Kamu bisa menemukan inspirasi dalam segala hal
Jika tidak bisa
Mungkin kamu tidak melihatnya dengan benar.
-Paul Smith
Kesedihan tidak pernah membuat Felice berhenti bekerja keras. Hal yang dilakukan Felice untuk bangkit kali ini adalah dengan mencoba kain sisa yang ada di ruang sampel kain. Saat Felice sedang mencoba-coba kain, Felice mendengar suara-suara aneh.
Kresek kresek
Felice segera mengintip ke arah sumber suara. “Kamu lagi ngapain disini?” Ucap Felice. Saat melihat Xavier sedang makan burger di ruang sampel.
Xavier menyodorkan burger satunya pada Felice. “Makan.” Ucap Xavier.
“Kenapa kamu makan disini?” Ucap Felice.
“Karena saya tahu kamu pasti belum makan siang hari ini. Jadi, saya bawakan makan siang yang simpel buat kamu yang selalu sibuk. Saya sudah dengar kalau kamu akan ganti kain secara mendadak. Ada masalah lagi kah?” Ucap Xavier.
F
Pagi ini para karyawan The Premiére sedang berbondong-bondong melihat ke papan pengumuman. Hari ini ada pengumuman tentang karyawan baru untuk tim La Cart dan tim Viance. Banyak karyawan yang ingin melihat daftar yang lolos ke tim-tim tersebut termasuk anggota tim Manajer Felice yaitu Luna, Elijah, Vareena, Rosé dan sabrina yang juga ikut berkumpul untuk melihat papan pengumuman itu.“Pengumumannya karyawan baru sudah keluar. Katanya yang lolos masuk Viance dari tim Lauré semua. Inilah sebabnya orang bilang koneksi itu berguna dan sangat penting. Karyawan baru La Cart juga ku dengar dia adik dari temannya Bunga, karyawan La Cart.” Ucap Karyawan 1.“Ku dengar La Cart akan menggantikan Lauré jadi brand pertama di The Premiére, jika Manajer Felice tidak berhasil menaikkan nama Lauré dan Viance. La Cart sekarang dipegang langsung oleh Direktur Arina.” Ucap karyawan 2.“Ku dengar Lauré jug
Untuk membuktikan pada Rosé dan anggota tim yang lain, Elijah rela pergi ke fansign Krystal di salah satu Mall terkenal di Jakarta. Elijah melewati Fans-fans Krystal hanya untuk memberikan kartu namanya.Awalnya Krystal tidak melihat Elijah karena Ia terus menunduk untuk memberikan tanda tangan. Namun, Krystal terkejut dengan kartu nama dari karyawan The Premiére. Melihat nama The Premiére membuatnya naik pitam. Krystal segera melihat siapa yang datang.“Hai! Krystal!” Ucap Elijah sambil dadah dadah.***“Seperti yang sudah Anda minta, kami sudah melakukan CT Scan, MRI, CT paru, dan tes darah lengkap. Kamu bisa lihat di layar ini?” Ucap dr. Rayden.“Ya.” Keena mengangguk.“Ini kanker pankreas.” Ucap dr. RaydenKeena hanya bisa menelan ludah pahit, “Apa sama sekali tidak ada kemungkinan malfungsi mekanis atau kesalahan diagnosis?”&ldq
Tuut tuut [Mr. Xavier]“Hallo.” Ucap Felice.“Kamu sudah tidur? Aku hanya ingin mendengar suaramu.” Ucap Xavier.Felice tidak mengatakan apapun pada Xavier, meskipun dia juga merasakan hal yang sama.“Mungkin seharusnya aku tidak meneleponmu. Maaf jika sudah mengganggu. Good night!” Ucap Xavier.“Bisakah kita bertemu sekarang?” Ucap Felice saat Xavier hendak mematikan teleponnya.Mendengar hal itu membuat Xavier kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Aku ingin bertemu denganmu sekarang.” Ucap Felice.Xavier segera berlari untuk bertemu dengan wanita pujaan hatinya itu. Segala rintangan hujan gerimis yang turun malam itu, Xavier hadapi dengan penuh semangat. Ia tidak mau melewatkan kesempatan langka ini.Felice menunggu Xavier di taman dekat apartemennya. Felice sangat menantikan kehadiran Xav
Tuut tuut tuut [Xavier]“Bukankah itu fotomu?” Tanya Irene.“Ya, bagaimana menurutmu? Kamu suka?” Balas Xavier.“Bukankah kamu mengambil foto-foto itu untuk pameranmu?” Ucap Irene.“Kurasa akan bagus mempromosikannya di awal.” Balas Xavier.“Apa itu ide Felice?” Tanya Irene.“Bukan! Aku yang menyarankannya.” Balas Xavier.“Xavier, apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Seberapa jauh kalian akan bertindak?” Protes Irene.“Aku belum berpikir sejauh itu. Kita hanya akan fokus pada hal-hal yang kita kuasai.” Balas Xavier.Penonton acara live streaming produk baru Lauré semakin banyak. Sekarang giliran Krystal yang maju untuk memperagakan desain utama Lauré season baru ini.“Kita mendapat jumlah penonton yang cukup
Sabrina dan Luna sedang memajang desain terbaru Lauré di ruangan khusus desain di kantor.“OMG! Aku sangat banga! Ini sangat membuahkan hasil.” Ucap Sabrina sambil memakaikan baju pada manekin.Luna memukul Sabrina. “Ini hasil kerja keras kita semua. Hehe!” Balas Luna.“Kalian baru menjual 100 pcs. Bukankah terlalu dini untuk merasa bangga?” Ucap Sandrina dari tim La Cart. Mereka juga sedang melakukan hal yang sama, yaitu sedang memajang desainnya di ruangan tersebut.“Astaga! Saya rasa kamu belum tahu. Kita dapat banyak permintaan untuk tambahan pesanan. Kita sudah berhasil menjual 50.000 potong pakaian sejauh ini. Jadi, sangat jelas saya pantas merasa bangga.” Balas Sabrina.“Biarkan mereka kegirangan. Itu hanya baju olahraga yang sudah banyak dijual di pasaran. Mereka bicara seolah seluruh koleksi mereka selalu sold out.” Ucap Miska pada karyawan La Cart yang lain.“
“Heah! [Menghela nafas kesal] Jadi begitu rupanya?!” Ucap Felice.“Hah? ‘Begitu rupanya?’ Itu saja respond mu?” Tanya Xavier.“Lalu aku harus bilang apa? Haruskah aku mengutuknya di depan kamu yang notabene adiknya?” Ucap Felice.“Silahkan jika kamu mau.” Balas Xavier dengan senyum manis penuh dukungan untuk Felice.“Calvin memang brengsek! Aku tidak percaya dia berselingkuh. Kurang ajar! Tidakkah itu terlalu kejam?” Ucap Felice.“Setuju!” Balas Xavier.“Dia menusukku dari belakang. Euhhh dasar bedebah sialan!” Ucap Felice.“Ya, setuju! Balas Xavier.“Aku terlalu bodoh karena tergila-gila kepadanya selama empat bulan.” Protes Felice. “Apa? kamu ga setuju dengan itu?” Tanya Felice.“Saat itu kamu masih muda. Kamu jatuh cinta dan kamu mempercayainya.” Ucap Xavier.“Sepertinya itu terlalu berat sebelah.” Ucap Felice.“Siapa peduli? Itulah yang kurasakan. Aku hanya membela wanita yang kucintai.” Ucap Xavier.“Kamu sungguh tidak keberatan dengan semua ini? Ini bukan hanya tentang aku, tapi
Felice akhirnya mengerti kode dari Direktur Arina. Felice segera menjauh dari Xavier. “Hah?!” Gumamnya.Presdir Edwar akhirnya melihat Felice dan Xavier, “Oh! Rupanya kamu di sini, Nona Felice.” Ucap Presdir Edward.“Iya, Pak. Saya dari ruang sampel.” Balas Felice.“Apa yang kalian lakukan bersama?” Tanya Presdir Edward.“Hah? Apa? Oh kita…” Ucap Xavier.“Kita datang untuk memeriksa materialnya.” Balas Felice.“Oh begitu rupanya.” Balas Presdir Edward.Felice mengambil kembali barang yang tadi dibawakan Xavier. “Terima kasih bantuanmu. Silahkan kembali bekerja.” Ucap Felice lalu Ia segera pergi meninggalkan Xavier dan Presdir Edward.Suasana jadi sedikit mencekam dan mereka menjadi canggung satu sama lain. Lalu Presdir Edward mendekat ke arah Xavier berdiri.“Saya melihat draft La Cart kamu. Saya sangat menyukainy
“Bagaimana Nona Felice bisa tahu?” Ucap Arka sampai melempar sumpit yang ada di tangannya.“Aku yang memberitahunya.” Balas Xavier.“Hyahh, dasar orang bodoh yang kelewat jujur. Kamu mengungkap perbuatan kakakmu. Waah kamu pria yang jujur, Candy.” Sahut Arka.“Apa aku terlalu jujur?” Ucap Xavier.“Apa respon Nona Felice saat kamu mengatakannya.” Ucap Arka.“Heah! Huh.. Dia merespons dengan hah heuh.” Ucap Xavier mengikuti respon Felice saat itu.“Selain menghela napas, apa ada kalimat?” Tanya Arka.“Hah? Begitu rupanya.” Ucap Xavier sambil memperagakan cara Felice mengatakannya.“Apa? Itu saja?” Balas Arka.“Ya! Dia dengan tenang mengatakan beberapa kata buruk. Seperti ‘Dia benar-benar brengsek’ dan ‘sialan’. Itu saja yang dia katakan.” Ucap Xavier.“Oh dia tenang soal itu? Baiklah.” Ucap Arka sambil memikirkan sesuatu.“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Xavier.“Dengar, suara ‘hah’ dan ‘huh’ mewakili keterkejutan awal dan keabsurdan dari fakta yang baru ditemukan. Beberapa kata umpatan t
Janji yang kita buat dan cintamu menunjukkan jalannya. Serta berjalan di jalur itu adalah caraku membalas kepadamu. Felice Chiara FarfallaXavier menikmati tempat rekreasi itu sambil naik gondola untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Saat sedang melihat ke sekitar, Xavier tidak sengaja berpapasan dengan wanita yang mirip Felice sedang naik gondola yang berbeda arah dengannya. Matanya langsung tertuju pada wanita cantik itu.Xavier ingin memastikan itu benar atau tidak. Namun, gondolanya terlalu cepat bergerak dan mereka saling menjauhi satu sama lain. Xavier terus memperhatikan sampai benar-benar tidak terlihat.Nalurinya berkata bahwa itu adalah Felice. Tapi bagaimana mungkin Felice masih tidak berubah sejak terakhir bertemu. Dia masih selalu cantik, anggun dan elegant. Xavier berharap ingin bertemu orang itu lagi untuk memastikan dia Felice atau bukan.Setelah turun dari gondol
Berjalan di jalanan yang sama seperti dua tahun lalu, di malam yang berbeda dan tidak ada yang seseorang yang menemani setiap langkah kaki ini terasa sangat asing bagi Xavier. Udara di sekitar, pepohonan yang rindang jalanan yang basah setelah diguyur hujan, semuanya tidak banyak yang berubah.Xavier memandangi pemandangan di jalanan yang terguyur hujan itu sambil memikirkan kenangan dua tahun lalu bersama Felice. Matanya terus memperhatikan setiap sudut di kanan dan kiri jalanan itu.“Satu atau dua tahun dari hari ini. Jika aku bisa berjalan di jalur seperti ini di hari ini, aku akan memikirkanmu dan kita hari ini.” Suara hati Xavier.Drttt drttt [+62813003680996]Xavier menghentikan langkahnya untuk membuka pesan di ponselnya.“Aku mengirimimu pesan dari Jakarta. Apa kamu tiba dengan selamat? Sampai jumpa besok di Jakarta.”Setelah membaca pesan itu, enta
“Kamu sudah menikah?” Tanya Xavier.“Astaga! Kamu bahkan tidak mengirimi aku undangan pernikahan. Kamu pikir seperti itulah teman yang setia? Wahh! Aku kecewa padamu.” Keluh Xavier.“Haha. Tenang dulu! Kita tidak menikah. Kita hanya tinggal bersama.” Jawab Arka.“Benarkah? Kamu tidak takut dengan omongan orang? Ini Indonesia bukan Eropa atau America.” Ujar Xavier.Drttt drtt [Nona Luna]“Halo, ini Arka Nolan Jude, CEO Galaxy PR.”“Halo, Pak Arka. Aku menelepon dari tim Lauré.” Ujar Luna.“Ya, Nona Luna.” Balas Arka sambil melihat ke arah posisi Xavier duduk beberapa saat.“Bagaimana perkembangan iklan produk kami?” Tanya Luna.“Oh itu Pak Liam yang akan bertanggung jawab atas iklan produk tahun ini. Anda tidak usah khawatir. Tenag saja. Tunggu saja
Xavier hanya sempat memasak mie instan hari ini. Saat mie sudah dimasukan, Xavier hendak memasukan telur. Namun, Xavier teringat sesuatu saat memegang telur itu.Flashback On“Kamu selalu mengaduk telur setelah menambahkannya ke mie instan, bukan?” Ujar Felice.“Tidak.” Balas Xavier.“Wah! Astaga, kita sungguh berbeda. Kita benar-benar tidak cocok. Sepertinya kita akan sering bertengkar.” Balas Felice.Flashback OffXavier membatalkan niatnya yang akan langsung memecahkan telur di atas mienya. Dia memutuskan untuk mencoba selera makan Felice.Xavier pecahkan telur itu di atas mangkuk kecil lalu diaduk hingga terampur rata. Setelah itu baru dimasukan ke dalam mie.Setelah mienya matang, Xavier segera memakannya sebelum mie itu menjadi dingin. Xavier makan mie sambil sesekali melihat ke arah foto Felice yang ada di hadapannya.Flashback On
“Itu sesuatu yang harus kamu ulur dan kamu bumbui sedikit. Hehehe…” Ujar Alano yang agak malu malu tapi akhirnya mengaku juga.“Hahaha!”“Hehe! Ya, memang aku yang mengatur semua ini.” Ujar Alano sambil mengajak yang lain untuk cheers.“Terima kasih, Pak Al dan semua yang hadir di sini. Aku akan menerima semua bantuan kalian.” Ujar Felice.“Heah! [Menghela nafas] Aku sangat putus asa hingga tidak peduli untuk menyelamatkan wajahku. Kini aku punya dua pegawai yang harus kuberi makan. Aku terima tawaran kalian dengan senang hari dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.” Ucap Felice dengan berlinang air mata penuh haru“Kamu pasti bisa, Nona Felice!” Ujar Diana.“Aku akan memasok kain terbaik. Tenang saja! kamu tinggal buat desain yang bagus untuk karya baru di brand pribadimu.” Ujar Budi.“Hubungi aku meski hanya untuk satu atau dua hal. Aku akan menjahitnya meskipun harus mengurangi waktu tidurku.” Ujar Selena.“Wahh!”“Astaga! Benarkah?” Ujar Felice.“Ya!” Balas Selena.“W
Pagi ini, Felice memulai harinya dengan mengecek semua hasil desainnya kemarin. Felice melihatnya satu persatu. Desainnya cukup unik tapi Felice merasa bingung bagaimana cara merealisasikan gambar ini di saat tidak ada orang yang mempercayainya.“Kamu membuat semua desain ini? Dalam sebulan?” Ujar Xavier.“Ya.” Balas Felice sembari tersenyum.Felice melirik ke sebelah kanannya sambil tersenyum senang. Felice merasakan Xavier membuka sketsa desainnya lembar demi lembar.“Wah!” Puji Xavier.“Bagaimana bisa kamu menyimpan semua ini?” Tanya Xavier sembari terus membuka lembaran pada buku itu.“Aku tidak tahu apakah aku sangat berbakat atau sedang penuh inspirasi. Aku merasa seperti Mozart.” Ujar Felice.“Apa kamu juga genius? Hehe!” Puji Xavier.“Hehe..” Felice tersenyum bahagia sambil merasakan Xavier membuka buk
“Tidak apa-apa. Ya, sampai jumpa.” Ujar Felice yang masih berusaha menghubungi rekan kerja lamanya.“Huftt!” Gumam Felice setelah mematikan teleponnya.“Tidak apa-apa. Aku bisa mencoba lagi.” Ucap Felice.Felice melakukan peregangan agar leher, bahu, punggung dan tangannya tidak kaku. Lalu Felice melihat dirinya di dalam cermin.“Apa aku tidak cukup merawat diriku?” Ujar Felice saat merasa wajahnya terlihat kusam dan ada beberapa kerutan di wajah yang cukup menganggu penampilannya.Felice mengambil minuman collagen dan vitamin booster. Lalu menyeduhnya dalam gelas. Kemudian dia minum sampai habis. Lalu kembali pada pekerjaannya.Ting nong [Suara bel]“Siapa itu?” Ujar Felice.Felice membukakan pintu untuk tamunya. Lalu kembali ke meja makan yang sedang Felice gunakan untuk bekerja.Berkas-berkas yang ada di atas meja itu mereka rapikan dan disis
Kegiatan Felice saat ini adalah disibukkan dengan kartu-kartu nama dan daftar list yang harus Felice hubungi untuk keperluan labelnya sendiri.“Halo, Pak Akbar, apa kabar? Aku akan meluncurkan labelku sendiri.”“Hai, ini Felice Chiara Farfalla. Ini tentang lini mini yang ku sebutkan sebelumnya.”“Kamu tidak sanggup lagi? Oh baiklah.”“Ah sayang sekali.” Ucap Felice saat mencoret beberapa daftar nama dalam listnya.***Drtt drttt [Suara telepon Manajer Umum Alano]Manajer Alano mengangkat telepon itu, “Halo.”“Halo, Pak Al. Ini Pak Belva.”“Ya, ada apa?” Ujar Manajer Alano.“Saya ingin tanya. Apa benar Nona Felice meluncurkan brandnya sendiri?” Ujar Budi.“Apa kamu memutuskan untuk bekerj
“Apa katamu?” Ujar Mama Yuri.“Aku berhenti bekerja.” Ujar Felice.“Kapan?” Tanya Mama Yuri.“Ini hari terakhirku.” Ujar Felice.“Kenapa kamu berhenti?” Tanya Mama Yuri.“Alasan yang sama dengan Mama.” Balas Felice.“Apa?”“Jika aku melihat kembali hidupku, itu tidak terlalu buruk. Ada saat-saat bahagia dan berharga, tapi aku ingin mulai melakukan apa yang selalu ingin kulakukan, tapi terlalu takut untuk mencobanya.” Ujar Felice“Maaf, aku tidak punya lagi posisi penting di perusahaan besar.” Ujar Felice sembari tersenyum.“Jangan konyol. Mama tidak pernah meminta hal seperti itu.” Ucap Mama Yuri.Mama Yuri mendekat pada Felice, memegang tangannya, “Kamu sudah bekerja dengan baik. Bekerja sangat keras selagi melakukan tugasmu sebagai anak kami. Kamu putri terbaik yang bisa diharapkan siapa pun.”“Mah! Masalahnya, aku tidak punya apa-apa sekarang. Belum ada yang diputuskan.” Ujar Felice.“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu jadi ceroboh begini?” Ujar Mama Yuri.“Benar, bukan Ma