“Ibu, kenapa?” tanyaku bingung dengan perubahan Ibu.
Kulihat Tiara tersenyum sinis melihatku. Ah, sepertinya ada yang ia rencanakan.
“Apa kamu lihat-lihat?” teriak Ibu, matanya kini memerah, menatapku nyalang. Ada apa dengan Ibu?
“Apa yang terjadi pada Ibu?” Aku berlari menghampiri Ibu, kuteliti semua anggota tubuh Ibu, mungkin saja ada yang sakit atau apa.
Namun, aku terkejut, Ibu menampik tanganku. Lalu mendorongku hingga aku terjatuh. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada Mehra. Aku meringis, bokongku sakit sekali rasanya. Segera aku berdiri sambil terus mengelus bokongku yang sakit.
“Gak usah pegang-pegang, najis!” hardik Ibu padaku, jangan-jangan Ibu kena pelet lagi? Ya Allah, menyusahkan sekali sih.
“Bu, ini aku Mila. Menantu Ibu!” seruku berusaha mendekati Ibu lagi.
“Gak usah dekat-dekat, pergi kamu. Lebih bagus kamu pergi dari rumah ini sekalian!” teriak Ibu, ya Allah, kasihan sekali Ibu, bagaikan kalau nanti fisik Ibu lemas lagi?
Aku berhenti, kutatap Tiara yang terus menatapku sinis.
“Apa yang Mbak lakukan pada Ibu?” tanyaku tegas, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan Tiara.
“Yang aku lakukan adalah yang seharusnya aku lakukan dari dulu!” jawab Tiara dengan pongah. Menyebalkan sekali dia.
Aku memejamkan mata sejenak, tidak berhenti hati ini terus mengucap istighfar. Berharap sedikit melonggarkan sesak di dada melihat perbuatan Tiara.
“Kamu jahat, Mbak! Ibu bisa sakit kalau seperti ini terus.”
Tiara mendecih,” Salah siapa kamu mengambil suamiku.”
Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Benar apa yang dikatakan Tiara, tapi kenapa sangat menyakitkan? Inginku berkata bahwa semua bukan sepenuhnya salahku. Ini kesalahan bersama, kesalahan kami bertiga. Aku, mas Adnan, dan Tiara. Tidaklah ia instropeksi diri? Apa alasan mas Adnan memilihku?
“Itu... “ Aku tidak mampu membalas ucapan Tiara. Sepertinya dia memiliki daya magis tersendiri, yang mampu membuat lawan bicaranya tidak berkutik.
“Gak bisa jawab, kan?” sindir Tiara, bibirnya terangkat sebelah. Menyebalkan!
“Bukan maksudku... “ Ah sial! Kenapa mulutku susah untuk berbicara.
“Jadi orang jangan asal ambil suami orang!” teriak Tiara, kulihat Ibu ikut menatapku sinis, kadang memalingkan wajah seolah tidak ingin menatap wajahku.
“Ada apa jni? Kok ramai sekali,” tanya Mbak Resti, dia adalah sepupu mas Adnan. Rumahnya bersebelahan dengan rumah ini. Suara Tiara melengking, wajar saja Mbak Resti mendengar keributan di rumah ini.
“Mila harusnya pergi dari rumah ini!” Ibu menjawab pertanyaan Mbak Resti dengan lantang, tatapannya menyiratkan kebencian yang mendalam padaku. Sakit sekali rasanya.
“Enggak gitu, Mbak. Tiba-tiba Ibu jadi aneh seperti ini. Aku juga gak tau.” Ku gelengkan kepala, meyakinkan Mbak Resti ketidaktahuanku dengan apa yang terjadi.
“Kamu memang pantas pergi dari sini!” hardik Tiara
Sungguh menyakitkan, rasanya hati ini tercabik-cabik dengan ucapan Tiara. Tidakkah ia sadar, dulu ia sangat jahat dengan Ibu? Tiara tidak sepatutnya mengatakan siapa yang pantas di rumah ini.
“Sudah, malu dilihat tetangga. Semua keluar mendengar suara dari rumah ini,” jelas Mbak Resti.
“Tapi aku beneran gak tahu Ibu kenapa.” Aku mengusap air mata yang mulai membasahi pipi. Kenapa aku tidak berdaya, Ya Allah.
“Ibu kenapa Ra?” Mbak Resti menoleh Tiara, sedangkan yang ditoleh membuang muka sambil mencebik.
“Sejak awal Ibu gak suka sama dia, Ibu pengennya dia pergi dari sini. Eh... Malah gak nyadar!” hina Tiara menunjukku dengan dagunya.
Kulihat Mbak Resti mengernyitkan dahi, heran. Wajar heran, setahu dia kami baik-baik saja. Aku dan Ibu tidak pernah bertengkar, Ibu selalu memperlakukan aku dengan baik.
“Biasanya mereka baik-baik saja, Ra,” seru mbak Resti.
“Halah, baik apa. Ini tanya Ibu sendiri.” Dagu Tiara mengarah pada Ibu, sepertinya ia merasa di atas awan karena Ibu sudah ia pengaruhi, dan aku sama sekali tidak bisa membela diri.
“Budhe gak suka Mila jadi menantuku, Res. Aku ingin dia pergi, muak sekali dilihat,” cemooh mertuaku.
Tak terasa aku menitikkan air mata, walau aku tahu itu bukan murni yang ingin Ibu ucapkan dari hati. Namun, tetap saja menyakitkan.
“Istighfar Budhe, Resti tahu ini bukan Budhe biasanya,” ujar mbak Resti sambil mengelus lengan mertuaku.
‘Ayolah, Bu. Sadarlah' batinku berharap.
“Mbak Resti denger sendiri kan? Jadi gak usah bilang ini bukan Ibu biasanya. Sudah usir aja Mila sekarang!”
“Cukup Tiara! Diam kamu!” hardik Mbak Resti sedikit kesal, terlihat dari wajahnya yang mulai merah, napasnya tidak teratur dan suaranya sedikit bergetar.
Maafkan aku, Mbak!
“Kenapa aku harus diam? Harusnya Mbak yang diam, gak usah ikut campur masalah kami!” teriak Tiara, suaranya melengking memekakkan telingaku.
“Kamu... “ Tangan Mbak Resti mengepal menahan marah, pasti. Aku sendiri yang mendengar ucapan ingin sekali merobek mulutnya yang tidak berakhlak.
“Apa? Aku gak akan takut sama kamu, Mbak! Apalagi sama pelakor ini.” Lagi-lagi Tiara menunjukku dengan dagunya. Tiara yang tadinya duduk sekarang sudah berdiri menghadap ke arah Mbak Resti, ada Ibu di antara mereka. Sedangkan posisiku sedikit jauh dari mereka.
“Bener-bener gak punya akhlak ya kamu. Rugi sekolah tinggi, sekarang sudah jadi guru tapi tidak bisa menjaga mulut saat berbicara. Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun?” hardik Mbak Resti kesal.
“Tau apa kamu, Mbak! Akhlakku gak ada urusannya sama kamu. Jadi gak usah menghinaku tentang akhlak.” Tiara mengambil tas yang berada di kursi yang ia duduki tadi.
Brakk!
Tiara membanting pintu, lalu segera ia pergi meninggalkan kami semua, juga meninggalkan anaknya di rumah ini. Nando melihat motor ibunya pergi, seketika menangis dan menjerit.
Mbak Resti menghampiri Nando, lalu menggendongnya, membawa Nando ke rumahnya untuk diajak bermain dengan Arsya, anaknya yang seumuran Nando.
Tinggallah aku dan ibu di ruang tamu. Ibu memalingkan wajahnya tidak mau menatapku. Sekuat itukah pengaruh pelet Tiara?
Apa yang harus kulakukan? Aku menggigit jari, mencoba berpikir apa yang harus kulakukan agar pelet yang mengenai Ibu hilang.
Ah, aku baru ingat....
Tadi pagi mas Adnan menyiapkan air minum di dalam botol untuk Ibu, berjaga-jaga apabila ibu kena pelet lagi. Air itu bukan air biasa, sudah ada doa-doa, hanya mas Adnan yang tahu doanya seperti apa.
Segera aku ke kamar, mengambil air itu, lalu mengambil gelas ke dapur. Setelah menuang air ke dalam gelas, kusuguhkan pada Ibu. Berharap pengaruh pelet itu akan hilang.
“Air apa ini?” tanya Ibu sangsi, padahal masih terpengaruh, mengapa bisa curiga sih?
“Bukan apa-apa, Bu. Minum dulu, biar pikirannya jernih.” Aku kembali menyodorkan gelas itu pada ibu.
Ragu-ragu beliau menerima uluran gelas dariku, lalu meminumnya perlahan. Sesaat setelah Ibu menghabiskan air itu, tubuh ibu lemas dan tertidur di kursi tamu. Karena tidak mungkin aku memindahkannya, akhirnya ku ambilkan banyak dan selimut untuk Ibu, dan menata bantal untuknya.
“Mas, tadi Tiara bikin rusuh,” lapor Mila pada Adnan sesaat setelah pulang kerja.“Hmm... ““Kok gitu doang sih jawabnya? Gak seru ah!” sungut Mila kesal.“Mau dijawab gimana maunya?” tanya Adnan sedikit kesal.Mila bersungut-sungut meninggalkan Adnan yang masih termangu di dalam kamar bingung. Ada-ada saja kelakuan istrinya. Ia hanya berusaha menjaga hati Mila, ia tidak ingin Mila tersakiti bila ia terlalu menanggapi obrolan tentang Tiara.“Mas, makan malam sudah siap,” teriak Mila dari dapur. Bu Rini, mertua Mila datang ke dapur dengan menggandeng Mehra.Inilah kelebihan Mila, ia mudah marah, tapi mudah pula luluh dengan sendirinya. Ia tidak bisa berlama-lama memendam sakit hati, apalagi dengan Adnan. Entah mengapa pesona Adnan sudah membutakan mata dan batin Mila.Mila teringat, saat masih kuliah dulu, Adnan bersama temannya nekat menemuinya naik kereta. Dulu kereta belumlah nyaman seperti sekarang, mereka harus rela berdiri di toilet berjam-jam karena kereta yang sangat penuh. Kar
“Ayah kenapa, Yah?” Teriak Tiara histeris, dilihatnya mulut pak Surya mengeluarkan banyak darah, dan tubuhnya terlihat sangat lemas. Tubuhnya sudah terjerembap ke belakang saat Tiara masuk.“Ayah!” Panggil Tiara, berkali-kali ia menepuk pipi Ayahnya yang mulai terpejam. Kali ini ia mengguncang tubuh pak Surya, tapi tetap saja matanya tertutup.Dengan jantung yang berdebar ia mengecek nadi ayahnya, ‘Alhamdulillah, masih hidup’ batin Tiara. Segera ia keluar mencari bantal, air dalam wadah, dan handuk. Setelah mendapatkan itu semua, Tiara menaruh bantal di kepala pak Surya, tak lupa ia menyeka darah yang keluar dari mulutnya menggunakan handuk. Setelah lumayan bersih, Tiara mengambil selimut untuk pak Surya.“Awas kalian, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!” sungut Tiara. Ia kembali ke kamarnya meninggalkan ayahnya yang sedang tertidur. Entah apa yang sakit dalam diri pak Surya, Tiara belum tahu, karena kejadian tadi seketika membuat ayahnya seketika pingsan.Setibanya di kamar,
“Bu Tiara, apakah benar, Ibu bikin masalah sama Rara?” tanya Bu Syida pada Tiara yang masih terdiam sejak selesai mengajar di kelas X A, ia masih terus memikirkan ucapan Rara yang akan mengadukan masalah tadi pada Papanya.Tiara mengangguk ragu, lalu berucap,” Saya lepas kontrol, Bu.”Bu Syida menghela napas kasar, pasti akan ada masalah besar terjadi setelah ini. Semua tahu, sekali Rara berucap, Papanya akan mengabulkan semua keinginannya.“Bu Tiara harus segera meminta maaf pada Rara sebelum dia mengadu Pak Raharjo,” saran Bu Syida cemas, saat ini mereka sedang berada di ruang guru. Tidak banyak guru yang berada di ruangan ini, karena waktu masih menunjukkan jam pelajaran.“Tidak, Bu! Saya tidak bersalah. Kenapa saya yang harus meminta maaf?” tanya Tiara sengit, ia tidak sudi meminta maaf pada anak bau kencur macam Rara.“Apakah Bu Tiara tidak memikirkan kelanjutan yayasan ini tanpa sumbangan dari pak Raharjo?” timpal Bu Syida tak kalah sengit, andaikan Pak Raharjo menyetop sumbanga
“Kita mau kemana sih?” Tanya Tiara penasaran. Pasalnya jalan yang Arya lewati adalah jalan menuju kota sebelah, tidak seperti biasanya. Tumben sekali Arya mengajaknya keluar kota, apa yang ingin Arya tunjukkan padanya?“Rahasia, pasti kamu akan suka,” jawaban Arya membuat Tiara semakin penasaran.“Kasih tahu kenapa sih, aku kepo,” rengek Tiara manja.“Aku kasih petunjuk, tempat ini berada di atas bukit,” ucap Arya terus menatap jalan.Tiara berpikir sejenak,” Ke taman langit kah?”Arya hanya tersenyum misterius, tanpa sadar ia mengecek k*ndom yang berada di saku celananya. Aman!Arya menyeringai, ia harap semuanya akan berjalan lancar. Mengingat desahan Tiara membuat Arya semakin tidak sabar untuk mencapai tujuan. Hasratnya ingin segera dituntaskan.Tiara tidak menyadari, bahwa ini adalah awal dari kehancuran hidupnya.Di lain tempat, Adnan nampak gelisah. Berkali-kali ia melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Tiara belum terlihat barang hidungnya. Biasany
“Dari mana aja kamu semalam?” bentak pak Suryo pada Tiara yang baru saja datang. Tentu saja Pak Suryo marah, karena Tiara pulang esok paginya. Itu pun sudah siang, pukul 9 pagi Tiara baru datang.Tiara menunduk tidak berani menatap ayahnya yang sedang marah. Ia tahu, ia salah. Tapi bukan salah Tiara sepenuhnya. Ia tidak tahu, kejutan yang Arya maksud adalah pesta miras.Bangun tidur tadi, Tiara terkejut mendapati tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Ia melihat Arya dan teman-temannya pun sama, polos tanpa baju. Tubuhnya bergetar, ia menatap nanar tubuhnya dan mereka bergantian, ‘Mungkinkah mereka melakukan itu denganku? Bergantian?’ batin Tiara jijik dengan dirinya sendiri.Sepagian ia menangis, menangisi kebodohannya yang mudah terpedaya oleh Arya. Ia merasa dirinya lebih rendah dari pelac*r. Tubuhnya digilir tanpa bayaran, sedangkan pelac*r masih mendapatkan uang.Setelah membangunkan Arya dengan susah payah, akhirnya mereka pulang. Walau sebelumnya sudah diwarnai dengan ce
“Yah, tolong buat ibu Mas Adnan sakit!” ucap Tiara seketika membuat Pak Suryo melotot menatapnya.“Ada apa lagi?” tanya pak Suryo mengernyit.Tiara cemberut lalu menghentakkan kakinya. Ia duduk di samping ayahnya.“Aku sakit hati ayah, masak dia ngata-ngatain aku sih,” sungut Tiara.“Bu Rini? Masak dia ngata-ngatain kamu?” tanya pak Suryo gemas, ia paling tidak suka ada anggota keluarganya yang dihina orang lain. Siapapun itu harus mendapatkan balasannya, minimal sakit.“Masak dia bilang aku gak becus jaga anak, pake bilang aku perempuan gak bener, Yah.” Tentu saja Tiara menambahkan bumbu setiap kata yang ia keluarkan.“Lalu apa lagi?” tanya Pak Suryo.“Mereka bilang aku murahan, Yah. Dan mereka akan menuntut hak asuh Nando.” Dalam hati Tiara tersenyum bahagia, karena sepertinya ayahnya mulai terpengaruh lagi. Tiara tidak jera dan sangat tega melihat ayahnya kesakitan, ia tahu ayahnya pasti kalah melawan Adnan, tapi apa salahnya dicoba? Kita tidak tahu, keberhasilan biasanya akan sete
“Kalau begitu, ayo kita berhubungan serius, agar kamu tidak sungkan memanggilku.”Ucapan pak Raharjo membuat Tiara seketika terdiam. Ia tidak mengira wali muridnya ini memintanya berhubungan serius. Ia melirik wajah pak Raharjo, hatinya bimbang, di satu sisi ia masih mempunyai hubungan dengan Arya, tapi pak Raharjo memiliki segalanya. Tiara sungguh di lema.“Bagaimana?” tanya pak Raharjo lagi, sepertinya dia bukanlah orang yang sabar. Tidak tahukah dia, saat ini Tiara sedang bingung harus menjawab apa?“Maaf sebelumnya, Pak. Bolehkah saya memikirkan dulu, tidak mungkin saya menjawab sekarang.” Tiara mengulas senyum,Pak Raharjo seketika meleleh mendapatkan senyuman dari Tiara. Mungkin dia tidak sadar, bahwa dia masuk perangkap Tiara.“Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku ingin jawaban yang memuaskan secepatnya.” Tangan pak Raharjo menggenggam jemari Tiara dengan erat, seolah tidak ingin kehilangan.Tiara mengangguk dan mengulas senyum, sebelum akhirnya ia menunduk. Tiara menyeringai, m
[Aku akan menyebarkan video ini ke publik! ]Di bawah pesan itu masuk sebuah video yang membuat Tiara sangat syok, ia membanting ponselnya dengan marah.“Kurang ajar Arya, ternyata diam-diam dia merekam kejadian di hotel itu, sialan!” geram Tiara, ia takut video itu tersebar ke publik. Bisa gagal rencana dia untuk mendekati pak Raharjo, ia tidak mau kehilangan tambang uang yang sudah pasti di depan mata.“Aku harus menemui Arya. Harus!” Tekat Tiara, ia belum siap kehilangan Arya, dan kesempatan dekat dengan Pak Raharjo.Esoknya Tiara melakukan kegiatan seperti biasa, tadi pagi ia sudah mengabari Arya, bahwa ia ingin bertemu setelah mengajar. Tiara harus meyakinkan Arya bahwa ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pak Raharjo.Hari ini Tiara memiliki jadwal mengajar di kelas XA lagi, kelas Rara, anak satu-satunya dari Pak Raharjo. Sedikit grogi, Tiara memantapkan diri berjalan menuju kelas XA, kelas paling ujung. Ia berharap Rara belum mengetahui kedekatannya dengan pak Raharjo.Men
Pukul 8 pagi, Jo sudah berada di kantornya, beberapa menit lagi ia harus meeting dengan klien penting. Ia berjalan cepat dari tempat parkir menuju ruangannya. Sesekali ia mengangguk saat berpapasan dengan karyawannya.CeklekJo mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah kotak yang berukuran sedang di atas mejanya. Ia menatap sekeliling sebelum masuk ke dalam ruangannya, tidak ada siapa pun yang bisa ditanyai.Setelah menutup pintu, ia berjalan menuju meja kerjanya. Ia menatap kotak yang berwarna merah muda itu dengan teliti, mencari nama pengirim atau semacamnya. Sayangnya, tidak ada.“Siapa pengirimnya? Salah kirim atau bukan?” tanya Jo, berbicara sendiri.Jo membuka kotak itu perlahan, matanya melebar saat melihat isinya. Ia mengangkat dengan ujung jarinya, seolah jijik. Sebuah celana dalam dan bra dengan renda di setiap tepi.‘Siapa orang g*la yang mengirimkan benda menjijikkan ini?’ batin Jo kesal.Tanpa sengaja ekor matanya melihat sebuah kertas yang terselip di antara bra berwar
[Mbak, ini foto yang mbak Tiara minta.]Pesan masuk dari bu Keke, tetangga Adnan yang rumahnya persis di depan. Beliau mengirimkan setidaknya ada 10 foto Nando, saat ia bermain di halaman, bahkan foto saat makan di suapi Bu Rini, ibu Adnan.“Ya Allah, cerdas sekali bu Keke, bisa mendapatkan foto di dalam rumah.”Mata Tiara terbelalak saat melihat salah satu foto Nando yang makan hanya dengan nasi putih, Tiara yakin itu hanya nasi yang ditaburi garam. Tiara ingat sekali, saat Adnan tidak punya uang, ia lebih memilih makan dengan garam saja.“Aku harus kirim foto ini agar segera di proses di pengadilan.” Tiara segera mengirimkan semua foto itu pada Jo yang saat ini masih berada di kantor.Tiara yakin, kemarin Jo sudah menghubungi pak Dewa untuk menggugat hak asuh Nando ke pengadilan.Memang salah Tiara, dulu mengizinkan Nando di asuh oleh Adnan, saat itu Tiara belum bisa berpikir jernih, belum berkomitmen dengan Jo. Jadi ia masih bingung dengan keadaan dirinya sendiri.Tok tok tok“Ma,
“Pa, tolong buatkan susu untuk Reihan.” Tiara sedang memandikan Reihan, buah cintanya bersama Jo.“Kan masih mandi?” protes Jo.“Iya, setelah mandi biar langsung minum susu, Pa. Udah gih, cepetan bikinin.”“Iya iya,” jawab Jo sambil beranjak keluar dari kamar mandi. Karena Tiara sudah menyiapkan air, botol, dan susu di atas meja, mudah saja Jo meraciknya.Tiara mengangkat Reihan ke atas ranjang, lalu mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk. Lalu mengoleskan minyak telon, bedak, dan memakaikan baju. Bayi berumur 7 bulan itu terus menggerakkan kaki dan tangannya senang, sesekali menyunggingkan senyum.“Lucu sekali anak mama, udah ganteng sekarang.” Tiara menyemprotkan sedikit parfum pada baju Reihan setelah mengoleskan minyak rambut.Tiara bersyukur, Allah memberikan banyak berkah di dalam hidupnya. Menghadirkan Jo sebelum terlambat, memberikan kenikmatan hidup selama ini.Reihan hadir membawa suasana baru di rumah Jo, setelah ada Reihan, Jo lebih sering menghabiskan waktunya di rumah
“Kamu jahat, Mas. Kamu apakan dia?” teriak Mila sambil terisak.Mila segera berlari menghampiri Erga yang sudah terkapar tidak berdaya di teras. Ia menyangga kepala Erga dengan tangannya.“Kamu jahat sekali, apa salah dia? Kenapa kamu hajar sampai seperti ini?” teriak Mila histeris. Bukan seperti ini keinginan Mila, ia tidak suka Adnan berbuat kasar dan main hakim sendiri.“Bela terus selingkuhanmu itu! Kalau perlu sekalian saja kamu keluar dari rumah ini. Perempuan sepertimu tidak pantas diperjuangkan,” hardik Adnan, matanya memerah menahan emosi.Hati dan pikiran Adnan sudah dibutakan oleh nafsu dan gelap karena iri dan benci. Ia sudah pernah dikhianati, sekarang seseorang yang dulu ia perjuangkan mati-matian juga mengkhianati cintanya.“Jaga ucapanmu, Mas. Secara tidak langsung kamu sudah menalakku.”“Lebih baik berpisah saja, aku lelah terus dikhianati.”“Baiklah! Aku akan pergi dari sini.”Mila membantu Erga bangun, bibir dan hidungnya mengeluarkan darah segar bekas pukulan Adnan
“Mama... “ teriak Nando berlari dan menghamburkan peluk ke arah Tiara.Jo mengernyit melihat Nando begitu dekat dengan Tiara, dan memanggilnya mama.“Siapa anak ini?” Tanya Jo pada Tiara.Nando sudah berada di gendongan Tiara, sambil mencium dan memeluk leher mamanya erat.Tiara tersenyum pada Jo, lalu berkata,” Ini anakku yang pernah aku ceritakan.”“Jadi, kamu... “ Jo menunjuk Tiara dan Adnan bergantian.“Iya, Mas. Dia mantan suamiku.” Mendengar itu, Jo mengangguk paham. Lalu mengambil alih gendongan Nando, ia tidak mau Tiara kelelahan karena saat ini sedang hamil.“Halo, jagoan. Nama kamu siapa?” Jo bertanya pada Nando dengan riang, seolah sudah pernah bertemu.“Nando,” jawab Nando singkat.“Aku gak nyangka, ternyata istri lo bekas gue,” celetuk Adnan sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.Seketika Jo merasa panas, emosi sudah berada di ubun-ubun. Segera Tiara mengelus lengan suaminya, dan mencoba menenangkannya.Sang tuan rumah belum terlihat, sepertinya masih sibuk di belakang.
“Ah, kenalkan, ini Mila. Dia pacarku,” ucap Erga jumawa.Tiara mengernyitkan dahinya tidak percaya dengan ucapan Erga.‘Dasar perempuan gila, sudah mengambil suamiku, masih mencari laki-laki lain’ batin Tiara kesal.“Pacar kamu?” tanya Tiara tak percaya.Erga menganggukkan kepala mantap, sedangkan Mila melotot menatap Tiara.“Kamu udah cek status dia?” Tanya Tiara tak peduli Mila yang terus melotot padanya. Ia harus menyelamatkan Erga dari jerat Mila, seingat Tiara Erga sekarang sedang berada di puncak kejayaannya. Bisa jadi Mila hanya memanfaatkan Erga. Setidaknya itu yang ada di pikiran Tiara sekarang.“Maksud kamu?” tanya Erga bingung mendengar pertanyaan Tiara.“Iya, coba tanya dia yang lebih paham. Dan juga, sekedar saran, jangan gampang percaya dengan ucapan orang, coba kamu cek siapa perempuan itu sebenarnya.” Setelah mengucapkan itu, Tiara menerima uang kembalian dadi kasir. “Aku duluan ya,” pamit Tiara cuek.Entah setelah ini Mila tetap berhubungan dengan Erga atau tidak buka
“Ck, kamu sudah berani melawanku, Mila!” geram Adnan, matanya terus menatap Mila.“Ka-kamu mau apa, Mas?” tanya Mila terbata-bata. Ia sangat takut melihat Adnan marah, karena baru kali pertama hal itu terjadi.“Kamu sudah berani minta cerai? Bisa apa kamu tanpa aku? Masih beruntung aku mau menikahimu dulu.”Mila meringis saat Adnan semakin menekan tangannya.“Aku hanya lelah, Mas. Salahku di mana?” tanya Mila lirih, ia sudah mulai tidak bertenaga lagi untuk melawan.“Lelah? Bilang! Jangan memaksa ibu melakukan apa yang tidak mampu beliau lakukan! Kamu gila atau goblok sih? Masak gitu aja gak paham?”“Lalu, kalau aku bilang, apa kamu akan menuruti semua?” tantang Mila.“Tentu tidak, lihat dulu apa permintaanmu.”“Cih, itu aku yang gak suka, kamu hanya mendahulukan ibu dan anak-anak. Kapan mau mendengar keinginanku?” tangis Mila mulai luruh. Ia tidak tahan untuk tidak menangis, beban yang ia tanggung rasanya sangat berat.“Kapan kamu minta sesuatu padaku?” tanya Adnan ketus.“Seharusnya
Pov Mila“Syukurlah, lain waktu aku ingin ke rumahmu,” ucap Erga yakin.“Untuk apa?” tanyaku terkejut.“Melamarmu.”Erga menyunggingkan senyum indahnya, senyum yang sama, senyum yang selalu membuatku rindu.Seketika aku menjadi salah tingkah, bagaimana ini? Aku sudah menikah, dan ini memang baju untuk anakku. Bagaimana caraku mengatakan yang sesungguhnya? Namun, senyum itu membuatku terpesona. Lidahku menjadi kelu, tak mampu menjawab.“Bagaimana?” tanya Erga. “Aku sudah menunggumu dari masa SMA, masa kamu tolak?”“Maaf, aku ada urusan. Aku pulang dulu, ya? Makasih buat traktirannya.”Segera aku keluar dari toko dan segera menarik gas motor secepat mungkin. Tak kupedulikan pandangan sekitar yang menatapku aneh.Aku menggelengkan kepala berkali-kali mencoba mengenyahkan pikiran tentang Erga. Bisa berabe kalau dia tahu aku berbohong, lagian mas Adnan tidak akan bisa memaafkan kalau sampai berkhianat.Kenapa Erga datang di saat aku sudah menikah dan punya anak sih? Harusnya dia datang leb
Pov MilaAku melihat kedatangan Tiara dengan takjub, penampilannya jauh lebih berkelas dari saat terakhir bertemu. Dan lagi, ia keluar dari mobil mewah, siapa laki-laki yang ia jerat kali ini? Enak sekali hidupnya. Berbeda jauh denganku yang harus bersusah payah mengasuh anaknya di sini. Untuk merawat diri saja tidak sempat, apalagi menyenangkan suami.Mainan yang dibawa Tiara kutaksir semuanya jutaan rupiah, keberuntungan dari mana ia dapatkan semua? Lagi, ada cincin yang indah tersemat di jari manis Tiara.Bahkan sikapnya kini lebih kalem, Tiara yang sekarang bukanlah Tiara yang dulu. Andaikan melihat ini, Mas Adnan mungkin saja akan tergoda lagi. Aku saja yang sesama perempuan, sangat menyukai penampilan Tiara saat ini, pembawaannya yang tegas, nan elegan.“Apa-apaan ini?” teriak ibu dari belakang, sepertinya beliau terkejut dengan kedatangan Tiara yang mendadak, aku lupa memberitahu beliau, Tiara akan datang.“Ada Tiara, Bu,” jawabku pendek. Moodku seketika ambyar melihat kedatang