Dua minggu setelah pertempuran besar di markas Corvus Regia, ketenangan sementara yang dirasakan Dante, Elena, dan Lorenzo mulai terguncang. Dalam keheningan malam, sebuah pesan anonim masuk ke server rahasia mereka. Pesan itu mengandung koordinat lokasi dan sebuah kalimat yang membakar rasa penasaran: "Sumber chipset yang sebenarnya. Jika kau mencari kebenaran, datanglah sendirian." Dante duduk di ruang kerjanya, memandangi layar monitor dengan ekspresi muram. Cahaya biru samar dari chipsetnya kembali menyala, meski ia telah berusaha mematikannya sejak insiden terakhir. Suara-suara dari dalam chipset mulai terdengar lagi—tidak jelas, seperti bisikan, tapi cukup untuk mengganggu pikirannya. "Apa yang mereka inginkan dariku?" gumamnya, menggenggam kepala. Elena masuk, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Dante, kau baik-baik saja?" Dia menggeleng pelan. "Chipset ini... semakin sulit untuk kukendalikan. Kadang aku merasa bukan lagi diriku sendiri." Elena mendekatinya, memegang tan
Tim Dante memulai perjalanan menuju koordinat baru yang diberikan oleh Reinhardt. Lokasi itu berada di pegunungan terpencil yang terisolasi dari dunia luar, sebuah tempat yang tersembunyi dari peradaban modern. Perjalanan ini bukan hanya tentang jarak; ini adalah langkah ke dalam misteri yang mungkin menghancurkan segalanya. Di helikopter yang membawa mereka menuju pegunungan, suasana tegang terasa seperti udara yang berat. Elena duduk di sebelah Dante, memperhatikan wajahnya yang tampak lebih murung dari biasanya. "Kau terlihat tidak seperti biasanya," kata Elena pelan, memecah keheningan. Dante menghela napas, menatap keluar jendela helikopter ke arah awan gelap yang menggantung di langit. "Aku merasa seperti boneka dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang bisa kupahami. Chipset ini... setiap kali aku menggunakannya, aku kehilangan sedikit dari diriku sendiri." "Kau bukan boneka, Dante," balas Elena dengan suara tegas. "Kau adalah seseorang yang telah mengambil kepu
Suara mendesing dari kapsul yang terbuka menggema di ruangan besar itu. Cahaya biru menyilaukan menyembur keluar, membuat Dante dan timnya refleks mempersiapkan senjata mereka. Sosok di dalam kapsul perlahan bergerak, kulitnya berkilauan seperti logam halus, dan matanya menyala seperti bara api. “Siapa itu?” tanya Elena dengan nada tegang. Sosok itu melangkah keluar, tubuhnya tinggi dan kokoh, lebih mirip mesin daripada manusia. Chipset di tubuh Dante berdenyut semakin kuat, seolah memberi sinyal bahaya. “Dante,” gumam Lorenzo. “Aku rasa kita baru saja membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak tersentuh.” Sosok itu berbicara, suaranya berat dan dalam, seperti gema dari masa lalu. “Siapa yang berani menginjakkan kaki di fasilitas ini? Tempat ini adalah perbatasan antara kekuatan dan kehancuran. Aku adalah Penjaga.” “Kami datang untuk menghentikan apa yang terjadi di sini,” jawab Dante, mencoba menenangkan suasana. “Chipset yang ditanamkan ke tubuhku berasal dari teknologi
Lorong-lorong fasilitas terasa makin sempit, seakan dinding-dindingnya menutup rapat, menghimpit setiap langkah mereka. Napas Dante memburu. Bukan karena kelelahan, tetapi karena tatapan Clara yang menusuk seperti belati. Tangannya yang menggenggam senjata bergetar, penuh keraguan. "Cepat putuskan, Clara," suara Lorenzo pecah, penuh ketegangan. Matanya tajam, mengawasi setiap gerakan kecil wanita itu. “Apakah kau akan menghianati kami? Atau akhirnya memilih berdiri di pihak yang benar?” Clara tidak menjawab. Tatapannya terarah pada Dante, wajahnya penuh pergolakan. --- "Clara," suara Dante tenang, namun berat oleh emosi. “Aku tahu kau tidak ingin ini terjadi. Aku tahu kau terpaksa memilih jalan ini. Tapi kita semua di sini—aku, Elena, Lorenzo—kita adalah keluargamu juga.” Kata-katanya menggantung di udara, menabrak tembok dingin keheningan. Clara menarik napas panjang, seakan mencoba menyingkirkan kebingungan di dadanya. “Aku tidak punya pilihan,” gumamnya, hampir tidak terdeng
Langit malam dipenuhi bintang yang tampak memudar seiring udara dingin menyelimuti pegunungan terpencil itu. Dante bersandar pada batu besar, tubuhnya terasa kosong tanpa kehadiran chipset yang selama ini memberinya keunggulan dalam segala hal. Meski fisiknya lelah, matanya masih menyala dengan tekad. Elena duduk di dekatnya, membalut luka di lengannya. "Kau tidak harus melakukannya sendiri, Dante," katanya, nada suaranya tegas namun penuh kelembutan. "Aku tahu," jawab Dante, suaranya hampir seperti bisikan. "Tapi aku tidak akan meminta orang lain mengorbankan sesuatu yang begitu penting. Ini adalah tanggung jawabku." Clara, yang selama ini tampak enggan mendekat, akhirnya mengambil langkah maju. Ia berlutut di samping Dante, wajahnya penuh rasa bersalah dan kekhawatiran. "Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu yakin... mengorbankan segalanya demi orang lain." Dante menatapnya dengan pandangan tenang. "Kadang, kita harus kehilangan sesuatu untuk menyelamatkan hal yang lebih
Matahari mulai naik, menyinari sisa pertempuran malam sebelumnya. Dante berdiri di atas tebing kecil, memandangi lembah di bawahnya. Udara pagi yang dingin seolah berusaha menenangkan pikirannya yang terus bergolak. Namun, bayangan pengkhianatan Lorenzo masih menghantui. Clara berdiri di belakangnya, ragu-ragu sebelum akhirnya memecah keheningan. "Kau terlihat seperti menanggung beban dunia, Dante." Dante menoleh, senyum samar di wajahnya. "Mungkin memang begitu rasanya. Aku kehilangan terlalu banyak, Clara. Tapi aku tak bisa berhenti sekarang." "Dia mengkhianatimu. Lorenzo mengkhianati kita semua," Clara berkata, nada suaranya tajam namun penuh emosi. "Bagaimana kau bisa begitu tenang?" Dante menunduk, membiarkan angin membawa sebagian dari rasa berat di dadanya. "Ketenangan itu bukan pilihan. Jika aku menyerah pada kemarahan, aku akan kehilangan diriku." Clara menghela napas. "Kau terlalu baik untuk dunia ini, Dante. Tapi kebaikanmu akan menjadi kelemahan jika kau tidak hati-h
Udara malam terasa dingin menusuk, seolah memperingatkan Dante bahwa badai lebih besar tengah mendekat. Di ruang pertemuan markas, Dante duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh tim yang kini wajahnya penuh keraguan. Cahaya dari lampu di atas kepala mereka berpendar samar, menciptakan bayangan gelap di dinding yang tampak seperti menghantui. Di tangannya, ia memegang catatan kecil yang ditemukan Elena—sebuah ancaman halus namun jelas, bahwa musuh mereka selangkah lebih maju. Suara bisik-bisik mengisi ruangan, membuat kepala Dante berdenyut. “Cukup!” suara Dante menggema, membungkam kegaduhan. “Kita tidak akan ke mana-mana jika terus saling meragukan.” Namun, tatapan ragu-ragu dari Marco, salah satu anak buah terpercaya Lorenzo, menusuk Dante. “Bagaimana kami bisa tidak ragu, Dante? Lorenzo telah tiada, dan sekarang ini? Catatan ini hanya membuktikan ada seseorang di antara kita yang berkhianat.” Dante menarik napas dalam-dalam, menekan rasa frustrasinya. Ia tahu apa yang Mar
Langit masih kelabu ketika Dante berdiri di balkon markas, angin malam menyapu wajahnya. Tatapan matanya kosong, seolah terjebak dalam lautan pikirannya sendiri. Di bawah sana, timnya bekerja tanpa henti, mempersiapkan markas untuk segala kemungkinan. Tetapi, di dalam dirinya, ada perang yang jauh lebih besar sedang berlangsung. Suara pintu yang terbuka perlahan membuyarkan lamunannya. Elena muncul, membawa secangkir teh hangat yang mengepul. Ia mendekat tanpa suara, lalu menyerahkan cangkir itu ke tangan Dante. “Kau butuh ini,” katanya singkat. Dante hanya mengangguk, mengambil cangkir itu, tetapi tidak segera meminumnya. “Berapa lama lagi menurutmu sebelum Leonhardt bergerak?” Elena menatapnya lekat, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. “Bisa hitungan jam, atau hari. Tidak ada yang pasti, terutama setelah Andre tertangkap. Mereka pasti tahu kita sudah mempersiapkan diri.” Dante mendesah panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke kota di kejauhan. Lampu-lampu yang berkelip di m
Malam itu, langit dihiasi ribuan bintang yang berkelap-kelip, seakan menjadi saksi dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Dante berdiri di tepi tebing, menatap ke kejauhan. Angin dingin menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di belakangnya, Elena dan Ayra berdiri dengan ekspresi berbeda—Ayra dengan tatapan lembut, sementara Elena menatap Dante dengan ragu. "Apa yang kita cari selama ini akhirnya ada di depan mata," ucap Ayra, suaranya nyaris seperti bisikan. Dia melirik Elena sebelum kembali menatap Dante. "Semua ini hanya tentang pilihan." Dante menarik napas panjang, dadanya terasa berat. Pilihan. Satu kata sederhana yang membawa beban tak terhingga. Semua kenangan, perjuangan, dan kehilangan selama perjalanan ini berputar di pikirannya. "Ini bukan hanya soal pilihan," jawab Dante akhirnya Dante berbalik, wajahnya diselimuti kerut keseriusan. Mata Elena dan Ayra saling bertemu, seperti ada yang mereka coba ungkapkan, namun belum sepenuhnya bis
Mentari pagi memancarkan sinar hangatnya, menyusup di antara tirai jendela rumah Dante dan Ayra. Udara terasa segar, membawa harapan baru. Di meja makan, Ayra sudah sibuk menata sarapan. Aroma kopi bercampur dengan harum roti panggang memenuhi ruangan.Dante muncul dari lorong, mengenakan kaus santai dan celana pendek. Ia menghampiri Ayra, melingkarkan tangannya di pinggangnya dengan lembut. "Pagi, cantik," bisiknya dengan suara berat yang masih terasa hangat dari tidur.Ayra tersenyum, mengaduk teh di cangkirnya. "Pagi juga. Tidurmu nyenyak?""Nyenyak. Tapi aku lebih suka begini, bangun pagi dan melihatmu." Dante mencium pipi Ayra sekilas sebelum duduk di kursi meja makan.Ayra menggeleng, tawa kecilnya melayang di udara. "Kau tahu cara membuat hari seseorang jadi lebih cerah, ya?"Dante hanya tersenyum lebar, lalu mulai menyantap sarapannya. "Apa rencanamu hari ini?"Ayra duduk di depannya, menyesap teh hangat. "Aku ingin
Langit malam menghamparkan taburan bintang yang membisikkan ketenangan. Dante berdiri di beranda rumahnya, memandang jauh ke cakrawala. Pikirannya melayang pada pertemuan terakhir antara Ayra dan Elena. Sebuah akhir yang damai, tetapi baginya, itu juga menjadi awal baru."Masih belum bisa tidur?" Ayra muncul dari balik pintu, membawakan secangkir teh hangat. Ia mengenakan sweater rajut yang longgar, rambutnya dibiarkan tergerai.Dante tersenyum kecil, menerima cangkir itu. "Aku hanya berpikir... tentang semua yang telah terjadi."Ayra berdiri di sampingnya, ikut memandang langit malam. "Kadang sulit dipercaya, bukan? Bahwa kita masih di sini, bersama, setelah semua yang kita lalui."Dante menatap Ayra, matanya mengandung kehangatan. "Aku selalu percaya kita bisa melewati semuanya, Ayra. Karena aku tahu... kau adalah rumahku."Ayra tertegun mendengar kata-kata itu. Ia menatap Dante, merasa hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan yang hang
Angin pagi meniupkan kesejukan yang lembut saat Dante memarkir mobilnya di depan rumah Ayra. Langit masih pucat, pertanda matahari baru saja bangkit dari tidurnya. Dante keluar, membuka pintu untuk Ayra, yang tampak sedikit lelah tetapi tetap bersemangat. "Aku masih merasa seperti mimpi," Ayra berkata sambil melangkah keluar. Matanya menatap Dante dengan sorot bingung dan kagum. "Mimpi seperti apa?" Dante bertanya, menutup pintu mobil di belakangnya. "Bahwa aku bisa merasa begini... merasa cukup hanya dengan satu orang." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti gumaman, tetapi Dante mendengarnya jelas. Dante mendekat, menyentuh lengan Ayra dengan lembut. "Aku ingin kau tahu, aku juga merasa begitu. Dan aku akan memastikan kau selalu merasa cukup denganku." Ayra tersenyum kecil. "Aku percaya padamu." Langkah mereka menuju teras terasa seperti simbol dari awal yang baru. Tidak ada lagi beba
Angin malam menyentuh wajah Dante saat ia berdiri di balkon kecil apartemennya. Tangannya menggenggam secangkir kopi hangat, tetapi pikirannya jauh dari kehangatan yang seharusnya dirasakannya. Cahaya lampu kota berkelap-kelip di bawah sana, membentuk pemandangan yang sepi meskipun penuh warna.Di belakangnya, suara langkah pelan mengisi keheningan. Ayra berdiri di ambang pintu balkon, mengenakan sweater oversize yang menggantung hingga lututnya. Matanya memancarkan keraguan, seakan langkah kecil itu memerlukan keberanian besar."Dante," suaranya hampir tenggelam dalam angin, tetapi Dante mendengarnya. Ia berbalik, pandangannya bertemu dengan mata cokelat Ayra yang dipenuhi pergolakan."Ada apa?" tanyanya lembut, menurunkan cangkir kopi ke meja kecil di sebelahnya.Ayra terdiam sesaat, menatap ke lantai sebelum mengangkat pandangannya kembali. "Aku... aku ingin kita bicara. Tentang semuanya."Dante menatapnya dengan penuh perhatian.
Langit mendung menggantung, menyelimuti kota dengan suasana muram. Hujan yang turun sejak dini hari menciptakan genangan di sepanjang jalan, seperti memantulkan perasaan Dante yang masih diliputi kebimbangan.Dante duduk di ruang kerjanya, matanya menatap kosong layar komputer yang menyala di depannya. Deretan angka dan data yang biasa memberinya rasa aman kini hanya terlihat seperti simbol-simbol tak berarti. Suara hujan yang menghantam kaca jendela menjadi satu-satunya hal yang mengisi kesunyian ruangan.“Dante,” suara Ayra memecah lamunannya.Dia berdiri di ambang pintu, mengenakan sweater abu-abu yang kebesaran, rambutnya tergerai alami. Ada kekhawatiran dalam matanya yang cokelat pekat, seolah dia bisa melihat pergulatan yang bergejolak di dalam hati Dante.“Aku sudah memanggilmu tiga kali,” katanya, melangkah masuk.“Maaf.” Dante mengalihkan pandangan, menggosok pelipisnya dengan frustrasi. “Aku hanya—ada banyak hal di pikirank
Langit mendung menggantung rendah, seolah meramalkan badai besar yang akan datang. Lembah di depan mereka memancarkan kesunyian yang mencekam, hanya diselingi suara angin yang berdesir melewati pepohonan. Dante berdiri di tepi jurang kecil, menatap pemandangan di depannya dengan mata tajam. Jauh di kejauhan, bangunan besar yang menjadi markas musuh tampak seperti bayangan kelabu di tengah kabut.Elena mendekat perlahan, membawa sebotol air untuk Dante. Ia tahu Dante sudah terlalu lama memandang ke arah itu tanpa beristirahat. “Kau harus menjaga energimu, Dante,” katanya lembut sambil menyerahkan botol itu.Dante menerimanya, tetapi ia tidak langsung meminumnya. “Markas itu… tampak lebih terjaga dari yang kuduga,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.Elena memandang bangunan itu dengan mata yang tidak kalah serius. “Kita tahu ini tidak akan mudah. Tapi kita sudah sejauh ini. Tidak ada jalan kembali.”Dari kejauhan, Ayra duduk di atas sebata
Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, menggigilkan tubuh Ayra yang masih lemah akibat perjalanan semalam. Ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu lemah di depan Dante dan Elena. Kedua orang itu kini tampak lebih tegas dalam gerakan mereka, seolah mereka sudah menetapkan tujuan yang jelas. Dante memimpin langkah, mengamati setiap sudut dengan saksama. Pepohonan lebat yang melingkupi mereka memberikan perlindungan sementara, tetapi tidak menghilangkan bahaya yang terus membayangi. “Berapa lama lagi kita akan sampai di tempat persembunyian itu?” Ayra bertanya dengan suara pelan, mencoba menyembunyikan kecemasan di balik kata-katanya. Dante menoleh sekilas, matanya tajam namun tetap teduh. “Tidak jauh lagi. Jika kita tetap bergerak tanpa berhenti, kita bisa sampai sebelum matahari terbenam.” Ayra mengangguk, meski tubuhnya sudah mulai kehilangan tenaga. Ia tidak ingin menjadi b
Matahari perlahan merangkak naik, menyemburatkan cahaya lembut ke langit kelabu. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, tetapi Dante tidak bergeming dari posisinya di puncak batu besar yang menghadap lembah. Tangannya menggenggam gagang belati kecil yang selalu ia bawa, seolah benda itu adalah jangkar terakhir dari kewarasan di tengah badai pikirannya. Di belakangnya, Ayra duduk dengan tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar pada pohon besar. Ia tak berbicara sepatah kata pun sejak pertengkaran malam sebelumnya. Sinar matahari menyoroti wajahnya yang terlihat lelah tetapi tetap anggun, dengan mata yang memandang kosong ke depan. Sementara itu, Elena berdiri tak jauh dari keduanya, mengamati Dante dengan tatapan penuh tanya. Ia tahu, sejak pertemuan mereka pertama kali, ada luka yang selalu Dante sembunyikan di balik sikap tegasnya. Namun, luka itu kini tampak lebih jelas dari sebelumnya, seperti retakan kecil di kaca yang perlahan melebar.