Janice pingsan setelah mendengar kata-kata Rumordi.Polisi langsung membawanya pergi.Rumordi duduk di mobil dan mengambil foto dari kejauhan, lalu mengirimkannya ke Henry.Setelah mengirim foto, dia menelepon Henry."Henry, semuanya sudah beres!""Ya.""Karena aku sudah bekerja keras untukmu, biarkan aku mengejar mantan istrimu, oke?" Setelah mendengar apa yang dilakukan Miana di kantor polisi dari asistennya, Rumordi sangat menyukai Miana.'Bisa bersama dengan wanita berani seperti itu pasti menyenangkan!'"Diam!" seru Henry dengan wajah muram.Miana hanya boleh menjadi miliknya!"Kalian sudah bercerai, 'kan? Apa salahnya kalau aku mengejarnya!" Rumordi mendengus dingin. "Jangan bilang kamu masih ingin rujuk lagi dengannya!""Kamu terlalu cerewet!" Henry langsung menutup telepon dengan kesal. Dia bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke jendela, dan menatap orang-orang dan kendaraan di bawah, yang terlihat seperti titik-titik hitam.Setelah apa yang telah dia lakukan terhadap Miana se
Tidak mendengar ada yang menjawab, Henry mengernyit.'Nggak mendengar atau pura-pura nggak mendengar?'Setelah ragu sejenak, Henry membuka pintu."Miana, aku pulang."Setelah menutup pintu, dia masuk sambil membawa bunga, tetapi yang terlihat olehnya adalah tempat tidur yang berantakan.Pemandangan itu sangat mengejutkan hingga membuatnya langkahnya terhenti.Bingkai foto pernikahan yang dipajang di atas ranjang telah hancur. Di atas ranjang, tidak hanya berserakan pecahan kaca, tetapi juga tergeletak foto pernikahan yang bagian kepala pengantin wanita sudah digunting.Henry sangat terkejut.'Apa yang terjadi?'Tidak sempat berpikir panjang, Henry bergegas keluar kamar dan berteriak ke bawah, "Bibi Lina, cepat naik ke atas!"Bibi Lina tidak tahu apa yang terjadi, tetapi bergegas ke atas."Tuan Muda Henry, ada apa?"Henry menarik napas dalam-dalam, menahan amarahnya, menunjuk ke kamar tidur sambil bertanya, "Siapa yang masuk kamar tidur?"Bibi Lina berpikir sejenak dan menjawab, "Selain
"Kalian bertengkar lagi, ya? Kalau begitu, setelah kutemukan, dia akan menjadi milikku!" Rumordi berpikir bahwa Henry sebenarnya tidak menyukai Miana dan berencana mengejar Miana setelah menemukannya."Rumordi! Aku nggak sedang bercanda! Segera kirim orang untuk mencarinya, dan kabari aku setelah menemukannya!" Kegelisahan di hati Henry makin membesar.Jika Rumordi tidak dapat menemukannya, berarti Miana benar-benar menghilang."Henry, sekarang beri tahu aku dengan jujur, apakah kamu mencintai mantan istrimu atau nggak?" Rumordi berencana merebut Miana jika Henry tidak menyukai Miana.Karena pria sejati tidak akan merebut apa yang dicintai orang lain!Henry mengatup-ngatupkan bibirnya sebelum berseru, "Aku nggak mencintainya!"Yang tersisa pada dirinya hanyalah keras kepala.Rumordi tertawa mengejek, lalu berkata, "Kalau begitu, aku akan menyembunyikannya setelah kutemukan!"Dia akan menjadikan Miana miliknya.Mendengar itu, Henry merasa sangat tidak nyaman. "Rumordi, jangan coba-coba
Kabar kematian Miana membuat Henry sangat terpukul. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi, matanya terbuka lebar, dengan ekspresi tidak percaya yang penuh dengan keterkejutan dan kesedihanSekujur tubuhnya gemetar. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara apa pun, hanya merasakan darah mengalir deras ke tenggorokannya.Dengan suara rendah dan tertahan, darah segar tiba-tiba menyembur keluar dari mulutnya dan jatuh ke lantai di samping. Tubuhnya seperti kehilangan semua kekuatan, perlahan jatuh ke belakang, dan membentur ke lantai dingin. Dia telah kehilangan kesadaran, hanya menyisakan keputusasaan di ruangan itu.Wiley panik ketika mendengar suara sesuatu yang berat terjatuh.Dia segera menenangkan diri, lalu menelepon Bibi Lina dengan tangan yang masih gemetar. Kecemasan dan ketakutan terdengar jelas dari suaranya, "Bi Lina, cepat lihat Pak Henry, aku khawatir sudah terjadi sesuatu padanya!"Bibi Lina agak kaget ketika menerima telepon itu, tetapi karena sudah ber
Eddy berusaha keras mengendalikan emosinya."Pak Wiley datang membawa barang-barang peninggalan Nyonya. Tuan Muda Henry baru keluar dari UGD, dan sekarang di ruang perawatan." Bibi Lina khawatir jika Eddy tidak tahu tentang kondisi Henry saat ini, mereka akan disalahkan."Baiklah ...." Begitu kata ini keluar, tubuh Eddy langsung terjatuh ke belakang.Orang-orang di rumah lama itu langsung panik.Kepala pelayan memutuskan untuk mengantar Eddy ke rumah sakit.Dengan upaya penuh dari dokter dan perawat, Eddy perlahan siuman, tetapi sorot matanya penuh dengan kesedihan yang mendalam.Melihat Eddy siuman, kepala pelayan langsung merasa lega. "Pak Eddy, akhirnya kamu sadar!"Eddy berusaha bangun dari ranjang rumah sakit dan duduk. Dengan susah payah, dia berkata kepada kepala pelayan, "Telepon Wiley, minta dia bawa gelang itu ... aku mau melihatnya."Wiley sudah berada di rumah sakit. Setelah menerima panggilan itu, dia langsung menuju ke tempat Eddy. Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah ge
Wiley terkejut dan segera meraih tangan Sherry. "Nona Sherry, apa yang kamu lakukan!"Sherry menggigit tangan Wiley. "Lepaskan aku!"Rasa sakit membuat Wiley melepaskan tangannya.Sherry kembali menyerang Henry.Pada saat itu, Henry tiba-tiba menatapnya dengan tajam.Tatapan tajam itu membuat Sherry takut hingga langkahnya terhenti.Wiley segera menjelaskan untuk Henry, "Nona Sherry, aku mengerti perasaanmu saat ini, tapi kejadian ini nggak ada hubungannya dengan Pak Henry."Sherry berdiri tegak, menatap Henry yang rambutnya basah karena sup. "Kalau bukan karena kamu selalu membiarkan Janice bertindak sesuka hati, bagaimana mungkin Janice berani begitu arogan dan kurang ajar di depan Mia! Kalau bukan karena kamu nggak pernah percaya pada Mia, bagaimana mungkin hidup Mia akan begitu menderita!""Henry, apakah kamu tahu? Miana telah mencintaimu selama sepuluh tahun!" Miana baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke -26, jadi bisa dikatakan Miana memang sudah mencintai Henry selama sepulu
"Plak! Plak!" Dua suara tamparan yang tajam terdengar di ruang yang sunyi, bagaikan guntur yang tiba-tiba mengguncang hati dan pikiran orang.Mata Sherry merah berkaca-kaca. Air mata berkilauan dengan keteguhan dan kebencian. Dia menggigit bibir bawahnya, tidak membiarkan dirinya mengeluarkan suara tangisan sedikit pun, seolah-olah ingin melampiaskan semua kesedihan dan rasa sakitnya melalui tindakan sederhana ini.Henry ditampar hingga matanya mulai berkunang-kunang, membiarkan rasa sakit yang panas menyebar di pipinya.Dia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gelombang emosi di hatinya. Dalam pikirannya, senyum Miana yang bagaikan bunga yang baru mekar, suaranya yang lembut, dan momen indah yang mereka habiskan bersama, datang seperti gelombang pasang, lalu menenggelamkannya."Kalau saja Miana masih hidup, pasti ...." Henry berkata dengan suara yang rendah dan serak, penuh dengan kesedihan dan penyesalan yang tak berujung.Dia perlahan membuka matanya, mena
Sherry menatap mata Farel dengan tajam, tanpa sedikit pun kehangatan, hanya ada keterkejutan, kemarahan, dan kesakitan."Ada urusan apa?" Suara Sherry rendah tetapi tegas, dan penuh dengan tekanan emosional yang kuatTubuh Farel gemetar sesaat, dan sorot matanya meredup. Perasaannya makin rumit saat dia mendengar suara Sherry.Dia perlahan melangkah maju, mencoba mendekati sosok yang selalu menghantui mimpinya tetapi tidak terjangkau. Namun, aura dingin dan ketegasan yang terpancar dari Sherry seperti membuat ada penghalang tak terlihat di antara mereka."Kalau nggak ada urusan, tolong keluar dulu, nanti baru masuk lagi!" seru Sherry tanpa ragu sedikit pun.Sherry mengepalkan kedua tangannya erat-erat, hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas, mencerminkan emosi yang meluap-luap di hatinya.Pada saat ini, dia bukan lagi wanita yang lembut dan manis. Dia sudah berubah menjadi pendendam, bersumpah untuk menuntut keadilan bagi sahabatnya yang telah meninggalkan dunia ini.Mel
Mendengar itu, mata Miana memancarkan kelembutan yang bercampur ketegasan, lalu menggenggam tangan Giyan. Setelah beberapa saat berpikir, dia berkata dengan pelan, "Giyan, jangan khawatir. Henry mungkin memiliki niat dan rencananya sendiri, tapi pilihanku nggak pernah dipengaruhi atau dipaksa oleh siapa pun atau apa pun. Aku hanya ingin bersamamu selamanya."Kelembutan suara Miana, yang diselimuti kekuatan tidak tergoyahkan, menjadi sumber ketenangan yang menumbuhkan rasa percaya dalam hati Giyan.Mendengar kata-kata penuh kepastian dari Miana, Giyan merasa beban di hatinya perlahan terangkat. Kegelisahan memudar, digantikan dengan ketenangan dan rasa syukur mendalam."Aku juga, Mia. Kita akan selalu bersama, hari ini, esok, bahkan di kehidupan berikutnya!" ujar Giyan sambil menggenggam erat tangan Miana, seolah ingin memastikan cinta mereka terukir dalam hatinya.Miana merasakan detak jantungnya semakin cepat.Dua puluh tahun mengenal Giyan membuatnya memahami betapa baiknya Giyan ter
Sambil tersenyum, Giyan mencubit lembut ujung hidung Nevan dan berkata, "Baiklah, Ayah memang sedang sedih. Ayah takut Nevan pergi dan takut Nevan nggak lagi membutuhkan Ayah lagi."Sejak Miana memutuskan untuk kembali ke Kota Jirya, Giyan mulai khawatir bahwa suatu hari Miana dan Nevan akan kembali ke sisi Henry."Nevan nggak akan pernah meninggalkan Ayah!" ujar Nevan dengan penuh semangat sambil mengulurkan jari kelingking mungilnya. "Ayo kita buat janji!"Giyan mengaitkan jari kelingkingnya. "Kamu harus ingat janjimu, ya!"Meskipun Nevan berjanji dengan penuh keyakinan, Giyan tahu janji itu hanya sebatas kata-kata seorang anak kecil.Terlebih lagi, keputusan sepenuhnya ada di tangan Miana, bukan Nevan."Oke! Pasti!" Nevan mengangguk dengan tegas, ekspresinya serius.Giyan menatap wajah kecil Nevan yang begitu mirip dengan Henry, bahkan ekspresi serius itu. Seketika, perasaannya menjadi campur aduk.Dia memahami dengan sangat jelas bahwa yang terbaik bagi seorang anak adalah tumbuh b
Miana langsung menendang Henry. "Minggir!"'Dasar nggak tahu malu!'Setelah itu, Miana buru-buru kembali ke kamar perawatan untuk menggendong anaknya dan pergi.Dari belakangnya, suara Henry masih terdengar, "Seminggu lagi, aku akan mencarimu!"Miana sama sekali tidak mengindahkan kata-katanya.Dia percaya bahwa, meskipun Henry memiliki kekuatan besar, tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan segalanya.Henry ingin menghancurkan Grup Arca? Tidak akan semudah itu!Saat berada di dalam mobil, emosi Miana sudah kembali stabil."Ibu, apakah Ibu akan bersama dia?" tanya Nevan tiba-tiba.Miana tertegun sejenak."Dia yang aku maksud ayah adik kecil itu! Juga merupakan ayahku." Nevan mengira ibunya tidak mengerti, jadi menjelaskan."Kamu menyukainya? Kamu ingin tinggal bersamanya?" tanya balik Miana.Nevan menggeleng tanpa ragu. "Nggak mau! Aku tetap lebih suka ayahku yang sekarang!"Kepribadian ayahnya yang sekarang begitu baik, penuh kasih, tidak pernah memarahinya, dan selalu ada seti
Seketika, raut wajah Henry berubah menjadi masam."Rumordi, jangan pernah bilang dia adalah mantan istriku lagi!"Saat ini, Henry tengah berusaha menjadikan mantan istrinya kembali menjadi istri sahnya.Rumordi mendengkus, lalu berkata dengan sinis, "Sudah tiga tahun sejak akta cerai itu ditandatangani kalian. Jadi, bagaimana mungkin dia bukan mantan istrimu?"Apa yang dikatakan Rumordi tidak keliru, karena Miana memang mantan istri Henry.Oleh karena itu, ancaman Henry sama sekali tidak efektif.Dengan raut wajah sangat masam, Henry langsung menutup telepon.Saat pandangannya kembali tertuju pada Miana, dia melihatnya tersenyum hangat kepada seorang perawat.Senyuman itu, seperti bunga yang bermekaran di awal musim semi.Keindahan senyuman itu membuat Henry tertegun.Dia bertanya-tanya, mengapa dulu dia tidak menyadari Miana begitu cantik?Seakan-akan menyadari tatapan Henry, Miana pun menoleh ke belakang.Saat mata mereka bertemu, ekspresi Miana berubah drastis. Senyumannya lenyap di
Miana mengernyit dan dengan kuat melepaskan genggaman Henry. "Kamu bisa langsung katakan di sini!"Miana khawatir Henry akan menyembunyikan putranya.Dia benar-benar tidak percaya lagi kepada Henry sedikit pun."Kamu yakin ingin membicarakan masalah lalu kita di depan anak-anak?" tanya Henry, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.Miana menahan keinginan untuk menamparnya. "Henry, apa kamu sudah gila!"'Kenapa dia selalu mengatakan hal-hal yang nggak masuk akal sih!'"Ikut aku keluar!" seru Henry dengan suara rendah namun tegas.Dengan berat hati, Miana mengikuti keinginan Henry. Sebelum meninggalkan ruangan, dia berbalik dan berkata kepada Nevan, "Kamu tunggu Ibu di sini, jangan pergi ke mana-mana, mengerti?"Nevan mengangguk. "Ibu, pergilah, aku mengerti!"Setelah itu, Miana berjalan keluar dengan langkah besar.Henry menghampiri putrinya, lalu dengan penuh kasih merapikan helai rambut di wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga, memperjelas wajah kecilnya yang pucat.Memikirkan
Miana menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia kemudian menatap tajam ke arah Henry dan berkata dengan penuh keyakinan, "Aku bilang, dia bukan anakmu!"Baginya, Nevan hanyalah anaknya!Dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Henry!"Kalau begitu, aku akan membawanya untuk tes DNA sekarang!" seru Henry dengan nada penuh emosi. Tatapan tajamnya pada Miana seperti bara api yang siap membakar.'Dia melarang anak itu mengakuiku, ayah kandungnya, tapi malah membiarkannya mengakui Giyan yang hanya orang luar sebagai ayahnya!''Benar-benar sangat absurd!'"Kamu nggak berhak melakukan itu!" Miana segera menggendong Nevan, dan berbisik padanya, "Jangan dengarkan omong kosongnya, kamu adalah anak Ibu, bukan anaknya!"Nevan memeluk leher Miana dan berkata dengan suara lembut, "Ibu, aku tahu itu."Dia sebenarnya menyadari bahwa dirinya adalah anak dari Miana dan Henry.Dia juga tahu bahwa ayahnya, yang berengsek itu, pernah berselingkuh, meskipun dia belum benar-benar memahami apa ar
"Ibu, kalau merawatnya jadi beban, aku bisa gunakan uangku untuk merawatnya! Aku punya uang sangat banyak!" Dengan percaya diri, Nevan membuat gerakan melingkar besar dengan tangannya untuk mempertegas pernyataannya."Jangan bicara lagi!" seru Miana dengan suara rendah.Jika Henry mengetahui bahwa anak berusia tiga tahun telah menipunya sebesar empat ratus miliar, dia mungkin akan marah besar hingga muntah darah.Bahkan, dia mungkin akan memaksa Nevan untuk mengembalikan uang itu.Henry bukanlah sosok yang berhati baik."Oh, aku lupa!" seru Nevan, lalu menjulurkan lidahnya dengan nakal.Dia sama sekali lupa mengenai hal itu.Untung saja, ayahnya yang berengsek itu tidak mendengar percakapan mereka.Henry berjalan di belakang mereka. Suara mereka begitu pelan hingga sulit untuk didengar dengan jelas, tetapi firasatnya mengatakan bahwa mereka sedang membicarakannya.Nevan menggandeng Miana menuju sisi tempat tidur. Tatapan penuh harapan Rania melekat pada Miana.'Hmm?''Kenapa wajah Bibi
"Miana, kamu tahu konsekuensi dari membuatku marah!" Henry tidak mengalah sedikit pun.Dia paham betul bahwa selama Nevan berada di sisinya, Miana akan dengan patuh menemuinya.Henry yakin bahwa dengan semakin seringnya interaksi mereka dari waktu ke waktu, benih-benih cinta di hati Miana akan kembali tumbuh, hingga pada akhirnya Miana akan mencintainya lagi dengan sepenuh hati.Miana menatap Henry, lalu tersenyum sinis dan berkata, "Aku tahu itu, tapi aku tetap akan membawa putraku pergi! Henry, kalau kamu masih menghalangiku, aku akan panggil polisi sekarang juga!"Sembari berkata, dia telah mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi.Selama tiga tahun ini, Miana telah memahami dan mempelajari banyak hal.Dia yang sekarang bukan lagi sosok wanita yang selalu memikirkan dan mengutamakan kepentingan Henry. Bahkan, jika situasi mengharuskannya, dia tidak akan segan untuk melawan Henry.Henry mencoba meraih ponsel Miana sambil berseru, "Nggak boleh panggil polisi! Itu akan menakuti pu
Miana tidak berniat menjadikan Henry sebagai musuh bebuyutannya.Meskipun pada kenyataannya mereka telah menjadi musuh, situasinya belum sampai pada titik konflik yang terbuka."Lupakan, tuntut lain kali saja. Yang penting sekarang, jemput aku pulang, Bu! Aku sama sekali nggak mau lagi berada di dekatnya. Aku nggak suka dia!" Nevan kesal dengan sikap Henry yang dingin dan nada suaranya yang tajam tanpa sedikit pun kasih sayang.Dia membenci Henry dengan alasan yang jelas!"Nevan! Ingat sopan santun!" Miana menegur dengan nada serius, menunjukkan ketidaksenangannya."Tapi, Bu, aku nggak suka orang seperti dia!" seru Nevan dengan nada penuh emosi.Dia berpikir bahwa rasa tidak sukanya terhadap Henry bermula dari informasi yang dia peroleh sebelumnya.Prasangka itu muncul sebelum mereka bertemu, dan sikap Henry yang tidak ramah hanya memperburuk keadaan.Anak-anak memiliki cara pandang yang sederhana: suka ya suka, tidak suka ya tidak suka, tanpa ada kebohongan dalam perasaan mereka."Mes