Home / Pernikahan / Talak Aku, Mas! / 24. Persidangan

Share

24. Persidangan

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku memilih untuk berhenti berjualan roti. Memang benar apa yang dikatakan oleh Mama dan juga Mbah Uti, tubuhku rasanya tidak kuat jika harus berkeliling untuk menjual roti-roti itu.

Selain itu, waktu yang kuhabiskan pun lebih banyak sehingga membuat anakku rasanya seperti kehilangan banyak waktu denganku. Jadi, aku sekarang lebih memfokuskan diriku untuk mengambil lebih banyak job sebagai seorang pengajar les privat.

Sebenarnya, ini bukan semata-mata karena aku malu berjualan roti itu tetapi lebih pada kesehatanku serta waktuku. Namun, memang ternyata ketika aku berhenti Mama dan Mbah Uti begitu lega.

"Zara, mau daftar ke pengadilan dulu, Ma," pamitku yang sudah selesai menyiapkan semua berkas gugatan cerai.

Mama terlihat memandangku dengan tatapan sayunya, dia berujar pelan sambil duduk di salah satu kursi yang kosong.

"Mama sebenarnya nggak pernah menyangka kalau rumah tangga kamu harus berakhir seperti ini. Perceraian itu memang
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Talak Aku, Mas!   25. Status Baru

    Namun, setelah aku berpikir panjang mengenai pernikahan kedua yang beberapa kali telah diucapkan oleh Mama dan juga Mbah Utiku itu, aku tetap belum bisa melakukannya. Sepertinya, meskipun nanti masa iddah ku selesai, aku belum bisa memikirkan hal itu. Saat ini prioritasku adalah lepas dari orang itu lalu kemudian mencoba untuk mendorong diriku lagi untuk mendapatkan apa yang sudah aku impikan sejak dulu. Aku hanya ingin membuat anakku bangga akan diriku dan menjamin kehidupannya. Saat usai sidang itu, Gandhy tetap saja tak menghubungiku untuk menanyakan anaknya. Rasanya aku semakin mulai paham jika dia memang lepas tangan sepenuhnya untuk ikut merawat anakku. Padahal awalnya aku sempat mengira jika Gandhy akan merebut hak asuh atau setidaknya akan terjadi perebutan mengenai hak asuh anakku itu. Ternyata Gandhy memang tak peduli sepenuhnya tetapi aku justru merasa sangat lega sekali karena itu artinya aku bisa mendapatkan hak asuh sepenuhnya atas anakku. "Gandhy nggak datang?" ta

  • Talak Aku, Mas!   26. Dokter Muda

    Oh, tidak. Aku tidak ada waktu untuk ini. Dengan segera aku berkata, "Dok, anak saya demam tinggi. Baru tadi."Aku lihat dokter muda itu sedikit tersentak dan langsung saja menjawab, "Anak? Oh, i-iya saya periksa dulu."Aku mengangguk dan ke luar dari ruang itu, membiarkan dokter menangani anakku. Di luar ruangan, aku dan Mamaku tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk Fuchsia. Ya, Tuhan. Aku sangat takut. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan putriku, ucapku dalam hati.Aku bahkan tak kuasa menahan diri untuk tak berdiri mondar-mandir di depan unit gawat darurat. Sekitar lima menit kemudian, dokter itu ke luar dari sana dan langsung menuju ke arahku dengan raut wajah cemas."Demamnya cukup tinggi. Apa ada keluhan selain demam?" tanya dokter itu.Tiba-tiba Mamaku menjawab, "Ada, Dok. Tadi dia bilang saat pipis dia bilang perih."Aku tentu saja terkejut dan menoleh ke arah Mama tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.Aku lalu mendengar dokter itu berkata lagi, "Kalau begitu tes urine d

  • Talak Aku, Mas!   27. Sikap Berlebihan Sang Dokter

    Pada akhirnya aku tidak jadi mengatakannya pada Dimas. Menurutku, akan sangat aneh jika aku langsung mengatakan hal itu. Aku hanya takut jika dia akan salah paham. Meskipun aku yakin dia bukan orang seperti itu tetapi tetap saja aku tidak yakin untuk menjelaskan statusku."Zara, hasilnya sudah ke luar, kamu tunggu di sini ya?" ujarnya usai dia menerima sebuah panggilan."Hah!? Biar aku saja yang ambil," ucapku karena tak enak. Aku tak mau membuat rekan kerjanya jadi salah paham. Ini karena saat aku di ruang tunggu tadi, aku sudah merasa sedang diperhatikan oleh rekan-rekan kerjanya yang juga mengenakan jas putih khas dokter itu."Nggak apa-apa. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan petugas laborat, jadi sekalian saja," ucapnya yang aku yakin itu hanya alasan saja.Aku pun hanya bisa mengangguk dan membiarkan pria itu mengambil hasil laboratorium Fuchsia. Mama masih setia memangku Fuchsia. Aku lalu mengambil ponselku yang tak aku sentuh sejak aku menginjakkan kakiku di rumah sa

  • Talak Aku, Mas!   28. Akta Cerai

    Aku menimbang-nimbang sesaat sebelum menjawab pertanyaan Dimas tetapi aku memutuskan untuk mengatakannya saja."Aku lagi proses cerai, Dim," jawabku pelan.Aku tak memandang wajah Dimas jadi aku tak tahu bagaimana reaksinya sekarang ini. "Mungkin kamu udah bosan mendengarnya tapi aku tetap mau bilang sabar ya, Ra?" ucapnya.Tanpa menoleh aku menjawab, "Iya.""Kalau begitu, boleh aku minta nomor telepon kamu yang baru?" tanyanya.Aku sontak menoleh ke arahnya dan dia ternyata sudah mengeluarkan ponselnya, ekspresinya terlihat bersemangat.Tunggu dulu, dia kok jadi..."Ah, maaf. Aku tahu aku mungkin terdengar egois sekali. Tapi Ra, jujur saja aku jadi berpikir mungkin nanti masih ada kesempatan buat kita. Maaf aku...""Nomor ponsel aku..."Dimas sedikit terkejut aku langsung mengatakannya tetapi dia kemudian dia tersenyum kepadaku.Ah, entahlah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun, yang jelas, untuk saat ini aku hanya ingin mencoba untuk membalas kebaikan Dimas. Dia sudah

  • Talak Aku, Mas!   29. Alasan Basi

    Pak Agung dan Bu Sri terlihat sekali tak bisa menjawab pertanyaan Mamaku. Tetapi, memang sungguh sangat keterlaluan sekali laki-laki itu. Mama berbicara lagi, "Gandhy mau lepas tanggung jawab sepenuhnya ya Pak?"Pak Agung menjawab pelan, "Ya sebenarnya bukan seperti itu. Gandhy mungkin masih belum bisa menerima semuanya jadi dia masih perlu waktu untuk membiasakan diri."Nggak nyambung, Pak. Aku membatin dengan kesal."Pak, sebenarnya saya tidak peduli jika dia itu mau menikah atau bahkan mau berpoligami sekalipun. Tapi yang saya mau itu dia sedikit saja mau peduli pada anaknya. Fuchsia itu masih sangat kecil sekali, Pak. Apa Gandhy nggak pernah berpikir sedikitpun tentang perkembangan anaknya?" tanyaku.Pak Agung sepertinya kembali kehilangan kata-katanya karena dia tidak membalas perkataanku. Bu Sri yang malah kembali berujar, "Gandhy itu pasti tetap mikirin anaknya. Ibu sering lihat kadang dia itu melamun sendirian dan sekarang ini lebih banyak diam dibandingkan dulu. Sedikit atau

  • Talak Aku, Mas!   30. Toko Dekat Rumah

    "Tahu, Mbak. Sudah ramai malah. Tapi ada banyak juga sih yang bingung soalnya kan Mbak Zara sudah nggak di sini lagi jadi pada bertanya-tanya gitu. Masih ragu-ragu itu benar atau enggak gitu," jawab Mas Yoga dengan ekspresi penuh tanda tanya.Aku tersenyum samar, "Ya surat itu dibuat dengan penuh pertimbangan, Mas. Kan di surat itu juga ada penjelasan-penjelasan tentang kenapa aku sampai juga dia. Ada buktinya kok, Mas. Masa kalau nggak ada buktinya, aku berani gugat dia sih Mas?"Mas Yoga terlihat terkejut tetapi sepertinya dia juga sudah menduga, "Ya Allah, Mbak. Yang sabar ya Mbak. Sudah biarin aja orang yang kayak gitu. Mbak kan berpendidikan nanti pasti banyak yang mau sama Mbak Zara. Saya aja mau, Mbak."Aku tertawa kecil mendengarnya tentu saja dia hanya bercanda."Ya sudah, Mas. Saya pamit dulu ya? Nanti keburu siang soalnya," ucapku lagi."Iya, Mbak. Hati-hati ya!" ucap Mas Yoga.Saat aku mulai menyalakan mesin motorku, aku cukup sebal karena bensinku ternyata hampir habis. Na

  • Talak Aku, Mas!   31. Aku Kenapa, Deva?

    Aku melirik Salsa yang sudah turun dari motor itu, sementara Deva berdiam diri di samping motornya dengan ekspresi masih terlihat aneh. Anak itu terlihat kucel dan kotor. Astaga, apa sih yang dilakukan Deva sampai anaknya itu tak terurus begitu? Aku sampai tak tega melihatnya.Bukankah dia ini punya uang banyak ya? Masa iya nggak sanggup beli baju buat anaknya?"Udah nggak usah bingung, Mbak. Tenang saja," ucapku lagi.Dia menjawab, "Siapa yang bingung? Aku nggak bingung, kok.""Oh, nggak bingung? Wah, ternyata." Aku manggut-manggut."Ternyata apa maksud kamu?" Deva menatapku tak suka.Aku tersenyum sinis, "Ternyata sudah nggak punya hati nurani."Deva terlihat kaget. "Kamu...""Aku kenapa, Deva?"Wajahnya semakin terkejut saat aku memanggilnya tanpa embel-embel kata 'Mbak'. "Yah, kan jika kamu masih punya hati nurani, harusnya kamu merasa bersalah sudah menghancurkan rumah tangga orang lain. Orang baik kan pasti selalu merasa dirinya memiliki kesalahan.""Sudah aku katakan sama kamu

  • Talak Aku, Mas!   32. Makan Siang

    "Iya, Ma. Kok bisa kebetulan gitu ya? Aku aja tadi kaget," ungkapku.Mama berkata, "Ya apa sih yang nggak mungkin di dunia ini itu, Ra? Lagian kota ini itu kan nggak terlalu besar juga jadi ya jangan heran kalau ternyata bisa kejadian seperti itu."Aku terdiam untuk beberapa saat sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan. Jujur saja, aku sangat ragu sekali datang. Entah sebagai gurunya Fadlan atau menemani Dimas."Terus kamu mau datang nggak, Ra?" tanya Mama.Aku menjawab dengan ragu-ragu, "Belum tahu, Ma.""Hm. Ya kalau kata Mama sih nggak apa-apa kalau kamu mau datang, lagi pula di sana kan acaranya acara keluarga jadi ya nggak masalah."Aku mengangguk dan kemudian setelah minumanku habis, aku segera kembali ke kamarku dan memejamkan mataku.Pagi harinya, aku sudah memutuskan jika aku tidak akan datang entah sebagai tamu undangan gurunya Fadlan ataupun menemani Dimas. Dan sebagai gantinya, aku bersedia untuk diajak makan siang sama Dimas besok harinya.Menurutku ini jauh lebih ba

Latest chapter

  • Talak Aku, Mas!   98. Akhir

    "Ya. Aku tentu menyukainya, Ndy. Karena kalau tidak, mana mungkin aku mau menikah dengannya," ujarku yang telah tak bisa lagi membiarkan Gandhy terus-menerus menggangguku.Saat aku mengatakannya, wajah Gandy terlihat mengeras. Dia terdiam beberapa saat lamanya sampai aku lelah sendiri menunggunya sehingga aku berkata, "Aku kerja dulu ya, Ndy. Kalau mau ketemu Fuchsia, kamu tunggu aja. Dia udah bangun kok."Saat aku melangkah, ia mendadak berkata, "Maafin aku ya, Ra! Atas semua masalah yang aku timbulkan. Mungkin ini waktunya aku menyerah."Aku tertegun, tentu saja. Tak pernah terkira aku akan mendapatka permintaan maaf dari Gandhy yang notabene adalah orang yang anti sekali mengakui kesalahannya dan malah seakan tak pernah merasa bersalah padahal telah berbuat salah. "Aku benar-benar minta maaf atas tindakan dan sikap aku yang telah membuatmu terganggu selama ini, Ra. Aku tahu aku pasti udah bikin kamu nggak nyaman. Aku hanya masih sulit menerima jika kamu akan menjadi milik orang la

  • Talak Aku, Mas!   97. Keterbukaan

    Jawaban dari pertanyaan Aaron tentu saja adalah iya. Namun, tentu aku tak langsung berkata lantang mengenai hal itu. Aku memilih untuk menyimpan keraguan kepadanya dan bertanya tentang hal lain, yang mungkin bisa saja membuat kepercayaanku kembali lagi."Aaron, saya bukannya meragukan kamu. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya," jawabku.Aaron membalas, "Apa? Beritahu saya, Zara!"Aku tersenyum tipis, "Boleh saya jujur sekaligus bertanya sama kamu?""Tentu saja boleh. Bukankah kita sebentar lagi akan hidup berdua? Kamu berhak bertanya hal apapun."Kuanggukkan kepalaku sebelum kemudian berkata pelan, "Tadi salah satu teman kerja aku, menemukan akun instagram lama kamu. Dan saya agak terkejut kamu nggak pernah menceritakan itu sama saya. Pertanyaan saya, kenapa kamu menyembunyikan hal itu dari saya?"Saat aku mengamati Aaron, jelas sekali ekspresi wajahnya yang tadi tampak tenang itu kini terlihat gusar."Jadi, kamu sempat melihatnya?" tanya Aaron.Aku mengangguk sekali lagi.A

  • Talak Aku, Mas!   96. Rencana Aaron

    "Ya dijual. Aaron bilang itu restorannya harus dijual," jawabku."Hah? Dijual? Apa nggak rugi? Nggak sayang, Ra?" tanya Andindia yang mengerti bagaimana susahnya menjalankan sebuah usaha. Aku sangat paham akan hal itu. Terlebih lagi kulihat sorot matanya ada sebuah ketidakrelaan yang ia perlihatkan dengan jelas."Iya pasti sayang banget, Nind. Tapi itu udah jadi keputusan dia jadi ya aku nggak bisa ikut campur," jawabku.Tya berdecak, "Lha apa nggak ada sanak saudaranya yang bisa mengurus usahanya itu, Ra? Aku masih agak gimana gitu kalau dijual."Aku menjawab, "Keluarganya yang lain itu punya usaha-usaha sendiri jadi ya nggak ada yang urus.""Walah. Sayang banget!" seru Anindia.Marlina bertepuk tangan, "Semua itu dilakukan demi perasaan yang dinamakan 'Love'. Ah, aku iri sekali jadinya sama kamu, Ra. Dicintai dengan begitu besar sama lelaki yang rela melakukan apapun demi kamu. Wow, that's so sweet, you know."Aku hanya diam, agak malu."Kamu benar-benar sangat beruntung banget, Ra.

  • Talak Aku, Mas!   95. Alasan Zara

    "Ya ngapain juga aku bohong sama kamu, Al. Aneh-aneh aja kamu tuh," sahutku cepat.Kulihat Alea tersenyum, "Duh, dia tuh idaman banget, Ra."Aku menaikkan sebelah alisku menatap Alea, menunggu ia melanjutkan kata-katanya.Alea yang selalu dengan mudah memahami arti dari setiap sikapku itu langsung saja berkata, "Dia sangat dewasa, Ra. Ini nih ya, kalau cowok lain ya dia pasti akan berantem sama Gandhy. Terus kamu juga akan ditekan buat lebih tegas sama Gandhy dan malah bisa-bisa dia nggak kasih izin sama Gandhy buat ketemu Fuchsia."Aku sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Alea."Tapi, Al. Aku lihat banyak juga kok yang bersikap kaya Aaron. Banyak juga yang masih kasih izin buat mantan suami ketemu sama anak hasil dari pernikahan si istri sebelumnya. Lagi pula, kan nggak ada hak dia larang-larang," ujarku.Alea menjawab, "Langka, Ra. Swear deh. Kamu cari tuh cowok macam Aaron di belahan dunia lain, pasti kamu kesulitan nyari."Aku terdiam. Alea melanjutkan, "Yakin deh. Kamu i

  • Talak Aku, Mas!   94. Putus Asa

    "Duh, memang ngomong sama kamu itu susah banget ya," ujarku putus asa, merasa sagat percuma berbicara dengan Gandy sekarang."Zara, aku itu hanya mau yang terbaik buat Fuchsia."Aku menggelengkan kepalaku."Kamu bahkan nggak tahu apa yang terbaik bagi Fuchsia. Kamu hanya memikirkan tentang dirimu sendiri. Kamu nggak pernah mau tahu mana yang baik dan buruk bagi Fuchsia," ujarku."Yang terbaik bagi Fuchsia itu ya dia hanya dekat dengan papa kandungnya saja."Aku tertawa. Tawa hambar yang kuperlihatkan pada Gandhy."Seharusnya kamu melakukan hal itu sejak dua tahun lalu. Bukannya baru berbicara sekarang. Ke mana saja kamu saat itu? Kamu aja nggak peduli sama anak kamu kok," ujarku."Kenapa sih kamu mengungkit hal itu lagi, Ra? Kamu masih dendam kepadaku?" tanyanya.Tak percaya aku dengan perkataanya yang semakin membuatku ingin sekali dia segera saja pulang dari rumahku."Lebih tepatnya aku heran bagaimana bisa kamu yang telah melakukan kesalahan besar tapi tak mau berkaca dan instropek

  • Talak Aku, Mas!   93. Keegoisan

    "Ada apa ke sini?" tanyaku sinis.Sengaja aku langsung menyambutnya. Hal ini bukan karena aku senang bertemu dengannya tapi karena aku masih sangat kesal sekali dengannya. Ini tentu berkaitan dengan pertemuan kami yang terakhir kemarin. Pertemuan yang membuatku muak karena kedatangan Deva yang tiba-tiba dan mengacaukan mood-ku."Loh kok ada apa sih, Ra? Kan kata kamu kemarin aku boleh datang jenguk Fuchsia kapan aja. Kamu bilang nggak akan halangin aku buat ketemu dia," ujarnya baru saja melepaskan helm."Ya, tapi bukan berarti terlalu sering. Mending kamu bikin jadwal aja deh. Bisa kan?" tanyaku.Gandhy menyahut, "Oke, nanti aku akan bikin jadwak biar kita sama-sama nyaman."Gandhy kemudian melirik ke arah bagian sepatu, "Ada tamu ya?""Ya. Ya sudah masuk aja."Gandhy kemudian masuk dan langsung saja bertatap muka dengan Aaron yang sedang main dengan Fuchsia. Namun, Gandhy memutus pandangannya dan langsung beralih melihat Fuchsia."Fuchsia, Sayang."Fuchsia mendekat ke arah Gandhy. "

  • Talak Aku, Mas!   92. Rencana Masa Depan

    "Nggak apa-apa, Ma," sahutku malu luar biasa."Assalamualaikum," ujar Aaron yang diiikuti oleh kedua orang tuanya."Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan."Mari masuk!" ajak papa.Dan setelah itu, kurasa aku tak akan pernah lagi memiliki waktu untuk memikirkan hal lain selain memikirkan masalah Fuchsia dan juga orang baru yang telah menyatakan dirinya ingin segera menikahiku.Perbincangan itu pun bergulir dengan begitu santai. Tak pernah aku sangka jika ternyata kedua orangtua Aaron juga bisa berbahasa Indonesia dengn sangat baik sehingga tak ada masalah komunikasi yang terjadi antara orangtuaku dan orangtua Aaron. Sebagai seorang wanita yang sedang dilamar, aku tak terlalu banyak bersuara. Aku hanya akan berbicara ketika ditanya, seperti Aaron. Namun, hal lain yang membuatku masih agak terkejut adalah Fuchsia yang terlihat begitu nyaman duduk di sebelah Aaron. Sesekali dia berinteraksi dengan Aaron. Dan aku sempat melihat wajah hangat yang diitunjukkan oleh Mama Aaron."Sangat cant

  • Talak Aku, Mas!   91. Debat Kusir

    "Hei, please deh. Jangan ribut di rumah orang!" ujarku yang sudah malas sekali melihat drama yang terjadi di hadapanku sekarang ini.Deva terlihat menoleh ke arahku, "Ini semua gara-gara kamu, Ra. Kalau memang benar apa yang dikatakan sama Gandhy. Berarti kamu yang paling salah di sini."Semakin aku tidak mengerti apa lagi yang dipikirkan oleh wanita ini. Aku hanya menghela napas bosan sebagai sebuah tanggapan. Gandhy berkata, "Dev, kenapa sih kamu nggak berhenti nyalahin Zara. Dia itu nggak salah apa-apa. Dia bahkan nggak pernah menghubungi aku. Aku yang mau ke sini.""Iya. Tapi kalau Zara nggak berniat menghancurkan hubungan aku sama kamu, dia seharusnya nggak menerima kamu di sini, Ndy. Dia harusnya menolak kamu dan menutup komunikasi dengan kamu. Tapi apa nyatanya. Dia malah mempersilahkan kamu buat datang ke sini dan malah ngobrol berdua. Apa itu namanya kalau nggak mau hancurin hubungan kita? APA!?" teriak Deva.Aku tertawa sinis. Deva dan Gandhy langsung menoleh ke arahku. Kut

  • Talak Aku, Mas!   90. Kekacauan

    "Nggak apa-apa, Ma. Zara nggak apa-apa kok," jawabku."Beneran, Ra? Kamu yakin?" tanya mama, terlihat tidak yakin saat menatapku.Aku mengangguk, "Zara baik-baik aja, Ma. Hanya kesal aja sih, Ma.""Dia ngapain aja, Ra? Kamu diapain aja sama dia?" tanya mama seperti menginterogasiku.Aku tersenyum kepadanya, "Nggak diapa-apain kok, Ma. Zara cuman tadi ngobrol sama di. Gitu doang.""Ngobrolin apa sampai kamu tuh kelihatan nggak semangat banget kaya tadi, Ra?""Dia nuduh Zara sudah bikin Gandhy nggak perhatian sama dia. Dia juga bilang kalau Zara itu yang pengaruhi Gandhy dan ingin balik sama dia," jelasku.Mama sontak berkata dengan ekspresi kaget tapi lebih terkesan jengkel, "Kok bisa dia mikir begitu? Apa dia kira kamu masih suka sama Gandhy? Aneh banget.""Kayanya begitu. Dia itu ngira Zara belum menikah lagi karena masih suka sama Gandhy dan berharap kembali sama si Gandhy, Ma.""Astagfirullah. Apa dikiranya semua orang itu suka sama si Gandhy apa? Dia pikir Gandhy udah paling-palin

DMCA.com Protection Status