Sylvester tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan mendekat. Emily bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas.
"Sylvester…?"
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sylvester sudah mengangkat tangan dan dengan lembut merapikan helai rambut Emily yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih jelas," gumamnya, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat.
Emily terdiam, mendadak kehabisan kata-kata..
Sylvester tersenyum kecil. "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini."
Emily menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu berpaling kembali ke pemandangan kota.
"Aku juga," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka, membiarkan angin malam membawa perasaan yang perlahan semakin dalam di antara mereka.
Emily tetap menatap ke arah gemerlap
Mereka masuk ke dalam dan memilih meja di dekat jendela. Lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat, sementara aroma masakan yang menggoda tercium di udara."Apa yang kau rekomendasikan?" tanya Sylvester sambil membuka menu.Emily berpikir sejenak. "Mereka punya nasi goreng yang enak, juga sate ayam dan sup buntut. Tapi kalau kau ingin sesuatu yang ringan, mie gorengnya juga enak."Sylvester mengangguk. "Baiklah, aku coba nasi goreng spesial. Kau?""Aku pesan mie goreng saja," jawab Emily, lalu mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka.Setelah pelayan pergi, Sylvester menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Emily dengan ekspresi santai."Aku merasa seperti sedang kencan malam ini," katanya tiba-tiba.Emily hampir tersedak air putihnya. "Apa?"Sylvester terkekeh melihat reaksinya. "Apa ini bukan kencan? Kita pergi bersama, menikmati pemandangan indah, lalu sekarang makan malam berdua."Emily menatapnya dengan tatapan setengah geli, setengah kesal. "Kalau ini kenc
Sylvester menatapnya dari samping. "Kau mengantuk?"Emily mengangguk kecil. "Sedikit. Ini hari yang panjang."Sylvester tersenyum lalu, dengan lembut, ia meraih tangan Emily dan menggenggamnya."Terima kasih sudah menghabiskan waktumu denganku hari ini," katanya pelan.Emily membuka matanya, menatap Sylvester dengan lembut. "Aku juga berterima kasih"Mereka saling tersenyum, membiarkan kehangatan kecil itu tumbuh di antara mereka, tanpa kata-kata berlebihan.Taksi terus melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang, ditemani cahaya lampu jalan yang menari di kaca jendela. Di dalam kabin yang hening, hanya suara pelan dari radio yang mengalun sebagai latar.Emily bersandar pada jendela, matanya setengah terpejam. Kelelahan tampak di wajahnya, namun ada ketenangan yang begitu indah terpancar dari ekspresinya. Tangan mereka masih bertaut, jemarinya bersarang nyaman di genggaman Sylvester.Sesekali, Sylvester mencuri pandang ke arahnya. Tatapannya lembut, penuh kekaguman dan kasih. Ia m
Emily melangkah ke pantry dengan botol minum di tangan, tapi langkahnya melambat saat ia mendengar suara-suara dari dalam. Beberapa rekannya sedang bercakap-cakap, dan meskipun mereka berbicara pelan, Emily bisa menangkap potongan kalimat mereka.“Serius deh, aku nggak kuat lagi kalau duduk di dekat dia,” suara itu terdengar dari Dina, salah satu rekannya.“Memangnya dia nggak sadar, ya? Masa tiap hari kayak gitu terus?” balas leni, setengah berbisik.“Kayaknya sih enggak sadar. Mungkin dia nggak tahu, atau... ya, gimana ya bilangnya ke dia?” tambah jesselyn, sambil menghela napas.Dina terkekeh kecil. “Bilang? Kamu bercanda? Bisa jadi dia malah tersinggung, terus drama. Mending nggak usah deh.”“Tapi kita yang jadi korban, kan?” jesselyn menimpali. “Aku sampai bawa parfum ekstra, tahu. Kalau dia lewat, langsung aku semprot meja aku.”Dina tertawa kecil, tapi suaranya terdengar setengah bersalah. “Iya sih, aku juga pernah pura-pura keluar meeting cuma buat nyari udara segar. Jujur aja
Saat Emily duduk di meja kerjanya, mencoba mengatur napas agar bisa melanjutkan hari dengan tenang, suara familiar memanggilnya dari belakang."Hei, Emi, kamu yang mengerjakan design proyek klien dari perusahaan Amerika, kan?" Tanya Leni, rekan satu tim yang seringkali tampak tenang dan percaya diri, sambil mendekat dengan langkah cepat."Iya, betul, Kak. Ada apa ya?" jawab Emily, sedikit bingung, berusaha menjaga nada suaranya tetap normal meskipun hatinya mulai terasa cemas."Siang ini perwakilan dari Whiteller Corp akan datang untuk rapat. Kita diminta untuk mempresentasikan gambaran proyek itu," jawab Leni, tanpa basa-basi, seperti memberikan instruksi rutin yang tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.Emily terkejut."Kenapa aku tidak tahu kalau mereka akan datang? Aku belum siap sepenuhnya," jawabnya dengan nada cemas, otaknya mulai berpacu untuk mencari-cari ide tentang bagaimana ia bisa menyiapkan materi dalam waktu yang sangat terbatas."Informasinya sudah dikasih di grup,"
Emily, yang sejak tadi berusaha fokus pada pekerjaannya, akhirnya bisa memperhatikan Mr. Whiteller dengan lebih jelas. Selama rapat tadi, pria itu hampir tidak berbicara. Ia hanya duduk diam, mengamati dengan cermat, dan sesekali berbisik pada Beni. Namun, sekarang, saat ia berjalan menjauh, Emily merasa ada sesuatu yang memancarkan wibawa dari dirinya—sesuatu yang membuat pria itu sulit untuk diabaikan.Dia tampak begitu tenang, begitu percaya diri, seolah-olah tidak ada yang bisa mengguncang dirinya. Mata hijau itu... Emily tidak bisa melupakan tatapan tajamnya yang sempat bertemu dengan matanya beberapa kali.Namun lamunan itu tidak berlangsung lama. Leni, yang tampaknya masih senang memanfaatkan momen untuk memberikan komentar, membungkuk sedikit ke arah Emily dan berbisik dengan nada sarkastik."Jangan berkhayal, Emi. Melirikmu saja mungkin dia tidak tertarik."Komentar itu terasa seperti paku yang menusuk gelembung lamunan Emily. Ia menoleh pelan ke arah Leni, menahan emosi yang
"Untuk apa main-main ke luar? Lebih baik temani Ibu di rumah. Kalau Ibu ada apa-apa, siapa yang tahu?" ucap Emily, nadanya terdengar lebih serius sekarang. Kekhawatirannya akan kondisi ibunya di rumah memang sering menghantui pikirannya."Sudah-sudah. Muka kamu jadi jelek lagi tuh kalau terus marah-marah. Ingat waktu, jangan sampai kamu terlambat," ucap ibunya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.Emily cemberut, tapi tidak bisa menahan senyumnya. "Iya, Bu. Kalau Ibu yang bilang, aku nggak bisa protes.""Sudah, siap-siaplah. Jangan terlambat, Kak," ujar ibunya lagi, nada penuh perhatian itu membuat hati Emily terasa lebih ringan."Iya, Bu. Jangan lupa makan, ya. Aku tutup dulu, ya, Bu," pamit Emily, melambaikan tangan ke layar."Iya, Kakak. Jaga dirimu, ya," balas ibunya, senyum hangatnya masih terpancar hingga panggilan berakhir.Emily menutup panggilan dan menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di meja dan memandangi wajahnya di cermin. Rasanya sedikit lebih ten
"Menarik," ujar Beni akhirnya. "Namun, saya ingin tahu, apakah insiden tadi benar-benar mencerminkan dirinya, atau justru cerminan dinamika tim Anda sendiri?"Leni terlihat sedikit kaget, tapi dengan cepat menyembunyikan reaksi itu di balik senyum diplomatisnya. "Oh, tentu saja tim kami sangat solid, Pak. Insiden tadi hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Saya hanya ingin memastikan Anda dan Mr. Whiteller tidak salah paham terhadap kualitas kerja kami secara keseluruhan."Pak Boy, yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, akhirnya angkat bicara. Ia menyadari bahwa Leni mencoba menyudutkan Emily dengan cara halus di hadapan Mr. Whiteller dan Beni."Maaf, boleh saya menambahkan sesuatu?" ucap Pak Boy dengan nada yang tenang namun tegas. Ia menatap langsung ke arah Mr. Whiteller dan Beni, berusaha memastikan kata-katanya didengar dengan jelas."Tentu, silakan," jawab Mr. Whiteller sambil melipat tangannya di atas meja.Pak Boy melanjutkan, "Saya memahami kekhawatiran yang Leni sampaikan,
Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Rutinitas Emily kembali berjalan normal, seakan insiden cangung saat makan malam itu hanya menjadi kenangan buruk yang sangat memalukan, namun hal itu perlahan terkubur oleh kesibukannya bekerja. Setelah kejadian tersebut, Emily lebih fokus pada pekerjaannya, memastikan setiap tugas yang diberikan terselesaikan dengan baik.Kabar menyebutkan bahwa Mr. Whiteller dan asistennya, Beni, telah kembali ke Amerika. Meski rasa bersalah masih mengintip di sudut hatinya, Emily merasa lega karena hubungan kerja sama dengan Whiteller Corp tetap berjalan. Perusahaan mereka masih mempercayakan proyek besar itu kepada tim Emily, dan sejauh ini proyek tersebut berjalan tanpa kendala berarti.Komunikasi antara kedua belah pihak kini sepenuhnya dilakukan secara virtual. Dalam setiap pertemuan daring, Emily tidak lagi melihat Mr. Whiteller secara langsung. Biasanya, perwakilan Whiteller Corp yang hadir adalah staf lain dari tim mereka. Meskipun begitu, setiap
Sylvester menatapnya dari samping. "Kau mengantuk?"Emily mengangguk kecil. "Sedikit. Ini hari yang panjang."Sylvester tersenyum lalu, dengan lembut, ia meraih tangan Emily dan menggenggamnya."Terima kasih sudah menghabiskan waktumu denganku hari ini," katanya pelan.Emily membuka matanya, menatap Sylvester dengan lembut. "Aku juga berterima kasih"Mereka saling tersenyum, membiarkan kehangatan kecil itu tumbuh di antara mereka, tanpa kata-kata berlebihan.Taksi terus melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang, ditemani cahaya lampu jalan yang menari di kaca jendela. Di dalam kabin yang hening, hanya suara pelan dari radio yang mengalun sebagai latar.Emily bersandar pada jendela, matanya setengah terpejam. Kelelahan tampak di wajahnya, namun ada ketenangan yang begitu indah terpancar dari ekspresinya. Tangan mereka masih bertaut, jemarinya bersarang nyaman di genggaman Sylvester.Sesekali, Sylvester mencuri pandang ke arahnya. Tatapannya lembut, penuh kekaguman dan kasih. Ia m
Mereka masuk ke dalam dan memilih meja di dekat jendela. Lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat, sementara aroma masakan yang menggoda tercium di udara."Apa yang kau rekomendasikan?" tanya Sylvester sambil membuka menu.Emily berpikir sejenak. "Mereka punya nasi goreng yang enak, juga sate ayam dan sup buntut. Tapi kalau kau ingin sesuatu yang ringan, mie gorengnya juga enak."Sylvester mengangguk. "Baiklah, aku coba nasi goreng spesial. Kau?""Aku pesan mie goreng saja," jawab Emily, lalu mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka.Setelah pelayan pergi, Sylvester menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Emily dengan ekspresi santai."Aku merasa seperti sedang kencan malam ini," katanya tiba-tiba.Emily hampir tersedak air putihnya. "Apa?"Sylvester terkekeh melihat reaksinya. "Apa ini bukan kencan? Kita pergi bersama, menikmati pemandangan indah, lalu sekarang makan malam berdua."Emily menatapnya dengan tatapan setengah geli, setengah kesal. "Kalau ini kenc
Sylvester tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan mendekat. Emily bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas."Sylvester…?"Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sylvester sudah mengangkat tangan dan dengan lembut merapikan helai rambut Emily yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga."Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih jelas," gumamnya, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat.Emily terdiam, mendadak kehabisan kata-kata..Sylvester tersenyum kecil. "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini."Emily menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu berpaling kembali ke pemandangan kota."Aku juga," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka, membiarkan angin malam membawa perasaan yang perlahan semakin dalam di antara mereka.Emily tetap menatap ke arah gemerlap
Seusai makan siang, Emily dan Sylvester kembali ke kantor. Saat mobil mereka berhenti di parkiran, Emily menoleh ke arah Sylvester."Jadi, kau akan ke mana setelah ini?" tanyanya."Aku ke ruangan Carol," jawab Sylvester santai.Begitu melihat ekspresi Emily yang tiba-tiba cemberut, Sylvester tersenyum kecil dan menatapnya lembut."Percayalah padaku, Em. Aku dan Carol tidak akan ada apa-apa. Dia murni hanya teman untukku," ucapnya meyakinkan.Emily mendengus kecil. "Tapi kalau dia menggodamu, siapa yang bisa menjamin kau tidak tergoda?"Sylvester tertawa pelan, menggelengkan kepala. "Kau ini lucu sekali."Emily melipat tangan di depan dada. "Apa sekarang kau sudah bangkrut sampai tidak bisa membayar orang untuk mengurus pendirian perusahaanmu disini"Sylvester terkekeh, lalu mendekat, berniat memeluk Emily. Namun, Emily buru-buru mundur selangkah."Akan ada yang melihat nanti," bisiknya sambil melirik sekitar."Bukankah itu bagus? Jadi tak ada lagi yang berpikir aku ini kekasih Carol,"
Emily menatap Sylvester tajam. "Sylvester…"Sylvester menarik tangan Emily dan menggenggamnya erat. "Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan mengutus orangku untuk menemanimu besok."Carol menyela. "Tanda tanganmu sangat dibutuhkan besok, Syl."Sylvester menoleh dengan ekspresi datar. "Kau bisa mengurusnya, Carol."Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia menarik Emily keluar dari ruangan, meninggalkan Carol yang hanya bisa menghela napas panjang. Emily menatap pria di sampingnya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Langkahnya terhenti ketika Sylvester tetap menggenggam tangannya erat, seolah tak ingin melepaskannya."Sylvester, kau tidak bisa semaumu seperti ini," ujar Emily, mencoba menarik tangannya.Sylvester menoleh, menatapnya dalam. "Aku tahu aku bersalah, aku tahu aku membuatmu kesal dan kecewa, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku."Emily menghela napas panjang. "Kau tidak bisa memaksaku. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berpikir."Sylvester tersen
Tidak percaya dengan semua yang ia dengar, Emily berdiri dan melangkah cepat ke lantai tempat ruangan Bu Carol berada. Tanpa berpikir panjang, begitu sampai di depan pintu, ia langsung membukanya tanpa mengetuk.Di dalam, Carol dan Sylvester duduk di sofa, dipisahkan oleh sebuah meja kecil.Carol menatapnya tajam. "Apa kau tak punya sopan santun? Membuka ruangan saya tanpa mengetuk?" tegurnya.Emily hanya melirik sekilas ke arah Sylvester, lalu menarik napas dalam. "Maafkan saya, Bu. Saya tadi ingin masuk ke ruangan sebelah, tapi ternyata salah ruangan. Saya Permisi."Ia segera menutup pintu kembali, tapi sebelum benar-benar rapat, suara Sylvester terdengar memanggilnya. Namun ia memilih untuk terus melangkah pergi. Bukan ke mejanya, melainkan ke meja Dimas."Dimas…" panggilnya lirih."Sebentar, Em. Aku selesaikan ini dulu," balas Dimas, matanya masih fokus menatap layar komputer.Tak ingin mengganggu, Emily memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum sempat sampai ke sana,
Emily berdiri di balik pintu dengan napas yang sedikit memburu. Tangannya masih menggenggam erat kenop pintu, memastikan tidak ada celah sedikit pun untuk dibuka kembali."Emily, ayolah, buka pintunya. Aku hanya ingin bicara," suara Ben terdengar dari luar, terdengar memohon tetapi tetap menyimpan nada yang membuat Emily semakin waspada.Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka Ben akan muncul di depan kosannya seperti ini. Bagaimana dia bisa tahu tempat tinggalnya? Dan untuk apa dia datang ke sini?"Aku tidak tertarik untuk bicara, Ben. Pergilah," ucap Emily tegas, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.Ben tertawa kecil. "Kau takut padaku?"Emily diam, tidak ingin memberi celah untuk Ben berlama-lama di sini. Ia melangkah mundur perlahan, menahan napas, berharap Ben segera pergi. Namun, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan."Emily, aku hanya ingin bicara sebentar. Aku tidak akan macam-macam, mengapa kau setakut itu padaku?" suara Ben terdengar lebih le
Setelah menghabiskan masa izin dua harinya, Emily kembali ke kota dan menjalani rutinitas sebagai seorang karyawan. Pagi ini, seperti biasa, ia berangkat ke kantor. Tidak ada yang berbeda sejak sebelum ia pergi ke Amerika. Rekan-rekan kerjanya tetap memperlakukannya seperti sebelumnya. Namun, satu hal yang berubah adalah Leni. Gadis itu kini lebih ramah dan terbuka, yang membuat Emily merasa sedikit lebih nyaman. Setidaknya, kini ia punya tambahan teman selain Dimas.Hari-hari berlalu tanpa banyak kejadian berarti. Semua berjalan seperti biasa—rapat, tugas kantor, makan siang, hingga kembali pulang ke kosannya. Seminggu pun berlalu dengan cepat.Siang itu, saat Emily sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mulai mendengar bisik-bisik dari rekan-rekan di sekitarnya."Oh my God, dia sangat tampan!""Dulu aku sempat bertemu dengannya juga.""Apakah itu benar?""Mereka sungguh berpacaran?""Aku sudah yakin saat proyek tim Leni ke Amerika.""Mereka sangat cocok!""Dia benar-benar tampan."Emi
“Ya?” jawab Emily, berusaha tenang.“Kau sudah sampai di rumah ibumu?”“Sudah. Aku tiba siang tadi, sekarang di sini sudah malam,” ucap Emily lembut.Hening sesaat di antara mereka. Emily kemudian bertanya, “Aku yakin di sana masih pagi sekali. Apa kau terbiasa bangun sepagi itu?”“Aku belum tidur,” jawab Sylvester pelan.Emily terkejut. “Belum tidur?”“Iya... ah, mungkin aku akan melanjutkan tidurku di kantor nanti,” ucap Sylvester sambil tertawa kecil, meski terdengar lelah.Emily terdiam sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau belum tidur?”“Aku menunggu balasanmu,” jawab Sylvester jujur. “Aku berkali-kali menelponmu, tapi tak kau angkat.”Emily menarik napas dalam, mencoba menahan rasa yang sempat mengganjal. “Mungkin karena kau sedang bersenang-senang di luar sana… jadi aku pikir, aku tak mau mengganggu,” ucapnya, sedikit ketus.Sylvester diam sesaat, sebelum akhirnya berkata pelan, “Emily.”“Ya?”“Apa yang Carol katakan padamu?” tanyanya hati-hati.Emily menggigit bibir bawahnya. “M