Langkah Xuan Li bergema di sepanjang lorong batu istana Serigala Merah. Setelah berhasil lolos dari cengkeraman Mo Yufan, ia tahu bahwa pulang ke istana ini bukan berarti masalah selesai, melainkan awal dari konfrontasi lain yang menuntut lebih dari sekadar keberanian.Di depan aula pribadinya, sosok Yan Yue sudah menunggunya. Berdiri tegap dengan aura yang mendominasi, tatapan tajam sang Ratu memancarkan kemarahan yang sulit digambarkan. Sorot matanya seperti nyala api yang siap melahap apa pun h ada di hadapannya.Sebelum Xuan Li sempat membuka mulut untuk menjelaskan, hawa membunuh yang mencekam langsung melingkupi sekitarnya. Udara terasa berat, hampir membuat napas tersendat.“Beraninya kau, Wu Yu,” suara Yan Yue dingin, menusuk hingga ke tulang. Nama samarannya itu terdengar lebih seperti celaan daripada panggilan biasa.Tanpa aba-aba, energi spiritual dari tubuh Yan Yue melesat, melilit tubuh Xuan Li dalam sekejap. Ia tak sempat menghindar. Tubuhnya tertarik ke depan seperti bo
Matahari menggantung tinggi di langit, memancarkan panas yang hampir tak tertahankan. Udara di halaman dalam Istana Serigala Merah menciptakan ilusi kabur di atas permukaan tanah. Xuan Li duduk di bawah naungan pohon besar yang rimbun, berusaha menghindari sengatan matahari. Embusan angin yang sesekali datang terasa seperti berkah kecil. Namun, ketenangan singkatnya terganggu. Dari kejauhan, dua orang pengawal istana berjalan tergesa-gesa, diikuti seorang pria dengan raut wajah bengis dan langkah penuh keyakinan. Xuan Li segera menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, menyembunyikan dirinya di balik bayangannya. Matanya menyipit, mengamati sosok itu dengan cermat. Pria itu memiliki aura dominan yang sulit diabaikan, dengan tatapan tajam yang seolah mampu menembus jiwa. Wajahnya memiliki kemiripan dengan Mo Yufan. "Mungkinkah pria ini...," gumam Xuan Li menduga-duga. Sebagai kepala pengawasan pajak di Kerajaan Serigala Merah, Mo Jingtian bukan hanya seorang pejabat biasa. Pria
Xuan Li merenung di dalam kamarnya."Cepat atau lambat, Mo Jingtian pasti akan menemukanku. Aku harus bersiap untuk menghadapinya."Di tengah kecemasan yang berkecamuk, ia berusaha untuk tetap berlatih. Ia tidak bisa terus mengandalkan Yan Yue. Untuk bisa maju, ia harus menggali kemampuannya sendiri.Energi kegelapan purba berputar-putar di sekelilingnya, terasa berat dan sulit dikendalikan. Xuan Li mengangkat tangannya, menyalurkan energi tersebut melalui telapak tangannya. Api hitam kecil muncul, berkobar dengan liar. Namun, saat ia mencoba menstabilkan dan meningkatkan kekuatan api itu, nyala api menghilang seketika."Kenapa lagi-lagi gagal?" gumamnya, suaranya serak. Ia memijit pelipisnya, merasakan frustrasi yang makin menumpuk. "Seharusnya tidak sesulit ini..."Tiba-tiba, sebuah suara berat dan mengejek bergema di pikirannya."Memalukan," suara itu menggema, disertai tawa sarkastik. "Seorang pria dengan tubuh giok yang begitu langka, namun lemah seperti ini? Apa gunanya aku ber
Di dalam lautan kesadarannya, suasana terasa suram dan penuh tekanan. Udara di sana berdesir lembut, membawa aura dingin yang menusuk. Jeruji hitam pekat menjulang di tengah kegelapan, memenjarakan sosok Wu Hei yang berdiri diam. Kabut gelap mengalir di sekitarnya, seperti ular yang terus bergerak tanpa henti.Xuan Li berjalan mendekat, tatapannya tajam seperti mata pedang. Ia berhenti beberapa langkah dari jeruji, memandang Wu Hei dengan penuh kecurigaan. "Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya langsung. Suaranya terdengar datar, tetapi tekanan yang dibawanya begitu nyata.Wu Hei mengangkat alis, sedikit tersenyum. "Menyembunyikan apa? Apa yang kau maksud?" katanya santai, nada suaranya seolah ingin bermain-main."Aku heran," lanjutnya dengan nada dingin. "Kenapa tiba-tiba kamu bersikap baik dan menawarkan bantuan? Kau bahkan mau mengajarkan teknik rahasia tubuh giok ini. Apa sebenarnya tujuanmu?"Wu Hei menatap Xuan Li tanpa sedikit pun terganggu. Tatapannya seperti melihat c
"Harga tentunya akan sepadan dengan yang didapatkan," ujar Xuan Li dengan suara berat, tetapi penuh keyakinan. "Mari kita mulai latihannya."Di balik jeruji hitam di dalam kesadarannya, Wu Hei menyeringai lebar, sorot matanya mencerminkan kegembiraan yang sulit ditebak."Setidaknya kau tahu bahwa tidak ada kekuatan yang didapatkan secara cuma-cuma," balas Wu Hei dengan nada mengejek. "Tapi jangan terlalu percaya diri, bocah. Jalan yang akan kau tempuh ini penuh duri, dan aku tidak akan mengulurkan tangan untuk menyelamatkanmu jika kau tersandung."Xuan Li hanya mendengus pelan. Ia tahu tidak bisa sepenuhnya mempercayai Wu Hei, tetapi ia juga tidak punya pilihan lain. Tubuh gioknya, anugerah sekaligus kutukan, terus mengancam kestabilan hidupnya. Wu Hei, meski penuh intrik dan ejekan, adalah satu-satunya yang bisa membimbingnya menguasai api kegelapan purba dan memanfaatkan kekuatan tubuh gioknya sepenuhnya."Bekerja sama denganmu masih lebih baik daripada tetap lemah," jawab Xuan Li
Xuan Li merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membiarkan rasa lelah menguasainya. Setelah hari yang penuh dengan rasa sakit dan latihan yang menguras tenaga, ia tertidur seperti batu yang terlempar ke dasar jurang. Dalam tidurnya, ia merasakan dirinya melayang di ruang kosong, tubuhnya terasa ringan. Sementara suara-suara samar yang tidak jelas sumbernya terdengar di sekelilingnya.Tiba-tiba, ia merasakan dorongan kuat menghantam tubuhnya. Sensasi itu begitu nyata hingga ia terbangun. Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah tubuhnya yang tengah meluncur bebas, langsung masuk ke dalam air dingin.Byur!Permukaan kolam memercik ketika tubuhnya menghantam air yang membangunkannya sepenuhnya dari mimpi. Xuan Li yang kini basah kuyup menyembul ke permukaan, wajahnya menampilkan ekspresi marah bercampur kebingungan."Dasar pemalas!" Suara tajam Yan Yue terdengar dari tepi kolam. Ratu Serigala Merah itu duduk dengan santai di atas batu besar, wajahnya dihiasi seringai puas."Apa-apaan
Yan Yue berdiri di depannya dengan tatapan tajam yang menyiratkan ketidaksenangan.“Kau mengusirku?” tanya Yan Yue, suaranya penuh kekecewaan bercampur kesal.Xuan Li bereaksi cepat, matanya membulat karena terkejut.“Apa?” Ia tergagap, tidak menyangka bahwa ucapannya telah disalahartikan. “Bu-bukan begitu... Aku hanya ingin melepas bajuku,” jelasnya cepat, mencoba meredakan amarah Yan Yue dan menghindari kemungkinan wanita itu kembali menunjukkan sisi kejamnya.Mendengar itu, Yan Yue terdiam sejenak. Warna pipinya merah merona, sesuatu yang jarang terlihat pada wanita dingin sepertinya. Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat, lalu berdehem pelan untuk menutupi rasa malunya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan Xuan Li sendirian.Xuan Li menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa sedikit bingung sekaligus lega.“Dia terlalu sensitif,” gumamnya pelan sebelum mulai melepas bajunya yang basah kuyup.Setelah mengganti pakaian, ia menjemur bajunya
Xuan Li mengepalkan tangannya erat sambil menatap jejak binatang roh yang menghilang di kejauhan. Sisa pertarungan barusan masih terasa, meninggalkan rasa nyeri di tubuhnya."Jika bukan karena tubuh ini belum sepenuhnya pulih setelah latihan semalam, makhluk seperti itu seharusnya tidak akan menyulitkanku," gumamnya dalam hati, diikuti helaan napas pelan.Di dekatnya, Yan Yue berdiri dengan tatapan bingung. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Xuan Li tidak memberinya kesempatan."Sepertinya aku harus mulai mengandalkan diriku sendiri mulai sekarang," ucap Xuan Li sambil berbalik meninggalkan Yan Yue.Wanita itu hanya bisa memandangnya pergi tanpa niat untuk menghentikannya."Pemuda ini..." gumam Yan Yue, merasa ada yang hilang saat melihatnya pergi.Xuan Li melintasi hutan lebat di Pulau Tujuh Binatang Surgawi. Setelah berjalan cukup lama, matanya menangkap sebuah goa kecil yang tersembunyi di balik semak belukar dan tanaman merambat.Dari mulut goa, Xuan Li bisa merasakan esen
Xuan Li terbang di ketinggian rendah, di sekelilingnya hanya tanah retak dan sunyi. Tak ada angin, tak ada suara makhluk hidup, seolah dunia di tempat ini sudah lama mati.Tapi ia tidak peduli. Ia fokus mengikuti sisa simpul energi terakhir dari Alam Bayangan.Setelah beberapa li, medan berubah. Tanah gersang berganti menjadi bukit-bukit batu. Tumbuhan mulai muncul, kering, namun hidup. Tempat ini tampak lebih normal dibanding lembah kematian atau sungai darah yang ia lewati sebelumnya. Tapi Xuan Li tidak lengah. Alam Bayangan dikenal suka menyembunyikan bahaya di balik ilusi ketenangan.Tiba-tiba, tubuhnya berhenti.Ia merasakan hawa manusia.Seseorang mendekat.Xuan Li menoleh dan matanya menyipit. “Mo Xiang?”Laki-laki itu berdiri kaku beberapa langkah di depannya, wajahnya seputih abu. Tubuh kurusnya diselimuti jubah hitam, dan mata yang pernah bersinar ramah itu kini penuh kecemasan.“Wu Yu...?” bisiknya, setengah tak percaya.Sebelum Xuan Li sempat menjawab, Mo Xiang bergerak c
Xuan Li menoleh pada Pemimpin Tanah Jiva yang berdiri tidak jauh darinya. Kini dengan tubuh muda dan vitalitas yang pulih, sang pemimpin tampak jauh berbeda dari sebelumnya.“Aku harus pergi,” kata Xuan Li singkat.Pemimpin mengangguk. “Kami berutang banyak padamu. Jika suatu saat kau kembali, tanah ini akan menyambutmu.”Pengawas Ji yang berdiri di sisi kanan sang pemimpin menunduk hormat. Tidak ada pertanyaan, tidak ada permintaan.Xuan Li berjalan melewati jajaran para tetua yang membungkuk di sisi jalan berbatu menuju gerbang. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat kepala.Namun gerbang di depannya bukanlah gerbang tempat ia masuk sebelumnya.“Kami tidak membiarkan tamu istimewa keluar dari pintu kematian,” ujar Pengawas Ji seraya menunjuk jalur berlapis formasi ringan yang membelah hutan belantara. “Jalur ini akan membawamu langsung ke perbatasan luar.”Xuan Li tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk tipis, lalu melangkah masuk ke lorong cahaya yang terbentuk dari energi spirit
Pemimpin Tanah Jiva masih menatap cahaya yang perlahan memudar dari tubuh Xuan Li. Matanya tak berkedip, tubuhnya tegak, namun napasnya tertahan. Sosok armor perempuan langit yang melingkupi Xuan Li belum sepenuhnya sirna, dan getaran auranya masih terasa di tanah, udara, bahkan formasi pelindung wilayah.“Dewi Kultus Suci…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Salah satu tetua di belakangnya bergeser gelisah. “Itu… tidak mungkin. Dewi Kultus Suci adalah sosok mitos. Leluhur dari era sebelum era ini. Armor itu...”“Tidak salah,” potong Pemimpin Tanah Jiva pelan, namun tegas. “Aku pernah melihat lukisan armornya dalam gulungan sejarah. Tidak ada keraguan. Itu adalah warisan kekuatan yang diakui oleh langit…”Mata Pemimpin melembut. Tatapannya beralih kepada Xuan Li, kedua tangannya perlahan menarik diri dari wadah giok.Airnya telah tenang.Xuan Li membuka mata. Ekspresinya tak berubah. Datar, penuh kendali. Ia berdiri perlahan dan menatap langsung ke arah sang pemimpin.“Aku tidak
Pengawas Ji berjalan melewati gerbang pusaran angin spiritual yang melingkari pusat Tanah Jiva. Di belakangnya, dua wanita paruh baya membawa gulungan emas dan jimat penguat formasi. Wajahnya tenang, namun di dalam pikirannya, kegelisahan mulai tumbuh.Ia memeriksa formasi pelindung Tanah Jiva. Simbol-simbol kuno terpahat di udara, mengambang di atas batu-batu pelindung yang tertanam di tanah. Aliran spiritual yang keluar dari segel tidak menunjukkan tanda kerusakan.“Masih utuh,” gumamnya pelan.Ia memejamkan mata dan menyentuh tanah. Aura lembut naik dari permukaan dan menyatu dengan tubuhnya.“Tidak ada retakan, tidak ada celah. Tapi dia masuk,” katanya lagi. Suaranya mengeras. “Aku harus bicara dengan Yang Mulia.”Di sisi lain, Xuan Li duduk bersila di paviliun selatan. Empat prajurit wanita berdiri mengelilinginya. Mereka tidak menatapnya langsung, namun jelas sikap mereka lebih waspada dibanding sebelumnya.Bisik-bisik dari luar paviliun semakin keras. Bahkan anak-anak perempuan
Xuan Li melangkah meninggalkan tempat itu. Energi dari batu transmisi telah memberinya arah yang jelas. Kabut perlahan mulai menipis seiring langkahnya menurun ke lembah yang sunyi. Uap dari tanah masih sesekali muncul, tetapi kini tak lagi mampu menembus lautan kesadarannya.Setelah berjalan sekitar lima puluh li, sesuatu berubah.Langkah kakinya tiba-tiba terasa ringan. Udara menjadi hangat. Cahaya menyeruak dari sela-sela pepohonan, bukan cahaya spiritual, melainkan sinar matahari biasa.Kabut lenyap.Begitu ia melewati celah dua batu besar di depannya, dunia di baliknya berbeda. Seolah-olah melangkah keluar dari kelamnya neraka menuju dunia lain.Langit biru cerah. Rumput hijau membentang. Burung-burung berwarna terang terbang di udara. Di kejauhan, gunung-gunung menjulang dengan air terjun yang jatuh seperti benang perak. Bunga-bunga mekar tanpa musim.Ini terlalu indah.Xuan Li berhenti sejenak. Matanya menyipit. Dia menyentuh tanah, memeriksa aliran spiritual.“Ini bukan ilus
Kabut yang menyelimuti daerah ini jauh lebih tebal dibanding wilayah altar sebelumnya. Cahaya spiritual matahari pun tidak bisa menembusnya. Langit dan bumi seperti menyatu dalam kelabu yang membungkam segalanya.Tak ada angin.Tak ada suara.Tak ada kehidupan.Xuan Li terus berjalan.Aura kehidupannya menyala samar di tengah kesunyian itu.Namun setelah puluhan li melangkah, aliran spiritual di tubuhnya mulai terasa aneh. Peredaran energi spiritualnya melambat, pikirannya terasa mengambang.Satu langkah...Dua langkah...Tiba-tiba, suara samar muncul di telinganya.“Wu Yu... kenapa kau pergi begitu saja...?”Langkah Xuan Li terhenti.Suara itu... suara perempuan. Lembut. Penuh kesedihan. Terlalu akrab.Ia mengerutkan alis. "Ilusi."Namun langkah berikutnya membawa suara lain. Suara tawa kecil. Suara anak-anak.“Guru, lihat! Aku bisa terbang!”Gigi Xuan Li mengatup. Jemarinya mengepal.Dia tahu benar bahwa itu bukan kenyataan. Orang-orang yang suaranya dia dengar sudah lama tiada atau
Kabut belum reda saat altar itu runtuh. Batu-batu spiritual berserakan, pilar-pilar hancur menjadi debu, dan lubang pemrosesan jiwa itu kini tertutup puing-puing. Gelombang energi spiritual yang meledak menghantam para penjaga hitam, melemparkan mereka hingga puluhan langkah. Xuan Li berdiri di kejauhan. Jubahnya berkibar pelan oleh angin spiritual yang masih tersisa dari ledakan. Ia memandang sekeliling. Barisan manusia yang tadinya dikendalikan kini berhenti bergerak. Mereka berdiri kaku di tempat masing-masing, tatapan kosong, tubuh gemetar ringan. Simbol spiritual di belakang kepala mereka masih ada, tapi koneksinya terputus. Mereka seperti wayang tanpa dalang. “Masih belum sadar... tapi sudah tidak terikat,” gumamnya. Namun tak ada waktu untuk merenung. Angin spiritual bergetar. Dari reruntuhan altar, lima penjaga hitam bangkit. Wajah mereka dipenuhi retakan darah, mata kehijauan bersinar tajam. Aura spiritual mereka melonjak, membentuk pusaran energi pekat. “Peny
Kabut belum benar-benar hilang ketika Xuan Li berdiri di atas tebing, memandangi reruntuhan lembah yang baru saja ditinggalkannya. Sisa-sisa kabut spiritual masih menyusup di antara batu-batu, namun energi pusat kendali sudah benar-benar menghilang.Ia menutup matanya sejenak. Nafas diatur. Lalu, mata spiritualnya dibuka.Dalam sekejap, dunia berubah. Di balik pemandangan biasa, jaring-jaring tipis spiritual terbentang di udara. Seperti sarang laba-laba yang tak terlihat mata biasa, jalur-jalur itu memancar dari titik-titik tertentu, menjalar ke segala arah.“Ini bukan satu titik. Mereka membangun banyak simpul seperti ini,” pikir Xuan Li.Dia mengikuti aliran salah satu jalur yang tampak lebih kuat dibanding yang lain. Ujungnya mengarah ke utara, menyusuri perbukitan tandus yang dilapisi kabut kelabu.Tanpa berkata apa pun, Xuan Li melompat turun dan mulai bergerak mengikuti jalur itu. Jika satu simpul telah dihancurkan, maka simpul berikutnya harus segera ditemukan.Setengah jam ber
Ledakan energi tadi belum sepenuhnya mereda ketika Xuan Li kembali mengambil sikap. Kabut tebal di lembah bergolak, menyelimuti pandangan dan menyamarkan gerakan. Namun, dia tidak bisa membiarkan ketajaman indranya tumpul.Di hadapannya berdiri sosok besar bertopeng besi. Tubuh makhluk itu dilapisi lapisan spiritual hitam pekat, seolah merupakan perpanjangan dari kabut itu sendiri.Ini bukan mayat hidup biasa. Boneka ini memiliki kesadaran.Dan kekuatannya... setara dengan kultivator Formasi Kekosongan puncak.Xuan Li menarik napas pelan, menahan laju amarah dan naluri bertarungnya. Ini bukan pertarungan yang bisa dimenangkan dengan serangan membabi buta.“Makhluk ini... bukan sekadar boneka,” pikirnya. “Ia bisa berpikir. Bisa menyesuaikan taktik. Bahkan mungkin sedang mengukur kekuatanku.”Dari awal, gerakannya tidak sembarangan. Ia menunggu, memancing. Dan sekarang, ia mulai menyerang balik dengan teknik-teknik yang terstruktur.Sebuah pukulan berat meluncur dari arah kiri, menghant