Si pelayan menelan ludah kasar, “Itu, saya hanya tidak ingin Anda salah paham,” katanya, “nona Kanaya hanya teman baik Pak William.”Rose mengangguk mengerti, ia pun tak berpikir jika William memiliki wanita lain, sedangkan mereka telah menikah.“Tenang saja. Aku tidak seperti itu,” ujar Rose seraya tersenyum kecil, “ayo kita temui dia.”“Silakan Bu. Kamar nona Kanaya di sana.”Rose mengangguk, ia tak sabar melihat tamu suaminya yang seumuran dengannya. Rose yakin, Kanaya yang William maksud adalah wanita baik dan juga manis.Setibanya di depan kamar Kanaya, Rose mengetuk dengan pelan, lalu membuka pintu dengan hati-hati.Di dalam sana, Kanaya yang baru selesai dengan riasannya menoleh ke arah wanita cantik dengan gaun indah.“Selamat malam,” sapa Rose ramah, “aku adalah Rose—istri William,” imbuhnya masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya yang tipis.Kanaya masih terpaku di tempatnya, wajah bulat Rose serta bola mata yang indah berhasil mencuri perhatiannya.“Aku … kenalkan,
Nicholas memijat pangkal hidung kuat, masalah dengan Rose belum selesai, kini kembali mendapat masalah dari Diana.“Ibuku jangan kau beritahu, aku–”“Ibumu sudah tahu, Nico.” Diana mengusap wajah pelan. “aku tidak tahu, kenapa kau tidak mau kita memiliki anak.”Nicholas menoleh dengan tatapan tak percaya. Akan tetapi, ketika menatap wajah melas Diana, ia luluh dan meminta untuk mendekat.“Maafkan aku,” ujar Nico lembut, “aku terlalu terkejut dengan berita ini.”Diana mendongak. “Kau senang, kan Jika aku hamil, ini adalah anakmu, Nico.”“Hum, kita akan menikah, tapi beri aku waktu untuk membujuk ibuku,” pinta Nicholas memikirkan cara untuk meluluhkan hati ibunya.“Dia harus merestui kita. Aku akan memberikan cucu yang pintar agar dia tidak memikirkan wanita itu lagi,” dengus Diana.“Hum, kalau begitu aku kembali dulu.” Nicholas melerai pelukan mereka dan mengecup kening Diana lembut.“Kau tidak menginap?” Diana bersedekap dengan bibir mengerucut.“Lain kali saja. Ibu pasti sedang menun
“William, kau sadar dengan keputusanmu? Kau membiarkan dia ke kantor dengan pakaian … oh, ya ampun, William.” Kanaya memijat pangkal hidung, ia tak bisa membayangkan omongan orang lain terhadapmu William karena kebodohan Rose.“Jangan khawatir. Aku tidak akan semobil dengan Willie,” ujar Rose, “aku bisa pergi dengan angkatan umum.”“Tidak!” protes William.Ethan masih berdiri memantau semua, ia tidak ingin ikut campur, tetapi ia siap menjaga Rose dengan baik.“Benar kata Kanaya, akan terlihat aneh jika aku naik mobil denganmu, Willie,” ucap Rose menatap suaminya.Menurutnya tak ada yang salah dengan penampilannya, ia cantik dan juga rapi. Ya, mungkin yang Kanaya minat adalah Rose tidak mengenakan dres yang ketat.“Tapi, Rose. Ini bukan ide yang bagus, kau … aku tidak bisa melihatmu dengan angkutan umum.” William menggeleng tak setuju.Membuang napas pelan, Rose harus tetap sabar sebelum William membatalkan dirinya bekerja di kantor.“Tapi, William. Bagaimana jika ada yang mengetahui k
Nicholas turun dari mobilnya. Ia menatap takjub pada pemandangan di hadapannya. Gedung tinggi yang kokoh dengan nama nama yang besar terukir megah.Ia membenarkan jas miliknya dan melangkah begitu wibawa. Tak pernah menyangka akan dipindahkan pada perusahaan induk yang menjadi incaran semua orang.“Hidupku sangat beruntung,” katanya bangga pada dirinya sendiri.Melangkah masuk untuk yang pertama kalinya. Nicholas disambut hangat lantaran semua sudah mengetahui tentang kepindahan beberapa hari sebelum ia menginjakkan kaki di tempat ini.“Apakah Anda Pak Nicholas?” Edwin berdiri di sebelah Nico yang hendak memasuki lift. Ia menoleh dan menatap pria dengan tubuh tidak terlalu bagus di sebelahnya.“Benar. Saya dipindahkan beberapa hari yang lalu,” ujarnya seraya tersenyum hangat.Edwin mengangguk paham. “Kamu semua sudah mengetahui hal itu. Bahkan beberapa diantara kami tidak sabar untuk bertemu.”Nicholas tersenyum begitu kecil, hatinya semakin tenang karena tempat ini langsung menyambut
William menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Rose yang terlihat lebih gugup dari sebelumnya. Tak tahan dengan tingkah keduanya, Kanaya berdiri dari duduknya. Ia meraih tasnya dengan kasar dan langsung meninggalkan ruangan William.Melihat itu, Rose hanya mendesah seraya berjalan ke arah William yang terlihat tak acuh. “Dia sepertinya sangat marah, Willie.”William menarik lembut Rose dalam pangkuannya, mendudukkan istri kecilnya yang semakin cantik. “Biarkan saja. Dia yang memaksa ingin ikut.”“Tapi, sepertinya dia menyukaimu, kau tidak tahu?” Rose menahan diri untuk tidak mendesah dengan kelakuan William yang semakin menjadi.“Tahu. Aku berteman dengannya sudah lama. Aku tahu semuanya,” jujur William tetapi tangannya terus bergerilya ke tubuh sang istri.Rose memicingkan mata menggemaskan, “Bukankah ini akan membuatnya sakit hati, kau memilih menikah wanita asing dibandingkan dengan teman lama?”Mengedikkan bahu tak acuh, William berdecak, ia mengulurkan tangan pada wajah Rose dan
“Nona Rose, tidak ikut makan siang bersama?” Edwin mendekat dengan penuh harapan.Rose mengangkat wajah dengan senyum kecil di bibirnya. “Terima kasih pak Edwin. Saya makan nanti saja.”“Loh, jangan buang waktu. Kita pergi bersama dengan yang lain, ya,” bujuknya tak ingin gagal.Di belakang sana, Nicholas berdiri masih mengamati Rose yang terlihat biasa saja. Tak terlihat tegang atau pun canggung saat berbicara dengan Edwin.“Dia bahkan sudah berani menggoda pak Edwin,” ujat Nicholas.Rose yang tak sengaja menangkap gerak-gerik Nicholas hanya berdecak kecil. Wanita itu seolah tahu apa yang mantan kekasihnya pikirkan.“Anda ingin ikut dengan saya?” Edwin mundur selangkah dan memberikan jalan pada Rose keluar dari kursinya.“Bu Rose, Anda diminta pak Direktur ke ruangannya.” Ethan yang muncul tiba-tiba mengejutkan Edwin yang langsung patah hati.“Terima kasih pak Ethan,” balas Rose, ia melirik Nicholas yang terpaku di tempatnya.Ethan mengangguk dan berjalan melewati semua dengan gagahn
“Ini tidak adil,” ujarnya dengan bibir mengerucut.“Kenapa? Bukankah ini lebih baik? Kau pergi berkeliling menyenangkan dirimu?”Rose berdecak, “Aku butuh pekerjaan itu, Willie,” ujarnya dengan nada lemah, “selama ini, aku mendapat banyak sekali hujatan karena tidak bekerja dan ini kesempatan untuk buktikan pada mereka jika takdir bisa berubah.”“Kau aneh,” desah William, “siapa yang bisa meremehkanmu sekarang? Kau adalah istri pengusaha nomor satu dan itu aku.”Mencebik dengan bola mata berputar, “Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depan. Jika aku terus bergantung padamu, bisa jadi aku makin rapuh kedepannya.”“Boleh aku tanya satu hal padamu, Rose?”Sesaat suasa terasa lebih hening, hanya suara detak jantung mereka saja yang saling terdengar. Rose yang berada di atas pangkuan William hanya bisa menunduk—takut.“Aku belum bertanya,” dengus Willian.“Aku takut kau menanyakan hal yang tidak bisa kujawab,” cicitnya hampir terdengar seperti bisikan.“Kau sudah tahu apa yang ingin kutany
William memijat pangkal hidung, ia menatap ke dalam rumah, di mana neneknya dan Rose berjalan saling bergandengan tangan.“Anda menemukan wanita yang tepat, Pak,” ujar Ethan tersenyum kecil, ia senang selama menikah bosnya bisa sedikit melunak.“Kau pikir begitu?” tanya William tak begitu yakin.“Seharusnya Anda tidak tahu, Pak. Bu Rose begitu piawai selama ini, kan? Beliau mengurus anda dengan dengan sangat baik.”William mengangguk membenarkan. “Ya, kau benar. Aku bahkan lebih sering sarapan di rumah sekarang. Lihatlah, wajahku sudah terlihat mengembang bukan?”“Benar Pak. Anda seperti balon.”“Ethan,” geram William tidak terima dikatain dengan sebutan balon.“Maafkan saya Pak. Kita berangkat?”“Jalankan mobilnya!”________Sementara itu, setelah mengantar William ke bandara, Ethan kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang menunggu dirinya. Sebagai orang kepercayaan William, ia tidak boleh membuat masalah, apalagi apa yang didapatkannya selama ini sudah begitu banyak.Di parkir
“Baiklah, kau kembali saja.” Ethan memijat pangkal hidung, merasa khawatir pada Rose yang kemungkinan pergi ke tempat yang tak disukai oleh William.Asisten William itu berjalan ke arah yang lebih sepi, meriah ponselnya dan menelpon seseorang dengan segera.“Halo, cari tahu kemana Bu Rose pergi,” perintah Ethan langsung pada seseorang di balik layar, ia tidak bisa membuang waktu lebih lama. “Periksa ke rumah mantan kekasihnya, aku curiga dia–”“Siapa yang kau telepon, Ethan?” Suara William mengejutkan Ethan yang tengah menelpon di balik ruangan.“Pak, Anda sudah kembali.” Ethan segera mematikan ponselnya dan dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.William melangkah mendekati asistennya, pria itu menatap Ethan dalam-dalam. “Siapa yang pergi ke rumah mantannya, Ethan?”“Pak, Anda dari mana?” tanya Ethan balik, ia menatap William dengan penampilan yang berantakan.William berdecak, “Kanaya sakit, aku datang menjenguknya dan ketiduran di sana,” aku William, “katakan, siapa yang datang k
Rose menuruni anak tangga dengan tergesa, ia langsung ke arah ruang kerja William. Senyumnya ragu-ragu, bingung harus menjelaskan apa pada suaminya.Di depan pintu ruangan, ia berdiri cukup lama, mengolah kata-kata agar terdengar lebih masuk akal.“Ayo, Rose!” serunya pada diri sendiri. Rose melangkah masuk dengan kepala tertunduk, berharap William menyambutnya dengan senyuman.Langkahnya terhenti di tengah ruangan, ketika menyadari jika William tidak tercium di ruangan ini. “William, kau tidak di dalam?” tanya Rose tidak yakin. Ia menoleh ke belakang berharap jika William tiba-tiba masuk dan menyambut dirinya.Hening.Ruangan ini terasa lebih dingin ketika sang pemilik tidak berada di dalamnya.“Di mana dia?” gumam Rose mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Gak ada tanda-tanda bahwa William memasuki ruangan meski itu semalam.Tidak ingin berlama-lama, ia keluar dari ruangan dan langsung ke halaman belakang tempat yang kemungkinan William berada dengan peliharaan mereka.“Selamat
William meletakkan ponselnya di atas meja, lalu beranjak masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi.Tidak berselang lama, ia sudah kembali dengan tubuh yang lebih segar. Ia berjalan masuk ke ruang ganti dengan langkah tanpa suara.Memilih pakaian yang harus dikenakan dan merapikan dirinya dengan cepat. “Aku akan minta maaf padanya besok pagi,” ujarnya mendesah pelan, ia meninggalkan kamar dengan hati yang gelisah.Sampai di tempat tujuan, William masuk dengan tergesa, ia bahkan tak perlu menunggu tuan rumah untuk membukakan pintu. William masuk ke dalam kamar dan mendapati wanita muda terbaring dengan selimut tebal.“Akhirnya kau datang juga, William,” katanya dengan senyuman lembut, “kemarilah!”William menghembuskan napas panjang, kemudian melepaskan pakaian tebalnya. Ia duduk di kursi dekat dengan ranjang, memperhatikan wajah wanita muda yang menatapnya lembut.William mengulurkan tangan, memeriksa suhu tubuh yang ternyata memang benar terasa panas.“Siapkan dirimu, kit
Diana merebahkan punggungnya pada badan sofa. Mengingat penampilan Rose yang tampak luar bisa menambah rasa bencinya pada mantan kekasih dari Nicholas.“Dia pasti merayakan pak William dengan cara yang kotor,” umpat Diana tidak terima.Nicholas tidak mengatakan apa pun lagi. Ia menutup mata, tetapi bayangan Rose dan William yang begitu mesra mengganggu dirinya.“Aku tidak mengira, kedatangannya di kantor saat itu memang sengaja ingin menunjukkan siapa dirinya,” kata William, “dan pak Ethan dekat dengannya karena Rose adalah istri dari pak William.”Nicholas mengerang marah, ia memukul pegangan sofa dengan kuat karena tidak terima dengan pencapaian Rose yang lebih unggul darinya.Diana menoleh, ia bisa melihat wajah ekspresi kecewa Nicholas dengan jelas. Dalam hati, Diana mulai merasa ketakutan, khawatir jika Nicholas memaksa Rose untuk kembali padanya.“Jangan berpikir untuk kembali padanya, Nico. Kau sudah berjanji akan menikahiku bukan?” Diana meremas lengan Nicholas yang hendak ber
Diana menarik tangan Nicholas pelan, ia melirik ke segala arah dengan wajah malu. “Nico, jangan mulai,” katanya, “biarkan saja dia melakukan apa pun yang dia mau,” bisik Diana mulai jengah. “Kau mau kemana? Kau tidak lihat ini acara besar?” Nico mencoba memelankan suaranya, “di atas saja, ada istri pak Nicholas, jika dia tahu siapa dirimu–” “Rose, baiklah!” Suara William terdengar begitu jelas di telinga semua orang. Nicholas menegang, ia melepaskan tangannya yang memegang tangan mantannya. Kemudian menatap bingung pada Rose yang terlihat tak bereaksi. “Kemarilah!” seru William lagi menarik atensi semua orang ke arah wanita cantik di hadapan Nicholas dan Diana. “Permisi,” ujar Rose melambaikan tangan ke arah Diana yang masih tercengang. “Apa yang terjadi?” bisik Diana masih bingung dengan situasi ini. Nicholas tidak menjawab, ia terus menatap Rose dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kebingungan yang paling jelas terlihat. Di depan sana, Rose dengan gaun indah dan
“Nicholas, apa maksudmu?” Diana mencegah keinginan kekasihnya yang terkesan berlebihan.“Tunggu sebentar saja. Aku akan kembali lebih cepat untukmu.” Nicholas mengusap lengan Diana lembut.“Tidak mau,” tolak Diana, “jika kau pergi dengannya, aku akan kembali dan kita berakhir.”Nicholas mendesah khawatir, ia melirik bawaannya yang berada di tangan, kemudian menatap Diana dan Rose secara bergantian.“Rose, tolong jangan buat kekacauan,” tegas Nicholas, “aku tidak bisa menolongmu jika pemilik rumah keberatan dengan dirimu.”Rose menarik napas pelan, ia menatap Diana dan Nicholas secara bersama, “Aku tidak butuh perhatian kalian berdua,” kayanya, “jika kau tidak suka dengan keberadaanku, maka menjauhlah!”“Rose!” geram Nicholas mulai terpancing, “kau bukan siapa-siapa. Bukan berarti kau dekat dengan pak Ethan lantas kau berani berada di tempat ini, ya.”Rose memutar mata malas, “Terima kasih karena sudah mengingatkan siapa aku. Tapi, dari pada kau bersusah payah, lebih kalian berdua masu
William memicingkan mata ketika Rose mencoba melepaskan pelukan mereka, “Apa kau marah? Kau cemburu?” tanya William mulai menggoda.“Tidak, untuk apa aku cemburu padanya,” ketus Rose memalingkan wajah.“Kalau begitu jelaskan padaku kenapa wajahmu masam?” William menahan tawa.“Tidak,” bantahnya.William tersenyum tipis, lalu dengan lembut mengapit dagu Rose agar kembali menatapnya. “Lalu kenapa memalingkan wajahmu dariku?”Rose melepas tangan William lembut, ia menarik napas pelan dan berkata, “Jangan mengada-ada. Aku hanya tidak suka melihatmu terlalu dekat dengannya.”William menarikkan sebelah alisnya. “Jadi, kau hanya tidak suka atau melihatku dengan, atau itu kata lain dari kata cemburu?”Rose menggigit bibir dalam, ia kembali memalingkan wajah menyembunyikan rona yang semakin memerah. “Berhenti menggodaku Willie.”“Tidak sebelum kau mengakui perasaanmu.” William semakin kekeh, ia kembali memeluk Rose semakin eratnya.Jantung keduanya berdebar begitu kencang. Tidak ada di antara
“Katakan saja kenapa kau datang selarut ini?” William yang belum sempat membersihkan diri melepas kemeja miliknya dan menyampirkan di badan kursi.Melihat otot tangan William yang kekar serta leher yang begitu kokoh, Kanaya menelan ludah kasar. Ia mendekat dengan tanpa sadar, meremas tangan William dengan erat.“William, ototmu–”“Kanaya,” tegur William membaca isi kepala temannya.Wanita kru mengerucutkan bibir, ia melepas tangan William dan duduk di sofa. “Sebelum menikah dengannya, kau tidak pernah seperti ini. Sekarang, aku merasa kau semakin jauh.”“Coba cari kekasih, Kanaya. Hidupmu akan lebih baik ketika mendapatkan seseorang yang paham dengan dirimu.”“Mana bisa aku mencari pria lagi, aku, kan–”“Jangan macam-macam. Kau sudah seperti adik bagiku,” kata William.“Tapi, aku menginginkanmu, William. Katakan saja padaku jika pernikahan kalian hanya pernikahan palsu, ya kan?”William menarik napas panjang sebelum menatap Kanya datar, “Jangan bicara omong kosong.”Kanaya menggigit b
Tawa William pecah, seketika rasa ingin mengolok Nicholas lenyap begitu saja. Mantan kekasih Rose itu hanya bisa menyembunyikan rasa malunya dari balik senyum kecil.“Maafkan saya jika telah lancang, Pak. Saya mengira, istri Anda cemburu karena Anda dekat dengan wanita lain,” ujar Nicholas.“Hum, kau benar,” kata William, kehadiran Kanaya mungkin saja mengganggu Rose, sehingga wanitanya merasa rendah diri.“Kalau begitu, apa yang bisa kuberikan padanya. Aku ingin dia melihat bahwa aku ini begitu mencintainya,” terang William berterus terang.Nicholas terdiam sesaat. Ini bukan hal sulit untuknya, apalagi dia juga memiliki wanita yang mudah marah jika cemburu.“Wanita menyukai barang-barang mewah,” kata Nicholas, “istri Anda mungkin saja telah mendapatkan semua, untuk itu saya menyarankan membawanya untuk berlibur.”“Berlibur?” ulang William memikirkan, “ini tidak bisa, kita memiliki banyak agenda di kemudian hari.”Nicholas tersenyum memahami, “Anda benar. Tapi, tidak ada salahnya memb