Bab 184.Ryu Jin terkejut melihat puluhan orang yang menggunakan jubah berlambang Kalajengking Hitam berdiri di depan gerbang Balai Kota. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi."Bagaimana mereka bisa tiba di sini?" tanya Ryu Jin kepada Shizi dengan nada yang penasaran.Shizi tidak menjawab, ia hanya menatap Ryu Jin dengan mata yang dingin.Ryu Jin kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah Shizi."Baiklah, aku akan mempercayai kau," kata Ryu Jin."Bantu aku dalam perundingan ini,” ucapnya penuh arti.Shizi mengangguk, ia kemudian berjalan ke arah pintu." Mari kita pergi menemui mereka," kata Shizi.Ryu Jin mengikuti Shizi, mereka berdua keluar dari ruangan dan menuju ke arah gerbang Balai Kota.Saat mereka tiba di gerbang, Ryu Jin melihat puluhan orang yang menggunakan jubah berlambang Kalajengking Hitam masih berdiri di sana.Salah satu dari mereka melangkah ke depan, ia adalah seorang laki-laki yang memiliki wajah yang dingin dan mata yang tajam.Sementara
Bab 185.Shizi memperhatikan perbincangan yang Ryu Jin dan Xie Chong lakukan setelah kesepakatan dibuat, tampak di mereka dengan serius membahas tentang Kekaisaran dan Sekte aliran hitam yang tumbuh cepat bagai rumput liar di wilayah Kekaisaran Langit.Hal itu juga yang menarik perhatian Shizi di mana ia ingin tahu sejauh mana masalah yang terjadi diantara kedua kubu tersebut.“ Tuan Walikota, agar kau tahu, Xie Chong ini belum lama menjadi Master Sekte Kalajengking, karena sejatinya Sekte milikku ini anggotanya merupakan gabungan dari Sekte kecil yang pemimpinnya aku kalahkan.” “Kenapa aku melakukan itu… tentu saja karena aku tidak suka dengan penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte tersebut,” jelas Xie Chong tanpa ragu.“ Penyimpangan? Apa itu?” tanya Ryu Jin penasaran.Shizi menarik nafas panjang, setelahnya ia pun ikut angkat bicara, ”Cultivator Kegelapan selalu dianggap sesat karena diyakini sebagai teknik peningkatan kekuatan yang menghalalkan segala macam cara dan beraf
Bab 186.Kultus Mowang.Shizi pergi dari kota setelah menyaksikan perjanjian antara Sekte Kalajengking Hitam dengan Kota yang dipimpin Ryu Jin tersebut.Tentunya ia pergi tidak dengan tangan kosong karena Ryu Jin memberikannya surat rekomendasi dan sebuah token khusus Kekaisaran.Dari token itu pula Shizi mengetahui jika Ryu Jin ternyata adalah seorang Tuan Muda yang berasal dari Klan Ryu yang ada di Kekaisaran Langit dan Tetua Muda dari Sekte Langit Emas, salah satu Sekte Aliran Putih yang ada di Ibukota Kekaisaran.“ Pantas saja Ryu Jin sangat berpikiran terbuka, ternyata ia memiliki sahabat yang menjalankan kultivasi kegelapan juga.” “ Meski hal ini pasti bertentangan dengan sikap sektenya, tapi ia mengesampingkan itu semua demi janji pada sahabatnya itu.” “ Orang yang cukup menarik,” ujar Shizi bermonolog.Belum jauh ia berjalan, ia menghentikan langkahnya. Dari sana ia menoleh ke belakang.Tampak dua orang sedang menuju ke arahnya dengan cepat.Setelah beberapa saat, ia melihat
“Anak haram!”“Pecundang!” “Sampah!” Sorot mata meremehkan dan kata-kata hinaan mengiringi langkah Shizi yang sedang berjalan sambil menanggung dua ember air di pundaknya dengan sebuah tongkat.Meski tubuhnya kurus, Shizi terus melangkah melewati jalan kecil di halaman belakang klan Song, mengabaikan cemoohan dari orang-orang di sekelilingnya. "Ternyata dia juga tuli, anak haram memang bodoh!" teriak seorang pemuda, disambut tawa rekan-rekannya. Shizi hanya melirik sekilas ke arah Song Ong, sang tuan muda klan Song, yang menjadi sumber suara itu.Shizi hanya mengepalkan tangannya dengan keras. Tapi ia tahu, melawan pun tak ada gunanya. Mengingat status Song Ong sebagai tuan muda klan Song dan anak emas klan, siapapun yang melawannya pasti akan menderita. "Seperti kata ibu, lebih baik diam dan abaikan saja perkataan mereka." Shizi merenung, "Song Ong semakin agresif semenjak ia melihat aku berjalan bersama nona Wang Suyi. Mungkin benar kata ibu, aku harus menjaga jarak untuk mengh
Bab 02. Melarikan diri.Di sudut gelap sel penjara klan Song, Shizi terduduk lemah, menyandarkan tubuhnya yang penuh luka dan darah mengering di dinding dingin. Rasa sakit di tubuhnya seolah menghilang, tertutupi oleh kekhawatiran mendalam tentang keadaan ibunya.Pikirannya melayang pada kenangan terakhir yang buruk,melihat ibunya terjatuh tak berdaya saat Song Ong dan pengikutnya dengan brutal menghajarnya hingga pingsan.Shizi menarik napas dalam-dalam, menatap jeruji besi yang menjadi penghalang antara dia dan dunia luar.Bagi sebagian orang, sel ini adalah simbol dari kehilangan dan putus asa, namun bagi Shizi, sel ini adalah tempat perlindungan yang menawarkan jeda dari kekejaman Song Ong dan para anteknya.Di sel sempit inilah, setidaknya, ia dapat bernafas tanpa rasa takut akan serangan mendadak yang selalu mengintai.Shizi menatap dinding sel tempat barisan garis darahnya terukir."Empat puluh satu, sekarang empat puluh dua," ujarnya pelan, suaranya terbata-bata, sambil mengol
Bab 03. Keinginan dan tekad.Shizi menyembunyikan tubuhnya di celah sempit antara bangunan rumah dan tembok pembatas klan. Nafasnya tersengal, jantungnya berdebar-debar ketika suara langkah cepat dan teriakan tajam meresap melalui malam, menginstruksikan pencarian terhadapnya.Seolah waktu berhenti berdetak, hanya diisi oleh kesunyian yang kemudian terpecahkan oleh suara jangkrik dan burung hantu yang menambah keseraman malam."Hampir, hampir aman," bisik Shizi kepada dirinya sendiri, wajahnya penuh dengan keringat dingin. Matahari mulai berwarna kekuningan saat dia mengintip dari balik celah, mengawasi dengan hati-hati.Menemukan tembok yang tak terlalu tinggi, dia mengumpulkan keberaniannya, melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengawasi.Dengan gerakan yang hampir tak terdengar, dia menginjakkan kaki pertamanya pada tembok, perlahan-lahan naik sambil menghitung dengan cermat, detak jantungnya semakin cepat, karena setiap detik adalah perebutan antara hidup dan ketah
Bab 04. Potensi.Shizi terbangun dari tidurnya, meski tubuhnya terasa ngilu dan sakit, ia berusaha menahannya.Melalui ventilasi ruangan, sinar matahari yang terang masuk kedalam ruangan menandakan bahwa matahari telah lama terbit.Dengan menahan rasa sakit, Shizi bangkit dan berjalan keluar kamar menuju ruangan tempat ibunya dirawat. Pintu ruangan terbuka dan ia bergegas ke dalam.Di sana, tabib Fan sedang mengganti perban di kening ibunya. Shizi duduk di depan pintu, memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan tabib Fan.Sudah sering ia melihat tabib Fan merawat pasiennya.Shizi, yang bertugas mengantarkan barang dari Song He dan Wang Suyi untuk tabib Fan, kadang menghabiskan waktu menunggu tabib selesai bekerja sebelum menyerahkan barang-barang tersebut.“Kau sudah baikan?” Tanya tabib Fan tanpa menoleh ke arah Shizi.“Sudah tuan, terima kasih atas pertolongan tuan!” Ujar Shizi penuh hormat.Tabib Fan selesai merapikan alat-alatnya dan memperhatikan posisi Shizi yang duduk lemas t
Bab 05. Konfrontasi.Sudah dua bulan ini Shizi belajar ilmu pengobatan dari Tabib Fan, seorang pria paruh baya yang bijaksana.Setiap hari, ia bangun sebelum fajar, menyeberangi sungai, dan mendaki bukit yang dipenuhi tanaman herbal. Dengan cermat, ia memetik tumbuhan yang dibutuhkan, membayangkan manfaatnya saat meracik obat nanti.Setibanya di rumah, ia mengeringkan tanaman tersebut dengan teliti, lalu meraciknya sesuai dengan instruksi Tabib Fan yang sabar dalam membimbing.Di sisi lain, perhatian Shizi juga tertuju pada ibunya yang sedang sakit.Di bawah sinar lampu temaram, Shizi menekuni setiap gerakan Tabib Fan dalam mengganti perban. Tangannya mulai terampil meniru gerakan lembut itu, mempraktikkan teknik akupuntur dan pemijatan yang dipelajarinya.Dalam ruangan beraroma herbal, ia menekuni pelajaran tentang titik-titik saraf dan anatomi tubuh manusia. Tidak hanya mengobati manusia, Shizi juga belajar cara menangani hewan yang sakit."Dari setiap praktik, kau akan belajar lebi
Bab 186.Kultus Mowang.Shizi pergi dari kota setelah menyaksikan perjanjian antara Sekte Kalajengking Hitam dengan Kota yang dipimpin Ryu Jin tersebut.Tentunya ia pergi tidak dengan tangan kosong karena Ryu Jin memberikannya surat rekomendasi dan sebuah token khusus Kekaisaran.Dari token itu pula Shizi mengetahui jika Ryu Jin ternyata adalah seorang Tuan Muda yang berasal dari Klan Ryu yang ada di Kekaisaran Langit dan Tetua Muda dari Sekte Langit Emas, salah satu Sekte Aliran Putih yang ada di Ibukota Kekaisaran.“ Pantas saja Ryu Jin sangat berpikiran terbuka, ternyata ia memiliki sahabat yang menjalankan kultivasi kegelapan juga.” “ Meski hal ini pasti bertentangan dengan sikap sektenya, tapi ia mengesampingkan itu semua demi janji pada sahabatnya itu.” “ Orang yang cukup menarik,” ujar Shizi bermonolog.Belum jauh ia berjalan, ia menghentikan langkahnya. Dari sana ia menoleh ke belakang.Tampak dua orang sedang menuju ke arahnya dengan cepat.Setelah beberapa saat, ia melihat
Bab 185.Shizi memperhatikan perbincangan yang Ryu Jin dan Xie Chong lakukan setelah kesepakatan dibuat, tampak di mereka dengan serius membahas tentang Kekaisaran dan Sekte aliran hitam yang tumbuh cepat bagai rumput liar di wilayah Kekaisaran Langit.Hal itu juga yang menarik perhatian Shizi di mana ia ingin tahu sejauh mana masalah yang terjadi diantara kedua kubu tersebut.“ Tuan Walikota, agar kau tahu, Xie Chong ini belum lama menjadi Master Sekte Kalajengking, karena sejatinya Sekte milikku ini anggotanya merupakan gabungan dari Sekte kecil yang pemimpinnya aku kalahkan.” “Kenapa aku melakukan itu… tentu saja karena aku tidak suka dengan penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte tersebut,” jelas Xie Chong tanpa ragu.“ Penyimpangan? Apa itu?” tanya Ryu Jin penasaran.Shizi menarik nafas panjang, setelahnya ia pun ikut angkat bicara, ”Cultivator Kegelapan selalu dianggap sesat karena diyakini sebagai teknik peningkatan kekuatan yang menghalalkan segala macam cara dan beraf
Bab 184.Ryu Jin terkejut melihat puluhan orang yang menggunakan jubah berlambang Kalajengking Hitam berdiri di depan gerbang Balai Kota. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi."Bagaimana mereka bisa tiba di sini?" tanya Ryu Jin kepada Shizi dengan nada yang penasaran.Shizi tidak menjawab, ia hanya menatap Ryu Jin dengan mata yang dingin.Ryu Jin kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah Shizi."Baiklah, aku akan mempercayai kau," kata Ryu Jin."Bantu aku dalam perundingan ini,” ucapnya penuh arti.Shizi mengangguk, ia kemudian berjalan ke arah pintu." Mari kita pergi menemui mereka," kata Shizi.Ryu Jin mengikuti Shizi, mereka berdua keluar dari ruangan dan menuju ke arah gerbang Balai Kota.Saat mereka tiba di gerbang, Ryu Jin melihat puluhan orang yang menggunakan jubah berlambang Kalajengking Hitam masih berdiri di sana.Salah satu dari mereka melangkah ke depan, ia adalah seorang laki-laki yang memiliki wajah yang dingin dan mata yang tajam.Sementara
Bab 183.Di bawah pengawasan Ryu Jin dan kelompoknya, Shizi di bawa ke Balai Kota tempat kediaman Ryu Jin. Di sana ia ditempatkan di sebuah kamar di mana Ryu Jin menyertainya.Keduanya duduk saling berhadapan tanpa saling berkata. Tak lama, seseorang datang dan memasuki ruangan tersebut, pria itu kemudian melaporkan sesuatu pada Ryu Jin tentang sesuatu hal.“ Sepertinya apa yang kau sampaikan benar adanya, mata-mata kami melaporkan kematian hal yang serupa dengan ceritamu.” “Selain itu, ciri-ciri orang yang menghabisi mereka pun identik dengan ciri-ciri dirimu,” ujar Ryu Jin menjelaskan.“ Jadi, dengan mengetahui kebenarannya apa semuanya sudah selesai?” tanya Shizi dengan datar sambil menatap Ryu Jin dengan intens.“Tidak, ada satu hal lagi yang ingin kupastikan. Menurut laporan mata-mata kami diketahui jika seorang Tetua Sekte Kalajengking Hitam ikut mengantar dalam perjalanan menuju akhir celah.” “ Aku perlu mengetahui tentang hal itu dan penjelasan seperti apa yang kau berika
Bab 182. Semua anggota Sekte Kalajengking Hitam yang menjaga celah segera mendekati Ji Ru, Sang Tetua Sekte Kalajengking Hitam. Tampak dari raut wajah mereka masih menyisakan rasa takut dan penasaran secara bersamaan dengan apa yang telah terjadi beberapa saat lalu. “Tetua, siapa orang itu? Apakah dia bagian Sekte kita?” tanya seorang dari mereka dengan penasaran. Ji Ru tak menjawab, ia menatap orang yang bertanya dengan tatapan tajam, tanpa basa-basi ia menampar orang tersebut sampai terjatuh di tanah. “ Jangan banyak bertanya, jika kalian melihatnya lagi, berlaku sopan padanya dan jangan mengusiknya, paham!” seru Ji Ru dengan penuh amarah. Ji Ru langsung berlari kembali ke arah Sekte Kalajengking Hitam, ia ingin segera menyampaikan pesan Shizi kepada Xie Chong. Ia tidak ingin menunda-nunda karena ia tahu bahwa Shizi tidak pernah berbicara sia-sia. Saat Ji Ru tiba di Sekte Kalajengking Hitam, ia langsung mencari Xie Chong. Ia menemukannya di ruangan dalam, sedang duduk di atas
Bab 181. Menuju Kekaisaran Langit.Tak menunggu lama, Shizi pun langsung berangkat menuju ke Kekaisaran Langit (Li) setelah menerima pemberian dari Master Sekte Sun Min. Kepergian Shizi cukup membuat Sun Min merasa keberatan karena ia merasa tidak memiliki waktu untuk bisa bercengkrama lebih dekat dengan penolongnya itu."Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu, Ming'er?" tanya Master Sun Min dengan nada sedikit menggoda.Sun Ming menunjukkan wajah cemberutnya, tampak ia kesal dengan pertanyaan kakeknya itu."Hahahaha... masa muda memang sangat indah, tapi Tuan Muda Shizi bukan orang yang bisa kau raih jika kau menginginkannya untuk bisa berada di sampingmu," ucap Sun Min penuh arti.Dengan cepat, Sun Ming menimpali, "Kakek salah paham! Aku tidak menganggap Kakak Shizi sebagai orang yang akan dijadikan seorang kekasih, tapi aku menganggapnya sebagai seorang kakak.""Selain itu, Nyonya Chan Juan yang menjagaku pada saat aku ditawan oleh Klan Song, maka dari itu ia sudah kuanggap seba
Bab 180. Perbincangan.Shizi, Master Sekte Sun Min dan cucunya Sun Ming kini berada dalam satu ruangan. Tampak Master Sun Min duduk tegak dan terlihat tegang dengan keberadaan Shizi di depannya.“Master Sekte, bisakah Master bersikap biasa padaku, sikap yang Master Sekte tunjukan benar-benar membuat suasana menjadi canggung,” ucap Shizi dengan santai.“ Mana mungkin aku berlaku seperti itu, Tuan Muda adalah pemimpin Klan Tufu sekaligus penyelamat nyawaku, bahkan sekarang Tuan Muda kembali menolongku dari kematian.” “Tentunya aku harus menunjukan penghormatan dan rasa terima kasihku pada Tuan Muda!” seru Sun Min dengan tegas.Dari sana, Sun Ming kemudian angkat bicara, “ Berarti hutang Kakek pada Kakak Shizi bertambah satu,” ucapnya yang langsung membuat Sang Master Sekte Matahari itu menunjukan keterkejutannya. Ia ternganga sambil menatap cucunya dengan sorot mata penuh kebingungan.Bagaimana tidak? Dengan Sun Ming menyebut Shizi dengan sebutan kakak dan hutang tentunya membuat sang
Bab 179.Tiga Belas Bintang Hitam.Melihat Beast aneh yang tidak dikenal ditambah dengan kondisi Master Sun Min yang semakin memburuk membuat Alkemis Hong menyerah, ia membiarkan Shizi untuk melakukan perawatan pada Master Sekte Matahari itu.Di dalam ruangan pribadi Master Sekte, Sun Min dibaringkan di atas ranjangnya. Shizi yang berada di samping Sun Ming terlihat fokus memeriksa denyut nadi dan keadaannya. Sementara itu, para petinggi Sekte Matahari dan orang terdekat dari Sun Min semuanya memperhatikan dari sudut ruangan.“ Master, apa kau tahu tentang racun api jiwa?” tanya Kai Wang. Kai Wang, Tabib Sakti muda yang selalu melawan Shizi itu tampak penasaran dengan jawaban Masternya.“Aku pernah mendengarnya, tapi dulu aku menganggap itu lelucon saja karena hal itu tidak ada dalam pelajaran di Serikat Alkemis,” ujarnya sambil memperhatikan apa yang Shizi lakukan.“Lalu … darimana Master mengetahuinya?” tanya Zhao Yi kembali.“Ada seorang Grandmaster di tempatku belajar, ia mengata
Bab 178.Shizi berjalan ke arah Sun Min berada, serempak semua orang yang menutupi jalannya segera memberinya jalan.Saat akan tiba di sisi Master Sun Min, Alkemis Hong dan para Taiyi yang bersamanya langsung menghadang jalannya.Alkemis Hong menatap Shizi dengan tajam, tampak sorot matanya menunjukan kemarahan padanya.“Meski Nona Muda memintamu memeriksa, tetap saja aku tidak mungkin membiarkanmu menyentuh Master Sekte dan mengobatinya!” seru Alkemis Hong dengan angkuh.“ Begitukah? Apa alasanmu melakukan itu?” tanya Shizi dengan dingin.“ Tentu saja karena kau orang asing dan kau bukan seorang Alkemis atau pun Tabib Sakti!” jawab Alkemis Hong dengan angkuh.Dengan cepat Zhao Yi angkat bicara, “ Master Hong, maaf jika aku lancang, tapi perlu diketahui jika anak muda ini adalah seorang Tabib Sakti, dan tingkatannya telah setara dengan tingkatanku,” ujarnya tanpa ragu.Alkemis Hong dan para tabib yang bersamanya langsung menatapnya, tampak sorot mata Alkemis Hong menjadi berbeda pada