Beranda / Romansa / Secangkir Kopi Untuk CEO / Pengganggu (bagian 2)

Share

Pengganggu (bagian 2)

Penulis: Pena Langit
last update Terakhir Diperbarui: 2022-02-02 23:06:58

Dengan motor matic hasil meminjam dari Melodi, Anita meluncur menuju tempatnya dulu bekerja. Bibir Anita menggerutu sebal di sepanjang perjalanan. Semua gerutuan itu isinya tentang Sagara. Ia berpikir bahwa Sagara tak ada henti-hentinya menganggu ketenangannya.

Gerutuan Anita di sepanjang perjalanan membuat mukanya yang cantik, jadi terlihat seperti angsa yang hendak menyerang mangsanya. Bibirnya manyun tanpa henti sambil sesekali mencibirkan Sagara. Beberapa pengendara yang kebetulan menoleh ke arahnya karena penasaran dengan wajahnya jadi tertawa saat melihat bibir manyunnya.

“Mbak? Pagi-pagi kok cemberut. Awas di tilang polisi lho....” kata salah satu pengendara cowok yang sedang berboncengan hendak menuju tempat kerja.

Dilihat dari seragam yang di pakai 2 cowok itu, tampaknya mereka bekerja di sebuah pabrik.

 <

Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Meja Panas (bagian 1)

    Kafe Jasmine merupakan kafe yang terletak di pinggiran kota Surabaya. Letaknya cukup jauh dari ramainya kota Surabaya yang terkenal akan keramaiannya. Namun, meskipun jauh dari pusat kota, kafe ini tetap ramai oleh pengunjung yang di dominasi oleh pelajar. Banyak pelajar dan mahasiswa yang datang ke kafe ini setiap harinya. Hal ini dikarenakan, kafe Jasmine menaruh konsep kafe pelajar. Jadi setiap pelajar yang datang, baik itu murid SMP, SMA atau pun Mahasiswa, akan mendapatkan diskon di setiap pembelian menu. Sehingga sangat ramah di dompet para pelajar. Kafe ini juga menyediakan layanan Wi-Fi yang sangat stabil. Sehingga para pelajar yang ingin mengerjakan soal atau sekedar melepas jenuh di kafe ini. Bisa merasa nyaman dan betah.

    Terakhir Diperbarui : 2022-02-02
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Meja Panas (bagian 2)

    Suasana kafe jadi sepi sejak para pegawai bergerak untuk menutup aktivitas kafe hari ini. Semua bagian kafe yang digunakan untuk menarik pelanggan untuk datang sudah terlebih dahulu di bereskan. Sehingga tak ada satu pun pelanggan yang datang usai plakat menu promo dibawa masuk. Terlebih lagi, Melodi juga sudah membalik tulisan open menjadiclose.Para pengunjung yang sebelumnya masih duduk bersantai juga berangsur-angsur pulang. Meski pak Bena mengatakan kepada mereka untuk tidak terburu-buru, namun tetap saja para pelanggan jadi pulang lebih cepat. Tapi untungnya, makanan yang mereka pesan habis semua. Hanya menyisakan noda makanan pada alat makan mereka.15 menit berlalu, akhirnya kafe benar-benar tutup. Tepat di saat itu juga, pesanan Cecilia telah selesai di masak. Dan kini sedang di sajikan ole

    Terakhir Diperbarui : 2022-02-02
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Cinta Yang Pernah Pergi

    “Anita?! Kamu mau ikut makan malam di depot Pojok tidak? Pak Niko yang traktir...” teriak Cika, asisten Chef Niko. Ia meneriaki Anita yang lagi fokus mengetik sesuatu di layar handphone-nya. “Maaf, lain kali saja. Aku masih ada urusan soalnya,” sahut Anita dari kejauhan. Anita sebenarnya sudah terlebih dahulu pulangnya karena tidak ikut menunggu Chef Niko selesai beres-beres dapur. Namun karena ada pesan singkat masuk dan isinya cukup penting, membuat Anita berhenti sejenak untuk membalas pesan singkat tersebut. “Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan, kami duluan.” seru teman-teman sekerjanya yang akhirnya pergi duluan meninggalkan Anita

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-09
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Sang Penghibur (bagian 1)

    Kelinting!!! Bel lonceng kafe berbunyi.Anita memasuki kafe dengan wajah lesu.“Pagi semua...” sapanya pada semua pegawai yang sudah terlebih dahulu datang.Pak Karim, Cika dan Melodi yang sedang sibuk menurunkan kursi-kursi dari atas meja menyambut kedatangan Anita. Melodi yang menyempatkan diri menoleh ke arah Anita menangkap sesuatu yang aneh di wajah Anita.“Kamu habis dipukuli orang, Ant?” tanya Melodi menemukan lingkaran hitam di kedua kantung mata Anita. Ditambah, ia merasa jika kelopak Anita terlihat sedikit membengkak.“Enggak kok Kak,” jawab Anita.“Lah itu? Mata kamu kok bengkak begitu?” Melodi menuding mata Anita.Cika yang mendengar ikutan nimbrung. Ia juga ikutan mengecek mata Anita. Dan ia setuju dengan apa yang disampaikan Melodi. Mata Anita memang terlihat b

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-13
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Sang Penghibur (bagian 2)

    “Loh Bapak kok ada di sini?” celetuk Anita terkejut. Ia bahkan sampai menghentikan aktivitasnya karena terpaku dengan kemunculan Sagara yang tak diduganya.“Bisakah kau bersikap biasa saja saat melihatku?”“Se-sebentar, tunggu. Jangan-jangan yang pesan semua makanan ini, Bapak?”Sagara memasang wajah kesal. “Bisakah kau memanggilku dengan nama? Kamu pikir aku Bapakmu? Lagi pula kita sudah bukan rekan kerja lagi. Jadi bersikaplah biasa saja. Tidak perlu formal.”“Mana bisa. Aku sudah biasa memanggil seperti itu,” telak Anita.“Sudah biasa? Waktu kamu kerja di tempatku, kamu sering memanggil diriku kau, kamu, sambil berteriak. Bahkan kamu mengumpat di belakangku. Apa kamu lupa de

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-13
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Sang Penghibur (bagian 2)

    Sesuai janjinya, Sagara menunggu Anita di depan kafe hingga jam kerjanya selesai. Mulai dari pukul setengah 6 sore, sampai sekarang pukul 9 kurang 15 menit, Sagara tetap setia menanti. Sebagai seorang pria yang merasa memiliki kehormatan dan martabat yang tinggi, janji yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya, harus di tepatinya meski nyawa taruhannya. Entah dari mana munculnya moto itu. Namun yang pasti Sagara tidak akan melanggar janji atau ucapannya sendiri.Pukul 9 kurang 5 menit, tepat. Kafe Jasmine sudah terlihat siap-siap tutup setelah 2 orang wanita keluar dari dalam kafe. Pak karim yang tahu bahwa dia wanita itu merupakan pelanggan terakhir untuk hari ini, langsung bergerak membereskan meja-meja dan kursi yang ada di depan. Serta membawa masuk papan menu promosi.Sagara yang tahu bahwa sebentar lagi Anita akan pulang, langsung menyiapkan dirinya. Ia merapikan baju serta rambutnya yang sedikit berantakan. Tak lupa ia kembali menggun

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-13
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Masa Kelam Sagara

    Pada sebuah bangku panjang yang berada tak jauh dari tempat komedi putar berada. Anita duduk sambil memangku kepala Sagara, yang masih tak sadarkan diri di atas pangkuannya. Sambil memangku, tangan lentik Anita juga membelai lembut rambut kepala Sagara. Dirinya membelai rambut itu dengan sangat berhati-hati. Seolah tak ingin Sagara sampai terbangun karena terganggu akan belaian tangannya.“Bukan kah, Bapak terlalu tampan untuk menjadi orang yang menyebalkan?” kata Anita sembari memandang dalam wajah Sagara.Senyumnya tercurah, tipis. Ada keraguan di balik senyum itu. Terlihat seperti senang. Namun juga terlihat seperti takut.Angin malam mendadak berembus menerpa lembut tubuh Anita. Angin malam yang dingin memaksa Anita untuk memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Mata yang telah sedikit memerah karena letih dengan aktivitas yang sudah ia lalui seharian, mendongak ke arah langit. Matanya mengedar, m

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-13
  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Surat Kontrak Baru Dan Hari Terakhir

    Pukul 8 tepat, Anita sudah berada di lobi gedung DA.crop. Sambutan hangat dari beberapa karyawan dan security yang ia kenal masih di dapatkannya. Membuat Anita begitu senang seakan ia tak pernah meninggalkan tempat ini.Anita menuju meja administrasi. Sebagai tamu, ia wajib melaporkan maksud kedatangannya. Penjaga meja administrasi yang kenal baik dengan Anita, melayani dengan baik dan ramah. Percakapan mereka seperti teman dekat. Dan Anita, masih di panggil Ibu oleh 3 orang Admin yang ada di meja itu.“Pak Braham baru saja datang, Bu. Sebentar biar saya hubungi dulu beliau,” kata salah satu Admin.Tak lama, Admin yang menelepon ruang pak Braham memberi arahan untuk Anita menuju ke ruangannya.“Pak Braham sudah menanti Ibu. Silakan menuju lantai 30,” ucap Admin itu ramah.Anita tersenyum dan mengangguk. “Oh iya, terima kasih,” ucapnya kemudian

    Terakhir Diperbarui : 2022-03-13

Bab terbaru

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Salam Perpisahan

    Perlombaan berpasangan, akhirnya berakhir. Semua pasang telinga mendengar dengan saksama hasil akhir yang sudah 10 grup atau pasangan itu kumpulkan dari 4 perlombaan.Pada posisi pertama, masih di kuasai oleh Rahma dan Putra. Mereka memimpin dengan 8 poin. Posisi ke dua di isi oleh Sagara dan Anita dengan 6 poin. Dan di posisi ketiga di tempati oleh pasangan Kena dan Toni dengan 5 poin.7 pasangan yang berada di bawah 3 besar harus bersiap menerima hukuman. Astrid yang paling sebal dengan hukuman. Karena pada pertandingan meniru gerakan estafet, dia sudah mendapatkannya. Jadi mendapatkan hukuman kedua, ia rasa itu sangat menyebalkan.Matahari sudah semakin turun bersiap meninggalkan takhtanya yang ia pertahankan seharian penuh. Rembulan di ufuk timur sedikit condong ke selatan sudah terlihat walau masih samar-samar.Di atas panggung Soni mengumumkan beberapa hal. Pertama, tak ada hukuman dalam perlom

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Pasangan Terbaik (bagian 3)

    Perlombaan kedua langsung di mulai usai penilaian potret foto mesra selesai. Untuk perlombaan selanjutnya adalah tebak kata.Dalam perlombaan ini pria akan bertugas menebak apa yang pasangan wanitanya peragakan. Ada 3 kata yang harus mereka tebak dengan benar. Dan waktu perlombaan berlangsung selama 1 menit.“Kita harus menang. Aku yakin kamu pasti bisa,” ucap Sagara menyemangati Anita.“Tentu saja aku bisa. Tinggal Bapak sendiri, apa bisa menebaknya dengan benar atau tidak,” balas Anita.Perlombaan di mulai secara bergantian. Karena nomor pendaftaran Sagara dan Anita berada di akhir, jadi mereka akan kebagian nomor urut belakangan.Perlombaan tebak kata berlangsung dengan meriah. Gerakan meragakan kata yang di lakukan

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Pasangan Terbaik (bagian 2)

    Di bawah pohon kelapa yang menyerong ke arah pantai, Anita dan Cecilia duduk manis sambil memandang jauh ke arah panggung. Di atas panggung sana, beberapa peserta sedang mendaftar.“Yang ikut enggak terlalu banyak. Seharusnya enggak perlu limit peserta. Jadi biar rame,” kata Cecilia.“Di beri batas 10 grup sudah cukup banyak sih menurutku. Biar enggak lama-lama juga.”Soni kembali memegang mikrofonnya usai menerima daftar peserta yang akan ikut lomba.“Oke sebelum kita mulai perlombaannya, saya akan menjelaskan kembali jenis-jenis perlombaan yang akan di gelar. Pertama, lomba foto mesra. Kedua lomba lari gendong. Tiga lomba merias wajah pasangan. Dan empat lomba tebak kata. Untuk lomba kelima, yang pecah semangka enggak jadi ya. Semangkanya belum musim soalnya,” terang Soni.“Dan untuk peserta yang ikut serta, akan saya absen. Nanti waktu

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Pasangan Terbaik (bagian 1)

    Lomba masak berlangsung sengit. Semua peserta berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan masakan mereka dengan baik. Bahkan grup dua yang di ketuai oleh Alexa sudah mulai bisa mengejar ketertinggalan.Priittt priittt priiiitttt!!!!Waktu memasak telah usai. Semua peserta di minta untuk menyajikan masakan mereka ke depan dan di letakkan pada sebuah meja yang telah disiapkan. Anita dan Cecilia bertugas membawa masakan mereka sebagai perwakilan grup.Pada grup 1 di wakilkan oleh Astrid dan Desi. Pada grup 3 di wakilkan oleh Dewi dan Susi. Mereka semua membawa makanan yang mereka masak dengan sangat hati-hati. Sangat tidak lucu jika sampai makanan yang mereka bawa jatuh sebelum di cicipi.Di meja juri sudah ada Soni, Agus dan Agra. Ini lah salah satu alasan mengapa Agra tidak ikut pertandingan sesi kedua ini. Lantaran dirinya di minta Soni untuk menjadi juri.

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Kisah Agra Dan Anita (bagian 4)

    Perlombaan grup campuran dimulai. 5 pria dari tiap grup sudah siap dengan jaring dan alat pancing sederhana mereka.“3, 2, 1 mulai!!”Para pria langsung berlari mencari posisi yang memungkinkan ada banyak ikan di sana. Ada yang dalam satu grup berpencar di beberapa titik. Ada juga yang bergerombol pada satu tempat. Mereka semua punya cara masing-masing.Di bagian meja masak. Para wanita menunggu dengan cemas. Jantung mereka berdebar kencang menanti para pria di grupnya datang dengan tangkapan ikan yang bagus.“Semoga saja bukan belut, semoga saja bukan belut,,,” Jena berdo’a sambil mengepalkan tangannya. Ia berjongkok di sudut meja masak, terpisah dari 4 anggotanya yang sedang berdiskusi soal masakan apa yang harus mereka buat.“Tenang saja Jen, enggak akan ada belut di tepi pantai. Belut itu hidupnya di terumbu karang atau di bebatuan bawah la

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Kisah Agra Dan Anita (bagian 3)

    Angin pantai masih terasa sama. Dingin, namun tetap terasa nyaman di pori-pori kulit. Entah ada apa dengan angin itu. Padahal, seharusnya dingin yang dibawanya bisa sampai menembus tulang. Memaksa orang yang merasakannya untuk meringkuk menggigil. Namun angin ini, malah terasa nyaman. Seperti hembusan angin sejuk di bawah kalpataru tua yang rindang.“Aku kenal dengannya saat kami sama-sama di OSIS,” Agra mulai bercerita setelah termenung meraih puing-puing kenangan yang berantakan di makan waktu.“Organisasi sekolah untuk siswa teladan dan pintar itu?” tanya Sagara.“Bukan, OSIS bukan untuk siswa seperti itu. Meski memang benar, banyak siswa yang pintar dan teladan masuk dalam organisasi itu. Tapi sejatinya, OSIS itu diperuntukkan untuk siswa yang ingin berbuat lebih, baik itu untuk sekolah atau pun untuk diri mereka masing-masing. Karena, OSIS itu dipenuhi banyak tanggung jawab yan

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Kisah Agra Dan Anita (bagian 2)

    Pukul 6:30, Anita sudah bersiap dengan gaun dress sederhana dengan warna putih bersih. Sepatu hight-hill berwarna merah sudah menghiasi kaki indahnya. Rambutnya yang panjang, digulungnya dan di kucir dengan kucir cantik. Di depan cermin, usai ia menghias indah bibirnya dengan lipstik merah muda, Anita berkata. Aku siap.Dengan penuh rasa percaya diri dan gugup, ia merenggang menuju pintu. Bersiap keluar kamar dan menjemput Sagara.Di depan pintu milik orang paling berkuasa di DA.crop, Anita mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Berharap, orang paling menyusahkan dalam hidupnya itu segera keluar karena acara temu kangen sudah mulai dari 30 menit lalu.Anita telat berangkat lantaran harus membeli baju dulu untuk acara ini. Karena dia tak membawa persiapan untuk menghadiri acara reuni.5 detik berla

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Kisah Agra Dan Anita

    Anita sudah bisa menghirup nafas lega usai keluar dari restoran hotel. Tadi hampir saja ia ketahuan oleh teman-teman SMA nya.Angin pantai berembus kuat menerpa tubuh ramping Anita. Menyibakkan rambutnya yang hitam legam dengan kuat. Membuat tatanan rambutnya yang rapi jadi sedikit terurai berantakan. Anita memegangi rambut kepalanya agar saat angin kembali berembus kencang, rambutnya tidak bertambah berantakan. Ia tak ingin penampilannya yang elegan jadi berkurang karena rambutnya berantakan.Sagara yang berjalan di samping Anita dengan memasang jarak 50 cm, memberikan topi yang ia pantai pada Anita.“Nih, biar rambut indahmu tetap terjaga cantik.” Kata Sagara.Anita hanya diam. Dirinya tidak menolak topi yang di berikan Sagara. Dia malah merapikan topi itu agar pas di kepalanya yang ukurannya lebih kecil dari ukuran topi Sagara.Mereka berdua berjalan-jalan di tepi

  • Secangkir Kopi Untuk CEO    Hotel Sanur (bagian 3)

    Anita sudah bisa menghirup nafas lega usai keluar dari restoran hotel. Tadi hampir saja ia ketahuan oleh teman-teman SMA nya.Angin pantai berembus kuat menerpa tubuh ramping Anita. Menyibakkan rambutnya yang hitam legam dengan kuat. Membuat tatanan rambutnya yang rapi jadi sedikit terurai berantakan. Anita memegangi rambut kepalanya agar saat angin kembali berembus kencang, rambutnya tidak bertambah berantakan. Ia tak ingin penampilannya yang elegan jadi berkurang karena rambutnya berantakan.Sagara yang berjalan di samping Anita dengan memasang jarak 50 cm, memberikan topi yang ia pantai pada Anita.“Nih, biar rambut indahmu tetap terjaga cantik.” Kata Sagara.Anita hanya diam. Dirinya tidak menolak topi yang di berikan Sagara. Dia malah merapikan topi itu agar pas di kepalany

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status