Ketika tiba di kantor polisi, Calvin segera digiring ke sebuah sel tahanan tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Saat seorang polisi hendak memasukkan Calvin ke dalam jeruji besi, Calvin menatap polisi tersebut dan bertanya, “kalian yakin tak mau mendengarkan penjelasan atau pembelaanku?”Si polisi tertawa seraya menggelengkan kepala. “Kami sudah berjanji kepada Mr. Miller untuk memastikan kau membusuk di penjara. Jadi, kau tak perlu berharap kami akan mendengar pembelaanmu. Siapa pula yang akan membela rakyat jelata sepertimu?”Calvin mengangguk dan tersenyum tipis lalu berbisik ke telinga si polisi, “ketahuilah, uang suap yang Phillip berikan kepada kalian tak akan cukup untuk membiayai pengobatan kalian nanti. Cepat hubungi Phillip, minta uang lebih banyak lagi atau kalian akan menyesal.”“Ha ha, kau kira kami ini anak kecil yang bisa kau takut-takuti seperti itu? Asal kau tahu saja, uang yang Phillip sumbangkan kepada kami bahkan lebih dari cukup untuk membeli gedung rumah
Sore hari, seorang sipir sedang berjalan santai menuju ke sel tahanan milik Calvin Reed. Ia sudah menyiapkan ponselnya untuk merekam keadaan terbaru dari Calvin Reed yang menurutnya pasti sudah babak belur dihajar narapidana yang lain.Senyum sipir itu mengembang mengingat Phillip Miller telah menjanjikan sejumlah bonus jika ia berhasil membuat Calvin Reed babak belur. Tentu saja, menurutnya misi tersebut bukanlah misi sulit mengingat sipir tersebut juga telah memasukkan Calvin ke dalam sel tahanan yang dihuni oleh narapidana dengan kekuatan bela diri yang tinggi.“Akan lebih baik aku melakukan video call langsung kepada Mr. Miller. Dengan begitu dia akan semakin puas melihat keadaan Calvin Reed!” batin si sipir seraya memencet nomor telepon Phillip Miller guna melakukan panggilan video.Video Call terhubung…“Halo, Mr. Hudson, apakah ada kabar terbaru tentang Calvin?” tanya Phillip Miller tak sabar. Dalam hati ia berharap Calvin mengalami gegar otak dan hilang ingatan.Lewis Hudson,
“Davis Moore?” Dahlia sedikit terkejut dengan kedatangan Davis yang tiba-tiba.Davis tersenyum membalas keterkejutan di wajah Dahlia. Nyatanya, kedatangannya di mansion Edward Miller bukanlah hal yang tiba-tiba. Hal itu tampak kian jelas saat Phillip dan Davis tak sengaja saling tersenyum satu sama lain, menandakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan rapat-rapat.Davis berjalan terburu-buru mendekati Dahlia. Ia ingin terlihat sebagai sosok pria yang baik hati dan peduli di mata Dahlia, perempuan yang masih selalu menjadi sosok tercantik di hatinya.“Dahlia, aku tak sengaja mendengar percakapan kalian dengan Mr. Miller barusan. Aku sangat mengenal sifat kaku Lady Rebecca, jadi, sebelum semuanya menjadi semakin rumit, kurasa kalian memang harus meninggalkan mansion ini,” ucap Davis dengan empati yang dibuat-buat.Edward Miller menggeleng lesu. “Kami tak memiliki tempat tinggal lagi. Ibu telah membekukan rekening kami hari ini, dan uang cash kami juga sudah disita oleh orang-orang suruha
“Keputusan yang sangat bijak, Dahlia!” pekik Davis Moore dengan nada ceria, hampir seperti seorang guru yang memuji muridnya. Ia bertepuk tangan pelan, bibirnya melengkung lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang terawat rapi. Matanya bersinar dengan kepuasan yang mendalam, seperti seorang aktor yang yakin bahwa lakon yang ia mainkan akan berakhir gemilang. Wajahnya menyiratkan kendali penuh atas situasi ini, meskipun ia menyembunyikan kegembiraan sejatinya di balik senyum yang tampak wajar. Dalam hati, ia bersorak, merasa kemenangan sudah di genggaman. Sebentar lagi, ia yakin Dahlia akan menjadi bukan hanya istrinya, tetapi juga sekutu penting dalam ambisi bisnisnya yang tak terbendung.Sementara itu, Dahlia hanya tersenyum getir. Bibirnya sedikit bergetar, dan ia menundukkan kepala, menyembunyikan kerutan kecil di keningnya yang mengungkapkan konflik batinnya. Suaranya terdengar pelan, seolah kata-kata yang keluar adalah duri yang melukai dirinya sendiri. “Aku akan segera mence
Malam itu, sekitar pukul delapan, suasana di sekitar villa terasa hening, hanya suara dedaunan yang berdesir pelan tertiup angin malam. Dahlia berdiri di beranda, menatap gelapnya malam dengan hati berdebar. Ia merapatkan jaketnya, berusaha menghalau dingin sekaligus rasa cemas yang menggigit. Dalam hatinya, ia merasa lega karena Davis Moore tiba-tiba harus menghadiri rapat di perusahaannya. Kepergian pria itu bak angin segar yang memberinya ruang untuk melaksanakan niatnya tanpa halangan.“Luna, kau sudah di depan villa? Cepat, jemput aku sekarang,” bisik Dahlia di telepon dengan suara pelan, memastikan agar tak ada yang mendengarnya.Tak lama kemudian, mobil Luna muncul di ujung jalan. Dahlia segera melangkah dengan hati-hati, sesekali menoleh ke kiri dan kanan, takut kalau-kalau Davis atau anak buahnya kembali dan menggagalkan rencananya. Saat ia masuk ke dalam mobil, Luna yang duduk di balik kemudi langsung menyambutnya dengan rentetan kata-kata tanpa jeda.“Dahlia, apa yang terja
Sebelumnya, Dahlia meminta Luna agar bersedia memberinya pinjaman sebesar satu juta dollar. Hal yang membuat Luna lebih terkejut lagi adalah, Dahlia hendak memberikan uang tersebut kepada Calvin Reed. “Aku masih sulit percaya. Kau ingin memberikan satu juta dollar itu untuk suami payahmu itu? Dahlia, coba pikir, apa imbalan yang akan kau dapat setelah kau memberinya uang? TIDAK ADA!” tegas Luna lagi.Dahlia tersenyum kaku. “Justru, aku sedang membalas budi kepadanya. Luna, kau tak pernah menjadi korban pelecehan sexual, jadi kau tak pernah tahu betapa putus asanya perasaanku waktu itu, sekaligus, betapa aku merasa beruntung Calvin telah menolongku,” ucap Dahlia berkata jujur. Ia memang beranggapan jika Calvin tak segera datang menyelamatkannya, ia akan berakhir menjadi mayat setelah Raymond Wang melecehkannya.Luna menguap, memberi isyarat jika ia bosan setiap kali mendengar Dahlia membela Calvin. Bagi Luna, seheroik apapun seorang laki-laki, jika dia miskin, laki-laki tersebut tetap
Davis berjalan menyusuri lorong penjara dengan langkah mantap, dinding-dinding dingin di sekitarnya seperti ikut memperkuat aura bangga yang memancar dari dirinya. Suara langkah kakinya menggema, seolah setiap langkah membawa perasaan penuh kemenangan yang ia simpan rapat-rapat selama ini. Wajahnya tampak dipenuhi senyum tipis yang sulit ditebak, campuran antara kesombongan dan rasa puas atas apa yang akan terjadi.Setelah beberapa waktu, Davis tiba di sebuah ujung lorong. Tepat di sisi kanan, terdapat sel tahanan tempat Calvin Reed ditahan. Davis berhenti sejenak, membiarkan matanya mengamati sekeliling sebelum akhirnya menatap ke dalam sel. Para narapidana lain terlihat terlelap, sementara sosok Calvin duduk santai di sebuah bangku kayu reyot. Tatapan Calvin terfokus pada jeruji besi di depannya, seperti sedang menunggu seseorang—namun jelas, Davis tahu, bukan dirinya.Davis menyunggingkan senyum lebarnya, menatap Calvin dengan penuh ejekan. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Ca
Setelah Calvin masuk ke dalam mobil, William Jones, dengan sikap sigap seperti biasanya, menyerahkan ponselnya yang sebelumnya sempat disita oleh polisi. Wajahnya tampak serius, namun di sela-sela itu, ada rasa lega karena akhirnya ia berhasil membebaskan bosnya. Calvin menerima ponsel itu tanpa berkata-kata, ekspresinya dingin namun penuh arti. Jari-jarinya langsung bergerak cepat membuka layar, matanya fokus mencari kontak Dahlia Miller. Seolah ia hanya memiliki satu prioritas di pikirannya.Namun, harapan Calvin pupus seketika saat layar menunjukkan bahwa nomor istrinya tidak aktif. Sebuah kerutan muncul di dahinya, dan jemarinya berhenti mengetuk layar. Ada kemungkinan yang lebih buruk menggelayut di pikirannya—Dahlia mungkin telah memblokir nomornya. Bibir Calvin mengatup rapat, tatapannya kosong beberapa saat sebelum ia menyadari adanya notifikasi pesan suara.Tanpa ragu, ia segera memutarnya. Suara lembut namun tegas milik Dahlia mengalun dari speaker ponsel, memenuhi kabin mob
William Jones menjemput Calvin Reed pukul lima sore hari di Enigma Fusion. Tak lupa, William juga telah membawakan setumpuk berkas yang sebelumnya telah dipesan oleh Calvin.“Semua informasi yang berkaitan dengan keluarga Maxim, kota Ravenswood, dan Whitestone Mansion telah saya rangkum ke dalam berkas itu, Mr. Reed. Tak lupa, saya juga telah membuat daftar nama keluarga-keluarga berpengaruh yang ada di kota Maplewood ini,” ucap William Jones tatkala menyerahkan berkas kepada Calvin yang tengah duduk di jok belakang.Calvin mengangguk dan berterima kasih. Seperti halnya ketika Calvin mengetahui banyak informasi tentang Enigma Fusion, termasuk ketersediaan air langka bernama Aether Spring, itu semua ia dapatkan dari informasi-informasi yang berhasil dirangkum oleh William Jones. Sudah menjadi kebiasaaan Calvin jika ia hendak pergi ke suatu tempat atau menghadiri acara tertentu, ia sebelumnya akan mempelajari banyak hal sebab memiliki pengetahuan luas selalu memberi keuntungan lebih bes
Sepulang dari Enigma Fusion Restaurant, Davis Moore hanya bisa diam membisu di dalam mobil. Wajahnya masam sementara telapak tangan dan kakinya terasa dingin akibat terlalu lama menahan amarah dan gelisah. Tak jauh berbeda dengan Davis Moore, Dahlia juga menampakkan wajah masam. Itu adalah untuk pertama kalinya Dahlia merasa tersinggung akibat diabaikan oleh seorang pria. Calvin Reed benar-benar tak menganggapnya ada. Pria itu sama sekali tak berbicara kepadanya sepanjang makan siang berlangsung. Jangankan berbicara, melirik saja tidak.‘Apa itu bentuk dari kecemburuannya?’ Dahlia membatin, lebih tepatnya mencari-cari alasan untuk menenangkan hatinya. ‘Ah, dia pasti sedang cemburu melihatku bersama Davis, dan begitulah sikapnya saat ia cemburu!’ batin Dahlia lagi, kali itu terbesit senyuman manis di bibirnya.“Dahlia, mengapa tiba-tiba kau tersenyum? Kau menertawai kesialan kita?!” tanya Davis yang duduk bersebelahan dengan Dahlia di jok belakang.“Eh?” Dahlia menoleh, sedikit terkej
Lanny dan Rose segera menunduk hormat ke arah pria tua yang baru datang, memperlihatkan sikap hormat yang mendalam. Sementara itu, Davis Moore menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat wajah pria tua parlente itu. Dahinya mengernyit sesaat, sebelum akhirnya ingatannya terpaku pada sosok Brandon Lee—pemilik Enigma Fusion.Davis Moore segera mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah. Dengan cepat ia melangkah sedikit ke depan, seolah ingin lebih dekat dengan pria berpengaruh itu. "Anda adalah Mr. Lee, iya kan? Wah, aku sedang sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan Anda siang ini," ucap Davis dengan semangat yang berlebihan, matanya berbinar penuh antusiasme.Dia tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan seseorang dari kelas sosial tinggi seperti Brandon Lee. Bagi orang kaya, memperbanyak koneksi adalah cara yang baik untuk mempertahankan kekuasaan.Brandon Lee mengerutkan kening, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum menatap Davis dan Calvin
‘Sial! Sial! Sial!’Davis Moore kembali meraung dalam hati. Ia benar-benar berada dalam situasi yang sangat merugikan reputasinya. Tetapi sejenak dia berpikir, bukankah harga dirinya kali ini sudah hancur?Dan ditambah lagi, dia masih harus menanggung beban biaya dua botol anggur yang harganya tak masuk akal. Maka, ketimbang dia hancur dua kali, Davis memilih untuk mengesampingkan harga dirinya.Dengan napas berat, ia mengepalkan tangan dan melirik ke arah Calvin. Bibirnya sedikit gemetar saat ia akhirnya memanggil nama pria itu dengan nada suara serak seperti tertahan di tenggorokan, “C– Calvin,...”Sedikit malas, Calvin menoleh ke belakang sambil menaikkan satu alis. “Eh?” Alisnya bertaut, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. “Kau sudah sangat putus asa dan mengharapkan uluran tanganku, begitu?”‘Bangsat sialan!’ Davis Moore mengumpat dalam hati tetapi tetap saja ia memaksa kepalanya untuk mengangguk perlahan. Dengan rahang mengeras, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya
Davis melotot tajam, rahangnya mengatup kuat menahan emosi. "Tutup mulutmu rapat-rapat. Telingaku sakit jika harus terus-menerus mendengar suara rakyat miskin!"Davis Moore mengibaskan jasnya dengan angkuh, bersiap berlalu pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Lanny melangkah ke hadapannya dengan tenang. "Tunggu, Mr. Moore. Anda bisa pergi, tetapi tentu saja setelah Anda menyelesaikan pembayaran untuk dua item yang sudah kami antarkan."Kening Davis bertaut, ekspresinya berubah dari angkuh menjadi kesal. Ia mendengus, menatap Lanny dengan tajam. "Aku bahkan belum mencicipinya, berani-beraninya kau memintaku untuk membayar anggur yang tak kuminum!"Lanny tetap mempertahankan sikapnya yang sopan. Dengan tangan terlipat di depan tubuhnya, ia menggeleng pelan. "Anda diwajibkan untuk membayar item yang Anda pesan, Mr. Moore. Terlepas apakah Anda meminumnya atau tidak, itu di luar urusan kami. Tolong kerja samanya."Davis Moore menggeleng dengan sinis, kemudian bersedekap, menatap Lanny
Kebodohan Davis Moore terpampang sempurna, membuat Calvin lagi-lagi ingin meledakkan tawa. Namun, alih-alih menertawai Davis, Calvin menunjukkan sikap yang berlawanan. Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi serius seakan menimbang-nimbang sesuatu.“Kau benar-benar bijak, Mr. Moore. Air putih memang sangat menyehatkan. Dan aku tersanjung kau bersedia mentraktirku minuman mewah itu,” ucap Calvin dengan senyum tipis, nada suaranya sedikit lebih rendah seolah memberi kesan mendalam.Davis mengerutkan kening, menatap Calvin dengan ragu. Lalu, seketika tawanya meledak, bahunya terguncang saat ia menepuk meja dengan ringan. “Kau memang aneh! Sebahagia itukah orang miskin saat ditraktir air putih di restoran mewah? Menyedihkan sekali!”Calvin tidak segera menjawab. Ia menarik napas pelan, lalu berdehem santai sembari merapikan lengan bajunya dengan sikap tanpa beban. “Maksudku, kau pasti tahu jika Enigma Fusion memiliki produk air putih yang diburu banyak
Beberapa menit kemudian, Lany datang membawa sebotol anggur lengkap dengan gelas-gelas tulip. Langkahnya ringan, tetapi ekspresinya tetap penuh kehati-hatian, seakan berusaha tidak menarik perhatian lebih dari dua pria yang tengah beradu ego. Di belakangnya, Rose—rekannya—juga membawa sebotol anggur serupa dengan gerakan hati-hati, sesekali melirik situasi yang tampaknya semakin tegang.Calvin menutup matanya sesaat, menghirup aroma anggur yang memenuhi udara. Ujung bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum puas seolah menikmati setiap momen kecil ini. Ia mengambil gelas anggur dan mengamatinya dalam pencahayaan restoran sebelum berucap dengan nada santai."Domaine de la Romanée-Conti…" gumamnya, memutar gelas di tangannya, menikmati kilaunya. "Kalian punya koleksi yang luar biasa."Davis menyipitkan mata, menilai setiap gerakan Calvin dengan tatapan tajam. Di matanya, pria itu terlihat seolah sengaja ingin memamerkan wawasannya yang luas tentang wine berkualitas. Perasaan muak mer
Calvin terbatuk ringan, tapi ekspresinya tetap santai seolah hinaan Davis hanyalah angin lalu. Alih-alih merespons, ia malah mengangkat satu tangan, jarinya melengkung sedikit, memberi isyarat kepada pelayan restoran. Gerakannya tenang, percaya diri, seakan dialah yang berkuasa di tempat ini.Seorang pelayan dengan name tag bertuliskan ‘Lany’ segera menghampiri, wajahnya penuh rasa hormat."Beri kami wine terbaik, termahal, terlangka yang kalian punya," ujar Calvin, nadanya ringan namun mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah.Lany menundukkan kepala sedikit. "Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar. Kami akan segera mengantarkan pesanan Anda."Calvin berdeham kecil, lalu menambahkan dengan nada malas, "Pastikan kau membawa yang terbaik. Dimengerti?"Lany kembali mengangguk, tapi sebelum ia sempat menjawab, sebuah dorongan kasar di pundaknya membuatnya sedikit terhuyung."Berhenti melayani pria itu!" bentak Davis Moore, suaranya tajam dan penuh kemarahan. "Aku yang membooking seluruh re
Saat Calvin Reed berlalu pergi, ponsel Davis Moore berdering dan pria itu segera mengangkat telepon tersebut.“Tentu saja! Mana mungkin aku membatalkan kencan pertamaku dengan Dahlia. Batalkan semua meeting siang ini karena aku sudah membuat reservasi ke Enigma Fusion Restaurant. Mengerti?!” ucap Davis membalas pertanyaan orang yang meneleponnya. Sepertinya dia sedang mendapat telepon dari sekretarisnya di kantor.Di saat yang sama, meski Calvin telah melangkah sedikit jauh, ia tetap mendengar dengan sangat jelas percakapan antara Davis Moore dengan sekretarisnya. Mengetahui jika istrinya akan diajak berkencan di Enigma Fusion Restaurant, Calvin berencana mencari tahu tentang restaurant tersebut untuk melakukan sesuatu.“Hey, Calvin Reed!”Di luar dugaan Calvin, Davis berteriak memanggilnya, membuat Calvin dengan enggan menoleh ke belakang sembari mengerutkan kening. “Calvin, nanti siang pukul satu jika kau berkenan datanglah ke Enigma Fusion! Kau pasti tak pernah makan enak di resto