Maaf hari ini cuma satu bab, yaa ... Mudah-mudahan besok bisa bom up lagi. Semoga suka ... Salam sayang Buenda Vania
Venti hanya mampu menatap punggung pria jangkung itu yang bernama Anan, yang membantunya di hotel mekarin, dan ya, jika bukan karena anak itu Anan tidak akan pernah mau membantunya."Tapi kamu harus melakukan satu tugas lagi, An. Anak itu punya nilai tinggi bagi kelangsungan hidup putrimu, jika tidak aku akan mengatakan bahwa anak itu dipungut tiga tahun lalu di panti asuhan Pelita Kasih," monolognya penuh penekanan.Malam itu, di tengah hujan lebat Venti mendatangi panti asuhan Pelita Kasih dengan bayi merah dalam pelukannya. Bayi laki-laki yang baru lahir beberapa jam yang lalu terpaksa ia bawa kesana demi kebaikannya sendiri. "Aku titip bayi ini. Besok pagi akan ada orang mengambilnya, urus surat-suratnya dengan resmi dan berikan hak asuh penuh pada pria itu," ujar Venti tanpa melepaskan tatapannya pada bayi dengan hidung mancungnya yang terlihat sangat kokoh walau baru saja dilahirkan.Penjaga panti hanya mengguk, wanita dihadapannya ini adalah donatur tetap di panti itu. Ia ber
Davinka dan Rasty seharusnya tidak bertemu untuk saat ini. Apa kalian percaya akan adanya mitos yang mengatakan dua saudara kandung yang tengah hamil tidak bisa tinggal dalam satu atap atau hamil dalam waktu bersamaan?Awalnya Sanjaya tidak percaya, pria itu hanya menganggap tahayul dan omong kosong. Akan tetapi, saat tahu putra dan istrinya wafat, ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak mengindahkan hal ini. Rasty bahkan sangat lemah saat hamil Reno, ia seperti melihat mayat dalam diri adiknya."Carilah dokter terbaik. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan seperti kemarin," ujarnya memastikan, 'Jika kamu izinkan, aku akan membawa Reno pergi sementara waktu, tinggal bertiga jauh dari kalian,' sambungnya dalam hati."Ya, kak. Karena itu aku membutuhkan kalian. Reno sangat suka pada kakak dan kak Davinka. Jadi aku mohon bantu aku menjaganya," pinta Rasty. Air matanya sudah jatuh menetes. Saat mengandung Reno, ia banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit dengan tangan selalu terpasang s
Davinka sudah tidak menghiraukan apapun lagi, wanita itu berlari kencang menuruni tangga dan menabrak Nani. Bahkan Reno yang tengah terlelap sudah tidak dia ingat lagi. Dalam benaknya hanya ada Sanjaya dan Sanjaya."Nyonya," panggil Nani sambil memegangi bahu Davinka. Terlambat sedikit saja, Nyonyanya ini pasti jatuh dan tersungkur. Davinka melangkah dengan langsung melompati dua anak tangga sekaligus.Nani melihat dada Nyonya kembang kempis, napasnya sangat kasar, pandangannya bergerak kesana kemari dengan matanya memerah. Terlihat jelas bahwa Davinka sudah banyak mengeluarkan air matanya. Sepertinya wanita itu tidak sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya."Sa-sanja … Kaka Nani, Sanja." Davinka meracau tidak jelas. Wanita bahan sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, tatapannya terlihat kosong.Dalam benaknya, tubuh Sanjaya sudah terkapar dengan linangan darah di lantai. Pria itu terbaring lemah di atas aspal yang mengepul karena panasnya matahari. Mungkin saja pria itu sud
Sanjaya menggeleng kepalanya cepat, air mata bahagia tergantikan dengan air mata duka. Tidak, ini tidak bisa terjadi lagi untuk yang kedua kalinya."Dimana istriku, Sandy, katakan!" sarkasnya terlihat sangat frustasi."Saya kirim lokasi Nyonya saat ini, mobil itu menuju kota Tangerang," Sandy mengucapkannya dengan jelas tapi penuh kehati-hatian.Sanjaya mengepalkan tinjunya dengan rahangnya yang sangat keras, terlihat jelas giginya saling beradu, tatapannya bahkan terlihat sangat buas, "Mama jika ini perbuatanmu, aku akan melupakan hubungan ibu dan anak ini. Selamanya aku tidak akan menganggapmu lagi!""Percepat!" pintanya pada sopir.Entah datang dari mana, polisi sudah datang mengepung mobil Sanjaya, memberi pria itu jalan agar tidak ada satu mobilpun yang menghalanginya. Suara sirine dari mobil dan motor berhasil membelah lautan kendaraan yang melaju kencang di siang yang sangat terik itu."Cari tahu siapa yang mengatur semua ini, dan tangkap mereka, termasuk Nyonya Venti Hardian j
Davinka berusaha mencari dimana suara putranya dan ingin bangun, tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Kain hijau seperti seragam rumah sakit yang disampirkan pada sebuah tiang besi menutupi pandangannya. Ia hanya melihat banyak orang di sekitar tubuhnya yang tengah melakukan tindakan dan semua itu semakin membuatnya panik."Bayiku, dimana bagiku?" tanyanya terus menerus. Ingin rasanya Diandra bangun dan mencari sendiri dimana keberadaan bayinya.Dokter melihat tekanan darah pasien semakin meningkat, dokter pria itu pun memberi isyarat agar suster di sebelahnya menenangkan pasien.Suster itu datang dan menghampirinya, wajahnya tertutup masker dengan penutup kepala. Suster itu berbisik disisinya, "Bayi Anda sedang dibersihkan, sebentar lagi akan saya bawa kemari agar bisa anda peluk."Diandra hanya menatapnya penuh permohonan, ingin rasanya segera melihat bayinya dan memastikan putranya sehat dan sempurna."Bersabarlah, dan Anda harus kuat agar Anda dapat melihat putra Anda,
Venti seakan menulikan telinganya, wanita itu mendengar semua apa yang dikatakan oleh menantunya. Akan tetapi hatinya berusaha ia keraskan melebihi kokohnya baja.Rasa kantuk terasa lebih kuat dan sulit dikendalikan oleh Diandra. Matanya kembali terpejam dengan harapan kapanpun kelopak mata itu terbuka, wajah putranya lah yang pertama kali ia lihat.Namun, Diandra harus mengubur keinginannya sedalam mungkin untuk kembali melihat putranya. Saat matanya terbuka wanita itu sudah berada di kursi belakang sebuah mobil yang melaju sangat kencang."Kak," panggil Diandra. Matanya memang belum sepenuhnya terbuka tapi dari kursi belakang dirinya dapat mengenali dengan jelas siapa pengemudi mobil itu. Dia kakak kelasnya, tapi Diandra lupa namanya.Diandra berusaha melawan keras nyeri di perutnya, menggeser posisi duduknya dengan terus memegangi sandaran kursi kemudi. Tapi, usahanya sisa-sisa, ia hanya bergeser sedikit."Ya, Diandra, apa kabar?" Sahut sopir itu. "Ini dimana, kenapa aku ada di dal
Semua ingatan Itu sepenuhnya sudah kembali. Akan tetapi Diandra masih tidak percaya karena kecelakaan naas itu wajahnya telah mengalami banyak perubahan."Vie …." tangan pria itu kembali menyentuh bahu Diandra, berusaha menenangkan wanita itu yang terus berteriak dan menutupi wajahnya setelah menatap wajahnya sendiri di kaca spion."Lepas, pergi kamu, pergi! Jangan sentuh aku!" Diandra terus berontak menyingkirkan tangan pria itu dengan kakinya yang terus menendang-nendang berharap dapat mengenyahkan kehadiran pria yang terasa asing dalam hidupnya."Vie, sebenci itukah kamu sama aku?" tanyanya dengan suara parau. Jika pria itu adalah wanita seperti dirinya mungkin sudah menangis dan meraung-raung.Diandra berusaha mengendalikan dirinya, melepaskan kedua telapak tangan dari wajahnya. Tapi, masih belum berani mengangkat kepala dan menatap pria di sisinya. Setelah menarik napasnya dalam Diandra berkata dengan suaranya yang begitu tegas dan
Sanjaya yang masih tidak terima berusaha melepaskan diri dengan terus menggerakkan tangan dan kakinya agar bebas."Pak Sanjaya saya mohon tenanglah," pinta polisi yang menahan tubuh Sanjaya."Kami sudah membiarkan Anda untuk memukulnya, jangan kotori tangan Anda dengan kematiannya," ucap salah satu polisi yang sekarang sudah merentangkan tangannya di antara Sanjaya dan Yudha. Sementara tubuh pria malang itu sudah melorot ke tanah dan tersungkur. Senjaya jelas bukanlah saingan pria itu. Wajah Yudha babak belur, matanya sudah merah dan membiru. Bibir pria itu bahkan robek dan terus mengeluarkan darah."Aku ingin dia mati! Jika tidak, manusia ini akan terus mengganggu calon istri saya!" dengus Sanjaya masih tidak terima. Seharusnya sejak awal ia sudah menduga bahwa Yudha tidak akan tinggal diam. Pria ini begitu tergila-gila pada wajah istrinya yang dianggap Davinka dan tidak akan melepaskannya dengan mudah.Yudha tertegun ditengah rasa sakit yang dirasaka
Davinka kembali menoleh pada Wulan dan menggenggam tangannya, menatap wanita itu penuh hormat, berkata dengan suara yang lembut dan penuh permohonan, "Mah, aku tidak dibesarkan oleh seorang ibu dan tidak banyak orang yang aku kenal. Sekarang aku memanggilmu Mama. Emm, Mama mau, kan, menjadi ibuku dan merestui pernikahanku!"Pupil matanya melebar, terus menatap Wulan penuh harap. Akankah Wulan memenuhi keinginannya?Wulan sendiri kehilangan kata-katanya. Air mata kembali mengalir deras dengan isakkan tertahan. Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban.Bodoh! Anak sebaik ini, bagaimana ia bisa menyakitinya dan menolaknya berulang kali!Davinka mengangguk dengan senyum lebarnya, lalu memeluk tubuh gemetar itu dengan penuh kehangatan."Terima kasih, mulai sekarang aku punya Mama." Bisik Davinka dengan elusan lembut di punggung Wulan.Davinka mengurai pelukan, menarik tangan Sanjaya agar menjabat tangan Wulan, "Sekarang Mama Wulan adalah ibu mertuamu, cepat sungkem!"Sanjaya tercengang.
Mendengar ibunya berkata seperti itu membuat Yudha bangun dari duduknya dan meraih tangannya."Ini semua karena Yudha. Mama hanya korban dari obsesi Yudha! Sudah, semua sudah selesai. Biar Yudha yang menanggung semua ini!" Tegas pria itu. Kini aura kehidupan sudah terlihat di wajahnya. Davinka yang asli sering menolaknya dengan kata-kata kasar karena ke keraskepalaannya.Penyesalan, kekecewaan, dan amarah terpancar jelas. Akan tetapi, semua ditujukan kepada dirinya sendiri."Tidak ada yang akan masuk penjara. Semua hanya karena kesalahpahaman!" tanam Sandy, "Tuan Sanjaya mengembalikan semua yang sudah diambilnya," ujarnya lagi yang membuat mereka semua tercengang."Mak-maksudnya?"Kebingungan jelas terlihat dari bagaimana cara mereka bereaksi. Entah apa yang diambil dan harus dikembalikan."Toko elektronik suami Anda beserta isinya dan beberapa calon investor sudah ada di dalam dokumen ini. Kalian tidak bisa menolak! Ja
"Udah malem! bye, Rani …." Davinka langsung menutup pintunya rapat.Rani membalikkan tubuhnya, kamar itu sudah temaram. Yang membuat ia menggigit bibir bawahnya adalah, Sandy berada di tengah ranjang dengan memeluk Inggi. Putrinya malah ada di sisi lainnya ranjang itu.'Ais … jadi gue harus tidur disamping dia?' jerit Rani dalam hatinya.Bersentuhan dengan kulitnya saja sudah hampir membuatnya seperti terbakar. Tapi ini ….Pikirannya terhenti."Mau sampai kapan kamu di sana!" Suara bariton itu menggema dalam remangnya kamar hingga mampu membuat bulu kuduk Rani meremang sempurna.Suara serak Sandy menandakan bahwa pria itu sudah sempat tertidur, terdengar sangat menggoda di telinganya hingga jantungnya mulai berdetak lebih hebat. Rani mulai melangkah dengan kaki beratnya. Ia tahu malam ini harus tidur di ranjang yang sama dengan Sandy. Mampukah?Ini memang bukan malam pertama mereka. Tapi, tidur tepat di sisi pria itu hampir tidak pernah terjadi selama tiga Minggu mereka menikah."Di-d
'Aku tahu, aku sedang dihukum atas semua kejahatan-kejahatanku. Tapi kenapa tidak ambil saja nyawaku daripada membuat semua orang menderita bersamaku!'Venti mulai merasa depresi dengan keadaannya. Kata-kata berikutnya semakin membuatnya tenggelam."Itu jauh lebih bagus. Di kantor Papa bisa fokus bekerja. Tadinya Papa hanya akan pergi saat mendesak saja. Tapi melihat cinta kalian, Papa merasa sangat lega!"Davinka melihat suster membawa sesuatu di tangannya. "Apa itu, Sus? Apa makan siang mama?""Ya, Nyon—""Panggil ibu saja. Saya lebih nyaman dengan itu!" pangkas Davinka cepat. Dia sudah sangat risih dengan sebutan nyonya-nonyaan.Suster itu mengangguk dan berjalan mendekati Davinka, memperlihatkan apa yang ia bawa."Ini bubur cair. Nyonya Venti hanya dapat makan ini sementara waktu sampai bisa mengunyah kembali," jelas suster itu.Dengan wajah murung dan dan air mata yang hampir jatuh, Davinka terus menatap ib
"Keadaannya tidak akan membaik hanya karena kamu membatalkan resepsi kita, Ra!" Dan ini akan selalu menjadi panggilan untuk Diandra walaupun kini sudah mengganti nama Davinka dan melupakan panggilan Davin-nya."Baiklah, aku kalah dari kalian!" desahnya sambil menatap kelima pria ini yang sekarang berada dikamar perawatan Venti."Ayo! Rasty dan yang lainnya sudah menunggu di rumah," ujar Noel mengingatkan.Mereka akan pulang ke apartemen mewah Sanjaya. Noel sendiri setelah resepsi akan kembali ke Singapura dan menetap disana. Insiden berdarah di rumahnya sama sekali tidak pernah terpublikasikan. Ada keinginan untuk menjual rumah itu, tapi Davinka menolaknya. Bagaimanapun, rumah itu memiliki kenangan untuk Davinka ataupun Diandra.Brata menyewa satu jasa suster untuk merawat istrinya. Sebenarnya ia ingin dua orang agar mereka bisa bergantian menjaga. Tapi, menantunya ini menolak dengan alasan Venti sekarang memiliki empat orang anak. Satu suster sudah cukup."Kenapa tidak pulang kerumah
Ketika semua tidak seperti apa yang kita rencanakan maka, pasrahkan, serahkan, ikhlaskan …. Biarkan tangan Tuhan yang melanjutkan karena, seberapa gigih pun kita mencoba, tanpa jamahan tangannya semua akan sia-sia.Venti sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyingkirkan Diandra agar menjauh dari putranya. Tapi apa? Semakin ia berusaha, semakin mendekatkan mereka hingga akhirnya membuat dirinya seperti ini sekarang. Bahkan, kematian lebih baik daripada kehidupan yang menyiksa ini.Dari tempatnya berbaring, Venti terus menatap wajah Davinka. Wajah cantik itu memang sangat berbeda dengan milik Diandra kecuali, mata, bibir, siluet dan suaranya yang sangat ia kenal.Seharusnya dia tahu akan hal ini karena Noel adalah bedah plastik terbaik di negaranya hingga mendapatkan pekerjaan di Singapura."Kita harus mencari dokter terapis terbaik, mama tidak bisa terus seperti ini!" bujuk Davinka disela isak tangisnya.'Apa dia menangis untukku? Menangisi aku yang jahat ini?' bagaimana mana
Para polisi langsung mengamankan Laura. Peluru mengenai dadanya dan langsung tembus ke jantung. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus hingga menewaskan wanita itu.Ambulance dan beberapa polisi sudah datang, mereka ditelpon oleh Noel dan Brata."Sanja!" panggil Davinka saat melihat suaminya terbaring lemas. Noel dan Sandy sudah ada disana memberikan pertolongan pertama."Aku gak papa," sahutnya menenangkan.Dengan kaki gemetar, Davinka membawa Renhart mendekat pada Sanjaya dan bersimpuh di hadapannya. Sanjay menyentuh wajah putranya dan bertanya dengan suara yang parau. Berusaha untuk tetap tersadar, "Kamu gak papa, kan? Apa ada yang sakit?"Pria itu melihat bagaimana Renhart di bekap oleh Laura.Renhart menggeleng, "Papa pasti kesakitan. Itu pasti sakit."Anak itu bicara di sela isak tangisnya. Merasa sangat khawatir. Renhart tahu Papanya sengaja melakukan itu agar peluru tidak mengenai tubuhnya. Ia melihat sendiri Papanya langsung melompat saat wanita jahat itu berteriak memintanya u
Suhu di ruangan itu mendadak berubah dibawah nol derajat. Suasananya lebih dingin dari kutub Utara. Siapapun tidak berani mengambil napas dengan semaunya. Mereka hanya tidak ingin mengeluarkan suara dan mengganggu konsentrasi.Laura masih menatap puas apa yang ada di hadapannya, bagaimana musuh terbesar ibunya kini sudah tidak terselamatkan lagi. Wajah Venti sudah terlihat bengkok dan kaku, napasnya sedikit terengah-engah, terlihat sangat kesakitan.Venti masih belum bisa memalingkan wajahnya dari tempat Davinka berdiri. Hanya suara geraman yang lolos dari bibir wanita itu yang sedikit membiru."Ini lebih bagus dari kematian. Kamu tersiksa sebelum ajal menjemput! Hahah!" Sandy melangkah maju. Tapi sial, ternyata telinga Laura sangat peka. Wanita itu kembali fokus pada Renhart dalam dekapan lengangnya."Apa kalian gila!" teriak wanita itu. Laura memutar tubuhnya dengan Renhart dalam lengannya, pistol terus menempel pada kepala anak itu dan siapa di tekan kapanpun. Ia menatap semua y
Suara benda jatuh dan teriakan menggema dari arah pintu dapur. Suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat. Venti yang masih menggenggam tangan Davinka merasa sangat bingung dengan nama ayah Davinka yang sama persis seperti nama ayah Diandra. Wanita itu masih berpikir keras dan berusaha mengenyahkan semua ketakutannya.'Ini pasti hanya kebetulan, kan?' tanyanya dalam hati, 'apa mereka saudara, satu ayah, atau—' Suaranya terhenti. Venti melihat genggaman tangannya yang masih menggenggam tangan Davinka yang kini dipaksa lepas oleh suaminya sudah terbuka dan tangan Davinka hilang dalam genggaman tangannya."Apa yang kamu pikirkan? Sekarang putra kita sudah sah menjadi suami Davinka," tukas pria berusia mengingat istrinya yang masih diam membisu. Pikirannya bahkan terlihat kosong.Brata membantu Davinka agar duduk disisi Sanjaya. Mereka mulai menandatangani berkas pernikahan. Namun, saat penghulu menyerahkan dua buku merah dan hijau, teriakan seseorang menghentikan pergerakannya.