Benar saja, setelah diseret pergi, Tanu berteriak kesakitan dan membuat Syena bergidik.Ekki menguap, "Ayo pergi."Setelah Ekki pergi, Syena menemui ayahnya dan bentuknya sudah tidak seperti manusia."Ayah, Ayah!"Syena berteriak keras memanggilnya, tapi Tanu tidak bereaksi sama sekali."Reina! Kamu sudah menyakiti ayahku, aku nggak akan melepaskanmu! Tunggu pembalasanku!"Syena pun memanggil ambulans.Kali ini, Tanu harus dirawat untuk sementara waktu.Ketika Syena kembali ke rumah Keluarga Hinandar, dia memanggil Raisa."Nona Syena, ada urusan apa?"Raisa selalu memanggilnya Syena dengan sebutan 'Nona' saat mereka sendirian."Cepat nangis di depan Liane sekarang dan bilang Reina mau membunuhmu. Pokoknya, suruh Liane menyingkirkannya!"Sekarang Syena tidak lagi yakin bahwa Liane akan menyakiti Reina demi dirinya.Jadi Syena berharap pada Raisa karena bagaimanapun Raisa adalah putri kandung Liane.Raisa kaget.Masa Syena semudah itu membunuh seseorang? Ini nyawa!Raisa teringat pada ib
Raisa melirik Syena terlebih dahulu, lalu mendatangi Liane dan tiba-tiba berlutut."Bu."Liane buru-buru berdiri dan mendatangi Raisa, "Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba berlutut?""Bu, aku mau memohon padamu sesuatu. Asal Ibu setuju, aku baru bangun," ucap Raisa."Ada apa?"Liane merasa sedih melihat putrinya seperti ini."Bu, aku mau Reina mati. Apa Ibu bisa membantuku?"Liane tercengang, "Apa katamu?""Bu, aku benci Reina. Aku takut Reina akan menyakitiku. Tolong bantu dan selamatkan aku." Raisa mulai terisak, "Kalau Ibu nggak mau membantuku, aku akan tetap berlutut."Syena ikut angkat bicara, "Bu, aku 'kan sudah bilang Reina itu hama yang harus dibasmi. Benar saja 'kan, adikku juga nggak suka sama dia.""Kamu mau membunuh seseorang cuma atas dasar nggak suka?" Liane bertanya balik.Syena tersedak.Liane berdiri dan berkata pada Raisa, "Jangan main-main sama nyawa manusia. Aku nggak mau dengar hal begini lagi."Kemudian, Liane melirik Syena."Syena, ke ruang kerjaku sebentar."Syena ag
"Ya sudah, istirahatlah."Liane merasa Raisa menolak buka mulut. Jadi tidak ada gunanya dia bertanya lebih lanjut.Begitu Raisa pergi, Liane memanggil asistennya."Kayaknya Syena memegang rahasia Raisa. Coba periksa."Kalau tidak, mana mungkin Raisa begitu menurut pada Syena?Liane tahu sifat manusia. Kalau bukan hasutan Syena, Raisa putri kandungnya tidak mungkin sekejam itu.Raisa di sisi lain menghela napas lega dan bergegas kembali ke kamarnya.Dia tidak sabar untuk memberi tahu Reina kabar baik, mengatakan bahwa Liane sama sekali tidak setuju dengan Syena."Terima kasih sudah memberitahuku," kata Reina."Sudah seharusnya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, kamu penolong kami." Raisa terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi Liane sangat kuat. Aku khawatir dia akan mencelakai ibuku lagi.""Liane? Kamu yakin ini perbuatannya?"Reina bingung."Yah, menurut Syena juga begitu. Dia sangat mengenal Liane."Reina mengernyit mendengar jawaban Syena, "Kenapa kamu malah ngasih tahu Syena? Gima
Mereka tidak keberatan ketambahan beberapa orang di taman bermain yang begitu besar.Namun, ketika mereka tiba keesokan harinya, salah satu dari mereka ternyata menyesal akan gagasan ini.Reina segerombol sudah datang lebih dulu dan menunggu di pintu gerbang.Jovan dan Alana sedang berdebat, sementara Riko hanya menatap ke luar jendela seperti orang dewasa. Dia malas menanggapi kedua orang dewasa yang kekanak-kanakan ini."Nggak usah pakai pesta lah, biasa aja. Gaun pengantin ini mencolok banget, aku nggak mau." Alana menunjuk ke ponselnya dan berkata, "Nih ada kapal pesiar juga, buat apa coba? Ada fotografer profesional juga, nggak mau ah."Jovan mengerutkan kening, "Kamu itu menikah sama aku, mana mungkin bisa pestanya biasa-biasa aja?"Alana tercengang.Jovan juga sadar ada yang salah dengan ucapannya, jadi dia memperbaikinya, "Pernikahanku nggak boleh lebih biasa dari pernikahan Morgan, ngerti?"Alana tetap tidak terima, "Ngapain sih banding-bandingin hal kayak gini sama orang?""K
Ethan menatapnya dalam-dalam, "Nggak ngapa-ngapain? Aku datang buat main."Brigitta sangat marah.Baru pada saat itulah Reina paham siapa yang dimaksud 'teman' oleh Maxime kemarin.Dia berjalan mendekat, "Kamu nggak tahu Brigitta nggak suka sama Ethan? Kenapa malah menyuruhnya datang?""Aku cuma kirim pesan di grup, dia yang datang sendiri." Maxime mengeluarkan ponselnya dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah.Reina tentu tidak memercayai alibi Maxime.Dia bertanya, "Ya terus ngapain kamu kirim di grup itu?""Kan aku sudah bilang. Kamu harus belajar pamer dan memamerkan kebahagiaanmu." Maxime sangat percaya diri.Maxime memfoto mereka berempat dan dengan santai mempostingnya di IG.Reina sadar, sepertinya dia sudah salah memperlakukan Maxime.Dia kembali menatap Brigitta dan yang lainnya, tidak tahu apa yang mereka bicarakan.Riki menggenggam tangan Reina, "Ayo pergi Ma, kita jalan-jalan di dalam.""Oke."Reina sekeluarga pun jalan-jalan bersama.Brigitta terjerat oleh Ethan, sedangk
Ethan mengarahkan tangan Brigitta ke lehernya, "Cekik aku kuat-kuat, aku pasti mati."Dia menggenggam tangan Brigitta dan membantunya.Brigitta merasa Ethan benar-benar sakit jiwa.Kalau bisa membunuhnya seperti ini, sudah lama Brigitta melakukannya.Lagipula, sekarang mereka sudah punya anak. Kalau Brigitta membunuhnya, sama saja dia membunuh ayah dari anaknya."Kamu gila ya! Lepaskan tanganku!"Ethan menolak untuk melepaskannya dan terus bertahan, "Kamu nggak tega?"Brigitta sangat marah dan langsung mencekik Ethan kuat-kuat.Apanya yang tidak tega?Leher Ethan sakit.Brigitta sadar dengan kekuatannya, Ethan pasti hanya akan merasa geli.Jadi, Brigitta memilih mencubit Ethan dengan kukunya!Tidak peduli seberapa kuatnya seseorang, dia tidak tahan.Ethan mengerutkan kening, tetapi tidak berusaha menghindarinya dan membiarkan Brigitta mencubitnya.Leher Ethan sudah memerah, Brigitta pun bertanya, "Gimana? Enak?""Enak." Ethan berkata seolah dia memang ingin dicubit.Brigitta jadi tidak
Awalnya Jovan merasa marah, tapi setelah mendengar ucapan Alana, dia langsung menjadi bahagia."Kamu benar, dia nggak bisa dibandingkan sama aku."Jovan berkata dengan bangga.Riko merasa Jovan sangat menarik. Ucapan Alana ini tidak sepenuhnya memujinya.Kecerdasan Jovan memang di luar nalar."Ya, cuma dari segi kekayaan aja, dia nggak ada apa-apanya dibanding Om Jovan."Riko berkata dengan tulus."Bagus! Nanti aku temani main yang lain.""Oke."Riko mengangkat alisnya sedikit dan mendesah dalam hati.Jovan mudah sekali dibeli dengan pujian.Tidak jauh dari situ, wajah Yansen tampak sedikit jelek."Jadi sepertinya kamu menyukainya?"Alana kesal sekali pada Yansen dan sengaja berkata, "Ya, aku memang suka sama dia. Dia kaya dan ganteng."Yansen tersenyum pahit setelah mendengar ini."Selama kamu menyukainya, aku nggak akan komentar."Saat hendak balik badan, dia melihat Jovan berdiri tidak jauh dari situ.Yansen sama sekali tidak merasa malu, sebaliknya dia berkata dengan tenang, "Tuan
"Halo, ada apa Dokter?" tanya Reina.Dokter berkata, "Nona Reina, silakan datang. Pasien sudah bangun.""Benarkah? Oke, aku akan langsung ke sana."Reina menutup telepon dan hendak keluar."Mau ke mana?" Maxime meraih tangannya."Mau menemui bibi perawat itu, dia sudah bangun." Reina menjawab jujur."Aku nggak tenang kalau kamu pergi sendirian, aku temani." Maxime bersikeras.Reina berpikir sejenak dan memang sebaiknya dia ditemani. Lagi pula, perutnya semakin membesar sekarang dan tidak nyaman untuk melakukan apa pun.Keduanya naik mobil ke rumah sakit bersama.Rumah sakit Elly berada agak jauh, mereka baru sampai malam hari.Reina juga memberi tahu Raisa.Begitu tahu kabar itu, Raisa langsung naik taksi ke sana.Syena juga tahu berita itu."Bukannya aku memintamu untuk menyingkirkan Elly? Kenapa dia masih bisa bangun? Dasar nggak becus!" Syena sangat marah.Bawahannya terlihat kesulitan, "Penjagaannya sangat ketat. Hanya dokter dan suster yang boleh masuk.""Ya cari cara dong!" Syena
"Nona Reina." Jess memanggilnya terlebih dahulu.Reina mengangguk dan menuntun kedua anaknya berjalan ke arah mereka.Kedua anak itu dengan sopan memanggil mereka, "Om Erik, Tante Jess.""Hmm." Jess tersenyum, menunjukkan senyuman lembut.Erik juga tersenyum. "Kita baru sebentar nggak bertemu, kalian sudah tambah tinggi rupanya."Dulu, ketika berada di luar negeri, Erik pernah bertemu kedua anak ini beberapa kali saat mengikuti Revin. Jadi, dia cukup akrab dengan keduanya.Kedua anak itu juga memiliki cukup akrab dengannya."Om Erik kapan punya anak? Hari ini kami ikut Mama ke rumah sakit dan melihat bayi yang dilahirkan Tante Alana, lucu sekali." Riki bertanya sambil mengedipkan mata.Mendengar kata anak, wajah Erik dan Jess langsung berubah.Namun, semua itu menghilang dengan cepat.Erik terbatuk-batuk dua kali. "Hal semacam ini nggak bisa dipaksakan, nggak boleh buru-buru juga.""Oh." Riki sepertinya mengerti, dia pun mengangguk. "Om Erik dan Tante Jess harus lebih semangat. Setelah
Alana sengaja menggoda Riki. "Riki, kenapa kamu bilang begitu? Aku dan mamamu sudah seperti kakak adik, jadi wajar saja kalau kami jadi mak comblang anak kami sendiri. Bukankah kamu sering melihat itu di drama TV?""Jangan khawatir, kali ini Tante memang belum melahirkan anak perempuan, tapi lain kali Tante baka berusaha lebih keras lagi agar bisa melahirkan anak perempuan yang cantik. Saat itu tiba, aku akan menikahkannya denganmu, ya? Kamu sangat pengertian, pasti kamu akan memperlakukannya dengan baik, bukan?"Riki jauh mudah ditipu ketimbang Riko. Berpikir bahwa Alana berencana akan melahirkan anak perempuan di kemudian hari, dia langsung merasa ngeri."Tante Alana, aku ... mungkin aku nggak akan nikah."Dia ketakutan sampai punya pikiran untuk tidak menikah.Reina menggodanya, "Tapi bukannya kamu pernah bilang kalau Talitha cantik? Katamu, siapa yang bisa nikah sama dia, orang itu pasti sangat bahagia.""Hah? Kamu suka punya seseorang yang kamu suka?" Alana memasang wajah terkejut
Tepatnya, Diego lah yang berutang kepada Reina.Hanya saja, Diego memiliki ayah yang baik. Dulu, Anthony memperlakukan Reina dengan sangat baik, jadi Reina tidak tega menyakiti putra satu-satunya yang dia tinggalkan di dunia ini."Ke depannya terserah dia." Reina berkata dengan lesu....Salju pun mencair dan waktu pun berlalu dengan cepat.Alana melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan.Tuan Besar Jacob hampir jatuh pingsan karena terlalu bahagia setelah melihat cicitnya.Untungnya, dia berada di rumah sakit dan butuh banyak usaha dari staf medis agar bisa menyelamatkannya.Pada saat itulah Jovan menyadari bahwa kakeknya tidak berpura-pura sakit, kesehatannya memang sudah tidak seperti dulu lagi."Kakek, istirahat yang cukup dan jangan terlalu terpancing emosi," kata Jovan sambil duduk di depan ranjang rumah sakit kakeknya.Tuan Besar Jacob melambaikan tangannya. "Aku baik-baik saja, jangan mengkhawatirkanku. Kamu sudah jadi seorang ayah, jadi harus terus menemani Al
Diego bersulang untuk Reina dan Maxime, lalu bersulang untuk seluruh anggota Keluarga Libera.Saat ini, orang-orang Keluarga Libera tidak akan berani mengatakan apa pun, bahkan Nyonya Liz sendiri.Semua orang tahu bahwa uang dan kekuasaan adalah hal yang paling penting dalam masyarakat sekarang.Para tamu memiliki pemikiran mereka sendiri, hanya Sophia yang ingin bersulang untuk para kerabat dan teman-teman Diego.Dia sangat gugup sampai dia tidak sadar bahwa semua orang di pesta ini memiliki pemikiran yang berbeda.Setelah selesai, dia dan Diego mengantar Reina dan Maxime kembali.Reina tidak tahan lagi dan mengatakan, "Antar sampai sini saja. Kamu masih harus mengantar tamu-tamu pebisnismu selagi ada waktu."Sophia merasa aneh, para pebisnis?Bukankah Diego mengatakan kalau mereka semua temannya?Diego terlihat canggung dan mengedipkan mata ke arah Reina, bermaksud memberitahunya untuk tidak berbicara terlalu banyak, takut Sophia akan tahu.Namun, Reina justru melakukannya dengan sen
Nyonya Liz mencoba membuat Reina marah, kemudian membuat tamu yang hadir berpikir bahwa Reina tidak bisa bersikap dewasa karena membuat masalah dengan orang tua.Reina tersenyum lembut. "Bagaimanapun juga, ini masalah hidup dan mati, jadi tentu saja aku harus mengingatnya.""Selain itu, pada saat itu Nona Tia masih muda, tetapi Nyonya Liz dan kedua putranya sudah dewasa. Harusnya kalian tahu mana yang benar dan mana yang salah, bukan?""Tapi saat itu, alih-alih mendidik Nona Tia, kalian malah bilang aku pantas diperlakukan seperti itu. Kalian juga membuatku berdiri di tengah salju yang dan membeku sepanjang malam. Saat itu terjadi, aku baru berusia sepuluh tahun." Reina mengucapkan kata-kata ini dengan kesedihan di dasar matanya.Mendengar ini, mereka yang hadir langsung mengerti mengapa Reina tidak mau mengakui kedua putra dari Keluarga Libera."Mereka melakukan itu sama anak berusia sepuluh tahun! Nggak manusiawi sekali!""Wah, Keluarga Libera bisa sukses juga karena mengandalkan Kel
Ketika Reina hanyalah putri yang tidak menonjol di Keluarga Andara, kedua om-nya ini bukan hanya memperlakukannya dengan buruk, tetapi juga membiarkan putri mereka menggertaknya.Sekarang, dia telah menjadi pewaris Keluarga Yinandar, kaya dan berkuasa, mereka malah menyanjungnya. Lucu sekali.Reina tidak akan melakukan apa yang mereka inginkan dan tidak segan dengan mereka."Om? Apa kalian nggak salah? Ibuku nggak punya saudara kandung."Satu kalimat ini membuat wajah kedua anak laki-laki Keluarga Libera memerah dan terlihat sedikit kikuk.Mereka yang awalnya mengira bahwa keduanya adalah om Reina pun kelu."Ternyata rumit juga hubungan keluarga mereka. Pantas saja, aku nggak pernah dengar kalau Keluarga Yinandar punya dua anak laki-laki, karena mereka hanya punya satu anak laki-laki.""Keluarga Yinandar memang hanya punya satu anak laki-laki, tapi itu hanya anak angkat. Aku nggak tahu kesalahan apa yang dia lakukan sampai dipenjara di usia muda.""Kalau begitu, dua orang dari Keluarga
Diego membawa Sophia mendekati Reina dan Maxime, melewati Tia dan Nyonya Liz tanpa menyapa mereka berdua.Nyonya Liz mengerutkan kening tidak senang. Namun, Diego adalah cucu kesayangannya, jadi dia tidak bisa marah kepadanya.Reina mengangguk pada Diego."Hmm."Diego berkata, "Ayo, aku akan membawa kalian masuk.""Nggak perlu. Kamu dan Sophia bisa bawa nenekmu masuk. Aku dan Maxime bisa sendiri," kata Reina.Mana mungkin Reina tidak memahami apa yang ada di dalam pikiran Diego?Dia ingin membawanya dan Maxime masuk hanya ingin menunjukkan wajahnya kepada para pengusaha kaya itu.Diego sedikit canggung saat mendengar ini. Sekarang, dia baru menyadari keberadaan neneknya dan Tia."Kak, Nenek, kalian juga sudah datang? Ayo masuk," katanya.Nyonya Liz mengangguk. "Ya, ayo masuk."Mereka berjalan bersama ke dalam hotel.Diego dengan penuh perhatian berdiri di samping Reina dan Maxime, sementara Sophia menemani Nyonya Liz dan Tia."Kak, aku senang kalian bisa datang hari ini." Diego berkata
Lusa pun tiba.Reina dan Maxime menghadiri pernikahan Diego seperti yang telah dijanjikan.Reina mengira tidak banyak orang di dalam hotel, tetapi ketika sampai di pintu masuk, dia melihat beberapa pengusaha kaya juga datang.Reina bertanya-tanya, "Kenapa tamunya banyak sekali? Apa ada orang lain yang juga lagi melangsungkan pernikahan?"Begitu dia dan Maxime turun dari mobil, manajer hotel langsung menyambut mereka."Nyonya Reina, Tuan Maxime, kalian benar-benar datang?""Apa maksudnya?" tanya Reina sambil mengerutkan kening."Oh, Tuan Diego bilang akan menikah, Nyonya dan Tuan Maxime akan datang. Jadi, saya datang untuk menyambut kedatangan kalian." Manajer mengulurkan tangannya. "Kalian bisa lihat-lihat, kalau ada yang kurang, kalian bisa memberitahu saya."Mendengar manajer mengatakan ini, apa yang tidak bisa dimengerti oleh Reina?Rasanya seperti Diego memanfaatkannya dan Maxime sebagai alat untuk berteman dengan orang kaya dan terkenal."Sekarang aku tahu kenapa dia juga memintam
"Apa orang tua Hanna tahu tentang hal ini?" Maxime bertanya lagi."Pasti nggak tahu," jawab Reina.Mendengar itu, Maxime terdiam selama beberapa saat, lalu melanjutkan, "Jangan ikut campur sama masalah ini."Dia tahu bahwa orang tua Hanna mendesak Hanna untuk segera menikah. Namun mereka tidak akan menerima anak yatim piatu sebagai menantu mereka."Ya, aku mengerti."Reina dan Hanna hanyalah teman biasa, jadi Reina juga tidak akan ikut campur.Dia tidak bisa tidur lagi, jadi memutuskan untuk bangun.Maxime memeluknya dan tidak mau melepaskannya. "Tidurlah sebentar lagi.""Nggak bisa tidur." Reina menepis tangannya tanpa daya. "Aku mau bangun, aku mau kerja."Dia hanya ingin fokus untuk mengurus Grup Yinandar.Maxime terpaksa melepaskan tangannya karena takut Reina akan marah.Reina segera bangkit dari tempat tidur, tidak berani berada di dalam kamar tidur lebih lama lagi.Kenapa sebelum ini dia tidak sadar kalau Maxime memiliki kebiasaan bermalas-malasan di tempat tidur?...Sebelum Re