Dengan perasaan putus asa yang terpancar jelas di wajahnya, salah satu anak buah Raymond Wang berlutut dengan kasar, tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia bersujud hingga dahinya menyentuh lantai, menghadap langsung ke arah Calvin Reed. Suaranya bergetar penuh ketakutan ketika ia mulai berbicara.“Tuan Muda… Tolong ampuni kebodohan kami ini…” ucapnya dengan nada hampir menangis. Bibirnya bergerak dengan susah payah, seolah-olah setiap kata yang keluar adalah beban berat. “Kami bersedia menjadi budak Anda selama Anda mengampuni kami… Kami sungguh tidak berniat menyinggung Tuan Muda, tolong, tolong ampuni kami, Tuan Muda.”Keringat dingin membasahi pelipisnya, ia menunduk lebih dalam, tubuhnya kini gemetar hebat, menunjukkan bahwa ketakutannya benar-benar tak dibuat-buat.Bagi pria itu, melawan Calvin Reed bukanlah pilihan, meski ia bahkan belum mencoba, hasilnya sudah jelas. Calvin adalah monster yang tidak bisa mereka lawan, dan melawan hanya akan mempercepat kehancuran. Ia tahu, bahkan
Sementara itu, di mansion Lady Rebecca, suasana terasa begitu kontras dengan kesuraman yang membayangi nasib Dahlia. Di ruang makan yang luas dan penuh gemerlap, Phillip sedang menikmati makan malam mewah bersama seluruh keluarga Miller. Meja panjang berlapis kain sutra putih dihiasi dengan lilin-lilin elegan yang memancarkan cahaya lembut, sementara aroma masakan daging panggang bercampur rempah-rempah memenuhi udara. Tak hanya itu, Phillip telah mengeluarkan cukup banyak uang demi membeli sebotol anggur vintage dengan label emas, yang kini berdiri megah di tengah meja. Ia tampak berseri-seri, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu menatap Ryan Miller dengan kebanggaan yang sulit disembunyikan.“Untuk keberhasilan Ryan, yang kini telah merebut posisi CEO dari tangan Dahlia,” ucap Phillip dengan senyum puas, sebelum menyesap anggurnya perlahan, seolah menikmati setiap tetesnya.Namun, Edward yang duduk di ujung meja hanya bisa menatap dengan sorot mata yang dipenuhi rasa miris. Ia me
“Nenek, aku salut pada kehati-hatian tindakanmu,” ucap Calvin, dengan nada yang seolah tulus, namun senyum tipis di sudut bibirnya menyiratkan nada sindiran. Tatapan matanya yang tajam menembus Lady Rebecca, membuat wanita tua itu sedikit mengangkat dagunya, seakan ingin menunjukkan dominasinya. “Ryan, ayo ikut denganku dan pastikan matamu tak berkedip sedetik pun, atau aku benar-benar akan membawa kabur mobil sepupumu.”Ryan berdiri perlahan, menatap Calvin dengan sorot mata penuh kebencian. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal seolah siap melayangkan pukulan kapan saja. Namun, alih-alih berbicara, ia hanya mendengus pelan dan mengikuti langkah Calvin menuju pintu keluar mansion.Di dalam mansion, Edward yang masih memegang tubuh lemas Dahlia, mencoba berbicara dengan nada memohon, “Ibu, izinkan aku membawa putriku ke kamar tamu. Dia benar-benar butuh istirahat.”Lady Rebecca mengernyit, menatap Edward seperti menatap pelayan yang berani melawan majikan. “Tidak bisa!” ben
Usai pulang dari pesta makan malam di mansion Lady Rebecca, Edward Miller mengajak Calvin Reed untuk pertama kali menginap di rumahnya. Bagaimanapun, kini Calvin telah menjadi menantunya dan sudah sewajarnya ia mengizinkan Calvin Reed untuk tidur di kamar Dahlia.Calvin merasa tak keberatan dengan penawaran ayah mertuanya. Lagipula, ia memang ingin memantau keadaan Dahlia mengingat Dahlia sepertinya mengalami shock berat sesaat sebelum para anak buah Raymond Wang menyerang Calvin. Dugaan Calvin, Dahlia mengalami panic attack karena mengira Calvin Reed akan tewas dalam hitungan detik sementara dia akan menjadi korban pelecehan seksual dari anak buah Raymond Wang.“Calvin, sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi di tempat Raymond Wang. Tapi, kurasa kalian berdua sudah sangat kelelahan, jadi, beristirahatlah,” ucap Edward Miller sesaat setelah ia mengantarkan Calvin ke kamar Dahlia. “Oh ya, pakaianmu penuh dengan darah tapi sepanjang aku meneliti, sepertinya tak ada luka
Di saat yang sama, mata Dahlia menangkap sesosok bayangan dari arah kamar mandi. Ia pun menoleh, sedikit terkejut, ia mengucek-ucek matanya sendiri lalu menggelengkan kepala.“Ah… Kau ada di sini? Syukurlah berarti ini hanya mimpi, ha ha!” gumam Dahlia seraya meremas-remas rambutnya sendiri lalu merengek meminta Calvin untuk mendekatinya. “Karena ini hanya mimpi, kemarilah, berikan aku milikmu yang besar itu. Oh, sebenarnya aku diam-diam merindukannya…”Calvin terbatuk. Sebagai pria dewasa yang normal, ia merasa bangga Dahlia memuji kejantanannya.“Hei, kenapa diam di situ… Kemarilah…! Lihat, milikku sudah basah,” erang Dahlia tanpa malu, sebab memang ia tak sadar sepenuhnya.Calvin menggelengkan kepalanya lagi lalu berjalan mendekat. Bukan untuk meladeni Dahlia melainkan untuk memulai proses penyembuhan penyakit aneh istrinya tersebut.Saat Calvin menghampiri ranjang Dahlia, gadis itu segera meraih pundak Calvin dan menariknya sekuat tenaga.“Remas aku di sini…” Dahlia mengerang sera
Pagi itu, ketika Calvin Reed baru saja menuruni tangga setelah keluar dari kamar Dahlia, sayup-sayup ia mendengar suara ribut di lantai bawah.Calvin Reed buru-buru menuruni tangga, berjalan cepat menuju ke ruang tamu, dan di sana ia menemukan Phillip Miller sedang mengamuk memecahkan beberapa vas bunga di meja ruang tamu.“Ini semua gara-gara kelakuan menantumu yang bajingan itu! Sekarang, kita semua harus menanggung kerugian besar!” bentak Phillip Miller seraya membanting apapun yang berada dalam jangkauan tangannya.Calvin Reed mengerutkan kening lalu mendekat ke arah keributan.“Ayah, paman, ada apa ini?” tanya Calvin penasaran, lebih-lebih Phillip menyebutnya sebagai biang kerok akan suatu ‘musibah’.Edward belum sempat menjawab pertanyaan Calvin ketika secara sigap Emily Miller berjalan mendekati Calvin dengan mata merah karena marah.“Ini semua gara-gara ulahmu, bodoh!”SLAP!!!Emily membentak Calvin seraya melayangkan tamparan cukup keras. Namun, tentu saja tamparan Emily hany
Ketika tiba di kantor polisi, Calvin segera digiring ke sebuah sel tahanan tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Saat seorang polisi hendak memasukkan Calvin ke dalam jeruji besi, Calvin menatap polisi tersebut dan bertanya, “kalian yakin tak mau mendengarkan penjelasan atau pembelaanku?”Si polisi tertawa seraya menggelengkan kepala. “Kami sudah berjanji kepada Mr. Miller untuk memastikan kau membusuk di penjara. Jadi, kau tak perlu berharap kami akan mendengar pembelaanmu. Siapa pula yang akan membela rakyat jelata sepertimu?”Calvin mengangguk dan tersenyum tipis lalu berbisik ke telinga si polisi, “ketahuilah, uang suap yang Phillip berikan kepada kalian tak akan cukup untuk membiayai pengobatan kalian nanti. Cepat hubungi Phillip, minta uang lebih banyak lagi atau kalian akan menyesal.”“Ha ha, kau kira kami ini anak kecil yang bisa kau takut-takuti seperti itu? Asal kau tahu saja, uang yang Phillip sumbangkan kepada kami bahkan lebih dari cukup untuk membeli gedung rumah
Sore hari, seorang sipir sedang berjalan santai menuju ke sel tahanan milik Calvin Reed. Ia sudah menyiapkan ponselnya untuk merekam keadaan terbaru dari Calvin Reed yang menurutnya pasti sudah babak belur dihajar narapidana yang lain.Senyum sipir itu mengembang mengingat Phillip Miller telah menjanjikan sejumlah bonus jika ia berhasil membuat Calvin Reed babak belur. Tentu saja, menurutnya misi tersebut bukanlah misi sulit mengingat sipir tersebut juga telah memasukkan Calvin ke dalam sel tahanan yang dihuni oleh narapidana dengan kekuatan bela diri yang tinggi.“Akan lebih baik aku melakukan video call langsung kepada Mr. Miller. Dengan begitu dia akan semakin puas melihat keadaan Calvin Reed!” batin si sipir seraya memencet nomor telepon Phillip Miller guna melakukan panggilan video.Video Call terhubung…“Halo, Mr. Hudson, apakah ada kabar terbaru tentang Calvin?” tanya Phillip Miller tak sabar. Dalam hati ia berharap Calvin mengalami gegar otak dan hilang ingatan.Lewis Hudson,
William Jones menjemput Calvin Reed pukul lima sore hari di Enigma Fusion. Tak lupa, William juga telah membawakan setumpuk berkas yang sebelumnya telah dipesan oleh Calvin.“Semua informasi yang berkaitan dengan keluarga Maxim, kota Ravenswood, dan Whitestone Mansion telah saya rangkum ke dalam berkas itu, Mr. Reed. Tak lupa, saya juga telah membuat daftar nama keluarga-keluarga berpengaruh yang ada di kota Maplewood ini,” ucap William Jones tatkala menyerahkan berkas kepada Calvin yang tengah duduk di jok belakang.Calvin mengangguk dan berterima kasih. Seperti halnya ketika Calvin mengetahui banyak informasi tentang Enigma Fusion, termasuk ketersediaan air langka bernama Aether Spring, itu semua ia dapatkan dari informasi-informasi yang berhasil dirangkum oleh William Jones. Sudah menjadi kebiasaaan Calvin jika ia hendak pergi ke suatu tempat atau menghadiri acara tertentu, ia sebelumnya akan mempelajari banyak hal sebab memiliki pengetahuan luas selalu memberi keuntungan lebih bes
Sepulang dari Enigma Fusion Restaurant, Davis Moore hanya bisa diam membisu di dalam mobil. Wajahnya masam sementara telapak tangan dan kakinya terasa dingin akibat terlalu lama menahan amarah dan gelisah. Tak jauh berbeda dengan Davis Moore, Dahlia juga menampakkan wajah masam. Itu adalah untuk pertama kalinya Dahlia merasa tersinggung akibat diabaikan oleh seorang pria. Calvin Reed benar-benar tak menganggapnya ada. Pria itu sama sekali tak berbicara kepadanya sepanjang makan siang berlangsung. Jangankan berbicara, melirik saja tidak.‘Apa itu bentuk dari kecemburuannya?’ Dahlia membatin, lebih tepatnya mencari-cari alasan untuk menenangkan hatinya. ‘Ah, dia pasti sedang cemburu melihatku bersama Davis, dan begitulah sikapnya saat ia cemburu!’ batin Dahlia lagi, kali itu terbesit senyuman manis di bibirnya.“Dahlia, mengapa tiba-tiba kau tersenyum? Kau menertawai kesialan kita?!” tanya Davis yang duduk bersebelahan dengan Dahlia di jok belakang.“Eh?” Dahlia menoleh, sedikit terkej
Lanny dan Rose segera menunduk hormat ke arah pria tua yang baru datang, memperlihatkan sikap hormat yang mendalam. Sementara itu, Davis Moore menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat wajah pria tua parlente itu. Dahinya mengernyit sesaat, sebelum akhirnya ingatannya terpaku pada sosok Brandon Lee—pemilik Enigma Fusion.Davis Moore segera mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah. Dengan cepat ia melangkah sedikit ke depan, seolah ingin lebih dekat dengan pria berpengaruh itu. "Anda adalah Mr. Lee, iya kan? Wah, aku sedang sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan Anda siang ini," ucap Davis dengan semangat yang berlebihan, matanya berbinar penuh antusiasme.Dia tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan seseorang dari kelas sosial tinggi seperti Brandon Lee. Bagi orang kaya, memperbanyak koneksi adalah cara yang baik untuk mempertahankan kekuasaan.Brandon Lee mengerutkan kening, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum menatap Davis dan Calvin
‘Sial! Sial! Sial!’Davis Moore kembali meraung dalam hati. Ia benar-benar berada dalam situasi yang sangat merugikan reputasinya. Tetapi sejenak dia berpikir, bukankah harga dirinya kali ini sudah hancur?Dan ditambah lagi, dia masih harus menanggung beban biaya dua botol anggur yang harganya tak masuk akal. Maka, ketimbang dia hancur dua kali, Davis memilih untuk mengesampingkan harga dirinya.Dengan napas berat, ia mengepalkan tangan dan melirik ke arah Calvin. Bibirnya sedikit gemetar saat ia akhirnya memanggil nama pria itu dengan nada suara serak seperti tertahan di tenggorokan, “C– Calvin,...”Sedikit malas, Calvin menoleh ke belakang sambil menaikkan satu alis. “Eh?” Alisnya bertaut, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. “Kau sudah sangat putus asa dan mengharapkan uluran tanganku, begitu?”‘Bangsat sialan!’ Davis Moore mengumpat dalam hati tetapi tetap saja ia memaksa kepalanya untuk mengangguk perlahan. Dengan rahang mengeras, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya
Davis melotot tajam, rahangnya mengatup kuat menahan emosi. "Tutup mulutmu rapat-rapat. Telingaku sakit jika harus terus-menerus mendengar suara rakyat miskin!"Davis Moore mengibaskan jasnya dengan angkuh, bersiap berlalu pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Lanny melangkah ke hadapannya dengan tenang. "Tunggu, Mr. Moore. Anda bisa pergi, tetapi tentu saja setelah Anda menyelesaikan pembayaran untuk dua item yang sudah kami antarkan."Kening Davis bertaut, ekspresinya berubah dari angkuh menjadi kesal. Ia mendengus, menatap Lanny dengan tajam. "Aku bahkan belum mencicipinya, berani-beraninya kau memintaku untuk membayar anggur yang tak kuminum!"Lanny tetap mempertahankan sikapnya yang sopan. Dengan tangan terlipat di depan tubuhnya, ia menggeleng pelan. "Anda diwajibkan untuk membayar item yang Anda pesan, Mr. Moore. Terlepas apakah Anda meminumnya atau tidak, itu di luar urusan kami. Tolong kerja samanya."Davis Moore menggeleng dengan sinis, kemudian bersedekap, menatap Lanny
Kebodohan Davis Moore terpampang sempurna, membuat Calvin lagi-lagi ingin meledakkan tawa. Namun, alih-alih menertawai Davis, Calvin menunjukkan sikap yang berlawanan. Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi serius seakan menimbang-nimbang sesuatu.“Kau benar-benar bijak, Mr. Moore. Air putih memang sangat menyehatkan. Dan aku tersanjung kau bersedia mentraktirku minuman mewah itu,” ucap Calvin dengan senyum tipis, nada suaranya sedikit lebih rendah seolah memberi kesan mendalam.Davis mengerutkan kening, menatap Calvin dengan ragu. Lalu, seketika tawanya meledak, bahunya terguncang saat ia menepuk meja dengan ringan. “Kau memang aneh! Sebahagia itukah orang miskin saat ditraktir air putih di restoran mewah? Menyedihkan sekali!”Calvin tidak segera menjawab. Ia menarik napas pelan, lalu berdehem santai sembari merapikan lengan bajunya dengan sikap tanpa beban. “Maksudku, kau pasti tahu jika Enigma Fusion memiliki produk air putih yang diburu banyak
Beberapa menit kemudian, Lany datang membawa sebotol anggur lengkap dengan gelas-gelas tulip. Langkahnya ringan, tetapi ekspresinya tetap penuh kehati-hatian, seakan berusaha tidak menarik perhatian lebih dari dua pria yang tengah beradu ego. Di belakangnya, Rose—rekannya—juga membawa sebotol anggur serupa dengan gerakan hati-hati, sesekali melirik situasi yang tampaknya semakin tegang.Calvin menutup matanya sesaat, menghirup aroma anggur yang memenuhi udara. Ujung bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum puas seolah menikmati setiap momen kecil ini. Ia mengambil gelas anggur dan mengamatinya dalam pencahayaan restoran sebelum berucap dengan nada santai."Domaine de la Romanée-Conti…" gumamnya, memutar gelas di tangannya, menikmati kilaunya. "Kalian punya koleksi yang luar biasa."Davis menyipitkan mata, menilai setiap gerakan Calvin dengan tatapan tajam. Di matanya, pria itu terlihat seolah sengaja ingin memamerkan wawasannya yang luas tentang wine berkualitas. Perasaan muak mer
Calvin terbatuk ringan, tapi ekspresinya tetap santai seolah hinaan Davis hanyalah angin lalu. Alih-alih merespons, ia malah mengangkat satu tangan, jarinya melengkung sedikit, memberi isyarat kepada pelayan restoran. Gerakannya tenang, percaya diri, seakan dialah yang berkuasa di tempat ini.Seorang pelayan dengan name tag bertuliskan ‘Lany’ segera menghampiri, wajahnya penuh rasa hormat."Beri kami wine terbaik, termahal, terlangka yang kalian punya," ujar Calvin, nadanya ringan namun mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah.Lany menundukkan kepala sedikit. "Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar. Kami akan segera mengantarkan pesanan Anda."Calvin berdeham kecil, lalu menambahkan dengan nada malas, "Pastikan kau membawa yang terbaik. Dimengerti?"Lany kembali mengangguk, tapi sebelum ia sempat menjawab, sebuah dorongan kasar di pundaknya membuatnya sedikit terhuyung."Berhenti melayani pria itu!" bentak Davis Moore, suaranya tajam dan penuh kemarahan. "Aku yang membooking seluruh re
Saat Calvin Reed berlalu pergi, ponsel Davis Moore berdering dan pria itu segera mengangkat telepon tersebut.“Tentu saja! Mana mungkin aku membatalkan kencan pertamaku dengan Dahlia. Batalkan semua meeting siang ini karena aku sudah membuat reservasi ke Enigma Fusion Restaurant. Mengerti?!” ucap Davis membalas pertanyaan orang yang meneleponnya. Sepertinya dia sedang mendapat telepon dari sekretarisnya di kantor.Di saat yang sama, meski Calvin telah melangkah sedikit jauh, ia tetap mendengar dengan sangat jelas percakapan antara Davis Moore dengan sekretarisnya. Mengetahui jika istrinya akan diajak berkencan di Enigma Fusion Restaurant, Calvin berencana mencari tahu tentang restaurant tersebut untuk melakukan sesuatu.“Hey, Calvin Reed!”Di luar dugaan Calvin, Davis berteriak memanggilnya, membuat Calvin dengan enggan menoleh ke belakang sembari mengerutkan kening. “Calvin, nanti siang pukul satu jika kau berkenan datanglah ke Enigma Fusion! Kau pasti tak pernah makan enak di resto