“Pertemuan-pertemuan yang terus berlanjut, yang akhirnya mengukuhkan berjuta-juta asumsi di kepala seseorang. Asumsi-asumsi itu selalu terhubung dengan sebuah konsep bernama perasaan.”
-----------
Nabilla keluar kelas saat jam istirahat, di depan kelasnya sudah menunggu ke tiga sahabatnya, Jihan, Narendra, dan Olivia. Saat mereka melangkah menyusuri lorong menuju kantin tak hentinya Olivia terpekik histeris saat membicarakan abang sepupu Narendra, siapa lagi kalau bukan si Alvaro. “Jadi dia itu, abang sepupu lo yang dari Jakarta itu?” Tanya Olivia kepada Narendra.
"Hemmm…” Jawab Narendra malas. Bagaimana Narendra tidak males dan kesal kalau dari tadi para kaum hawa di sekolahnya banyak yang ngepoin abangnya itu.
Olivia memegang lengan Narendra dan menggoncang-goncangkan pelan, “Sumpah abang kamu ganteng abis, plisss… bantuin aku buat pedekate sama abang kamu dong Ndra.” Ujarnya pada Narendra.
“What..” Pekik Narendra heboh.
“Ok, seengaknya biar abang kamu lirik aku dikit, Ndra..” Ucap Olivia memelas pada sahabatnya itu.
Narendra memutar bola matanya jengah, “Woi… Olivia Fernanda anaknya om Kelvin Antoni Fernando, kamu pengen aku di gantung sama Beriel di ring basket.” Ujar Narendra kesal, sementara Olivia hanya nyengir sambil mengangkat tangannya yang membetuk ‘V’.
“Abis abang kamu super kece gitu, iya kan Na.” Olivia memandang Nabilla yang sedari tadi hanya mendengarkan.
“Tau ah,” Sahut Narendra kesal.
Nabilla dan Jihan terkekeh melihat Narendra yang merengut kesal, “Eh Na, kemarin malam aku lihat mbak Linda sama o.., Awwww.” Jihan yang ingin mengalihkan pembicaraan tentang abangnya Narendra menghentikan ucapannya karena dapat injakan dari Olivia.
“Sama siapa, mbak?” Tanya Nabilla.
Jihan menggaruk kepalanya, “Eh anu…..”
“Nabilla!” Teriak sesorang saat mereka melangkah memasuki kantin. Merekapun menghentikan langkah dan menoleh kearah datagnya suara. Dan ternyata Adlan Gazi Rhamadan si ketua osis yang tengah melambaikan tanganya sembari berlari ke arahnya.
“Kamu disuruh menemui kepala sekolah sekarang.” Ujarnya dan dianggukan mengerti oleh Nabilla.
Nabillapun segera menemui kepala sekolah, sementara sahabat-sahabatnya menunggu di kantin dan memesankan makanan untuk Nabilla. “ Han, hampir aja kamu keceplosan.” Ujar Olivia meletakkan nampan yang berisi empat bakso ke meja.
“Sorry.” Ujar Jihan menyesal.
“Keceplosan apa sih?” Tanya Narendra yang memang tidak mengerti apa yang Jihan dan Olivia bahas.
“Rahasia.” Ujar Jihan.
“Ohhh jadi sekarang kalian main rahasia-rahasiaan sama aku ya?” Tanya Narendra namun tidak ada respon dari Jihan dan Olivia.
“Beb, kok kamu gitu sih sama aku.” Rengeknya pada Jihan namun Jihan tetap diam, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
Karena jengah dengan rengekan Narendra akhirnya Olivia pun bercerita padanya. “ Tapi kamu janji bakalan teraktir kita-kita, ya.” Ujarnya sebelum mulai bercerita.”
“Siap, pokoknya selama satu minggu aku bakalan teraktir kalian.” Ujarnya sembari memperlihatkan dompet tebalnya.
“Wihhh, eh tapi itu halalkan beb?” Tanya Jihan, ia khawatirkan pacarnya itu berbuat nggak benar buat mendapatkan uang sebanyak itu.
“Tenang, selama abangku stay di sini, kalian nggak bakalan kelaparan.” Ujarnya bangga dan dibalas senyum bahagia oleh Jihan dan Olivia.
Jihan menghela nafas sebelum bercerita pada Narendra.” Jadi, kemarin aku nganter Oliv ke hotel ayahnya buat nganter berkas, dan di sana kita melihat mbak Linda sama om-om. Setelah kita cari tahu ternyata…” Jihan menjeda ucapannya dan menghela nafas kasar. “ Ternyata mbak Linda itu, sugar baby..” Ujarnya sedih.
“What…” Narendra tersedak es teh yang sedang diminumnya, hingga tidak sengaja menyembur ke arah Olivia yang duduk di sebrangnya.
“Ihhhhh…, Narendra jorok banget sih kamu.” Kesal Olivia yang mengambil tisu untuk mengelap air yang singgah di seragamnya.
“Sorry…sorry, aku kaget sumpah.” Katanya
“Jadi mbaknya Nabilla jadi simpanan om-om, gitu?” Tanyanya yang masih belum percaya.
“Hemmm, kita harus lindungin Nabilla supaya dia nggak terjerumus ke dunia hitam kayak ibu dan kakanya.” Ujar Jihan, ia bertekat akan melindungi Nabilla. Ia sangat menyayangi Nabilla seperti adiknya sendiri. Ia tidak ingin gadis baik itu terjerumus ke dunia hitam itu.
---
Sepulang sekolah Nabilla mengayuh sepedanya menyusuri jalan untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Namun sudah empat café yang ia datangi, namu semuanya menolak dengan alasan karena Nabilla mengenakan jilbab dan usianya yang masih di bawah umur.
Nabilla memarkirkan sepedanya di sebuah masjid saat mendengar azan ashar, kakinya terasa nyeri karena sudah terlalu jauh ia mengayuh sepeda ditambah ini baru pertama ia naik sepeda setelah sekian lama ia naik angkutan umum.
Dalam sujud Nabilla tidak terasa air mata keluar dari mata indahnya, ia meratapi takdir yang menurutnya sangat tidak adil. Jujur saat ini Nabilla sangat sedih, uangnya hampir habis persediaan beras dan lain-lain juga hampir habis. Ibunya boro-boro ngasih uang, lagian Nabilla juga enggan menerima uang dari ibunya seandainya ibunya memberikan ia uang, karena Nabilla tahu dari mana uang yang dihasilkan ibunya itu.
Setelah selesai sholat, Nabilla menghapus air matanya, ia menghela nafas dan tersenyum menyemangati dirinya sendiri. Dirinya tidak boleh mengeluh, Allah hanya ingin melihat kesabarannya sampai mana.
Nabilla pun memutuskan pulang dan akan melanjutkan mencari pekerjaan besok. Nanti malam ia akan bertanya pada sahabatnya apakah mereka mempunyai informasi tentang pekerjaan paruh waktu.
Sampai di halaman rumahnya, Nabilla menghela nafas kasar saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Ia sudah hafal, pasti itu pelanggan ibunya, Nabilla pun memilih masuk rumah dari pintu belakang.
Nabilla membuka pintu belakang pelan, ia melangkah pelan menuju kamarnya. Namun sialnya ia disuguhkan pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat namun sering ia lihat sejak usianya delapan tahun.
“Enggghhhhh.” Lenguhan dari ruang tamu terdengar, Nabilla memejamkan matanya setelah sekilas melihat ibunya tengah menungging tanpa sehelai benang melekat di tubuhnya. Jangan lupakan seorang pria yang tengah menggarapi ibunya dengan bringas. Pria yang berbeda dari hari sebelum-sebelumnya itu tak gencar mengeluar masukkan kejantanannya pada inti ibunya.
“Ahhhh… pelan-pelan sayang… ahhh..”
Deritan sofa bersama dengan rintihan ibunya lagi-lagi menyapa lubang telinganya, “Astagfirullahalazim.” Tidak hentinya Nabilla beristigfar dalam hati, belum lagi benturan tubuh ibunya dengan tubuh pria itu dengan penuh hasrat menyapa memenuhi rumah yang terasa hening itu.
Nabilla segera masuk ke dalam kamar dengan sangat pelan hingga ibunya tidak menyadari dirinya sudah pulang. Buru-buru ia mengambil ponselnya dan menyumbat telinganya dengan earphone supaya tidak mendengar suara laknat itu. Ia pun harus menunda mandi, karena kamar mandi di rumahnya hanya ada satu dan terletak di luar di dekat dapur. Ia akan menunggu ibunya selesai dengan aktifitasnya terlebih dahulu. Nabilla mengetikan pesan di group w******p dimana ia dan sahabat-sahabatnya sering berbagi canda dan saling menyemangati. Ia berharap sahabat-sahabatnya mempunyai informasi tentang lowongan pekerjaan paruh waktu, supaya ia bisa menghidupi dirinya dengan uang yang halal.
Di sisi lain……
Narendra tengah menemani Varo yang sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan di meja. Narendra yang sedang memainkan game online, menghentikan aktivitasnya sejenak setelah melihat notif dari group whatsappnya.
The cuby cupy
5 pesan belum terbaca
Nabilla Tya:
Assalamualaikum, sahabatku yang cantik-cantik dan ganteng. Kalian ada info loker part time nggak? Kalau ada kasih tau Nabilla ya.
Bebeb JihanKamu mau kerja part time, Na? Kenapa?
Nabilla Tya
Iya, mbak. Besok aku cerita deh, mbak Jihan ada info nggak?
Oliv Fernan
Nanti aku tanyain ke ayah, mungkin di hotel ayah ada loker.
Bebeb Jihan
Aku nggak ada, Na. Tapi nanti kalau ada pasti aku kasih tau ke kamu. Janji ya besok cerita sama kita-kita.
Ternyata membahas Nabilla yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Narendra hendak membalas pesan bahwa ia juga tidak ada informasi tentang loker part time. Namun ia mengehentikan jarinya yang sedang mengetik pesan, kemudian melirik Varo yang sedang membaca berkas-berkas di meja. Senyum tersungging di bibirnya, sepertinya ia tahu sesorang yang bisa membantunya. “Bang…” Panggilnya mendekat ke meja di mana Varo tengah sibuk dengan kertas-kertasnya.
“Hemmm.” Jawab Varo tanpa mengalihkan pandangann dari kertas-kertas itu.
“Boleh minta tolong nggak?” Tanyanya.
“Temen gue kan lagi butuh pekerjaan part time, abang mau nggak ngasih dia kerjaan. Dia kerja apa aja pasti mau kok bang yang penting halal. Tapi dia pakai jilbab, usianya juga belum genap tujuh belas tahun.” Jelasnya pada Varo.
Varo menghentikan membaca berkas di tagannya, namun pendanganya masih tetap di kertas itu. “ Memang teman kamu itu siapa?” Varo mulai merapikan berkas-berkas yang sebelumnya berantakan di mejanya.
“Nabilla, bang. Dia lagi butuh pekerjaan part time.” Ujar Narendra.
Mendengar Nabilla yang membutuhkan pekerjaan, hati Varo menjadi bimbang. Ia bingung harus senang atau sedih, di sisi lain ia senang karena kalau ia memberikan pekerjaan pada Nabilla, sudah dipastikan dirinya akan bertemu gadis itu setiap hari dan ia bisa lebih tahu lebih jauh tentang Nabilla. Namun di sisi lain ia juga sedih, karena melihat gadis jelita itu harus merasakan kerasnya dunia kerja di usia yang masih di bawah umur serta statusnya yang masih pelajar SMA.
Alvaro menghela nafas pelan, kemudian menatap Narendra. “Suruh dia ke Queen hotel besok.” Ujar Varo akhirnya, entah hatinya tiba-tiba memilih memutuskan begitu saja.
Bersambung…….
"Saat semangat sedang layu, kalian sahabat yang selalu ada. Cahayakan pagi, damaikan malam dan terbitkan senyum dibibir. Saat-saat bersama kalian, tidak akan pernah terlupakan karena terasa indah, terimaksih sahabat."----------Seperti biasa, setelah shalat subuh Nabilla membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Walaupun Nabilla sering tidak pernah diberikan sarapan oleh ibu dan kakaknya.Pagi ini Nabilla memilih memasak nasi goreng, Alhamdulillah tadi malam ada tetangga yang sedang menggelar hajatan dan memberikan berkat kenduri ke rumah Nabilla. Setelah usai dengan pekerjaan rumahnya, Nabilla bersiap untuk sekolah sebelum ia bertemu dengan ibu dan Linda, Nabilla takut mereka akan melarang dirinya untuk berangkat sekolah. Mengingat semalam ibunya kembali menyuruhnya untuk berhenti sekolah dan lebih baik bekerja.Nabilla telah sampai di sekolah sedikit lebih awal dari biasanya, ketika ia ingin mendorong se
"Perasaan tidak sesederhana gaya aksi reaksi. Saat perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tidak terkira, tetap saja dia bukan rumus fisika. Yang namanya perasaan tetap saja perasaan." ---------- Dengan perasaan takut Nabilla berjalan mengikuti seorang perempuan, ia takut jika dirinya akan ditolak lagi. Perempuan itu mengantarkan Nabilla hingga didepan ruangan CEO hotel itu, dengan jantung berdebar Nabilla membuka pintu ruangan itu. “Permisi, pak.” Sapanya sopan. Pria dengan kemeja biru muda itu menatap Nabilla dengan terkejut, walaupum ia sudah tahu ia akan bertemu gadis cantik itu. Gadis cantik yang akhir-akhir ini mencuri hatinya, entah karena apa. Yang past
Damage!!! Area 18++, yang tidak suka, abaikan.“Tingkah laku anak tidak akan jauh berbeda dengan tingkah laku orang tuanya, yang memang berperan sebagai contoh dan panutan dalam bertingkah laku. Sudah seharusnya orang tua bertingkah laku yang baik di depan anak-anaknya, baik perilaku maupun tutur kata. Karena sejatinya anak adalah cerminan dari orang tuanya, baik buruk anak juga baik buruknya orang tua.”----------Pria paruh baya terlihat tengah bersandar di jok mobilnya, memejamkan matanya menikmati genggaman tangan seorang perempuan muda berusia dua puluh tahun pada kejantanannya. Sementara si perempuan muda itu mendesis gemas sembari jempolnya menyapu ujung kejantanan pria paruh baya itu. Pria itu menggelinjang pelan penuh kenikmatan ketika tangan halus itu menggenggam kejantanannya. Dengan pelan perempuan muda itu mulai mengkaraoke kejantanan pria itu naik turun dengan tangannya, sang perempu
“Dan tentu segenggam berlian tidak ada bandingannya dengan sebuah emas, pun begitu dengan wanita baik-baik tidak ada bandingannya sekalipun disandingkan dengan wanita yang jauh lebih cantik namun tidak mempunyai rasa malu dalam dirinya.----------Usia kandungan Kanaya menginjak empat bulan, dan selama itu Kanaya harus bersabar dengan kehamilan yang ketiga ini. Pasalnya sudah dua kali Kanaya harus di opname di rumah sakit selama ia hamil, ia sudah tahu risiko hamil diusianya yang sudah empat puluh tahun lebih. Vertigo dan tekanan darah tinggi kerap kali menjadi problem dimasa kehamilannya kini.Kanaya tengah membaca buku kala sang suami tengah mandi. Hari ini ia ditemani suaminya akan memeriksakan kandungannya. Selama hamil suaminya itu sangat perhatian, bahkan Dinnar menyerahkan semua urusan perusahaan kepada orang-orang kepercayaannya dan ia akan menangani perusahaan jika memang sangat mendesak.“Bunnn.., H
“Doa orang tua kepada anaknya diijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya, dan orang tua banyak mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri. Sehingga ketika doa disertai rasa sayang yang tulus, mengakibatkan dikabulkan doanya oleh Tuhan.”---------- Dinnar masih barada dalam lamunannya, sementara perempuan belia di hadapannya sudah tidak tahan melihat wajah serta tubuh Dinnar yang nampak menggoda. Linda pun bangkit untuk kemudian berpindah duduk di sebelah Dinnar. Ya, perempuan mana yang tidak tergoda dengan pesona khas hot daddy yang dimiliki Dinnar. Belum lagi tahta yang ia pegang,membuat perempuan yang menghalukan suami berkharisma, tampan, mapan, kaya, dan hot di ranjang semakin kepanasan berada di hadapan Dinnar.Dan begitu pun dengan Linda yang memang urat malunya sudah putus. Berdua dalam satu ruangan dengan pria berdada bidang, membuat dirinya ingin mendapatk
"Berbagi bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya hal yang kau beri, namun seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang ingin kau beri."----------Hari yang melelahkan bagi siswa-siswi pun usai ketika bel pulang sekolahh berbunyi nyaring menyapa di setiap penjuru sekolah. Nabilla dengan penuh semangat membereskan perlengkapan belajarnya kemudian memasukan kedalam tasnya. Ia bersyukur di hari pertamanya kerja, ia juga mendapat uang bantuan dari sekolah sehingga ia tidak perlu mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilometer untuk sampai tempat kerja. Ia akan menggunakan sebagian uang itu untuk membeli keperluan sekolah dan untuk membayar transportasi selama ia sekolah dan bekerja.Nabilla tersenyum lebar kala melihat sahabatnya Jihan dan Olivia tengah menunggunya di depan kelas, “Na, kamu bareng aku aja ya ke tempat kerjanya.” Ujar Olivia saat Nabilla menghampirinya.“Nggak us
“Masa sakit memang menjadi masa di mana seorang manusia merasakan derita, meski di sana pula ada komponen penggugur dosa. Bagaimana pun, sakit adalah ujian. Tegar dan ikhtiar adalah jawaban agar dapat lulus dari ujian itu dengan gemilang.”----------Nabilla mengeryitkan dahinya ketika sebuah mobil berwarna putih berhenti dihadapannya yang tengah menunggu angkutan umum di halte. Nabilla mendengus kesal saat sang pemilik mobil itu keluar dan berjalan mendekatinya yang sedang duduk memangku tasnya. Si pemilik mobil yang tidak lain adalah Abidzar yang selalu mengusik ketenangan Nabilla. Laki-laki yang merupakan adik kelas Nabilla itu tidak capek untuk mendekati Nabilla dan semakin gencar melakukan pendekatan untuk mendapatkan hati Nabilla, “Hai Nabilla.” Sapa laki-laki yang sudah berdiri dihadapan Nabilla.Nabilla membalas senyum Abidzar dengan senyuman palsu, “Hai Bidzar.” Jawab Nabilla malas.
"Dia yang selalu membuatku tersenyum ketika aku membayangkannya, dia yang sering membuatku tertawa dalam hati ketika mengingat percakapan bersamanya, dia yang membuat jantungku berdebar cepat saat mengingat senyum manis dari bibir menawan itu."
“Keluarga adalah rumah tempat berpulang, keluarga bukanlah hanya sekedar tempat pelampiasan ketika dunia mengalahkan kita. Tangan memang selalu terbuka, tetapi adakah tega kembali hanya untuk sebuah kebutuhan dan pergi ketika diatas awan. Keharmonisan dalam keluarga tidak datang begitu saja, namun keharmonisan itu harus dibangun bersama.”----------Aldelio Ahyar Agustaf, yang artinya sosok pemimpin yang berwibawa dengan sifat religius, yang terlahir di keluarga Agustaf.Serangkaian nama dengan makna indah, yang diberikan Dinnar untuk cucu pertamanya. Terselip harapan yang begitu besar, dengan doa-doa menyertai dalam setiap untaian kata. Cucu pertama Dinnar, putra pertama Alvaro, yang kelak saat besar nanti akan menjadi pemimpin yang berwibawa dengan akhlak yang baik.Bukan tanpa alasan, Dinnar memberikan nama indah itu untuk cucunya. Sosok pemimpin perusahaan besar itu, tentu saja ingin kelak ada keturunannya yang meneruskan memimpin perusahaan.
“Kata orang, cinta bukanlah sesuatu yang kita cari karena dia yang akan menemukan kita. Tidak peduli akan tempat, waktu, dan juga keadaan. Takdir akan menuntun kita untuk bertemu dengan seseorang yang membuat kita merasa begitu dicintai, seolah hanya kita lah satu-satunya cinta yang dimilikinya. Kamu tahu, bila kamu tidak sempurna, kamu mungkin bisa melakukan kesalahan, akan tetapi cinta sejati yang kamu dapatkan membuatmu sangat yakin bila tidak peduli apa yang terjadi nanti, kamu akan selalu mencintainya dan tidak bisa memadamkan rasa itu.”----------Alvaro yang melihat istrinya memejamkan mata, seketika terkesiap, membelalakkan matanya. Perasaan takut, khawatir, gelisah, kembali menyelimuti dirinya. Tanpa berpikir panjang, dengan tangannya yang gemetar, ia guncang-guncangkan tubuh lemas Alesha, guna membangunkan perempuan itu, lalu menatap pada Tyas, dengan tatapan penuh ketakutan.Tyas yang baru saja selesai menjahit bagian kewanitaan Alesha, se
Waktu adalah sesuatu hal yang memiliki ketetapan dan bernilai pasti. Tidak berputar dengan cepat, tidak pula berputar dengan lambat. Bumi pun, masih begitu stabil berputar pada porosnya, dari arah barat ke timur, tidak ada yang berubah sama sekali. Namun, entah kenapa karena aktivitas harian yang cukup padat, Alesha merasa hari demi hari seakan berlalu begitu cepat berganti, dari minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan.Banyak hal yang Alesha lalui selama waktu terus berjalan. Dimulai dari drama Alesha yang kesal dengan sang suami, karena teramat sibuk dengan dengan berbagai pekerjaan di luar kota, bahkan luar negeri, hingga cukup jarang berkumpul dengan keluarga. Beruntung, Alesha mempunyai adik yang sangat menggemaskan dan pengertian, juga sayang padanya. Meskipun adiknya itu sering kali membuat drama, tetap saja Alesha sangat menyayangi Princess mungilnya itu.Sampai tiba waktunya, pria menawan itu memaksa Ayah mertuanya yang menjabat sebagai Presdir Agustaf Company, ya
"Tidak ada hubungan suami dan istri yang selalu cerah, namun mereka berdua dapat berbagi satu payung dan bertahan dari badai bersama-sama."----------Pernikahan bukan tentang akhir kisah cinta, melainkan awal baru bagi kehidupan baru. Menikah tentu saja tidak sama saat masih berstatus sebagai pasangan kekasih, terlalu banyak manis, hingga mengelak pedih yang bersembunyi dibalik rasa manis itu. Menikah berarti, mampu melihat semua sisi buruknya setiap hari, semakin hari akan melihat topeng yang satu persatu di tanggalan oleh pasangan. Ini lah, yang menyebabkan banyak pernikahan kandas. Merasa bahwa dirinya bukanlah sosok yang selama ini dikenal, karena banyak hal baru tentangnya, yang tidak ditemui sebelumnya.Menikah berarti berkomitmen untuk menerima semua hal yang menyebalkan itu. Menerima kekurangannya, dan melengkapi dirinya. Dengan menikahi sang pujaan hati, tidak bisa berharap bila semua akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Percayalah, menikah tidak sein
“Laki-laki yang baik, ia tidak akan tergoda dengan perempuan lain, pun dengan perempuan yang baik, ia tidak akan menggoda laki-laki yang sudah beristri.”-----------Matahari mulai mengintip di balik awan, sehingga sinarnya tidak terlalu terik, pagi ini. Awan hitam kecil menggantung di langit, angin bertiup pelan menghela dedaunan, dan perlahan masuk melalui jendela, menyibak pelan tirai yang menghias di sana.Pagi ini, karena ada rapat penting Alvaro terburu-terburu berangkat ke kantor, tanpa menunggu Alesha bangun. Ia sangat memaklumi kondisi sang istri, semakin perutnya membuncit, istrinya itu sudah merasa malas melakukan aktifitas. Dan, tentu saja Varo tidak masalah, yang penting Alesha tidak melalaikan kewajiban-kewajibannya.Seperti biasa, jika harus berangkat pagi-pagi sekali, Varo hanya meninggalkan sebuah memo di dekat ranjang tempat tidur mereka.Tidak lama, setelah Varo berangkat, Alesha pun bangun dari tidurnya. Saat Alesha meli
“Perasaan cinta memang luar biasa. Datang tanpa aba-aba, tanpa isyarat dan tidak terduga pula. Pun begitu, akan tetapi menikmatinya dan tanpa di sadari hidup yang di jalani sudah di porak-porandakan oleh kekuatan cinta.”----------Bukan Alvaro namanya, jika sesuatu hal yang ia inginkan tidak terlaksana. Apa lagi, ketika itu menyangkut orang yang ia sayangi.Sudah empat bulan, semenjak Alesha keluar dari rumah sakit, dan kandungan Alesha sekarang sudah enam bulan. Dan, selama itu juga, Alvaro belum pernah sekalipun menemani Alesha untuk periksa kandungan.Bukan tanpa alasan, Alvaro tidak menemani istrinya periksa kandungan. Pria menawan itu, selain disibukan dengan kerjaan di perusahaan Agustaf Company, ia juga harus meng handle restoran dan café, bahkan tidak jarang Varo harus ke luar kota berhari-hari untuk meninjau pembangunan restoran barunya yang ada di Malang, belum lagi jika ia harus menggantikan Dinnar bertemu kolega bisnisnya ke luar n
"Wanita yang paling beruntung adalah dia yang dikaruniai Tuhan seorang pria yang penyabar dan penyayang, penuh kehangatan dan kelembutan, suka menolong dan berhati tulus. Jika dia pergi, si wanita akan merindukan. Jika dia ada, wanita ingin terus berdekatan."----------Varo seharusnya tidak menerima panggilan saat sedang memimpin rapat, tapi perasaannya sejak tadi tidak tenang memperkuat keinginannya untuk menerima panggilan itu. Varo, meminta maaf kepada semua peserta rapat yang adalah, kepala-kepala divisi dan beberapa petinggi perusahaan, ia meminta waktu istirahat selama lima menit sebelum meninggalkan ruangannya untuk menerima telepon.‘Mama’Alvaro mengernyitkan dahi saat melihat nama sang Mama yang terpampang jelas pada layar ponsel. Tidak biasanya sang Mama menelepon, biasanya jika ada sesuatu pasti Mamanya itu cukup mengirim pesan saja. Tapi, kali ini kenapa Mamanya menelepon?Darah Varo terasa seperti membeku saat mendengar
Dalam alur kehidupan, setiap mahkluk Tuhan pasti sering dihadapkan pada berbagai macam situasi yang berbeda dengan akhir yang tidak sama. Entah itu jalan cerita bahagia, atau pun jalan cerita yang penuh penderitaan. Semua itu, sudah di porsi sama rata, tanpa bisa di negosiasi selayaknya takdir.Begitupun juga dengan waktu. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak, kapan, di mana, kenapa, bagaimana dan mengapa semua alur kehidupan itu terjadi. Bahkan, sekelebat bayangan tentang masa depan saja, tidak pernah mampir dalam pikiran sebagai tanda untuk sang pemegang kendali alur kehidupan mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi.Alvaro tidak pernah menyangka, bahwa takdirnya jatuh pada keponakannya sendiri. Masih sangat membekas di ingatan Alvaro, bahwa perempuan jelita yang pagi ini masih bergulung nyaman diatas ranjan itu, dulunya adalah bayi mungil yang selalu ia timang, saat dirinya hendak berangkat kuliah ataupun saat pulang kuliah.Bayangkan, waktu it
Alyssa berjalan pelan sambil menggerutu. Wajahnya tertekuk masam, tanda ia akan menangis. Tas di punggungnya terasa berat, padahal isinya hanya tempat pensil dan kotak makan. Alyssa, saat ini sedang berjalan masuk ke dalam rumah Alvaro. Ia baru pulang dari KB, dan dijemput oleh Papa Yonya, yang memang berjanji pulang saat jam makan siang, berencana makan siang bersama sang istri.Alyssa berjalan meninggalkan Alvaro yang masih berada di dalam mobil, pria itu hanya menggelengkan kepala seraya mengulum senyum, Varo sudah tahu penyebab gadis mungil itu ngambek, dan sebentar lagi sebuah drama akan dimulai.Alyssa memasuki rumah dengan gerasah-gerusuh. Matanya menatap kesal kearah lima orang yang sedan bersendau gurau di ruang keluarga rumah Alvaro. Tampak di sana, sang Bunda, Oma, Queen sedang duduk di sofa, sedangkan Afnan dan Aflah, sedang duduk di lantai bersandar pada kaki sofa dan sedang bermain ponsel.“Abang, Mamas!!” Teriak Alyssa marah, manik coklat