Hari semakin siang, dan turnamen di arena terus berlanjut. Sorak-sorai penonton mengiringi setiap pertarungan sengit yang berlangsung. Di tengah keramaian, Xiao Feng duduk bersandar di sudut ruang tunggu, memulihkan energinya. Sorot matanya penuh dengan kewaspadaan, sekaligus tekad untuk melangkah lebih jauh.Bai Ling kembali mendekatinya setelah beberapa saat pergi. Ekspresinya serius, namun ada ketenangan dalam caranya berbicara."Aku menemukan informasi tambahan," katanya sambil duduk di samping Xiao Feng. "Para pedagang budak yang membawa gadis kecil itu ternyata bersembunyi di pelabuhan timur Chang'an. Mereka menunggu kapal besar yang akan membawa para tawanan ke negeri seberang."Xiao Feng menoleh, matanya menyipit. "Pelabuhan timur? Bukankah itu tempat yang dijaga ketat oleh pasukan kekaisaran?""Benar, tapi pasukan itu tampaknya hanya pura-pura berjaga. Sebenarnya, mereka bekerja sama dengan para pedagang," jawab Bai Ling dengan suara pelan, memastikan tidak ada yang mendengar
Saat ini Xiao Feng duduk di sisi arena, setelah pertarungannya melawan Raja Bayangan beberapa saat yang lalu. Matanya tajam memperhatikan setiap gerakan para peserta yang masih bertanding, merasa antusias dengan turnamen tersebut. “Jika aku harus menyelesaikan turnamen ini dengan cepat, aku harus memahami gaya bertarung mereka,” gumamnya dalam hati.Teriakan penonton menggema ketika seorang wanita muda melangkah ke tengah arena. Gaun birunya melambai tertiup angin, dan hawa dingin segera menyelimuti area sekitar. Ujung jarinya tampak mengeluarkan butiran es yang perlahan membentuk kristal tajam."Dia seperti Bai Ling... tapi lebih ganas," pikir Xiao Feng, memperhatikan lawan wanita itu yang tampak gemetar oleh suhu dingin yang tiba-tiba muncul."Aku adalah Lan Xue dari Lembah Es Abadi," ucap wanita itu, suaranya dingin seperti udara di sekitarnya. "Jika kau takut, mundurlah sekarang."Lawan pria di depannya, seorang pendekar bertubuh besar, hanya menyeringai. "Kau pikir hawa dinginmu
Xiao Feng berdiri di sisi arena, mengamati dengan saksama pertarungan yang sedang berlangsung. Lawannya berikutnya adalah seorang pria berbadan tegap, dengan bekas luka di pipinya yang menunjukkan pengalaman bertempur. Pedang besar tergantung di punggungnya, namun tatapan pria itu mengisyaratkan bahwa ia lebih berbahaya dari penampilannya.Juru bicara berteriak, "Selanjutnya! Pendekar dari gunung timur, Lu Shan, melawan pendekar misterius yang telah merebut perhatian kita, Xiao Feng!"Sorak-sorai menggema saat Xiao Feng melangkah ke arena. Ia menatap Lu Shan yang sudah menunggu di tengah. "Kau terlihat kuat. Aku harap kau tidak mengecewakanku," ujar Lu Shan dengan nada mengejek.Xiao Fenghanya tersenyum kecil, menanggapi dengan santai. "Kita lihat saja siapa yang mengecewakan siapa."Tanpa menunggu waktu lebih lama, wasit memberikan aba-aba, dan pertarungan dimulai. Lu Shan bergerak cepat, melompat ke udara dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan besar."Hiat!"Suara serangan mengge
Saat ini, arena berubah sunyi ketika Qi Rou melangkah masuk, membawa angin sejuk yang lembut namun mematikan. Gaun merahnya melambai perlahan, sedangkan pedang panjangnya bersinar di bawah cahaya matahari. Xiao Feng melangkah maju, membalas tatapannya dengan penuh percaya diri."Aku tak sabar melihat apa yang disebut tarian pedang itu," kata Xiao Feng sambil menyilangkan tangannya, tubuhnya tampak santai namun penuh kewaspadaan."Kau akan tahu, dan semoga kau siap," balas Qi Rou dengan suara tenang."Pertarungan dimulai!" teriak wasit."Hiat!" Qi Rou menyerang dengan gerakan seperti menari, pedangnya meluncur cepat dalam lintasan melingkar, membentuk pola yang indah namun mematikan."Wshuu! Wshuu!" Suara angin memotong terdengar dari setiap ayunan pedangnya.Xiao Feng bergerak cepat, melompat ke belakang untuk menghindari tebasan. Ia memanfaatkan jarak untuk menganalisis pola gerakan Qi Rou. "Tarianmu indah, tapi terlalu bisa ditebak," ejeknya sambil menyeringai."Jangan terlalu perca
Sorak sorai masih menggema di arena saat Xiao Feng melangkah keluar, menghapus sedikit debu dari bahunya. Wajahnya tetap tenang, meski ia tahu pertarungan melawan Hua Lian tadi hampir membuatnya mengeluarkan kekuatan yang seharusnya tidak perlu. Namun, pikirannya mulai beralih."Turnamen ini terlalu aneh. Banyak pendekar kuat berkumpul, tapi hadiah utamanya hanya sebuah kapal? Apa mungkin ada sesuatu yang lebih dari ini?" pikirnya.Ia melangkah menuju tempat istirahat, di mana ia mendapati Bai Ling telah kembali dari pencariannya. Wajah Bai Ling terlihat serius, berbeda dari biasanya."Bagaimana hasil pencarianmu, Bai'er?" tanya Xiao Feng sembari menyandarkan tubuhnya di dinding.Bai Ling mendekatinya, menatap langsung ke matanya. "Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan, Feng'Ge. Orang-orang yang terlibat dalam perdagangan budak itu tampaknya terhubung dengan penyelenggara turnamen ini. Aku mendengar desas-desus bahwa kapal yang menjadi hadiah bukanlah sembarang kapal. Itu digunakan
Sorak-sorai penonton menggema lebih keras dari biasanya. Xiao Feng kembali berdiri di tengah arena, bersiap menghadapi lawan berikutnya. Lawan ini adalah Lan Xue, pendekar yang dikenal dengan teknik pedangnya yang elegan dan mematikan.Lan Xue melangkah ke tengah arena dengan anggun, pedang peraknya bersinar di bawah cahaya matahari. Wajahnya dingin, tapi ada kilatan tekad di matanya."Xiao Feng," katanya dengan suara tenang. "Aku sudah menantikan kesempatan ini. Kau lawan yang menarik, tapi jangan berharap aku akan menahan diri."Xiao Feng mengangguk, sembari memasang kuda-kuda. "Aku juga ingin melihat seberapa hebat jurusmu, Lan Xue. Tunjukkan padaku."Tanpa menunggu aba-aba Lan Xue langsung memberikan serangan."Hiat!" Lan Xue membuka serangan dengan gerakan cepat, pedangnya meluncur seperti kilat, mengarah tepat menuja area jantung Xiao Feng"Wshhh!" Angin dari ayunan pedangnya terasa dingin, seolah menusuk tulang. Namun Xiao Feng menghindar dengan lompatan gesit, hampir tidak ter
Malam itu, pelabuhan Chang’an tampak sibuk dengan deretan kapal besar yang berlabuh. Cahaya lentera berkelap-kelip di sepanjang dermaga, menerangi aktivitas pekerja yang memuat barang ke kapal. Kapal tempat para budak ditahan berdiri megah, dijaga ketat oleh sekelompok pria bertubuh kekar bersenjata pedang dan tombak.Xiao Feng dan Bai Ling mengamati dari kejauhan. Untuk memastikan semuanya aman, Xiao Feng memeriksa lingkungan sekitar, lalu melirik Bai Ling."Kita mulai sekarang?" tanya Bai Ling dengan nada penuh keyakinan.Xiao Feng mengangguk. "Ingat rencananya. Aku akan membuat keributan, kau menyelinap ke kapal. Lepaskan mereka secepat mungkin, Bai'er.""Jaga dirimu, Feng'Ge," sahut Bai Ling, sebelum akhirnya Xiao Feng melesat pergi dari tempatnya.Xiao Feng melangkah santai menuju dermaga, sengaja membuat langkahnya terdengar oleh para penjaga. Ketika salah satu dari mereka menyadari kehadirannya, pria itu mengangkat tombaknya dengan waspada. Merasa curiga dengan kedatangan orang
Angin malam masih membelai wajah mereka saat Xiao Feng dan Bai Ling sibuk memeriksa satu per satu wajah para budak. Rasa lega yang semula menyelimuti hati mereka perlahan berubah menjadi cemas ketika tidak menemukan sosok anak perempuan yang mereka cari."Apa kau menemukannya, Bai’er?" tanya Xiao Feng dengan nada khawatir, matanya menatap tajam ke arah Bai Ling yang berdiri tak jauh darinya.Bai Ling menggeleng pelan, wajahnya terlihat tegang. "Tidak... Aku sudah memeriksa mereka semua. Tidak ada yang sesuai dengan gambaran anak perempuan yang kita cari."Xiao Feng mendesah panjang, memijat pelipisnya sambil melirik kembali kerumunan budak yang kini memandang mereka dengan tatapan bingung. "Kita bahkan tidak tahu bagaimana rupa anak itu... Bagaimana mungkin kita bisa menemukannya di tengah situasi seperti ini?"Ketika mereka mulai kehabisan akal, seorang pria tua dengan wajah tirus dan mata cekung mendekat. Suaranya parau saat berkata, "Aku tahu siapa yang kalian cari."Xiao Feng sege
Pasukan Bendera Biru yang tadinya terpecah belah kini berdiri diam, terpaku melihat tubuh pemimpin mereka, Luo Yunhai, yang tergeletak di tanah. Namun, ketenangan itu tiba-tiba berubah menjadi keterkejutan ketika tubuh Luo Yunhai perlahan bergerak. Dengan langkah gontai, ia bangkit berdiri, darah menetes dari sudut bibirnya, tetapi matanya menyala penuh kebencian dan tekad.“Jangan pikir aku akan mati semudah itu,” suara Luo Yunhai terdengar serak namun penuh kemarahan, menggema di seluruh arena. "Aku... adalah Pelaut Bayangan Laut! Tak ada yang bisa menjatuhkanku!"Sorakan pasukan Bendera Biru kembali pecah. Mereka berteriak penuh semangat, seolah kebangkitan Luo Yunhai membakar kembali nyali mereka yang sempat memudar. Mereka mulai bergerak lagi, mengepung Xiao Feng dan Bai Ling yang kini semakin kelelahan.Xiao Feng memandang Luo Yunhai dengan tajam, napasnya memburu. "Orang ini... bagaimana dia bisa bertahan dari serangan itu?" pikirnya. Luka di tubuh Luo Yunhai memang jelas terli
Saat kekacauan pertempuran semakin memuncak dan harapan hampir hilang serta kematian kakak seperguruan Xiao Feng yang telah mengorbankan diri dari peperangan itu. Bai Ling tiba-tiba menunjuk ke arah langit, seolah melihat satu harapan yang akan segera datang. "Feng'Ge! Lihat ke atas!" serunya dengan nada bergetar.Melihat hal itu, Xiao Feng segera mendongak, melihat kearah yang sama. Di antara awan gelap dan kilat yang menyambar, muncul sosok pria yang melayang perlahan, auranya menyelimuti medan perang dengan tekanan luar biasa. Tubuhnya diselimuti kilauan hitam pekat seperti sisik naga, sementara matanya menyala tajam seperti emas cair. Rambut hitam panjangnya berkibar diterpa angin, memberi kesan seorang pendekar yang tak tertandingi."Itu... Long Yu," gumam Xiao Feng dengan nada tidak percaya.Luo Yunhai, pemimpin kelompok Bendera Biru, mengernyit, matanya menyipit penuh waspada. "Long Yu? Siapa dia?" tanyanya.Xiao Feng mengatur napasnya, masih terpaku pada pria di udara itu. "Di
Pada saat ini, pertempuran terus berlangsung dalam kekacauan yang semakin mencekam. tampak darah mengalir, membasahi tanah, mengotori pasar gelap yang kini berubah menjadi medan perang. Terdengar jelas, rintihan kesakitan bercampur dengan suara denting pedang dan teriakan para prajurit yang masih bertarung.Sementara itu Xiao Feng masih bertarung sengit melawan Luo Yunhai yang saat ini masih menunjukkan aksinya dalam sebuah peperangan. Sementara Bai Ling mulai tampak ragu dalam mengambil tindakan. Matanya melirik ke arah rekan-rekannya yang semakin terdesak, terutama Xiao Feng, ia bingung harus berbuat apa dalam kondisi seperti ini.**Di satu sisi Qing Yue sedang mengayunkan tombaknya dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, mencoba menahan pasukan musuh yang semakin ganas. "Lin Mei! Bertahanlah!" serunya dengan napas tersengal. Namun, Lin Mei sudah sangat kelelahan, tubuhnya penuh luka, dan pedangnya bergetar lemah di tangannya, seolah ingin segera mengakhiri hidupnya, menyerah dala
Saat ini. Tekanan dari segala sisi semakin terasa berat. Pasukan Bendera Biru yang terus berdatangan seperti ombak tak berujung membuat kelompok Xiao Feng semakin terdesak. Meski mereka telah bertarung mati-matian, kelelahan mulai terlihat di wajah mereka. Napas mereka tersengal-sengal, keringat bercucuran, dan luka-luka di tubuh mulai bertambah.Tepat berada di tengah medan pertempuran, Xiao Feng masih bertahan melawan Luo Yunhai, meskipun tubuhnya sudah terasa sangat berat, karena melepaskan begitu banyak tenaga pada serangan sebelumnya. Tampak Pedang Pembalik Surga di tangannya sedikit gemetar, tetapi sorot matanya tetap tajam.Sementara itu Luo Yunhai, dengan trisula besarnya, masih berdiri di depannya seperti gunung yang tak tergoyahkan."Menyerahlah, Xiao Feng," ujar Luo Yunhai dengan suara tenang namun dingin. "Kau mungkin kuat, tapi kau sudah terlalu lelah. Kau tak akan bisa melindungi teman-temanmu. Sebentar lagi, mereka akan mati satu per satu."Mendengar kalimat itu, Xiao F
Pada saat mencoba untuk melarikan diri dari kejaran musuh. Udara malam yang dingin diwarnai suara ribuan langkah kaki yang menggema dari arah berlawanan terdengar jelas di telinga. Dari dalam kegelapan, terlihat bendera-bendera biru berkibar dengan lambang ombak yang meliuk di tengahnya. Pasukan ini bukanlah sembarang pasukan, mereka adalah kelompok Bendera Biru, yang terkenal akan kekuatan mereka di wilayah laut dan perbudakan internasional.Pemimpinnya tidak lain ialah Luo Yunhai, yang dikenal sebagai Pelaut Bayangan, ia saat ini tampak berdiri di atas bukit kecil di depan pasukannya. Tubuhnya tinggi dengan sorot mata dingin yang seperti menembus tulang, rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin. Ia memegang sebuah trisula besar berwarna biru keperakan, senjata yang menjadi ciri khasnya."Jadi, kau Xiao Feng," ujar Luo Yunhai dengan suara yang berat namun tajam, seperti suara ombak menghantam karang. "Kau membunuh Zhang Tianbao, menghancurkan kelompok Yu Zhi, dan kini mencoba m
Tubuh Yang Zhan telah diamankan oleh Lin Mei dan Jian Hong ke tempat yang lebih aman, meski mereka masih dikepung oleh musuh dari segala arah. Bai Ling menciptakan dinding es tebal untuk melindungi mereka sementara Qing Yue terus menyerang dengan tombaknya, matanya memerah penuh kemarahan.Namun, musuh tidak memberi mereka waktu untuk berduka. Pasukan Bendera Merah, dengan jumlah yang terus bertambah, mulai mendobrak pertahanan Bai Ling dan menyerang kembali dengan kekuatan penuh. Di tengah kekacauan itu, Xiao Feng maju ke depan, melindungi yang lain sambil menghadapi Yu Zhi, pemimpin pasukan tersebut.Yu Zhi, dengan senjata pedang berwarna hitam pekat yang bersinar dengan aura gelap, maju dengan penuh percaya diri. "Jadi, kau Xiao Feng, si pendekar yang membunuh Zhang Tianbao. Menurutku, kau tidak sehebat yang diceritakan."Xiao Feng memutar Pedang Pembalik Surga di tangannya, menatap Yu Zhi dengan dingin. "Kau akan segera tahu mengapa aku disebut seperti itu."Mereka berdua melompat
Pada saat situasi semakin memanas, di tengah medan yang penuh darah dan jeritan, Yang Zhan berdiri tegak dengan tombak panjangnya, napasnya mulai memburu, keringat sudah bercucuran, membasahi hampir seluruh bagian tubuh, tetapi sorot matanya tetap tajam, seolah tidak menunjukkan rasa ketir sedikitpun. Ia mengamati ratusan musuh yang mengepungnya. Tubuh besar dan kekuatannya membuatnya menjadi pusat perhatian di medan perang, terutama bagi pasukan Bendera Merah yang mulai menyerangnya dari segala arah."Ayo! Siapa lagi yang ingin mati?!" teriak Yang Zhan dengan suara menggelegar. Ia memutar tombaknya, menciptakan angin kuat yang menyapu musuh di sekitarnya. Beberapa orang terlempar ke belakang, tulang mereka patah hanya dengan satu serangan."Zhan-ge, jangan terlalu memaksakan diri!" teriak Lin Mei dari kejauhan, yang masih bertarung dengan kelompok lainnya.Mendengar hal itu, ia segera menoleh lalu menjawab, "Tenang saja! Aku akan memastikan tak satu pun dari mereka bisa mendekatimu!"
Setelah pertarungan sengit dengan Han Feng dan berhasil membunuhnya, Xiao Feng dan rombongannya bersiap meninggalkan pasar gelap yang kini sunyi. Udara terasa berat dengan bau darah yang masih menguar, dan langit mulai gelap, seolah menggambarkan ketegangan yang belum berakhir saat itu.Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti ketika suara derap kaki dan gemuruh senjata menggema dari segala arah. Dari sudut-sudut jalan, gang-gang gelap, dan bahkan dari atap bangunan, muncul ratusan bahkan ribuan pasukan berseragam merah. Mereka adalah Pasukan Bendera Merah.Sorot obor menyala-nyala, menerangi raut wajah mereka yang penuh tekad dan kemarahan. Mereka berdiri rapat, mengepung Xiao Feng dan rombongannya dalam formasi yang tampak dirancang dengan sempurna. Seorang pria kurus dengan jubah merah berdiri di atas bangunan kayu yang dibawa oleh beberapa anak buahnya. Matanya penuh dendam, menatap lurus ke arah Xiao Feng."Xiao Feng!" teriak pria itu dengan suara lantang y
Langkah kaki pria besar itu menggema di tengah pasar yang porak-poranda. Tubuhnya seperti gunung yang bergerak, dengan zirah hitam berkilauan yang melindungi tubuhnya. Kapak raksasa di tangannya tampak seperti cukup kuat untuk membelah batu besar hanya dengan sekali serangan. Sorot matanya tajam, penuh percaya diri, seolah-olah tahu bahwa ia adalah rintangan terakhir yang akan sulit dilewati."Kalian pikir bisa lolos begitu saja?" pria besar itu berbicara dengan suara berat seperti guntur. "Aku adalah Han Feng, Penjaga Besar dari pasar gelap ini. Tidak ada seorang pun yang bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup setelah membuat kekacauan seperti kalian."Yang Zhan dan Qing Yue tampak ragu sejenak setelah melihat kedatangan penjaga tersebut. Aura pria itu begitu menekan, dan kekuatan yang terpancar dari tubuhnya membuat mereka sedikit ketir. Qing Yue menggenggam erat pedangnya, sementara Yang Zhan menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya.Namun, Xiao Feng mela