Di saat situasi terjepit Yasmin kembali teringat pesan Farel. Dia berdoa meminta Illahi Robbi menolongnya dari lelaki serigala seperti Riki. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi putihnya. Seketika rasa menyesal tubuh dalam hatinya. "Kalau Tuhan membantuku, aku janji akan bertobat. Aku janji tak berbuat zina lagi. Aku janji menjadi wanita baik-baik," doa Yasmin dalam hati. Riki berjalan sambil terus memeluk Yasmin. Yasmin mulai pasrah, tubuhnya melemah. Dia diam, tak ada lagi perlawanan darinya. "Akhirnya kamu menyerah, aku tahu kamu juga menginginkan ini, sayang," batin Riki seraya mengendurkan pelukannya. Perlahan Yasmin di dudukan di sofa yang berada di ruangannya. Riki melepas ci*mannya. Melihat Riki sedikit lengah dengan cepat Yasmin mengayunkan kaki ke arah Riki. Satu gerakan tepat mengenai pusaka milik atasannya. Riki meringis kesakitan. Tak membuang kesempatan Yasmin segera berlari keluar. Namun sayang dengan cepat Riki menarik tangan Yasmin hingga dia terjungkal dan
Pov BrianAku melajukan kendaraan roda dua dengan kecepatan tinggi. Perasaan tak enak begitu menyelimuti hati. Semoga ini hanya kekhawatiranku saja. Aku berhenti saat traffic light berwarna merah. Bayang Yasmin kembali menghampiri seakan memintaku memacu kendaraan lebih cepat. Dari pertama mengenal Yasmin hingga sekarang belum pernah aku merasakan kekhawatiran sebesar ini. Apa aku benar-benar mencintai wanita perusak rumah tangga orang tuaku? Bodoh, satu kata yang tepat jika benar perasaanku nyata untuknya. Awal mula ingin membuat Yasmin terluka tapi kenapa justru aku yang bermain hati terlalu dalam. Hingga melihatnya pulang diantar Farel pun aku tak sanggup. Lampu traffic light berubah warna menjadi hijau. Dengan cepat ku putar tuas gas. Motor melaju dengan kencang menuju restoran. Malam disertai mendung menyelimuti langit kota Jakarta malam ini. Angin semilir pertanda hujan akan segera turun. Aku berhenti tepat di sebuah restoran yang sudah tertutup rapat. Lampu dalam pun sudah
Pov Brian"Sayang, kamu ada di mana?" Aku berjalan menuju teras restoran yang gelap, tak ada pencahayaan di sini. Lampu mati atau sengaja dimatikan. "To...." Lagi terdengar samar suara Nabila meminta tolong. Namun seketika suara itu berhenti. Kini hanya suara rintik hujan yang jatuh membasahi bumi. "Sayang!""Nabila sayang!"Aku mencoba memanggil Nabila tapi tak juga ada jawaban. Aku semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini. Jangan-jangan Nabila.... Segera kktepis prasangka buruk yang tiba-tiba hadir dan mendominasi hati dan pikiran. Aku harus cepat mencari keberadaan Nabila. Aku mencoba membuka pintu depan restoran. Namun sayang terkunci dari dalam. Lalu harus lewat mana? Sedang aku tak tahu seluk beluk restoran ini. Ke sini hanya sebatas di halaman. Tak pernah sekali pun aku masuk ke dalam. Tanganku merogoh benda pipih yang ada dalam saku celana, dengan cepat ku nyalakan senter dari ponsel. Lumayan menerangi gelapnya restoran ini. "Nabila!" "Kamu di mana, sayang?"
Bijaklah dalam membaca, yang dibawah umur harap skip!! "Rian!" Teriakku saat Rian jatuh pingsan. Segera aku peluk tubuhnya. Ya Tuhan, lelaki yang aku harapkan justru jatuh tak berdaya. Lalu pada siapa aku meminta tolong? Kalau Engkau Maha Segalanya, tolong aku dan Rian keluar dari sini. Aku tak ingin lagi menyerahkan tubuhku pada lelaki mata keranjang. Apa lagi dia bukan lelaki yang kucintai. "Rian bangun!" Aku goncangkan tubuhnya. Namun tetap saja Rian tak bergerak. Aku harus bagaimana? Ingin berteriak tapi di luar hujan deras. Suaraku tak akan mampu menembus derasnya air hujan. "Kemarilah sayang! Kita mulai permainan yang sempat tertunda." Riki menarik tubuhku. Aku berusaha melawan tapi lagi-lagi tenaga ini kalah jauh darinya. Tangan kekar Riki menarikku, terseok-seok kaki ini melangkah. Ingin berontak tapi tenagaku terlalu lemah. Tamparan dan pukulan Riki membuat tubuhku remuk. Bahkan untuk berjalan terlalu berat. Kini aku hanya bisa pasrah, menunggu sebuah keajaiban yang
Dadaku kian terasa sesak saat menahan tubuh Riki. Aku seperti tertimpa mayat bukan tertimpa lelaki yang ingin menuntaskan hasrat. "Ayo! Tunggu apa lagi!" Suara itu, bukan suara Riki. Itu suara Rian. Apa benar itu Rian? Bukankah tadi dia pingsan dan tak sadarkan diri? "Kamu menikmatinya, Bil?"Segera kubuka mata, sudut bibirku tertarik ke atas saat melihat Rian sudah berdiri sambil membawa tongkat baseball di tangan kanannya. Ya, tongkat itu yang digunakan Riki untuk memukul Rian. Dan kini tongkat itu pula yang membuat atasanku tersungkur tak berdaya di atas tubuhku. "Ayo!"Rian mendorong Riki hingga berpindah dari atas tubuhku. Dengan perlahan Rian membantuku berdiri. Tubuhnya Rian masih sempoyongan tapi dia berusaha kuat menolongku. Tanpa aba-aba kupeluk tubuhnya dengan erat. Aku tak bisa membayangkan jika dia tidak datang tepat waktu. Mungkin nasibku akan sama seperti saat Gilang melecehkanku di Bali. Rian mengendurkan pelukanku. Tubuhnya membungkuk lalu mengambil kemeja milikn
"Hati-hati, jangan ngebut!" ucap Rian tepat di telinga kiriku. Lagi, ada desiran hangat kala kepala Rian disandarkan di pundak sebelah kiri. Aku kembali fokus mengendari motor. Sejenak kutepis perasaan yang tiba-tiba hadir di dalam sanubari. "Masih pusing?" tanyaku seraya melirik Rian dari kaca spion. Sengaja aku bertanya kepadanya. Aku ingin menetralisir jantung yang kian berdetak kencang. Dan semoga Rian tak mendengar debaran di dada ini. Malu jika sampai ia tahu. "Sedikit," jawabnya lirih bagai hembusan angin malam. Dari ekspresi wajahnya bisa terlihat jelas jika rasa sakitnya tidaklah sedikit. Dia hanya pura-pura kuat di depanku. Ah, dasar laki-laki masih saja sok kuat di depan wanita. Apa lagi wanita itu yang ia cinta."Mau diantar ke mana, Ri?" Rian diam, dia seperti tak mendengar ucapanku. Pasti Rian tengah menahan rasa sakit. Duh, kasihan. Motor masih melaju meski aku tak tahu ke mana akan berhenti. Ingin mengantarkan Rian pulang tapi aku tidak tahu alamatnya. Selama ber
Rian mulai menceritakan runtutan peristiwa saat ia berada di hotel hingga akhirnya menemukan aku di restoran. Aku hanya mendengar tanpa menanggapi ucapan mereka. Pikiranku justru melayang awal mula bertemu dengan Cindy setelah sekian lama tak bertemu.Tuhan mempertemukan aku dan Cindy saat aku ingin mengakhiri hidup. Dari situlah aku menumpang hidup di kontrakannya. Karena Cindy pula aku bisa mengenal Om Bagaskara hingga akhirnya hidupku seperti ini. Selama aku menjadi wanita simpanan, Cindy selalu meminta uang atau barang yang ia inginkan padaku. Aku sudah seperti mesin ATM berjalan baginya. Namun setelah aku tak memiliki apa pun, dia tega menjual aku pada Riki.Sahabat macam apa dia? Tak ingatkah dia saat kita tertawa bersama? Apa kenangan itu lenyap begitu saja? Cindy sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Namun dia justru membuang aku seperti sampah yang tak berguna. “Jangan menangis,Bil! Ada aku di sini.” Rian menghapus air mata menggunakan telapak tangannya.Sesaat kami saling
Kriingg... Kriingg.... Aku terperanjat mendengar notifikasi panggilan masuk. Kepalaku sampai berdenyut karena bangun mendadak. Siapa yang meneleponku pagi-pagi begini? Aku bahkan masing enak-enak bermimpi. Aku ambil benda pipih yang ada di atas nakas. Dengan setengah sadar ku geser gambar telepon berwarna hijau ke atas. Lalu ku tempelkan ponsel di telinga kanan. "Ganggu orang tidur! Tau gak sih!" ucapku ketus. Kembali kurebahkan tubuh di atas kasur. Mata ini terasa berat. Rasa kantuk tak jua hilang. Maklum saja, aku baru memejamkan mata pukul dua dini hari. Masih terbayang lelahnya. Dan kini sudah dibangunkan oleh panggilan telepon entah dari siapa? "Aku sudah di luar, sayang. Buka pintunya!" Suara Rian terdengar dari sambungan telepon. Aku menghembuskan nafas kasar. Pagi-pagi anak itu sudah ada di depan kamar. Apa dia tidak capek? Jangan-jangan justru ia tak tidur, atau mungkin menginap di sini? Kejadian semalam saja sudah menguras tenaga. Butuh tidur lebih lama agar energi te
"Makan ya, Rel," bujuk Mama seraya mendekatkan sendok ke arahku. Aku menoleh, kembali fokus menatap awan yang terlihat dari jendela kamar. Saat ini aku tengah terkulai lemas di atas ranjang khas rumah sakit. Beberapa hari yang lalu aku terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan di kamar mandi. "Jangan dibiarkan kosong perutnya, Rel. Kamu tahu, kan harus bagaimana? Jangan hanya pandai menasihati pasien, sementara kamu sendiri tidak melalukan hal itu."Aku masih membisu. Netraku masih tertuju pada titik yang sama. Langit siang hari di Kota Jakarta. Bukan langit biru dengan burung yang menari di sana. Namun langit yang tertutup oleh awan putih akibatnya banyaknya pencemaran udara. "Rel, jangan seperti ini, Nak. Kamu harus sembuh demi ...""Demi siapa, Ma? Demi memenuhi obsesi Papa. Percuma aku sembuh jika hidupku terasa mati. Aku hidup tapi mati."Isak tangis kembali terdengar di telinga. Siapa lagi kalau buka Mama. Namun kali ini aku memilih bungkam. Tenggelam dalam ras
Yasmin luruh di lantai. Tangisnya pecah detik itu juga. Penyesalan pun hadir, bahkan menyesakkan dada. Maafkan aku, Rel. Aku salah mengira. Aku pikir kamu tega meninggalkan aku dan Naura hanya karena harta. Tapi justru kamu yang berkorban untuk Naura. Farel... Pulanglah. Butiran-butiran kristal telah membanjiri pipi. Bahkan surat pemberian Farel telah baca oleh air mata. Ya Allah, haruskah kami berpisah untuk kedua kalinya? Dipisahkan dengan orang kita sayangi itu memang berat. Apalagi jika perpisahan itu terjadi karena keadaan. Itu jauh lebih menyakitkan dari dikhianati. ***Hari demi hari Yasmin lewati dengan kesedihan. Tawanya memang terdengar, tapi hanya untuk menutupi sunyi dan luka dalam sanubari. Farel memang meninggalkan dirinya. Namun lelaki itu telah menyiapkan aset untuk Yasmin dan Naura. Tanggung jawab seorang ayah meski tak dapat terus bersama. "Owek... Oweek..."Tangis Naura menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Semakin mendekati kamar, suara itu semakin keras.
"Dokter, ada yang ingin saya bicarakan.""Langsung saja, Dok!" jawab Harun dengan mata fokus menatap layar laptop. "Dokter Farel melakukan kesalahan lagi, Dok."Harun mengalihkan pandangannya. "Maksudnya?""Dokter Farel salah memberikan resep, Dok.""Apa!" pekik Harun. Seketika Harun menutup laptopnya. Dia bergegas menuju ruangan putranya. Sepanjang jalan dia mengumpat dalam hati. Lagi-lagi merutuki kecerobohan putranya. "Percuma kuliah tinggi-tinggi, ngasih resep saja gak becus!" BRAK! Pintu berwarna abu itu didorong kasar. Suara keras sontak membuat Farel tersentak, kaget. Lelaki yang tengah fokus itu membawa artikel seketika mengalihkan pandangan. "Bisa-bisanya kamu salah memberikan resep, Rel! Apa gunanya kuliah tinggi, obat asma saja gak ngerti!"Farel masih diam, dia enggan membalas makian Harun. Pikirannya sudah lelah karena terus memikirkan keadaan istri dan putri semata wayangnya. Berpisah dengan keluarga membuat hidupnya mati. Ya, dia hidup tapi mati. Harun terus mema
"Sayang, titip Naura ya," ucap Farel sebelum mobil yang membawa Yasmin dan Naura pergi dari hadapannya. "Doakan Naura sembuh agar kita dapat berkumpul kembali."Farel mengangguk dan tersenyum datar. Sebisa mungkin ia tutupi kemelut dalam rongga dadanya. Lelaki itu tak ingin istrinya curiga dan membatalkan keberangkatannya ke Singapura. * Flashback *Satu bulan yang lalu. "Yas," panggil Farel lirih. Saat ini mereka berada di ruang rawat inap. Suasana sunyi membuat suara lirih terdengar begitu jelas. Yasmin pun menoleh, menatap lelaki yang duduk di kursi, tepat di hadapannya. "Aku sudah mencari donasi untuk pengobatan Naura.""Sudah dapat, Rel?"Farel mengangguk pelan. Detik itu mulutnya begitu kelu. Kalimat yang sedari tadi menari di kepalanya mendadak hilang, meninggalkan mulut yang tertutup, membisu. "Secepat ini, Rel? Yakin ini bantuan dari yayasan?""Iya. Aku dapat dari teman lama. Kamu tahu, kan. Aku mantan dokter, jadi tahu akses untuk mendapatkan bantuan dari yayasan." Fa
Satu minggu kemudian"Rel, gendongnya gimana?" Yasmin melirikku, dia nampak bingung bagaimana cara menggendong Naura. "Kamu bawa tasnya saja, Yas."Aku meletakkan tas berisi keperluan Naura selama di rumah sakit. Dengan hati-hati, aku gendong bayi mungil ini. Yasmin hanya diam, memperhatikan caraku menggendong bayi yang baru berusia 12 hari. "Kamu pinter banget, Rel.""Hem!""Iya lupa, kamu lebih jago dari aku." Yasmin tersenyum samar. Setelah semua urusan selesai, kami pun segera meninggal rumah sakit. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Yasmin menatap wajah mungil yang ada di dalam pangkuanku. Senyum tergambar jelas di wajah ayunya. Yasmin bahagia, begitu pula diriku. "Dia cantik ya, Pa."Aku tersenyum mendengar kata itu. Papa... entah kenapa aku tergelitik kala Yasmin memanggilku dengan sebutan itu. Ternyata aku sudah benar-benar tua. Sudah ada ekor ke mana pun aku pergi. "Kenapa mesem begitu? Aku salah ngomong ya?""Enggak.""Lalu kenapa kamu tertawa? Aku tersenyum lebar. "
"Boleh, tapi ada syaratnya, Rel.""Papa.""Iya ini Papa.""Tolong bantu Farel, Pa."Aku mengiba, dengan sengaja menurunkan harga diri yang sempat kujunjung tinggi. Aku menyerah, mengalah demi Yasmin dan putri kecil kami. "Ada syaratnya, Farel.""Syarat... Maksud Papa?""Farel... Farel, kamu lupa... di dunia ini tidak ada yang gratis! Semua hal harus ada timbal baliknya, bukan?"Aku diam, kepala mencoba mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Papa. Entah setan apa yang kini mendiami kepala Papa. Pola pikirnya tak seperti dulu. Papa telah berubah. "Apa yang Papa mau?""Papa akan kirimkan sejumlah uang. Kamu kirimkan no rekening sekarang!""Lalu apa yang Papa mau dariku?""Nanti Papa beritahu.""Tapi, Pa.""Pikirkan dulu kesehatan anak dan istrimu, Farel."Sambungan dimatikan sepihak. Meski belum puas dengan penjelasan Papa, aku memilih diam dan menerima penawarannya. Karena hanya itu satu-satunya harapan yang aku punya. Setelah mengirimkan nomor rekening yang baru. Aku segera m
"Yasmin!"Farel segera berlari mendekati istrinya yang tergeletak di lantai tepat di depan kamar mandi. Yasmin pingsan beberapa saat yang lalu. "Yasmin, kamu kenapa?" Farel kebingungan melihat Yasmin tak bergerak. Farel menyentuh pipi istrinya, tapi Yasmin masih diam saja. Refleks Farel mengangkat tubuh Yasmin. Tertatih ia membopong tubuh Yasmin ke dalam kamar. Farel berusaha menguasai diri. Dia tepis rasa khawatir yang bersemayam dalam dadanya. Suami mana yang tak khawatir dan panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Apalagi dalam kondisi mengandung. Dengan cekatan Farel memeriksa denyut nadi perempuan di hadapannya. Seketika wajah lelaki menegang kala melihat cairan merah yang mengalir di kaki istrinya. Tanpa pikir panjang, Farel berlari ke luar. Dia berusaha meminta bantuan tetangganya. Tidak lama sebuah mobil berhenti di jalan depan rumah Farel. Farel dan seorang lelaki dengan hati-hati membopong tubuh Yasmin. Mereka merebahkan Yasmin di jok bagian tengah."Tolong cepat ya,
"Papa."Mataku melotot melihat lelaki yang kini berdiri di hadapanku. Lelaki yang sejak semalam kupikirkan kini berdiri di depan mata. Namun dengan wajah merah padam. "Siapa tamunya, Rel?"Aku masih diam, pertanyaan Yasmin bagi angin lalu. Hanya lewat tanpa singgah apalagi menetap. "Mama dan Hazna mana?" tanyanya dengan netra menelisik setiap sudut ruangan ini. "Ada di dalam, Pa. Papa masuk dulu!""Gak sudi! Suruh mama dan Hazna keluar, sekarang!" pekiknya. "Kok lama, siapa tamunya, Mas?"Aku menoleh ke belakang. Yasmin sudah berdiri dengan wajah menunduk, ketakutan. "Papa," ucap Mama dan Mbak Hazna serempak. Hening menyelimuti ruangan ini beberapa saat. Ada takut dan tegang yang membuat suasana tidak lagi kondusif. Tatapan papa mampu membuat semua orang menciut, terutama Yasmin. "Ayo pulang, Ma, Hazna!""Dari mana Papa tahu aku dan mama berada di sini?" tanya Mbak Hazna ketika berada di sampingku. "Tak penting, pulang sekarang!""Sabar, Pa! Semua bisa dibicarakan dengan baik-
"Mama... Mbak Hazna."Aku tak mampu lagi berkata-kata, hanya sebuah pelukan yang mampu melukiskan betapa rindu hatiku ini. "Lepas, Rel!" Mbak Hazna mendorong tubuhku hingga menjauh. "Kamu mau Mbakmu ini mati kehabisan napas?"Aku tersenyum sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Aku terlalu bahagia hingga mengapresiasikan rasa itu secara berlebihan. Mbak Hazna tak tahu, betapa aku sangat merindukan dia dan mama. "Ma, Mbak," panggil Yasmin seraya mencium penggung kedua wanitaku dengan khitmad. Sempat kulihat keraguan yang nampak di wajah istriku. Namun seketika berubah kala mama dan Mbak Hazna menyambut dengan pelukan hangat. Ini adalah momen yang selalu aku nantikan. Kami berkumpul tanpa rasa benci dan amarah. Kami hidup menjadi keluarga yang utuh dan bahagia. Namun perjuangan kami belumlah selesai. Aku dan Yasmin harus berusaha keras melunakkan hati papa yang sekeras baja. "Disuruh diem di situ, Rel? Tante sama Mbak Hazna capek berdiri begitu."Seketika aku terkesiap kemudian se