Seorang yang misterius dengan menunggang seekor kuda hitam berhenti tepat di lokasi di mana tadi si Kumbang Janti dan Puti Bungo Satangkai membantu si Balam Putiah dan rekannya dari serangannya orang-orang si Gagak Api.Seseorang yang mengenakan tudung kepala berwarna gelap itu menyeringai. Ia melirik ke kanan, dan menemukan sisa-sisa bom asap hitam yang digunakan oleh para penjahat tadi untuk melarikan diri.Lalu pandangannya tertuju ke arah seberang sungai. Sungai lebar itu cukup dalam, akan sangat berisiko memaksa kudanya untuk menyeberang.Ia melirik ke arah kanan, sisi timur. Ia tersenyum lagi. Lagi pula, ia melihat jejak roda pedati di antara pasir dan batu-batu kerikil di sepanjang tepian sungai.Terdengar helaan napasnya yang panjang dan berat, lalu ia menggebrak kudanya. Kuda meringkik halus, lalu berlari ke arah timur.***Tiga hari kemudian…Setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan, bahkan mereka hanya berhenti beberapa saat saja, si Kumbang Janti dan Puti
“Maaf,” ujar si Kumbang Janti dengan setengah berbisik memalingkan muka yang memerah.Lalu Etek Suna datang dengan membawakan hidangan untuk si Kumbang Janti dan Puti Bungo Satangkai, dibantu oleh seorang karyawannya.“Silakan, Datuk.”Tapi lagi-lagi si Kumbang Janti merasa bahwa Etek Suna tidak seperti biasanya.“Terima kasih,” ia menghela napas dalam-dalam, lalu melirik pada gadis di samping kirinya. “Mari, Bungo, kita makan terlebih dahulu sebelum ke Kotaraja.”Selama mereka bersantap di warung makan di siang itu, selama itu pula orang-orang sering melirik kepada keduanya. Baik mereka yang datang dan pergi dari warung itu, atau pula mereka yang melintas di jalan, sebab warung itu tepat berada di pinggir jalan, dna tidka memiliki dinding pembatas yang tinggi.Meskipun menyadari tatapan-tatapan aneh terhadap mereka, baik Bungo maupun si Kumbang Janti tidak ambil pusing. Mereka memilih untuk menyantap makanan mereka degan tenang.Karena perlakuan yang sedikit tak biasa itu, ketika si
“Benar, Datuk,” jawab si Kumbang Janti. “Ya sudah,” Jumari lantas berbelok ke arah jalan lebar yang segaris lurus dengan gerbang lainnya, gerbang yang membatasi istana itu sendiri. Enam prajurit yang membantu si Cadiak Pandai itu beriringan di belakangnya, masing-masing membawa sebuah kotak yang berisi berbagai macam arsip kerajaan. Tiga di kanan, tiga di kiri. Si Kumbang Janti mengangguk kepada Puti Bungo Satangkai, mengajaknya mengikuti langkah para prajurit di depan. * Telah cukup lama Puti Bungo Satangkai duduk menunggu di dalam balai pertemuan itu bersama si Kumbang Janti, namun sampai pada saat itu, tidak seorang pun yang muncul menghampiri mereka. Kecuali, dua dayang istana yang tadi datang menghidangkan minuman dan makanan kecil. ‘Apakah ini sesuatu yang biasa terjadi di dalam istana?’ Bungo hanya bisa menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk lebih bersabar. Si Kumbang Janti menyadari kegelisahan sang gadis, ia mencoba tersenyum ketika tatapan mereka kembali beradu pand
“Benar,” ucap Rajo Bungsu.Si Kumbang Janti mereguk ludah, tatapannya kembali kepada sang raja.Sementara Puti Bungo Satangkai justru merasa aneh. Kalaulah memang apa yang dimaksudkan oleh sang raja sama dengan apa yang ia pikirkan, bukankah ini sesuatu yang konyol?‘Mempercayai kabar burung begitu saja hingga harus menekan si Kumbang Janti sampai seperti ini? Tidakkah ini sesuatu yang berlebihan?’Tapi ia memang tidak memahami bagaimana semua hal berjalan di dalam lingkungan istana alih-alih terhadap kedudukan setiap orang yang pastinya akan berhadapan langsung dengan rakyat banyak.Tidak sama sekali.Si Kumbang Janti mengubah posisi duduknya menjadi berlutut, lalu melepaskan detanya, dan bersujud hingga keningnya menyentuh permadani yang melapisi lantai.“Paduko,” ujarnya tanpa mengangkat kepalanya. “Ampun beribu ampun, sembah patik mohon diampun.”Setelah itu barulah ia mengangkat kepalanya, tapi tetap dalam posisi berlutut, dan tertunduk.“Jikalau yang Paduko maksudkan adalah kaba
“Ada yang hendak engkau sampaikan lebih lanjut terkait Inyiak Mudo?” ujar Rajo Bungsu pada Puti Bungo Satangkai.Sang gadis kembali menuliskan sesuatu di permukaan kertas kasar di tangannya itu.“Paduko,” kata si prajurit di samping Bungo. “Gadis ini mengatakan bahwa Inyiak Mudo adalah gurunya.”“Itu tidak mungkin!” sahut si datuk berpakaian serba kuning di deretan Sembilan Cadiak Pandai.“Datuk!” Rajo Bungsu menyipitkan pandangannya.“Ampun beribu ampun, Paduko,” ujar sang datuk dengan membungkukkan badannya. “Sembah patik harap diampun.”“Katakan,” ujar Rajo Bungsu. “Apa yang Datuk pikirkan?”“Maaf, Paduko… Semua orang rimba persilatan sangat tahu bahwa Inyiak Mudo tidak mengangkat seorang pun sebagai muridnya.”Rajo Bungsu juga telah lama mendengar kabar tentang itu. Hanya saja, ia mencoba bersikap lebih bijak dengan meminta pendapat semua orang. Dua Hulubalang Kerajaan yang masing-masing duduk di sisi kiri sama mengangguk ketika tatapan sang raja tertuju kepada mereka.Begitu juga
“Orang-orang pasar telah bersaksi, Paduko,” kata si Balam Putiah. “Memang mereka mengakui, mereka telah memukuli kesebelas orang itu, tapi mereka tidak mengetahui apakah ketika itu kesebelasnya sudah mati atau hanya pingsan belaka.”“Begitu, ya?” Paling tidak, Rajo Bungsu sudah dapat menerka ke mana arah pembicaraan tersebut.“Mereka juga mengatakan,” ujar si Balam Putiah. “Bahwa pada peristiwa beberapa hari yang lalu itu, Talago dan gadis yang bersamanya itu sengaja membuat orang-orang itu terkapar setelah tidak dapat membuktikan tuduhan atas perilaku hina keduanya.”“Lorana!” si Kumbang Janti sudah tidak dapat lagi membendung kekesalannya. “Ada dendam apa kau kepadaku, hah?!”“Talago!” Rajo Bungsu bahkan sampai terlonjak dari singgasananya. “Jaga sikapmu!”“Tapi, Paduko—”“Kubilang jaga sikapmu!”Tatapan berkuasa sang raja seolah tak mampu dibantah oleh siapa pun di sana, tidak pula oleh Puti Bungo Satangkai sendiri. Aura sang raja seolah maujud, memperlihatkan kewibawaannya di hada
“Mayatnya kami temukan ribuan depa ke arah barat laut, Paduko,” ujar si Balam Putiah. “Di dekat sebuah rumah tua bersama mayat tiga lainnya.”Si Kumbang Janti dan Puti Bungo Satangkai saling pandang. Bagaimanapun, mereka berdua tidak mengenal siapa itu si Dambi.“Si Dambi ini,” si Balam Putiah melirik si Kumbang Janti. “Adalah pemimpin dari penjahat-penjahat yang tadi patik sampaikan kepada Paduko. Dengan demikian, kelima belas penjahat itu tidak mungkin dapat kami mintai keterangan sebab kesemuanya telah mati. Terkhusus bagi si Dambi ini, mayatnya terputus-putus, Paduko.”“Siapa yang membunuh si Dambi ini?” tanya Rajo Bungsu. “Adakah saksi mata?”“Tidak sama sekali, Paduko,” si Balam Putiah menundukkan kepalanya. “Hanya saja,” kembali lirikan matanya tertuju kepada si Kumbang Janti dan Bungo. “Ada beberapa orang yang sempat kami temui di kawasan Gunung Masurai yang memberikan kesaksian lain.”“Dan apa kesaksian itu?”Untuk kesekian kalinya si Kumbang Janti dan Bungo saling pandang. T
Rajo Bungsu mendesah panjang. Ia yakin bahwa si Kumbang Janti tidak melakukan hal-hal hina yang dituduhkan kepadanya itu. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan saja bukti-bukti yang telah ditemukan oleh si Balam Putiah bersama enam prajurit yang telah ia utus untuk itu. Juga, tentang dugaan upaya pembungkaman si Dambi yang cukup masuk akal tersebut.“Ini sangat disayangkan,” ujar sang raja. Lalu tatapannya tertuju pada sang gadis. “Bagaimana denganmu? Adakah sesuatu yang hendak kau katakan kepada kami?”Puti Bungo Satangkai menyeringai halus, ia menuliskan sesuatu pada lembaran dari sari pati bambu di pangkuannya.“Paduko,” ujar si prajurit di samping sang gadis. “Gadis ini berkata bahwa dia tidak peduli sama sekali dengan apa yang dituduhkan dan apa pandangan orang lain kepadanya.”“Lancang…!” ujar si Balam Putiah demi mendengar pernyataan sang gadis.Rajo Bungsu mendelik pada Hulubalang Kerajaannya itu.“Maaf, Paduko,” si Balam Putiah menundukkan kepalanya.“Tidak ada yang bol
Puti Bungo Satangkai duduk sembari memerhatikan Antaguna dengan dagunya bertopang pada telapak tangannya, dan sikunya bertopang pada lutut yang menekuk ke atas, di bagian depan sampan yang sedang meluncur ke arah barat.Sementara Antaguna, duduk di bagian ujung lain sampan, bagian belakang, sembari mendayung dan membawa sampan ke tengah-tengah laut.Pria besar dan berotot menjadi malu sendiri sebab selalu diperhatikan sang gadis, bahkan sembari tersenyum-senyum menatapnya.“Hei, ermm … apakah pulau itu masih jauh?” Antaguna membuang pandangan ke samping. Terlalu jengah diperhatikan seperti ini, pikirnya.Dan sang gadis hanya mengangguk saja sembari tetap tersenyum-senyum manja.“Kupikir tadinya kau bilang di seberang laut,” Antaguna mendesah panjang. “Ini bukan laut, tapi sebuah samudra, dasar gadis bodoh. Kau mengerjaiku!”Bungo terkikik dan menggeleng-geleng kecil yang semakin membuat Antaguna menjadi jengah dan bimbang. Bimbang sebab ingin saja pada saat itu dia menerkam sang gadis
Puti Bungo Satangkai, Antaguna, dan Sondang Tiur akhirnya tiba di Istana Minanga, di Batang Kuantan.Ketiganya disambut dengan cukup meriah oleh Rajo Bungsu dan orang-orang istana. Terlebih lagi, dengan keberhasilan Bungo yang mendapatkan semua kepingan Teratai Abadi. Meskipun, kegembiraan mereka sedikit terusik dengan kematian si Kumbang Janti.Hanya saja, baik Antaguna maupun Bungo sendiri tak hendak membicarakan tentang keburukan yang pernah dilakukan si Kumbang Janti sehingga membuat Antaguna cacat wajahnya. Tidak pula oleh Sondang Tiur yang juga mengetahui alasan di balik hal tersebut.Sama seperti jawaban Antaguna kepada Mantiko Sati dan Puti Pandan Sahalai di Ngarai Sianok, begitu pula yang mereka sampaikan keduanya kepada Rajo Bungsu dan orang banyak ketika sang raja bertanya perihal perubahan di wajah si pria tinggi besar.Rajo Bungsu dan Ratu Nan Sabatang, juga Gadih Cimpago sangat bersuka cita ketika mereka mendengar bahwa Bungo dan dua orang yang menemaninya bertemu dengan
‘Katakan padaku,’ Puti Bungo Satangkai menatap ke dalam mata Antaguna. ‘Kenapa kau merahasiakan tentang lukamu itu dariku?’“Bungo …” Antaguna menghela napas dalam-dalam. “Tidak ada gunanya diungkit-ungkit lagi. Aku sudah memberi tahu alasan di balik lukaku ini. Bahkan di depan abangmu, ingat?”‘Apakah kau pikir abangku dan aku sendiri begitu buta untuk tidak menyadari bahwa kau sengaja berbohong?’Sementara itu, Sondang Tiur sengaja menjauh dengan alasan mencari ikan untuk makan mereka di siang itu, di satu aliran sungai kecil yang jernih. Dia tahu dengan baik bahwa Bungo hanya ingin berbicara empat mata saja dengan Antaguna. Tentang, sesuatu yang bersifat sangat pribadi, mungkin, pikirnya.Antaguna mendesah halus dan menunduk.‘Hei!’ Bungo mendorong pelan bahu pria besar. ‘Katakan padaku! Kenapa?’Akan tetapi, sampai beberapa saat lamanya, Antaguna tak hendak memberi tahu alasan sesungguhnya kepada sang gadis.‘Hei, katakan padaku! Apakah kau masih menganggapku temanmu? Beri tahu ak
Kicau burung liar terdengar cukup menenangkan pikiran. Ditambah dengan pekik hewan dan suara aliran air di sungai, semua itu menemani sekumpulan orang yang sedang berdiri di satu titik, di sisi timur aliran sungai, di tengah-tengah lembah Ngarai Sianok.Puti Bungo Satangkai berlutut dengan menggenggam sejumput bunga liar yang indah dan masih basah oleh embun. Lalu disusul pula oleh sang kakak, Mantiko Sati, yang berlutut di samping kirinya.Sementara yang lainnya berdiri hening dengan kepala tertunduk.Kakak beradik itu meletakkan bunga-bunga liar di satu titik di permukaan tanah, di antara batu-batu kerikil yang lebih mencolok dengan warna kehitam-hitaman di antara lainnya.Di titik itulah di mana Zuraya pernah tergeletak tak berdaya dan mati. Di titik itu pula Bungo dilahirkan dengan sangat terpaksa. Di titik yang sama pula Inyiak Mudo lantas membakar jasad Zuraya.Mantiko Sati tidak pernah bisa menemukan jasad Zuraya ketika malam jahanam itu terjadi. Dia tidak tahu bahwa di titik i
Mantiko Sati lantas tersenyum lebar dengan gelengan kepalanya, membuat semua orang menjadi bertanya-tanya. Terutama, bagi Antaguna sendiri.“Uda?”“Wajahmu, Tarigan. Wajahmu.”Antaguna mulai merasakan sesuatu yang mungkin akan menyakitkan beberapa orang di antara mereka. Lagi, dia mereguk ludah sembari melirik Puti Bungo Satangkai dari sudut matanya, lalu tertunduk.“Terakhir kali kita bertemu,” kata Mantiko Sati. “Wajahmu masih terlihat gagah. Dan aku yakin, bekas luka di wajahmu itu adalah akibat dari terkena Cakar Kucing Emas, bukan?”Degh!Tidak Antaguna saja yang berdegup kencang jantungnya, tapi juga Bungo.Sang gadis yang dalam waktu belakangan ini cukup penasaran dengan kecacatan yang didapat Antaguna pada wajahnya memang ingin mengetahui cerita di balik itu semua. Hanya saja, semenjak kembali dari Pulau Telaga Tujuh, Antaguna sama sekali tidak mau menyinggung perihal bekas lukanya tersebut.“Uda, aku―”“Bisakah kau melepas bajumu, Tarigan?”Antaguna semakin menggigil. Bukan l
Puti Pandan Sahalai tertawa halus seraya mengusap bahu Sondang Tiur.“Baiklah, baiklah,” ucapnya. “Tapi, jangan sampai terdengar oleh suamiku.”“Kenapa?”Kebingungan si gadis Batak juga menjadi kebingungan Antaguna yang tentu saja mendengar percakapan keduanya.“Sejauh yang aku tahu,” lanjut Sondang Tiur. “Seluruh masyarakat di Minanga ini mengetahui bahwa seorang Mantiko Sati adalah pria rupawan yang sangat sopan dan halus budi bahasa. Kurasa dia tidak akan keberatan.”Lagi, mantan Ratu Minanga itu tertawa halus dan sangat merdu. “Oh, Tiur … kau hanya belum tahu saja bagaimana dalamannya!”“Oops …” Sondang Tiur terkikik.Dan Antaguna hanya bisa tersenyum sembari membuang muka. Dasar perempuan, pikirnya.Dan kemudian si pria berbadan besar membantu Sondang Tiur dan Puti Pandan Sahalai untuk memanggang daging yang tersedia di atas nampan kayu lebar, mempersiapkan makan malam bagi mereka semua.Malam itu berlalu dengan banyak kegembiraan. Sekaligus, ini adalah makan malam paling membaha
Pria rupawan mengernyit. Dia berhenti tepat dua langkah di hadapan Antaguna.Sementara itu, Puti Bungo Satangkai pun akhirnya menghentikan serangannya sebab dihalangi oleh Antaguna yang berlutut di tengah-tengah di antara dia dan si pria rupawan.‘Apa yang kau lakukan?!’ Bungo menggerak-gerakkan tangannya.“Bungo, jangan teruskan!”“Tarigan!” Pria rupawan memandang si gadis bisu sebelum kembali pada Antaguna. “Apa maksud dari semua ini?”“Uda, kumohon!”“Berdirilah! Kau tahu aku benci seseorang yang berlutut di hadapan orang lainnya, bukan?”Antaguna mengangguk dan berdiri. Bungo menghampirinya dengan tatapan menuntut penjelasan lebih.“Siapa gadis ini, Tarigan?”“Uda …” Antaguna melirik pada Bungo dan mengangguk.Bungo mengernyit. ‘Apa artinya ini?’“Bungo,” ucap pria tinggi besar dan berotot dengan menggenggam tangan sang gadis. Lalu melirik pria rupawan yang juga memaksa sang gadis untuk menatap pria yang sama. “Dia, Uda Buyung. Abangmu, Bungo.”‘Kau bilang apa?’ Bungo membelalak.
Pria kurus tiba-tiba terdiam dan membelalak. “K-Kau, kau …”‘Tunggulah di sini. Aku akan menghajar orang yang telah melukaimu!’Dan Puti Bungo Satangkai lantas menyerang si pria rupawan. Sementara pria bernama Fèng itu hanya bisa termangu sembari mengusap lelehan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.Fèng adalah pria yang sama yang pernah dijumpai oleh Bungo di satu hutan lebat, di seberang sungai di mana si Simpai Gilo tinggal. Pria yang nyaris sepenuhnya menjadi gila itu akhirnya merelakan kematian istrinya setelah bertemu dengan si gadis bisu tersebut.Alasan Bungo ingin melindunginya sebab si Simpai Gilo sendiri sepertinya telah mengawasi Fèng sebelum kematiannya. Atau lebih tepatnya, menjaga Fèng dan rutin memberikannya makanan.Inilah yang diyakini oleh sang gadis sehingga dia menyerang si pria rupawan tanpa tahu duduk permasalahan di antara keduanya terlebih dahulu.“Hei, Nona. Kau tidak harus―”Tapi ucapan si pria rupawan tidak didengar oleh Bungo. Sang gadis tela
Pria rupawan berputar-putar cepat di udara. Di satu ketinggian, dia merentangkan tangan dan kakinya dengan tiba-tiba sehingga gerakan berputar tubuhnya terhenti. Lalu dia menukik ke arah si pria kurus dan pucat.Pria kurus mengibaskan pedangnya ke samping.Swiing!Dan seketika, bilah pedang merah seolah dibungkus oleh lidah api.“Apa pun jurusmu, aku sudah siap menahan itu!” ucapnya dengan sangat percaya diri.Pria rupawan tersenyum lagi. Selagi tubuhnya meluncur ke bawah, dia melenting ke belakang, berjumpalitan sekali, lalu menukik lagi dengan lebih cepat.Pada satu ketinggian yang ia rasa pas, pria rupawan lantas menghantamkan cakar tangan kanannya ke arah si pria pucat di bawah.“Terima seranganku, kawan, Auman Membuncah Samudra!”“Serang aku!” teriak si pria kurus pucat.Swoosh!Lagi-lagi gelombang angin yang dahsyat disertai kilat-kilat kecil kebiru-biruan menderu dari cakar si pria rupawan. Bahkan, suara bergaung yang menyertai serangan itu sendiri laksana auman seekor harimau