Jantung Lyra semakin berdetak tidak karuan saat ia menurunkan celana dalam mantan suaminya. Tidak ada pilihan selain berbuat total dalam membersihkan tubuh lelaki itu. Jika Rex menutupi wajah dengan bantal karena malu, Lyra menggigit bibirnya karena gugup akibat melihat kejantanan sang suami yang masih tertidur pulas di antara kedua kaki. ‘Ya, ampun! Jadi, seperti itu bentuknya?’ teriak Lyra menahan keinginan untuk menjerit, tertawa, tergelak, teriak, dan entah apa lagi.‘Sial! Kenapa dia diam saja? Apa dia sedang memperhatikan kemaluanku? Sialan! Sialan! Aku malu sekali! Kenapa dia tidak berbuat apa-apa? Jangan-jangan dia sedang mengambil foto dengan ponselnya!’‘Bisa saja dia dendam, lalu menyebarkannya di internet, ‘kan? Kurang ajar!’ Mendadak Rex menjadi geram dan ia spontan menarik bantal dari atas wajahnya. Tidak mau sampai fotonya saat telanjang begini menjadi viral di dunia maya. Apa kata dunia?Ia langsung membentak, "Kenapa kamu diam saja!"Lyra yang sedang tertegun melih
Kedua pemuda itu terkejut saat melihat hanya ada satu ranjang. Saling tatap selama beberapa saat, kemudian sama-sama memalingkan wajah. Kebingungan melanda, beserta rasa gugup.“Kita ke kamar Papa!” perintah Rex.“I-iya, Mas!” angguk Lyra mendorong kembali kursi roda mantan suaminya keluar. Mengetuk pintu kamar Harlan, keduanya mematung dengan wajah tegang. Begitu pintu dibuka, Rex spontan bertanya. “Kenapa hanya ada satu ranjang di kamar?”“Memangnya kenapa?” Harlan balik bertanya. “Kenapa? Bagaimana aku dan Lyra bisa tidur kalau hanya ada satu ranjang?”Kening Harlan mengerut, “Ya, kalian tidur di atas ranjang itu. Maksudnya bagaimana dan kenapa? Papa tidak paham,” jawab sang ayah mengendikkan bahu.“Pa, itu ... uhm ... aku dan Mas Rex kan sudah bukan suami istri lagi. Jadi, tidur satu ranjang sepertinya agak bagaimana?” ucap Lyra lebih mempertegas. “Aku mau pindah kamar yang double bed!” tukas Rex lebih memperjelas lagi.“Tidak ada lagi, hanya itu yang tersisa,” senyum Harlan. “S
Selesai diperiksa oleh Dokter Ian untuk screening awal, Rex dan Lyra kembali menunggu di luar ruang periksa. Lelaki itu memandang sekilas pada sang mantan istri. “Sepertinya kamu berbinar sekali hari ini?” sindirnya datar.Lyra menoleh, memasukkan ponsel ke dalam tas kecil. “Berbinar bagaimana, Mas?”“Ya, tidak tahu. Sepertinya kamu senang sekali? Ada apa memangnya?” Rex lanjut menyindir.“Senang yang bagaimana?” Dan Lyra tetap tidak tahu. Menghela napas kasar, Rex menggeleng, “Sudah, lupakan saja!”“Baik, Mas,” angguk Lyra menurut dan tersenyum. Ia sama sekali tidak tahu yang disindir adalah percakapannya dengan Dokter Ian barusan. Rex cemberut karena mantan istrinya itu begitu polos dan tidak sadar apa maksudnya. Semakin cemberut saat Dokter Ian keluar dari ruangan dan menghampiri mereka kembali.“Mari, saya antar ke ruang tunggu yang pertama, yang di dekat tempat praktek Dokter Makoto,” senyumnya ramah dan memegang kursi roda Rex.Lyra berdiri, berjalan di samping sang dokter y
Rex menatap jengkel pada ponsel Lyra. Nama Dokter Ian ada di ponsel sang istri membuat hati sangat tidak nyaman. Entah mengapa, tetapi rasa tidak terima dan ingin marah mendadak muncul ke permukaan.Suara air shower di kamar mandi sudah berhenti. Ia mematikan layar dan meletakkan kembali ponsel di atas meja. Menggeser tubuh dengan lutut ke bawah tidak bisa bergerak, Rex berusaha sebisa mungkin tidak memperlihatkan dia baru saja mengintip ponsel sang mantan istri.Lyra keluar dari kamar mandi dan melihat lelaki itu bergerak-gerak di atas kasur. “Mau ke mana, Mas? Aku ambilkan kursi roda?”“Tidak, hanya pindah posisi saja,” geleng Rex akhirnya kembali rebahan telentang. “Oh, baiklah,” angguk Lyra kemudian menaiki ranjang, juga kembali merebahkan diri sambil telentang.Dua-dua menatap langit kamar, dengan pikirannya masing-masing. Jika Rex dipenuhi dengan kekesalan atas kehadiran Dokter Ian, maka Lyra dipenuhi dengan bayangan melihat lelaki di sampingnya bisa berjalan lagi.Tanpa sadar,
Lyra turun ke lobby. Di sana nampak Dokter Ian sedang menunggunya dengan dua kantong belanjaan berisi aneka makanan. Wanita yang polos ini tidak banyak berpikir dan menduga macam-macam.Bagi Lyra, mana mungkin lelaki seperti Dokter Ian ada hati untuknya? Mereka bagai langit dan bumi, sama seperti dia dan Rexanda. Jadi, ia hanya menganggap ini sebagai tanda pertemanan saja.“Aduh, Dokter ini kenapa selalu repot-repot membawa berbagai jajan untuk saya?” ucapnya menggeleng sungkan.Ian tertawa. “Siapa yang repot? Kebetulan, kalau pulang dari rumah sakit selalu lewati hotel ini. Jadi, aku mampir saja.”“Aku pikir, mungkin kamu kelaparan tengah malam dan tidak tahu harus mencari makanan ke mana. Kalau kukirimi jajan, paling tidak kamu aman!” kekeh lelaki tinggi dan manis tersebut. “Terima kasih banyak, ya. Lain kali, tidak usah begini. Saya jadi sungkan sendiri, Dokter,” angguk Lyra menerima dua kantung makanan tersebut.Mereka kemudian duduk di kursi lobby saling berhadapan. Kantong bela
Mata Rexanda dan Lyra saling tatap. Keduanya terjebak dalam situasi yang tidak pernah mereka bayangkan bisa terjadi. Bahkan, wanita itu sempat berpikir ia sedang bermimpi. Napas Rex bagai berhenti tiba-tiba saat Lyra membuka mata dan menatapnya bingung. Ia sendiri juga bingung, bagaimana menjelaskan mengapa bibirnya bisa ada di kening sang mantan istri?Didorong oleh ego dan harga diri yang tidak ingin terlihat lemah atau memelas di depan Lyra, detik itu juga Tuan Muda Adiwangsa berimprovisasi. “Kamu sengaja, ya?” tanya Rex menahan engah. Dengan cepat, ia lepas pelukan di pundak Lyra. Bahkan, ia segera menggeser tubuhnya dan sedikit mendorong perawat manis tersebut.Lyra tidak paham, “Sengaja? Sengaja apa, Mas?”“Kamu sengaja tidur di dadaku dan menyentuhkan keningmu di bibirku, ‘kan? Ada apa? Mencoba merayuku?” kilah Rex menutupi rasa malu karena ketahuan terbawa perasaan terhadap mantan istrinya. Makin Lyra terbelalak, “Aku merayumu? Tidak mungkin, Mas! Aku tidak akan berbuat beg
Pertanyaan Rex membuat Lyra terbelalak bingung. Pun Dokter Ian, sontak senyum lebar di wajahnya hilang, berganti dengan kening yang mengernyit. “Mas! Jangan be—” Lyra menggigit bibirnya, tidak jadi menyelesaikan kalimat karena Rex sudah memandangingnya lagi dengan sorot tajam mengintimidasi.“Maaf, apa saya ada salah dengan membawakan camilan?” tanya Dokter Ian masih mengulas sedikit senyum di bibir, walau datar.Rex balik menoleh pada asisten dokter senior tersebut. “Tidak ada yang salah. Saya justru menghindari kesalahpahaman saja.”“Kesalahpahaman apa?” Dokter Ian masih bingung, tetapi ia meletakkan tas belanjaan di atas meja, lalu melirik pada perawat manis. “Aku taruh di sini, ya, jajanannya?”Tanpa berani menoleh, Lyra mengangguk dan sorotnya hanya kepada gelas pudding. Rasanya ingin tenggelam ke dasar samudera karena malu dengan dokter itu. Sikap Rex menurutnya sangat berlebihan, terutama karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sang mantan suami. Tuan Muda Ad
“Cemburu? Cemburu yang bagaimana, Pa? Siapa yang cemburu?” Lyra menatap gugup pada mantan mertuanya. Saking terkejutnya ia sampai tidak bisa mencerna dengan baik ucapan Harlan.“Ya, Rex cemburu dengan Dokter Ian. Tidak suka kamu didekati Dokter Ian,” ulang Harlan terkekeh.Wajah Lyra merah padam. “Ah, Papa ini aneh-aneh saja. Mana mungkin Mas Rex cemburu dengan Dokter Ian? Dan mana mungkin Dokter Ian mendekati aku. Siapalah aku ini, Pa? Hanya perawat lansia lulusan SMA,” gelengnya sambil tertawa lirih.“Selera Mas Rex itu tinggi. Lihat saja Marina. Lalu, Dokter Ian itu juga pasti akan menyukai wanita yang sekelas dengannya. Kalau aku ... duh, mungkin hanya sopir angkot yang suka denganku,” tukasnya kembali tertawa gugup.Harlan mengendikkan bahu, “Kadang, yang lelaki inginkan hanyalah kenyamanan. Siapa tahu dengan kamu merawatnya selama ini, Rex jadi merasa nyaman bersamamu?”“Dulu, dia terus menolakmu, sekarang dia ketergantungan kepadamu. Makanya, dia takut kamu diambil oleh Dokter
“Apa-apaan! Kalian apa sudah gila menuduhku begitu!” bentak Marina dengan dada kembang kempis dan wajah yang mulai memucat. Dua polisi tetap tenang dan hanya tersenyum datar. “Anda baru saja melakukan pemerasan terhadap Tuan Rexanda Adiwanga. Semua bukti percakapan telah direkam, dan bukti pengiriman uang telah dilakukan oleh beliau.”“Oleh beliau? Beliau siapa?” engah Marina menggeleng. “Ini sebuah kesalahan! Aku tidak melakukan apa pun!”“Itu, pria yang ada di depan restoran yang telah melaporkan kasus ini kepada kami sejak tadi malam.”Dua lelaki bertubuh besar menggeser posisi mereka agar Marina bisa melihat siapa yang dimaksud. Mata wanita licik itu tebelalak saat memandang siapa yang ada di depan pintu restoran.Rexanda berdiri di sana, merangkul Lyra dengan mesra. Keduanya menatap ke arah Marina sambil tersenyum puas. Kali ini, tidak akan ada lagi yang mengganggu rumah tangga mereka. “Selamat menikmati penjara sampai beberapa tahun ke depan!” seru Rex sambil memberikan kiss b
“Pilihan apa yang kamu punya, hah? Mau hamil seorang diri? Mumpung kehamilanmu masih di awal, lebih baik punya suami supaya tidak malu!” bentak Harlan. “Kamu punya calon lebih baik?”Rex menghela panjang, “Sudahlah, Eva. Terima saja, kamu tidak ada pilihan lain. Kalau mencari lelaki yang sederajat dengan kita, mana ada yang mau?”Gadis itu menangis tersedu sembari menangkup wajahnya. Ia kembali didera perasaan sedang dihukum. Dulu selalu menghina Lyra orang kampung. Sekarang, dirinya pun akan memiliki suami orang kampung. Harlan mengembus berat, penuh beban, “Sudah, itu adalah yang terbaik. Minggu depan mereka datang ke rumah dan kalian akan menikah secara sederhana. Kita akan mengatakan pada orang-orang karena Mama sedang sakit, maka tidak jadi mengadakan pesta.”“Apa Papa sudah berhasil menemukan Ichad?” isak Eva masih berharap kekasihnya yang akan menikahi dia.“Polisi masih mencarinya. Tapi, saat ditemukan pun, kata polisi bukti penipuan adalah lemah. Kamu dengan sengaja dan sada
“Kurang ajar! Wanita siala4n!” Rex memaki layar ponselnya sendiri. “Bisa-bisanya kamu mengancamku!”Dengan terengah, ia segera menelepon Marina. “Bangs4t kamu, ya!”Namun, yang dimaki hanya tertawa santai, “Kamu yang bangs4t, Rex! Kamu dulu janji mau menikahi aku saat mengambil keperawananku. Masih ingat, tidak?”“Waktu itu, saat kamu menelanjangiku, kamu bilang … aku mencintaimu, Marina. Aku akan menikahimu, aku berjani. Dan aku percaya, aku serahkan kesucianku padamu. Nyatanya apa? Dua tahun berlalu, kamu justru meniduri pembantu sialan itu!” desis foto model seksi itu tersenyum culas. Rex terengah, “Kalau sampai kamu sebar video itu, aku akan membuat perhitungan denganmu, brengs3k! Aku tidak akan tinggal diam!” “Silakan saja, silakan buat perhitungan denganku. Kamu pikir aku takut? Biar semua teman-teman kita, biar semua keluargamu melihat kita sedang sama-sama telanjang. Aku mau tahu, apa kamu dan istri kampungan tercinta masih bisa hidup nyaman setelah itu?” tawa Marina makin t
Mengurungkan niat untuk pergi ke restoran dan merayakan kehamilan Lyra, akhirnya justru mereka mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Kondisi Ajeng yang kritis membuat detak jantung Harlan dan Rex tidak bisa tenang.“Pak, Bu, maaf, karena kami harus segera kembali ke Jakarta siang ini juga. Nanti, saya akan kirim kontraktor kemari untuk memperbaiki rumah Bapak dan Ibu, ya,” pamit Rex sekaligus mengatakan itu semua saat mencium tangan kedua mertuanya.“Kontraktor untuk memperbaiki rumah? Tidak usah, Nak Rexanda. Bapak belum ada dananya. Lain kali saja, ya?” geleng Suripto menolak dengan gugup. “Saya yang menanggung biayanya. Bapak dan Ibu tenang saja dan tinggal menikmati rumah yang nanti lebih baik dari ini,” senyum Rex. Lyra yang ada di sebelahnya terbelalak, nyaris tak percaya.Ajeng menggeleng, “Aduh, jangan, Nak Rexanda. Nanti habisnya banyak. Sudah, yang penting Bapak dan Ibu titip Lyra saja. Perlakukan istrimu dengan baik dan penuh kasih sayang, itu sudah lebih dari cukup. K
Pagi yang berembun di kaki gunung, tempat Lyra tinggal selama beberapa hari ini. Seperti biasa, mereka semua sarapan pagi bersama. Namun, kali ini ada yang berbeda. “Hmmppp!” Lyra menutup mulutnya secara mendadak dan berlari ke kamar mandi. “Hmppff!” Suara muntah tertahan semakin intens terdengar.Narsih dan Suripto saling pandang, begitu juga Rex dan Harlan yang bertukar tatap dengan bingung. Tanpa disuruh, Tuan Muda Adiwangsa cepat berlari mengikuti langkah istrinya menuju kamar mandi. “Hoeeek! Hoeeek!”Lyra memuntahkan apa yang dia makan barusan. Rasa mual menghajarnya dengan cukup ekstrim pagi ini. Rexanda memasuki kamar mandi, membantu menyibak ke belakang rambut hitam tebal dan panjang milik sang istri.Lalu, ia bertanya, “Kamu masuk angin, Sayang?” Dengan khawatir memijit tengkuk wanita yang ia cintai.Lyra tidak menjawab, terus saja ia memuntahkan sarapan yang baru beberapa menit masuk ke dalam lambung. Suara terengah hebat terdengar dari bibirnya.“Panggil dokter, ya?” Rex
Tiga hari berlalu dan Lyra belum ada tanda-tanda akan luluh. Pagi keempat, saat sarapan bersama, wajah Rex terlihat pucat. Ia pun berkali-kali bersin dan berdehem. “Kamu sakit?” tanya Harlan melirik. “Cuma flu saja, Pa,” geleng Rex. “Tenggorokanku agak perih. Mungkin efek hawa dingin. Aku belum terbiasa.”“Di kamarmu ada AC yang selalu dipasang 18’, Mas. Apa iya kamu tidak tahan dingin?” sindir Lyra melirik dan tetap cemberut. Rex mengendikkan bahu, “Mungkin karena aku selalu tidur di lantai. Jadi, dinginnya lebih menusuk tulang.”“Nak Rex tidur di lantai? Ya, Tuhan! Lyra, kamu apa-apaan!” pekik Narsih terkejut. Lyra mendelik, menatap jengkel pada suaminya. Lalu, ia menoleh pada ibunya, “Kasur aku kan kecil, Bu. Mana muat dibuat tidur berdua? Jadi, ya, Mas Rex tidur di atas tikar.”Harlan terkikik, lalu menggeleng. ‘Sekarang kamu merasakan jadi orang susah, Rex!’“Tidak apa, Bu. Saya hanya flu biasa. Apa ada obat flu?” senyum Rex berusaha nampak sebagai menantu idaman yang tidak ba
Rex sangat terkejut dengan tepisan tangan Lyra yang menolak sentuhannya. Apalagi, sang istri mengatakan jijik dengan dirinya. Ia menggeleng pilu, “Maafkan aku, please?”“Tidak mau! Aku sudah sering memaafkan kamu sebelumnya! Sudah, kembali saja sana ke Jakarta! Aku tidak mau memaafkanmu!” desis Lyra menolak.“Aku memang bajing4an, aku bersalah sepenuhnya, Sayang. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi? Aku janji akan berubah!”“Apanya berubah? Kamu janji tidak mau minum lagi, tidak mau mabuk lagi, tidak berhubungan dengan Marina lagi. Nyatanya apa? Semua itu kamu langgar! Kamu tidak bisa dipercaya!”“Iya, iya, aku memang brengs3k, aku tahu itu. Kamu boleh memakiku sepuasnya, tapi ... maafkan aku, ya?” rajuk Rex menampilkan wajah memelasnya. Lyra mendengkus, “Aku akan memaafkan kamu, kalau kamu kemari membawa surat cerai!”Rex terbelalak, lalu merengek, “Jangan begitu, Sayang. Kita tidak boleh sedikit-sedikit bercerai. Kalau rumah tangga ada masalah harus diselesaikan, bukan ditinggal
Mata Lyra sontak mendelik saat melihat ada kendaraan hitam berhenti di depan rumahnya. Siapa lagi yang naik mobil mendatangi rumah Bapak Suripto jika bukan seseorang dari kota? Kalau tetangga, biasanya naik sepeda atau sepeda motor.Yakin itu adalah sang suami yang datang, Lyra justru melompat turun dari kursi dan berlari sekencang mungkin menuju kamar sambil berteriak, “Aku tidak mau bertemu Mas Reeex! Suruh saja dia pulaaang!”Suripto dan Narsih saling lirik. Ada apa dengan putri mereka sampai sebegitunya? Namun, mereka hanya menggeleng dan menahan tawa melihat kelakuan Lyra.Pasangan suami istri itu kemudian berdiri dan segera keluar rumah, bersamaan dengan dua lelaki turun dari mobil. Dugaan mereka tidak salah karena itu sungguh adalah Harlan dan Rexanda yang datang. Ayah dan anak sedang menurunkan koper dari bagasi kendaraan.“Pak Suripto! Besanku tersayang! Apa kabar?” seru Harlan langsung menjabat dan memeluk ramah. Sedikit bergurau, memanggil besannya dengan kata tersayang. Ta
Rexanda sedang dalam perjalanan menuju bandara bersama ayahnya. Tujuan penerbangan adalah kota Surabaya. Ada misi khusus yaitu menguntai ulang benang rumah tangga yang sedang terancam putus.Ia banyak terdiam sepanjang melalui keramaian jalan raya. Ponsel berbunyi, ada notifikasi masuk. Melihat siapa yang mengirim pesan, napasnya terembus jengkel. Marina [Halo, Rex, apa kabar?] Rex [Mau apa menghubungiku?]Marina [Mau minta tolong. Ini benar-benar darurat.]Rex [Apa?]Marina [Aku butuh uang, Rex. Adikku sakit usus buntu, tadi malam masuk rumah sakit. Kami tidak punya asuransi lagi seperti dulu. Aku pinjam 100 juta bisa? Nanti kalau ada rejeki pasti kukembalikan.]Rex [Aku tidak ada uang.]Marina [Ayolah, Rex. Demi kemanusiaan? Lagipula, kita kemarin baru saja tidur bersama. Apa iya kamu tidak ada rasa kasihan sama sekali kepadaku?]Rex [Aku mabuk! Kamu yang menelepon Lyra, ‘kan? Aku tidak mungkin segila itu meneleponnya! Saat aku mabuk berat, aku biasanya tidur, tidak berbuat apa-ap