Home / Rumah Tangga / SURGA YANG TAK DIINGINKAN / Bab 6. POV ZIAN( Istriku Berubah)

Share

Bab 6. POV ZIAN( Istriku Berubah)

Author: Aryan Lee
last update Last Updated: 2025-02-24 09:34:24

Sejak memaafkan kesalahan dan menerima alasanku menikah lagi, Rani mulai menjaga jarak denganku. Apalagi sejak aku mulai membagi waktu untuk kedua istriku. Memang dia tetap melayaniku seperti biasanya. Akan tetapi, perasaanku mengatakan Rani sangat terluka dan belum bisa menerima telah dimadu secara diam-diam.

Aku juga melihat ketakutan di mata Rani yang biasanya selalu menatapku dengan penuh cinta. Padahal sudah berulang kali aku katakan, kalau cinta ini hanya untuknya seorang. Aku memang sangat mencintai Rani yang tidak akan tergantikan oleh siapa pun.

Jujur sebenarnya akulah yang sangat takut kehilangan Rani. Dia wanita mandiri dan bisa saja mengajukan gugatan atas pengkhianatan yang telah kulakukan. Namun, aku merasa bersyukur, Allah masih mempersatukan kami dalam ikatan cinta ini.

Sungguh aku tidak pernah punya niat menyakiti Rani sedikitpun dengan menikah lagi ini. Namun, aku juga tidak mengerti kenapa bisa melakukan aib itu. Sehingga dengan mudahnya menyusun rencana kebohongan yang nyaris menghancurkan rumah tanggaku.

Andai waktu bisa diputar, aku tidak akan menemui relasi bisnis waktu itu. Namun, semua sudah terjadi dan sesal pun tiada berguna. Kini aku harus mempertanggungjawabkan kesalahan itu dengan menjadi suami yang adil.

Hari demi hari, perubahan sikap Rani kian kurasakan. Rani yang tadinya selalu mesra dan perhatian bila ada aku di rumah, kini jadi pendiam dan hanya bicara seperlunya saja. Terkadang acuh tak acuh yang membuatku tersiksa, seolah dia sedang menghukum atas kekhilafanku.

"Kamu berubah," ujarku ketika mengurai keheningan di antara kami.

"Apanya yang berubah Mas?" tanya Rani setelah kami makan malam.

"Sikapmu, semakin membuat jarak di antara kita," jawabku kemudian.

"Itu hanya perasaan Mas saja, bukannya kita sedang belajar agar terbiasa dengan pernikahan ini. Anggap saja aku masih bekerja, jadi jangan terlalu dipikirkan!" sahut Rani dengan tetap tenang.

Aku segera memberikan sanggahan, "Tapi aku merasa kamu semakin menjauh. Buktinya sekarang, kalau bicara kamu tidak mau melihat mata Mas lagi."

Rani langsung menatapku dan kembali berujar, "Aku hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri, Mas. Tidak mudah menjalani sesuatu yang telah terbagi. Mas ingin aku menerima keadaan bukan, begitupun sebaliknya. Jadi tidak usah dipertanyakan lagi kenapa sikapku jadi seperti ini, kalau Mas sudah tahu alasannya. Tolong mengertilah!"

Pernyataan Rani seperti menamparku dengan telak. Mata yang dulu selalu berbinar-binar penuh cinta kala menatapku kini berubah jadi dingin. Aku melihat ada kemarahan dan luka yang masih basah.

"Mas boleh nggak aku kerja lagi? Lama-lama bosen di rumah terus. Apalagi kalau Mas sedang tidak ada," ujar Rani mengalihkan pembicaraan.

Aku terdiam mendengar keinginan istriku. Sebenarnya aku ingin Rani ikut program kehamilan. Namun, aku tidak berani membahas soal anak dengannya lagi. Aku tidak mau membuat Rani jadi sedih dan kehilangan semangat hidupnya. Buktinya dia tidak pernah menanyakan Dahlia sudah hamil berapa bulan. Mungkin ada baiknya Rani memiliki kesibukan agar tidak terlalu memikirkan pernikahan poligami ini.

"Bukan kerja terikat waktu Mas, tapi aku mau coba buka cafe," jelas Rani kemudian.

"Memangnya kamu mau buka cafe di mana?" tanyaku menanggapi keinginan Rani dengan serius.

"Di dekat-dekat sini saja, biar nggak cape untuk mengawasinya. Rencananya aku mau memperkerjakan temanku Laras yang pinter bikin kue dan Tina untuk membantuku untuk mengelola usaha itu," jawab Rani dengan antusias sekali.

Melihat semangat Rani, aku pun langsung menyetujuinya, "Ya sudah, atur saja bagaimana baiknya. Mas setuju!"

Rani tampak tersenyum mendapat dukungan dariku dan berucap, "Terima kasih Mas."

Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata Dahlia menghubungiku.

"Halo Mas, bisa ke rumah sebentar saja!" Pinta Dahlia dari seberang sana dengan suara yang lemah.

Aku menoleh ke arah Rani yang tampak bergeming dan menjawab dengan tegas. "Tidak bisa, hari ini jadwalku bersama Rani. Bersabarlah besok aku akan ke sana!" Aku langsung mematikan panggilan itu agar Dahlia tidak mengganggu lagi.

Dengan perlahan Rani menoleh ke arahku seraya berkata, "Mas aku tidak apa-apa, pergilah dan temui Dahlia. Dia pasti sedang membutuhkan kehadiranmu!"

Aku tidak suka Rani berkata seperti itu, tetapi mengingat Dahlia sedang hamil membuatku jadi dilema.

"Aku akan secepatnya pulang!" pamitku yang dijawab anggukan oleh Rani.

Semoga saja Rani bisa sabar sampai anak itu hadir untuk melengkapi kebahagiaan kami. Aku juga berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis lagi.

***

Dahlia terlihat lemas karena sedang ngidam. Dia tidak mau makan dan minum susu karena muntah-muntah terus. Parahnya lagi istri keduaku itu ingin selalu bersama denganku. Tentu saja aku tidak bisa karena ada Rani yang berhak atas diriku juga.

"Jangan manja Dahlia, sikapmu ini tidak adil buat Rani!" ujarku dengan kesal. Niatnya hari ini menghabiskan waktu berdua Rani berubah jadi bersama Dahlia.

"Aku juga tidak mau seperti ini Mas. Dari awal kan aku sudah bilang kita gugurkan saja anak ini. Tapi Mas tidak mau!" sahut Dahlia sambil menangis.

"Aku hanya minta kamu belajar kuat dan mandiri!" seruku karena tidak suka mendengar kalimat yang terakhir Dahlia katakan.

"Ya sudah, kalau begitu Mas pulang saja sana, biar aku sendiri!" sahut Dahlia semakin tersedu.

Aku terdiam menghadapi sikap Dahlia yang berubah jadi posesif dan sensitif belakangan ini. Kata dokter itu wajar karena bawaan kandungan.

"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," ucapku menenangkannya.

Dahlia memang pernah memberikan usul untuk menggugurkan kandungannya ketika tahu hamil. Tentu saja aku tidak setuju karena selama ini sangat mengharapkan kehadiran seorang anak. Apalagi dia hamil karena kesalahanku dan aku tidak mau menambah dosa lagi.

Kami menikah secara sirih dengan perjanjian sampai anak itu lahir saja. Lalu anak itu nanti akan aku rawat bersama Rani dan Dahlia pun setuju dengan syaratku. Setelah itu aku akan memberikannya uang yang cukup untuk memulai hidup baru sebagai seorang janda.

Namun, rencanaku tidak berjalan sesuai harapan. Ternyata Rani telah mengetahui kebohonganku tanpa disangka. Aku mengaku salah karena seperti pepatah serapi apa pun menutupi bangkai pasti tercium juga. Sebenarnya tujuanku tidak mau menyakiti Rani, tetapi justru membuatnya terluka sangat dalam.

Apalagi nasihat Kang Yahya membuatku sadar akan kesalahan fatal yang telah kulakukan yaitu berdusta.

'Menikah lagi bukan dosa, tetapi caramu salah. Jika melakukan poligami secara diam-diam. Sama saja seperti menikam istrimu dari belakang. Pasti sakit sekali karena tidak siap dan mengobati lukanya pun akan sulit. Tapi kalau kamu meminta izin dahulu, itu sama saja menikam dari depan. Istrimu lebih siap menerima segala konsekuensinya, mudah diobati dan cepat sembuh. Bahkan ada yang tidak terluka sama sekali.'

Ternyata mempunyai dua istri itu tidak semudah bayanganku. sifat Dahlia sering membuatku mengelus dada dan menguji kesabaranku, kalau tidak sedang mengandung anakku ingin kulepas saja. Menurutku Lia sangat manja dan egois, tidak seperti Rani yang sabar dan dewasa. Mungkin karena umur kami yang terpaut lima belas tahun. Sehingga membuatku harus sering mengalah dan selalu memberinya pengertian.

Senja tampak merona di ufuk barat, sebelum magrib aku harus pulang. Aku tidak mau melewatkan makan malam bersama Rani. Pasti dia sudah masak lauk pauk kesukaanku.

"Mas kenapa tidak menginap saja. Besok kan waktunya bersamaku?" tanya Dahlia ketika aku bilang mau pulang.

"Jangan egois, Mas sudah menemani kamu. Ingat hari ini seharusnya aku bersama Rani!" jawabku dengan tegas, meskipun apa yang dikatakan Dahlia ada benarnya juga karena rumahnya lebih dekat ke kantorku.

Mendengar alasanku Dahlia terdiam dan terlihat sedih, tetapi aku tidak perduli.

Rasanya aku ingin memutar waktu biar anak itu cepat lahir. Agar aku bisa segera menyudahi pernikahan bersama Dahlia yang membuatku lelah. Semoga Rencanaku sesuai dengan harapan kali ini.

BERSAMBUNG

Related chapters

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 7. Pertemuan.

    Akhirnya Rani membuka cafe dengan mengontrak di salah satu ruko yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia memperkerjakan dua orang teman dekatnya. Cafe itu diberi mana 'Rain' karena Rani suka melihat hujan.Hujan masih turun membasuh rindu bumi. Membuat sebagian orang enggan untuk ke luar rumah. Seperti Rani yang tampak mematung sambil menatap ke luar jendela. Rintikan air membuat angannya mengingat kebiasaan ia dan Zian di saat seperti ini. Biasanya Rani akan membuat teh aroma melati dan semangkuk mie instan untuk dimakan berdua.Rani hanya bisa tersenyum mengenang masa-masa itu karena kini keadaan telah berbeda. Sudah tiga hari ini Zian tidak pulang ke rumah karena sedang bersama Dahlia, besok baru dengannya. Ia mencoba untu menjalani pernikahan poligami ini dengan ikhlas. Lagi pula hanya sembilan bulan, setelah itu mereka akan selalu bersama-sama lagi tanpa orang ketiga. Namun, bukan itu yang Rani risaukan. Ia takut suatu hari nanti suaminya jatuh cinta kepada Dahlia. Apalagi ada s

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 7b. Dilema

    Sebelum kenal dengan Zian, Rani pernah menyukai Azka. Namun, pria itu sangat dingin dan tidak merespon sebaliknya. Ketika pria itu sedang perbantuan ke luar pulau, Rani bertemu dengan Zian. Pada saat ia menjadi pengantin baru Azka kembali dan menyatakan perasaannya. "Maaf Azka, aku sudah menikah," ujar Rani sambil menunjukan cincin di jadi manis kanan. "Aku tidak tahu," ujar Azka dengan penuh penyesalan. Setelah pembicaraan mereka yang terakhir, Azka pergi ke luar kota. Sejak saat itu Rani tidak tahu kabarnya lagi. Kini takdir mempertemukan mereka kembali, ketika Rani sedang dilema dipoligami, entah untuk apa. "Ya Allah, jangan sampai kehadiran Azka menjadi ujian lagi untuk rumah tanggaku," lirih Rani dengan ketakutan yang kian melanda. Tidak lama kemudian terdengar suara ponsel berdering, Rani segera menerima vidio call yang ternyata dari suaminya. "Kamu di mana, kenapa belum pulang?" tanya Zian terdengar cemas. "Aku di ruko Mas, rencananya mau menginap di sini. Mas kok sudah

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 8. Kemarahan Zian

    "Mas Zian mana Mbak?" tanya Dahlia sambil mencari sosok yang sangat dirindukan itu."Tidak tahu, tapi tadi Pak Zian menelepon saya menanyakan kabar Ibu dan Bilang akan datang secepatnya ke sini!" jawab asisten itu yang membuat Dahlia semakin kesal. "Pasti Mas Zian mengira aku sengaja masuk rumah sakit, kalau sampai terjadi sesuatu sama anak ini semua itu karena kesalahanmu Mas," batin Dahlia dengan pikiran yang kalut. Dahlia tidak terima Zian pulang ke rumah Rani. Dalam situasi hujan membuatnya jadi panik dan takut sendirian. Sehingga ia mencari cara untuk dapat membuat Zian kembali bersamanya. Tiba-tiba perutnya sakit dan minta diantar asisten berobat. Akhirnya pukul enam pagi, Zian sudah sampai di rumah sakit Dahlia dirawat. Ia melihat istri mudanya itu langsung tersenyum senang, seperti tidak terjadi apa pun."Mas," panggil Dahlia dengan seulas senyum yang mengembang. "Kamu egois Dahlia, selalu saja memanfaatkan kehamilanmu!" sahut Mas Zian sambil menatap Dahlia dengan tajam.

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 9. Tinggal Bersama Maduku

    "Baiklah, Mas boleh bawa Dahlia ke rumah!" sahut Rani mengizinkan. "Terima kasih atas pengertianmu," ucap Zian yang merasa beruntung sekali mempunyai istri sangat pengertian seperti Rani. Setelah mendapat izin dari Rani, Zian kembali menemui Dahlia. Ia menatap istri mudanya itu seraya berpesan, "Baiklah kamu boleh tinggal di rumah Mas, tapi ingat jangan pernah gunakan alasan kehamilanmu untuk menyakiti Rani""Iya Mas," sahut Dahlia sambil mengangguk kecil. "Aku harus tahu kenapa Mas Zian sangat mencintai Mbak Rani," ujarnya di dalam hati.Dahlia sangat senang sekali ketika diperbolehkan tinggal satu atap dengan Rani. Dengan begitu ia bisa bertemu suaminya setiap hari. Ketika sampai di tempat tujuan, wanita itu pun tampak terkagum melihat kediaman yang ditempati Rani jauh lebih besar dari rumahnya. Dengan perasaan yang berdebar-debar Dahlia mengikuti langkah Zian untuk memasuki kediaman itu."Assalamualaikum...," ucap Zian ketika pulang bersama Dahlia dan seorang asisten."Waalaikums

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 10. Dusta

    "Tentu saja tidak," jawab Dahlia dengan gugup. "Sikap manjaku selama ini karena bawaan bayi yang ingin diperhatikan dan dekat dengan ayahnya. Apakah perasaan itu salah?" elaknya kemudian. Sambil tersenyum Rani kembali menyahuti, "Tidak salah dan wajar sekali, tapi tolong mengertilah posisi Mas Zian yang harus bekerja dan membagi waktu," sambungnya kemudian. Mendengar itu Dahlia serasa ditampar, akan keegoisannya yang telah memanfaatkan anak itu. "Maaf aku mau kembali ke kamar dulu . Takut masuk angin, kalau kelamaan di luar," pamit Dahlia yang enggan melanjutkan pembicaraan itu. Setelah bicara dan menatap Dahlia secara langsung. Rani dapat menyimpulkan, kalau wanita itu sangat mencintai Zian. Sehingga membuatnya semakin takut, kehilangan cinta suaminya suatu hari nanti. "Ya Allah, aku sangat mencintai Mas Zian. Tolong jangan pisahkan kami!" doa Rani di dalam hati sambil melihat senja. Ia tidak mau cinta Zian suatu hari nanti seperti senja yang hilang dipeluk malam. ***Beberapa

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 10a. Aku Harus Pergi

    Rani kemudian menceritakan awal kisah cintanya dengan Zian. Selain itu masa-masa sulit diawal pernikahannya mereka. Hingga suaminya bisa sukses menjadi seorang kontraktor seperti sekarang ini. Mendengar cerita Rani, membuat Dahlia terenyuh. Ia merasa bersalah telah hadir di antara mereka. Tanpa wanita itu sadari ada rasa sesal yang mulai tumbuh di hatinya. Namun, ia tetap yakin cintanya kepada Zian bukanlah sebuah kesalahan.Tiba-tiba ponsel Rani berdering, sehingga pembicaraan mereka harus terhenti. "Halo Mas," ucap Rani yang mendapat telepon dari Zian."Halo sayang, apa kabar? Maaf baru bisa menghubungimu, Mas sangat sibuk sekali," sahut Zian dari seberang sana. "Alhamdulillah .., aku baik. Semoga pekerjaan Mas lancar dan sukses. Aaminn ...," jawab Rani sambil mendoakan. "Terima kasih Sayang, oh ya apakah Dahlia berulah atau merepotkan mu?" tanya Zian dengan penuh perhatian. Rani menoleh ke arah Dahlia dan menjawab, "Lia tidak menyusahkan sama sekali.""Baguslah sudah dulu ya.

    Last Updated : 2025-02-24
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 1. Kejutan Dari Suamiku

    "Assalamualaikum .., sayang," ucap Zian dari seberang sana. "Waalaikumsalam ..., Mas," sahut Rani dengan senangnya. "Sayang, maaf ya Mas tidak jadi pulang hari ini. Insha Allah besok baru bisa kembali ke Jakarta. Mendadak ada urusan penting," ujar Zian memberitahu. Rani menarik senyumnya dan berkata, "Iya tidak apa-apa yang penting pekerjaan Mas lancar." Ia selalu mengerti keadaan suaminya yang sibuk bekerja."Aaminn .., terima kasih atas doanya. Sekali lagi maaf karena kamu pasti sudah ambil libur hari ini. Mas janji akan kasih kamu kejutan!" ucap Zian kembali. "Iya Mas, aku tunggu ya!" sahut Rani kembali dan percakapan mereka pun berakhir.Rani ada seorang staf di salah satu perusahaan retail. Setiap suaminya pulang dari luar kota ia selalu libur. Akan tetapi, sepertinya rencana penyambutan kali ini gagal. Biarlah tidak mengapa masih ada hari esok. Jadi semakin banyak waktu untuk mempersiapkan kejutan buat suami tercinta.Sebenarnya sudah lama Rani ingin menjadi ibu rumah tangga

    Last Updated : 2025-02-11
  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 2. Air Mata di Atas Sajadah

    Setelah berpikir lebih jauh lagi, Rani memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia tidak langsung pulang ke rumah, tetapi pergi mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan diri. Namun, Rani tidak tahu harus ke mana, mengadu sama siapa. Pikirannya terasa buntu dengan hati yang berkecamuk hebat. Hingga matanya tertuju pada sebuah mesjid. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera membelokan kendaraannya. Melihat keadaan mesjid yang sepi, Rani segera menangis sejadinya di dalam mobil. Ia meraung meratapi nasibnya yang dikhianati secara diam-diam."Kamu jahat Mas, jahat!" pekik Rani sambil memukul-mukul stir mobil dengan penuh kemarahan. Sehingga tanpa sadar menekan klakson mobil."Ada apa Bu?" tanya security mesjid sambil mengetuk pintu mobil. Rani segera menyeka air matanya dan segera mencari kaca mata dan masker. Setelah memakai kedua benda itu, ia segera membuka pintu mobil. "Maaf Pak, ketekan!" ucap Rani yang dijawab anggukan oleh security itu. Ia segera menuju ke toilet dan mengambil

    Last Updated : 2025-02-11

Latest chapter

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 10a. Aku Harus Pergi

    Rani kemudian menceritakan awal kisah cintanya dengan Zian. Selain itu masa-masa sulit diawal pernikahannya mereka. Hingga suaminya bisa sukses menjadi seorang kontraktor seperti sekarang ini. Mendengar cerita Rani, membuat Dahlia terenyuh. Ia merasa bersalah telah hadir di antara mereka. Tanpa wanita itu sadari ada rasa sesal yang mulai tumbuh di hatinya. Namun, ia tetap yakin cintanya kepada Zian bukanlah sebuah kesalahan.Tiba-tiba ponsel Rani berdering, sehingga pembicaraan mereka harus terhenti. "Halo Mas," ucap Rani yang mendapat telepon dari Zian."Halo sayang, apa kabar? Maaf baru bisa menghubungimu, Mas sangat sibuk sekali," sahut Zian dari seberang sana. "Alhamdulillah .., aku baik. Semoga pekerjaan Mas lancar dan sukses. Aaminn ...," jawab Rani sambil mendoakan. "Terima kasih Sayang, oh ya apakah Dahlia berulah atau merepotkan mu?" tanya Zian dengan penuh perhatian. Rani menoleh ke arah Dahlia dan menjawab, "Lia tidak menyusahkan sama sekali.""Baguslah sudah dulu ya.

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 10. Dusta

    "Tentu saja tidak," jawab Dahlia dengan gugup. "Sikap manjaku selama ini karena bawaan bayi yang ingin diperhatikan dan dekat dengan ayahnya. Apakah perasaan itu salah?" elaknya kemudian. Sambil tersenyum Rani kembali menyahuti, "Tidak salah dan wajar sekali, tapi tolong mengertilah posisi Mas Zian yang harus bekerja dan membagi waktu," sambungnya kemudian. Mendengar itu Dahlia serasa ditampar, akan keegoisannya yang telah memanfaatkan anak itu. "Maaf aku mau kembali ke kamar dulu . Takut masuk angin, kalau kelamaan di luar," pamit Dahlia yang enggan melanjutkan pembicaraan itu. Setelah bicara dan menatap Dahlia secara langsung. Rani dapat menyimpulkan, kalau wanita itu sangat mencintai Zian. Sehingga membuatnya semakin takut, kehilangan cinta suaminya suatu hari nanti. "Ya Allah, aku sangat mencintai Mas Zian. Tolong jangan pisahkan kami!" doa Rani di dalam hati sambil melihat senja. Ia tidak mau cinta Zian suatu hari nanti seperti senja yang hilang dipeluk malam. ***Beberapa

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 9. Tinggal Bersama Maduku

    "Baiklah, Mas boleh bawa Dahlia ke rumah!" sahut Rani mengizinkan. "Terima kasih atas pengertianmu," ucap Zian yang merasa beruntung sekali mempunyai istri sangat pengertian seperti Rani. Setelah mendapat izin dari Rani, Zian kembali menemui Dahlia. Ia menatap istri mudanya itu seraya berpesan, "Baiklah kamu boleh tinggal di rumah Mas, tapi ingat jangan pernah gunakan alasan kehamilanmu untuk menyakiti Rani""Iya Mas," sahut Dahlia sambil mengangguk kecil. "Aku harus tahu kenapa Mas Zian sangat mencintai Mbak Rani," ujarnya di dalam hati.Dahlia sangat senang sekali ketika diperbolehkan tinggal satu atap dengan Rani. Dengan begitu ia bisa bertemu suaminya setiap hari. Ketika sampai di tempat tujuan, wanita itu pun tampak terkagum melihat kediaman yang ditempati Rani jauh lebih besar dari rumahnya. Dengan perasaan yang berdebar-debar Dahlia mengikuti langkah Zian untuk memasuki kediaman itu."Assalamualaikum...," ucap Zian ketika pulang bersama Dahlia dan seorang asisten."Waalaikums

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 8. Kemarahan Zian

    "Mas Zian mana Mbak?" tanya Dahlia sambil mencari sosok yang sangat dirindukan itu."Tidak tahu, tapi tadi Pak Zian menelepon saya menanyakan kabar Ibu dan Bilang akan datang secepatnya ke sini!" jawab asisten itu yang membuat Dahlia semakin kesal. "Pasti Mas Zian mengira aku sengaja masuk rumah sakit, kalau sampai terjadi sesuatu sama anak ini semua itu karena kesalahanmu Mas," batin Dahlia dengan pikiran yang kalut. Dahlia tidak terima Zian pulang ke rumah Rani. Dalam situasi hujan membuatnya jadi panik dan takut sendirian. Sehingga ia mencari cara untuk dapat membuat Zian kembali bersamanya. Tiba-tiba perutnya sakit dan minta diantar asisten berobat. Akhirnya pukul enam pagi, Zian sudah sampai di rumah sakit Dahlia dirawat. Ia melihat istri mudanya itu langsung tersenyum senang, seperti tidak terjadi apa pun."Mas," panggil Dahlia dengan seulas senyum yang mengembang. "Kamu egois Dahlia, selalu saja memanfaatkan kehamilanmu!" sahut Mas Zian sambil menatap Dahlia dengan tajam.

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 7b. Dilema

    Sebelum kenal dengan Zian, Rani pernah menyukai Azka. Namun, pria itu sangat dingin dan tidak merespon sebaliknya. Ketika pria itu sedang perbantuan ke luar pulau, Rani bertemu dengan Zian. Pada saat ia menjadi pengantin baru Azka kembali dan menyatakan perasaannya. "Maaf Azka, aku sudah menikah," ujar Rani sambil menunjukan cincin di jadi manis kanan. "Aku tidak tahu," ujar Azka dengan penuh penyesalan. Setelah pembicaraan mereka yang terakhir, Azka pergi ke luar kota. Sejak saat itu Rani tidak tahu kabarnya lagi. Kini takdir mempertemukan mereka kembali, ketika Rani sedang dilema dipoligami, entah untuk apa. "Ya Allah, jangan sampai kehadiran Azka menjadi ujian lagi untuk rumah tanggaku," lirih Rani dengan ketakutan yang kian melanda. Tidak lama kemudian terdengar suara ponsel berdering, Rani segera menerima vidio call yang ternyata dari suaminya. "Kamu di mana, kenapa belum pulang?" tanya Zian terdengar cemas. "Aku di ruko Mas, rencananya mau menginap di sini. Mas kok sudah

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 7. Pertemuan.

    Akhirnya Rani membuka cafe dengan mengontrak di salah satu ruko yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia memperkerjakan dua orang teman dekatnya. Cafe itu diberi mana 'Rain' karena Rani suka melihat hujan.Hujan masih turun membasuh rindu bumi. Membuat sebagian orang enggan untuk ke luar rumah. Seperti Rani yang tampak mematung sambil menatap ke luar jendela. Rintikan air membuat angannya mengingat kebiasaan ia dan Zian di saat seperti ini. Biasanya Rani akan membuat teh aroma melati dan semangkuk mie instan untuk dimakan berdua.Rani hanya bisa tersenyum mengenang masa-masa itu karena kini keadaan telah berbeda. Sudah tiga hari ini Zian tidak pulang ke rumah karena sedang bersama Dahlia, besok baru dengannya. Ia mencoba untu menjalani pernikahan poligami ini dengan ikhlas. Lagi pula hanya sembilan bulan, setelah itu mereka akan selalu bersama-sama lagi tanpa orang ketiga. Namun, bukan itu yang Rani risaukan. Ia takut suatu hari nanti suaminya jatuh cinta kepada Dahlia. Apalagi ada s

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 6. POV ZIAN( Istriku Berubah)

    Sejak memaafkan kesalahan dan menerima alasanku menikah lagi, Rani mulai menjaga jarak denganku. Apalagi sejak aku mulai membagi waktu untuk kedua istriku. Memang dia tetap melayaniku seperti biasanya. Akan tetapi, perasaanku mengatakan Rani sangat terluka dan belum bisa menerima telah dimadu secara diam-diam.Aku juga melihat ketakutan di mata Rani yang biasanya selalu menatapku dengan penuh cinta. Padahal sudah berulang kali aku katakan, kalau cinta ini hanya untuknya seorang. Aku memang sangat mencintai Rani yang tidak akan tergantikan oleh siapa pun.Jujur sebenarnya akulah yang sangat takut kehilangan Rani. Dia wanita mandiri dan bisa saja mengajukan gugatan atas pengkhianatan yang telah kulakukan. Namun, aku merasa bersyukur, Allah masih mempersatukan kami dalam ikatan cinta ini. Sungguh aku tidak pernah punya niat menyakiti Rani sedikitpun dengan menikah lagi ini. Namun, aku juga tidak mengerti kenapa bisa melakukan aib itu. Sehingga dengan mudahnya menyusun rencana kebohongan

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 5b. Luluh

    Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar teriakan Kang Yahya dari kamar tamu. "Mas Zian belum pulang Teh?" tanya Rani yang terkejut mendengarnya."Belum, tadi Teteh suruh istirahat di kamar tamu. Cepat lihat dia!" jawab Teh Ratih sambil berseru. Rani segera menuju ke kamar tamu untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ia Kang Yahnya sedang berusaha menyadarkan Zian. "Ambil kompres, badan suamimu panas sekali!" seru Kang Yahnya yang segera dikerjakan oleh Rani. Dengan telaten Rani mengompres suaminya yang tampak pucat. Ia tidak kaget Zian tiba-tiba pingsan karena selama mereka menikah, sudah beberapa kali seperti ini kalau sedang kelelahan. "Jangan pergi Rani, maafkan Mas!" Zian mengigau yang membuat Rani tertegun mendengarnya. Tiba-tiba Rani melihat Zian terisak dan terbangun sambil menjambak rambutnya dengan ketakutan. "Tidak Rani, Mas tidak mau pisah sama kamu!" racau Zian dengan mata yang masih terpejam. "Mas tenanglah, aku di sini!" sahut Rani sambil menggeng

  • SURGA YANG TAK DIINGINKAN   Bab 5. Keputusan Rani

    "Aku akan tinggal di sini, sampai anak itu lahir," ujarku memutuskan. Zian tampak menggeleng seraya berkata, "Mas tidak bisa jauh dari kamu, biar Dahlia aku suruh tinggal di rumah ibu saja!""Apa bedanya, nanti Mas setiap minggu akan pulang kampung juga untuk menjenguk anak itu kan?" sahut Rani dengan sengit. "Tentu saja bersama kamu," ujar Zian yang tidak mau tinggal terpisah dengan Rani. Rani kembali menolak dengan tegas, "Pokoknya aku tidak mau pulang!""Jangan seperti ini Sayang, tolong mengertilah posisi Mas!" Pinta Zian dengan memohon. "Sebelum melakukan kebohongan itu, apakah Mas mengerti sedikit saja perasaan aku?" Rani balik bertanya sambil menatap Zian dengan tajam. "Pulanglah Mas, aku mau menenangkan diri di sini!" serunya dengan ketus. "Tunggu Ran, kita belum selesai bicara!" seru Zian yang hendak menyusul, tetapi tidak enak dengan Tuan rumah. Jujur hatinya belum tenang saat ini dan tidak akan pergi sebelum Rani mau pulang bersamanya."Rani masih emosi, jadi kamu haru

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status