Miana langsung menendang Henry. "Minggir!"'Dasar nggak tahu malu!'Setelah itu, Miana buru-buru kembali ke kamar perawatan untuk menggendong anaknya dan pergi.Dari belakangnya, suara Henry masih terdengar, "Seminggu lagi, aku akan mencarimu!"Miana sama sekali tidak mengindahkan kata-katanya.Dia percaya bahwa, meskipun Henry memiliki kekuatan besar, tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan segalanya.Henry ingin menghancurkan Grup Arca? Tidak akan semudah itu!Saat berada di dalam mobil, emosi Miana sudah kembali stabil."Ibu, apakah Ibu akan bersama dia?" tanya Nevan tiba-tiba.Miana tertegun sejenak."Dia yang aku maksud ayah adik kecil itu! Juga merupakan ayahku." Nevan mengira ibunya tidak mengerti, jadi menjelaskan."Kamu menyukainya? Kamu ingin tinggal bersamanya?" tanya balik Miana.Nevan menggeleng tanpa ragu. "Nggak mau! Aku tetap lebih suka ayahku yang sekarang!"Kepribadian ayahnya yang sekarang begitu baik, penuh kasih, tidak pernah memarahinya, dan selalu ada seti
Sambil tersenyum, Giyan mencubit lembut ujung hidung Nevan dan berkata, "Baiklah, Ayah memang sedang sedih. Ayah takut Nevan pergi dan takut Nevan nggak lagi membutuhkan Ayah lagi."Sejak Miana memutuskan untuk kembali ke Kota Jirya, Giyan mulai khawatir bahwa suatu hari Miana dan Nevan akan kembali ke sisi Henry."Nevan nggak akan pernah meninggalkan Ayah!" ujar Nevan dengan penuh semangat sambil mengulurkan jari kelingking mungilnya. "Ayo kita buat janji!"Giyan mengaitkan jari kelingkingnya. "Kamu harus ingat janjimu, ya!"Meskipun Nevan berjanji dengan penuh keyakinan, Giyan tahu janji itu hanya sebatas kata-kata seorang anak kecil.Terlebih lagi, keputusan sepenuhnya ada di tangan Miana, bukan Nevan."Oke! Pasti!" Nevan mengangguk dengan tegas, ekspresinya serius.Giyan menatap wajah kecil Nevan yang begitu mirip dengan Henry, bahkan ekspresi serius itu. Seketika, perasaannya menjadi campur aduk.Dia memahami dengan sangat jelas bahwa yang terbaik bagi seorang anak adalah tumbuh b
Mendengar itu, mata Miana memancarkan kelembutan yang bercampur ketegasan, lalu menggenggam tangan Giyan. Setelah beberapa saat berpikir, dia berkata dengan pelan, "Giyan, jangan khawatir. Henry mungkin memiliki niat dan rencananya sendiri, tapi pilihanku nggak pernah dipengaruhi atau dipaksa oleh siapa pun atau apa pun. Aku hanya ingin bersamamu selamanya."Kelembutan suara Miana, yang diselimuti kekuatan tidak tergoyahkan, menjadi sumber ketenangan yang menumbuhkan rasa percaya dalam hati Giyan.Mendengar kata-kata penuh kepastian dari Miana, Giyan merasa beban di hatinya perlahan terangkat. Kegelisahan memudar, digantikan dengan ketenangan dan rasa syukur mendalam."Aku juga, Mia. Kita akan selalu bersama, hari ini, esok, bahkan di kehidupan berikutnya!" ujar Giyan sambil menggenggam erat tangan Miana, seolah ingin memastikan cinta mereka terukir dalam hatinya.Miana merasakan detak jantungnya semakin cepat.Dua puluh tahun mengenal Giyan membuatnya memahami betapa baiknya Giyan ter
"Miana, aku hamil, jadi kamu harus segera bercerai dengan Henry, kalau nggak, betapa malangnya anak ini lahir tanpa ayah." Isak wanita itu terdengar dari ponsel. Miana mendengarnya sambil mengusap pelipisnya, lalu berkata dengan nada dingin, "Apa lagi yang ingin kamu katakan, Kak Janice? Cepat katakan, akan kurekam, nanti saat proses perceraian dengan Henry, aku bisa memperoleh lebih banyak aset.""Miana, kamu bajingan! Bisa-bisanya kamu merekam pembicaraan ini!" Wanita itu langsung menutup telepon setelah mengumpat.Setelah panggilan tersebut terputus, Miana menunduk melihat ke lembar hasil pemeriksaan di tangannya. Tulisan "hamil empat minggu" yang tercetak di kertas itu terasa menyakitkan baginya.Awalnya dia berniat memberi tahu Henry tentang kehamilannya malam ini, tetapi dia sekarang merasa tidak perlu lagi.Anak ini datang pada waktu yang salah, tetapi anak ini adalah penyelamatnya.....Miana yang begitu tiba di rumah setelah pulang kerja disambut oleh Bibi Lina, "Nyonya, saya
Miana melirik pria yang berbicara, Yosef Lucario, sahabat sejak kecil Henry. Keluarga Lucario juga merupakan keluarga yang berkuasa di Kota Jirya. Yosef paling memandang rendah Miana yang berasal dari keluarga miskin. Meskipun dia merupakan putra dari keluarga bermartabat, dia bersikap seperti sebuah pisau yang dapat diayunkan sesuka hati oleh Janice. Janice selalu menggunakannya untuk melawan Miana setiap saat.Teringat akan hal tersebut, Miana tersenyum kecil dan berkata dengan lembut, "Kak Janice adalah kakak iparnya Henry, istri dari kakak tertua Henry. Kalau orang lain mendengar apa yang barusan kamu bilang, aku takut akan ada yang salah paham dan mengira mereka punya hubungan yang nggak seharusnya!"Yosef baru saja sengaja berbicara kasar padanya, jadi dia tidak perlu memikirkan harga diri Yosef.Dia mengakui bahwa dia sangat mencintai Henry, tetapi dia tidak serendah itu sampai akan menerima begitu saja perlakukan buruk teman-teman Henry.Janice awalnya senang, tetapi setelah me
"Bukankah kamu bilang seseorang ingin membunuhmu? Aku hanya memastikan apakah kamu sudah mati." Perkataan Henry penuh dengan sindiran.Miana refleks menggenggam ponselnya erat-erat dan berkata dengan tegas, "Aku ditakdirkan berumur panjang, jadi nggak akan mati!"Dia mematikan panggilan itu dan memblokir nomor itu dalam satu gerakan cepat.....Pada saat ini, di kamar rawat VIP di rumah sakit milik Grup Eskaria, Janice berbaring di ranjang dengan wajah yang terlihat sangat pucat. Dia terlihat begitu lemah, seakan-akan angin bisa menerbangkannya.Henry yang tengah menggenggam ponselnya menunjukkan ekspresi masam.Melihat itu, Janice bertanya dengan hati-hati, "Henry, apa Miana baik-baik saja?"Henry meletakkan ponselnya dan berseru, "Dia baik-baik saja!"Janice diam-diam mengutuk Miana di dalam hatinya, tetapi berkata dengan nada lembut kepada Henry, "Kamu sebaiknya kembali menemaninya. Ada dokter dan suster di sini, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan aku."Henry berkata dengan tenan
Kedua bibir Henry saling menekan dan sepasang mata hitam pekatnya tertuju pada Sherry. "Dia mengalami kecelakaan mobil?" tanya Henry.Seketika, Henry teringat panggilan telepon dari Miana tadi malam.'Kalau itu benar ....'Pada saat ini, pintu kamar rawat terbuka dan Miana masuk dengan aura yang dingin.Saat Janice melihat Miana, matanya memancarkan rasa kebenciannya, tetapi dia segera menyembunyikannya dan berkata dengan tergesa-gesa, "Baru saja kudengar kamu mengalami kecelakaan mobil, cepat kemarilah, biar aku lihat apakah kamu terluka parah atau nggak?" Sikapnya ini seolah-olah sangat peduli pada Miana.Pada saat ini, raut wajah Henry mengelap.'Bisa-bisanya Miana bersekongkol dengan sahabatnya untuk membohongiku.'Miana berjalan mendekat, lalu menarik Sherry ke belakangnya dan berkata, "Kamu pergi dulu, biar aku yang tangani masalah ini."Sherry buru-buru berkata, "Aku sungguh nggak melakukan apa pun, dia sendiri yang menampar dirinya!"Miana menyela, "Aku tahu, kamu pergi dulu."
Miana menatap mata Henry untuk waktu yang lama sebelum berkata sambil tersenyum, "Jangan pernah berpikir untuk mengorbankan diriku demi dirinya! Selain itu, Henry, yang ingin kubicarakan adalah keputusanku untuk bercerai denganmu sudah buat, kapan kamu punya waktu untuk pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurus surat cerai kita? Ini nggak akan memakan banyak waktu!"Meskipun senyuman di wajah terlihat begitu cerah, tetapi hatinya terasa sangat sakit.Dia selalu tahu bahwa Henry memihak pada Janice, tetapi dia tidak menyangka akan sampai sejauh ini.Mustahil dia membiarkan dirinya menjadi batu pijakan untuk Janice naik ke atas!"Selesaikan dulu masalah tren tagar Janice itu dan aku baru akan memenuhi keinginanmu! Kalau sampai aku yang turun tangan duluan, yang akan kamu hadapi nggak akan sesederhana mengklarifikasi saja!" seru Henry dengan marah tanpa berpikir panjang.Menurutnya, permintaan perceraian Miana hanyalah baru untuk menarik perhatiannya.Dia tidak percaya Miana benar-bena
Mendengar itu, mata Miana memancarkan kelembutan yang bercampur ketegasan, lalu menggenggam tangan Giyan. Setelah beberapa saat berpikir, dia berkata dengan pelan, "Giyan, jangan khawatir. Henry mungkin memiliki niat dan rencananya sendiri, tapi pilihanku nggak pernah dipengaruhi atau dipaksa oleh siapa pun atau apa pun. Aku hanya ingin bersamamu selamanya."Kelembutan suara Miana, yang diselimuti kekuatan tidak tergoyahkan, menjadi sumber ketenangan yang menumbuhkan rasa percaya dalam hati Giyan.Mendengar kata-kata penuh kepastian dari Miana, Giyan merasa beban di hatinya perlahan terangkat. Kegelisahan memudar, digantikan dengan ketenangan dan rasa syukur mendalam."Aku juga, Mia. Kita akan selalu bersama, hari ini, esok, bahkan di kehidupan berikutnya!" ujar Giyan sambil menggenggam erat tangan Miana, seolah ingin memastikan cinta mereka terukir dalam hatinya.Miana merasakan detak jantungnya semakin cepat.Dua puluh tahun mengenal Giyan membuatnya memahami betapa baiknya Giyan ter
Sambil tersenyum, Giyan mencubit lembut ujung hidung Nevan dan berkata, "Baiklah, Ayah memang sedang sedih. Ayah takut Nevan pergi dan takut Nevan nggak lagi membutuhkan Ayah lagi."Sejak Miana memutuskan untuk kembali ke Kota Jirya, Giyan mulai khawatir bahwa suatu hari Miana dan Nevan akan kembali ke sisi Henry."Nevan nggak akan pernah meninggalkan Ayah!" ujar Nevan dengan penuh semangat sambil mengulurkan jari kelingking mungilnya. "Ayo kita buat janji!"Giyan mengaitkan jari kelingkingnya. "Kamu harus ingat janjimu, ya!"Meskipun Nevan berjanji dengan penuh keyakinan, Giyan tahu janji itu hanya sebatas kata-kata seorang anak kecil.Terlebih lagi, keputusan sepenuhnya ada di tangan Miana, bukan Nevan."Oke! Pasti!" Nevan mengangguk dengan tegas, ekspresinya serius.Giyan menatap wajah kecil Nevan yang begitu mirip dengan Henry, bahkan ekspresi serius itu. Seketika, perasaannya menjadi campur aduk.Dia memahami dengan sangat jelas bahwa yang terbaik bagi seorang anak adalah tumbuh b
Miana langsung menendang Henry. "Minggir!"'Dasar nggak tahu malu!'Setelah itu, Miana buru-buru kembali ke kamar perawatan untuk menggendong anaknya dan pergi.Dari belakangnya, suara Henry masih terdengar, "Seminggu lagi, aku akan mencarimu!"Miana sama sekali tidak mengindahkan kata-katanya.Dia percaya bahwa, meskipun Henry memiliki kekuatan besar, tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan segalanya.Henry ingin menghancurkan Grup Arca? Tidak akan semudah itu!Saat berada di dalam mobil, emosi Miana sudah kembali stabil."Ibu, apakah Ibu akan bersama dia?" tanya Nevan tiba-tiba.Miana tertegun sejenak."Dia yang aku maksud ayah adik kecil itu! Juga merupakan ayahku." Nevan mengira ibunya tidak mengerti, jadi menjelaskan."Kamu menyukainya? Kamu ingin tinggal bersamanya?" tanya balik Miana.Nevan menggeleng tanpa ragu. "Nggak mau! Aku tetap lebih suka ayahku yang sekarang!"Kepribadian ayahnya yang sekarang begitu baik, penuh kasih, tidak pernah memarahinya, dan selalu ada seti
Seketika, raut wajah Henry berubah menjadi masam."Rumordi, jangan pernah bilang dia adalah mantan istriku lagi!"Saat ini, Henry tengah berusaha menjadikan mantan istrinya kembali menjadi istri sahnya.Rumordi mendengkus, lalu berkata dengan sinis, "Sudah tiga tahun sejak akta cerai itu ditandatangani kalian. Jadi, bagaimana mungkin dia bukan mantan istrimu?"Apa yang dikatakan Rumordi tidak keliru, karena Miana memang mantan istri Henry.Oleh karena itu, ancaman Henry sama sekali tidak efektif.Dengan raut wajah sangat masam, Henry langsung menutup telepon.Saat pandangannya kembali tertuju pada Miana, dia melihatnya tersenyum hangat kepada seorang perawat.Senyuman itu, seperti bunga yang bermekaran di awal musim semi.Keindahan senyuman itu membuat Henry tertegun.Dia bertanya-tanya, mengapa dulu dia tidak menyadari Miana begitu cantik?Seakan-akan menyadari tatapan Henry, Miana pun menoleh ke belakang.Saat mata mereka bertemu, ekspresi Miana berubah drastis. Senyumannya lenyap di
Miana mengernyit dan dengan kuat melepaskan genggaman Henry. "Kamu bisa langsung katakan di sini!"Miana khawatir Henry akan menyembunyikan putranya.Dia benar-benar tidak percaya lagi kepada Henry sedikit pun."Kamu yakin ingin membicarakan masalah lalu kita di depan anak-anak?" tanya Henry, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.Miana menahan keinginan untuk menamparnya. "Henry, apa kamu sudah gila!"'Kenapa dia selalu mengatakan hal-hal yang nggak masuk akal sih!'"Ikut aku keluar!" seru Henry dengan suara rendah namun tegas.Dengan berat hati, Miana mengikuti keinginan Henry. Sebelum meninggalkan ruangan, dia berbalik dan berkata kepada Nevan, "Kamu tunggu Ibu di sini, jangan pergi ke mana-mana, mengerti?"Nevan mengangguk. "Ibu, pergilah, aku mengerti!"Setelah itu, Miana berjalan keluar dengan langkah besar.Henry menghampiri putrinya, lalu dengan penuh kasih merapikan helai rambut di wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga, memperjelas wajah kecilnya yang pucat.Memikirkan
Miana menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia kemudian menatap tajam ke arah Henry dan berkata dengan penuh keyakinan, "Aku bilang, dia bukan anakmu!"Baginya, Nevan hanyalah anaknya!Dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Henry!"Kalau begitu, aku akan membawanya untuk tes DNA sekarang!" seru Henry dengan nada penuh emosi. Tatapan tajamnya pada Miana seperti bara api yang siap membakar.'Dia melarang anak itu mengakuiku, ayah kandungnya, tapi malah membiarkannya mengakui Giyan yang hanya orang luar sebagai ayahnya!''Benar-benar sangat absurd!'"Kamu nggak berhak melakukan itu!" Miana segera menggendong Nevan, dan berbisik padanya, "Jangan dengarkan omong kosongnya, kamu adalah anak Ibu, bukan anaknya!"Nevan memeluk leher Miana dan berkata dengan suara lembut, "Ibu, aku tahu itu."Dia sebenarnya menyadari bahwa dirinya adalah anak dari Miana dan Henry.Dia juga tahu bahwa ayahnya, yang berengsek itu, pernah berselingkuh, meskipun dia belum benar-benar memahami apa ar
"Ibu, kalau merawatnya jadi beban, aku bisa gunakan uangku untuk merawatnya! Aku punya uang sangat banyak!" Dengan percaya diri, Nevan membuat gerakan melingkar besar dengan tangannya untuk mempertegas pernyataannya."Jangan bicara lagi!" seru Miana dengan suara rendah.Jika Henry mengetahui bahwa anak berusia tiga tahun telah menipunya sebesar empat ratus miliar, dia mungkin akan marah besar hingga muntah darah.Bahkan, dia mungkin akan memaksa Nevan untuk mengembalikan uang itu.Henry bukanlah sosok yang berhati baik."Oh, aku lupa!" seru Nevan, lalu menjulurkan lidahnya dengan nakal.Dia sama sekali lupa mengenai hal itu.Untung saja, ayahnya yang berengsek itu tidak mendengar percakapan mereka.Henry berjalan di belakang mereka. Suara mereka begitu pelan hingga sulit untuk didengar dengan jelas, tetapi firasatnya mengatakan bahwa mereka sedang membicarakannya.Nevan menggandeng Miana menuju sisi tempat tidur. Tatapan penuh harapan Rania melekat pada Miana.'Hmm?''Kenapa wajah Bibi
"Miana, kamu tahu konsekuensi dari membuatku marah!" Henry tidak mengalah sedikit pun.Dia paham betul bahwa selama Nevan berada di sisinya, Miana akan dengan patuh menemuinya.Henry yakin bahwa dengan semakin seringnya interaksi mereka dari waktu ke waktu, benih-benih cinta di hati Miana akan kembali tumbuh, hingga pada akhirnya Miana akan mencintainya lagi dengan sepenuh hati.Miana menatap Henry, lalu tersenyum sinis dan berkata, "Aku tahu itu, tapi aku tetap akan membawa putraku pergi! Henry, kalau kamu masih menghalangiku, aku akan panggil polisi sekarang juga!"Sembari berkata, dia telah mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi.Selama tiga tahun ini, Miana telah memahami dan mempelajari banyak hal.Dia yang sekarang bukan lagi sosok wanita yang selalu memikirkan dan mengutamakan kepentingan Henry. Bahkan, jika situasi mengharuskannya, dia tidak akan segan untuk melawan Henry.Henry mencoba meraih ponsel Miana sambil berseru, "Nggak boleh panggil polisi! Itu akan menakuti pu
Miana tidak berniat menjadikan Henry sebagai musuh bebuyutannya.Meskipun pada kenyataannya mereka telah menjadi musuh, situasinya belum sampai pada titik konflik yang terbuka."Lupakan, tuntut lain kali saja. Yang penting sekarang, jemput aku pulang, Bu! Aku sama sekali nggak mau lagi berada di dekatnya. Aku nggak suka dia!" Nevan kesal dengan sikap Henry yang dingin dan nada suaranya yang tajam tanpa sedikit pun kasih sayang.Dia membenci Henry dengan alasan yang jelas!"Nevan! Ingat sopan santun!" Miana menegur dengan nada serius, menunjukkan ketidaksenangannya."Tapi, Bu, aku nggak suka orang seperti dia!" seru Nevan dengan nada penuh emosi.Dia berpikir bahwa rasa tidak sukanya terhadap Henry bermula dari informasi yang dia peroleh sebelumnya.Prasangka itu muncul sebelum mereka bertemu, dan sikap Henry yang tidak ramah hanya memperburuk keadaan.Anak-anak memiliki cara pandang yang sederhana: suka ya suka, tidak suka ya tidak suka, tanpa ada kebohongan dalam perasaan mereka."Mes