Beranda / Romansa / Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini / Bab 188. Aku Sangat Mencintaimu, Jangan Tinggalkan Aku

Share

Bab 188. Aku Sangat Mencintaimu, Jangan Tinggalkan Aku

Penulis: Te Anastasia
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-03 13:19:45
Jeritan keras Elizabeth bersamaan dia melepaskan pelukannya pada Pauline dan Exel, saat Annete dan Kimmy menghampirinya yang terduduk lemas di tengah jalan.

Elizabeth bangkit dari duduknya dan berlari mendekati mobil. Wanita itu menjerit saya melihat Evan dibawa keluar dari dalam mobil dengan luka dan berdarah di kepalanya.

"Evan..!" teriak Elizabeth, dia langsung memeluk tubuh Evan saat itu juga. "Evan bangun! Evan ... buka matamu! Tidak, tidak! Jangan membuatku takut, Evan bangunlah kumohon!"

Tangis Elizabeth seolah menggema di seluruh kota. Kejadian kecelakaan ini membuatnya kembali mengingat saat dia kecelakaan beberapa tahun yang lalu.

Takut. Elizabeth takut kehilangan Evan. Itulah yang terus berputar-putar di dalam kepalanya.

"Elize sudah ... Evan akan dibawa ke rumah sakit. Elize tenanglah!" Adelaide memeluknya saat itu juga.

Elizabeth masih tidak mampu menahan air matanya yang terus mengalir deras. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba melepaskan p
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
sedih.........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 189. Evan, Elizabeth Takut Kehilanganmu

    Hampir dua jam lamanya Elizabeth dan Jericho menunggu dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Evan di dalam sebuah ruangan. Sampai akhirnya pintu ruangan itu terbuka, dan muncul seorang dokter laki-laki dari dalam ruangan ruangan tersebut. Elizabeth dengan cepat melangkah mendekatinya. "Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Elizabeth dengan wajah panik."Suami Nyonya masih belum sadarkan diri. Kami masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Sekarang pasien akan dipindahkan kamar setelah pihak keluarga mengurus berkas-berkas rumah sakit," ujar dokter itu. Elizabeth mengangguk. "Semuanya sudah diurus, dok," jawab wanita itu. "Baiklah kalau begitu. Nyonya bisa mengikuti suster." "Terima kasih dok," ucap Elizabeth. "Sama-sama, Nyonya." Setelah itu, Elizabeth melihat tiga perawat keluar dari dalam ruangan mendorong brankar di mana Evan terbaring di sana. "Evan," lirih Elizabeth langsung mengejar suster itu. Elizabeth menyeka air matanya dan menangis tanpa suara. Ia be

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-03
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 190. Pelukan Elizabeth yang Sangat Erat

    Sudah sehari semalam Evan belum sadarkan diri. Elizabeth setia duduk di sampingnya dan wanita itu duduk menggenggam tangan Evan seraya menahan rasa kantuk yang begitu berat di kedua matanya. Elizabeth memejam dan meletakkan telapak tangan Evan di pipinya. Dengan gerakan lembut, jemari tangan ia yang genggaman itupun bergerak lembut mengusap pipinya. 'Ini hanya halusinasiku, Evan ... aku sampai bermimpi kau menangkup satu pipiku,' batin Elizabeth, hatinya terasa sangat sedih Evan tak kunjung sadar. Namun tiba-tiba Elizabeth membuka kedua matanya dengan cepat. Itu bukan halusinasi, jemari tangan Evan benar-benar mengusap pipinya dengan sangat lembut. "Ev-Evan?!" pekik Elizabeth langsung berdiri dari duduknya saat itu juga. Kedua mata Evan terbuka perlahan dan laki-laki itu mengedarkan pandangannya seolah-olah dia bingung sekarang ada di mana. Sampai akhirnya ekor matanya melirik Elizabeth yang berdiri di sampingnya. "Eli..," lirih Evan, dia berusaha menarik kedua sudut bibirny

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 191. Berjanjilah Untuk Terus Bersama

    Kabar kecelakaan yang Evan alami membuat Arshen dengan cepat datang ke Berlin. Namun kedatangannya saat ini hanya sendirian dan tidak ditemani oleh Melody. Arshen dijemput oleh Jericho di bandara. Dia disambut oleh kedua cucunya yang juga ikut menjemputnya di bandara bersama Jericho dan James. Mereka pun langsung menuju rumah sakit, dan kini tengah berjalan di lorong rumah sakit menuju ke ruangan di mana Evan dirawat. "Opa ... Papaku sakit, Papa jatuh kemarin sama mobilnya rusak. Terus kepala Papa ada darahnya," ujar Pauline yang kini berada dalam gendongan Arshen. "Iya Nak, tapi kalian tidak usah khawatir. Papa kalian pasti baik-baik saja," jawab Arshen. "Papa hilang ingatan tidak, Paman? Karena kata teman Mama, kalau benturan di kepala Papa keras, papa jadi hilang ingatan terus lupa sama kita," ujar Exel mendongak menatap Jericho tanpa melepaskan genggaman tangan sang Opa. Jericho terkekeh mendengar apa yang Exel tanyakan padanya. "Tidak, Tuan kecil. Papanya Tuan kecil tidak

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 192. Kita Kembali Dalam Satu Atap

    Hari demi hari telah berlalu, kondisi Evan sudah membaik pasca kecelakaan. Kini sudah lima hari lamanya dia baru pulang dari rumah sakit. Elizabeth lah wanita yang selama beberapa hari ini selalu berada di sampingnya, merawatnya, menemani Evan siang dan malam. Dan siang ini, Elizabeth nampak gelisah. Wanita itu tidak punya baju ganti lagi di rumah Evan, hingga dia harus meminta izin pada Evan untuk mengambil beberapa bajunya. Elizabeth berjalan ke lantai satu di mana Evan berada di sana, duduk memangku laptopnya. "Evan," panggil Elizabeth sembari berjalan cepat mendekati sang suami.Laki-laki itu menoleh. "Iya Eli, ada apa?" tanya Evan menatapnya. "Emm ... aku ingin meminta izin padamu, baju-bajuku di sini sudah aku bawa pulang semua. Dan aku tidak punya baju ganti, bajuku kemarin masih dicuci. Aku ingin mengambil pakaianku," ujar Elizabeth pada Evan. Wanita itu tertunduk meremas jemari tangannya. "Aku ... aku ingin di sini saja dengan anak-anak dan juga denganmu." Evan menarik

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 193. Pelukanmu Adalah Tempat Ternyaman

    Beberapa hari kemudian. Elizabeth sudah menjalani hari-harinya seperti kemarin-kemarin lagi. Dia juga sudah kembali ke butiknya bersama dua buah hatinya yang selalu mengekori ke manapun Elizabeth pergi. Namun, Exel dan Pauline sore ini sudah merengek-rengek pada Elizabeth. Anak-anak itu mencari Papanya dan merajuk ingin jalan-jalan. "Ayo dong Ma ... kita berdua mau lihat badut kelinci di taman, Mama," ujar Exel memeluk tangan Elizabeth."Sebentar Sayang, Papa masih sibuk, Nak. Kita tunggu sebentar ya..." Elizabeth mengusap pucuk kepala Exel.Exel memang merengek-rengek, tapi tidak dengan Pauline. Anak itu kini menangis sekeras-kerasnya dan marah-marah pada Elizabeth. Entah kenapa, antara Pauline dan Exel, hanya Pauline yang sangat nakal dan mudah marah. Padahal dia anak perempuan. "Mama nakal! Pauline tidak sayang!" pekik anak itu menghentak-hentak kakinya di atas sofa. "Besok-besok Pauline tidak usah ikut Mama ke butik kalau marah-marah terus. Tadi minta cake sudah Mama belikan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 194. Kau Adalah Prioritasku

    Setelah kemarin malam Evan memberikan kejutan tiket liburan ke Austria, Elizabeth dan anak-anaknya merasa begitu antusias. Pauline dan Exel juga selalu bertanya-tanya padanya kapan mereka akan berangkat. Seperti saat ini, saat Exel dan Pauline menemani Elizabeth mengemasi beberapa pakaian mereka. "Kapan kita berangkat liburannya, Ma? Pauline tidak sabar, tahu..," seru Pauline berbaring-baring di atas ranjang. "Sabar Sayang, besok kita berangkat.""Apa kita akan pergi ke rumah Nenek yang dulu, Ma?" tanya Exel sambil menata baju Pauline di dalam tas besarnya. "Iya. Kita akan pergi ke Salzburg, ke Hallstatt, pokoknya kita jalan-jalan di sana nanti sama Papa," jawab Elizabeth menjelaskan pada kedua anaknya. "Wahhh asik!" Exel bertepuk tangan dan berbinar-binar mendengarnya. Setelah Elizabeth selesai mengemasi beberapa baju-bajunya ke dalam koper, wanita itu berjalan keluar dari dalam kamar.Elizabeth menggendong Pauline yang kini tengah merengek meminta minum susu. Anak itu sejak pa

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 195. Evan, Berjanjilah...

    Akhirnya rencana Evan berjalan dengan sempurna, dia meminta James untuk menggantikannya di acara meeting perusahaan. Sedangkan Evan bersama Elizabeth, juga anak-anaknya pergi berlibur ke Austria. Dan baru beberapa jam yang lalu mereka sampai di Salzburg, tepat di sebuah rumah penginapan yang telah mereka sewa untuk beberapa hari. Elizabeth berdiri di balkon kamar penginapannya. Wanita itu menatap pemandangan kota Salzburg, dan pegunungan Festungsberg yang nampak sangat indah. 'Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak ke sini ... aku sangat merindukanmu Salzburg,' batin Elizabeth merasa senang dan sedih di saat bersamaan. Elizabeth yang diam melamun, tiba-tiba wanita itu merasakan seseorang merangkulnya dari belakang. "Kau pasti sangat merindukan tempat ini, iya kan, Sayang?" tanya Evan menatap wajah Elizabeth dari samping. "Heem, tentu saja. Sejak menikah denganmu, bahkan setelah aku pergi dulu bersama Daniel, aku juga langsung ke Jerman ... aku sangat merindukan Austria, Evan," j

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 196. Evan, Aku Tidak Salah Melihat!

    Setelah dari pagi hingga sore Elizabeth dan Evan jalan-jalan berkeliling kota Salzburg. Malam ini mereka datang ke sebuah rumah makan outdoor yang dipesan khusus untuk mereka saja. Elizabeth tengah duduk memangku Pauline usai menikmati hidangan makan malam yang ia pesan. Mereka masih ingin berada di sini, menikmati pemandangan malam kota Salzburg dari tempat yang cukup tinggi. "Bagus ya Ma, tempatnya," ujar Pauline turun dari pangkuan Elizabeth. "Iya dong, Sayang. Pauline tidak boleh jalan-jalan ke sana kemari ya ... nanti kalau Pauline hilang, Mama dan Papa mau mencari ke mana?" Elizabeth mengusap pipi gembil Pauline yang belepotan setelah dia memakan es krim. "Kalau Adik Pauline nakal, kita tinggal saja, Ma!" seru Exel tertawa. "Ihhh ... Kakak tidak boleh nakal, tahu! Pauline pukul nih!" pekik Pauline memarahi Kakaknya. Evan dan Elizabeth terkekeh melihat tingkah dua anaknya tersebut. Terlihat Pauline yang mulai berjalan-jalan di sekitar taman. Di belakangnya diikuti Exel, di

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-06

Bab terbaru

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 510. (PAULINE STORY) Hubungan yang Dulunya Retak, Kini Terjalin Kembali

    Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 509. (PAULINE STORY) Pauline, Bukalah Pintu Hatimu untuk Xander

    Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 508. (PAULINE STORY) Sebuah Restu

    Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 507. (PAULINE STORY) Sosok Laki-laki yang Setia

    Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 506. (PAULINE STORY) Sosok Papa yang Diinginkan Alicia

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 505. (PAULINE STORY) Alicia Ingin Punya Seorang Papa

    Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 504. (PAULINE STORY) Sosok Papa untuk Alicia

    Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 503. (PAULINE STORY) Siapa Papanya Alicia?

    Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 502. (PAULINE STORY) Pertemuan Tak Terduga

    Sepulang dari jalan-jalan bersama Exel beberapa menit yang lalu, tampak Alicia begitu gembira. Anak itu mengoceh ini dan itu sambil menunjukkan mainannya pada sang Mama. Ditemani Elizabeth dan juga Evan yang bersama mereka sekarang. "Wahh ... banyak sekali mainannya, Sayang?" tanya Elizabeth mengecupi pipi cucunya. "Papa Exel sama Mama Tante yang belikan buat Alicia, Oma. Terus ini boneka panda dari Kakak Vano," ujar anak itu menata semua bonekanya di atas sofa ruang keluarga. "Persis sekali dengan Pauline saat masih kecil," sahut Evan. Elizabeth menoleh. "Oh ya, Pa?" "Iya, Sayang." Pauline terkekeh geli, sampai akhirnya Alicia menarik lengan sang Mama. "Mama ayo tidur, Alicia mau tidur sama Mama," seru anak itu. "Ayo, Maa...!" Evan menatap putrinya. "Sudah, sudah, cepat anak Alicia tidur, Nak," ujarnya. "Iya, Pa." Pauline memasukkan semua boneka-boneka milik Pauline ke dalam paper bag ukuran besar dan membawanya naik ke lantai dua. Alicia tampak sangat ceria dan banyak be

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status