seperti ini hanya untuk menjatuhkanku?" "Hahahaha...Apakah kamu bodoh Alia? Dirga ini seorang pebisnis. Dia tidak akan pernah mencampur aduk urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Perusahaan keluargamu dibawah naungan keluargaku dan itu bukan hak Dirga untuk mencampurinya. Lebih baik kamu sadar posisimu! Seberapa keras kamu bersaing denganku, selamanya kamu akan tetap berada dibawahku! Ingat itu!"Alia meninggal
Alia memperhatikan beberapa tamu yang hadir malam itu, dan tidak ada satupun yang dia kenal. Dia berdiri sedikit menjauh dari keramaian, dia tidak begitu nyaman dengan suasana pesta itu. "Pesta orang-orang kaya ternyata begitu membosankan."Pandangan mata Alia tertuju pada sesaorang yang baru saja tiba di pesta itu bersama seorang wanita yang menggandneg tangannya. "Dirga dan megan?" tanya Alia dalam hati.Terlihat Dirga yang tengah sibuk melayani orang-orang yang menyapanya satu persatu. Namun, tatapan mata mereka tiba-tiba bertemu. Alia cepat-cepat memalingkan wajahnya, kemudian menatap kembali ke arah Dirga yang tersenyum nakal meliahat kearahnya kemudian kembali berbincang-bincang dengan tamu yang hadir malam itu.Penampilan Alia yang begitu anggun dengan paras yang cantik membuat beberapa tamu yang hadir meliriknya sesekali. Apalagi Alia berdiri sendiri tanpa sesorangpun yang menemani. Kecantikan wajahnya dan keanggunannya membuat beberapa tamu yang datang malam itu terpesona da
"Kalian lihat wanita yang datang bersama Tuan Dirga tadi pagi? Dengar-dengar dia adalah sekretaris pribadi tuan Dirga serta istri kedua Tuan Dirga." "Benarkah?" "Serius. Aku pernah melihatnya di acara televisi belum lama ini. Tuan Dirga meresmikan anak perusahaan di Firlandia bersama wanita tadi." "Wah..! Luar biasa sekali. Apakah kamu tahu latar belakangnya?" "Sepertinya dia adalah putri tunggal CEO Perusahaan Furniture di bawah naungan keluarga nyonya Megan." "Serius?" "Gila! Ikatan cinta segitiga yang sangat rumit." "Apakah begitu menyenangkan menceritakan orang lain di belakangnya?"Mereka menoleh ke belakang secara serentak. Mereka terkejut mendapati keberadaan Alia berdiri dibelakang mereka. "Maafkan kami, Nona. Kami tidak bermaksud membicarakan anda."Alia berlalu pergi meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris pribadi Dirga, dan dia belum begitu paham tugas-tugasnya. Dia hanya duduk saja tanpa melakukan apapun
"Pilihlah rumah dan vila yang kamu inginkan. Aku akan membelikannya untukmu."Mereka berdua berkeliling disebuah kantor Real Estate untuk melihat-lihat miniatur rumah dan vila yang dijual di tempat itu. Alia tidak segan-segan lagi untuk menentukan pilihannya. Dia tahu bahwa pria 38 tahun disampingnya ini memiliki uang yang tidak terbatas. "Jangan salahkan aku jika aku memilih yang paling mahal." ucap Alia. "Pilihlah sesukamu. Anggap saja ini hadiah karena kamu memutuskan untuk kembali bersamaku."Tidak dipungkiri memang awalnya Alia enggan kembali ke tempat kelahirannya, namun dia juga sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Dia juga tidak ingin membebani orang tuanya, karena pada hakikatnya anak yang sudah menikah harus keluar dari rumah atau ikut suaminya. Dia juga tidak ingin Megan memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Berada di sisi Dirga saat ini adalah pilihan yang tepat. "Aku pilih yang ini." tunjuk Alia.Sebuah Vila dengan gaya eropa sederhana dengan pemandangan danau p
"Terkejut dengan kedatanganku?" "Hahahaha, tentu saja tidak."Alia sudah menduga bahwa cepat atau lambat Megan juga akan mengunjunginya. Wanita anggun itu masih terlihat angkuh seperti tiga tahun lalu. "Mana anak yang kamu janjikan untukku?" tanya Megan.Alia menyeringai mendengar pertanyaan konyol dari Megan tersebut. Tidak menyangka bahwa mereka berdua akan menanyakan hal yang sama. "Apakah kamu sangat menginginkan anak itu?" "Tentu saja. Anak itu adalah hakku!" "Hakmu?" "Aku sudah menolong keluargamu, jadi jangan tidak tahu diri!" "Menolong keluargaku? Kamu yang mendorongku dan keluargaku masuk kedalam neraka ini!" "Salahkan keluargamu yang miskin itu!"Betapa tajamnya ucapan Megan itu. Ingin sekali Alia merobek mulut tajamnya itu. "Kamu sungguh menginginkan anak itu?" Ledek Alia. "Tentu.!" "Matilah! dan susul anak itu!"Plaaaaak!!!!Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Alia. Namun dia tidak diam saja, Dia kembali menampar Megan dengan sangat keras sehingga meninggalkan
"Lepaskan bajumu" "Kau gila?"Alia menggenggam erat kemejanya, dia takut hal itu akan terjadi lagi. Dia sudah berusaha melupakan malam yang penuh mimpi buruk itu. "Kamu pikir kamu siapa?" hardik Alia. "Lepaskan baju dan ganti dengan baju yang ada dilemari itu."Alia membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu, beberapa gaun yang sangat indah berbaris dengan rapi disana. "Apakah aku salah berpikir barusan?" gumam Alia dalam hati. "Pilihlah salah satu yang menurutmu nyaman dan temui aku dalam 10 menit di lobi." ucap Dirga sambil meninggalkan Alia seorang diri. Alia memperhatikan semua gaun yang ada dan mengeluarkannya satu persatu untuk dia lihat. "Apa yang ingin dia lakukan? Memintaku untuk mengenakan gaun-gaun ini?"Alia memilih Evening Gown berwarna Ocean Blue dengan gradasi warna hitam yang bertaburan batu permata yang indah. Ukuran gaun itu sangat pas ditubuh Alia, membuat tubuhnya terlihat begitu seksi dan menawan. Alia merias dirinya dengan riasan yang sederhana dan nat