Bab 68. GERAKAN KILAT Jaka tampak gembira mendapat serangan dari sekelompok preman ini, dia malah meloncat-loncat seperti monyet menghindari setiap serangan tongkat besi. Apa yang dilakukan Jaka tentu saja membuat amarah Daniel semakin menjadi-jadi, apalagi sekarang kondisi mobilnya semakin rusak saja dengan bagian kap mesin serta atap kabin mobilnya juga ikut penyok terkena hantaman tongkat besi anak buahnya. Prank…!Akhirnya kaca jendela dan kaca depan serta kaca belakang mobilnya hancur terkena hantaman tongkat besi. Apalagi Jaka masih saja asik berdiri di atas mobil Daniel dan tidak terlihat ingin turun dari mobil ini. Jaka yang melihat kondisi mobil Daniel sudah hancur segera melompat ke mobil satunya yang masih mulus. Kali ini para preman yang berniat menghajarnya menghentikan pergerakan mereka. Tentu saja mereka takut mobil mereka ikut hancur seperti mobil Daniel, jika mereka mengejar Jaka. Tiba-tiba salah satu preman berteriak, “Teman-teman, m
Bab 69. SALAH SANGKA Akhirnya mengikuti arahan Dewi, Jaka menghentikan mobilnya di tempat parkir Cafe Bintang di kawasan Jakarta pusat. Suasana Cafe sangat elegan dan sangat romantis untuk pasangan kekasih yang membutuhkan suasana romantis. Mereka berdua makan dengan nyaman di Cafe ini, Jaka yang tidak berpengalaman makan di Cafe, menyerahkan semua pesanan kepada Dewi. Mereka makan dengan cepat, tak lama kemudian mobil Jaka terlihat meninggalkan Cafe dan sedang berjalan ke arah kampung yang di tinggali Dewi. “Apakah rumah kamu masih jauh?” ucap Jaka ketika mobilnya memasuki jalan kampung sesuai arahan Dewi. “Sudah dekat, di depan ada pengkolan tak jauh dari sana dan rumahku disana.” Akhirnya setelah melewati pengkolan yang ditunjuk Dewi, mobil Jaka memasuki sebuah halaman rumah sederhana. Kedatangan Jaka kerumah Dewi dengan membawa mobil mewahnya seketika menarik perhatian keluarga Dewi. Mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan memas
Bab 70. MENOLONG RUSTAM BUWONO Sementara itu Jaka yang sedang mengemudi mobilnya menuju rumahnya sudah merasa terbebas dari keadaan yang membuatnya kikuk dan terlihat tersenyum mengingat kejadian di rumah keluarga Dewi. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang berbeda dengan pengalaman sebelum Jaka mempunyai apa yang dimilikinya pada saat ini. Mobil Jaka melaju di jalanan kota Jakarta yang mulai lenggang seiring dengan semakin larutnya malam hari. Ciiit…!! Brak…!!Saat Jaka sedang asik mengemudikan mobilnya ke arah pulang, terdengar suara cicitan roda yang mencengkeram jalan beraspal di ikuti dengan suara benturan yang sangat keras tak jauh dari mobilnya. Jaka segera melambatkan mobilnya, kemudian mencari sumber suara yang membuatnya kaget. Akhirnya apa yang dicarinya terlihat juga ternyata di seberang jalan terlihat ada kecelakaan lalu lintas antara mobil sedan hitam versus mobil SUV putih. “Ada kecelakaan, sebaiknya saya memarkirkan mobilku dan me
Bab 71. MASA LALU JAKA KELUD KECIL Jaka kemudian mengelilingi mobil SUV putih itu untuk mencari pengemudinya, akan tetapi meskipun dia sudah berkeliling dan mencari keberadaannya, tetap saja pengemudi mobil SUV itu tidak terlihat, seakan menghilang tertelan bumi. Sebenarnya pengemudi mobil itu tidak menghilang tertelan bumi, akan tetapi telah berlari dan naik mobil hitam yang berjalan di belakang mobil yang di tumpangi Rustam Buwono, sesaat setelah kecelakaan itu terjadi. Dan Jaka tidak melihat saat pengemudi itu keluar dari dalam mobil, karena jeda waktu ketika Jaka harus menghentikan mobilnya di tepi jalan dan berjalan ke seberang jalan untuk menolong korban kecelakaan ini. Dengan wajah lesu, Jaka kembali ke arah Rustam Buwono untuk membantu mengobatinya. Akan tetapi saat dia mau mendekat ke arah mereka, di sana sudah berkumpul banyak warga dan sudah ada mobil ambulans dan ada beberapa petugas kesehatan yang sedang membawa kedua orang itu dengan tandu dan
Bab 72. MATA TEMBUS PANDANG Dan tanpa sepengetahuan Jaka Kelud, sebenarnya dia baru saja bertemu dengan ayah kandungnya. Akan tetapi karena Jaka Kelud maupun Rustam Buwono juga tidak tahu kalau mereka sebenarnya adalah ayah dan anak yang terpisahkan oleh sebuah kecelakaan maut, membuat mereka berdua menganggap pertemuan itu hanya seperti sebuah figuran dalam sebuah sinetron. Malam ini Jaka tidur dengan nyenyak di atas kasurnya yang empuk, dan saat tidur tiba-tiba saja dia bermimpi sebuah pemandangan kejadian kecelakaan lalu lintas yang sangat mengerikan. Dalam mimpinya Jaka melihat ada anak kecil yang terlempar dari dalam mobil yang jatuh kedalam sungai yang sedang sangat deras arusnya. “Astagfirullah Hal ‘adzim….” ucap Jaka yang tiba-tiba terbangun dan duduk di atas kasur dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. “Mimpi apa saya barusan? Kenapa mimpinya sangat mengerikan seperti ini? Anak siapa yang jatuh ke sungai itu?” gumam Jaka sambil memikirkan mimpi
Bab 73. WIDURI INDO RUSIA Seketika suasana yang sebelumnya sedikit tegang, kini berubah menjadi cair dan terlihat senyuman di wajah Jaka serta wanita cantik itu. “Perkenalkan saya Jaka Kelud,” sapa Jaka memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya mengajak wanita cantik itu berjabat tangan. “Saya Widuri, oh iya, apa kamu sering jogging?” sahut wanita cantik itu yang ternyata bernama Widuri. “Kak Widuri sudah bertemu dengan rumah pak Subagyo?” “Iya, kemarin saya bertanya kepada satpam komplek. Apakah kamu mau jogging bersama saya?” tiba-tiba saja Widuri mengajak Jaka untuk lari pagi bersama. Tentu saja Jaka tidak menolaknya, apa lagi diajak lari pagi bersama seorang wanita dewasa yang sangat cantik seperti Widuri. Selain cantik, aroma Widuri sangatlah harum dengan aroma khas yang sangat lembut serta sangat enak saat memasuki hidungnya. Sambil berlari kecil Widuri membuka percakapan, “Jaka, apa kamu tinggal bersama keluargamu?” “Tidak
Bab 74. JERITAN KESAKITAN Tentu saja pedagang bubur ayam tidak berani mengusir kelima preman yang memang sengaja sedang membuat masalah dengan salah satu pelanggannya. Melihat ada orang yang berani membuat masalah dengannya, dengan cepat Jaka segera mengambil sendok bubur yang sebelumnya digunakan untuk makan. Cep…! “Argh…!” Jeritan kesakitan seketika keluar dari mulut preman yang berani menggebrak meja di depan Jaka. Mana mungkin dia tidak berteriak kesakitan, karena tangannya yang digunakan untuk menggebrak meja telah terpaku dengan sendok stainless menembus tangannya hingga menancap di meja kayu. Pemandangan mengerikan ini tentu saja langsung mengejutkan semua orang, demikian juga dengan Widuri, dia sampai tidak percaya kalau Jaka bisa melakukan perbuatan seperti itu yang terlihat sangat sadis dengan begitu mudahnya. Pemimpin preman yang sebelumnya sedang menggoda Widuri langsung emosi, begitu melihat salah satu anak buahnya terluka oleh pe
Bab 75. DI SERANG RATUSAN GENG KALAJENGKING HITAM Mendengar teriakan Widuri, Jaka sama sekali tidak panik. Dia mendorong tubuh Widuri agar menjauhi jalanan, sedangkan tubuhnya tiba-tiba saja melakukan sebuah tendangan yang sangat cepat. Wusss…. Bugh… Brum….!! Tendangan Jaka sangatlah cepat dan sama sekali tidak pernah disangka oleh geng motor yang melakukan serangan kepada Jaka. Geng motor ini merupakan bagian dari geng Kalajengking hitam yang salah satu anggota sudah diberi pelajaran oleh Jaka. Saking cepatnya tendangan Jaka, begitu tendangan itu mengenai bagian depan sepeda motor, seketika itu juga sepeda motor itu terbang sangat jauh. Secara otomatis, pengendara sepeda motor yang sedang mengayunkan pedangnya ikut terlempar dan menghantam sepeda motor lain yang ada di belakangnya. Pemandangan ini tentu saja mengejutkan semua geng motor yang sedang konvoi mengejar Jaka, bagaimana tidak terkejut semua geng motor melihat sendiri bagaimana seped
Bab 127. DIKEPUNG PULUHAN PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang mendengar perkataan sopir truk tronton itu segera bergerak, bagaimanapun juga dia tidak akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap jika mereka sudah pergi meninggalkan gudang tua ini. Dalam sekejap sosok Jaka sudah berdiri di tengah pintu gudang, begitu pintu gudang terbuka puluhan pria yang ada di dalam gudang tua tampak terkejut melihat kehadirannya. “Siapa kamu? Kenapa kamu berada di tempat ini?” Salah seorang pembunuh bayaran menegur Jaka dengan suaranya yang menggelegar dan penuh dengan aura intimidasi. Jaka tidak menghiraukan pria yang menegurnya, dia menatap sopir truk tronton yang ada di dalam kerumunan dengan tatapan tajam, kemudian berkata, “Kamu, kemarilah.” Semua orang langsung saling pandang mendengar perkataan Jaka Kelud, mereka cukup terkejut melihat ada seorang pemuda yang cukup berani berada di markas mereka. Keterkejutan mereka semakin bertambah, ketika mendengar perkataan
Bab 126. MENYELESAIKAN MISI Jaka yang sedang melayang diatas langit segera mengikuti pergerakan mobil van yang ditumpangi sopir truk tronton yang menghilang di jalan kampung. Sementara itu bang Sapto yang mengikuti mobil Jaka tampak tersenyum gembira melihat mobil Jaka sudah gepeng seperti papan triplek di hantam truk tronton bermuatan pasir seberat tiga puluh ton. “Bagus, rencanaku sukses. Saya harus melaporkan keberhasilan ini kepada Boss muda Ridwan. Ha ha ha ha…. mana tuh yang namanya orang kebal? Sekebal apapun dia pasti akan menjadi peyek manusia setelah ditabrak truk tronton…” Tawa bahagia keluar dari bibir bang Sapto yang kemudian dia segera mengabadikan kecelakaan itu menggunakan ponselnya. Setelah merekam mobil Jaka yang sudah gepeng seperti lembaran papan kayu, terhimpit truk tronton bermuatan pasir, segera saja dia mengirimkan video serta foto itu ke ponsel Ridwan. Sementara itu Ridwan yang masih berada di Cafe Bintang bersama Intan, tampak s
Bab 125. AKSI BANG SAPTO PEMBUNUH BAYARAN Jaka yang tidak tahu kalau bahaya sedang menantinya, masih asik menikmati makan malamnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Intan dan Ridwan yang sedang kencan di Cafe yang sama dengannya. Bagi Jaka, Intan hanya teman satu kampusnya saja, sehingga perasaannya tidak lebih dari perasaan seorang teman saja. Tak lama kemudian Jaka menyudahi makan malamnya dan meninggalkan Cafe tanpa berpamitan dengan Intan. Tentu saja Intan tidak tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe, karena dia duduk memunggungi meja Jaka. Berbeda dengan Ridwan, dia yang duduk menghadap ke arah meja Jaka, tentu saja tahu kalau Jaka sudah meninggalkan Cafe. Diam-diam Ridwan juga memberi kabar kepada bang Sapto, kalau Target sudah meninggalkan Cafe. Jauh diluar Cafe, lebih tepatnya di pinggir jalan, terlihat dua mobil hitam yang berisi tujuh orang sedang mengawasi Cafe Bintang. “Semua bersiap, target sudah keluar da
Bab 124. SAINGAN CINTA Ekspresi wajah sopir bajaj langsung buruk ketika mendengar alasan Jaka menemuinya. harapan yang sebelumnya muncul di binar matanya, seketika menghilang setelah mendengar perkataan pemuda di depannya. Jaka tersenyum malu mendengar perkataan sopir bajaj, kemudian Jaka berkata lagi, “Saya mau minta tolong kepada abang untuk mengganti roda mobil ku yang kempes. Abang jangan khawatir, saya akan memberi anda uang jasa atas pertolongan abang.” Begitu mendengar perkataan Jaka, sopir bajaj menatapnya dengan tatapan aneh. Siapa juga yang tidak merasa aneh, melihat ada seorang pemuda yang terlihat begitu bugar tidak bisa mengganti roda mobilnya yang kempes. Setelah menghela nafas sebentar, sopir bajaj kembali berkata sambil tersenyum penuh arti, “Apa? Mengganti roda mobil yang kempes? Memangnya anda tidak bisa mengganti sendiri?” “Maaf, saya memang tidak bisa mengganti rodanya.” “Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa saya bantu,” ucap
Bab 123. SIALAN “Hallo Boss muda, ada apa nih Boss muda menghubungi saya?” Terdengar suara seorang pria dengan suara serak dari seberang panggilan. “Gini Bang, saya sedang ada masalah sedikit. Karena itulah saya menghubungi abang,” jawab Ridwan dengan nada serius. “Ha ha ha ha… Boss muda ternyata masih mengenalku. Saya merasa tersanjung Boss muda sudi menghubungi saya. Oh iya, ada pekerjaan apa nih? Apakah saya perlu menghabisi seseorang tanpa jejak, atau cukup memberi pelajaran saja?” Suara telepon langsung hening ketika bang Sapto menebak apa yang diinginkan Ridwan dengan menghubunginya. Setelah menghela nafas berat, Ridwan melanjutkan percakapannya dengan sambil tetap fokus mengemudi. “Saya ingin abang menghabisi seseorang, kalau bisa abang mencari orang yang bisa membunuh seseorang yang mempunyai ilmu kebal.” “Apa? Ilmu kebal?” Terdengar suara bang Sapto sangat terkejut ketika mendengar perkataan Ridwan. “Maksud Boss Ridwan, sasaran kali i
Bab 122. BERTEMU MUSUH LAMA “Jaka, kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru kelihatan?” kata salah satu teman kuliah Jaka yang melihat Jaka memasuki ruang kelas semester tiga. “Saya sedang cuti sebentar, jadi tidak bisa mengikuti pelajaran,” jawab Jaka berusaha memberi alasan yang logis. “Tapi, bagaimana kamu bisa gabung bersama kita di semester tiga? Bukankah kamu tidak mengikuti ujian kenaikan semester?” “Sudah, tentu saja saya sudah mengikuti ujian susulan untuk kenaikan semester. Karena itulah sekarang saya bisa berkumpul dengan kalian.” Teman-teman Jaka masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya, bagaimanapun juga Jaka sudah tidak mengikuti kegiatan belajar selama enam bulan lamanya. Kebingungan mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, mereka berpikir apakah bisa dengan mengikuti ujian susulan, mahasiswa yang lama cuti bisa naik semester. Hari-hari berlalu dengan tenang sejak Jaka mulai mengikuti jam kuliah di Universitas Matri
Bab 121. ANAK YANG MENGAGUMKAN “Tidak ada apa-apa, ayo kita ngobrol yang lainnya saja,” sanggah Melati Sugiri menghindari percakapan tentang pemuda yang membuatnya penasaran. “Ha ha ha ha… sepertinya Melati sedang puber kedua, lihatlah Brondong yang duduk sendirian di sana,” sahut Caroline sambil memberi tanda ke arah meja Jaka. Semua wanita seketika menoleh ke arah meja Jaka Kelud, hal ini tentu saja membuat wajah Melati langsung memerah menahan malu. “Ha ha ha ha… kamu memang mempunyai mata yang tajam, lihatlah wajah pemuda itu memang cukup ganteng,” canda salah satu teman Melati. “Kalian membuatku malu saja. Sepertinya kalian salah menerka apa yang bikin saya penasaran,” bela Melati mencoba meluruskan apa yang ada di dalam pikirannya. “Salah? Sepertinya kami tidak salah menebak isi hatimu. Sepertinya kamu memang sudah seperti yang lainnya, suka dengan pria muda, ha ha ha ha…” Bibir Melati cemberut mendengar ejekan teman-temannya, kemudian Melati
Bab 120. MELATI SUGIRI Dengan perasaan takjub, Jaka melihat bahwa ruangan di dalam cincin spiritual ini, luasnya seukuran lapangan sepak bola. “Hebat, benar-benar hebat. Apakah ini yang dinamakan cincin spiritual atau cincin penyimpanan seperti yang saya baca pada novel online genre fantasi? Betul, ini adalah cincin penyimpanan yang sangat ajaib itu. Hari ini adalah hari keberuntunganku, baiklah sebaiknya saya segera pergi dari tempat ini sebelum ada orang yang melihatnya,” pikir Jaka yang segera memasukkan pusaka Kujang emas dan peti kayu hitam itu ke dalam cincin spiritual dengan kekuatan energi spiritualnya. Segera, Jaka keluar dari gua penyimpanan dan menutup kembali tempat itu. Setelah itu tubuh Jaka melesat ke langit, terbang dengan cepat meninggalkan situs reruntuhan kuno untuk kembali ke kamar penginapannya. Senyum puas menghiasi wajah Jaka ketika di sudah sampai di kamarnya, kali ini dia ingin memeriksa sekali lagi isi dari cincin spiritual yang ada di
Bab 119. PUSAKA KUJANG EMAS Dung… dung… dung… Suara menggema terdengar dari balik dinding batu yang di ketuk Jaka, hal ini tentu saja membuatnya semakin penasaran. Kemudian sekali lagi Jaka memperhatikan batu aneh yang menyerupai sebuah tonjolan. Kembali Jaka mengutak-atik batu aneh itu, kali ini Jaka menyalurkan energi Prana ke batu itu. Tiba-tiba saja batu aneh yang di pegangnya masuk ke dalam dinding batu, dan tiba-tiba juga terdengar suara berderak seperti benda bergeser. Drrtt… drrtt… drrtt…Sebuah pintu terpampang di depan Jaka, ketika dinding batu di depannya bergeser dengan pelan saking beratnya dinding batu itu. Debu tebal beterbangan ketika pintu batu itu terbuka, Jaka mengebutkan tangannya untuk menepis debu yang beterbangan di depannya. Kemudian setelah pintu berhenti bergeser, di hadapan Jaka terlihat sebuah ruangan yang gelap gulita. Apalagi sekarang tengah malam, tentu saja suasana di dalam gua lebih gelap lagi.